When You’re With Her (Chapter 3)

When You’re With her (Chapter 3)

 

 

Title       : When You’re With Her

Author  : @deboratif_ksk

Genre   : School life, a little sad, romance, GENDERSWITCH

Rating   : Teen

Length  : Chapter

Cast       : Byun Baekhyun, Park Chanyeol.

                                                                                         

 

Disclaimer :

 

Hai hai hai ^0^ Ketemu lagi sama saya author ketjeh nan cantik jelita ini LOL. Ada yang kenal saya gak ? Atau ada yang pernah baca ff She’s Cold. Itu FF saya. Hahaha liat komentar di She’s Cold ternyata banyak yang minta sequel eh tapi sayanya gak punya ide buat sequelnya. Mungkin karena endingnya terlalu gantung #YangBuatSiapaYangBingungSiapa

 

Tapi yang belum baca She’s Cold monggo dibaca https://exofanfiction.wordpress.com/2013/05/16/shes-cold/#more-12282 Malah promosi FF. Satu lagi, FF saya yang Am I Death ? juga dibacanya ya ‘-‘

 

Ingat! Ini GENDERSWITCH, alias TRANSGENDER. Gak suka ? Gak usah baca. Dan anggap aja kalau Baekhyun, Zitao, Luhan dan yang ‘sejenisnya’  tuh disini cewek bukan cowok .__.

Daripada bacot tak jelas mending langsung baca nih FF baru saya (chap 3) CEKIDOTTT~~

 Baekyeolff

Baekhyun menatap miris sang Ayah yang kini sedang terbaring di ranjang rumah sakit. Tidak, Baekhyun tidak menangis. Ia sudah lelah untuk menangis. Air mata yang dikeluarkan tidak membuat keadaan menjadi lebih baik. Baekhyun hanya bisa menghela nafas berat saat mendapati kenyataan bahwa sang Ayah mengalami koma. Chanyeol dan ‘Ibunya’ baru saja datang dan seakan tidak ingin memperkeruh suasana,Baekhyun memutuskan untuk pergi dari rumah sakit.

 

 

Pulang ke rumah ?

 

 

Tidak, rumah bukanlah tempat yang disayanginya sekarang.

 

 

Jadi ?

 

 

 

Ah~ entahlah, Baekhyun sendiri pun tidak tahu.

 

 

 

“Kenapa di saat seperti ini Tao malah pergi kerja kelompok ?” keluhnya saat melewati taman kota yang letaknya tidak terlalu jauh dari rumah sakit.

 

 

“Kenapa hidupku menjadi seberat ini ?”

 

 

Baekhyun terduduk di bangku taman. Mencoba melepas lelah, (yang tentu saja) bukan lelah secara fisik, namun lelah secara mental dan psikology nya.

 

 

Baekhyun mengerutkan kening saat matanya menangkap sosok familiar yang sangat dikenalnya.

 

 

“Senior Luhan…?” Baekhyun menggumam pelan. “Kenapa senior Luhan disini ?” Tanya Baekhyun pada dirinya sendiri dan pertanyaan besar merajai otak Baekhyun saat melihat Luhan bersama dengan Sehun, seorang murid kelas satu di sekolahnya. Apalagi saat melihat Luhan bergandengan tangan dengan Sehun, saling tertawa bersama, semakin membuat Baekhyun bertanya-tanya pada dirinya sendiri.

 

 

“Baekhyun!”

 

 

“E-eh ?” Baekhyun tergagap saat Luhan menyerukan namanya dengan lantang, dan kemudian gagapan tersebut berubah menjadi kegugupan saat Luhan berlari kecil menghampiri dirinya.

 

 

“Hai, Baekhyun.” Ujar Luhan riang –seperti tak terjadi apa-apa- “Sedang apa disini ? Tumben sekali kau kemari ?”

 

 

“I-itu aku hanya berjalan-jalan saja sebentar, hehehe…” Baekhyun menggaruk kepalanya yang sama sekali tidak gatal.

 

 

“Baiklah, Baekhyun. Kalau begitu aku pergi dulu. Aku ada kencan dengan Sehun.” Ujar Luhan riang. “Daaagg~hh.”

 

 

Baekhyun tertegun sejenak, apalagi otaknya yang berat dengan kata ‘kencan’

 

 

“Ke-kencan?! Tapi..Cha-chanyeol…?”

 

 

Luhan mengerutkan alisnya. Apa ada yang salah ? Memangnya kenapa dengan Chanyeol ? Namun, sepertinya Luhan tahu bagaimana kondisinya saat ini, dengan cepat bibir kecilnya membuka suara.

 

 

 

“Baekhyun, aku…tidak berpacaran dengan Chanyeol.”

 

 

 

Badai menerjang, kilat menyambar, tornado berputar cepat, gempa bumi mengguncang dan otak Baekhyun mulai terjadi korslet dan error.

 

 

 

Hah ? A-apa ? Senior Luhan…tidak berpacaran dengan Chanyeol ? Bagaimana mungkin ?!

 

 

“Ya, aku memang tidak berpacaran dengan Chanyeol. Dan itu mungkin, Baekhyun.” Ujar Luhan lagi seakan ia dapat membaca pikirannya. Baekhyun hanya mematung di tempat, tidak percaya dengan apa yang dikatakan Luhan.

 

 

 

“Jadi, kau tenang saja. Chanyeol-mu masih sendiri hehehe. Waktu itu aku menolaknya, sih. Aku kan punya Sehun” Luhan kembali berujar dengan riangnya, wajah manis dan imutnya itu bertambah jutaan kali lipat saat ia tersenyum dengan gembira seperti ini.

 

 

Otak Baekhyun tidak dapat memproses dengan cepat. 

 

 

“Ja-jadi….senior dan Chanyeol tidak berpacaran ?” tanyanya pelan.

 

 

“Yap.”  Ujar Luhan mantap.

 

 

 

“Luhan deer ^0^” Ucapan riang –yang terkesan manja- mengalun di telinga Baekhyun dan Luhan. Baekhyun memutar cepat kepalanya, terlihat Sehun yang berjalan cepat untuk mencapai tempat Luhan dan ia bercengkerama saat ini.

 

 

“Oh, Sehun! Sini, aku sedang bersama Baekhyun.” Ujar Luhan tak kalah riangnya.

 

 

 

Ugh, pasangan yang sangat bahagia rupanya.

 

 

 

“Mau pergi ke sungai Han, tidak ? Disana kita akan makan di tempat biasa aku ber- eh….Senior Baekhyun ?!” Sehun memotong percakapannya sendiri saat manik matanya menangkap sosok Baekhyun yang duduk tepat di samping Luhan.

 

 

 

Baekhyun tersenyum kikuk.

 

 

“Halo…..” sapanya pelan.

 

 

“Ba-bagaimana bisa senior Baekhyun disini ?”

 

 

“Aku..hanya berjalan-jalan saja. Kau sendiri ? Ah iya, aku lupa. Kau kan bersama sedag kencan bersama Luhan Deer-mu.” Jawab Baekhyun dengan senyum kecil yang kini menghiasi wajah indahnya.

 

 

Sehun tersenyum malu. “Baiklah, jadi….deer Luhan, kita pergi sekarang ?”

 

 

Dan Luhan pun mengangguk cepat, mengiyakan permintaan Sehun yang sempat terpotong oleh perkataan pria itu sendiri.

 

 

 

 

 

 

 

 

Chanyeol menendang batu kerikil tidak berdosa yang berada tepat di depan kaki panjangnya. Ayah Baekhyun sudah melewati masa kritisnya, dan kini ‘Ibu’ Baekhyun lah yang menjaga di rumah sakit. Chanyeol mengira, mungkin dengan berjalan-jalan sedikit dapat membantunya melepas penat. Belakangan ini tugas sekolah benar-benar menumpuk, membuat pria jangkung tersebut tidak dapat menikmati rumah barunya –rumah Baekhyun- dengan tenang. Namun acara jalan-jalan tersebut harus terhenti sebentar saat manik hitam Chanyeol menangkap sosok Baekhyun di taman kota, sedang duduk sendirian.

 

 

 

“Baekhyun…”

 

 

Chanyeol hendak melangkahkan kaki panjangnya namun saat melihat seseorang menghampiri Baekhyun, tubuh Chanyeol dengan reflex berhenti sendiri.

 

 

 

“Luhan…” untuk kedua kalinya Chanyeol bergumam kecil. “Kenapa Luhan bersama Baekhyun ?”

 

 

 

Chanyeol memperhatikan seksama Baekhyun dan Luhan yang tengah bercengkerama. Oh, sebenarnya Chanyeol hanya memperhatikan-

 

 

“Luhan Deer ^0^” seruan riang –yang terkesan manja- terdengar hingga ke dalam gendang telinga Chanyeol.

 

 

“Loh ? Sehun….?” Pertanyaan mulai muncul dalam benak Chanyeol, namun otak nya dengan cepat memberi tanggapan. “Hm, paling mereka sedang kencan.” Gumam Chanyeol ringan seakan hal tersebut bukanlah hal yang besar –mengingat ia pernah menyatakan cintanya pada Luhan-

 

 

 

Chanyeol kembali melangkahkan kaki panjangnya saat ia melihat Sehun dan Luhan berjalan pergi meninggalkan Baekhyun yang masih setia duduk di bangku taman. Wajah kusut Baekhyun terlihat sangat jelas. Mungkin dia lelah, pikir Chanyeol.

 

 

 

 

 

 

 

 

Baekhyun menundukkan kepalanya.

 

 

Aku tidak berpacaran dengan Chanyeol

 

 

Perkataan Luhan masih terngiang dengan jelas di kepalanya. Apa sekarang Baekhyun punya kesempatan untuk mendapatkan Chanyeol ?Walaupun Luhan menolak Chanyeol, tapi Chanyeol kan….menyukai Luhan.

 

 

“Aih, Park Chanyeol manusia autis, kau membuatku selalu merasa gembira sekaligus sedih di saat yang bersamaan. Menyebalkan! Ugh!” Baekhyun berseru lantang, tidak peduli pada orang lain yang menatapnya aneh.

 

 

Dan tanpa sadar, Baekhyun mengeluarkan kebiasaan super aneh miliknya, menggigiti ujung kuku ibu jarinya. Baekhyun terus menggigit ujung kuku ibu jari kanannya, hingga ibu jari tersebut memerah. Bahkan kuku-kukunya ikut terkikis dan sedikit terkelupas.

 

 

“Tidak baik menggigit kuku sendiri.” Suara bass yang sangat dihapal Baekhyun terdengar hingga mengagetkan dirinya.

 

 

“Chanyeol!” Seru Baekhyun lantang untuk kedua kalinya.

 

 

“Ck, jangan berisik. Suara mu itu sangat melengking.” Ujar Chanyeol datar. Tubuh Chanyeol dengan sendirinya mengambil tempat di samping Baekhyun, mendaratkan tubuh tingginya dan bersantai menikmati pemandang taman –buatan- itu.

 

 

“Se-sedang apa kau disini ?” Tanya Baekhyun tak tenang. Mata kecil Baekhyun melotot menghadap sosok jangkung yang saat ini tengah duduk menikmati sejuknya udara.

 

 

“Sedang apa ? Seharusnya aku yang bertanya padamu. Kau sedang apa disini ? Ayahmu sakit dan kau malah terduduk sambil menggigiti kuku jarimu sendiri. Lihatlah, bahkan ujung kukumu sudah terkelupas. Astaga, sebenarnya kau ini kenapa ?” Chanyeol berujar tanpa jeda sedikitpun. Perasaan Baekhyun saja atau memang, akhir-akhir ini Chanyeol menjadi sangat cerewet ?

 

 

Baekhyun hanya menundukkan kepalanya, tidak tahu harus menjawab apa. Otaknya terlalu buntu untuk menjawab Chanyeol. Lagipula, kenapa pria jangkung itu bisa berada disini ?

 

 

“Tidak bisa menjawab, hm ?” ujar Chanyeol, kali ini ini dengan nada lebih lembut. “Ya, aku tahu bagaimana rasanya. Aku juga pernah melihat orangtuaku terbaring tidak berdaya seperti Ayahmu, dan yang lebih parah orangtuaku malah dipanggil Tuhan.” Ucap Chanyeol dengan mata menengadah ke atas, menatap awan putih bersih yang kini menyelubungi langit.

 

 

Baekhyun mendongakkan kepalanya, menatap manik hitam Chanyeol dengan sedih. “Maaf….”

 

 

“Tidak apa-apa, Baekhyun. Ini semua hanya cobaan yang menguji dirimu. Ayahmu, Ibu emm…maaf ibu tirimu, semua masalah itu ada jalan keluarnya. Kau hanya perlu bekerja keras, berpikir positif, mengambil hal baik dari setiap kejadian yang membuatmu kacau seperti ini. Dan jangan lupa untuk berdoa. Anggap saja ini ujian kesakitan yang akan membuatmu kuat nantinya.” Ucapan bijak –panjang lebar- Chanyeol membuat Baekhyun terbelalak takjub.

 

 

“Woaahh, darimana kau mengutip setiap bait kata-kata itu ?” Tanya Baekhyun dengan mata berbinar penuh keingin tahuan.

 

 

TAK!

 

 

“Yak! Aish, Park Chanyeol! Kenapa kau malah memukul kepalaku ?!” Baekhyun berseru lantang –dan marah- saat tangan besar Chanyeol menghantam kepalanya. Ayolah, siapa yang tidak marah jika ada seseorang dengan tenaga besar yang tiba-tiba memukul kepalamu ?

 

 

“Yak! Aku tidak mengutip kata-kata itu. Itu semua hasil karangan otakku yang pintar ini.” Balas Chanyeol sewot.

 

 

“Cih, mana mungkin kau bisa merangkai kata dengan bijak seperti itu ?”

 

 

“Hei, kau meremehkanku, ya ?”

 

 

“Ya, tentu saja.”

 

 

TUK!

 

 

Sekali lagi, tangan besar Chanyeol mendarat dengan mulusnya di kepala kecil Baekhyun.

 

 

“Hey, ini sakit!” Seru Baekhyun dengan tatapan melotot marahnya. Dan Chanyeol-

 

 

“HAHAHAHA” Tawa menggelegar bass Chanyeol berderu di tengah-tengah ucapan bengis marah Baekhyun. Baekhyun terdiam, kalau keadaan seperti ini…..Chanyeol sangat tampan….

 

 

Tidak, bukan tampan. Chanyeol terlihat sangat…gembira dan mempesona, mungkin ? Hm, Baekhyun tidak tahu. Yang jelas saat ini matanya tidak bisa lepas dari Chanyeol.

 

 

“HAHAHAHAHA”

 

 

PUK!

 

 

Baekhyun menepuk pelan pipinya, berusaha meluruskan otaknya yang mulai memasuki dunia khayal.

 

 

“Ke-kenapa tertawa…itu tidak lucu tahu!” Seru Baekhyun keras. Namun, bukannya berhenti, tawa Chanyeol malah semakin meledak.

 

 

“Yak, Park Chanyeol! Jangan tertawa.”

 

 

“HAHAHAHA, I-iya..iya HAHAHA habis kau lucu sekali sih, HAHAHA.”

 

 

DEG~~DEG~~

 

 

Baekhyun diam lagi.

 

 

Jantung, kumohon, jangan seperti ini. Bekerjalah dengan normal, jangan biarkan Park Chanyeol si manusia autis itu menguasaimu. Jangan terpikat jebakan pesonanya, jangan! Tuhan Yang Maha Kuasa, aku tahu aku banyak dosa. Aku tahu aku salah karena mengatai ‘Ibuku’ sebagai wanita murah, tapi tolong sekali, jangan menghukumku seperti ini. Jangan menghukumku melalui Chanyeol. Jangan biarkan jantungku tiba-tiba menjadi tidak normal karena dia.

 

 

Chanyeol menghentikan tawa nya saat melihat Baekhyun yang terdiam –melamun-

 

 

“Hei, Baekhyun.”

 

“…”

 

“Baekhyun….”

 

“…”

 

“Byun Baekhyun!”

 

“…”

 

“YA BYUN BAEKHYUN!”

 

 

“E-eh..? Ah, apa ?” Tanya Baekhyun yang sudah tersadar di pikiran kacaunya. Chanyeol hanya bisa menghela nafas.

 

 

Kenapa orang ini hobi sekali melamun ? Tanya Chanyeol dalam hatinya.

 

 

“Sudahlah, ayo kembali ke rumah sakit.” Chanyeol mengangkat tubuhnya dari bangku dan kemudian menatap Baekhyun seakan manik hitam itu mengisyaratkan untuk pergi. Baekhyun menengadah. Dalam keadaan seperti ini, saat Baekhyun duduk dan Chanyeol berdiri, Baekhyun pikir Chanyeol menjadi ratusan juta kali lipat lebih tinggi.

 

Baekhyun menggeleng pelan.

 

 

“Tidak mau, aku…tidak mau kembali ke sana…” jawab si ‘cantik’ itu.

 

 

Chanyeol terkesiap. Tidak mau kembali ? Kenapa ?

 

 

“Ke-kenapa ? Kau…tidak mau melihat Ayahmu ? Padahal menurut dokter kondisi Ayahmu sudah membaik. Ayahmu sudah melewati masa kritisnya, jadi…kenapa tidak mau ?” Tanya Chanyeol dengan raut wajah penuh tanda tanya.

 

 

Baekhyun menggeleng pelan.

 

 

“Aku tidak mau bertemu Ah Ri.” Jawab Baekhyun pelan. Chanyeol mengerutkan keningnya.

 

 

“Ah Ri ? Siapa itu ?”

 

“Ibuku…”

 

“…”

 

“Ba-baiklah, kalau kau tidak ingin bertemu dengan ibumu. Kalau begitu, kita disini saja sebentar…”

 

 

Semenit, dua menit, lima menit, lima belas menit.

 

 

Tidak ada percakapan, hanya ada sunyi. Dan kesunyian itu pecah saat Chanyeol membuka suaranya.

 

 

“Aku tidak tahu jika ini membuatmu merasa lebih baik atau tidak. Tapi…aku sebenarnya tidak berpacaran dengan Luhan…”

 

 

Perkataan Chanyeol  barusan berhasil menarik perhatian Baekhyun, walau dibalas hanya dengan sebuah senyuman.

 

 

“Ya, aku tahu.” Jawab Baekhyun sambil memasangan senyum manisnya. Chanyeol terbelalak kaget.

 

“Kau…tahu ?”

 

“Ya, aku tahu.”

 

“Ba-bagaimana bisa ?” Tanya Chanyeol tidak percaya.

 

“Senior Luhan sendiri yang mengatakannya.”

 

Chanyeol mengangguk paham. Dan kemudian hening kembali menyelimuti kedua insan tersebut. Seakan terbius oleh lembutnya hembusan angin, keduanya tidak ada yang membuka suara.

 

 

 

 

 

 

Tao menatap jam tangannya dengan pandangan khawatir atau lebih bisa disebut…panik ? Mata Tao bergerak-gerak, tubuhnya gelisah.

 

“Hey, Zitao, kau kenapa, huh ? Dari tadi perilakumu sangat aneh.” Taemin, teman sekelas Zitao bertanya dengan kerutan di dahinya.

 

“Tidak, hanya saja…kapan kita bisa pulang ? Bukankah semua tugas sudah selesai ? Aku harus pergi.” Ujar Tao sambil meringis. Taemin mengangguk paham.

 

“Oh, tunggu saja. Mungkin beberapa menit lagi selesai. Kita kan harus menunggu Jinri dan Soojung dari dapur. Oh, jangan lupakan Myungsoo dan Daehyun, mereka sedang ke kamar mandi”

 

“Lama sekali sih. Memangnya Jinri dan Soojung sedang apa di dapur ?” Tanya Tao tak sabar.

 

“Membuat makanan untuk kita, tentu saja. Kau ini bagaimana, huh ? Kan tuan rumahnya Soojung.”

 

Tao memasang muka masam miliknya. “Habisnya, aku ‘kan harus cepat.” Ketusnya. Taemin menatap Zitao sebentar.

 

“Memangnya ada apa ?”

 

Dan sebelum Tao membuka mulutnya untuk menjawab, Taemin sudah terlebih dahulu memotong perkataan si ‘Panda’ itu.

 

“Ja-jangan-jangan….kau…Yak! Huang Zitao! Kau mencuri sesuatu ya ?!” Seru Taemin Lantang

 

 

TAK! PLUK! BUK!

 

 

“Hiyaaaaa! dasar orang Cina! Apa yang kau lakukan ?! Ini sungguh sakit!” Taemin menjerit bengis saat mendapati kenyataan bahwa kepalanya baru saja ditimpuk bertubi-tubi dengan Pulpen, Pengaris dan…buku fisika super tebal milik Tao.

 

 

“Makanya, tuan Lee, jangan sembarangan bicara!” balas Tao tak kalah bengis. “Aish, kapan pulangnya?! Aku mau ke tempat Baekhyun!” Dan kembali raut masam terpajang di wajah Tao.

 

 

 

 

 

 

“Baiklah, Byun Baekhyun. Ini sudah keterlaluan, sekarang ayo pulang!” Chanyeol berseru lantang untuk ke seribu kalinya. Dua jam sudah ia dan Baekhyun berdiam dan mendekam di taman dan dua jam sudah ia berkoar-koar hanya untuk mengajak Baekhyun pulang.

 

 

“Sebentar lagi. Engg..aku masih mau disini.” Balas Baekhyun pelan. Chanyeol mendengus kesal.

 

 

“Tidak bisa, Byun Baekhyun. Kau pikir ini jam berapa, huh ? Ini sudah pukul lima dan kita bahkan belum makan siang karena acara ‘berdiam di taman’ ini.”

 

 

Baekhyun mengerucutkan bibir mungilnya, pertanda bahwa ia memang tidak ingin pulang.

 

 

 

“Sebentar lagi ya….”

 

“Tidak!”

 

“Ayolah, Channie, sebentar lagi, ya. Kumohon…”

 

 

 

Chanyeol diam. Entah karena apa. Tiba-tiba saja mulut dan lidahnya tidak mau bergerak. Rasanya seperti ada sesuatu yang mengganjal di tenggorokannya, membuat sang pemilik enggan membuka suara.

 

 

Channie ? Sudah lama aku tidak dipanggil seperti itu dari mu. Yah…setidaknya aku senang kalau kau masih mengingat panggilan itu.

 

 

“Cha-chanyeol ?” Baekhyun menggerakkan tangannya di hadapan Chanyeol. Namun Chanyeol segera terkesiap. Ditatapnya Baekhyun sebentar dan kemudian Chanyeol hanya bisa menghela nafas.

 

“Baiklah, tapi hanya sebentar lagi. Setelah itu aku ingin berada di rumah, makan malam dengan tenang tanpa adanya gangguan untuk tetap tinggal di taman. Kau mengerti ?”

 

 

 

 

 

 

Makan malam tenang di rumah keluarga Byun yang penuh kedamaian. ‘Ibu’ Baekhyun masih berada di rumah sakit. Hanya ada Baekhyun dan Chanyeol. Dan dengan ajaibnya, Sanghyun kembali menghilang entah kemana. Mungkin sore tadi ia sudah kembali ke apartementnya atau…ia tertidur di lantai atas ?

 

Chanyeol berdiri dan berjalan menuju kearah kulkas yang letaknya berada di sudut dapur. Kulkas putih yang penuh dengan foto Polaroid. Salah satunya terdapat foto Polaroid Baekhyun dan Sanghyun yang tersenyum cerah menghadap kamera.

 

 

“Hey, Sanghyun hyung sangat tampan ya.” Celutuk Chanyeol tiba-tiba.

 

 

“Kau orang ke sejuta yang mengatakannya.” Balas Baekhyun dengan mulut masih penuh makanan. Chanyeol terkekeh pelan. “Ya, tidak mirip denganmu. Apa jangan-jangan kalian bukan saudara ?” Ledek pria jangkung itu.

 

 

“Memang.”

 

 

PLUNG

 

 

Garpu yang berada dalam genggaman Chanyeol terjatuh begitu saja saat ia mendengar perkataan Baekhyun. Apa maksudnya ?! Jadi…selama ini Baekhyun…bukan…

 

 

“Kenapa ? Hei, sadarlah, Park Chanyeol.”

 

 

Chanyeol dengan sigap menarik kursi tepat di hadapan Baekhyun.

 

 

“Kau…dan… Sanghyun hyung bukan saudara kandung ?!” seru Chanyeol tak percaya. Baekhyun mengangguk.

 

“Iya. Kau lihat saja. Dari segi fisik kami sudah sangat berbeda, bukan ?” balas Baekhyun sambil menyendokkan nasi kedalam mulutnya.

 

 

Chanyeol mengamati wajah Baekhyun dengan seksama. Benar, dari segi fisik Baekhyun dan Sanghyun tidak mirip. Lihatlah mata kecil Baekhyun berbanding seratus delapan puluh derajat dengan mata besar milik Sanghyun. Bibir mungil Baekhyun berbeda dengan bibir tebal Sanghyun. Alis pucat Baekhyun sangat berbeda dengan alis tegas milik Sanghyun. Belum lagi hidung kecil Baekhyun yang berbeda dengan hidung bangir milik Sanghyun.

 

 

“Kenapa bisa ? Semua orang mengira kalian suara kandung ?” Tanya Chanyeol masih dengan nada tidak percaya. Botol air yang digenggamnya sampai bergetar saking tidak percayanya dirinya.

 

“Sanghyun anak adopsi dari panti asuhan. Saat itu umurku masih sembilan tahun. Aku adalah anak tunggal dan…menjadi satu-satunya tidaklah menyenangkan. Aku selalu kesepian hingga akhirnya Ayah dan Ibu kandungku memutuskan untuk mengadopsi anak.” Baekhyun menghela nafas sebentar. Sendok yang berada di genggamannnya kini tergeletak begitu saja diatas piring.

 

“Aku sangat senang bisa menjadi bagian dari hidup Sanghyun. Dia tampan, pintar dan cerdas. Aku merasa beruntung karena Ayah memilihnya sebagai saudaraku, walaupun pada awalnya aku merengek supaya dicarikan saudara perempuan….”

 

 

 

Baekhyun menatap Chanyeol sebentar. Sepertinya ia sudah larut dalam cerita Baekhyun.

 

 

“Kau sendiri…bagaimana, Channie ?”

 

 

Chanyeol tersentak. Mungkin dalam sehari ini ia sudah tersentak ratusan kali.

 

 

Tak tahukah kau betapa gembiranya aku ketika kau memanggilku dengan sebutan aneh itu ?

 

 

“Aku ? Tidak ada yang istimewa. Biasa saja. Aku anak tunggal dan aku tidak kesepian. Hehehe.” Tawa renyah Chanyeol memenuhi ruang telinga Baekhyun. Huh, betapa senangnya Baekhyun.

 

 

Baekhyun menunjukkan senyum manis miliknya. “Setidaknya Ibuku yang sekarang tidak punya anak perempuan. Jika saja itu terjadi mungkin kisah hidupku akan sama seperti Cinderella.”

 

 

Sunyi. Chanyeol dan Baekhyun sama-sama diam. Hingga akhirnya Baekhyun membuka suara.

 

 

“Jadi…ada lagi yang hendak kau tanya ?”

 

 

Chanyeol mengangguk pelan.

 

 

“Ya…sebenarnya..bagaimana pertemuan pertamamu dengan Sanghyun hyung ? Aku benar-benar penasaran soal itu.”

 

 

Baekhyun diam, menatap Chanyeol sebentar. “Kau berani bayar berapa untuk itu, hm ?” Chanyeol terbelalak kaget. Bayar ? Baekhyun bilang ‘bayar’ ? Oh, ayolah. Pria jangkung itu benar-benar penasaran.

“Yak, Byun Baekhyun. Pelit sekali, sih.” Protes Chanyeol.

 

“Hey, kau pikir mengingat masa lalu itu mudah. Lagipula, aku mengingat itu semua hanya untuk kujadiakan kenanganku sendiri.”

 

“Kenapa pelit sekali berbagi kenangan mu itu ? Aku kan mau tahu.”

 

“Terlalu indah untuk dibagikan.”

 

“Ya! Beritahu aku!”

 

“Tidak mau!”

 

 

Chanyeol mengerucutkan bibirnya. Ya, Tuhan. Baekhyun berani bersumpah, dengan keadaan bibir seperti itu Chanyeol adalah mahluk paling menggemaskan di dunia. “Ayolah…beritahu aku..” nada lirih keluar dari bibir Chanyeol dan menggema di rongga telinga Baekhyun. Oh, tidak. Mana bisa Baekhyun tahan dengan nada lirih seperti itu. Apalagi…yang mengucapkannya Chanyeol.

 

Baekhyun menghela nafas sejenak. “Baik, akan kuceritakan.” Jawabnya sambil memasukkan sesendok sup jagung ke dalam mulutnya. Mata Chanyeol kembali berbinar. Tubuhnya dicondongkan agar semakin jelas mendengar cerita Baekhyun.

 

“Tapi…ini rahasia.”

 

Chanyeol mengangguk senang. “Tenang saja, bersamaku maka semua rahasiamu akan aman terkendali.”

 

“Jadi…begini ceritanya. Saat itu aku baru bangun tidur dan….

 

 

 

 

Baekhyun kecil terbangun dari tidur lelapnya. Mentari menyapa dirinya melalui celah jendela. Musim semi memang yang terbaik. Seharusnya ia bergegas mandi bukan ? Mentari semakin tinggi di ufuk sana dan Baekhyun kecil masih kotor. Badannya berkeringat dan ia belum mandi.

 

“Baek ?” Seseorang menyapanya dari balik pintu. “Kau sudah bangun ?”

 

“Ya, ibu.” Sahut Baekhyun kecil. Pintu kamar terbuka, menampakkan seorang wanita yang berparas cantik. Wajahnya putih bersih walaupun ia sudah berumah tangga. “Tidak mandi ? Kau tidak mau ikut, Baek ?” Tanyanya dengan senyuman tulus di wajah rupawan nan anggun miliknya. Baekhyun kecil mengangguk pelan. “Ya, aku ikut, Bu. Beri aku waktu sebentar.”

 

Baekhyun kecil secepat kilat menyambar handuk yang berada di lemarinya dan bergegas mandi. Ia…tak sabar untuk bertemu ‘saudara’ barunya.

 

Dan ketika mereka sampai di panti asuhan, Baekhyun menelan ludah pahit.

 

“Ugh, tidak ada yang aku suka. Bagaimana ini ?” Baekhyun kecil menjadi sedikit panik.

 

“Kau lihat di sana, Baek ? Ada anak perempuan yang manis sekali. Usia nya sama denganmu. Kau ingin dia ?” Sang Ibu bertanya dengan mata berbinar pada Baekhyun. Baekhyun kecil menggeleng pelan. “Tidak, Ibu. Aku tidak suka dia.” Sang Ibu mengernyit bingung. “Kenapa, Baek ?”

 

Baekhyun diam sebentar.

 

“Tadi aku melihatnya…dia sangat suka bermain dengan belalang. Aku ‘kan benci belalang dan dia tadi makan kacang…sedangkan aku alergi kacang.”

 

Sang Ibu menatap Baekhyun kaget. Begitukah ? Sedetail itukah Baekhyun-nya memperhatikan orang lain yang sama sekali tidak ia kenal ?”

 

“Jadi…Baek mau yang mana ?”

 

Baekhyun menjadi sedikit murung. “Entahlah, aku tidak tahu, Bu.” Sang Ibu mengangguk mengerti. “Baek sendiri ingin yang seperti apa ?” tanyanya lagi. Baekhyun menengadah. Otaknya sedikit berpikir.

 

 

“Yang jelas, dia itu harus pintar, Bu. Orangnya yang ceria, jujur dan baik hati. Aku ingin dia lebih tua daripadaku.” Sang Ibu tersenyum. “Baiklah, sekarang…ayo pulang.”

 

 

Hari itu Baekhyun kecil, Ibunya dan Ayahnya pulang dengan tangan hampa.

 

 

“Hah ? Hanya itu ?! Ya! Aish, sesingkat itu ?!” Chanyeol berseru di hadapan Baekhyun.

 

“Yak! Park Chanyeol! Aku belum selesai!” balas Baekhyun keras. “Lalu esoknya..”

 

 

Baekhyun terdiam di ruang tamu rumahnya. Di pagi hari Ayah dan Ibunya pergi –entah kemana- dan begitu kembali ke rumah, mereka membawa seorang bocah laki-laki yang –menurut Baekhyun- tampan sekali. Badannya tegap dan berisi. Surai hitam di kepalanya melengkapi kesempurnaan paras yang dimilikinya. Namun, semua itu menjadi mencekam saat…Baekhyun tahu bahwa bocah laki-laki di hadapannya ini adalah Saudaranya.

 

 

“Kan, aku sudah bilang, Bu. Aku ingin yang perempuan.” Rengekan Baekhyun untuk kesekian kalinya terdengar.

 

 

Baekhyun mendengus pasrah. Bocah di hadapannya berusia 13 tahun. Mereka terpaut jarak 4 tahun. Namanya Sanghyun. Aslinya bernama Park Sanghyun namun sekarang dan selama-lamanya sudah menjadi Byun Sanghyun.

 

 

 

Aku pikir bersama Sanghyun sangat tidak menyenangkan. Tapi aku salah besar. Dia baik sekali. Dia humoris dan membuatku nyaman di dekatnya. Karena itulah, aku merasa beruntung saat Ayah dan Ibu meilihnya sebagai saudaraku.”

 

Chanyeol mengangguk paham.

 

“Di hari kedua ia berada di rumah, ia mengajarkanku naik sepeda. Dia juga mengajariku bagaimana caranya mendekorasi kamarku. Dia bahkan kerap membuatkanku sarapan. Dan…aku pikir aku harus menjadi saudara yang baik untuknya.”

 

Baekhyun menatap Chanyeol sebentar.

 

 

“Sudah, ya. Aku sudah selesai makan. Aku mau ke kamar.” Chanyeol menatap Baekhyun tak percaya. “Kenapa ceritanya cepat sekali berakhir ?!” Serunya tak terima.

 

 

“Besok saja aku lanjutkan.”

 

 

Baekhyun beranjak dari duduknya. Kaki mungil miliknya berjalan menjauhi meja makan dan beranjak ke ke arah kulkas. Tanpa Baekhyun sadari, di dekat kulkas terdapat garpu milik Chanyeol yang terjatuh tadi. Baekhyun –dengan santainya- berjalan dan tentu saja kakinya menginjak garpu tersebut. Tentu saja sakitnya bukan main.

 

 

“HIIYAAAA SAKIT…SAKIT….KENAPA GARPU DISINI ?! ADUH!!!” Baekhyun berseru kesakitan. Chanyeol membelalakkan matanya. Dengan sigap ia beranjak dari kursinya dan berlari kearah Baekhyun.

 

 

“Kau..tidak apa-apa ?! Mana yang sakit, eoh ?” Chanyeol bertanya dengan raut wajah panik. Oh, ralat. Benar-benar panik. Padahal kaki Baekhyun yang tertusuk garpu namun malah Chanyeol yang bergetar dan berkeringat. Baekhyun sendiri sampai bingung.

 

 

“Sini, biar aku periksa kakimu! Astaga, bagaimana kalau ini infeksi ?! Apa perlu ke rumah sakit ? Tidak, tidak, sebaiknya aku menelfon Sanghyun hyung saja. Tapi jika tidak segera diobati kakimu pasti akan semakin sakit. Ya Tuhan, bagaimana ini ?!” Chanyeol berseru frustasi sambil menggenggam erat pergelangan kaki Baekhyun. Dan Baekhyun semakin tidak mengerti. Yang kakinya tertusuk garpu siapa, yang panik siapa.

 

 

“Jangan seperti itu. Kau harus meluruskan kakimu seperti ini….ya seperti itu…awas meja itu, nanti kepalamu terbentur dan jangan…UWAAAAA!”

 

 

BRUK!

 

 

Baekhyun tanpa sengaja menyenggol sudut meja makan dan membuatnya sedikit oleng. Dengan sisa tenaga, Baekhyun memanjangkan tangannya, berusaha meraih apapun yang bisa membuat tubuhnya kembali seimbang. Dan tanpa berpikir panjang, Baekhyun menggapai lengan Chanyeol. Namun tubuh Chanyeol yang tidak siap dengan reaksi itu ternyata tidak kuat untuk menopang tubuh mungil Baekhyun hingga akhirnya terjatuh lah kedua insan tersebut dengan keadaan yang….

 

 

“Baekhyun, ini aku Zitao. Baekhyun sedang apa di da- ASTAGA! APA-APAAN INI! KALIAN SEDANG APA ?!” Teriakan Zitao yang baru saja masuk ke dalam dapur membuat seluruh tubuh Baekhyun merinding. Tamatlah dia.

 

 

Dengan keadaan Chanyeol menindih tubuh Baekhyun dan wajah Chanyeol yang sangat dekat dengan wajah Baekhyun –mungkin dengan sedikit gerakan maka bibir Chanyeol sudah bersentuhan dengan bibir mungil Baekhyun- Belum lagi kedua kaki panjang Chanyeol yang masuk ke dalam sela kaki Baekhyun dan tangan Chanyeol yang memeluk erat pinggang Baekhyun, membuat semuanya seperti….Chanyeol siap meniduri Baekhyun…?

 

 

“Pa-panda aku…aku bisa jelaskan…” Ujar Baekhyun gugup tanpa melepas posisinya. Chanyeol yang tidak kalah terkejut pun hanya bisa menganggukkan kepalanya cepat.

 

“APA YANG KALIAN LAKUKAN HAH ? APA KALIAN HENDAK MEMBUAT ADEGAN PORNO YANG DAPAT MERUSAK KE INNOCENT-AN KU ? HIYAAAAA SEGERALAH BANGUN! JANGAN TERLENA DENGAN POSISI INTIM SEPERTI ITU ! BYUN BAEKHYUN DAN PARK CHANYEOL, KALIAN BERDUA AKAN AKU LAPORKAN KEPADA SANGHYUN!”

 

 

Baekhyun dan Chanyeol menelan saliva mereka dengan susah payah.

 

 

Matilah!

 

 

 

 

 

 

TBC~~

 

 

 

Halo para readers~~ Saya datang bawa Chapter 3 nya nih. Hehehe, maaf kalau lama. Habis kan udah kelas 9, Jadi sibuk mulu. Pr menumpuk, kerja kelompok, Les di bimbel, les sekolah, belum lagi ekstra di sekolah. Latihan ini itu bikin badan pegel linu mulu. Belum lagi buat ngetik FF, untung saya gak mentok ide -,-

 

#EhMalahCurcol

 

Ya udah deh, ini FF mungkin tamat di chapter 4 atau 5 atau 6, saya juga gak tahu deh hehehe  .-. #LohYangPunyaFFsiapaYangGakTauSiapa

 

Yang penting kasih komen ya. Biar saya tahu sebenernya yang baca ff ini siapa ^0^

 

NB : Thanks to

 

Nisa wirasyah, Park Jae In, hye han, yeollshin, difa, yumi, hilda25, Hyuma michiko, memefortoday, ussi uswah, gil, Mochibum, Theressaaa, alfiau, Punya jongwoon, rugun, PreciousTinkerbell, byungogi, inggit, byun bina, nadd, Rynryn, Amanda dan Putri. (Yang udah komen di chap 1) ^0^

 

Karena kalian ber-24 aku jadi semangat buat bikin chapter 2 ini FF ^0^

 

Thanks to

 

Melatisafitri, memefortoday, shiby, Lee byung hun, likeapanda, @nikitaiddy, jung eun woo. (Yang komen di chap 2)

 

Karena kalian ber-7 aku juga semangat buat bikin Chap 3 ini ^0^
Padahal gak ada satupun dari kalian yang aku kenal –kecuali rugun ya- eh tapi karena liat komen dari kalian aku jadi semangat bikinnya 😀

 

 

Special thanks to :

 

memefortoday

 

Hei engkau memefortoday /? aku berterima kasih yang sebanyak-banyaknya karena kamu mau komen di dua chapter ff ini loh ^0^ habis kalau aku perhatiin di wp ini banyak siders sih T^T #CeritanyaSedih

 

 

 

See you di chapter berikutnya ‘-‘)/

Iklan

15 pemikiran pada “When You’re With Her (Chapter 3)

  1. hyaaa thor chap 4 ny mana aku gak sabar. cepet gak kalau enggak aku wushu lu thor *kidding cepet dong update nya pliss *mukpol *aegyo bareng hunhan chanbaek

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s