Everytime We Touched

Title : Everytime We Touched || Author : monicanr || Cast : Park Chanyeol & You || Genre : Romance, Smut || Length : 2.658 words|| Rating : PG-17

Inspired by Cascada – Everytime We Touched

Summary : Everytime we touched, I get this feeling.

***

            Aku bisa mendengar suaranya saat ia tidur disampingku, memelukku dengan lengannya yang hangat. Saling membagi kehangatan ditengah dinginnya musim dingin disini. Aku tersenyum tipis melihat bajunya yang berserakan dan bajuku yang sudah tak tertata sama sekali. Aku balas memeluknya sambil sesekali mencium telapak tangannya yang selalu menggegam tanganku saat aku membutuhkannya.

Namanya Park Chanyeol. Dan ia adalah suamiku sejak kemarin malam.

Pagi ini aku terbangun dengan rasa sakit yang mendadak menyerang tubuhku, bukan sebuah sakit yang terbilang parah hanya beberapa bagian yang terasa sangat sakit hingga aku tak sanggup untuk menggerakan badanku sedikitpun. Ia masih tidur dengan dengkuran kecil dan tangannya yang melingkar di perutku. Memelukku layaknya aku adalah guling yang selalu menemaninya tidur setiap malam.

“Aku bukan guling, sayang.” Gumamku tipis sambil tertawa kecil.

Aku pikir ia tidur, tapi nyatanya aku salah. Ia mendengus, membuat hembusan nafasnya mengenai bagian tengkukku. Tempat paling sensitif—menurutku. Ia menggumam sesuatu yang tidak jelas khas seperti dirinya saat bangun tidur. Dan aku sangat menyukainya yang seperti ini.

“Aku tidak membutuhkan guling lagi, sayang.” Dia balas bersikeras semakin mengeratkan pelukannya membuat jarak diantara kami semakin tidak tersisa. Tidak ada satupun hal yang menghalangi tubuhku dan tubuhnya. Kami sama-sama tanpa busana!

“Kalau begitu izinkan aku bangun dan memasakan sesuatu untukmu.” Ujarku sambil berusaha melepaskan tangannya yang melingkar erat di perutku, aku bisa merasakan Chanyeol menggeleng sambil menggesekan hidungnya di bagian belakang leherku—menghembuskan nafasnya disana membuatku merinding geli.

“Aku tidak lapar, sayang.” Ujarnya tegas—sama seperti profesinya sebagai seorang kepala kepolisian skuad cyber crime. “Aku sudah kenyang.”

Alisku berkerut, biasanya ia tidak pernah menolak atau mengatakan jika ia sudah kenyang saat aku menawarinya makanan. Dan seingatku seusai resepsi pernikahan, dia tidak makan apapun—begitupun denganku. Perutku serasa tersiksa dan aku kelaparan tapi Chanyeol bilang ia sudah kenyang.

“Kenyang? Kau tidak makan apapun setelah resepsi. Kau hanya minum teh hangat dan sepotong kue pernikahan.” Tanyaku dan aku bisa mendengarnya tertawa kecil—ia menempatkan wajahnya didekat telingaku, membuat tawa kecilnya seolah menggelitik telingaku. Ia sangat seksi pagi ini. Ya, seksi seperti tadi malam.

“Kau lupa—“ Bisiknya semakin menggodaku saat ia menghentikan ucapannya dan justru malam mencium tengkukku dan aku bisa merasakan bibirnya yang basah itu cukup lama mengecup tengkukku. “Kau memberiku begitu banyak makanan tadi malam.”

Shit!” Desisku merasa tertipu olehnya dan Chanyeol hanya tertawa kecil sementara bibirnya masih bergerak lincah diatas bahuku, menambah kesan jika ia ingin menggodaku pagi ini. Dan aku sama sekali tidak ingin tergoda oleh sikapnya pagi ini. “Jangan menggodaku, Park Chanyeol!”

“Aku tidak menggodamu.” Ujarnya pendek dan menggumamkannya diatas bahuku. Apakah ini yang kau sebut dengan tidak menggodaku? Ia menggodaku! Ya, dan ia membuat pertahananku sebentar lagi akan runtuh jika tetap seperti ini.

“Berhentilah, sayang. Aku lapar.” Ujarku setengah merengek dan akhirnya Chanyeol menghentikan kecupannya di bahuku, tapi tangannya masih melingkar di perutku seolah enggan untuk melepaskannya. “Kau tentu tidak ingin melihatku kelaparan, kan?”

Chanyeol terkekeh pelan lalu ia melepaskan pelukannya dan secepat kilat aku bangkit dan terlepas dari pelukannya. Aku merasa ada sesuatu yang aneh saat ia tersenyum begitu lebar memperlihatkan giginya yang berjajar rapih.

“Kau berniat menggodaku, huh?” Ia mendengus dan aku langsung menatap tubuhku dan langsung menarik selimutku dan melilitkannya secara asal ditubuhku. Ya, Tuhan, aku lupa jika aku berdiri dihadapannya tanpa busana tadi. “Baiklah, aku tidak akan memaksamu. Oh, ya, masaklah yang enak, sayang.”

Aku menutup wajahku dengan kedua telapak tanganku. Terlalu malu untuk menunjukan wajahku yang mulai memerah dan memanas. Kemudian aku merasakn tubuhku semakin hangat tatkala Chanyeol tiba-tiba memelukku, membuka tirai jendela membiarkan sinar matahari masuk membuat tubuhku terasa menghangat.

“Masaklah, aku akan menyusulmu.”

Kemudian ia mengecup keningku dan aku langsung merasakan desiran aneh ini dalam diriku. Meskipun aku sudah mengenalnya hampir 7 tahun, menjadi kekasihnya hampir 5 tahun, dan baru menjadi istrinya selama 1 hari. Tapi desiran aneh ini selalu saja memenuhi tubuhku. Park Chanyeol, kau membuatku gila!

***

            Aku memasak telur gulung dan wortel rebus pagi ini. Untuk sarapan kami, ini bukanlah hal yang asing bagiku. Karena Chanyeol tak jarang datang ke flat-ku untuk sarapan dan memintaku memasakan telur gulung sekaligus wortel rebus dan segelas susu penguat tulang. Ia bilang, ia tidak ingin keropos tulang di usianya yang baru menginjak 27 tahun.

Telur gulung ini tampak begitu indah saat aku menambahkan saus tomat diatasnya. Membentuk gambar hati. Aku terkekeh pelan, kenapa aku bertingkah seperti anak-anak saat ini. Hal seperti ini pernah aku lakukan saat ibu ulang tahun dan aku menggambarkan bentuk hati menggunakan susu kental cokelat diatas satu slice roti saat sarapan ketika aku baru duduk dibangku kelas 3 sekolah dasar.

“Kenapa tertawa sendiri, huh?” Tanyanya yang tiba-tiba datang dan langsung memelukku dari belakang membuatku terlonjak kaget dan menjerit pelan. Ia lalu tertawa dan menyentuh tanganku yang sedang menatap telur gulung dan wortel rebus. “Woah, apakah kau membuatkannya untukku?”

Aku mengigit bibirku dengan pipi yang kembali memerah, ia tertawa kecil saat menyentuhkan lengannya pada saus tomat di piring dan mengoleskannya di hidungku. Aku mendelik menatapnya dan ia langsung tersenyum sambil mengucapkan maaf dan meraih tissue lalu membersihkan saus di hidungku.

“Kau lihat ini?” Tanyanya membuatku mengalihkan pandangan kearahnya dan ia menunjukan sebuah frame foto yang sangat besar dengan bingkai berwarna hitam. “Huang Zitao—bawahanku di kepolisian memberikannya padaku.”

“Oh, ya?” Sahutku antusias kemudian mencuci tanganku dan langsung berjalan kearahnya yang sedang memegangi sebuah surat yang ada di dalam paket hadiah. “Dia juga memberikan surat itu?”

Chanyeol mengangguk, dan aku langsung berjalan mendekat dan ia langsung merangkul bahuku dengan lembut kemudian mengecup puncak kepalaku sebentar. “Dia bilang kita harus hidup bahagia dan memiliki anak laki-laki yang pemberani sepertiku.”

Aku mendengus mendengar suaranya yang terlalu percaya diri. Ia lalu kembali membuka surat itu dan melanjutkan membaca suratnya semetara tanganku melingkari perutnya—memeluk tubuh tegapnya yang tinggi.

“Dan kita harus memiliki seorang anak perempuan yang cantik dan lembut sepertimu. Begitulah isi surat dari Zitao.” Ujar Chanyeol sambil kembali melipat suratnya. “Berbicara tentang anak, kau ingin kita punya anak berapa?”

Aku berpikir sebentar. “Dua saja cukup. Laki-laki dan perempuan, seperti yang dikatakan Zitao tadi.”

“Tidak—tidak, kita harus punya tiga anak, dua laki-laki dan satu orang perempuan.” Ujar Chanyeol membuatku menatapnya tidak habis pikir. Dari sebelum menikah, ia selalu saja mengatakan ingin punya tiga anak. Dia bilang, anak pertama akan menjadi kepala kepolisian cyber crime seperti dirinya, anak keduanya akan menjadi seorang perwira polisi yang berprestasi, dan anak terakhir—disini maksudnya perempuan akan menjadi seorang desainer sepertiku.

“Dua saja cukup, sayang.” Ujarku sambil menjijitkan kaki untuk mencium pipinya dan ia langsung menatapku dengan bingung. “Baiklah, berapapun anak yang Tuhan berikan pada kita, kita harus mensyukurinya.”

Bingo!” Ujar Chanyeol sambil tersenyum lebar dan ia langsung melingkarkan tangannya di pinggangku dan kembali ke meja makan. “Masih ada banyak kado pernikahan dari teman-temanku yang lainnya. Mungkin setelah makan kita bisa membukanya bersama-sama.”

“Kau lupa, sayang?” Tanyaku sambil memotong telur gulung dan menyuapinya membiarkan saus tomat meluber disekitar mulutnya dan aku langsung mengusapnya menggunakan tissue. “Kita harus datang ke acara pertunangan Sehun.”

Chanyeol menepuk dahinya lalu ia balas menyuapiku wortel rebus dengan sedikit garam. “Aku lupa, dan kenapa Sehun harus menggelar acara pertunangan sehari setelah pernikahanku. Dan parahnya lagi acaranya dimulai pukul 10 pagi. Seharusnya kita masih bermesraan di tempat tidur.”

Aku tersenyum tipis mendengarnya terus mengoceh panjang lebar. Lalu dering ponsel Chanyeol membuatku menoleh kearah ruang keluarga dan langsung melangkah kesana. Alisku berkerut menatap nama yang tertera diatas sana. Byun Baek Hyun.

“Sayang, Baekhyun menelponmu.” Teriakku sambil berjalan menuju ruang makan dan menyerahkan ponselnya pada Chanyeol. Byun Baekhyun adalah adik kelas Chanyeol semasa di sekolah kepolisian dan saat ini pria itu bekerja di kepolisian di daerah Gangnam.

“Hai, Baekhyun, ada apa?” Tanya Chanyeol dengan mulut penuh oleh telur gulung membuatku hanya bisa menggelengkan kepalaku melihat tingkahnya. Tapi rasa penasaranku memuncak saat tiba-tiba Chanyeol membulatkan matanya dan sendok terlepas begitu saja dari tangannya. “Bagaimana bisa?”

Chanyeol terus berbicara di telepon, dan aku ikut panik melihat perubahan raut wajah Chanyeol yang berubah khawatir. Aku menatapnya meminta penjelasan saat sambungan telepon baru saja terputus.

“Ada kasus pembunuhan di Gangnam, mereka membunuh korbannya setelah melakukan hacking pada komputer si korban. Aku harus pergi.” Ujar Chanyeol sambil bangkit dari duduknya tanpa meminum susu tulangnya, aku langsung mengikutinya dari belakang saat ia mulai menaiki tangga dan masuk ke kamar.

“Tidak bisa, sayang. Kau sedang cuti menikah, dan mereka pasti mengerti.” Ujarku sambil terus mengikutinya yang sedang mengeluarkan peralatan kerjanya sementara aku berusaha keras menarik ujung bajunya agar ia tidak pergi.

“Aku harus pergi, sayang.” Ujarnya sambil menangkup wajahku dan menatapku dengan matanya yang bening sementara aku mulai menangis terisak. “Aku tahu kau kecewa, tapi ini sudah tugasku sebagai pemimpin.”

“Mereka bisa melakukannya tanpamu.” Ujarku sambil bersikeras dan tangisku semakin deras saat ia menarikku kedalam pelukannya menggumamkan kata-kata jika semuanya akan baik-baik saja dan ia akan pulang dengan selamat sebelum tengah malam.

“Sayang, dengarkan aku! Aku sudah bersumpah atas nama negara untuk mengabdikan diriku pada negeri dan bertanggung jawab dengan segala hal yang harus aku lakukan.” Chanyeol masih memelukku ia mengeluarkan dompetnya dan menunjukan sebuah foto disana. Foto dirinya saat dilantik menjadi anggota kepolisian. “Aku berjanji akan pulang secepat yang aku bisa.”

Aku tidak bisa mengucapkan apapun saat Chanyeol mengenakan jas hitam yang biasa ia kenakan dan tak lupa menggantung name tag-nya. Ia merangkul bahuku sambil berjalan keluar rumah menuju mobil yang terparkir dengan begitu nyaman tepat di depan rumah.

“Jaga dirimu baik-baik.” Ujar Chanyeol sambil mencium keningku cukup lama lalu masuk kedalam mobilnya. Sebelum mobilnya benar-benar melaju ia membuka kaca jendela dan tersenyum padaku yang masih menangis. “Jangan lupa mengunci pintu rumah. Aku mencintaimu.”

Mobil mulai melaju dan perasaan tidak enak itu langsung menyelubungiku.

***

            “Baku tembak terjadi disebuah gedung kosong didaerah Gangnam. Seorang anggota kepolisian tewas dalam baku tembak tersembut dan tersangka yang juga seorang hacker profesional itu meninggal akibat baku tembak dengan kepolisian. Sampai saat ini belum ada pernyataan resmi dari pihak kepolisian mengenai….”

Semua perkataan reporter wanita itu seolah menjadi angin lalu yang sama sekali tidak digubris olehku. Aku masih duduk disini, didepan televisi dengan air mata yang tak kunjung berhenti mengalir melalui pipiku. Semuanya terasa berdengung dan aku hanya bisa mendengar suaranya samar-samar. Mengingat malam kemarin, bagaimana ia menatapku seolah aku adalah pusat tata surya baginya.

Semua itu hanyalah angin lalu.

Ponselku berdering tapi aku enggan untuk menjawabnya, bahkan hanya untuk menatap siapa yang menelponku pun aku enggan. Aku terlalu kaget sekaligus tidak percaya dengan semua ini. Sungguh, rasa baru saja ia menyentuh setiap jengkal kulitku menggunakan jarinya yang panjang. Rasanya, baru saja ia mengecup keningku dengan lembut.

Rasanya baru saja.

Dan suara bel di rumah pun, hampir aku abaikan jika aku tidak mengingat bagaimana tatakrama itu begitu penting. Maka dengan air mata yang masih berlinangan aku melangkahkan kakiku keluar dan terkejut melihat sosok Baekhyun berdiri disana sambil menatapku tanpa ekspresi—seperti biasanya.

“Aku datang membawa kabar buruk.” Ujar Baekhyun datar, walaupun nada suaranya terdengar bergetar dan aku semakin tak bisa membendung air mataku yang semakin menggenang, membuyarkan pandanganku. “Dia—“

“Aku tahu, Baek! Aku tahu.” Jeritku tak tertahankan sementara aku hanya mendapat respon aneh dari Baekhyun—ia menatapku dengan alis berkerut seolah tidak mengerti dan aku balas menatapnya dengan pandangan yang mulai kabur. “Dia gugur dalam tugas, kan?”

“Ya.” Sahut Baekhyun sambil mengangguk tapi ia masih menatapku dengan pandangan aneh itu dan ia kemudian memegang kedua bahuku. “Kau tahu darimana?”

“Aku mendengarnya dari televisi.” Ujarku sementara tubuhku tak lagi mampu untuk menopang berat bebanku maka aku duduk bersimpuh dan Baekhyun langsung berjongkok didepanku sambil mengusap bahuku. “Aku tidak menyangka ia akan pergi secepat ini?”

“Pergi? Pergi kemana?” Tanya Baekhyun membuat alisku berkerut menuntut penjelasan darinya. “Chanyeol tidak meninggal. Ia masih hidup.”

“Maksudmu?” Tanyaku tidak mengerti sementara secerah harapan itu mulai muncul dalam hatiku. Semoga saja apa yang dikatakan Baekhyun adalah sebuah kebenaran.

“Ia hanya menderita luka tembak di bahunya, ia sudah terbiasa menerima tembakan seperti itu.” Ujar Baekhyun membuat alisku berkerut dan menunggunya melanjutkan ucapannya sementara aku masih ingat betul berapa banyak luka jahit di sekitar tubuhnya. Ada sekitar 5 luka jahit. “Berita buruknya adalah ia diturunkan pangkat karena membiarkan seorang pegawai baru mengikuti operasi seperti ini.”

“Sialan kau!” Aku menabrak bahu Baekhyun dan langsung berlari menuju gerbang dan langsung menghentikan taksi lalu masuk kedalamnya dan langsung meminta supir taksi untuk mengantarku ke rumah sakit.

Sungguh, persetan dengan Chanyeol yang diturunkan pangkat, yang penting ia masih hidup dan ia baik-baik saja. Meskipun Chanyeol harus berhenti menjadi polisi sekalipun aku sama sekali tidak peduli. Yang aku butuhkan adalah Chanyeol! Bukan jabatannya di kepolisian!

Dasar Byun Baekhyun sialan! Ia sudah membuatku menjerit seperti orang gila.

***

            Suasana rumah sakit benar-benar ramai oleh beberapa pihak wartawan dan mereka menatapku dan bahkan beberapa dari mereka justru malah mengajukan pertanyaan padaku. Mereka berpikir jika aku adalah keluarga korban atau istri pelaku. Yang benar saja, aku adalah istri seorang Park Chanyeol—seorang petinggi kepolisian.

Aku masuk dan langsung melihat Zitao sedang duduk di ruang tunggu didepan ruang pemeriksaan aku langsung menghampirinya dengan nafas yang terengah-engah. “Dimana suamiku?”

“Dia didalam.” Sahut Zitao sedikit bingung melihatku yang nyaris gila seperti ini. Tapi aku sama sekali tidak peduli, yang ada pikiranku hanyalah aku harus bisa melihat suamiku baik-baik saja dan ia masih hidup lalu akan menemaniku tidur malam ini.

Aku membuka pintu ruang pemeriksaan dengan sedikit paksaan dan yeah aku bisa melihatnya bersandar pada sandaran ranjang rumah sakit dengan tubuhnya yang telanjang dada dan tertutupi oleh perban. Ia menatapku tidak mengerti sedangkan aku langsung menghampirinya, memeluknya dan melepaskannya saat ia mengerang pelan.

“Maafkan aku, apakah ini sakit?” Tanyaku padanya sementara Chanyeol langsung menggeleng dan kami tampak seperti orang bodoh disini. Jelas saja luka tembak itu sakit dan kenapa aku harus menanyakan hal ini padanya.

“Bagaimana kau tahu aku ada disini? Padahal sudah jelas-jelas aku tidak ingin membuatmu khawatir.” Tanya Chanyeol memberikan ruang bagiku untuk duduk dipinggiran ranjang rumah sakit dan ia langsung menggenggam tanganku dengan erat sambil menciumnya sesekali.

“Daging babi sialan itu yang beritahuku.” Ujarku sebal mengingat bagaimana Baekhyun membuatku panik setengah mati. “Ia bilang jika ia datang membawa kabar buruk, aku takut kehilanganmu tapi ia bilang berita buruknya adalah kau akan turun pangkat.”

“Baekhyun benar, sayang. Itu berita buruk.” Ujar Chanyeol sambil mengusap rambutku sementara aku menggeleng bersikeras

“Tidak, sayang. Bagiku tidak penting apapun pangkatmu di kepolisian, aku hanya menginginkanmu bukan pangkatmu di kepolisian.” Ujarku mulai menangis dan memeluknya kali ini dengan gerakan lebih lembut dan ia menggumam sesuatu yang tidak jelas di puncak kepalaku.

“Masih tentang berita buruk.” Ujar Chanyeol pendek, membuatku menggumam dan meminta melanjutkan ucapannya. “Kita tidak bisa melakukan itu malam ini karena bahuku baru saja tertembak dan lukanya belum kering.”

Aku nyaris berteriak dan ingin mengoyak bahunya agar ia merasakan sakit yang luar biasa dibahunya saat ia melakukan itu. Aku pikir ia akan memberitahuku sebuah berita buruk yang benar-benar buruk. Tapi Chanyeol memang benar, ini adalah berita yang jauh lebih buruk dari berita apapun.

“Berhenti menggodaku, Park Chanyeol!” Desisku dan ia hanya terkekeh pelan sambil mengusap rambutku lalu ia merogoh saku celananya dan mengulurkan ponselnya padaku yang membuat alisku mengkerut bingung.

“Aku bingung harus mengatakan apa padamu, tapi Zitao bilang kau mencoba menghubungi ponselku beberapa kali tapi ponselku rusak jadi aku tidak bisa menjawab panggilanmu dan membuatmu khawatir.”

Aku menatap ponselnya yang sudah hancur—maksudnya layar ponselnya pecah dan ponsel itu sama sekali tidak berfungsi. Aku tersenyum lalu memeluknya sekali lagi—kali ini lebih erat dari sebelumnya. “Apakah hari ini aku boleh pulang?”

“Tentu saja.” Sahut Chanyeol sambil melirik bahunya yang masih di perban. “Ini tidak seberapa, dalam dua bulan ke depan semuanya akan baik-baik saja.”

“Dan setelah dua bulan kau akan menggodaku lagi, begitu?” Tanyaku dengan ekspresi yang dibuat sedatar mungkin sementara Chanyeol hanya tersenyum menggoda kearahku.

“Kita tidak perlu menunggu dua bulan untuk melakukan­-nya, aku bisa menahan rasa sakitku jika kau tidak sabar untuk melakukannya.” Ujar Chanyeol sambil mengedipkan sebelah matanya dan aku langsung menatapnya dengan ekspresi marah.

“Hei, Park Chanyeol! Berhentilah bersikap mesum!”

  

 

THE END

21 pemikiran pada “Everytime We Touched

  1. Pls lah aku udah ma nangis astagah -…- bener2 gak kebayang kalo chanyeol,baekhyun,tao jadi polisi XD whoaa aduh aku langsung ngakak waktu tau berita buruknya chanyeol turun pangkat wkwkwk keep writing thor 🙂 ini keren XD

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s