Schoolove (Chapter 3)

sCHOOLOFE

Title : Schoolove | Sub-title : Plan B – Library Kiss | Author : Eleonora D.R. (@eleonora_jerim) | Length : Multichapter | Rating : PG-13/15 | Genre : Romance, Schoolife, Frienship | Main Cast : Choi Minji (OC) , Oh Sehun, Hyeri (Girl’s day) & Kang Raemi (OC), Park Chanyeol, Naeun (A pink)  | Support Cast : You can find them on the story.

Warning : Bad fiction (I think)

Disclaimer :

Semua cast milik Allah SWT kecuali OC yang lahir dari angan-angan Author. Dan maaf, karena ceritanya tidak sesuai dengan keadaan ‘aselinya’. FF ini hasil karya author sendiri dengan keadaan yang author angan-angan sendiri dan terinspirasi oleh beberapa FF dari author-author exo fanfict yang FF-nya pernah author baca, RCL~ gomawo.

NO BASH!!! NO PLAGIARISM !!!

 

Part 3 | Plan B – Library Kiss

*****

Sehun terlihat tengah duduk di tempat lounge milik EXO-K sendirian. Ia tengah menatapi layar ponselnya yang terpampang foto Minji dengannya saat masih sekolah menengah pertama. Sebuah senyuman muncul di bibir Sehun ketika melihat wajah Minji yang ceria saat itu. Wajah yang selalu menyapanya saat itu. Ia tak percaya bahwa sekarang semua itu hanya kenangan. Sehun sadar, dirinyalah yang membuat semua ini terjadi.

Karena Minji mencintai Sehun, namun Sehun malah berpacaran dengan teman Minji.

Sehun merasa bodoh saat ini. Bisa-bisanya ia melepas begitu saja hal yang sangat berharga di hidupnya.

Minji.

Minji lah hal yang sangat berharga baginya. Dan bodohnya lagi, kenapa ia harus menjadi pengecut saat ini. Seharusnya dia mengatakan yang sebenarnya pada Minji.

Sebenarnya bahwa Sehun sangat mengharapkan Minji hadir kembali di hidupnya. Mengharapkan Minji selalu menghiburnya saat ia sedang marah atau kesal. Mengharapkan Minji mau dekat dengannya, lagi.

Namun sekarang kenapa ia harus merasa takut? Ia merasa menjadi makhluk paling bodoh dan pengecut di dunia. Sehun hanya harus menjelaskan yang sebenarnya terjadi dan meminta maaf pada Minji, sudah cukup bukan?

Tapi, bila hal itu ia lakukan, takkan berjalan semudah yang ia harapkan. Teringat kejadian saat di tangga, Minji terlihat benar-benar sedih dan sakit. Semua itu karenanya, karena dirinya. Karena dia Oh Sehun. Ia harus berpikir matang-matang dulu, sebelum ia melakukannya, iya kan?

Sehun teringat bagaimana wajah Minji saat tidur di UKS lalu. Benar-benar manis dan cantik. Rasanya dulu Sehun tidak menyadarinya sama sekali. Tapi, kenapa Sehun rasa saat itu wajah Minji sangat…, mempesona. Apalagi… bibirnya yang merah, seakan Sehun ingin…

“Aish…!!! Apa yang kupikirkan…?!?! Kenapa aku jadi yadong begini…?!?!.” gumamnya.

Sehun juga seorang namja. Tentu saja dia lemah jika dihadapkan pemandangan yang seperti itu. Di juga sama seperti namja pada umumnya. Mungkin jika ada di situasi seperti itu lagi, ia akan… melakukan hal yang diinginkannya, mungkin.

“Biar kutebak…, kau memikirkan… Choi Minji, ne?” ujar Chanyeol yang tiba-tiba berada di samping Sehun saat ini. Masih dengan PSP yang selalu menemaninya.

Membuat Sehun tersentak dan langsung memasukkan ponselnya ke dalam saku jas sekolahnya.

Chanyeol yang melihat tingkah Sehun hanya terkekeh.

“Kau pikir aku tidak tahu huh…!! diam-diam kau selalu melihat foto Ji-ya mu itu kan…?? Sudahlah…, kau tidak bisa menipuku, Tuan Oh.” ujar Chanyeol yang sibuk berkutat dengan PSP nya.

Sehun hanya tersenyum kecil sambil menatap lurus kearah pintu di hadapannya yang terbuka, yang langsung memperlihatkan langit yang cerah saat itu. Mengingat dimana saat ia melakukan ‘itu’ di UKS terhadap seorang yeoja. Ia tahu mungkin ia sudah gila saat itu. Mencium seorang gadis disaat ia tengah tertidur, atau lebih tepatnya pingsan.

Namun, ia merasa lemah saat itu. Ia benar-benar takut dan khawatir saat itu. Karena bola yang mengenai kening yeoja itu hingga ia pingsan. Bola yang dilempar oleh Chanyeol.

Tunggu, Chanyeol ???

“Yak…!!! Park Chanyeol…!!! Gara-gara kau Minji sampai pingsan…!!!” tiba-tiba saja Sehun langsung menerjang Chanyeol mengingat siapa yang membuat Minji pingsan saat itu.

“Yak…!!! Sehun-ah…, aish… appo…!!! Cukup…, jangan pukul aku…..” rintih Chanyeol kesakitan.

Sehun baru ingat bahwa si tiang jalan ini yang menyebabkan Ji-ya nya pingsan seperti itu. Tentu ia tidak akan tinggal diam.

Sehun terus memukuli pantat Chanyeol. Tiang jalan ini, benar-benar tidak bertanggung jawab.

“Yak…!!! Sehun…, sudah cukup, arraseo…, mianhae Sehun-ah, aku tidak sengaja…, hentikan…, appo…!!! Ugh….” rintihan Chanyeol sudah mulai menjadi.

Sehun pun menghentikan aksinya. Dan menatap Chanyeol dengan kesal.

“Seharusnya kau minta maaf pada Minji, bukan padaku…!!! Kau harus bertanggung jawab.” ujar Sehun.

“Hei…, bukankah aku sudah minta maaf padanya, dia saja yang keburu pingsan. Lagipula kau kan sudah menggantikanku untuk merawatnya, bahkan kau sampai menciumnya segala lagi, hihi…” ujar Chanyeol sambil terkekeh mengingat perkataan Raemi kemarin.

“MWO…??!!” Sehun yang mendengar ucapan Chanyeol barusan pun kaget.

Mencium?? Darimana Chanyeol mengetahuinya.

Chanyeol yang menyadari perkataannya hanya meruntuki dirinya. Kenapa dia bisa ceroboh ?!?! Kalau Sehun sampai tahu maka rencananya bisa gagal.

“Mwoya ?? eh… eung… aku harus ke kelas Naeun, dia pasti sudah menungguku, anyeong…” ujar Chanyeol langsung ngabur. Daripada Sehun menanyakan yang tidak harus dipertanyakan. Bisa gagal semua rencananya.

Sehun hanya mengerutkan keningnya melihat Chanyeol yang langsung ngabur seperti itu.

“Sebenarnya dia itu kenapa sih.” gumam Sehun.

*****

“Hyeri-ah…, Hyeri-ah….” pekik Naeun dari luar kelas sambil memanggil nama sahabatnya.

Hyeri yang kebetulan sendiri di kelas hanya keheranan melihat Naeun sudah berada di depannya sambil terengah-engah.

“Waeyo ?” tanya Hyeri sambil mengerutkan keningnya.

“heuh…eh… Sehun… dia… heuh….” ucap Naeun sambil berusaha mengatur nafasnya yang berantakan.

“Sehun… Sehun kenapa?? Atur nafasmu dulu baru bicara.” ujar Hyeri.

“heuh….. eh… huuh…, hah ! Gawat Hyeri…gawat….” ujar Naeun yang telah berhasil mengatur nafasnya kembali.

“Gawat kenapa? Apa yang terjadi dengan Sehun ?” tanya Hyeri.

“Sehun !!! dia digosipkan berpacaran dengan Choi Minji.” ujar Naeun.

“MWO?!” pekik Hyeri.

“Ne, sekarang satu sekolah sedang menggujingkan mereka berdua.” ujar Naeun.

“Ba-bagaimana bisa itu terjadi??” tanya Hyeri.

“Katanya, Sehun menolong Minji saat ia kena lemparan bola pada pertandingan kemarin, dan Sehun rela tidak ikut pertandingan karena yeoja itu.” ujar Naeun.

“Benarkah?! Kenapa jadi begini ?!! aku benar-benar tidak rela Sehun jadi milik orang lain.” pekik Hyeri.

“Kita harus memperingatkan dia Hyeri-ah.” ujar Naeun.

“Ya !! aku harus memberi perhitungan pada yeoja bodoh itu.” ujar Hyeri sambil meninggalkan kelasnya.

“YAK!! Hyeri-ah, chamkaman….” pekik Naeun sambil mengikuti Hyeri.

*****

Minji terlihat berjalan menuju kantin bersama Raemi. Mereka terlihat bercanda sesekali. Namun, Minji merasa tidak enak karena sedari tadi para siswa-siswi yang berlalu-lalang terus memeperhatikannya. Entah bagaimana dengan perasaan Raemi.

“Raemi-ya, apa kau merasa aneh dengan mereka.” ujar Minji sambil melirik beberapa yeoja yang berada di sebelah kanan Raemi yang terlihat sedang menggunjingkan sesuatu.

Raemi pun menoleh ke arah yeoja-yeoja itu. Memang mereka terlihat sedang menggosip.

“Iya juga, kenapa mereka menatap sinis pada kita yah ?” tanya Raemi balik.

Minji terlihat berpikir.

Apa ada yang aneh dengan penampilan nya? Setahunya style nya setiap sekolah selalu seperti ini.

Tiba-tiba terbesit ingatan saat pertandingan kemarin. Dimana ia terkena lemparan bola.

“Apa yang terjadi setelah aku pingsan kemarin ?” tanya Minji kepada Raemi.

Raemi hanya membelalakkan matanya mendengar pertanyaan dari Minji.

Apa mungkin ini yang membuat yeoja-yeoja itu menatap sinis ke arah mereka? Bukan. Maksudnya, ke arah Minji ?

Tentu saja. Kejadian itu menarik perhatian hampir seluruh siswa yang ada saat itu.

“eung… itu…”

“Siapa yang membawaku ke UKS ?” tanya Minji sambil memasang tampang curiganya terhadap Raemi seakan dia sudah bisa menebak siapa yang membawanya ke UKS saat itu.

“eung…”

“Jawablah Raemi-ya.” ujar Minji mengintimidasi.

“eung… itu…., Sehun.” ujar Raemi pelan.

Minji pun membulatkan matanya.

Dia sudah menduga. Karena sebelum pingsan, namja itulah yang terakhir kali ia lihat. Tapi, kenapa namja itu mau menolongnya ? bukankah seharusnya namja itu tak peduli dengannya? Entahlah.

Apa yang ada dipikiran namja itu sebenarnya?

“Lalu apa yang dilakukannya padaku ?” tanya Minji.

Raemi diam sejenak. Tidak mungkin dia mengatakan bahwa Sehun menciumnya saat itu. Yang benar saja. Nanti Minji akan bertanya yang macam-macam dan semua rencananya bisa gagal total.

“Yang kutahu, ia tidak ikut pertandingan karena ia menjagamu, tak kusangka ia sepeduli itu padamu.” ujar Raemi sambil tersenyum jahil.

Seketika mata Minji membulat.

“Jeongmal ?!” tanya Minji.

“Untuk apa aku berbohong padamu Minji-ya, apa mungkin hal itu yang membuat kau mendapat tatapan sinis seperti itu ? wah… kau seperti artis Minji-ya….” ujar Raemi sambil menyenggol lengan Minji.

“Raemi sudahlah…”

“Mereka… tak usah dipikirkan, pikirkan saja Thehunnie- sayangmu itu, haha…” ujar Raemi langsung ngabur meninggalkan Minji yang hampir meledak.

“YAK !!! KANG RAEMI…!!!” pekik Minji sambil mengejar Raemi yang sudah hampir mencapai(?) kantin.

Raemi yang terlebih dahulu mencapai kantin hanya tersenyum kecil melihat sahabatnya itu berlarian sambil memasang wajah kesalnya itu.

“Dasar…” gumamnya.

Raemi pun mengalihkan pandangannya ke arah sudut kantin. Atau lebih tepatnya tempat lounge EXO-K.

Pemandangan yang…, sangat menyakitkan mungkin untuknya. Raemi tak bergeming untuk beberapa detik.

Ia melihat – Chanyeol mencium pipi Naeun. Lalu mereka bercanda bersama. Mungkin beberapa orang yang melihatnya akan mengatakan mereka serasi.

Memang benar, Raemi akui itu. Namun, hatinya tidak bisa berbohong.

Yah…, seharusnya dia tahu kedekatannya dengan Chanyeol bukan berarti mengubah kenyataan agar Raemi bisa bersama Chanyeol bukan ?

Itu tidak akan mungkin terjadi. Chanyeol tetaplah angan-angan yang terindah di dalam hidupnya. Hanya bisa dibayangkan, tanpa bisa terwujud.

Betapa sakitnya jika ia membayangkan hal itu. Sangat melankolis bukan?

Minji pun memukul lengan Raemi pelan mengingat kejahilan yang ia perbuat tadi. Namun, ia terdiam saat Raemi memasang wajah sedihnya dan melihatnya menatap Chanyeol dan Naeun yang berada di sudut kantin sedang…, bermesraan.

Raemi terlihat masih belum menyadari keberadaan Minji disampingnya. Dia masih terus menatap dua sejoli yang terus membuatnya sakit itu.

“Raemi-ya, gwaechana?” tanya Minji.

Raemi pun akhirnya menyadari keberadaan Minji. Raemi tidak mau terlihat lemah hanya karena hal bernama cinta. Itu sangat menyedihkan. Ia pun berusaha menyembunyikan rasa sakitnya di depan Minji.

“Apa maksudmu? Tentu saja aku baik-baik saja.” ujar Raemi sambil tersenyum palsu.

“Tapi Chan – ”

“Kajja…, aku sangat lapar Minji-ya.” ujar Raemi sambil menarik tangan Minji memasuki toko Kim ahjumma.

Minji hanya diam. Dia bukanlah yeoja bodoh. Dia sudah berkali-kali melihat drama tv dimana yeoja yang sakit hati menutupi kesedihannya di hadapan orang lain. Itu sudah basi. Tapi, Raemi adalah manusia yang diberkahi sejuta alasan untuk mengelak sebuah kebenaran. Huh…, dia sangat tahu watak sahabatnya ini.

Raemi masih merasakan sakit di dadanya. Berulangkali ia mencoba untuk melupakan Chanyeol yang terlalu jauh untuknya. Namun, tetap saja tidak berhasil. Ia tak tahu apa yang harus ia lakukan dihadapan Chanyeol nanti saat mereka menjalankan rencana B yang sudah mereka rundingkan sebelumnya.

Tapi mungkin ia harus sedikit menjauhi Chanyeol atau dirinya makin berharap lebih pada namja itu.

*****

Minji dan Raemi terlihat berjalan dari arah lab bahasa. Sekolah terlihat begitu sepi mengingat ini sudah 1 jam setelah bel pulang sekolah berbunyi. Dan sekarang mereka harus lebih tertahan di sekolah karena tugas semester yang belum mereka selesaikan sejak kemarin.

“Heuh…, Skinhead songsaenim itu benar-benar ingin membunuh kita, masa kita harus disuruh membuat sinopsis novel Nora Roberts yang tebalnya seperti buku telepon itu, dia benar-benar sudah gila.” pekik Raemi.

“Bukan hanya kita, seluruh kelas XI juga ditugasi seperti itu, katanya tugas ini masuk nilai kelulusan.” ujar Minji sambil mencari buku itu.

Drrt…Drrt…

Raemi pun merasakan ponselnya bergetar. Ia pun membuka pesan masuk di ponselnya

“Chanyeol ?” gumamnya.

From : Chan-chanyeolli-ah

Raemi-ya, apa kau sudah di perpustakaan? Aku dan Sehun sudah berada di depan perpustakaan, nanti jika Sehun masuk kau harus keluar, arra ? kupastikan tidak akan ada siswa lain yang ada di perpustakaan kecuali Sehun dan Minji. Rencana kita pasti akan berhasil J

Balas ya? – Chanyeol –

Melihat isi pesan itu rasanya seperti Chanyeol sangat memperhatikan dirinya. Namun, jika Sehun dan Minji sudah berpacaran, toh Chanyeol tidak akan bersikap semanis itu padanya. Berkhayal saja kau Kang Raemi.

Ia pun mengetikkan sebuah pesan pada Chanyeol lalu menutup ponselnya kembail.

Raemi pun mengalihkan pandangannya terhadap sahabatnya. Minji terlihat masih sibuk mencari buku tebal itu. Lalu ia pun melihat situasi di perpustakaan yang dirasa…, sepi. Mungkin rencana kali ini juga akan berhasil.

“Minji-ya, aku kebelet nih…, aku ke kamar mandi dulu ne?” ujar Raemi melancarkan aktingnya.

“Ne, pergilah…” ujar Minji yang masih sibuk mencari buku itu.

*****

“Kenapa kau tidak ikut masuk ?” tanya Sehun yang mulai curiga. Tugas ini kan tugas mereka berdua. Tapi, Chanyeol tidak mau ikut masuk ke dalam perpustakaan. Bocah ini semakin aneh.

“Tuan Oh, aku akan mencari novel itu di lab bahasa, katanya disana juga ada banyak, jadi kau yang bagian mencari di perpus, dan aku mencari di lab bahasa.” ujar Chanyeol.

“Kenapa bukan kau yang di perpus dan aku yang di lab bahasa ?” tanya Sehun.

“Kau ini !!! tinggal cari saja apa susahnya.” pekik Chanyeol.

“heuh… baiklah, tapi awas jika kau tidak menemukan buku itu di lab bahasa.” ujar Sehun.

“Ne, aku tahu.” ujar Chanyeol.

Sehun mulai berjalan memasuki perpustakaan namun, Chanyeol menahannya.

“Tunggu dulu.” ujar Chanyeol sambil membuka ponselnya.

Membuat Sehun mengerutkan keningnya heran.

Chanyeol membuka pesan balasan dari Raemi.

From : Kang Raemi

Ne.

Hanya itu? Singkat sekali? Biasanya yeoja ini akan sangat antusias, batin Chanyeol yang keheranan dengan pesan balasan dari Raemi yang super duper singkat banget.

“Kau boleh pergi.” ujar Chanyeol sambil melepas tangan Sehun. Membuat Sehun makin keheranan oleh kelakuan sahabatnya ini.

Sehun pun memasuki perpustakaan itu. Ia berpapasan dengan seorang yeoja yang familiar menurutnya. Sehun menatap yeoja itu, begitupula dengan yeoja itu.

Bukankah dia teman Minji? Jika dia ada di perpustakaan berarti…, Minji juga berdada di sini, batin Sehun.

Yeoja itupun segera keluar. Sehun pun mengalihkan fokusnya terhadap buku yang ia cari.

*****

Raemi pun keluar dari perpustakaan dan langsung di sambut oleh namja yang membuatnya melayang sekaligus namja yang membuatnya jatuh.

Namja itu memasang wajah jengkelnya saat melihat Raemi berada di depannya.

“Singkat sekali balasanmu.” ujar Chanyeol sambil memanyunkan bibirnya.

Raemi diam sejenak. Dia mencoba untuk menahan rasa sakitnya yang bergemuruh saat ini. Jujur, dia lebih baik pulang dan tidur di rumah atau melanjutkan FF nya yang belum kelar daripada bertemu dengan namja ini yang mungkin membuatnya lebih sakit hati.

“Tadi…, aku sibuk…, mencari novel untuk tugasku, jadi aku tidak bisa membalas pesanmu panjang lebar, mian.” ujar Raemi dengan wajah datar.

Chanyeol hanya diam melihat Raemi saat berbicara dengannya barusan. Datar dan ia sama sekali tidak menatap Chanyeol.

Kenapa dia? Biasanya dia semangat jika kita menjalankan rencana ini, apa dia sedang sakit ? batin Chanyeol yang tanpa sadar ia khawatir dengan Raemi.

“Kau… sakit?” tanya Chanyeol.

Raemi hanya menatap Chanyeol heran. Namun, ketika ia menatap mata Chanyeol ia tak ingin lagi mengulangnya. Ia bisa terbius jika terlalu lama menatap mata namja itu.

“Tidak, aku baik-baik saja, Wae ?” ujar Raemi sambil duduk di depan perpustakaan. Mengingat sedari tadi dia terlalu lama berdiri.

Chanyeol pun mengikuti Raemi duduk di sebelahnya.

“Kau dingin sekali? Apa kau marah padaku? Kenapa?” ujar Chanyeol. Entah kenapa melihat wajah Raemi yang datar seperti itu ia seperti merasa bersalah.

Raemi terdiam. Ingin sekali ia meneriaki Chanyeol seperti ‘Ya ! aku marah padamu,’ atau ‘Kau tau, tak seharusnya kau perhatian padaku,’ atau ‘Aku menyukaimu, jadi jangan sakiti aku,’ tapi dia siapa berani berbicara seperti itu. Dia masih tau diri meski dia memang marah pada Chanyeol.

Chanyeol yang melihat Raemi diam hanya memanyunkan bibirnya. Yeoja kalau sudah marah memang sangat menyebalkan. Tapi, kenapa rasanya dadanya sesak melihat wajah datar Raemi. Rasanya ia ingin melihat Raemi tersenyum seperti saat sesudah pertandingan basket, dimana ia menceritakan kejadian di UKS dengan antusias. Jika dibandingkan dengan saat ini, hal itu benar-benar menguras pikiran Chanyeol.

“Baiklah jika kau tak mau menjawab, aku beri tebakan ya?” ujar Chanyeol berusaha menghibur Raemi.

Raemi hanya diam.

“Kereta listrik A menuju kota Seoul, kereta listrik B menuju Busan, asap dari 2 kereta itu berkumpul dimana ?” tanya Chanyeol.

Raemi diam berpikir.

“Dongdaemun ?” jawab Raemi.

“Salah ! heuh… kau bodoh sekali begitu saja tidak tahu.” ujar Chanyeol sambil tertawa kecil.

“Ha?!…, seharusnya jawabanku benar, kau ini… sengaja menjebakku ya?” ujar Raemi tak mau kalah.

Chanyeol hanya tertawa melihat wajah Raemi yang benar-benar serius dengan candaannya itu.

“Kan aku mengatakan kereta listrik, kereta listrik mana punya asap Raemi-ya, sesekali otakmu itu harus dilatih untuk berpikir kritis, haha…” ujar Chanyeol sambil menoyor pelan kepala Raemi.

Raemi berpikir ulang mengenai pertanyaan Chanyeol.

Iya juga ya kereta listrik mana punya asap, batinnya.

“Dasar kau ini….” ujar Raemi sambil tertawa dan memukul pelan lengan Chanyeol.

Mereka pun tertawa bersama sambil bercerita hal menarik lainnya. Rupanya Raemi sudah mulai melupakan rasa marah karena Chanyeol yang digantikan dengan candaan yang dikarenakan Chanyeol juga.

Sekali lagi, Raemi tidak akan pernah bisa membenci namja bernama Park Chanyeol itu.

Namun, tanpa mereka sadari seseorang tanpa sengaja melihat mereka berdua dekat seperti itu.

Chanyeol dan…., teman Minji, kenapa mereka dekat sekali?? Hmm…, kurasa bukan hanya Minji yang akan jatuh, yeoja itu juga akan kubuat sama menderitanya dengan sahabatnya karena sudah macam-macam denganku, batin seseorang itu.

*****

Sehun terlihat sibuk mencari buku karangan Nora Roberts yang biasanya terletak di rak paling atas. Untung saja ia diberkahi tubuh yang proposional dan tinggi sehingga ia bisa mengambil buku itu meski harus berjinjit.

Minji yang juga berada di perpus juga sedang mencari buku yang sama dan juga berada di rak yang sama pula namun berbeda sisi dengan Sehun. Yeoja itu harus menggunakan tangga yang disediakan oleh perpustakaan mengingat panjang tubuhnya tidak akan mungkin mencapai rak paling atas.

Sehun menemukan novel karangan Nora Roberts itu tak berada jauh dari jangkauannya. Ia pun segera mengambil novel itu dengan sedikit berjinjit. Sayangnya, mungkin karena tebalnya yang mengalahkan buku telepon itu buku itu terjatuh dan – mengenai bibir milik Sehun.

“Arrgghh….” pekiknya saat buku itu mengenai bibirnya. Dilihatnya luka itu ternyata mengeluarkan darah. Ia merintih pelan.

Minji yang tanpa sengaja mendengar suara orang memekik pun dengan segera turun dari tangga itu dan berlari menuju sisi depan rak itu.

Begitu terkejutnya ia ketika melihat siapa yang merintih barusan.

“Se-Sehun ?” gumam Minji.

Sehun tanpa sengaja juga melihat sosok yeoja di hadapannya itu. Ternyata dugaannya benar, Minji ada di sini, bersamanya.

Minji yang awalnya mematung tiba-tiba tersadar melihat bibir namja itu mengeluarkan darah.

“Aigoo…, Sehunnie, bibirmu berdarah !” pekik Minji tiba-tiba.

Sehun yang mendengar perkataan Minji barusan hanya keheranan.

Sehunnie ? nama panggilan yang Minji berikan dulu padanya.

“Sebentar…, kau… duduklah disitu….” ujar Minji panik sambil menyuruh Sehun duduk di sebuah kursi yang biasa digunakan untuk membaca.

Sehun hanya menuruti perkataan Minji sambil tersenyum kecil.

Ji-ya, ternyata tidak berubah, batinnya.

Minji hanya mondar-mandir karena panik. Ia benar-benar membenci darah. Ia mencari sesuatu di dalam tasnya sampai-sampai ia mengeluarkan semua isi tasnya secara paksa.

“Dimana sapu tanganku? Kau…, tenanglah , jangan panik… arraseo?? Akan kucarikan sapu tangan untuk membersihkan lukamu.” ujar Minji sambil menunjuk-nunjuk Sehun.

Sehun hanya terkekeh pelan.

“Siapa yang panik Ji-ya?? Justru kau yang panik, aku baik-baik saja.” ujar Sehun sambil terkekeh.

Ia serasa mengalami déjà vu. Namun, ini benar-benar nyata. Dulu, Minji juga melakukan hal yang sama pula padanya. Dimana ia terluka karena jatuh dari sepeda, lalu Minji dengan panik berusaha mengobati luka Sehun karena ia benar-benar tidak suka dengan darah.

Sehun tersenyum mengingat kenangan masa lalunya dengan Minji.

Minji masih tetap mencari-cari sapu tangannya tapi tetap tidak ketemu. Akhirnya, ia pun berdiri di hadapan Sehun.

“Huh…, Sehunnie…, kau tunggu disini, aku akan ke UKS, kau… jangan kemana-mana arraseo??” ujar Minji sambil berlalu pergi.

Namun, tangan Sehun menahannya. Minji hanya diam sambil melihat tangan Sehun yang menggenggam tangannya. Ia hanya memasang tampang watados.

“Kau…, memanggilku Sehunnie.” ujar Sehun sambil tersenyum kecil.

Minji hanya membulatkan matanya. Dia benar-benar tidak sengaja mengucap nama itu. Ternyata sedari tadi ia benar-benar tidak sadar akan apa yang ia lakukan. Seharusnya, ia tidak usah peduli dengan namja itu. Bodohnya lagi, ia bertingkah panik seperti tadi. Benar-benar memalukan.

Sehun pun berdiri dari duduknya. Ia mendekat ke arah Minji.

“A-aku…. Tidak se-…hmmppff…”

Sehun menarik tengkuk Minji mendekat ke arahnya. Ia menempelkan bibirnya ke bibir milik gadis itu. Untuk beberapa detik Minji kehilangan akal sehatnya.

Sehun melumat bibir yeoja itu dengan kasar. Sehun sudah tidak bisa menahannya lagi. Ya, ia sangat menginginkan gadis ini.

Minji tidak melakukan perlawanan ataupun menerima ciuman itu. Sedangkan, ciuman itu makin mengganas. Perlahan Sehun mendorong badan Minji hingga bersandar pada dinding. Sehingga mempermudahnya menjelajah bibir merah milik gadis itu.

Sehun terus memperdalam ciuman itu dan tangannya menjelajahi wajah milik gadis itu. Seakan semua yang ada pada gadis itu hanyalah miliknya seorang. Minji seakan pasrah atas apapun yang akan diperbuat Sehun.

Sehun terus melumat bibir gadis itu seakan ia ingin memakannya dan menikmatinya. Namun, karena kebutuhan oksigen, ciuman itu pun berakhir. Sehun terlihat mengambil nafasnya begitu pula dengan Minji.

Sehun menatap Minji dalam seakan ia benar-benar tak percaya apa yang telah ia lakukan pada gadis yang notabene adalah –mantan- sahabatnya itu.

Sedangkan Minji menatap Sehun tak percaya. Kenapa dia melakukan hal itu? Hal ini akan semakin membuatnya berharap banyak.

“Ji-ya…, mianhae….” ujar Sehun lirih.

Minji yang mendengar pernyataan Sehun pun mendorong badan Sehun kasar dan meninggalkannya. Ia tidak marah dengan Sehun. Hanya saja, ia masih tak percaya bahwa ciuman pertamanya telah direnggut,  meski oleh orang yang dicintainya.

Sehun hanya terdiam.

BLAM !!!

Ia mengayunkan tinjunya pada dinding yang menjadi saksi bisu pertautan tersebut. Bisa-bisanya ia melakukan hal gila seperti itu tanpa berpikir terlebih dahulu. Semuanya itu karena yeoja bernama Minji yang telah sukses membuat Sehun benar-benar menggila.

*****

Raemi dan Chanyeol hanya bisa menelan ludah melihat pertautan tersebut. Diam-diam mereka memang memperhatikan gerak-gerik Sehun dan Minji. Mereka benar-benar tidak menyangka rencana B bakalan benar-benar sukses. Bahkan sukses parah.

Saat Minji keluar dari perpustakaan itu mereka langsung kembali ke tempat persembunyiannya.

“Aku tak percaya Sehun melakukan itu pada Minji.” gumam Raemi.

“Iya, tapi… itu tadi sangat hebat.” ujar Chanyeol.

“Hebat bagaimana? Itu tadi ciuman pertama Minji, dan ciuman itu diambil oleh Sehun.” ujar Raemi.

“Biar saja, toh Minji juga menyukai Sehun kan? ” ujar Chanyeol.

Benar juga, harusnya Minji bahagia, tapi kenapa aku merasa tidak enak ya?, Batin Raemi.

“Tapi…, apa perbuatan kita tidak salah? Maksudku…, kita tak seharusnya mencampuri urusan mereka.” ujar Raemi.

“Aishh…, kita ini bukan mencampuri, kita hanya membantu! Kita yang menyediakan kesempatan bagi mereka berdua, mereka yang melakukan urusan mereka, tentu saja itu tidak salah.” ujar Chanyeol.

Raemi hanya mengangguk mengerti. Akhirnya, sahabatnya itu bisa bahagia. Tapi, bagaimana ya jika Hyeri si pengganggu itu beraksi lagi? Bisa gagal semua rencana ini. Heuh… dia harap itu tidak terjadi.

*****

Gimana?? Tambah Gaje?? Part ini –gagal– Heuh…, aku emang gk pernah ngerasain begituan, jadi gagal deh bagian Kisseu-nya T_T, dan aku gak tahu batas Seoul ma Busan itu dimana, hehe…, aku tahunya wilayah Seoul kan dongdaemun, ya itu aja yang ku pake, kan cuma fiction toh L, Heuh… dasar amatir, Mianhae readers-deul, jadi tolong kritik dan saran ya??

*mbowbarengHunHanSuLayBaekYeolMinChenTaoRisKaiDo*

Iklan

23 pemikiran pada “Schoolove (Chapter 3)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s