HEIR & HEIRESS, Side Story: The First One

JUDUL: HEIR & HEIRESS, Side Story: The First One.

RATING: PG-15 | GENRE: SCHOOL LIFE, ROMANCE, ANGST | LENGTH: ONE SHOT/SIDE STORY | AUTHOR : NANDANI P (@nandaniptr) & SAGITA T (@sagitrp) |MAIN CAST&SUPPORTING CAST : OH SEHUN(EXO-K), JUNG SOOJUNG (F(X)), YOON HAERA (OC), XI LUHAN (EXO-M). & the others, find by your own.

 poster side story 1_1

FOREWORDS:

@nandaniptr: Annyeong haseyo! /bows sama Baekhyun/ selingan dulu nih buat chapter 3 biar penasaran ya :p ide cerita ini berasal dari chapter 2 yang nyeritain tentang Soojung yang keliatan murem dan nyesek banget. Akhirnya diceritain deh awal mula dia ketemu Sehun, dan segala macemnya gitu hehe selanjutnya just read this one ya. Masa awal-awal uda dikasi bocoran…, So enjoy reading! Semoga kerasa feelnya, saran: dengerin lagu exo yang mellow-mellow buat jadi backsoundnya jg bagus hehehehe.

Chapter 1, 2 and this one-shot already posted in our own blog: http://www.beautywolfff.wordpress.comyuk mampir kalo sempet^^ tp kita bakal selalu update ke exoff juga kok^^

Well, don’t be the silent readers. We appreciated comments&likes from you so much. Saran&kritik juga dibuka dengan seluas-luasnya. Semangati kami supaya ga males-malesan buat bikin cerita selanjutnya ya! *cheers*

SOOJUNG’s POV

Disinilah saat aku pertama kali melihatnya. Ia sedang duduk sendirian dengan santai di kelas, tepat di sebelah jendela yang menghadap ke luar. Tangannya sibuk mencoret-coret sesuatu dan menggambar hal-hal yang tidak aku mengerti dengan menggunakan pensil di atas meja.

Asal kau tahu, wajahnya benar-benar seperti anugerah yang diberikan oleh Tuhan. Dengan rambut pirang yang tertata rapi, proporsi tinggi yang ideal serta kulit seputih susu dan hidung yang mancung, membuatnya hampir mendekati titik sempurna. Ia memakai kacamata cokelat yang membingkai matanya yang berwarna senada. Dan ditambah lagi, ia adalah peraih nilai terbaik yang bersanding denganku saat pidato kelulusan oleh murid berprestasi di sekolah kami sebelumnya. Seorang bangsawan kelas atas, pewaris tunggal perusahaan Ohs Company yang merajai Seoul dengan penghasilan nomor satu se-Korea Selatan.

Ia terkenal sebagai pribadi yang cuek dan tidak terlalu peduli dengan keadaan di sekitarnya. Aku ingat sekali, pada suatu hari, ia berjalan melewati lorong. Saat semua orang berteriak histeris memanggil namanya dan menyapanya dengan semangat, ia hanya mengernyitkan dahi sedikit, tanda tak suka. Lalu berlalu begitu saja dari hadapan mereka. Mungkin merasa risih dengan tingkah perempuan-perempuan di sekitarnya yang mengidolakan dirinya dengan terlalu berlebihan. Sedangkan aku hanya melihat para perempuan-perempuan itu dengan pandangan aneh. Sebegitu hebatnya-kah dia? Kurasa mereka semua sudah mulai gila.

Aku segera duduk di tempat yang sudah ditentukan, lalu membuka tas dan mengeluarkan buku catatan. Hari ini minggu keduaku bersekolah di Kyunggi High School, pekan dimana dimulainya pembelajaran aktif. Memasuki kelas 1-1, seperti biasanya. Kelas yang diistimewakan karena penuh berisi anak-anak pilihan yang disaring melalui tes ketat. Saat membuka halaman pertama buku catatan itu, seseorang menepuk bahuku pelan.

“Maaf, tapi bisakah aku melihat buku catatanmu itu?”

Laki-laki yang sedari tadi sudah kudeskripsikan itu sekarang sudah berdiri di depanku. Raut wajahnya seperti antara yakin dan tidak yakin. Aku merasa sedikit terkejut saat melihatnya secara tiba-tiba berbicara padaku. Aku pernah mendengar dari orang-orang bahwa ia termasuk orang yang anti sosial. Ia hanya sesekali berbicara dengan orang lain, dan tidak pernah melakukan interaksi apapun dengan seorang perempuan sebayanya di sekolah. Mungkin malas, atau takut melihat mereka melakukan hal-hal aneh yang tidak masuk akal terhadap dirinya. Bagi sebagian orang mungkin menganggap itulah daya tarik terbesarnya, karena ia cuek dan terkesan misterius. Hebatnya kali ini, seorang Oh Sehun berbicara padaku, dan hendak meminjam bukuku. Benar-benar aneh.

“Ah, ini.” Kuserahkan bukuku padanya, berusaha menghilangkan pikiran-pikiran jelek di otakku. Lalu ia membolak-balik halamannya sebentar. Membaca isinya dengan serius. Tak lama kemudian, ia mengembalikannya lagi padaku.

“Terima kasih.” Ia berkata singkat. Aku mengangguk-angguk saja. Setelah itu, Sehun kembali ke tempat duduknya.

Dan setelah itu, kami tidak pernah berbicara lagi.

Sampai kebetulan di hari itu.

SEHUN’s POV

Kurasa perempuan ini berbeda dengan yang lainnya. Disaat mereka semua memandangku dengan tatapan memuja, ia balas memandang teman-temannya dengan pandangan aneh. Ia tidak pernah ikut histeris dan menyalamiku secara terang-terangan seperti apa yang dilakukan perempuan sebayanya di sekolah ini. Samar-samar kuingat bahwa dia adalah Jung Soojung, seorang gadis yang berada bersamaku saat kami menyampaikan pidato kelulusan sebagai siswa dengan peraih nilai tertinggi.

Kali ini ia hanya berjalan melewati mejaku seperti biasa, lalu duduk di tempatnya. Aku meliriknya sebentar. Kelas ini masih sangat sepi, sementara aku perlu membaca catatan yang kulewatkan minggu lalu karena absen. Belum ada siswa yang datang. Hanya ada aku dan dia. Kuputuskan untuk berbicara padanya dan meminjam bukunya sebentar.

Saat ia mulai membuka halaman pertama bukunya, aku menepuk bahunya pelan. Ia mendongak dan kurasa ia sedikit terkejut saat melihatku.

“Maaf, tapi bisakah aku melihat buku catatanmu itu?” Aku bertanya padanya dengan sedikit tidak yakin. Ia terdiam sebentar, lalu segera menyerahkan bukunya padaku.

“Ah, ini.”

Aku membolak-balikkan halamannya sebentar. Berusaha mengingat-ingat dan menuliskannya di otakku. Setelah kurasa cukup, kukembalikan buku itu padanya.

“Terima kasih.”

Ia mengangguk pelan. Segera kutinggalkan mejanya dan kembali ke tempat dudukku. Kukira itu perbincangan terakhirku bersama perempuan itu.

Tapi ternyata tidak.

***************************

Hari ini benar-benar panas. Rasanya ingin sekali berada sedekat mungkin dengan pendingin. Aku berkali-kali mengacak-acak rambutku gerah. Tak sampai lima menit, guru pengajar Sainsku sudah datang.

Aku bersiap-siap, kembali duduk dan mengeluarkan buku catatan yang kusimpan di tas.

“Kali ini aku mengharuskan tugas berkelompok. Setiap kelompok berisi dua orang. Kalian harus melakukan penelitian mengenai sel hewan dan tumbuhan. Berikan hasilnya seminggu lagi padaku. Harus lengkap dan jelas ya.” Park Sonsaengnim memberikan kami  tugas selanjutnya dan menuliskannya di papan tulis.

Sudah kuduga, sebagian besar perempuan di kelas ini berebut memintaku menjadi teman sekelompoknya. Hawa menjadi semakin panas saja karena ramai suara saling bersahutan yang keluar dari mulut mereka. Aku menolak halus tawaran itu satu persatu. Mataku berkeliling mencari seseorang yang bisa kuajak berkelompok. Asalkan tidak bersama mereka, terlalu berisik. Semua laki-laki di kelas ini sudah berhasil mendapatkan partnernya masing-masing. Saat kulirik perempuan di seberang mejaku, ia hanya diam menunduk entah sedang melakukan apa. Seakan tidak peduli. Aku segera mendatangi mejanya.

“Hei, maukah kau sekelompok denganku?”

Aku bertanya langsung tanpa basa-basi. Ia menoleh dan menatapku dengan tatapan herannya lagi untuk yang kedua kalinya. Tak sabar menunggu, aku menarik pergelangan tangannya pelan dan memaksanya untuk mengikutiku. Kududukkan ia di kursi sebelahku yang kosong. Ia terlihat bingung.

“Aku rasa kita bisa menjadi partner yang baik bukan?” Ujarku sambil tersenyum padanya.

SOOJUNG’S POV

Tiba-tiba ia menarikku untuk mengikutinya. Ia mendudukkanku di meja sebelahnya yang kosong. Terus terang saja aku terkejut, laki-laki ini memang unpredictable. Semua tingkahnya benar-benar berhasil membuatku shock.

“Aku rasa kita bisa menjadi partner yang baik bukan?”

Apa yang sedang ia lakukan?

“Yah kau tahu, aku tidak mau sekelompok dengan mereka semua. Terlalu berisik. Kurasa kau yang paling netral. Semua orang di kelas ini sudah mendapatkan teman kelompoknya masing-masing.” Sehun menjelaskan padaku singkat, seperti menjawab pertanyaan yang ada di otakku.

“Yah. Kurasa mereka semua adalah penggemar beratmu.” Sahutku spontan dan seadanya.

“Tapi mereka semua berlebihan.” Tak disangka, Sehun menanggapi perkataanku sambil menggerutu pelan. Aku berusaha untuk menahan tawa saat melihat ekspresi wajah Sehun yang sepertinya mulai putus asa. Jika aku menjadi dia, aku pasti akan merasakan hal yang sama.

Saat aku menoleh dan memperhatikan sekelilingku. Disana kudapati berpuluh-puluh pasang mata sedang menatapku dan Sehun. Sebagian dari mereka berbisik-bisik dan memandang dengan penuh iri. Aku mungkin beruntung bisa sekelompok dengan Sehun. Lihat saja ekspresi mereka semua, seakan ingin menelanku bulat-bulat. Seakan aku sudah merebut milik mereka yang paling berharga.

“Yah, itulah resikonya.” Aku mengakhiri pembicaraanku dengannya. Ia mengedikkan bahu sedikit lalu kami kembali fokus ke pelajaran. Sesekali kami saling bertanya mengenai tugas itu dan berjanji akan bertemu sesering mungkin untuk menyelesaikan penelitian ini.

 

Inilah awal mulanya Sehun-ah. Masih ingatkah kau?

Benar-benar awal pendekatan yang aneh bukan? Dari sebuah tugas yang berlanjut. Sebuah kebetulan yang manis, saat kau menarik tanganku pelan untuk mengikutimu. Disitulah cerita kita dimulai.

Atau lebih tepatnya….

Ini ceritaku. Aku tidak berhak mengatakan kata ‘kita’ kan?

Seminggu sering bertemu dan membicarakan banyak hal ternyata cukup untuk mendekatkan aku dan Sehun. Kami mulai sering bercanda di sela-sela pembicaraan dan berdiskusi seru mengenai suatu hal. Ia benar-benar orang yang enak dan nyambung untuk diajak bicara. Berbeda dengan pandangan-pandangan orang lain selama ini yang terlalu menganggapnya kaku. Sehun selalu bisa membawa suasana dengan keahliannya untuk bercerita. Aku selalu merasa nyaman jika ada bersamanya.

Lama-kelamaan kami semakin dekat. Aku akhirnya duduk di sebelahnya untuk seterusnya. Karena aku selalu bersama Sehun kemanapun kami pergi, aku dengan sukses dinobatkan menjadi musuh nomor satu di sekolah. Semua gadis di sekolahku mulai tidak menyukaiku dan berusaha membully-ku dengan omongan mereka yang terkesan menjatuhkan.

“Aku sudah mengatakan padamu, kau akan jadi public enemy nomor satu di sekolah ini. Terbukti kan? Bahkan hanya karena kau dekat denganku, mereka semua menjauhimu. Kurasa aku bahkan sudah melampaui popularitas artis di berita-berita itu.” Sehun melengos kesal.

Aku tertawa saja mendengar perkataan Sehun tentang public enemy nomor satu itu. Aku tidak peduli mereka hendak menjadikanku musuh atau apa, aku senang bersama Sehun dan semua orang tidak berhak menyuruhku menjauh darinya. Mereka pikir, mereka siapa?

***************************

“Hei Soojung-ah. Aku ingin memperkenalkanmu dengan sepupuku yang satu sekolah denganku disini. Hanya sedikit orang yang mengetahui tentang aku dan dia yang bersaudara.” Sehun mengatakan hal itu padaku. Aku berpikir sebentar, bingung. Berusaha menerka siapa saudara yang Sehun maksud.

“Kau tahu Xi Luhan dari kelas 2-3?” Sehun melanjutkan dan menanyakan pertanyaan padaku, aku mengangguk-anggukkan kepala. Rasanya aku pernah mendengar namanya.

“Ah aku ingat. Senior terbandel di sekolah kita bukan? Aku agak jarang melihatnya disekolah. Tak kusangka ia adalah saudaramu.” Aku menggeleng-geleng pelan. Sehun hanya tertawa melihat responku.

“Iya, dia suka sekali travelling dan berkeliling dari kota satu ke kota lainnya . Mungkin karena itu kau jarang menemukannya di sekolah. Kali ini aku ingin kau berkenalan dengannya. Luhan-hyung selalu bertanya padaku siapa perempuan yang sering ada bersamaku. Siapa lagi kalau bukan kau.”

“Yah, ayo saja. Pantas ternyata saat kuingat lagi, kau terlihat sangat mirip dengannya.”

“Yah, semua keluargaku juga mengatakan hal seperti itu. Tapi entah mengapa aku selalu merasa kami bertolak belakang. Luhan benar-benar pribadi yang bebas. Ia bukan tipe orang yang senang terikat. Berkebalikan denganku. Terkadang aku ingin sesekali menjadi seperti dia.” Ujar Sehun, nada bicaranya menyiratkan kesedihan.

“Semua orang mempunyai kekurangan dan kelebihan masing-masing Sehun-ah. Lakukan saja apa yang kau suka.” Aku menghiburnya dan menepuk-nepuk bahunya pelan.

“Ah, sudahlah. Ayo aku sudah berjanji untuk bertemu dengannya di Rooftop siang ini.”

***************************

 

“Hai, Luhan-hyung!” Sehun terlihat sumringah saat bertemu dengan saudaranya itu. Benar-benar berkebalikan dengan sifat yang ia tunjukkan di depan orang lain. Mereka ber-high five lalu saling menanyakan kabar masing-masing. Aku berdiri agak jauh dari mereka. Merasa sedikit canggung. Entah apa yang mereka bicarakan, sesekali mereka melirikku, lalu tak lama kemudian Luhan sudah melangkah lurus menuju ke arahku.

“Hei, kau perempuan yang sering bersama Sehun ya? Jung Soojung, kan? Naneun Luhan imnida.” Ia mengulurkan tangannya. Aku membalasnya dengan menjabat tangannya ramah. Lalu membungkukkan kepala sopan.

“Aku sering mendengar bisik-bisik tentang kalian berdua dan itu membuatku bingung, jadi kutanyakan langsung tentang dirimu ke Sehun. Dia menawarkan aku untuk mencoba berkenalan denganmu.” Luhan berkata panjang lebar. Aku mengangguk paham.

Lalu Sehun dan Luhan sudah mulai terlibat pembicaraan seru yang tidak sedikitpun kumengerti. Aku berjalan menuju pinggir rooftop dan melihat pemandangan sekeliling di bawah. Distrik Gangnam terlihat jelas dari sini. Penuh gedung-gedung yang mendekati langit saking tingginya dan kesibukan yang terlihat dari banyaknya orang datang dan pergi silih berganti.

“Sebentar Luhan-hyung dan Soojung-ah. Aku hendak mengambil minuman di bawah.” Sehun berlari dan segera menuruni tangga. Setelah Sehun menghilang dari pandangan, Luhan tak segan lagi bertanya padaku.

“Ya, Soojung-ssi. Apakah kau kekasih adikku?” Secara frontal, Luhan bertanya santai. Sepertinya ia memang sengaja menggodaku. Sontak wajahku memerah padam.

Apa katanya? Kekasih?

“Ah tentu tidak.” Aku menggeleng keras. Luhan terbahak melihat responku. Ia lalu mengikutiku dan kali ini ia berdiri tepat di sebelahku. Matanya ikut memperhatikan lalu-lalang orang yang lewat.

“Sehun jarang mau berteman dengan siapapun. Kurasa baru kali ini ia mengenalkan seorang perempuan padaku. Ia juga jarang sekali bermain dengan teman-temannya. Ia benar-benar anak yang penyendiri. Sepertinya tekanan menjadi seorang pewaris sebuah perusahaan besar sangat berat.” Luhan menerawang. Aku mendengarkan perkataannya dan ikut terdiam.

“Akhir-akhir ini ia mulai terlihat mau membuka diri. Mulai menjadi pribadi yang menyenangkan daripada sebelumnya. Entah hanya perasaanku saja atau apa, dia jadi tidak sedingin biasanya. Mungkin kau yang berhasil merubahnya, Soojung-ssi.” Luhan lalu menatapku. “Terima kasih” Ujarnya.

Aku menggeleng-gelengkan kepala keras. Tidak mungkin.

“Hei aku kembali!” Tiba-tiba terdengar suara Sehun yang sudah sampai dan sedang berjalan mendatangi kami. Refleks aku dan Luhan menoleh bersamaan. Takut jika Sehun mendengar percakapan kami. Melihat raut muka kami yang tegang, ia bertanya bingung.

“Ada apa?”

Aku menghela napas lega. Lalu tersenyum.

“Tidak ada apa-apa.”

***************************

When the flowers bloom, so does hope.

Rasanya waktu berjalan begitu cepat ya, Sehun-ah.

Setahun sudah berlalu. Kita kini berada di kelas 2. Banyak waktu yang sudah kulewati bersamamu. Kita sudah cukup lama berbagi tawa dan pengalaman. Sudah melalui berpuluh-puluh diskusi serius. Mengerjakan beratus-ratus soal latihan dan berjuang menghadapi ujian bersama. Sukses bersama hingga berhasil sekelas lagi.

Dan kau pun masih tetap Sehun yang dulu.

Sehun yang cuek, Sehun yang itu. Sehun yang dingin. Tetapi ia tetap menjadi Sehun yang selalu ada untukku. Sehun yang kusayangi.

Aku juga tidak tahu pasti kapan perasaan ini tiba-tiba ada di dalam hatiku. Ia bertumbuh dan berkembang dengan liar tanpa bisa kucegah. Sehun benar-benar hampir mendekati sempurna, wajar jika aku sebagai perempuan normal lama-kelamaan mulai menyukainya.

Berkali-kali aku harus menahan perasaan dan mengalihkan perhatian untuk menyamarkan detak jantung yang berpacu lebih cepat dari biasanya jika bersamanya, sampai aku takut ia dapat mendengarnya. Kami tetap menjadi sahabat, tanpa ia sadari sama sekali bahwa aku menyukainya. Aku berusaha bersikap sewajar mungkin. Aku tidak mau jika perasaanku membuatku harus kehilangan sahabat baik seperti Sehun. Aku memilih lebih baik seperti ini saja. Aku akan terus ada untuknya sebagai…seorang sahabat.

Tapi terkadang aku merasa Sehun juga merasakan hal yang sama denganku. Hanya dugaanku saja. Namun aku tidak berani menganggap lebih, karena itu akan menyakiti diriku sendiri. Don’t expect too much, or you’ll get hurt too much.

Tapi apa salah jika aku berharap sedikit padamu, Oh Sehun?

***************************

 

The worst feeling is when the one you love, loves someone else.

Hari Senin sudah kembali datang. Aku bersiap dan berangkat ke sekolah. Pagi ini rasanya moodku benar-benar dalam keadaan baik. Aku bernyanyi -nyanyi kecil mengikuti suara radio di mobil dengan semangat.

Setibanya di sekolah, semua murid memandangku aneh. Aku mulai bertanya-tanya dengan maksud pandangan mereka. Namun segera kuacuhkan saja dan terus berjalan seperti biasa, mungkin mereka adalah fans-fans Sehun yang iri. Sampai sekarang mereka tidak juga jera.

Aku segera melangkah menuju perpustakaan untuk mengembalikan buku yang semalam kupinjam. Di sepanjang perjalanan, aku mendengar sedikit-sedikit isi pembicaraan mereka. Sepertinya ada suatu berita yang amat menghebohkan pagi ini yang berhasil membuat mereka berkumpul bersama untuk sekedar bercerita.

“Siapa dia?”

“Aku tak pernah melihatnya sebelumnya, apa dia anak baru?”

“Cantik sekali ya! Pas sekali jika disandingkan dengan Sehun.”

Aku terdiam sebentar. Langkahku terhenti di tengah jalan.

Cantik? Siapa yang ia maksud? Anak baru apa?

“Jangan-jangan mereka adalah pasangan?”

“Sehun sangat tampan, kaya raya dan ia benar-benar pintar. Kurasa gadis di sebelahnya juga sama sepertinya. Berasal dari kalangan kelas atas. Mereka benar-benar cocok bukan?”

Dengung suara-suara asing itu sekejap saja sudah memenuhi indra pendengaranku. Aku berbalik dari arah perpustakaan dan mendatangi sekelompok gadis yang sedang menggosipkan hal itu. Lalu bertanya langsung.

“Apa maksud kalian dengan Sehun dan anak baru?”

Salah satu dari mereka menjawab takut-takut.

“Uh..Itu..Hari ini, Sehun datang bersama seorang perempuan yang cantik. Kami semua.. menduga bahwa ia adalah anak baru di sekolah ini.” Gadis berkepang dua itu menjelaskan singkat. Aku tercengang mendengar perkataannya.

“Apa maksudmu?” Tanyaku lagi. Ia hanya menggeleng-gelengkan kepala tanda tak mengerti. Segera kutinggalkan gerombolan itu dan mempercepat langkah kakiku menuju kelas. Datang bersama? Sehun dan ‘anak baru’ itu ada hubungan apa?

Disana kudapati Sehun sudah duduk sendirian sambil memainkan PSP-nya. Aku mengambil tempat duduk di sebelahnya tanpa basa-basi. Ia hanya melirikku sebentar dan menyapaku dengan senyuman khasnya. Namun matanya tetap tak lepas dari layar PSP.

“Oh, Hei. Pagi, Soojung-ah.”

“Oh Sehun. Ceritakan padaku sekarang, siapa gadis yang datang bersamamu pagi ini. Semua orang membicarakan tentang itu dan aku tidak mengerti apa maksud mereka.” Segera kutanyakan to the point tentang apa yang kurisaukan sedari tadi. Sehun hanya tertawa, lalu menjawab singkat.

“Dia calon istriku.”

Aku terdiam sebentar. Berusaha mencerna kalimat singkat yang dilontarkan Sehun barusan. Lalu aku berteriak sedikit karena terkejut.

“Apa kau bilang..calon istrimu?!”

Mulutku segera dibekap oleh tangan besar Sehun. Ia meletakkan jari telunjuknya didepan bibir. Menyuruhku diam. Ia terlihat sedikit panik. Aku hanya menurut, dan kembali mengulangi pertanyaanku padanya dengan nada yang sedikit lebih pelan.

“Apa benar?dia calon istrimu?”

“Iya, kami dijodohkan. Tolong rahasiakan dulu tentang ini.”

Apakah aku salah dengar? Dijodohkan?

“Dan..kau…setuju?” Aku bertanya lagi, namun kali ini intonasi suaraku mulai berubah.

“Iya. Kami tepatnya. Aku dan dia sama-sama setuju, kami masih dalam tahap mencoba.” Sehun menjawab lagi dengan tenang. Aku menatapnya tak percaya.

“Kau pasti bergurau.”

Sehun berkata tegas. “Aku serius.”

DEG.

Dan seketika itu juga, rasanya dunia seperti berbalik. Pernyataannya meremukkan hatiku sampai menjadi kepingan-kepingan terkecil.

Meruntuhkan segala dugaan tentang perasaannya padaku yang ternyata, tidak berbalas.

Sedikit pun.

***************************

Aku melewati pelajaran hari itu tanpa konsentrasi sama sekali. Aku memperhatikan Sehun di sebelahku dan ia terlihat sama seperti biasanya, sesekali ia juga bertanya padaku tentang pelajaran hari itu. Saat tiba jam makan siang, Ia berdiri dan terlihat seperti hendak pergi mendahuluiku.

“Hei mau kemana kau?” Tanyaku cepat sebelum ia berlalu.

“Oh, aku hendak menjemput Haera. Yang tadi aku ceritakan padamu. Aku ingin mengajaknya makan siang” Sehun berkata pelan. Aku terdiam lama.

Yang kurasakan sekarang adalah perasaan antara rasa cemburu dan rasa tidak suka.

“Aku ikut.” Kataku memutuskan. Aku ingin mengetahui dan melihat langsung siapa perempuan beruntung yang diakui Sehun sebagai ‘calon istri’. Kutarik seragamnya lalu mengikutinya pergi. Aku berjalan mengekor di belakang Sehun.

Saat tiba di kelas 2-2. Sehun menggeser pintu dan mendatangi meja seorang gadis yang sedang membaca buku di pojok kelas. Kulitnya putih bersih seperti boneka porselen. Matanya bulat berwarna cokelat muda dengan rambut panjang sepunggung. Kuakui, ia benar-benar cantik.

Sehun memanggil namanya berkali-kali. Karena tidak ada balasan, ia melambai-lambaikan tangannya di hadapan gadis itu. Tepat di depan matanya yang sedang serius memperhatikan halaman buku. Ia mendongak, terlihat kesal. Setelah mengetahui bahwa Sehun yang menginterupsinya, ekspresi kesalnya hilang seketika, lalu bertanya singkat dengan digantikan wajah datar.

“Hei, ada apa?”                 Tanyanya. Suaranya terdengar agak sedikit serak-serak basah. Matanya melirikku sedikit.

“Kau sudah kupanggil dari tadi. Namun sepertinya kau tidak mendengar.” Sehun mengernyitkan dahinya.

“Ah, mianhae. Aku sedang mendengarkan musik.” Ia lalu membuka headset yang terpasang di telinganya.

“Oh, pantas saja. Ayo, makan siang bersamaku.” Ia menarik pergelangan tangan perempuan itu untuk segera mengikutinya. Saat melihat Sehun menyentuh pergelangan tangannya dan menariknya, rasanya aku agak sedikit terpukul. Ia menjejerkan langkahnya dengan Sehun. Meninggalkanku sendiri di belakang mereka. Menatap punggung mereka berdua dari belakang, yang posisinya terlihat amat dekat seperti seorang pasangan asli. Atau memang ‘akan’ menjadi asli?

Apa bisa kau bayangkan bagaimana perasaanku sekarang?

Melihat punggung orang yang kaucintai, berada di sebelah orang lain.

***********************

“Perkenalkan, ini Soojung. Dan Soojung, ini Haera.” Sehun memperkenalkan kami. Aku berusaha terlihat wajar dan tersenyum di hadapannya. Meskipun ini benar-benar menyiksa. Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri  mereka saling berinteraksi. Sehun sepertinya benar-benar menyukainya. Terlihat dari sikap dan gestur tubuhnya.

Bahkan ia sedari tadi tidak mengajakku berbicara seperti biasanya dan mengabaikanku. Kurasa semua  ini disebabkan oleh perempuan di hadapanku ini.

Aku memilih untuk hanya fokus ke piringku tanpa mau menatap mereka berdua. Berusaha menulikan kedua telingaku.

Rasanya terlihat invisible di mata orang yang kita sayangi itu begini ternyata. Terlalu menyedihkan. Padahal sebelumnya ia benar-benar hanya mencurahkan perhatiannya kepadaku karena akulah satu-satunya orang yang paling dekat dengannya.

Tapi kurasa posisiku sebentar lagi akan tergantikan.

Aku merasa tidak adil. Aku yang bersama Sehun lebih lama. Tapi perempuan ini dengan mudahnya mendapat perhatiannya.

Apa benar yang kurasakan selama ini salah, Oh Sehun?

Hari ini benar-benar sukses membuat moodku hilang entah kemana. Menguap bersamaan dengan harapanku.

Aku berusaha sekuat mungkin menahan tangis dengan menggigit bibir. Sakit.

Tak berbalas sama sekali itu, sakit.

P.S:

Apa kau tahu Oh Sehun? Hari itu benar-benar hari yang bersejarah bagiku.

Akhirnya aku merasakan pengalaman patah hatiku yang pertama. Kau tahu tidak? The first one is the worst one, when it comes  to a broken heart. Mereka benar sekali. Bahkan sampai sekarang terkadang rasa sakitnya masih terasa.

Aku awalnya tidak terima dan berusaha melawan takdir. Aku masih mempunyai harapan kau akan membalas perasaanku setelah selama ini, tapi ternyata tidak, harapanku kandas begitu saja.

Dari situ aku mulai mengerti dan mencoba berhenti berharap. Berusaha melupakanmu dan perasaan itu. Berusaha keras menekan dan menahannya keluar saat bersama denganmu.

Kau tahu?Rasanya benar-benar sakit. Kuharap kau tidak akan ikut merasakannya. Cukup aku saja.

Kudoakan semoga kau bahagia, Oh Sehun.

Fri, Aug 30th ‘13.

Ditemani oleh lagu Baby Don’t Cry from EXO. (quotes cr: Boys Like Girls – The First One & Google)

Gimana? Sudah dapet hint kan untuk chapter selanjutnya? Please wait patiently for the next yaaaaa! C u, xx. 

24 pemikiran pada “HEIR & HEIRESS, Side Story: The First One

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s