Destiny – PS : I Love You (Chapter 2 – END)

FF “Destiny – ps : I Love You” (part 2 / END)

author : yooaebi

title : Destiny – ps : I Love You (part 2 / ?)

main cast : Xi Luhan , Kim Heechul , OC

Genre                                                 : Romance , Comfort

Rating                                                 : PG+13

Length                                                : Chaptered

Acc Facebook                                                :http://www.facebook.com/asviolitasaputri

Acc Twitter                                        : http://www.twitter.com/phiophiooo /

Blog                                                    :

Recommended Song                         :

  • Like a Poem – Yiruma
  • Don’t Go – EXO

Disclaimer                                          : don’t be silent readers and plagiator ! buat KAMU ! iya KAMU ! makasih udah mau baca ^^

Let’s Begin The Story ~

Bismillah ^^

Happy reading

Untitled

“kenapa kau menyuruhku untuk berhenti” suara Luhan menghentikan langkah Ji Young yang berjarang beberapa langkah darinya. Gadis itu membalikkan tubuhnya dan menatap Luhan yang saat ini ikut menatapnya dengan matanya. Tajam dan … dingin.

“aku tidak suka kau berkelahi seperti itu Luhan-ssi”

“tidak suka ?” Luhan mengangkat alisnya. “kau tidak suka aku membuatnya babak belur karena sudah berusaha menciummu begitu ?” tanya Luhan dingin. Ji Young menggeleng cepat.

“tidak. Bukan seperti itu hanya saja—“

“apa ?”

“aku tidak suka kau menyelesaikan masalah dengan kekerasan Luhan. Kau tidak seperti … Luhan yang kukenal. Tidak seharusnya—“

“jadi kau membela pria itu” sela Luhan.

“bukan, hanya saja—“

“sudahlah tadi aku hanya kebetulan lewat dan tidak sengaja melihat itu semua. Maaf kalau tadi mengganggumu.” Ujar Luhan tampak tenang. Ji Young tercengang mendengar penjabaran Luhan. Jadi, tadi dia hanya kebetulan lewat saja ? bukan sengaja datang karena mengetahui kalau Ji Young ada masalah. Ji Young tersenyum kecut dan menundukkan kepalanya. Kenapa bisa ia berpikir seperti itu ?

“Aku ada kegiatan club. Bye, Ji Young”

Pria itu pun membalikkan tubuhnya hendak pergi. Tapi baru tiga langkah berjalan tangan Ji Young menarik pergelangan tangan Luhan sehingga membuatnya berhenti.

“maaf ” Ji Young memberi sedikit jeda “terima kasih” ucapnya pelan. Gadis itu langsung melepaskan tangan Luhan dan pergi berlari kearah yang bersebrangan. Gadis itu terus berlari hingga Luhan hanya bisa menatap punggung itu dari kejauhan. Matanya menyipit, punggung itu terlihat bergetar naik turun.

“Youngi …”

* * * *

            Pria itu terus menggiring benda bulat itu dengan begitu semangatnya. Tidak membiarkan siapapun yang ingin mengambilnya dapat merebutnya dengan mudah. Sedikit membalikkan badan dan kemudian berlari ke sisi lain hanya untuk menghindari lawannya itu.

            Keringat tampak membanjiri wajah imutnya. Matanya yang biasanya teduh itu terlihat bagai mata elang yang selalu terfokus ke satu titik didepannya. Ada sebuah ambisi yang sangat besar saat tatapan itu ia keluarkan.

            Lagi, ia berlari dan tidak membiarkan siapapun mendekatinya. Aku melihatnya dari sini. Walau jauh tapi tetap saja ia begitu terlihat. Di lapangan ini mungkin hanya dia saja yang bersinar dan juga aku mendengar beberapa orang yang kebanyakan wanita itu meneriaki namanya. Terus hingga membuatku tersenyum kecut.

            GOL !

            Ia berteriak mengumandangkan kemenangan bagi timnya. Beberapa orang yang memakai seragam yang sama sepertinya langsung berlari kearahnya dan mengumbar pelukan a’la persahabatan. Dan dia ? pria itu tak henti hentinya mengumbar senyuman puas dan senang bukan main. Terlihat sekali dari wajah imutnya.

            Dia sejenak menoleh kearahku pandangan kami bertemu lagi ia tersenyum. Senyum yang sangat kusukai semenjak pertama kali bertemu dengannya. Tangannya melambai lambai keatas dan aku membalasnya juga. Wajahnya begitu berseri seperti mentari dan sangat menghangatkan.

            Ah, apa aku mulai menyukai pria itu ?

            Mungkin …. Iya.

* * * *

            “apa yang sedang kau lakukan ?”

Ji Young mengangkat wajahnya dan menemukan seseorang yang membuatnya terlonjak kaget. Iapun segera berdiri dan meraih tas slempang miliknya.

“Kim-Kim Heechul-si, ma-mau apa kau ?” tanya Ji Young sedikit tergagap. Entah kenapa sekarang Heechul menatapnya dengan mata itu lagi. tajam dan juga … dingin. Tatapan yang sedikit membuatnya risih semenjak hari pertama sekolah.

“kau pasti sedang menulis buku harian tentang si rusa cilik itu”

“a-apa katamu ?”

“itu” Heechul menunjuk sebuah Diary yang dipegang Ji Young ditangannya dengan dagu lalu tersenyum miring.

“kau menyukainya ?”

“a-aku…”

“kau benar menyukainya kan. Ya, banyak yang menyukai rusa jelek itu. walau sebenarnya akulah yang lebih tampan darinya” Heechul menggerutu dengan nada mengejek namun Ji Young hanya diam memerhatikan. Wajah Heechul menurutnya bukan tampan melainkan cantik.

“tidak, aku tidak mungkin menyukai pria itu” dusta Ji Young yang mendapat smirk indah dari Heechul.

“apa katamu ? ulangi sekali lagi”

“dia tidak menyukaiku dan aku juga tidak menyukainya Heechul-ssi. Daripada kau kesini hanya ingin menggangguku lebih baik kau pergi saja” seru Ji Young tajam. Heechul hanya terkekeh mendengarnya.

“apa ? kenapa kau malah tertawa ?” tanya Ji Young merasa aneh dengan sikap Heechul saat ini.

Semenjak ia masuk kesekolah ini satu satunya orang yang selalu mengganggunya adalah Heechul. Entah itu pagi, siang, sore hanya pria itu yang betah sekali mengganggunya. Beruntung Luhan selalu berada disaat yang tepat dan selalu bisa berhasil menolongnya dari gangguan Heechul. Maka dari itu Ji Young selalu merasa aman ketika berada di dekat Luhan. Dan lagi gadis itu belum pernah merasakan hal ini sebelumnya.

“kalau begitu aku akan membantumu” desis Heechul pelan. Mata pria itu tidak teralihkan sama sekali dari sosok Ji Young yang menurutnya sangat manis dan juga cantik. Gadis itu selalu menguncir rambut coklatnya ke belakang, selalu memakai pakaian kasual yang tidak terlalu terlihat girly tapi entah kenapa aura girly selalu memancar dari tubuhnya.

Heechul terus memajukan langkahnya, sementara Ji Young terus memundurkan langkahnya dan lagi ia terjebak saat tahu kalau punggungnya menabrak pohon. Heechul yang melihat itu langsung mengunci tubuh Ji Young dengan kedua tangannya seolah olah tidak membiarkannya pergi lagi.

“a-apa yang—“

“aku akan membantumu, jadi … ikuti saja perintahku nona Yoo”

Heechul kembali bersmirk ria dan memajukan wajahnya tepat diwajah Ji Young. Gadis itu hanya menutup matanya dan malah membuat senyum kemenangan terukit jelas di wajah Heechul. Pria itu menoleh sedikit kekanan dan mendapati seseorang tengah mengepalkan tangannya. Terlihat begitu murka dengan apa yang dilakukannya saat ini.

Heechul terkekeh dan kembali melakukan aktifitasnya yang tertunda.

* * * *

            BUK

Sekali lagi ji Young membuka matanya dan kembali mendapati Heechul sudah tersungkur ditanah. Ia menoleh dan mendapati Luhan dengan wajah merah padam dan tangannya yang terkepal keatas hendak melayangkan pukulan lagi.

Luhan semakin beringas. Ia maju dan langsung menindih tubuh Heechul dan kembali melayangkan beberapa pukulan pukulan itu, Heechul entah dia bodoh atau apa ia tidak membalas perbuatan Luhan sama sekali dan malah tertawa semakin keras.

“pria gila !” teriak Luhan tajam, ia kembali melayangkan pukulannya kesana.

“hentikan Xi Luhan !” teriakan Ji Young langsung membuat Luhan menghentikan aksi memukulnya. Ji Young menarik tangan Luhan untuk menyingkir dari tubuh Heechul. Sementara dirinya mendekati Heechul dan menarik bahu pria itu. menahannya dengan tubuhnya sendiri.

“kau tidak apa ?” tanya Ji Young khawatir. Wajah Heechul kembali melebam di pipi kanannya sementara darah mulai mengucur di sudut bibirnya. Heechul hanya menggeleng dan saat itu juga menarik Ji Young ke dalam pelukannya.

“ini sakit Ji Young-ah, sakit sekali” ujar Heechul dibuat buat. Luhan yang melihat itu melotot dan kembali mengepalkan tangan disana.

“mana ? mananya yang sakit ?” Ji Young semakin panik. Ia ingin melepas pelukan Heechul tapi pria itu mengeratkan pelukannya. Tidak membiarkan gadis itu melepasnya sama sekali.

“kepalaku, sakit sekali Ji Young-ah~ seluruh tubuhku sakit karena pria itu..” rengek Heechul yang membuat Luhan disana kembali mengepalkan tangannya dan hendak memukul wajah pria itu lagi.

“tuh kan dia mau memukulku lagi. huaaaa Ji Young-ah” rengekan Heechul semakin menjadi. Ia menyembunyikan wajahnya diantara leher Ji Young. Gadis itu menoleh kearah Luhan dan memberikan tatapan sadisnya.

“cukup Luhan-ssi, kau tidak boleh memukulnya lagi !?”

“a-apa kau bilang ? Ya ! dia itu hanya berbohong, itu hanya akting. Lihat saja wajah dustanya itu” tunjuk Luhan kearah Heechul. Ji Young melepas pelukannya sedikit dan memperhatikan wajah Heechul. Pria itu menatapnya dengan raut wajah seolah olah sedih dan terisak. Ji Young yang melihat itu tak tega dan melemparkan pandangan tajamnya kearah Luhan.

“dia takut padamu Luhan !”

“mwo—ka-kau percaya pada putri cantik jelmaan setan itu. baiklah. Lebih baik kau urus saja dia. Aku tidak akan lagi membantumu jika dia kembali mengganggumu” suara Luhan meninggi.

“maaf aku sudah mengganggu acara romantis kalian. Permisi !”

Pria itu langsung membalikkan tubuhnya dan berlari meninggalkan Ji Young. Gadis itu hanya memperhatikan Luhan yang sudah berlari menjauh darinya. Dan entah kenapa salah satu sudut matanya mengeluarkan cairan bening. Ia mulai terisak.

* * * *

            Beberapa hari setelah kejadian itu Luhan menjadi berubah. Ji Young merasa hal sedemikian karena sikap yang ditunjukkan Luhan padanya agak berbeda. Atau bahkan sangat berbeda. Entah kenapa pria itu lebih suka menghindarinya saat ini. Entah itu dikelas, perpustakaan atau bahkan taman tempat mereka biasa bercerita dan bermain seperti dulu.

Ji Young merapihkan buku buku yang berserakan di meja perpustakaannya. Karena Luhan menjauhinya –dengan alasan yang tidak jelas- gadis itu lebih memilih menghabiskan waktu diperpustakaan sampai sore tiba. Bukannya tanpa alasan hanya saja ia merasa kalau Heechul tidak akan pernah berani mengganggunya di tempat itu. jadi, satu satunya tempat yang aman dari gangguan Heechul hanya perpustakaan karena pria itu membenci buku.

Gadis itu tersenyum tatkala sudah mengembalikan semua buku yang ia baca tadi ketempatnya semula. Tidak lupa memasukkan beberapa buku lainnya yang ia butuhkan untuk referensi kedalam tasnya. Ia membungkuk berterima kasih pada penjaga perpustakaan itu dan kemudian melangkah pergi, keluar perpustakaan.

Ji Young menghentikan langkahnya saat melihat Luhan tengah asyik dengan rubik kesayangannya. Sinar mentari sore yang menembus jendela besar itu menyinari sebagian wajahnya yang ikut bersinar. Tampan, manis. Sudah berapa kali Ji Young memuji wajah pria itu bahkan penampilannya juga.

Hari ini ia melihat Luhan tengah memakai kaus abu abu dipadu hoodies putih tanpa lengan. Celana bola selutut dan juga sepatu bola. Ia pasti baru saja pulang latihan.

Latihan ?

Ji Young melirik jam di pergelangan tangannya dan melihat jarum jam sudah menunjukkan pukul 5 sore. Seharusnya pria itu sudah pulang latihan sejak 2 jam yang lalu. Tapi, kenapa ia masih berada disini ?

Gadis itu menundukkan kepalanya. Buku buku yang kini ia peluk semakin ia eratkan pelukannya. Ia menghembuskan nafas pelan dan kemudian berjalan. Mungkin anggap saja kalau pria itu bukan Luhan.

“kau sudah selesai ?”

Pertanyaan Luhan membuatnya berhenti beberapa meter dari pria itu berdiri. Ia membalikkan tubuhnya dan melihat Luhan masih asyik dengan rubik kesayangannya itu.

“y-ya. aku sudah selesai. A-aku harus pergi, permisi” ucap Ji Young terbata. Ia pun kembali melangkahkan kakinya untuk pergi. Tapi baru tiga langkah bahunya dipegang oleh seseorang. tangan itu Menariknya kebelakang, membuat beberapa buku yang ia peluk berhamburan dibawah dan langsung mendekapnya dengan erat dipelukannya. Ji Young terkejut bukan main saat tahu yang melakukannya itu adalah Luhan.

“Lu-Luhan-ssi kau—“

“aku benci”

“a-apa ?”

“aku benci saat kau berdekatan dengan pria itu. aku benci saat ia selalu mengikutimu kemanapun kau pergi. Aku benci karena pria itu selalu membuntutimu seperti seekor kucing. Aku- aku benci pria itu sudah berani menciummu !” ujar Luhan memberi penekanan pada setiap kata ‘pria itu’.

“aku mencintaimu Youngi-ah

Ucapan Luhan seakan akan membuat Ji Young membulatkan matanya tidak percaya. Pria itu merenggangkan pelukannya. Tapi tangannya masih betah berada di pinggang Ji Young dan yang satunya lagi mengelus pipi Ji Young lembut.

“kau bercanda, le-lucon macam apa ini Luhan-sshi” seru Ji Young hampir menitikkan air mata. Luhan tersenyum dan menggeleng pelan.

“tidak. Ini bukanlah lelucon. Aku benar benar mencintaimu, aku sungguh mencintaimu. Aku juga tidak tahu kenapa ada perasaan semacam ini, tapi yang jelas kau berbeda. Aku tertarik padamu sejak pertama kali melihatmu” yakin Luhan.

“kau bercanda ? pertama kali ? itu berarti ?”

Luhan mengangguk dan kembali memeluk Ji Young.

“pertama kali. Saat kau baru saja masuk ke KHS. Melihatmu yang berjalan sambil menengok ke kanan dan kiri seperti orang linglung. Itu, wajahmu saat itu begitu lucu dan membuatku gemas. Mungkin semenjak saat itu aku menyukaimu” ujar Luhan. Ji Young terkekeh dan meninju pelan punggung Luhan.

“jadi itu sebabnya kau membantuku untuk menemukan ruang kepala sekolah begitu ?”

Luhan kembali mengangguk dan tertawa pelan.

“cih, sudah kuduga. Kau pasti ada maunya” seru Ji Young kembali meninju pelan punggung Luhan. Pria itu tertawa dan kemudian dengan mudah mengangkat tubuh Ji Young lalu membawanya dan mendudukkannya di pinggiran jendela besar itu. Ji Young bingung, dari raut matanya seolah ia bertanya kenapa Luhan melakukan hal ini. Tapi pria itu hanya diam dan malah mendekatkan wajahnya ke wajah Ji Young sehingga hidung keduanya saling menempel.

Ji Young menahan nafas saat Luhan melakukan hal itu. ini kontak fisik mereka yang pertama kali selain berpegangan tangan. Astaga, debaran jantungnya mungkin saat ini berdebar dua kali lipat dari biasanya dan …

Gosh

Wajah Luhan dari dekat jauh lebih tampan dan manis ! matanya coklat itu seakan menghipnotisnya. Ada aura kelembutan dari mata teduh itu yang tidak bisa ditolak Ji Young sama sekali.

“aku mencintaimu, bagaimana denganmu hum ?” tanya Luhan sedikit menggunakanwink andalannya. Ji Young menunduk, menyembunyikan rona wajahnya yang sudah tak karuan ini.

“aku sedang bicara padamu Youngi~” goda Luhan. Tangan pria itu menarik dagu Ji Young sehingga menempatkan kembali hidungnya agar menempel dengan hidung Ji Young. Gadis itu tidak bisa memberontak, toh entah kenapa melakukan hal ini membuatnya nyaman walau debaran jantungnya benar benar tidak terkendali dan juga wajahnya pasti seperti kepiting rebus saat ini.

“tatap mataku …” ujar Luhan. “kau mencintaiku ?”

Ji Young berpikir sejenak. Ia memperhatikan wajah Luhan yang begitu dekat dengannya saat ini. Wajahnya yang super polo situ seakan benar benar menunggu dan begitu penasaran dengan jawabannya. Ia pun tersenyum dan mengangguk pelan. “Ya. aku- aku mencintaimu Lu—“

Luhan hanya tersenyum dan tidak membiarkan Ji Young menyelesaikan kalimatnya lebih dulu. Bibirnya sudah terlebih dulu mengecup bibirnya. Lama. Ji Young bahkan bisa merasakan bagaimana dengan lembutnya Luhan melakukan hal itu.

Tentu saja. bagi Luhan Ji Young adalah segalanya. Gadis itu seperti sebuah gelas kaca yang sangat rapuh bila ia tidak hati hati menjaganya. Seperti sekarang ini, ia berusaha bersikap lembut dan menahan semua gejolak yang ada dipikirannya.

Sinar mentari tampak menyinari keduanya sehingga membentuk suatu siluet di lorong itu. menciptakan betapa manisnya awal mula cinta mereka. Dari sebuah keisengan berubah menjadi sebuah pertemuan manis yang diucapkan dengan jujur oleh masing masing.

Keduanya masih asyik dengan aktifitasnya saat ini. Sampai tidak sadar kalau sedari tadi ada yang menguping dari balik tembok tak jauh dari mereka. Orang itu menyenderkan punggungnya di tembok dan mengangkat satu sudut bibirnya membentuk sebuah smirk.

“the deers and beauty. Happy ending~”

* * * *

            Luhan memasuki sebuah restaurant dengan begitu malas. Mengekor dibelakang kedua orang tuanya yang memaksanya untuk bertemu dengan seseorang yang akan dijodohkan olehnya.

Oh, jodoh lagi ! bahkan Luhan ingin sekali berteriak karena terlalu muak mendengar itu semua.

Luhan menatap nanar layar ponselnya. Gadis itu masih belum mengaktifkan nomor ponselnya semenjak pagi tadi. Terakhir mereka berbincang masing masing diantaranya mengungkapankan suatu kenyataan yang membuat keduanya sulit disatukan.

‘perjodohan’

Luhan bahkan tidak habis pikir sama sekali kalau ternyata Ji Young juga mengalami nasib yang sama dengannya. Kedua orang tuanya tidak terlalu suka bila ia menjalin hubungan dengan pria sembarangan. Sama halnya dengan Luhan, ibunya sama sekali tidak suka kalau Luhan berdekatan dengan gadis sembarangan. Walau memang selama ini pria itu memang tidak dekat atau bahkan malas mendekati wanita.

Mereka berdua akhirnya membuat keputusan untuk saling menghadapinya bersama. Mereka memutuskan untuk mengikuti semua yang diinginkan kedua orang tuanya tapi pada akhirnya mereka akan menolak tegas perjodohan itu dan mengatakan kalau sudah ada yang mereka suka. Beres bukan ?

Awalnya Luhan berpikir sedemikian. Ia meyakinkan dirinya sendiri kalau ia bisa melewati semua ini. Tapi saat memasuki restaurant mewah yang akan membawanya untuk bertemu dengan gadis pilihan ibunya membuatnya kalut tiba tiba. Yang ada dipikirannya saat ini hanya Ji Young karena tidak ada kabar sama sekali darinya.

“apa yang dilakukan gadis itu sebenarnya !?” desis Luhan menatap tajam ponselnya yang tidak ada tanda tanda akanada pesan masuk atau telepon dari gadisnya. Ia mulai ketakutan sendiri. Bagaimana kalau gadis itu tidak bisa menolak perjodohannya karena orang tuanya terlalu memaksanya ? arghhh Luhan benar benar tidak bsia berpikir dengan jernih sekarang.

“Luhan-a, kau kenapa nak ?” tanya sang ibu yang baru saja menyadari kalau sedari tadi Luhan selalu mengacak ngacak rambutnya sehingga berantakan. Tapi harus diakui, dengan rambut seperti itu Luhan semakin terlihat … tampan.

“eomma, bisakah kita hentikan perjodohan ini ?” rengek Luhan.

“menghentikannya ?” sang ibu mengangkat satu alisnya dan Luhan mengangguk.

“tidak. Kau sudah berjanji padaku untuk menemui gadis itu. dimana letak sopan santunmu hah?” tegus sang ibu sembari melayangkan tinju ke lengan Luhan. Pria itu mengusap ngusap lengannya yang terasa perih dan kembali mengekor dibelakang kedua orang tuanya.

Baiklah, mungkin saat aku bertemu gadis itu aku akan langsung mengatakan kalau aku menolak perjodohan ini. Mengatakan pada mereka kalau aku sudah memiliki seseorang yang ku cintai ! itu, harus. Batin Luhan.

Pria itu terus menundukkan wajahnya sambil menatap ponselnya nanar. Benar benar, kemana gadis itu pergi ? Luhan kembali mengacak rambutnya.

“Luhan-a, kemarilah” panggilan sang ibu membuat Luhan dengan kasar memasukkan ponsel kedalm saku celananya. Senyum palsu terumbar disana meskipun wajahnya masih setengah tertekuk.

“jadi ini putramu ?” tanya seorang pria paruh baya yang menurutnya seumuran dengan ayahnya. Luhan mengangguk dan membungkuk hormat.

“tampan sekali anakmu Xi Ya. astaga, benar benar mewarisi garis wajahmu yang manis” tambah seorang wanita yang diperkirakan Luhan adalah istri dari orang yang baru saja berjabat tangan dengannya. Luhan hanya memberi salam seadanya dan senyum ‘terpaksanya’. Perjodohan ini harus segera diselesaikan dengan cepat !

Keluarga Luhan pun dipersilahkan untuk duduk. Luhan mengambil sebuah kursi tepat disamping ibunya. Dan ia menyadari satu hal. Tidak ada seorang gadis yang harusnya duduk didepannya. Apakah ia kabur karena tidak menginginkan perjodohan ini ? batin Luhan lagi.

“putriku sedang ke toilet. Mungkin sebentar lagi akan muncul. bersabarlah” tegur wanita paruh baya yang duduk diseberangnya. Ia seakan bisa mengetahui isi pikiran Luhan yang menanyakan keberadaan gadis itu. tapi bukannya tidak sabar ingin melihat bagaimana rupanya hanya saja ia ingin cepat cepat mengakhirinya.

“Luhan sepertinya tidak sabar bertemu dengan putrimu” sahut sang ibu yang langsung mendapat tatapan tajam Luhan.

“ahh~ sepertinya kita akan menjadi besan yang cocok” sahut sang ayah yang mengundang tawa semuanya. Luhan tersenyum konyol dan mencibir habis habisan. Ia benar benar ingin keluar dari keadaan ini sekarang juga. Tangannya merogoh saku celana dan mengambil ponsel androidnya, ia mendengus saat tidak ada satupun tanda tanda gadisnya disana. Ia menoleh ke samping kanannya saat ia merasa ada seseorang yang menepuk bahunya. Luhan langsung berdiri dan terkejut melihatnya, melihat seseorang yang langsung menghambur kedalam pelukannya.

* * * *

            Ji Young mematut dirinya sendiri di cermin. Penampilannya begitu sempurna saat ini. Ibunya menyuruhnya memakai sebuah gaun putih selutut dengan pita di lingkar pinggangnya. Sebenarnya gaun ini sangat cantik, hanya saja ia memakainya di acara yang tidak ia inginkan sama sekali.

Sebuah perjodohan.

Tanpa ia ketahui kedua orang tuanya sudah mengatur acara perjodohan untuknya. Ji Young awalnya tidak terima tapi mau bagaimana lagi. ini permintaan ibunya dan gadis itu memang lemah terhadap sang ibu. Dengan segala keterpaksaan akhirnya ia menerimanya.

Sebelumnya ia sudah bercerita pada Luhan dan ternyata dan tanpa ia duga sama sekali pria itu mengalami hal yang sama dengannya. Ia juga dijodohkan karena ibunya tidak suka ia berdekatan dengan gadis sembarangan. Walau Luhan mengaku ia tidak pernah dekat wanita manapun dan wanita pertama yang dekat dengannya hanya Ji Young seorang.

Ji Young kembali mematut dirinya di cermin. Hanya saja kali ini ditempat yang berbeda. Yah, gadis itu sudah sampai ditempat dimana ia akan dipertemukan dengan pria yang sudah dijodohkan dengannya. Gadis itu beberapa kali terlihat frustasi menatap layar ponselnya yang mati. Sudah sejak kemarin ponsel itu rusak karena tidak sengaja ia injak saat sedang disuruh latihan menggunakan high heels oleh ibunya. Kacanya sudah pecah dan tak mungkin bisa diperbaiki lagi bukan ?

Ia hanya memandang wajahnya yang sudah kusut dicermin itu. dengan tidak rela ia mulai melangkahkan kakinya keluar dari toilet. Perasaan aneh benar benar membuat jantungnya tidak berdetak dengan benar sekarang.

Langkah Ji Young terhenti saat melihat ada 3 orang yang sudah duduk rapi di sebrang tempat duduk orang tuanya. Dan juga, ia melihat seorang pria tengah duduk di sebrang tempat duduk miliknya.

Kedua sudut bibirnya tertarik kebelakang membentuk sebuah senyuman. Ia berjalan penuh dengan keyakinan kearah pria itu. sang ibu tersenyum disana dan mengangguk seperti tahu apa yang akan ditanyakan Ji Young. Tangannya terangkat menepuk bahu pria itu. pria itu menoleh dan bangun dari tempat duduknya. Ekspresi terkejut keluar dari wajah polosnya yang langsung mengundang Ji Young untuk menghambur kedalam pelukannya.

Pelukan pria yang begitu ia cintai. Untuk yang pertama dan yang terakhir kalinya.

* * * *

             Luhan tersenyum senyum sendiri saat melihat sebuah pesan singkat yang tertera di ponsel android miliknya. Entah sudah berapa kali pria itu tampak seperti orang gila. Dan Kyu Hyun yang sedari tadi memperhatikannya dari balik counter akhirnya datang menghampirinya setelah pelanggan caffenya tak sepenuh tadi.

“sepertinya ada yang sedang falling in love” goda Kyu Hyun. Luhan hanya menoleh dan kembali asyik dengan ponselnya. Mulutnya terus bergerak bersenandung kecil.

“Ya ! ceritakan padaku kenapa kau jadi begini hah !?” seru Kyu Hyun penasaran. Luhan tidak menjawab dan mengacuhkan Kyu Hyun begitu saja.

“Ya ! anak ini” Kyu Hyun hendak melayangkan pukulan ke kepala Luhan, tapi pria itu dengan mudah menghindar lalu tertawa terbahak bahak. Kyu Hyun semakin kesal dengan sikap anak itu.

“Ya ! ceritakan padaku atau ku tendang kau dari sini !?” hardik Kyu Hyun mulai emosi. Luhan kembali tertawa dan menyesap ice coffenya perlahan.

“kau mau tahu kenapa hyung ?”

“Iya ! katakan padaku cepat !” sergah Kyu Hyun tidak sabaran. Luhan mengangguk dan menggerakkan jari telunjuknya seakan akan menyuruh Kyu Hyun untuk mendekat dengannya.

“kau mau tahu hyung ?” bisik Luhan. Kyu Hyun mengangguk antusias.

“kemarikan telingamu” ujar Luhan lagi. Kyu Hyun menurut dan menyodorkan telinganya lebih dekat dengan Luhan.

“jawabannya …” Luhan memberi jeda yang malah membuat Kyu Hyun semakin penasaran.

“RAHASIA !?” teriak Luhan melengking yang langsung membuat telinga Kyu Hyun berdengung dengung. Luhan terkekeh dan langsung kabur sebelum mendapat tonjokkan dari Kyu Hyun. pria itu lansung menatapnya dengan murka.

“Ya ! Xi Luhan ! jangan pernah kau menginjakkan kakimu disini hah ! kalau ketahuan kau kesini akan kubunuh kau !” teriak Kyu Hyun dari dalam café. Luhan terkekeh melihat reaksi Kyu Hyun yang akhirnya berhasil ia jahili. Akhirnya ia bisa juga membalas semua perbuatan yang pernah Kyu Hyun lakukan padanya.

Kyu Hyun yang melihat itu terus mengelus dadanya dan juga telinganya yang masih berdengung. Pria itu masih tertawa geli setelah berhasil menjahilinya. Ingin sekali ia melempar sesuatu ke kaca didepannya hingga mengenai anak itu, membalas perbuatannya yang sangat tidak sopan.

Tapi ia urungkan niatnya saat melihat sesuatu yang sulit dipercaya terjadi didepan matanya. matanya membulat sempurna saat melihat Luhan berlari menghampiri seorang gadis dan langsung memeluknya, di depan umum. Kyu Hyun berdecak ringan. Tak percaya dengan apa yang ia lihat saat ini.

“katanya tidak mau tapi akhirnya jadi juga kan ? dasar anak aneh !?”

-END-

annyeoung~ aebi’s here ! kkkk XD

akhirnya kelaaarrr~ gimana dengan part yang ini ? membosankan ? banyak typo ? maaff yah readers ._.V masih berusaha menjadi yang terbaik hehe XD

see ini FF untuk pipi. my best pals XD.

leaving your comment !~ don’t be SIDERS!~ hargailah karya ini dengan tidak mem-plagiatnya. oke. cukup cuap” gajenya. makasih banyak yang udah mau bacaa!~ yang komen aku doain semoga ketemu Luhan. AMIN !~ hohoho XD

silahkan kalo ada yang minat (?) mampir ke sini yahh >> my blog *promosi

http://kyubittersweet.wordpress.com

gomawoyo~

Iklan

10 pemikiran pada “Destiny – PS : I Love You (Chapter 2 – END)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s