Our Love (Chapter 3)

OUR LOVE (Chapter 3)

Author: Choi Nunu a.k.a. Kim Hye Seok

Genre: Romance; Friendship

Cast:

  • Oh Sehun
  • Kim Hana
  • Park Chanmi
  • Park Chanyeol
  • Kim Jong In

 

Annyeong readers!! *tebar bunga sama Sehun* *dicekek Hana*

Chapter 3 nih… just happy reading, and leave your comment please! Gamsahamnida *bow*

 

***

“Sehun-ah, mianhe.” Hana masih mencoba meminta maaf pada chingunya itu, meskipun sejak tadi Sehun bahkan tidak meresponnya sama sekali.

“Sehun-ah, aku punya alasan….”

“Mwo? Alasanmu itu, katakan.” potong Sehun tiba-tiba.

Hana menatap Sehun terkejut. Mata hitamnya bertemu dengan lensa hazel milik Sehun yang menatapnya lekat-lekat seolah mencoba membaca pikiran yeoja itu.

“Mianhe, aku… tetap tidak bisa mengatakan alasannya padamu.” Hana menunduk menghindari tatapan Sehun.

“Geumanhe. Sikapmu sudah kelewatan Kim Hana.” Sehun beranjak dari bangkunya dengan kasar dan meninggalkan Hana yang hanya bisa menatap namja itu menjauh.

“Mianhe Sehun-ah. Jeongmal mianheyo.”

Chanmi yang melihat semua kejadian itu dari balik pintu kelas, menahan lengan Sehun saat namja itu keluar.

“Sehun-ah, jangan begini.” Chanmi menatap namja itu sedih.

Dia bukannya tidak memahami perasaan Sehun, tapi bagaimanapun juga Hana adalah sahabat mereka, itu yang dipikirkan Chanmi.

“Chanmi-ah, dia yang memulai ini.” ucap Sehun dingin.

“Dia sahabat kita Sehun-ah.”

Sehun menarik nafas panjang, “Lebih dari sekedar sahabat Chanmi-ah. Itu sebabnya aku merasa sangat marah padanya.”

Tangannya melepas genggaman Chanmi dan beranjak pergi, dengan sigap Chanmi mengejar langkahnya.

“Kau merindukannya Sehun-ah?” langkah Sehun terhenti mendengar kata-kata Chanmi.

Namja itu mengulas senyum masam, “apa kau perlu aku untuk menjawabnya?”

 

*Park Chanmi POV*

“Sehun-ah, jangan begini.” aku mencoba menahan Sehun yang meninggalkan Chanmi begitu saja, mencoba membujuk namja dihadapankku ini untuk memaafkan Hana.

“Chanmi-ah, dia yang memulai ini.” ucap Sehun dingin.

“Dia sahabat kita Sehun-ah.” ujarku dengan sedikit putus asa.

Sehun menarik nafas panjang, “Lebih dari sekedar sahabat Chanmi-ah. Itu sebabnya aku merasa sangat marah padanya.”

Aku menatap Sehun, apa maksud perkataannya tadi? Tangannya melepas genggamanku di lengannya dan dia beranjak pergi. Aku menatap punggungnya sejenak dan memutuskan untuk mengejarnya. Semua masalah ini harus diselesaikan. Aku tahu kalau Sehun marah karena sebenarnya dia sangat kehilangan Hana. Ya, namja ini pasti sangat merindukan Kim Hana, entah apa yang membuatnya keras kepala seperti ini dan tetap bersikeras untuk tidak memaafkan Hana.

“Kau merindukannya Sehun-ah?” langkah Sehun terhenti setelah aku mengajukan pertanyaan itu padanya.

Namja itu mengulas senyum masam, “apa kau perlu aku untuk menjawabnya?” tanyanya.

Aku hanya dapat diam dan menatapnya. Sehun-ah, apa kau begitu menyayangi Hana?

Selama Hana menghindar dari kami, aku memang selalu berada di dekat Sehun. Menemani namja itu kemana pun dia pergi, mencoba menggantikan sosok Hana, dan hasilnya adalah nihil.

Aku tahu setiap yang Sehun lihat selalu berhubungan dengan Hana, dan semua yang dilakukan namja itu mengingatkannya pada sahabat yang sangat ia sayangi, Kim Hana.

Sehun-ah, kurasa tidak aneh jika kesimpulan itu muncul begitu saja dalam pikiranku. Kesimpulan yang kudapat sendiri, bahwa kau mencintai Hana.

Rasanya aku ingin bertanya padanya, apakah dia mencintai Kim Hana? Tapi pertanyaan itu terasa menyumbat tenggorokanku dan yang dapat kulakukan hanya menyimpannya jauh-jauh.

Mungkin aku egois, tapi aku juga belum siap dengan kenyataan itu, kalau sampai Sehun memang mengiyakan pertanyaanku, karena aku pun memiliki perasaan yang mencintai seorang Oh Sehun.

 

***

 

Aku tidak tega melihat wajah murung Hana seharian ini, aku berniat menghiburnya tapi tidak tahu harus bagaimana. Kami hanya duduk di taman sore itu tanpa berbuat apa-apa. Aku dan Hana sibuk dengan pikiran kami masing-masing.

“Hana-ya.” Panggilku.

“Hm?”

“Apa aku boleh tahu alasan sebenarnya kau menghindar dariku dan Sehun?” aku menatap Hana, dia hanya terdiam, ekspresinya seolah dia tengah berpikir. Aku mencoba sabar, aku yakin Hana akan menjawab pertanyaanku. Aku harus tahu alasannya yang sebenarnya baru setelah itu dapat menjelaskan semuanya pada Sehun.

“Itu, karena aku…” dia menghela nafas sejenak.

“Aku sedang bingung untuk menentukan universitas pilihanku Chanmi-ah. Aku tidak seperti kau dan Sehun yang sudah memiliki pilihan sendiri. Aku menjauh dari kalian, hanya untuk menenangkan diri, tidak menduga kalau Sehun akhirnya marah padaku.”

Aku tersenyum mendengar penjelasannya.

“Hana-ya, mungkin kau berbeda denganku dan Sehun, tapi kata oppaku kau sudah menentukan pilihanmu kan?”

“Ne.” Hana mengangguk pelan.

“Kupikir setelah ini aku bisa seperti biasa bersama kalian lagi, tapi Sehun sepertinya terlalu marah padaku.” lanjut Hana lagi.

Aku menggeleng cepat, “aniyo. Sehun sangat merindukanmu, makanya dia seperti itu.”

“Jinjja?” aku dapat mendengar nada suara Hana yang sama sekali tidak percaya itu.

“Aku sangat yakin dengan hal itu Hana-ya! Kau ini sahabat terbaiknya, dia sangat kehilanganmu Hana-ya.”

“Ne, aku memang sahabatnya.” Hana menganggukkan kepalanya pelan dan kami lagi-lagi terdiam cukup lama.

Aku sangat ingin mengetahui kebenaran ini dari Hana, kurasa sekarang waktu yang tepat menanyakan perasaan Hana pada Sehun. Ya, aku akan mencobanya sekarang. Kurasa aku sudah siap dengan jawaban apapun dari Hana, aku akan mencoba menerimanya.

“Hana-ya, boleh aku bertanya sesuatu?”

Hana mengangguk cepat, “Ne”

“Bagaimana perasaanmu yang sebenarnya pada Sehun?”

*Park Chanmi POV End*

 

“Hana-ya, boleh aku bertanya sesuatu?” tanya Chanmi yang dijawab Hana dengan anggukan, “ne”.

“Bagaimana perasaanmu yang sebenarnya pada Sehun?”

Hana tersentak kaget dan menatap Chanmi bingung. Chanmi balas menatapnya, ia sangat berharap jawaban jujur dari Hana, apapun itu, sekalipun dia harus mendengar kalau Hana juga menganggap Sehun lebih dari sekedar sahabat.

“Perasaanku pada Sehun? Kenapa kau ingin tahu Chanmi-ah? Apa kau punya perasaan lain terhadap Sehun?” Hana balas bertanya pada Chanmi.

Kedua yeoja itu saling bertatapan selama beberapa detik sebelum Hana mengalihkan pandangannya ke arah lain. Chanmi tetap menatap Hana lekat-lekat.

“Ne. Aku punya perasaan yang lebih dari sekedar sahabat pada Sehun.” Chanmi menghela nafas dan mengangguk, “aku mencintai Sehun, Hana-ya.” ucap Chanmi lagi.

Itu kenyataan. Dia tidak ingin menyembunyikan kenyataan itu lagi. Dia ingin berjuang mendapatkan Sehun, mendapatkan hati namja itu. Hana tersenyum, ekspresinya sulit diartikan, sementara Chanmi mempertahankan pandangannya ke arah Hana.

“Johae.”

“Huh?”

“Ne, itu sangat baik. Kau tahu, aku juga punya dugaan kuat kalau Sehun menyukaimu Chanmi-ah.” ujar Hana ringan, walau jauh di dalam hatinya, rasanya sudah sangat sesak sekarang.

“Hana-ya…”

“Entahlah, momen itu, kau tahu? Tiap kali Sehun bersamamu, dia bersikap seperti seorang namja pada yeoja. Selama aku mengenal Sehun, dia bukan namja yang cepat akrab dengan yeoja, tapi itu berbeda denganmu Chanmi-ah.” Kata-kata Hana meluncur begitu saja, tidak dapat dikontrolnya.

“Aku yakin, kalau kau mau berjuang, kau pasti bisa bersama dengan Sehun.” Hana tersenyum lebar pada Chanmi, tetapi matanya sendiri terasa panas.

“Hana-ya, jinjjayo?”

“Mm.” Hana mengangguk.

“Ah, sudah hampir gelap, aku harus segera kembali, nanti eomma mencariku.” Hana bangkit dari duduknya, bersiap beranjak dari tempat itu.

Chanmi menatap Hana, masih bingung dan sedikit tidak mengerti dengan sikap yeoja itu.

“Chanmi-ah, perasaanku pada Sehun tidak lebih dari sekedar sahabat. Aku…menganggap Sehun seperti oppa, dongsaeng, bahkan saudara kembarku, hajiman aku tidak pernah melihatnya sebagai seorang namja yang dapat dicintai. Tidak perlu khawatir, kau bisa terus mencintainya Chanmi-ah. Kattaulke.” Hana melambai dan bergegas pergi kembali ke apartemen, meninggalkan Chanmi yang hanya dapat menatapnya terus hingga punggung yeoja itu menghilang di kejauhan.

 

*Kim Hana POV*

Aku berjalan cepat menuju apartemenku. Air mataku sudah menggenang, aku berkedip sekali dan air itu sudah mengalir menuruni pipiku sekarang. Sakit. Hatiku rasanya sangat sakit, dadaku sesak, aku tidak dapat menahan tangisku lagi.

Dari semua orang di dunia ini, kenapa harus aku dan Chanmi yang sama-sama mencintai
Sehun? Kenapa aku harus punya perasaan ini pada Sehun?

Aku berjalan sambil menangis, kakiku sangat lemas, dan akhirnya aku berjongkok di tangga darurat apartemen yang memang selalu kosong. Mengeluarkan semua air mataku, menangis sendirian.

Apa rasanya memang sesakit ini? Bukankah aku ingin membahagiakan sahabatku? Tapi aku tidak bisa, tidak bisa tanpamu Sehun-ah. Aku mencintaimu Sehun-ah. Jeongmal saranghae.

“Hana-ya?” sentuhan di bahuku dan panggilan itu membuatku terkejut.

Aku mendongak dan mendapati sepasang mata hazel menatapku. Sehun.

*Kim Hana POV End*

 

*Oh Sehun POV*

Aku menghabiskan sore ini di balkon bagian atap apartemen 10 lantai tempatku tinggal ini. Satu-satunya jalan kesini hanya melewati tangga darurat, karena itu tempat ini sangat kosong, dan sangat cocok dijadikan tempat menyendiri.

Aku memang tidak berniat menemui siapapun saat ini. Sejak siang tadi pikiranku penuh dengan seseorang bernama Kim Hana.

Yeoja yang tiba-tiba menghilang dan datang kembali tanpa merasa bersalah sedikit pun. Aku tidak mengerti dengannya. Hampir seumur hidupku berteman dengannya dan baru kali ini dia bersikap seperti itu. Ah, sebenarnya aku sudah memaafkan Hana, aku bahkan memang tidak bisa marah padanya sedikit pun. Tapi entah kenapa aku jadi kesal kalau mengingat ekspresinya saat bersama Chanyeol hyung. Jujur saja, kejadian itulah yang paling menggangguku.

Kenapa Hana menjauhiku dan malah bersenang-senang dengan Chanyeol hyung? Aku benci pemikiran dalam kepalaku yang mengatakan kalau Hana menyukai Chanyeol hyung. Anjoha.

Langit hampir gelap, sebaiknya aku turun sekarang kalau tidak mau penjaga gedung mendapatiku menyelundup kemari, dia bisa menyeretku pada eomma dan appa.

Aku melangkah menuruni tangga sampai ke lantai 6, dimana apartemenku berada. Langkahku terhenti saat mendengar suara orang menangis. Apa itu hantu?

Aku menoleh ke sekeliling lalu menggeleng kuat-kuat untuk menghilangkan pemikiran aneh itu. Tapi itu memang suara tangisan, aku melongokkan kepala ke bawah dan mendapati seseorang memang sedang duduk dan menangis di sana.

Tunggu, aku kenal orang itu. Aku bergegas turun, mendekatinya. Ya, itu dia. Kenapa dia menangis seperti ini?

Aku memegang bahunya perlahan, “Hana-ya?”

Dia mendongak dan menatapku. Mata hitamnya berkilat penuh dengan air mata, wajahnya memerah. Dia terkejut melihatku, aku tahu itu.

Tanpa dapat kutahan aku segera berlutut dan menariknya ke pelukanku.

“Kenapa menangis? Uljima… Uljima Hana-ya.” Aku mengusap kepalanya pelan.

Perasaan ini, hatiku sakit melihatnya seperti ini. Hana selalu kuat, selama ini dia tidak pernah menangis seperti ini. Rasanya dadaku sesak mendengar tangisannya.

Hana mendorong dadaku pelan, menjauhkannya dari pelukanku. Wajahnya benar-benar kacau saat ini. Apa yang sebenarnya terjadi?

“Mianhe, apa ini karenaku? Hana-ya, aku sudah tidak marah lagi padamu, uljima.”

“Aniyo. Gwaenchana.” Hana memaksakan senyumnya, suaranya setengah terisak.

Aku menangkupkan kedua tanganku di pipinya dan mengusap air matanya.

“Apa yang terjadi?” tanyaku lembut, tapi dia hanya menggeleng.

“Mianhe, membuatmu melihatku seperti ini. Pergilah, aku baik-baik saja.” Hana memutar badannya membelakangiku.

Aku tidak mungkin meninggalkannya. Aku memilih untuk duduk di sampingnya. Kutarik pelan kepalanya agar bersandar ke bahuku.

Hana dan aku duduk dalam diam, entah berapa lama, tapi tidak sepatah kata pun keluar dari mulut kami. Aku tidak tahu apa yang dipikirkan Hana, dan aku juga tidak tahu harus bicara apa padanya.

“Mianhe Sehun-ah.” ucapnya tiba-tiba.

“Untuk apa? Kau tidak bersalah Hana-ya.”

“Mianheyo.”

Aku hanya dapat menghela nafas, “ne”.

“Sudah malam, kau tidak ingin kembali?” tawarku.

Hana hanya mengangguk pelan, “kau duluan. Aku masih ingin di sini.” Ia mengangkat kepalanya dari bahuku. Aku menatapnya lagi, memastikan dia akan baik-baik saja.

“Geurae, jangan terlalu lama. Nanti ahjumma khawatir.” aku bangkit dan mengusap kepalanya pelan sebelum berlalu, “Jangan menangis lagi Hana-ya. Aku sedih melihatmu seperti ini.” ucapku pelan dan berlalu meninggalkannya.

*Sehun POV End*

 

*Park Chanmi POV*

“Sehun?” panggilku saat melihat sosok namja itu berjalan menuju apartemennya, tepat di depanku.

“Chanmi-ah, dari mana?” tanyanya pelan.

“Taman depan, kau sendiri?”

“Tempat rahasiaku. Hehehe.” Sehun memasang cengiran imutnya, aku hanya tersenyum melihatnya.

Ah, aku jadi ingat perkataan Hana tadi, apa mungkin yang dikatakannya benar? Kalau Sehun juga…

“Chanmi-ah, kau mendengarku?” tiba-tiba tangan Sehun sudah melambai dihadapanku. Aku tersadar dari pikiranku.

“Ne? Mianhe, tadi kau bilang apa?”

“Tentang Hana, apa kau tahu apa yang terjadi pada Hana sepulang sekolah? Apa dia mengatakan sesuatu tentang aku yang marah padanya atau hal semacam itu?”

Eh, kenapa tiba-tiba Sehun menanyakan Hana?

“Mm…tadi aku memang bersamanya, tapi kemudian Hana pergi. Aku hanya mencoba menghiburnya karena dia terlihat sangat murung seharian.” jelasku pada Sehun.

Sehun seperti berpikir, entah apa, tapi aku harus mencoba membujuknya untuk memaafkan Hana.

“Sehun-ah, jangan marah lagi pada Hana.”

“Jangan khawatir, aku tidak marah padanya.” aku tersenyum lega mendengar perkataan Sehun.

“Chanmi-ah, gomawo.”

“Eoh? Untuk?”

Sehun hanya mengangkat bahunya pelan dan mengangguk padaku sebelum berlalu.

*Park Chanmi POV End*

 

*Kim Jong In POV*

Hari ini aku sedang dalam mood yang kurang baik.  Sekyung dan aku tidak bertemu seharian, dia sedang ada tugas penting bahkan mengirim pesan singkat saja tidak. Huff…aku melempar ponselku dengan asal ke tempat tidur.

Brakk!

Aku menoleh dan pintu kamarku sudah dibuka lebar-lebar oleh yeodongsaengku.

“Hana? Ada apa?”

Hana tidak menjawabku, dia berjalan dan duduk di pinggir tempat tidurku. Aku bangun dan ikut duduk disampingnya.

“Waeyo? Kau habis menangis?” tanyaku lembut. Hana hanya menggeleng dan menyandarkan kepalanya di bahuku. Aku membiarkannya.

Aku sangat tahu sifatnya, kalau habis menangis dai hanya akan diam dan bersandar padaku. Aku mengusap kepalanya pelan. Kami terdiam beberapa lama.

“Oppa, seandainya Sekyung eonnie mencintai namja lain, apa kau akan melepaskannya?” Hana mengangkat kepalanya, mata sembabnya menatapku.

Aku menghela nafas panjang, “itu pertanyaan sulit. Aku bahkan tidak pernah membayangkan akan kehilangan Sekyung.” ucapku pelan.

“Aku tidak yakin dapat melepaskannya dengan tulus karena aku sangat mencintainya, aku juga tidak yakin dapat melupakannya dari hidupku dan mencoba mencintai yeoja lain. Hajiman, kalau dengan cara seperti itu dia dapat bahagia…” aku menarik nafas pelan, “aku akan mencoba untuk melepaskannya.” lanjutku.

Aku dan Hana kembali terdiam dan Hana menyandarkan kepalanya lagi di bahuku.

“Arraseo. Gomawo oppa.” ucapnya pelan.

Aku menarik Hana dari sandarannya dan memegang kedua pundaknya, “Apa ada yang terjadi?”

“Kau… sedang patah hati?” tanyaku lagi.

“Hehe. Oppa, memangnya aku pernah jatuh cinta sampai harus patah hati?” dia tersenyum, dan aku tahu itu senyum terpaksa.

“Gotjimal. Kau mencintai seorang namja? Sehun?” matanya seketika membulat, aku tahu tebakanku benar.

“Sejak kapan?” tanyaku lagi.

“Mollayo.” Jawabnya pelan.

“Lalu, apa masalahnya?”

“Chanmi… dia juga mencintai Sehun.” aku mengangguk pelan, entah kenapa masalah ini seperti telah ada dalam pemikiranku sebelumnya. Aku bahkan tidak terkejut mendengarnya. Hal yang mengejutkanku justru karena Hana yang biasanya tidak pernah peduli dengan apapun, ternyata sebegitu mencintai Sehun, tapi tidak bisa mengkhianati sahabatnya sendiri.

“Lalu, apa yang akan kau lakukan?”

Hana diam dan tidak menjawabku, lalu ia menggeleng kepalanya pelan.

“Mau ku beritahu sesuatu?”

“Mwoya?”

“Kalau kau memang mencintainya katakanlah perasaanmu yang sebenarnya pada Sehun. Masalah dia mencintaimu juga atau tidak, itu resiko yang harus kau hadapi. Dan juga bersikaplah adil pada Chanmi dengan memberinya kesempatan yang sama. Satu hal lagi, bagaimanapun juga, persahabatan kalian harus tetap dijaga. Arraseo?”

“Mm… arraseo. Gomawo oppa.” Hana memelukku dan aku hanya menepuk-nepuk kepalanya pelan.

Yeodongsaengku ini sudah jadi dewasa rupanya.

“Chankaman! Jadi itu alasannya kenapa kau menjauh dari Sehun? Kau tahu, kata Sekyung, namdongsaengnya itu seperti ayam kehilangan induk saat kau tidak bersamanya. Aissh.. kalian ini…”

“Hoahm.. Oppa, aku mengantuk. Jaljayo!” Hana berlari secepat kilat ke kamarnya. Aku hanya geleng-geleng melihat kelakuan yeodongsaengku yang satu ini. Padahal aku baru akan menceramahinya.

Sudahlah, biarkan saja mereka berdua. Lagipula kurasa Sehun dan Hana memang saling menyayangi, semoga Chanmi dapat mengerti.

Drrt… drrt… drrt…

Aku mengambil ponselku secepat kilat dan kecewa secepat kilat karena pesan yang kudapat bukan dari Sekyung-ku.

“Yak! Kenapa tadi Hana lalu sekarang Sehun? Mana Sekyung-kuuu????”

*Kim Jong In POV End*

 

“Sehun-ah!!” Chanmi berlari menghampiri namja yang sedang berjalan setumpuk buku di tangannya.

“Mau kubantu?” tawar Chanmi.

“Aniyo!  Aku ini namja. Namja! Tidak boleh meminta yeoja membantuku dengan hal yang seperti ini.” Chanmi tertawa melihat tingkah chingunya itu.

“Ne. Ne. Setelah ini mau makan siang bersama?”

“Otte!” Sehun melempar senyum manisnya dan diikuti dengan wajah Chanmi yang bersemu merah.

“Eoh, Hana odieyo?” tanya Chanmi.

“Katanya ada urusan dengan Lee seongsaenim, mungkin masalah pilihan universitasnya. Ujian kan sudah dekat.”

“Aku perpustakaan dulu, nanti aku menyusulmu.”

“Ne.” Chanmi menatap punggung Sehun yang menjauh dan memasuki perpustakaan, kemudian melanjutkan langkahnya ke kantin sekolah.

 

***

 

“Mwo?! Universitas itu kan berbeda dengan aku dan Chanmi. Kau yakin?”

“Ne. Universitas itu memiliki fakultas sastra terbaik. Lagipula aku sudah mendiskusikannya dengan Lee seongsaenim, dia juga berpendapat itu pilihan yang baik.” sahut Hana ringan sedangkan Sehun menatapnya tak percaya.

“Tapi bukankah kita akan masuk universitas yang sama?”

“Sehun-ah, bagaimanapun juga kita harus memiliki pilihan sendiri kan?”

“Lalu kau akan sendirian di sana?” Sehun tidak mau kalah.

“Aniyo, kau tahu, Chanyeol oppa juga di sana, iya kan Chanmi-ah?”

“Eoh? Ne.” jawab Chanmi singkat.

Sehun hanya mendengus pelan, “terserah kau saja.”

“Sehun-ah, kita kan tetap bersahabat, eoh? Kau masih bisa menggangguku di apartemen?”

“Ne, Hana benar. Lagipula, kau masih bersamaku kan Sehun-ah?”

“Terserah kalian saja.” Sehun menutup pembicaraan mereka disambut senyuman kedua yeoja di depannya.

 

***

 

Sore itu Chanmi sedang sibuk sendiri di dapur apartemennya. Park Chanyeol baru saja tiba di rumah dan melihat yeodongsaengnya yang sibuk segera menghampirinya.

“Hm…baunya enak. Kau sedang membuat apa?” tanya Chanyeol sambil menggerak-gerakkan hidungnya lucu.

“Oppa…kau sudah pulang?” sambut Chanmi dengan senyum mengembang.

“Aku sedang membuat cake.” katanya lagi sambil mengangkat cakenya yang sudah matang dari oven.

“Cake? Memangnya ada apa?” tanya Chanyeol, sedikit tergoda pada wangi kue yang baru diangkat dari panggangannya.

“Besok 14 April.”

“Ne, nan arra. Geundae wae?”

“Oppa!! Itu hari ulang tahun Sehun!” Chanmi cemberut karena sikap tidak peduli oppanya.

“Jinjja? Wah, jadi kau akan memberikan ini untuknya?” Chanmi mengangguk cepat.

“Dia pasti senang. Tapi, kau mau buat cake apa?”

“Rahasia!” *mehrong*.

“Oppa, pergilah! Jangan melihat, apalagi memberitahu Sehun.” Seru Chanmi mendorong oppanya dari dapur.

“Arra. Arra. Semoga sukses!” teriak Chanyeol beranjak ke kamarnya.

“Mwo? Sukses apanya? Dasar oppa!” gerutu Chanmi, dia mulai menghias cake didepannya sambil sesekali tersenyum melihat hasil karyanya.

“Semoga Sehun menyukainya.”

 

***

 

*Oh Sehun POV*

Aku sedang sibuk mengacak-acak tempat favoritku yang sudah lama tidak kudatangi ini, kamar Hana. Dia sedang sibuk di mejanya menulis entah apa. Aku melihatnya dari belakang, yeoja kesayanganku ini cantik sekali dari belakang. Hehe.

“Hana-ya!” panggilku usil.

“Hm?” sahutnya tapi tidak menoleh ke arahku. Huh, aku bangkit dari tempat tidur dan mendatanginya.

“Hana-ya!” panggilku lagi, aku sudah berdiri di belakangnya.

“Hm? Ada apa Sehun-ah?” tangannya masih sibuk menulis, tetap belum menoleh ke arahku.

“Coba tebak besok tanggal berapa?”

“Mollayo.” jawabnya, tetap sambil menulis. Ah, aku kesal!

“Hana-ya!!!” panggilku keras, membuat Hana terlonjak kaget.

“Sehun!! Waeyo? Tidak perlu seperti itu kan?” akhirnya dia menoleh ke arahku, tapi pandangannya terlihat sangat kesal padaku.

“Kau lupa besok tanggal berapa?” tanyaku lagi.

“Ne. Memangnya tanggal berapa?”

Aku hanya menghela nafas, apa dia memang sudah tidak peduli padaku lagi sekarang? Ini menyebalkan, tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa, dia hanya seorang sahabatku saat ini.

“Sudahlah, aku pulang saja. Sepertinya kau sangat serius.” Aku menepuk bahunya pelan dan berjalan keluar, tapi tangan Hana menahan lenganku.

“Mianhe.” katanya pelan, “Jangan marah Sehun-ah.”

Aku berbalik, mendekatkan wajahku padanya dan menangkup pipinya dengan kedua tanganku, “Aniyo. Aku tidak akan bisa marah padamu, eoh?”

“Wae?” pertanyaannya membuat kerongkonganku mendadak kering. Tentu saja aku tidak akan pernah bisa marah padanya, dia yeoja yang paling kucintai, dia juga sahabatku yang sangat kusayangi. Kim Hana, kau itu segalanya bagiku, tidak mudah untuk marah apalagi benci padamu.

Aku menghela nafas panjang, menatapnya lekat-lekat, dan memutuskan untuk menjawabnya.

“Karena aku menyayangimu Hana-ya.”

***

 

Upss… mianhamnida TBC lagi yaakk!! Gamsahamnida fo reading. *bow*

 

13 pemikiran pada “Our Love (Chapter 3)

  1. aigooo~ kenapa saya benci kalo orang ke 3 nya itu cewek.. ckkk cowok si gampang goyah hahaa semoga sehun enggak… dan dia tegas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s