Loving You Like Crazy (Chapter 5)

Title: Loving You Like Crazy [Chapter 5]

Author: nune

Main Cast: -Park Chanyeol

-Baek Jisun

-Kai

Cameo: Hunhan

Length: Multichapter

Genre: Drama, Romance

Ratting: PG-15

Backsound: Im Jae Bum – Sorrow Song

loving you like crazy poster

*****

“Hmm… sepertinya kau begitu yakin akan pernyataanmu, ya? Begini saja, Chanyeol-ssi. Kau kuberi waktu 3 bulan untuk membuktikan perkataanmu dengan cara apapun! Tapi jika kau gagal, enyahlah dari pandanganku selamanya. Deal?”

Chanyeol menatap Jisun dalam, mencoba meyakinkan gadis ini sekali lagi. Seberapa sirna kah nama ‘Park Chanyeol’ dihati gadis ini? Sampai-sampai ia membuat taruhan bodoh macam ini. Baiklah, jika Chanyeol menolak sebuah taruhan bukan pria namanya. Bukankah begitu?

“Aku setuju! …Tapi bagaimana jika aku yang menang?”

Jisun tertegun, ia menelan salivanya. “Aku serahkan padamu. Kau menginginkan apa dariku?” ujar Jisun dengan ragu.

Chanyeol menaikan bibirnya, tertawa miring. Ada kemenangan kecil dilubuk hatinya. Entahlah ini artinya apa, tapi Chanyeol 1000% yakin bahwa Jisun akan mengingatnya. Chanyeol memajukan dirinya, menumpukan kedua sikutnya pada permukaan meja bundar pink itu, ia mensejajarkan wajahnya dengan wajah Jisun yang terpaku disana.

“Aku boleh melakukan apapun yang kumau, kan?” bisiknya pelan. Jisun membisu, ia merasakan ada getaran aneh didalam dirinya, yang Jisun tak mengerti apa artinya itu.

“…ne” tanggap Jisun akhirnya.

*****

Keesokan Harinya…

Jisun pergi mencari seseorang sambil menutup telinganya kuat-kuat, karena disini sangat berisik sekali! Orang-orang yang berkumpul disana berbondong-bondong untuk menyaksikan aksi balap motor yang ada dihadapan mereka. Ya, Jisun sedang ada di Pusat Balap Motor Liar, tempat Kai biasa nongkrong. Suara berisik dari knalpot yang mereka keluarkan membuat telinga Jisun rasanya ingin pecah saja!

Ugh disini dingin sekali. Jisun berkali-kali menghangatkan tubuhnya dengan cara menggesekan telapak tangannya kuat-kuat, kepalanya juga sedikit pusing dan nafasnya terasa sangat hangat.

“Permisi, maaf mengganggu. Apa kau tahu dimana Kai berada?” tanya Jisun pada dua orang namja yang berjalan melewatinya. Tapi mereka berdua agak errr lunglai dan mata mereka hanya setengah terbuka? Apa mereka sedang mabuk?

“huh? Kai? Dia sudah lama hiatus dari sini. Jika kau bertemu dengannya, beri tahu dia untuk sering mampir kesini ya!” jelasnya. Jisun menautkan kedua alisnya bingung, seingatnya setiap malam Kai selalu kesini. Apa ada yang salah?

“mwo? Hiatus? Sejak…kapan?”

“Sejak dia putus dari pacarnya yang bernama…….. umm Sun Ji kalau tidak salah. Aku benar kan, Luhan hyung?” tanya namja yang satunya pada temannya, Luhan.

Lalu Luhan memukul pundak teman-nya itu pelan.

“Bukan, Sehunie bodoh! Namanya Baek Sun. Ya, Baek Sun kalau tidak salah! Anak dokter terjenius itu. H3h3” Racau Luhan. Jisun hanya menggeleng-gelengkan kepala dan pergi meninggalkan mereka. Menghabiskan tenaga sekali berbicara dengan orang macam ini.

Ia bertanya-tanya pada dirinya sendiri; Siapa Baek Sun? Siapa lagi itu Sun Ji? Tapi, bukankah kekasih Kai yang ayahnya adalah dokter hanyalah Jisun seorang? Putus? Bukankah Kai dan Jisun masih berpacaran hingga detik ini? Aish hal ini sangat memusingkan.

Setelah ia keluar dari kebisingan yang gaduh itu, ia mengambil ponselnya yang berdering, lalu mengangkatnya.

“yoboseyo.” Sapa Jisun.

((Kau telat dua menit. Neon eodiya?)) Terdengar suara dingin disebrang sana.

Jisun menautkan alisnya dan menjauhkan telinganya dari ponsel itu, ia melihat nama ‘Chanyeol oppa♥’ yang tertera pada display-screen-nya. Ia mendengus kesal saat menyadari bahwa ia bahkan lupa untuk mengganti nama kontak namja menyebalkan itu!

“Aish jangan sok ketat! Aku sedang malas belajar~ Kau pulang saja.”

Chanyeol menggeram sebal disana. Padahal ia sudah berusaha datang kemari hanya untuk melihat gadis itu.

((H-3 menuju tes perguruan tinggimu! Setengah jam kau telat, kau akan ku hukum! Lihat saja!))

Piip… Chanyeol memutuskan panggilan-nya sepihak.

Jisun hanya mengumpat kasar sambil menendang-nendang krikil yang sedang ditapaknya. “DASAR TAK TAHU DIRI! MENYEBALKAAAAAAAAAN!”

Sudah dua puluh menit lamanya menanti, tapi sejak tadi Taxi tidak ada yang lewat satupun. Ingin rasanya ia menghubungi seseorang untuk menjemputnya namun sialnya batrai ponsel Jisun habis. Ia hanya ingin cepat cepat pulang dan istirahat, ia merasa tidak enak badan.

“hhaatchiihh”

*****

Baek’s Family House…

Jisun melangkah letih menuju kamar tidurnya, ia ingin segera tidur dan istirahat   –agar rasa sakit yang dideranya ini hilang . Kedua orang tuanya belum juga pulang bekerja dari rumah sakit, terpaksa Jisun harus menahan rasa sakit ini sendirian. Biasanya Oh Hani langsung sigap merawatnya 24/7.

“Kau telat 45 menit!” Ujar seseorang. Jisun mendelik ke asal suara dan menghela nafas berat saat melihat Chanyeol yang sedang menyandar di daun pintu kamarnya dengan melipatkan kedua tangan didada. Sebenarnya siapa tuan rumah yang sebenarnya?

“Bukannya tadi aku sudah menyuruhmu pulang?”

Chanyeol terdiam disana, menatap Jisun dengan teliti; mengapa perkataannya tadi terdengar lemas sekali? Apa dia sakit? Fikirnya.

“Minggir!” pekik Jisun. Chanyeol malah duduk bersila ditempat biasa ia mengajar. Jisun mengikutinya dari belakang dan terpaksa duduk dihadapan Chanyeol.

“Habis darimana, kau?” tanya Chanyeol kemudian.

“Jangan buang-buang waktu, cepat beri aku materi dan beberapa soal!”

Mereka pun memulai kegiatan belajar-mengajar mereka. Setelah Chanyeol menerangkan beberapa materi, ia lalu memberikan latihan evaluasi untuk Jisun. Jisun yang memang sudah tak kuat untuk berfikir lagi-pun melemaskan kepalanya yang berat diatas meja bundar tersebut. Chanyeol sedikit tertegun.

“Yak! Neon waegurae?” Chanyeol menoel pundak Jisun.

“Sebentar saja, tolong berikan aku waktu istirahat sebentar saja.” gumam Jisun pelan. Kepalanya terasa pusing sekali, Jisun merasa dunia-nya sedang terguncang.

Chanyeol memanjangkan lengannya untuk menggapai kening Jisun, ia sedikit terlonjak karena suhu tubuh Jisun sangatlah tinggi.

Chanyeol segera turun kebawah untuk mengambil handuk beserta semangkuk air dingin, tidak lupa juga ia membawa obat penurun demam. Setelah itu ia kembali ke kamar Jisun.

“Kau minum ini dulu.” Chanyeol menyuapi Jisun dengan sebutir obat, dalam keadaan sadar-tak-sadar Jisun pun mematuhinya.

Chanyeol menggendong Jisun dan membaringkannya ditempat tidur, ia menaikan bed-cover nya sampai kebawah dagu. Dengan sigap Chanyeol merendam handuk kedalam air dingin, meremasnya dan menempelkannya pada kening Jisun.

Chanyeol menatap lembut Jisun yang sedang tertidur tenang didepannya. Syukurlah keadaannya sedikit membaik, ini membuat Chanyeol merasa lega, tidak kelimpungan lagi seperti tadi. Chanyeol melihat sisi yang lain dari gadis ini, ketika gadis ini rapuh dan lelah, ketika keceriaan untuknya sudah memudar tandas.

Merenungi ini semua membuat dada Chanyeol terasa sesak. Sulit untuk menahan penyesalan ini sendirian. Bagaimana jika suatu saat Jisun jatuh ke pelukan pria lain dan mencintai pria itu lebih dari apa yang Jisun lakukan untuknya? Tidak, Chanyeol yakin hatinya tak akan sanggup mengakui kenyataan itu. Tidak akan.

Ia mengelus lembut rambut coklat madu gadis itu, membuat jantungnya terasa akan keluar kapan saja, hanya dengan cara ini ia bisa mengungkapkan betapa rindunya dia pada gadis ini yang ‘dulu’, saat dimana semuanya tidak mengenal akan arti kata Ter.lam.bat~

Chanyeol bangkit dari duduknya dan turun kebawah menuju dapur, berniat membuat sesuatu untuk Jisun. Disamping itu ia berusaha menggeser perasaan ini jauh jauh, menatap Jisun dalam jangka waktu yang berkepanjangan seperti tadi membuatnya hampir kehilangan kendali.

Chanyeol mengaduk bubur yang sedang dimasaknya sambil tersenyum-senyum sendiri, Chanyeol teringat dengan apa yang ia lakukan saat menunggu Jisun pulang tadi. Selama 45 menit ia menggunakan waktu senggang itu untuk sedikit mengoprek isi kamar Jisun. Ia menemukan beberapa buku diary Jisun yang tersimpan dibawah kolong tempat tidur.

Bisa ditebak jika sebagian besar isi diary tersebut selalu menyangkut nama tentang dirinya, Park Chanyeol. Jisun menulis hal hal kecil yang Chanyeol lontarkan –yang bahkan Chanyeol lupa kapan ia mengatakannya, Jisun bahkan mengingat jelas nasihat dan janji palsu mengecewakan dari namja tinggi itu. Dia juga menuliskan moment-moment mereka berdua dari yang terkecil sampai yang terbesar disana, Jisun bahkan mengingat jelas tentang spesifikasi tanggal kejadiannya.

“Kalau begini terus aku bisa gila karenanya!” Chanyeol menggaruk kepalanya yang tidak gatal sambil mempersiapkan hidangan makan malam untuk Jisun.

Chanyeol terpaku ketika ia melihat Jisun yang sudah terbangun dari istirahatnya, namun masih terbaring lemas disana.

Chanyeol menaruh gelas dan semangkuk bubur diatas meja belajar Jisun “Sudah agak baikkan?” tanyanya.

“Jadi kau yang merawatku? Aku kira orang tuaku sudah pulang.” Jisun menghela nafas berat “Terimakasih, Chanyeol-ssi.” Jisun tersenyum simpul, membuat jiwa dan raga Chanyeol menghangat. Tapi bukan begini! Bukan senyum seperti ini yang sangat Chanyeol inginkan! Ia menginginkan senyum Jisun yang dulu, senyum lebar cantik yang hanya miliknya, milik Chanyeol seorang.

Chanyeol hendak membalas perkataan Jisun barusan, namun baru saja ucapannya sampai ke tenggorokan, ponsel Jisun sudah bergetar hebat. Tanda ada panggilan masuk.

“Kai!! Kau kemana saja?” pekik Jisun girang. Chanyeol mendelik ke arahnya.

“Iya, tidak apa-apa. Haha begitukah? Aku sedang tidak enak badan, maka suaraku jadi seperti ini hehe…” Chanyeol menahan amarahnya ketika Jisun terlihat 45678x lipat baik-baik saja dibandingkan tadi. Ini semua berkat panggilan telepon dari Kai, kah?

“Kau mau menjengukku? Baiklah aku tunggu^^ okay, see you soon~” setelah selesai berbicara pada Kai lewat telepon, Jisun mengalihkan pandangannya pada Chanyeol yang mematung dihadapannya.

“Kau boleh pulang jika sudah tidak ada keperluan lagi^^Sekali lagi terimaks—“

“Aku juga akan pergi sebelum kau usir!” Chanyeol segera memotong perkataan Jisun itu dengan sedikit ketus, hatinya sudah mendadak terbakar saat ini juga! Rasanya ia ingin cepat-cepat menenangkan diri sebelum ia mengobrak-abrik benda-benda yang ada disekitarnya.

*****

Chanyeol menyandarkan punggung tegapnya ditembok, lalu ia terduduk sambil menatap kosong ke ponselnya. Chanyeol menekan nomor lokal internasional dari ponselnya, ia menghubungi seseorang.

“Yoboseyo… kapan kalian kembali?” ujar Chanyeol

((Kami usahakan secepatnya. Kami sudah mendengar hal buruk yang menimpa Jisun. Appa dan Umma sangat khawatir sekali.)) jelas seseorang disebrang sana, Park Gyuwoo –ayah Chanyeol-

“Cepatlah kembali, ada yang mau aku katakan pada appa dan umma.”

((Tentang apa?))

Chanyeol menghela nafasnya “Aku benci mengatakan ini, tapi aku bersedia untuk menikahi Baek Jisun. Aku berubah fikiran!”

*****

One Week Later…

Keluarga Baek mengadakan makan malam besar di sebuah Restaurant China di pusat Seoul, tersaji banyak makanan yang menggiurkan diatas meja, padahal disatu meja ini hanya terdapat tiga orang saja.

“Sekali lagi selamat untuk uri Jisunie, yang telah diterima di Universitas keinginan aboeji! Aboeji sangat bangga sekali padamu, nak!” seru Baek Seungjo sambil menuangkan anggur berkadar alkohol rendah pada gelas milik Jisun.

“Gamshamnida aboeji. Aku sangat bahagia jika kalian berdua pun bahagia.”

Ya, mereka mengadakan makan malam ini untuk merayakan keberhasilan Jisun. Orang tua-nya selalu menasihati Jisun untuk membiasakan diri, karena sekarang Jisun sudah tahu bahwa umurnya yang sebenarnya adalah 19 tahun, bukan 17 tahun. Walau Jisun masih belum mengingat sama sekali kejadian dua tahun terakhir ini, tapi paling tidak Jisun sudah mau menyesuaikan diri pada lingkungan dan gaya hidupnya. Maka dari itulah ia bekerja keras dan belajar dengan tekun agar bisa menjadi mahasiswa di Universitas Korea.

Tapi terkadang ia merasa sangat penasaran akan kisah hidupnya yang tidak bisa ia ingat. Dua tahun bukan lah waktu yang sebentar, pasti ada pahit-manis nya hidup Jisun saat itu. Tapi… apakah Park Chanyeol ada hubungannya dengan semua ini?

“Maaf, kami terlambat.” Seru seseorang. Jisun dan kedua orang tua-nya menoleh ke asal suara. Seketika itu Baek Seungjo dan Oh Hani berdiri sambil tersenyum merekah menyapa mereka.

“Selamat datang. Kalian sudah kembali dari Guangzhou? Silahkan duduk~ Jisunie, beri salam pada mereka.” Titah Baek Seungjo pada anaknya.

Jisun mengangguk kaku dan langsung memberi salam dengan sopan pada pasangan paruh baya itu, mereka menatap Jisun dengan hangat, seakan akan menggambarkan rasa rindu dan khawatir mereka untuk gadis kecil ini. Ya, mereka berdua adalah orang tua dari Park Chanyeol.

“Jisunie nan wanjan bogoshiposeo. Gwaenchana? Apa keadaanmu setelah kecelakaan itu baik baik saja?” ibu Chanyeol memeluk Jisun dengan erat, sampai ia tidak bisa bernafas saking eratnya.

“ne, nyonya. Aku.. nghh… merindukanmu juga hhh ngh” jawab Jisun dengan nafas terengah engah, padahal dalam hati ia bertanya-tanya siapa orang ini sebenarnya, daripada berlaku tidak sopan pada mereka dan merusak nama baik ayahnya lebih baik Jisun pura-pura mengenal mereka saja.

Ibu Chanyeol mencelos saat Jisun tidak memanggilnya dengan sebutan ‘eomonim’ lagi, ternyata benar apa yang diceritakan mereka semua, Jisun kehilangan sebagian ingatannya.

“Jisunie duduklah. Ada yang ingin kami bicarakan.” Seru Oh Hani.

*****

Disisi Lain…At Mango Café

“Kau…? Kau akan… menikahinya?” pekik Taeyeon. Ia menatap Chanyeol tak percaya.

Chanyeol menghela nafasnya, ia menoleh mengedarkan pandangannya pada taman kecil diluar sana yang terhalang oleh kaca besar. Taeyeon terus menunggunya untuk membalas tatapan sendunya, mengapa Chanyeol tetap memandang ke arah lain? Apa yang menarik dari taman kecil itu? Tidak ada satupun orang disana. Tentu saja, karena ini sudah jam sepuluh malam!

Taeyeon memejamkan matanya, mencoba untuk rileks “Kau serius? Kau bilang kau tidak mencintainya!”

“Entahlah, noona. Aku hanya tidak ingin jauh darinya. Apa itu bisa kubilang cinta?” Chanyeol memutar gelas Americano –nya yang sudah dingin diatas meja.

“Tch… baru kali ini aku didepak oleh bocah kecil sepertimu!” Taeyeon mulai murka. Semua pengunjung café ini menoleh ke arah meja mereka (Chanyeol-Taeyeon) yang bertempatan dipojok sana, dekat kaca besar.

“Maksud noona? noona menyukaiku? Begitu?” Chanyeol mengernyitkan alisnya bingung. Tunggu dulu! Bukankah Chanyeol sama sekali tidak memberikan harapan pada guru muda ini? Mengatakan cinta saja tidak pernah, Chanyeol hanya memperlakukan Taeyeon seperti noona bukan sebagai wanita. Chanyeol juga mengira jika Taeyeon hanya menganggapnya dongsaeng saja.

“SUDAHLAH! NIKAHI SAJA SANA MURID TUTORMU ITU! Aku pergi!” Taeyeon bangkit sambil menyeret tas tangannya dengan kasar, ia berjalan menuju pintu keluar sambil menghentak-hentakkan kakinya kesal.

Tanpa Chanyeol sadari ada sepasang mata yang sejak tadi memperhatikan pembicaraan mereka.

*****

Baek’s Family House~

“Apa kalian rela melepaskanku pada mereka?” pelas Jisun pada kedua orang tuanya, air matanya terus mengalir melewati pipi tirusnya, bibirnya bergetar, ia tidak bisa membendung emosi ini sama sekali.

Sudah hampir dua jam Jisun menahan ini semua, ia hanya terpaksa mengiya iyakan ucapan orang tuanya dan orang tua namja paling menyebalkan itu. Perjodohan, mereka bilang? Mereka memang tidak tahu kalau tahun ini tahun berapa? Aish! Menyebalkan!!! Jadi aku harus rela memberikan seluruh hidupku pada namja yang angkuh itu? Jisun mengumpat dalam hati.

“Kau tidak mengingat mereka sama sekali, Jisunie? Jika kau menolak permintaan kami maka itu artinya kau tidak ingin sembuh!” Seru Baek Seungjo, Jisun mengernyitkan alis tak mengerti.

Jadi begini, disamping orang tua Jisun dan Chanyeol ingin menjodohkan mereka berdua dari awal, orang tua Jisun juga ingin sekalian menyembuhkan amnesia yang mendera anak tersayangnya. Siapa tahu jika Jisun dan Chanyeol selalu bersama, Jisun akan lebih cepat mengingat dua tahun kenangan terakhirnya ini.

“Percayalah pada aboeji. Park Chanyeol adalah orang yang tepat untukmu! Saat kau sudah mengingat semuanya kau pasti akan menyesal jika menolak ini!” Baek Seungjo mencoba menasihati Jisun dengan kelembutan yang ia punya.

Akankah Jisun goyah? Hmm sedikit. Disisi lain ia juga penasaran akan apa yang menyangkut dirinya dengan namja yang bernama Park Chanyeol itu. Tapi memberikan seluruh hidupnya pada laki-laki itu bukanlah hal yang sangat mudah untuk direlakan!

“Eomoni dan Aboeji selalu mengabulkan apa yang kau mau, kan? Kali ini tolong terima permintaan kami, Jisunie~” ujar Oh Hani, mencoba mempengaruhi anaknya.

“AISH~ TERSERAH KALIAN LAH!”

*****

Chanyeol berjalan sambil menundukan kepalanya kebawah, menyaksikan kakinya yang tengah menapak krikil-krikil kecil itu. Ia tertawa, tidak lama lagi Jisun akan jadi miliknya, sebentar lagi Jisun sudah menjadi hak paten-nya, jadi tidak ada laki-laki yang berhak memiliknya selain dia. Entahlah… Chanyeol baru pertama kali merasa sebahagia ini.

BUGH!!

Seketika itu Chanyeol tersungkur ke tanah, seseorang tiba-tiba melayangkan bogem mentah ke sudut bibirnya. Chanyeol mendongakan kepalanya ke atas, dan sedikit terhentak saat melihat seseorang melangkah menghampirinya.

“…K..Kai?”

~To Be Continued~

51 pemikiran pada “Loving You Like Crazy (Chapter 5)

  1. mwo???chanyeol mnta dijodohin llg ma jisun???wkwkwkwk,mk nya jgn sok jaim,akhrnya senjata makan tuan…hihihi…
    kai knp nyerang chanyeol???

  2. Chanyeol jga lom nyatain suka ke taeyeon toh….chanyeol baru ngerasa keilangan tuh pas jisun amnesia….makanya jng sok jual mahal😀😀😀😀😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s