Fallen (Chapter 8 Part B)

Tittle: FALLEN – CHAPTER 8 PART B: MENYELAM TERLALU DALAM
Author: @FYEAHZELO_
Main Cast:   -Lucinda Price : Park Gi Eun (OC)

-Daniel Grigori : Xi Luhan (EXO-M)

-Cameron Briel : Wu Yi Fan a.k.a Kris (EXO-M)

-Arriane Alter : Amber Josephine Liu (F(X))

-Pennyweather Van Syckle-Lockwood : Lee Sun Kyu a.k.a Sunny (SNSD)

-Roland Sparks : Roland Sparks (OC)

-Gabrielle Givens : Lee Hyori (OC)

 

Support Cast:         -Sophia Bliss : Kim Hyun Jin—Miss Kim (OC)

-Mary Margaret ‘Molly’ Zane : Choi Jin Hee (OC)

-Randy : Kim Joon-myun a.k.a SuHo (EXO-K)

-Callie : Jung Ji Hyun (OC)

-Todd Hammond : Park Chanyeol (EXO-K)

-Trevor : Trevor (OC)

Genre: Western-Life, Paranormal Romance, Supernatural Romance, Young Adult Fiction, Fantasy

Credit: FALLEN by Lauren Kate

Warning: Typo merajalela (?), OOC

CHAPTER 8 PART B:

MENYELAM TERLALU DALAM

“Apa yang akan kita lakukan?” tanya Gi Eun.

 

“Kau diam-diam naik tangga lagi,” Sunny berkata, menunjuk. “Begitu sampai di atas, langsung belok kiri dank au akan masuk lagi ke kantor utama. Jika ada yang melihatmu, bilang saja kau mencari kamar mandi.”

“Bagaimana denganmu?”

 

“Aku akan mengembalikan arsip Luhan dan menemuimu di bangku penonton di lapangan. Miss Kim takkan curiga jika hanya melihat diriku. Begitu seringnya aku ada di bawah sini rasanya tempat ini seperti kamar asrama keduaku.”

 

Gi Eun melirik sekilas arsip Luhan dengan sedikit rasa menyesal. Ia belum ingin pergi. Tepat ketika memutuskan untuk memeriksa arsip Luhan, ia juga mulai memikirkan arsip Kris. Luhan begitu misterius—dan sayangnya, begitu juga arsipnya. Sebaliknya, Kris, kelihatan begitu terbuka dan mudah dibaca sehingga membuatnya penasaran. Gi Eun membayangkan apa lagi yang bisa ditemukannya tentang diri Kris yang mungkin ditutup-tutupi cowok itu. Tapi begitu menatap raut wajah Sunny, Gi Eun tahu mereka tidak punya banyak waktu lagi.

 

“Jika ada lagi yang bisa ditemukan tentang Luhan, kita akan menemukannya,” Sunny menenangkannya. “Kita akan terus mencari.” Ia agak mendorong tubuh Gi Eun ke pintu. “Sekarang, pergilah.”

 

Gi Eun bergerak dengan cepat menyusuri lorong di antara rak-rak, lalu membuka pintu yang menuju anak tangga. Udara di dasar anak tangga masih lembap, tapi ia mula merasakan udara lebih bersih di setiap pijakan anak tangga. Ketika akhirnya berbelok di anak tangga teratas, ia harus mengerjap dan menggosok mata untuk beradaptasi dengan cerahnya sinar matahari yang menyinari aula. Ia tersandung di pojok ruangan dan menerobos pintu lobi utama yang berwarna putih bersih. Di sana ia terpaku.

 

Dua sepatu bot stiletto, disilngkan dimata kaki, disandarkan ke atas dan muncul dari lima bilik telepon, sangat bergaya Penyihir Jahat dari Selatan. Gi Eun cepat-cepat menuju pintu depan, berharap tidak terlihat, saat ia menyadari sepatu bot stiletto itu bersatu dengan celana ketat bercorak kulit ular bersatu dengan Jin Hee yang tanpa senyum. Kamera mungil berwarna perak berada dalam genggamannya. Ia mengangkat pandangan kea rah Gi Eun, melepaskan gagang telepon dari telinga, dan menurunkan kedua kaki ke lantai.

 

“Kenapa kau terlihat bersalah, Daging Giling?” ia bertanya, berdiri berkacak pinggang. “Biar kutebak. Kau masih berencana mengabaikan saranku menjauhi Luhan.”

 

Tingkah nya yang seperti monster kejam ini pasti hanya berpura-pura. Jin Hee tidak mungkin bisa tahu Gi Eun baru datang dari mana. Gadis itu tidak tahu apa pun tentang Luhan. Ia tidak punya alasan untuk begitu menyebalkan. Sejak hari pertama disekolah, Gi Eun tidak pernah melakukan apa-apa terhadap Jin Hee—kecuali menjauh darinya.

 

“Apa kau lupa betapa mengerikannya musibah yang terjadi di terakhir kali kau mencoba memasukkan dirimu pada cowok yang tidak tertarik padamu?” Suara Jin Hee setajam pisau. “Siapa namanya? Taylor? Truman?”

 

Trevor. Bagaimana Jin Hee bisa tahu tentang Trevor? Ini rahasia terdalamnya yang paling gelap. Hal yang igin—harus—disembunyikan Gi Eun di Sword & Cross. Sekarang, bukan hanya Jelmaan Iblis ini tahu segalanya tentang hal itu, ia juga tidak segan mengungkapkannya, dengan kejam, dengan angkuh—ditengah kantor utama sekolah.

 

Apakah mungkin Sunny berbohog, bahwa Gi Eun bukanlah satu-satunya yang ia beritahu tentang masalah kantor?  Apakah ada penjelasan lain yang lebih masuk akal? Gi Eun mencengkeram tangannya yang bersedekap, merasa muak serta ditelanjangi… dan dilanda rasa bersalah yang tidak bisa dijelaskan, seperti pada malam kebakaran itu.

 

Jin Hee memiringkan kepala. “Akhirnya,” ia berkata, terdengar lega. “Ada yang bisa mengusikmu.” Ia memunggungi Gi Eun dan mendorong pintu depan dengan kasar. Lalu, tepat sebelum melangkah ke luar, ia memutar leher dan memandang dari ujung hidungnya kea rah Gi Eun. “Jadi jangan lakukan pada Luhan apa yang kaulakukan pada cowok siapa itu. Capiche?”

 

Gi Eun mengejar Jin Hee, tapi hanya beberapa langkah di luar pintu, ia menyadari tangisnya mungkin hanya akan meledak jika mencoba membalas Jin Hee sekarang. Gadi itu terlalu kejam. Lalu seakan menebar garam di atas luka Gi Eun, Hyori menderap menuruni bangku penonton untuk menghampiri Jin Hee di tengah lapangan. Jarak mereka terlalu jauh sehingga Gi Eun tidak bisa melihat raut wajah mereka ketika mereka menoleh untuk menatapnya. Kepala dengan buntut kuda pirang mendekati rambut pendek berwarna hitam—obrolan empat mata paling busuk yang pernah Gi Eun lihat.

 

Ia mengepalkan tinjunya yang berkeringat, membayangkan Jin Hee menumpahkan segala yang ia tahu tentang Trevor pada Hyori, yang akan segera menyampaikan berita tersebut pada Luhan. Saat memikirkan hal itu, rasa sakit yang memuakkan menyebar dari ujung-ujung jemari, naik ke lengan, dan ke dalam dadanya. Luhan mungkin pernah ditangkap karena menyeberang sembarangan, tapi memangnya kenapa? Itu bukan apa-apa dibandingkan apa yang menyebabkan Gi Eun berada di sini.

 

“Awas!” ada suara berseru. Itu kata yang paling tidak ingin Gi Eun dengar. Peralatan olahraga apa pun anehnya selalu tertarik pada dirinya. Ia meringis, menatap tepat kea rah matahari. Ia tidak bisa melihat apa-apa,  bahkan tidak sempat melindungi wajah saat merasakan hantaman di sisi kepalanya dan mendengar suara duk yang keras di telinga. Aduh.

 

Bola Roland.

 

“Sundulan bagus!” Roland berseru ketika bola itu menggelinding kembali ke arah cowok tersebut. Seakan Gi Eun sengaja melakukannya. Gi Eun mengelus dahi dan melangkah terhuyung-huyung.

 

Ada yang menyambar pergelangan tangannya. Percikan rasa hangat yang membuatnya tersentak. Gi Eun memandang ke bawah dan melihat jemari dengan kulit kecokelatan pada pergelangan tangannya, lalu mendongak, menatap mata kelabu gelap Luhan.

 

“Kau tidak apa-apa?” cowok itu bertanya.

 

Ketika Gi Eun mengangguk, Luhan mengangkat satu alis. “Kalau kau mau main bola, seharusnya kau bilang saja,” ia berkata. “Aku akan senang sekali menjelaskan beberapa cara bermain yang baik, misalnya bahwa kebanyakan orang menggunakan  bagian tubuh yang tidak terlalu peka untuk mengembalikan bola.”

 

Luhan melepaskan pergelangan tangan Gi Eun, dan Gi Eun mengira cowok itu hendak mengulurkan tangan ke arahnya, mengelus sisi wajahnya yang berdenyut. Sekejap ia terdiam di sana, menahan napas. Lalu ia kecewa sekali ketika tangan Luhan ditarik kembali untuk menyibakkan rambutnya sendiri dari kedua mata.

 

Saat itulah Gi Eun baru menyadari bahwa Luhan hanya mengolok-oloknya.

 

Dan kenapa tidak? Mungkin ada jejak bola di sisi wajahnya.

 

Jin Hee dan Hyori masih memandangi Gi Eun—dan sekarang Luhan—dengan kedua tangan dilipat di dada.

 

“Kurasa pacarmu cemburu,” kata Gi Eun, mengisyaratkan kea rah dua gadis itu.

 

“Yang mana?” tanya Luhan.

 

“Aku tidak tahu mereka berdua pacarmu.”

 

“Dua-duanya bukan pacarku,” cowok itu berkata singkat. “Aku tidak punya pacar. Maksudku, menurutmu, pacarku yang mana?”

 

Gi Eun terkejut. Bagaimana dengan obrolan bisik-bisik Luhan dan Hyori? Dan apa maksud kedua gadis itu menatapnya saat ini? Apakah Luhan berbohong?

 

Luhan memandanginya dengan aneh. “Mungkin kepalamu terbentur lebih keras daripada yang kukira,” cowok itu berkata. “Ayo, mari kita jalan-jalan, kau perlu udara segar.”

 

Gi Eun mencoba mencari ejekan dalam ajakan Luhan yang terakhir. Apakah ia bermaksud mengatakan Gi Eun orang tolol yang perlu udara segar? Tidak, klimat itu bahkan tidak masuk akal. Gi Eun melirik kea rah Luhan. Bagaimana cowok itu bisa terlihat begitu tulus? Dan tepat pada saat Gi Eun mulai terbiasa dengan penolakan Xi Luhan.

 

“Ke mana?” Gi Eun bertanya hati-hati. Sebab terlalu mudah untuk merasa senang saat ini karena kenyataan bahwa Luhan tidak punya pacar, sebab cowok itu ingin pergi ke suatu tempat bersamanya. Pasti ada sesuatu dibaliknya.

 

Luhan hanya menyipitkan mata kea rah kedua gadis di seberang lapangan. “Suatu tempat di mana kita tidak akan diawasi.”

 

Tadi Gi Eun berkata pada Sunny ia akan menemuinya di bangku penonton, tapi nanti aka nada banyak waktu untuk menjelaskan, dan Sunny pasti bakal mengerti. Gi Eun membiarkan Luhan menuntunnya melewai tatapan ingin tahu kedua gadis itu dan gerombolan pohon peach yang setengah membusuk, ke bagian belakang bangunan olahraga gereja tua. Mereka tiba di hutan ek cantik, yang tidak pernah disangka Gi Eun tersembunyi disini. Luhan menoleh ke belakang untuk meyakinkan diri bahwa Gi Eun masih mengikutinya. Gi Eun tersenyum, seakan mengikuti cowok itu bukan hal yang sulit, tapi ketika berjalan di antara akar-akar tua yang bertonjolan, ia tak bisa menghilangkan pikiran tentang bayangan-bayangan.

 

Sekarang, ia mulai memasuki hutan kecil, suasana gelap di bawah dedaunan yang lebat sesekali diterangi seberkas sinar matahari dari atas. Aroma lumpur lempab yang tajam memenuhi udara, dan tiba-tiba saja Gi Eun tahu ada air di dekat sini.

 

Jika orang yang terbiasa berdoa, saat ini saat yang tepat baginya untuk berdoa agar bayangan-bayangan itu tetap menjauh, hanya untuk sesaat yang berharga bersama Luhan ini, jadi cowok itu tidak akan melihat bahwa Gi Eun kadang bisa bertingkah tidak waras. Tapi Gi Eun tidak pernah berdoa. Tidak tahu caranya. Akhirnya ia hanya menyilangkan jemari.

 

“Hutannya berakhir di atas sana,” kata Luhan. Mereka tidak di tempat terbuka, dan Gi Eun tersentak kagum.

 

Ada yang berubah ketika ia dan Luhan melintasi hutan, sesuatu yang lebih daripada sekadar jarak pendek dari Sword & Cross yang muram. Karena begitu keluar dari barisan pohon dan berdiri di dataran batu merah yang tinggi ini, mereka seakan berdiri di dalam kartu pos yang biasa di jual di rak besi putar apotik kota kecil, gambaran impian tentang daerah selatan ideal yang sudah tidak ada. Setiap warna yang Gi Eun lihat sungguh indah, jauh lebih cemerlang daripada hanya beberapa saat sebelumnya. Dari danau biru yang seperti Kristal tepat di bawah mereka sehingga hutan lebat berwarna zamrud yang mengelilinginya. Dua burung camar melesat di langit yang cerah. Jika berjinjit, Gi Eun bisa melihat ujung rawa-rawa berpasir yang berwarna kecokelatan, yang ia tahu pasti bertemu lautan berbuih putih di ujung cakrawala yang tak terlihat.

 

Ia mendongak kea rah Luhan. Cowok itu terlihat menakjubkan juga. Kulitnya berwarna emas di bawah cahaya ini, matanya nyaris seperti hujan. Tatapan Luhan pada wajahnya terasa luar biasa.

 

“Bagaimana menurutmua?” Luhan bertanya. Cowok itu kelihatan jauh lebih santai setelah mereka kini jauh dari orang lain.

 

“Aku belum pernah melihat sesuatu yang menakjubkan ini,” jawab Gi Eun, memperhatikan permukaan danau yang indah, merasakan keinginan untuk menyelam ke dalamnya. Kira-kira sejauh lima belas meter di atas air terdapat batu besar dengan permukaan rata dan tertutup lumut. “Apa itu?”

 

“Akan kutunjukkan padamu,” kata Luhan, membuka sepatu. Gi Eun berusaha tidak menatap walau gagal ketika Luhan menarik kaus ke atas kepala, memperlihatkan perutnya yang berotot *author ngebayangin -_-v*. “Ayo,” kata cowok itu, membuat Gi Eun tersadar betapa ia pasti terlihat begitu terpaku. “Kau bisa berenang dengan pakaian itu,” Luhan menambahkan, menunjuk tank top abu-abu Gi Eun dan celana pendeknya. “Aku bahkan akan membiarkanmu menang kali ini.”

 

Gi Eun tertawa. “Melawan apa? Semua saat kubiarkan kau menang itu?”

 

Luhan nyaris menangguk, lalu tiba-tiba berhenti. “Bukan. Karena kau kalah di kolam renang waktu itu.”

 

Sesaat Gi Eun merasakan dorongan untuk memberitahu Luhan kenapa ia kalah. Mungkin karena bisa menertawakan kesalahpahaman bahwa Hyori pacar Luhan. Tapi saat itu, kedua lengan Luhan sudah diangkat ke atas kepala dan cowok itu melompat, melengkung lalu terjun, menyelam ke dalam danau dengan sedikit percikan. Sempurna.

 

Itu tadi salah satu hal yang paling indah yang pernah Gi Eun lihat. Luhan memiliki keanggunan yang belum pernah Gi Eun saksikan sebelumnya. Bahkan percikan ari yang dibuat cowok itu meninggalkan suara kecipak (?) yang menyenangkan sekali di telinga Gi Eun.

 

Gi Eun ingin berada di bawah sana bersamanya.

 

Gi Eun melepaskan sepatu dan meletakkannya di bawah pohon magnolia, disamping sepatu Luhan, lalu berdiri di ujung batu. Ketinggiannya kira-kira enam meter, jarak yang selalu membuat jantung Gi Eun berdebar-debar. Karena senang.

 

Sesaat kemudian kepala Luhan muncul di permukaan air. Cowok itu nyengir, menepuk air. “Jangan membuatku berubah pikiran soal membiarkanmu menang!” ia berseru.

 

Sambil menarik napas panjang, Gi Eun mengarahkan jemarinya melewati kepala Luhan, melompat lalu meluncur dengan anggun. Saat-saat meluncur hanya berlangsung beberapa detik, tapi yang dirasakannya adalah perasaan sangat nikmat, terjun ke dalam air yang cerah, turun, turun, turun.

 

Byur. Awalnya air terasa mengejutkan karena dingin, lalu berubah sempurna dalam sekejap. Gi Eun muncul ke permukaan untuk menarik napas, menoleh sekilas kea rah Luhan, lalu mulai berenang dengan gaya kupu-kupu.

 

Gi Eun begitu memaksakan diri untuk berenang secepatnya sehingga tidak tahu lagi dimana Luhan berada. Gi Eun tahu ia pamer dan berharap cowok itu memperhatikan. Ia berenang mendekat dan terus mendekat sehingga menghantamkan tangannya ke permukaan batu—sesaat sebelum Luhan.

 

Keduanya terengah-engah ketika mengangkat tubuh ke permukaan batu rata yang hangat oleh sinar matahari. Bagian pinggirnya licin karena lumut, dan Gi Eun sulit menemukan pegangan. Tapi Luhan tidak punya masalah soal memanjat batu itu. Cowok itu meraih ke belakang dan mengulurkan tangan kea rah Gi Eun, lalu menariknya sehingga Gi Eun bisa mengangkat kaki ke permukaan batu.

 

Saat Gi Eun sudah sepenuhnya keluar dari air, Luhan telentang (?), nyaris kering. Hanya celana pendeknya yang menunjukkan ia baru saja dari dalam danau. Sebaliknya, pakaian Gi Eun yang basah menggantung pada tubunya, dan rambutnya meneteskan air ke mana-mana. Kebanyakan cowok akan memanfaatkan kesempatan untuk melirik gadis yang basah kuyup, tapi Luhan telentang di permukaan batu dan memejamkan mata, seakan member kesempatan pada Gi Eun untuk memeras air dari pakaian—entah karena kebaikan hati atau karena tidak tertarik.

 

Baik hati, Gi Eun memutuskan, menyadari ia bersikap romantic yang tidak jelas. Tapi Luhan tampah begitu penuh pengertian, past ia setidaknya merasakan sedikit yang Gi Eun rasakan. Bukan hanya perasaan tertarik, keinginan untuk selalu berada di dekat cowok itu padahal semua orang di seputar Gi Eun menyuruhnya menjauhi Luhan, tapi perasaan yang sebenarnya, bahwa mereka pernah tahu—benar-benar tahu—diri masing-masing entah kapan.

 

Luhan membuka mata dengan cepat dan tersenyum—senyum yang sama dengan di foto arsip. Perasaan déjà vu melanda Gi Eun sepenuhnya sehingga ia merasa harus berbaring juga.

 

“Kenapa?” Luhan bertanya, terdengar gugup.

 

“Tidak ada apa-apa.”

 

“Gi Eun.”

 

“Aku tidak bisa menyingkirkannya dari benakku,” kata Gi Eun, memiringkan tubuh untuk menghadap kea rah Luhan. Ia merasa belum siap untuk bangun. “Perasaan bahwa aku pernah mengenalmu. Bahwa aku sudah lama mengenalmu.”

 

Air memukul-mukul permukaan batu, memerciki jari kaki Gi Eun yang menggantung di pinggir batu. Airnya terasa dingin dan menyebabkan kakinya merinding hingga betis. Akhirnya, Luhan bicara.

 

“Bukankah kita pernah membahas ini?” Nada suaranya berubah, seakan ia mencoba menertawakan Gi Eun. Luhan terdengar seperti para cowok Dover, terlalu percaya diri, selalu merasa bosan, puas dengan diri sendiri. “Aku tersanjung kau merasa kita memiliki semacam hubungan, sungguh. Tapi kau tak usah mengarang-ngarang kenangan terlupakan untuk membuat cowok memperhatikanmu.

 

Tidak. Luhan mengira ia berbohong, bahwa perasaan aneh yang tak bisa disingkirkannya adalah cara untuk mendekati cowok itu? Gi Eun mengertakkan gigi, malu sekali.

 

“Buat apa aku mengarang ini semua?” Gi Eun bertanya, menyipitkan mata di bawah sinar matahari.

 

“Coba kau jelaskan padaku,” sahut Luhan. “Tidak, sebaiknya jangan. Takkan ada gunanya.” Ia menghela napas. “Dengar, seharusnya aku mengatakannya lebih awal ketika mulai melihat tanda-tandanya.”

 

Gi Eun duduk tegak. Jantungnya berdebar. Luhan melihat tanda-tanda itu juga.

 

“Aku tahu pernah menolakmu di ruang olahraga,” Luhan berkata perlahan, menyebabkan Gi Eun mencondongkan tubuh ke depan, seakan dengan  begitu bisa membuat kata-kata Luhan keluar lebih cepat. “Seharusnya aku mengatakan yang sejujurnya padamu.”

 

Gi Eun menanti.

 

“Aku pernah disakiti wanita.” Luhan mengayunkan tangan ke dalam air, memetik daun bunga lili air, dan meremasnya dengan dua tangan. “Seseorang yang benar-benar kucintai, belum lama ini. Tidak ada hubungannya denganmu, dan aku tidak mau mengabaikanmu.” Luhan mendongak menatap Gi Eun dan sinar matahari menembus setetes air dirambutnya, membuatnya berkilauan. “Tapi aku juga tidak ingin memberimu harapan. Aku hanya sedang tidak ingin berhubungan dengan siapa pun, tidak dalam waktu dekat.”

 

Oh.

 

Gi Eun membuang muka, menatap jauh ke permukaan air tenang berwarna biru gelap, tempat baru beberapa menit lalu mereka tertawa-tawa dan saling mencipratkan air. Danau itu tidak lagi menunjukkan tanda-tanda kegembiraan tadi. Begitu juga raut wajah Luhan.

 

Yah, Gi Eun juga pernah merasa sakit. Mungkin jika ia bercerita pada Luhan tentang Trevor dan betapa segalanya begitu mengerikan, Luhan akan berterus terang tentang masa lalunya. Tapi, Gi Eun tahu ia takkan sanggup mendengar tentang masa lalu Luhan bersama seseorang. Bayangan diri Luhan dengan gadis lain—ia membayangkan Hyori, Jin Hee, berbagai wajah yang tersenyum, mata besar, rambut panjang—cukup untuk membuatnya mual.

 

Cerita tentang pahitnya akhir hubungan Luhan seharusnya menjelaskan segalanya. Tapi ternyata tidak. Luhan sudah bersikap sangat aneh padanya sejak permulaan. Mengangkat jari tengahnya kea rah Gi Eun pada satu hari, bahkan sebelum mereka berkenalan, lalu melindungi Gi Eun dari patung yang roboh di pekuburan pada hari berikutnya. Sekarang ia membawa Gi Eun ke danau—berdua saja. Cowok ini tidak bisa ditebak.

 

Kepala Luhan menunduk tapi matanya menatap ke atas, kearah Gi Eun. “Bukan jawaban yang cukup bagus?” cowok itu bertanya, seakan tahu apa yang Gi Eun pikirkan.

 

“Aku masih merasa ada yang belum kauceritakan padaku,” sahut Gi Eun.

 

Gi Eun tahu semua ini tidak bisa begitu saja dijelaskan dengan satu kejadian patah hati yang menyakitkan. Ia berpengalaman soal itu.

 

Luhan memunggungi Gi Eun dan menatap jalan setapak yang tadi mereka lalui untuk menuju danau. Setelah ebebrapa saat, Luhan tertawa pahit. “Tentu saja ada banyak hal yang tidak kuceritakan padamu. Aku nyaris tidak mengenalmu. Aku tidak mengerti kenapa kau menganggap aku harus memberikan penjelasan padamu.”

 

“Kau mau kemana?”

 

“Aku harus kembali,” jawab Luhan.’

 

“Jangan pergi,” Gi Eun berbisik, tapi sepertinya cowok itu tidak mendengar.Gi Eun memperhatikan, dengan dada sesak, saat Luhan menyelam ke dalam air.

 

Cowok itu muncul di kejauhan dan mulai berenang kea rah tepi danau. Ia menoleh satu kali kea rah Gi Eun, kira-kira di tengan danau, dan dengan tenang melambai selamat tinggal padanya.

 

Lalu Gi Eun takjub ketika Luhan memutar kedua lengannya ke atas kepala dengan gerakan gaya kupu-kupu yang sempurna. Walau hatinya terasa kosong, Gi Eun tidak bisa menyangkal kekagumannya. Begitu mulus, begitu mudah, tampak nyaris seperti bukan berenang.

 

Dalam waktu singkat Luhan sudah mencapai tepi danau, membuat jarak di antara mereka seakan lebih pendek daripada yang terlihat oleh Gi Eun. Kelihatannya Luhan berenang tidak tergesa-gesa, tapi tidak mungkin ia bisa mencapai tepi danau begitu cepat, kecuali ia bisa membelas air.

 

Seberapa cepat sih Luhan perlu menjauh dari Gi Eun?

 

Gi Eun memperhatikan—merasakan campuran membingungkan rasa malu mendalam dan godaan yang lebih dalam lagi—ketika Luhan mengangkat tubuh ke tepi danau. Seberkas sinar matahari menembus pepohonan serta membingkai siluet tubuh Luhan dengan pancaran cahaya, dan Gi Eun harus menyipitkan cahaya untuk menatap pemandangan yang berada di hadapannya.

 

Gi Eun bertanya-tanya dalam hati apakah bola yang menghantam kepalanya tadi mengganggu penglihatannya. Atau apakah yang dikiranya ia lihat di sana hanyalah fatamorgana. Tipuan sinar matahari sore.

 

Ia berdiri di batu agar bisa melihat lebih jelas.

 

Luhan hanya mengibaskan air dari rambutnya yang basah, tapi selapis butiran air seakan mengambang diatasnya, diluar tubuhnya, melebar melawan gravitasi bumi di sepanjang lengannya.

 

Melihat bagaimana butiran air itu gemerlapan di bawah sinar matahari, Luhan seakan bersayap.

 

 

To Be Continue

Buat yang udh baca chapter ini jangan lupa tinggalin comment ya…

Don’t be a silent readers

Gomawo ^^

3 pemikiran pada “Fallen (Chapter 8 Part B)

  1. Haduhhh penasaran bngt sama cerita ini.. Rasanya pngen langsng baca sampe selesai sekaligus…. Tapi kayanya gak mungkin u,u
    next chapternya, dan chapter2 selanjutnya smpai crita ini selesai, aku minta di tiap chapternya bisa lbih panjang ya author… Dan jangan lama2 update nya… Hehe Fighting!!! 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s