Fallen (Chapter 8)

Tittle    : FALLEN – CHAPTER 8 PART A: MENYELAM TERLALU DALAM
Author : @FYEAHZELO_
Main Cast :  -Lucinda Price : Park Gi Eun (OC)

-Daniel Grigori : Xi Luhan (EXO-M)

-Cameron Briel : Wu Yi Fan a.k.a Kris (EXO-M)

-Arriane Alter : Amber Josephine Liu (F(X))

-Pennyweather Van Syckle-Lockwood : Lee Sun Kyu a.k.a Sunny (SNSD)

-Roland Sparks : Roland Sparks (OC)

-Gabrielle Givens : Lee Hyori (OC)

 

Support Cast :        -Sophia Bliss : Kim Hyun Jin—Miss Kim (OC)

-Mary Margaret ‘Molly’ Zane : Choi Jin Hee (OC)

-Randy : Kim Joon-myun a.k.a SuHo (EXO-K)

-Callie : Jung Ji Hyun (OC)

-Todd Hammond : Park Chanyeol (EXO-K)

-Trevor : Trevor (OC)

 

 

Genre  : Western-Life, Paranormal Romance, Supernatural Romance, Young Adult Fiction, Fantasy

 

 

Credit : FALLEN karya Lauren Kate

 

 

Warning : Typo merajalela (?), OOC

CHAPTER 8 PART A:

MENYELAM TERLALU DALAM

Ketika Gi Eun membuka pintu kamar asramanya yang diketuk pada Sabtu pagi, Sunny langsung tersungkur ke pelukannya.

 

“Kupikir suatu hari aku akan menyadari bahwa pintu terbuka ke dalam,” gadis itu meminta maaf, meluruskan posisi kacamata. “Harus ingat untuk tidak lagi bersandar pada lubang intip pintu. Omong-omong, kamarmu lumayan juga,” ia menambahkan, memperhatikan sekitar. Sunny menyeberangi kamar kea rah jendela di atas tempat tidru Gi Eun. “Bukan pemandangan jelek, kalau tidak ada teralis dan yang lain.”

 

Gi Eun berdiri di belakang Sunny, menatap ke luar, ke arah pekuburan dan, yang tampak jelas, pohon ek tempat ia piknik dengan Kris. Dan, tidak terlihat dari sini tapi jelas dalam benaknya, tempat ia terjebak di bawah patung bersama Luhan. Patung malaikat maut yang menghilang misterius setelah kecelakaan tersebut.

 

Mengingat-ingat tatapan Luhan yang khawatir ketika cowok itu membisikkan namanya hari itu, hidung mereka nyaris bersentuhan, sensasi yang ia rasakan saat ujung-ujung jemari Luhan menyentuh lehernya—semua itu membuatnya merasa panas.

 

Dan payah. Ia menghela napas dan berpaling dari jendela, menyadari Sunny sudah berpindah posisi juga.

 

Gadis itu mengangkat barang-barang dari meja Gi Eun, mengamati tiap benda dengan hati-hati. Pemberat kertas berbentuk patung Liberty yang dibawa ayahnya dari pertemuan di NYU, foto ibunya dengan rambut keriting yang mengerikan ketika ia masih seusia Gi Eun, CD lagu-lagu Lucinda Williams yang diberikan Ji Hyun pada Gi Eun sebagai hadiah perpisahan sebelum ia bahkan pernah mendengar nama Sword & Cross.

 

“Mana buku-bukumu?” ia bertanya pada Sunny, tak ingin mengingat-ingat lebih lama. “Katamu kau datang ke sini untuk belajar.”

 

Saat ini Sunny sudah mulai mengacak-acak isi lemari pakaiannya. Gi Eun memperhatikan ketika Sunny segera tidak tertarik pada berbagai pakaian bertema serbahitam yang terdiri atas kaus dan baju hangat. Ketika Sunny bergerak menuju laci-laci meja rias, Gi Eun maju untuk menghalangi.

 

“Oke, cukup, Tukang Intip.” Kedua mata Sunny berkilat. “Ya, memang ada penelitian yang harus kita kerjakan. Tapi bukan seperti yang kaupikirkan.”

 

Gi Eun menatap Sunny dengan pandangan kosong. “Hah?”

 

“Dengar.” Sunny menaruh tangannya dibahu Gi Eun. “Jika kau benar-benar ingin tahu tentang Xi Luhan—“

 

“Ssst!” Gi Eun mendesis, melompat untuk menutup pintu kamar. Ia menyembulkan kepala ke lorong dan mengamati keadaan sekitar. Situasi terlihat aman—tapi bukan berarti tidak ada apa-apa. Orang-orang disekolah ini bisa muncul tiba-tiba. Terutama Kris. Dan Gi Eun rela mati jika cowok itu—atau siapa pun—mengetahui betapa tergila-gilanya ia pada Luhan. Atau, pada saat ini, siapa pun kecuali Sunny.

 

Dengan perasaan kedua tangan di balik punggu dan menyusupkan jemari kaki ke dalam bulu-bulu karpet bundar berwarna merah di dekat pintu. “Apa yang membuatmu berpikir aku mau tahu segalanya tentang Luhan?”

 

“Yang benar saja,” sahut Sunny, tertawa. “A, jelas-jelas kau menatap Xi Luhan setiap saat.”

 

“Ssst!” Gi Eun mendesis lagi.”

 

“B,” Sunny berkata, tidak merendahkan volume suara, “aku melihatmu memata-matai dia secara online sepanjang pelajaran kemarin. silahkan marah, kau benar-benar tidak tahu malu. Dan C, jangan terlalu paranoid. Kau pikir aku akan mengoceh pada semua orang di sekolah ini kecuali dirimu?”

 

Sunny memang benar.

 

“Aku Cuma mau bilang,” Sunny melanjutkan, “seandainya ingin tahu lebih banyak tentang seseorang, kau bisa mendapat hasil lebih banyak saat menyelidiki pohon keluarganya.” Sunny mengangkat sebelah bahu. “Kau tahu, jika kau dibantu.”

 

“Aku mendengarkan,” kata Gi Eun, menjatuhkan diri di tempat tidur. Pencarian di Internet kemarin hanya sampai pada tahap mengetik, lalu menghapus, kemudian mengetik lagi nama Luhan pada kolom pencarian.

 

“Aku memang berharap kau berkata begitu,” Sunny berkata. “Aku tidak membawa buku-bukuku hari ini karena akan memberimu,”—ia melebarkan mata dengan konyol—“tour berpemandu ke kantor penyimpanan catatan di sarang bawah tanah Sword & Cross yang terlarang!”

 

Gi Eun meringis. “Entah ya. Memata-matai catatan Luhan? Rasanya aku tidak perlu alasan lain merasa seperti cewek pengintai gila.”

 

“Ha.” Sunny mengejek. “Dan ya, kau memang baru saja mengatakannya dengan lantang. Ayolah, Gi Eun. Pasti menyenangkan sekali. Lagi pula, apa lagi yang akan kaulakukan pada Sabtu pagi cerah yang sempurna ini?”

 

Hari ini memang indah—tepatya hari indah yang akan membuatmu kesepian jika tidak punya rencana apapun untuk di luar ruangan yang menyenangkan. Tengah malam tadi, Gi Eun merasakan embusan angin dingin melalui jendelanya yang terbuka, dan ketika ia terjaga pagi ini, hawa panas dan lembap sudah lenyap.

 

Ia dulu menghabiskan hari-hari awal musim gugur yang keemasan ini dengan menjelajahi jalur sepeda di sekitar lingkungan rumahnya bersama teman-teman. Ia sebelum ia mulai menghindari jalur yang ditumbuhi pepohonan karena adanya bayangan-bayangan yang tidak pernah dilihat gadis-gadis lain. Sebelum teman-temannya pada suatu hari saat jam istirahat menyuruhnya duduk dan mengatakan orangtua mereka tidak ingin mengundangnya lagi, karena takut ia mengalami insiden.

 

Sejujurnya, Gi Eun sempat panic menghadapi akhir minggu pertamanya di Sword & Cross. Tidak ada pelajaran-pelajaran, tidak ada tes kesehatan yang menakutkan, tidak ada acara social dalam jadwal. Hanya waktu luang sepanjang empat puluh delapan jam. Yang terasa seperti selamanya. Sepanjang pagi ia dilanda rindu kampong halaman yang menyesakkan—hingga Sunny muncul.

 

“Oke.” Gi Eun mencoba tidak tertawa ketika berkata, “Bawa aku ke sarang rahasiamu.”

 

Sunny seperti melompat-lompat gembira ketika menuntun Gi Eun menyeberangi rumput lapangan yang terinjak-injak menuju lobi utama dekat pintu masuk sekolah. “Kau tidak tahu sudah berapa lama aku menantikan teman berkomplot untuk kubawa ke sini.”

 

Gi Eun tersenyum lega karena Sunny lebih memikirkan bakal punya teman yang bisa diajak menjelajah daripada memikirkan… yah, sesuatu yang dirasakan Gi Eun terhadap Luhan ini. Di ujung lapangan, mereka melewati beberapa anak yang bermalas-malasan di bangku penonton dibawah sinar matahari penghujung pagi yang cerah.

 

Rasanya aneh melihat warna di sekolah ini, dikarenakan murid-murid yang dianggap Gi Eun selalu mengenakan warna hitam. Tapi di sana ada Roland yang memakai celana pendek sepakbola hijau terang, mengoper-oper bola di antara dua kakinya. Dan Hyori dalam balutan kemeja gingham ungu. Jules dan Philip—pasnagan yang memiliki cincin lidah—saling menggambar di lutut pasangannya yang sama-sama mengenakan celana jins lusuh. Park Chanyeol duduk terpisah dari anak-anak di bangku-bangku penonton itu, membaca komik dalam balutan kaus loreng-loreng. Bahkan tank top dan celana pendek Gi Eun yang kelabu rasanya lebih berwarna daripada apa pun yang ia kenakan sepanjang minggu ini.

 

Pelatih Diante dan si Albatross bertugas mengawasi lapangan dan meletakkan dua kursi malas dari plastic dan payung lusuh di pojok lapngan. Kalau tidak ada gerakan mereka membuang abu rokok di lapngan, mereka bisa saja sedang tidur di balik kacamata hitam. Mereka kelihatan sangat bosan, terperangkap oleh tugas mereka, seperti juga murid-murid yang mereka awasi.

 

Banyak orang di lapangan, tapi saat berjalan rapat di belakang Sunny, Gi Eun lega karena melihat tak ada siapa pun di dekat lobi utama. Tak ada yang memberi tahu Gi Eun tentang pelanggaran daerah terlarang, atau bahkan daerah mana yang terlarang, tapi ia yakin SuHo akan memberikan hukuman yang setimpal.

 

“Bagaimana soal merah?” tanya Gi Eun, tiba-tiba teringat pada kamera pengintai yang ada di mana-mana.

 

“Aku memasukkan baterai mati ke beberapa kamera waktu berjalan ke kamarmu,” sahut Sunny, dengan nada tidak acuh yang sama dengan yang mungkin digunakan orang untuk mengatakan “Aku baru saja mengisi bensin mobil.”

 

Sunny menoleh-noleh ke sekitarnya sebelum menuntun Gi Eun ke jalan masuk belakang gedung utama dan menuruni tiga anak tangga curam menuju pintu berwarna zaitun yang tidak kelihatan dari lantai atas.

 

“Apakah ini ruang bawah tanah dari zaman Perang Saudara juga?” tanya Gi Eun. Tempat ini kelihatan seperti pintu masuk tempat kau biasa mengurung tahanan-tahanan perang.

 

Sunny mengendus udara lembap dengan gaya dramatis. “Apakah bau busuk yang tidak sedap ini menjawab pertanyaanmu? Ini lumut sebelum Perang Saudar.” Sunny nyengir pada Gi Eun. “Kebanyakan murid akan senang sekali jika punya kesempatan menghirup udara yang penuh sejarah ini.”

 

Gi Eun mencoba tidak bernapas melalui hidung ketika Sunny mengeluarkan sejumlah besar kunci yang disatukan dengan tali raksasa. “Hidupku akan jauh lebih mudah jika mereka membuat kunci serbaguna untuk sekolah ini,” Sunny berkata, memilih-milih diantara beragam model kunci dan akhirnya menarik satu kunci perak tipis.

 

Ketika anak kunci itu berputar di dalam lubang kunci, Gi Eun merasakan getaran kegembiraan yang tidak disangkanya. Ternyata Sunny benar—ini jauh lebih baik daripada memetakan pohon keluarga.

 

Mereka berjalan di koridor pendeng yang sangat hangar dan lembap dengan langit-langit yang hanya berjarak beberapa senti meter di atas kepala. Udara yang apak itu berbau seperti ada sesuatu yang mati di dalam sini, dan Gi Eun nyaris lega bahwa ruangan ini terlalu gelap sehingga ia tidak bisa melihat lantainya dengan jelas. Tepat ketika ia mulai ngeri karena berada di dalam ruangan tertutup, Sunny mengeluarkan kunci lain yang membuka pintu kecil yang lebih modern. Mereka menunduk melewati pintu itu, lalu bisa berdiri tegak lagi di sisi lain.

 

Di dalamnya, kantor penyimpanan catatan itu berbau lumut, tapi udaranya lebih dingin dan kering. Keadaan gelap gulitan, hanya ada cahaya merah pucat tanda EXIT di atas kepala mereka.

 

Gi Eun bisa melihat sosok Sunny yang kekar, kedua tangannya menggapai-gapai udara. “Dimana sih tali itu?” ia bergumam. “Ini dia.”

 

Dengan tarikan lembut, Sunny menyalakan lampu bohlam tanpa tutup yang menggantung dari langit-langit pada rantai besi. Ruangan itu masih suram, tapi sekarang Gi Eun bisa melihat dinding-dinding ruangan itu juga dicat dengan warna hijau zaitun dan dipenuhi berderet-deret rak besi berat serta lemari penyimpanan arsip. Puluhan kotak penyimpanan arsip ditumpukkan di rak-rak besi, dan lorong di antara lemari-lemari seakan berjajar sampai ke ujung dunia. Segalanya dilapisi selimut debu tebal.

 

Sinar matahari tiba-tiba saja terasa sangat jauh di luar sana. Walaupun Gi Eun tahu mereka hanya beberapa anak tangga di bawah tanah, tapi rasanya seperti satu setengah kilometer. Ia mengusap lengannya yang telanjang. Jika ia bayangan, ruangan bawah tanah ini tempat yang tepat baginya. Tidak ada tanda-tanda kemunculan bayangan, tapi Gi Eun tahu tidak pernah ada alasan yang bagus untuk merasa aman.

 

Sunny, tidak merasa terganggu dengan ruang bawah tanah yang suram, menarik tangga pendek dari pojok. “Wah,” ia berkata, menarik tangga itu di belakangnya sambil berjalan. “Ada yang berubah. Arsi-arsip biasanya berada di sebelah sini… kurasa mereka bersih-bersih sejak terakhir kali aku berada di sini.”

 

“Kira-kira sudah berapa lama?” tanya Gi Eun.

 

“Sekitar seminggu yang lalu…” Suara Sunny mengecil ketika ia menghilang ke dalam kegelapan di balik lemari tinggi.

 

Gi Eun tidak bisa membayangkan apa yang dilakukan Sword & Cross dengan semua kotak ini. Ia mengangkat tutup satu kotak dan mengeluarkan arsip tebal berlabel TINDAKAN PERBAIKAN. Ia menelan ludah dengan susah payah. Mungkin lebih baik ia tidak usah tahu saja.

 

“Nama murid-murid disusun sesuai abjad!” Sunny berseru. Suaranya terdengar seperti teredam dan jauh. “V, W, X… ini dia, Xi Luhan.”

 

Gi Eun mengikuti suara gemersik kertas melalui lorong sempit dan tak lama kemudian menemukan Sunny membawa kotak dengan dua tangan, berjuang menahan bebabnnya. Arsip Luhan dikepit di bawah dagu.

 

“Arsip ini tipit sekali,” Sunny berkata, mengangkat dagunya sedikit sehingga Gi Eun bisa mengambilnya. “Biasanya arsip-arsip itu jauh lebih, mmm…” Ia mendongak kea rah Gi Eun dan menggigit bibir. “Oke, sekarang aku yang kedengaran seperti gadis pengintai gila. Kita lihat saja apa yang ada di dalamnya.”

 

Hanya ada satu halaman di dalam arsip Luhan. Foto hitam-putih hasil scan yang seperti foto identitas siswanya ditempel di kanan atas kertas. Cowok itu menatap lurus kea rah kamera, pada Gi Eun, senyum samar di bibirnya. Gi Eun tidak bisa menahan diri untuk tidak balas tersenyum. Raut wajah Gi Eun tampak sama persis seperti malam itu, ketika—yah, Gi Eun tidak bisa mengingat kapan. Ingatan tentang ekspresi cowok itu begitu jelas dalam benak Gi Eun, tapi ia tidak bisa mengingat kapan pernah melihatnya.

 

“Ya Tuhan, dia kelihatan tidak berubah, ya?” Sunny membuyarkan lamunan Gi Eun. “Dan lihatlah tanggalnya. Foto ini diambil tiga tahun lalu ketika di baru pertama kali datang ke Sword & Cross.”

 

Pasti itu yang dipikirkan Gi Eun… bahwa Luhan kelihatan sama persis seperti saat ini. Tapi Gi Eun merasa ia memikirkan—atau akan memikirkan—sesuatu yang lain, hanya saja sekarangia tidak bisa mengingatnya.

 

“Orangtua: tidak diketahui,” Sunny membaca, sementara Gi Eun bersandar pada bahunya. “Wali asuh: Panti Asuhan Wilayah Los Angeles.”

 

“Panti Asuhan?” Gi Eun bertanya, menekankan tangan di atas jantung.

 

“Cuma ini. Sisanya yang ditulis di sini adalah—“

 

“Catatan kriminalnya,” Gi Eun menyelesaikan kalimat Sunny, ikut membaca. “Lontang-lantung di pantai umum setelah jam tutup… merusak kertas belanja… menyeberang jalan tidak pada tempatnya.”

 

Sunny membelalak pada Gi Eun dan menahan tawa. “Si Tampan Luhan pernah ditahan karena menyeberang jalan tidak pada tempatnya? Akuilah, ini lucu sekali.”

 

Gi Eun tidak suka membayangkan Luhan ditahan karena alasan apapun. Ia lebih tidak suka lagi bahwa, menurut Sword & Cross, seluruh hidup cowok itu tidak lebih daripada daftar kejahatan kecil. Di antara sekian banyak kotak arsip di ruang bawah tanah ini, hanya kertas ini yang berisi catatan tentang Luhan.

 

“Pasti masih ada lagi,” Gi Eun berkata.

 

Terdengar suara langkah kaki dilantai atas. Tatapan Gi Eun dan Sunny sontak tertuju ke langit-langit.

 

“Kantor utama,” bisik Sunny, menarik selembar tisu dari balik lengan baju untuk membersit hidung. “Bisa siapa saja. Tapi takkan ada yang masuk ke bawah sini, percayalah.”

 

Sesaat kemudian, pintu yang jauh di dalam ruangan berderit terbuka, dan cahaya dari lorong menerangi anak tangga. Sura derap langkah sepatu menuruni anak tangga. Gi Eun merasakan cengkeraman tangan Sunny pada bagian belakang bajunya, menariknya ke dinding dibalik rak buku. Mereka menunggu, menahan napas dan memegang erat-erat arsip Luhan yang diambil tanpa izin. Mereka benar-benar tertangkap basah.

 

Gi Eun memejamkan mata, menanti yang terburuk, ketika senandung merdu yang mengesankan memenuhi ruangan. Ada orang bernyanyi.

 

“Duuuu da dad a duuu,” senandung suara perempuan dengan lembut. Gi Eun mengulurkan leher ke antara dua kotak arsip dan bisa melihat wanita dewasa bertubuh kurus yang di dahinya ada lampu sorot kecil seperti penambang batu bara. Miss Kim. Ia membawa dua kotak besar, ditumpuk, sehingga satu-satunya bagian tubuh Miss Kim yang kelihatan hanyalah dahinya yang berkilauan. Langkah kakinya yang ringan membuat kotak-kotak itu seperti dipenuhi bulu, bukan kertas-kertas arsip yang berat.

 

Sunny mencengkeram tangan Gi Eun ketika mereka memperhatikan Miss Kim meletakkan kotak-kotak arsip itu di rak kosong. Mengeluarkan pena untuk menulis sesuatu pada buku catatan.

 

“Tinggal sedikit lagi,” Miss Kim berkata, lalu mengatakan sesuatu sambil menghela napas yang tidak bisa didengar Gi Eun. Sesaat kemudian, Miss Kim menaiki tangga lagi, menghilang secepat munculnya. Senandungnya masih terdengar sesaat setelah ia pergi.

 

Ketika terdengar suara pintu ditutup, Sunny menghembuskan napas keras-keras. “Tadi dia berkata masih ada lagi. Mungkin dia akan kembali.”

 

“Apa yang akan kita lakukan?” tanya Gi Eun.

 

“Kau diam-diam naik tangga lagi,” Sunny berkata, menunjuk. “Begitu sampai di atas, langsung belok kiri dank au akan masuk lagi ke kantor utama. Jika ada yang melihatmu, bilang saja kau mencari kamar mandi.”

 

“Bagaimana denganmu?”

 

“Aku akan mengembalikan arsip Luhan dan menemuimu di bangku penonton di lapangan. Miss Kim takkan curiga jika hanya melihat diriku. Begitu seringnya aku ada di bawah sini rasanya tempat ini seperti kamar asrama keduaku.”

 

 

To Be Continue

 

 

Buat yang udah baca chapter ini jangan lupa tinggalin comment ya…

Don’t be a silent readers

Gomawo ^^

4 pemikiran pada “Fallen (Chapter 8)

  1. HUWAAAA AKHIRNYA~~~
    udah hampir putus asa sama crita ini, masalahnya penantian crita ini panjang bngt kkk~ kirain gak bakal lanjut lagi u,u
    chapter2 selanjutnya lebih panjang lagi ya, biar cepet selesai hehehe..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s