Hello Precious! (Chapter 7)

FF EXO|[HELLO PRECIOUS!]|#7 Fall

Title : Hello Precious!

Subtitle : Fall

Author : @bbymomoo

Genre : Romace, Drama, Fluff, Sad

Rating : T-PG17+

Length : Chaptered

Main Cast :

Ahreum (T-ara),

Kai (Exo-k),

Suho (Exo-k),

Krystal (f(x)),

D.O (Exo-k),

Naeun (A-pink),

Sehun (Exo-k)

Support Cast :

Chanyeol, Baekhyun as Ahreum’s Senior

Woohyun as Ahreum’s Bestfriend

Shindong as Ahreum’s Father

Kangin & Sayumi as Kai and Suho’s Parents

Jung Yunho haraboji

Jessica as Krystal’s Mother

Kang Sora as Jung Sora –has die-

Newcoverpart7-a

WARNING: Typo(s)

A/N : Happy Reading!

Kai kaget sekaligus menahan tawanya melihat Ahreum yang menurutnya menirukan tingkah Krystal tersebut. “Tidak usah bertingkah seperti itu!”ujar Kai yang membuat Ahreum memberikan deathglare dari mata kelincinya.

                “Kau ini! Tanggung jawab sama kotak bekalku!!”teriak Ahreum. Sudah tak peduli ada dimana dia sekarang. Yang jelas ia sudah benar-benar kesal dengan pemuda bernama Kai itu.

                “Apa? Kenapa aku? Kau sendiri yang menjatuhkannya!”teriak Kai membalas gadis itu.

                “YA! Kalau kau tidak me—”

                “LEE AHREUM!!!”

7th

==========

HELLO PRECIOUS!

========

I wanna be your favorite hello…

…and your hardest goodbye

.

.

Ahreum tidak melanjutkan kata-katanya dan menoleh ke sumber suara. Glek. Mendadak ia menelan ludah dengan susah. Kai malah terkikik melihat perubahan raut muka Ahreum. Beberapa murid mulai berkumpul melihat tontonan ini. Beberapa lainnya tak begitu menghiraukan.

“Err.. ibu guru Park, annyeong.”ujar Ahreum dengan senyum lima jari. Gahee—guru Park itu hanya memasang wajah datarnya sambil berdeham. Walaupun sudah tua ia masih terlihat anggun, berwibawa dan killer. Predikat yang diberikan oleh siswa SMA Hanlim untuk guru mata pelajaran seni lukis sekaligus guru Bimbingan Konseling itu.

“Ehm. Apa yang kau lakukan disini Lee Ahreum? Membuat kekacauan seperti ini.”tanya Gahee sonsaeng sambil melihat lantai koridor yang penuh dengan bento berceceran milik Ahreum.

“Itu uhm aku sebenarnya..” Ahreum kesulitan menyusun kata-kata. Ia terlalu takut untuk melakukan aksi barbartic kalau ia kemari untuk memberikan bekal makan siang untuk Suho. Tidaaakk!!

“Uhm.. Aku, kemari untuk..”

“Ikut ke ruanganku, jelaskan di sana.”perintah Gahee sonsaeng dengan tegas. Semua orang di SMA Hanlim juga tahu kalau wanita ini sangatlah perfeksionis. Kai tertawa melihat Ahreum seperti itu. Benar-benar seperti anak kelinci yang katahuan mencuri wortel.

“Berhenti tertawa Kim Jongin. Kau juga ikut.”lanjut Gahee sonsaeng.

Kai berhenti tertawa seketika. Bergantilah sekarang Ahreum yang terkekeh pelan.

Naega wae?”gumamnya tidak terima. Sementara Ahreum sudah mengekor dibelakang Gahee sonsaeng dengan perasaan bercampur. Tak lama setelah itu Kai sudah ikut berjalan di sampingnya.

Gahee sonsaeng melihat dua murid di depannya wajah datar begitu mereka sudah ada di ruang bimbingan konseling.

“Jadi kenapa kalian membuat koridor kacau seperti tadi? Apalagi itu koridor Osis dan bukan kelas kalian kan?”tanyanya.

“Aku membawa bekal dan Kai membuatnya jatuh, sonsaeng.”jelas Ahreum. Bagaimanapun yang salah dalam hal ini adalah Kai—menurut pikirannya.

“Tapi sonsaeng, aku..”Kai tidak melanjutkan kata-kata pembelaan diri. Gahee sonsaeng memicingkan matanya. Menunggu kalimat selanjutnya dari mulut Kai.

“Aku memang salah sonsaeng, maafkan aku.”lanjut Kai yang membuat Ahreum dengan cepat menolehkan kepalanya ke arah pemuda di sampingnya itu. Kai hanya diam. Ia berpikir bahwa membela diri di depan Gahee sonsaeng adalah tindakan percuma.

“Baiklah, aku tidak akan melaporkan kalian ke guru tata tertib.”ujar Gahee sonsaeng dengan nada menggantung. Setidaknya Ahreum dan Kai bisa bernafas lega karena tidak akan mendapat point jelek di sekolah yang akan mempengaruhi kenaikan tingkat. “Tapi sepulang sekolah kalian bersihkan koridor itu dan juga.. Toilet kelas 12, sangat buruk.”lanjut wanita itu sambil membetulkan letak kaca matanya.

Ahreum melongo mendengar hukuman yang ia dapat sebagai pengganti point tadi. Kalau tahu akan begini, sepertinya lebih buruk dari hanya mendapat point. Bukankah di SMA Hanlim memiliki beberapa cleaning service yang bekerja? Sementara Kai hanya berdecak pelan, mengetahui hal ini adalah modus seorang Gahee sonsaenim. Sudah bisa ditebak.

“Sonsaeng tapi kan—”

“Lee Ahreum kalau kau protes aku akan menambah hukuman kalian.”ujar Gahee sonsaeng. Seketika Ahreum bungkam. Ia semakin kesal saja pada Kai.

“Sudah, kembali ke kelas kalian.”perintah wanita itu lagi.

Kai dan Ahreum keluar dari ruangan itu. Ahreum tampak kesal dan kembali menggerutu. Ia menatap Kai sengit.

“Gara-gara kau!”ujarnya. Bukannya ia tidak mau membersihkan kamar mandi dan koridor, itu pekerjaan biasa untuknya. Tapi yang membuatnya harus melakukan itu adalah Kai. Itu yang membuatnya sebal. Ahreum berlari kembali ke koridor tempat bekalnya jatuh tadi. Meninggalkan Kai yang merespon ucapannya dengan mengendikkan bahu.

Brak

Ahreum sedikit menutup lokernya keras. Begitu ia sudah menyimpan kembali kotak bekalnya—tanpa isi kecuali kotak bekalnya sendiri yang berisi sandwich—ia pun memutuskan untuk kembali ke kelasnya.

Ia tampak heran melihat tasnya ada di bangku Naeun. Namun ia menghampiri Sehun lebih dahulu. Duduk di samping pemuda itu. Naeun sendiri terlihat sibuk dengan amplop putih dari D.O.

“Ada apa dengannya?”tanya Ahreum.

“Entahlah, yang aku tahu D.O hyung mengajaknya menjenguk Woohyun nanti sepulang sekolah.”jelas Sehun.

“Lalu tas ku?”tanya Ahreum lagi.

“Naeun yang meminta padaku agar kau duduk bersamanya sampai pulang sekolah.”jawab Sehun.

“Ah, begitu. Eum, kau?”

“Sudahlah, aku bisa duduk dengan Taemin.”Sehun memperlihatkan senyumnya.

“Tuan muda Sehun memang yang terbaik!”ujar Ahreum lalu tertawa. Sehun menepuk kepala gadis itu pelan namun akhirnya ikut tertawa juga.

Tak berapa lama, pelajaran pun dimulai kembali.

.

Hello Precious

.

                “Mau ke rumah haraboji?”tanya Sehun pada Ahreum yang sedang merapihkan mejanya. Sudah saatnya pulang sekolah dan Naeun malah meninggalkan mereka berdua.

“Eum, aku ada urusan siang ini.”jawab Ahreum. Sehun sedikit mengintip ke arah jendela. Menatap ke luar sekolahnya. Mobil milik keluarga Jung ada di sana.

“Padahal siang ini ayahmu menjemput aku dan Soojung.”ujar Sehun.

“Benarkah?”ujar Ahreum. “Hun-ah. Aku keluar dulu ya. Pai!”

Sehun heran melihat Ahreum yang tergesa-gesa berlari ke luar dari kelas. Namun ia tak memikirkan lebih jauh. Sehun pun ikut keluar setelahnya.

Ahreum berlari hingga di depan ruang bimbingan konseling. Melihat pintunya tertutup, ia memilih untuk ke ruang kebersihan. Sepi. Tidak ada cleaning service di sana. Ia pun meletakkan tasnya dan mulai mengambil  sapu dan alat pel.

“Dari mana saja kau?”

Ahreum langsung berbalik mendapati Kai di depannya sekarang. Tangannya memegang sebuah benda elektronik bernama PSP.

“Bisa tidak sih kau muncul dengan lebih manusiawi?”tanya Ahreum. Ia hampir kehilangan jantungnya karena ulah Kai itu.

“Aku mencarimu dari tadi.”ujar Kai mengabaikan pertanyaan Ahreum. Bahkan matanya menatap ke arah benda di tangannya.

“Sudahlah, ayo kita bersihkan semuanya sampai bersih! Chop chop!”Ahreum menyemangati dirinya dan Kai. Pemuda itu tersenyum miring mendengar kata-kata Ahreum. Lalu Ahreum pun mulai melepas jasnya. Menaruhnya di samping kursi panjang ruangan itu untuk meletakkan tasnya tadi.

“Kenapa kau melepas jas mu?”tanya Kai. Ia kembali teringat saat ia melihat Ahreum mengganti pakaian di Jeju, melepaskan kemejany—dengan cepat ia menggelengkan kepalanya.

“Aku tidak bisa bersih-bersih dengan ini makanya aku lepas,”Ahreum menujuk-nunjuk jasnya. Kai membentuk mulutnya seperti huruf O. Lalu ia juga melakukan hal yang sama. Melepaskan jasnya, karena memakai kemeja lengan panjang ia pun melepas kancingnya. Melipatnya sebatas siku.

Kai dan Ahreum membersihkan lantai koridor tadi. Terutama tempat ‘kejadian perkara’ jatuhnya bekal Ahreum tadi. Di depan ruang Osis. Mereka berdua mulai membagi tugas. Ahreum mengepel dan Kai yang menyapu—tentu saja karena Kai tidak begitu bagus dalam hal begini.

Ahreum tersenyum penuh arti sambil mengepel lantai koridor yang kotornya tinggal sedikit itu.. Sesekali ia mengintip ke arah pintu ruang Osis yang sedikit terbuka. Kai menatap gadis itu jengah.

“Buka saja pintunya, tidak ada orang di ruangan itu.”ujarnya. Ahreum langsung diam. Matanya membulat.

“Eo? Kenapa gak bilang dari tadi, aku kan jadi kelihatan bodoh.”ujar gadis itu sambil mengerucutkan bibirnya. Merutuki dirinya sendiri.

“Kau memang bodoh, dilihat dari sisi manapun.”balas Kai.

“Kau menyebalkan!”teriak Ahreum membalas. Dengan sengaja ia mengarahkan ujung kain pelnya ke arah sepatu Kai.

“Ya! Yah! Kau ini, tsk!”Kai pun langsung menghindar. Ahreum menjulurkan lidahnya.

“Siapa suruh kau menyebalkan! Weee.”ujarnya pada Kai. Sebelum Kai membalasnya, gadis itu lebih dulu berlari ke arah toilet kelas 12. Tidak jauh dari koridor kelas 11 tadi. Kai menyusulnya.

Dua anak manusia itu sama-sama terdiam di depan pintu toilet. Bagaimana bisa kakak kelas mereka membuat toilet bisa bau seperti tempat sampah begini.

“Kau bersihkan toilet laki-laki, aku yang perempuan. Arra!”

Kai menelan ludahnya berat begitu Ahreum memasuki toilet perempuan. Sebenarnya masih lebih baik membersihkan toilet laki-laki dibandingkan perempuan. Ahreum sendiri sudah biasa membersihkan toilet sepeti itu. Ayahnya selalu mengajari agar kita harus bisa mandiri dan menjaga kebersihan. Termasuk membersihkan toilet itu.

Mengepel lantainya, membersihkan kloset, mengelap wastafel, semuanya dilakukan Ahreum dengan baik. Walaupun berakhir dengan baju seragamnya yang basah disana-sini.

“Nah beres,”ujarnya lega. Ia mengelap keringat di dahinya. “Awas saja kalau sunbaedeul membuat ini kotor lagi, huh.”lanjutnya.

Ia pun keluar dari toilet itu. Sedikit melirik ke arah kanan—toilet laki-laki yang dibersihkan Kai. Pintunya tertutup. Ia pun ingin melihat apa yang dilakukan pemuda most wanted itu.

“Astaga!”kagetnya begitu membuka pintu.

Bagaimana tidak kaget, Kai asyik memainkan benda bernama PSP dengan duduk di meja wastafel. Lantainya banjir karena keran yang dihidupkan terlalu lama. Alat-alat pel berserakan dan beberapa busa sabun. Bahkan Ahreum pikir ini lebih buruk dari sebelum dibersihkan—walaupun baunya sudah terkontaminasi oleh sabun dan cairan untuk pel lantai.

“Satu jam aku selesai membersihkan toilet perempuan, kau malah membuat kekacauan ini?”tanya Ahreum hampir berteriak. Namun Kai hanya memberingan cengiran tanpa dosanya.

“Ya, begitulah.”balasnya.

Ahreum semakin kesal dengan pemuda itu.

“Kau! Turun dari situ dan keluarlah!”perintah Ahreum sambil berteriak. Ia pun segera mengambil alat pelnya. Mulai membersihkan kamar mandi itu.

“Kenapa?”tanya Kai bodoh.

“Sudah jelas mengerjakan hal seperti ini bukan gayamu, tuan.”jawab Ahreum. Ia sudah membuat lantai kamar mandi itu tidak ‘banjir’ lagi seperti semula. Tinggal memberikan pewangi serta mengelap wastafel.

“Minggir, minggir!!”Ahreum mengelap wastafel itu brutal. Ia sedikit mendorong –dorong badan Kai—yang masih duduk di sana. Pemuda itu sedikit menggeser-geser badannya, namun tetap tak mau beranjak.

“Minggirlaaaah, sanaa!!”Ahreum sedikit kuat mendorong Kai hingga menyenggol lengan pemuda itu.

Praaaang

                Ahreum dan Kai langsung mengarahkan padangannya ke lantai yang masih basah itu.

.

Hello Precious

.

                Naeun dan D.O berjalan bersamaan menuju salah satu perumahan dekat sekolah mereka. Hanya melewati dua halte bus untuk sampai di sana. Tentu saja mereka berdua menuju rumah Woohyun. Apalagi raut wajah khawatir Naeun yang tak bisa ia sembunyikan walaupun denan tawanya.

“Sudah berapa kali kau kemari?”tanya D.O.

“Tiga kali dengan ini.”jawab Naeun. Ia masih ingat betul bagai mana konyolnya ia dan Ahreum salah memasuki pekarangan rumah waktu pertama kali ke rumah Woohyun.  Benar-benar hari valentine yang konyol. Ia hanya berniat memberikan surprise pada Woohyun karena empat hari sebelumnya adalah tanggal 10—ulang tahunnya.

“Aah begitu. Mana rumahnya?”tanya D.O sambil melihat sekeliling.

Begitu melihat Naeun di depannya ia ikut membatu. Naeun terdiam melihat rumah yang sangat ia hafal di daerah ini, rumah yang ia ingat, rumah kekasihnya—Woohyun—ramai oleh petugas pengangkutan barang. Ia merasa bodoh tak menyadari kalau truk pengangkut barang itu berada di depan halaman rumah Woohyun.

Ada apa ini sebenarnya? Kenapa dengan Woohyun? Mengapa ia tak tahu? Pikiran Naeun berkecamuk. Sementara tiga petugas pengangkutan barang itu mondar mandir sambil membawa kardus-kardus besar di tangannya. Dari teras rumah Woohyun ke truk.

D.O yang diam di belakang Naeun sudah bisa menebak apa yag terjadi.

“Nam Woohyun!!”teriak Naeun begitu Woohyun keluar dari rumahnya dengan membawa kardus besar bertuliskan ‘Nam-Son’ Tower dalam hangul besar. Ia mencoba menahan air matanya dan mengelak atas  pemikirannya tentang apa yang ia duga—Woohyun akan pergi.

Pemuda bermata sipit itu seakan tercekat melihat Naeun di depan rumahnya—dan gadisnya itu bersama dengan seorang D.O, Do Kyungsoo murid kelas A.

“Eun-ya..”Woohyun berucap pelan sambil menghampiri Naeun yang terdiam di depan rumahnya. Di belakang truk pengangkut barang. Pemuda itu masih membawa kardusnya.

“Nam—”

Woohyun segera meletakkan kardus yang ia bawa. ‘Nam-Son’ Tower—Nam Woohyun dan Son Naeun—benda-benda kenangan mereke berdua tersimpan rapi di kardus itu. Pemuda itu pun langsung memeluk Naeun, erat. D.O langsung menggaruk rambut belakangnya. Mengalihkan pandangannya kemanapun—asal tidak ke kedua kekasih itu.

Naeun tentu tahu maksud pelukan mendadak Woohyun kali ini. Ia menangis dalam pelukan Woohyun yang tidak ia balas. Ia hanya diam.

“Maafkan aku.”ucap Woohyun saat memeluknya.

“Jelaskan maksud semua ini, Nam Woohyun.”ujar Naeun meminta. Woohyun lantas melepaskan pelukannya. Memandang Naeun yang kini menunduk—mencoba menyembunyikan air matanya. Woohyun hampir tak bisa mengatakan apapun melihat gadisnya seperti itu.

“Aku..”

Naeun menunggu dengan hati yang berdebar. Takut.

“..aku akan pindah ke Jerman.”jelas Woohyun. Butuh keberanian mengungkapkan hal jujur pada Naeun.

Mata Naeun membulat. Ia sontak memandang Woohyun, seolah memohon kalau semua ini hanya lelucon.

“Jangan bercanda, aku mohon jangan bercanda..”tangis Naeun.

“Aku tidak bercanda Eun-ya.”ujar Woohyun. “Seharusnya aku membuat perpisahan denganmu yang lebih manis dari pada ini, ah.. apa ini bisa dibilang manis?”lanjut pemuda itu. Ia mengalihkan pandangannya ke arah kardus yang ia letakkan di samping kakinya.

D.O yang melihat hal itu—menangisnya Naeun—sungguh ingin membawa gadis itu ke pelukannya, merengkuhnya. Tapi ia hanya bisa diam. Ia tak punya andil apa-apa untuk berbuat semacam itu.

“Kami berangkat sore ini, sebenarnya aku ingin mengajakmu ke taman untuk memberikan semua itu.”Woohyun menunjuk kardus tadi dengan dagunya. Naeun masih menunduk—menahan tangis. Walaupun ia tahu itu sia-sia. Air matanya masih jatuh.

“Kita berakhir..”

Naeun menunduk semakin dalam, ia menggigit bibir bawahnya. Agar isakannya tidak terdengar.

“Sekarang, bawalah kenangan kita bersamamu. Karena, aku tahu Naeun tidak bisa menjalani hubungan jarak jauh ya? Atau aku yang tidak bisa?”oceh Woohyun. Sudut matanya memandang D.O yang berdiri agak jauh dari dirinya dan Naeun.

“Aku yakin kau pasti menemukan lelaki yang lebih dari aku, chagi-ya.”pemuda itu membelai rambut Naeun—menyalurkan rasa sayangnya. Benar-benar Woohyun yang dewasa saat ini. Bukan Woohyun yang seperti anak kecil saat di sekolah.

CUP

Naeun sedikit berjinjit mencium pipi Woohyun.

“Terimakasih.”ucapnya memeluk Woohyun lagi. Namun tidak seerat biasanya. “Untuk semuanya, Nam..” dan selanjutnya, Woohyun pun membalas pelukan gadis itu.

.

Hello Precious

.

                “Sehun-ah, kenapa kau tidak mengajak Ahreum kemari?”tanya Yunho haraboji begitu Sehun menginjakkan kakinya di rumah keluarga Jung yang megah itu.

Krystal yang berjalan di belakang pemuda itu hanya memutar bola matanya malas. Lagi-lagi Yunho menanyakan gadis yang bahkan bukan cipratan keluarga bangsawan Jung.

“Kenapa haraboji selalu menanyakan gadis itu, eoh?”tanya Krystal geram. Gadis itu langsung berlari menuju kamarnya di lantai dua.

“Soojung-a!”teriak Yunho haraboji memanggil namanya. Matanya menatap jejak Krystal nanar, lalu ia mengarahkan pandangannya pada Sehun lagi. Seolah meminta jawaban.

“Soojung? Aku tak mengerti. Kalau Ahreum, dia masih ada urusan di sekolah.”jelas Sehun. Setelah mengatakan hal itu pun Sehun juga ikut masuk ke kamarnya.

“Sehun-ah,”panggil Yunho. Sehun baru saja menaiki tiga anak tangga. Pemuda berkulit susu itu menoleh.

“Haraboji harap, untuk makan malam nanti kau harus ikut.”ucap Yunho penuh permohonan yang sangat dari nada bicaranya—putus asa dengan sikap Sehun yang menolak hal-hal semacam ini.

“..”

Sebelum melangkahan kakinya Sehun hanya mengangguk. Ia melewati kamar Krystal. Pintu warna putih dengan hiasan bunga warna pink tua. Sehun diam di depan pintu itu. Mendengarkan apa yang terjadi di dalam. Tak ada suara pink tape Krystal yang selalu memutar lagu-lagu bergenre Blues, RnB atau biasanya Blues Rock.

“Sedang apa dia?”gumam Sehun sambil berpikir.

“Sehun-ah sedang apa kau di situ?”tanya Jessica dari belakangnya. Sontak Sehun langsung berbalik.

“Tidak ada.”ujarnya lalu bergegas ke kamarnya. Jessica memandang heran dengan tingkah aneh Sehun. Ia pun mengetuk pintu putrinya dan masuk ke kamar seorang putri keluarga Jung itu.

“Krystalie~”panggil Jessica yang melihat Krystal tengah tengkurap di king size bednya. Gadis itu bahkan masih mengenakan sepatunya—sebelah kanan—dan blazer sekolahnya. Tasnya berada di lantai. Mungkin sengaja ia jatuhkan di sana.

“Krystal, ada apa?”tanya Jessica lalu duduk di pinggir ranjang itu. Ia tahu betul, kalau Krystal seperti itu pasti sedang menangis. “Kau tahu kan nanti malam kita ada acara makan malam dengan keluarga Kim.”jelas Jessica sambil mengelus rambut anaknya.

“Eomma, aku.. hiks..”Krystal merubah posisinya menjadi duduk.

“Ada masalah apa? Ceritakan pada eomma.”titah Jessica sambil mengusap pipi Krystal yang basah.

“Aku tidak suka melihat gadis pembantu itu bersama Kai hiks, aku melihat mereka sering berdua eomma hiks..”jelas Krystal. Jessica tentu tahu siapa gadis yang dimaksud Krystal—Ahreum. Mendadak ia geram mengingat gadis bernama Ahreum itu. Ia seakan melihat diri seorang Jung Sora—kakak perempuannya—pada diri Ahreum. Membuatnya benar-benar benci.

Don’t cry my sweety. Nanti matamu akan bengkak. Lebih baik kita siapkan untuk acara nanti. Krystal harus kelihatan cantik bukan?”bujuk Jessica.

“Tapi eomma—”

“Ahreum. Lee Ahreum kan? Gadis itu akan ku urus, kau tenang saja.”ujar Jessica meyakinkan. Krystal pun mengangguk dan segera menghapus air matanya. Ia berjalan ke arah meja belajar untuk menghidupkan pink tape nya yang penuh dengan lagu-lagu Blues.

Kedua orang itu segera menyiapkan keperluan nanti malam. Tanpa mereka sadari, Sehun tengah berada di depan pintu putih bermotif bunga itu. Mendengarkan semua percakapan Jessica dan Krystal. Ia tentu kaget mendengar omongan ibu dan anak tersebut.

“Ahreum, kau dalam bahaya.”pikirnya.

.

Hello Precious

.

PSP kesayangan Kai jatuh dan sudah menjadi dua bagian. Hampir hancur.

“YAA!!!”teriak Kai marah. Ia langsung turun dari duduknya. Ahreum membulatkan matanya melihat PSP Kai di lantai, lalu mulai menatap Kai takut-takut.

“Eh.. eh.. Kim Jongin, a-ak-aku..”ujar Ahreum terbata. Ia memundurkan tubuhnya karena Kai yang semakin mendekat.

“Kau ini benar-benar ya..”ujar Kai geram. PSP itu memang benda kesayangannya karena tipe yang limited edition—hadiah dari ibunya. Kai terus saja mendekati Ahreum, menyudutkan gadis itu.

“A-aku benar-benar gak sengaja, Kai..”cicit Ahreum begitu punggungnya menabrak pintu masuk kloset di ruang kamar mandi itu.

“Kau harus mengganti rugi PSP milikku itu..”ujar Kai sambil menaruh tangannya di sisi kepala Ahreum.

“Tapi—”

“Tapi?”

“Kau sendiri yang tidak mau turun dari wastafel!”ujar Ahreum.

“Aku tidak peduli.”Kai mendekatkan wajahnya pada Ahreum. “Kau.. harus menggantinya, nona Lee. Harganya lima juta won!”lanjut Kai. Ia sedikit menakuti Ahreum dengan harga palsu yang ia sebutkan.

Benar saja, mata Ahreum mebulat mendengar kata lima juta won. Sebanyak apa uang itu. Batinnya. Namun ia mencoba untuk tetap tenang.

“Kalau uang aku tidak punya. Mau kau mengancamku seperti apapun, aku tidak punya uang sebanyak itu.”elak Ahreum takut.

“Sudah kuduga.”balas Kai mencibir. “Kalau begitu, kau harus membayarnya dengan..”Kai menggantungkan kalimatnya. Menatap Ahreum dengan seringaian khasnya.

“A-apa?”tanya Ahreum gugup. Takut dan cemas melihat senyum Kai seperti itu.

“Ya selain uang. Kau ini otak udang ya?”ledek Kai.

“B-bukan!”kesal Ahreum. “Enak saja, aku tidak seperti itu!”

“Ya ya ya, nona Lee, selesaikan dulu bersih-bersihmu. Aku akan memikirkan apa yang pantas kau lakukan untuk mengganti calon istriku itu.”jelas Kai lalu keluar dari kamar mandi itu. Meninggalkan Ahreum dengan wajah melengosnya.

“Mentang-mentang dia anak pemilik sekolah seenaknya saja berbuat begini padaku haaahh!!!”teriak Ahreum.

Duakkh

                Ahreum menendang tempat sampah di samping kanannya. “Aduh, aduh sakit!”ringisnya sambil memegangi ujung sepatu kirinya yang ia gunakan untuk menendang tepat sampah di sana.

Sementara Kai malah enak-enakan duduk bersantai di ruang kebersihan. Sambil memikirkan apa yang bisa ia lakukan pada Ahreum untuk mengganti PSPnya yang hancur berkeping dua. Seperti tananaman dikotiledon.

“Lebih baik aku mengerjainya saja.”gumamnya. “Ah! Aku tahu apa yang cocok dengan Ahreum itu.”

Seperti Albert Eistein yang telah menemukan teori tentang cahaya, Kai seakan mendapat pencerahan untuk mengerjai Ahreum. “Kita lihat apa yang bisa kau lakukan nona Lee.”ucapnya dalam hati. Sebuah senyum mencurigakan menghiasi wajahnya.

“Ya! Jangan memasang senyum mesum seperti itu Kim Jongin!”ujar Ahreum begitu masuk ke ruang kebersihan—menaruh dan mengembalikan beberapa sapu dan alat pel.

“Mesum?”

“Iya mesum, kau mesum!!”Ahreum begidik mengucapkan itu. Seakan mengolok Kai. Pemuda itu lantas memesang wajah datarnya. Kesal.

“Yak! Lee Ahreum aku memutuskan apa yang harus kau lakukan untuk mengganti PSP ku yang hancur tadi.”jelas Kai—kembali dengan seringaiannya.

Mata Ahreum membulat.

“Eoh?”responnya.

“Jangan memasang wajah seperti itu. Ini,”Kai menyerahkan sebuah alamat pada Ahreum. “Besok pagi-pagi sekali kau sudah harus berada di alamat itu. Tepat di depan pintunya!”lanjut Kai.

Ahreum memandang Kai dan kertas alamat di tangannya bergantian. Joongri Apartement Lantai 12 no. 88, Apgeujong. Benar-benar kawasan orang-orang kaya. Ia memikirkan betapa kayanya si Kai itu. Kalau ia kaya untuk apa meminta ganti rugi? Bukankah uangnya masih cukup untuk membeli barang bernama PSP tadi, pikiran Ahreum berkecamuk.

“Alamat apa ini?”selidik Ahreum.

“Tentu saja lamat apartemenku, kau ini gak bisa baca ya?”

Ahreum menghela napasnya. “Baiklah, pagi-pagi sekali.”dengan terpaksa ia pun menuruti kemauan Kai. Pemuda itu tersenyum puas.

“Jangan sampai terlambat, pagi-pagi sekali, satu jam sebelum jam masuk sekolah.”ujar Kai sambil menepuk pundak Ahreum.

.

Hello Precious

.

                D.O dan Naeun sama-sama diam. Duduk bersebelahan di masing-masing ayunan di taman kota. Senja hampir berakhir dan keduanya masih di sana. Isakan kecil Naeun sesekali terdengar memecah keheningan diantara keduanya. Meskipun ada beberapaorang dan kendaraan yang berlalu lalang, keheningan masih tercipta.

Klik Klik

“Kyungsoo-ya!”rengek Naeun. Lantas ia langsung menutupi wajahnya. Ia tahu betul suara itu. Kamere lomokino milik D.O.

“Aku tidak akan memaksamu untuk berhenti menangis, Eun. Aku tahu bagaimana ditinggalkan seperti itu.”ujar D.O. “Tapi aku akan membuatmu tertawa.”lanjutnya.

“Kalau kau menggunakan kamera berarti kau curang.”ujar Naeun. Suaranya sudah hampir normal, tak seperti beberapa saat lalu. Sangat parau, karena ia menangis sesengukan.

“Sudah mau pulang?”tanya D.O.

Naeun langsung menoleh ke arah D.O—di samping kanannya. “Apa aku bisa pulang dengan wajah seperti ini, eoh?”tanyanya.

Mata yang sembab, hidung merah dan bekas-bekas air mata. Mungin butuh waktu beberapa jam untuk mengembalikan wajah Naeun seperti pagi tadi.

“Eung..”

“Eomma pasti akan bertanya yang macam-macam padaku.”jelas Naeun. Ia memainkan kakinya sedikit. Membuat ayunan itu bergoyang ke depan dank e belakang dengan tempo lambat. D.O mengikutinya.

“Lalu? Kau akan disini sampai wajahmu kembali?”tanya D.O sedikit bercanda.

“Aku akan ke rumah Ahreum saja.”jawab Naeun.

“Baiklah, akan kuantar.”

“Untuk apa? Aku bisa ke rumah Ahreum sediri, lagi pula kau ka—” Naeun mencoba menolak sehalus mungkin. Ia baru saja ditinggalkan Woohyun, ia ingin meluapkan semuanya dengan bercerita dengan Ahreum. Namun, ia juga tak bisa memungkiri kalau hatinya sedikit melompat-lompat bila bersama D.O. Jatuh, terjatuh dan D.O dengan cepat menangkapnya—seperti saat ini.

“Karena aku..”

-ToBeContiued:)-

 

PS: gimana Ahreum-Kai? Setuju kan alau D.O aku pairing sama Naeun? Aaah!! Makasih ya yang udah review FF ini *peluk satu2* eh, tapi jangan lupa, aku masih butuh banyak banget kritik & saran biar FFnya makin baik. Hehe, pyeong!

Iklan

16 pemikiran pada “Hello Precious! (Chapter 7)

  1. Waah psti sedih yah naeun di tinggal sma woohyun,, ;-(
    Jangan” ahreum itu jga salah satu dri keluarga jung???
    Kai dan ahreum cocok bnggiiit 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s