Everything is You

Author : White Teddy @8degrees0107

Main Cast :

  • Kim Jong In
  • Song Hyesa

Other cast :

  • Kris
  • Im Saeri
  • Baekhyun
  • Hyo Nara

Genre : Romance, Friendship, Sad.

Hai semuaa!! Aku author baru disini^^ Semoga kalian menyukai ffku yang satu ini.. Sebenernya ff ini aku bikin buat tugas sekolah. Tapi berhubung ini exo juga jadi aku post.. Doain nemku bagus ya terus masuk sma yang aku pengenn^^ #curhat -_-. Pengennya sih sedih ceritanya tapi gatau deh masuk ke hati kalian apa engga ._. kunjungi  www.kkamexotics.wordpress.com ada beberapa fanfict buatanku dan teman-teman juga disana.. Comment kalian sangat membantu!;D Jadi don’t be silent readers yaa ;;)mian kalau Typo.. oke, tidak perlu berlama-lama… Ini dia ‘Everything is you’! Semoga kalian sukaa!! ^^ No bash yaa…

Cover everything is you

 

-EVERYTHING IS YOU-

Hyesa berjalan memasuki sekolah barunya, Degrees School. Setelah cukup lama meninggalkan Korea, akhirnya dia bisa kembali lagi pada pertengahan tahun pertama. Kenangan indah masa kecilnya terpahat di negeri ini. Ia sangat rindu akan masa-masa dimana ia masih bebas. Ia ingin mengulang masa kecilnya. Terutama memperbaiki masalah yang ia timbulkan saat kecil. Ia sangat ingin.

Song Hyesa. Itulah nama lengkapnya. Seorang gadis remaja berambut ikal panjang. Ia terus memasuki sekolah barunya dengan semangat, berharap sesuatu akan terjadi, walau ia tidak tau mengapa ia menginginkan seusatu itu.

“Ruang guru. Hmm, dimana ya letaknya?” Hyesa mencari-cari letak ruang guru. Ia sekarang bahkan seperti orang gila berputar-putar kesana-kemari. Hingga akhirnya ia menyerah dan memutuskan untuk bertanya. ‘Ah! Ada orang disana’ batinnya. Ia kemudian menghampiri seorang gadis berambut sebahu.

“Ohayōgozaimasu”

“Eh?”

“Oh! Maaf aku lupa kalau ini Korea.  Annyeonghaseyo, boleh saya bertanya dimana letak kantor guru?”

“Kantor guru? Disebelah sana, ayo aku antar!”

Gadis itu mulai berjalan dan Hyera mengekor dibelakangnya.

“Eum, namamu siapa? Kau pindahan dari mana?” gadis itu membuka pembicaraan.

“Namaku Hyesa. Song Hyesa. Aku pindahan dari Jepang. Kalau namamu?”

“Namaku Im Saeri, cukup dipanggil Saeri.”

Mereka berbincang tentang banyak hal, karena ternyata letak kantor guru lumayan jauh. Terletak di gedung dua, yaitu gedung musik. Mereka terus berbicara tentang keluarga, pengalaman liburan dan yang tidak ketinggalan Hyesa bertanya tentang cowok populer di sekolah ini. Dan perbincangan mereka terhenti sebentar karena Hyesa harus mesuk ke ruang guru.

“Saeri-ah, kau itu kelas sebelas berapa?” tanya Hyesa setelan keluar ruang guru sambil sedikit merapatkan jaket sekolahnya. Ya, sekarang musim dingin. Jadi seragam yang ia gunakan khusus untuk musim dingin.

“Hmm, aku kelas 11 C. Neo?”

“Whoaaa, kita sama berarti!” Hyesa berteriak cukup kencang.

“Stt, Hyesa! Itu Kai, salah satu dari dua belas cowok populer sekolah!”

“Hah? Eodi?!”

“Itu dibalikmu, didekat guru. Oh! KAI OPPA!” Saeri memanggil Kai dengan semangat yang berkobar.

Hyesapun berbalik dengan senyum manis di wajahnya. Laki-laki yang dipanggil Kai juga menoleh. Hyesa berharap ia akan menjadi seperti putri yang bertemu pangeran tampan. Sosok laki-laki itu pun tertangkap oleh matanya, laki-laki dengan senyuman kecil di bibirnya. Tapi, saat itu juga senyuman Hyesa luntur. Senyuman indah itu tergantikan dengan sorot mata terkejut dari kedua pihak.

“Oppa………”

*Flashback*

Hyesa kecil berjalan berdampingan bersama sahabatnya menelurusi sungai kecil dekat rumahnya. Memang sungai itu tidak seindah Sungai Han yang ia kunjungi bersama keluarganya. Tapi sungai tanpa nama ini lebih berharga daripada Sungai Han. Seluruh kenangannya bersama seseorang disebelahnya terjadi paling banyak di sungai ini. Ia merasa sangat mencintai pria kecil disebelahnya. Mungkin itu hanya cinta monyet biasa. Tapi hal itu tidak hanya dirasakan Hyera tapi sosok disebelahnyapun merasakannya.

“Jong In oppa!”

“Apa Hyesa?”

“Aku bosan, aku ingin beli es  krim! Belikan aku! Ppaliii” Hyesa mendorong Jong In menuju toko es krim.

“Arasseo! Tunggu disini!”

Pria kecil yang dipanggil Jong In pun berlari menuju penjual es krim. Setelah memilih rasa. Ia mengeluarkan sejumlah uang dari saku kecilnya. Uang tabungannya seminggu ini. awalnya ia bertekad tidak akan menggunakan uang itu sampai bulan depan. Tapi karena Hyesa meminta es krim iapun merelakan uangnya. Setelah mengucapkan terimakasih, Jong In berbalik. Tapi ia tidak menemukan Hyesa disana. Dia sedikit berjalan kemudian berhenti di depan sebuah bangku putih. Tiba-tiba…

“BWAAA!” Hyesa mengagetkan Jong In dari belakang. Jonginpun terlonjak dan tanpa sengaja menumpahkan es krim yang ada ditangannya. Dan es krim itu mengenai sebuah jas yang ditaruh diatas bangku tersebut. Hyesa dan Jong In berpandangan panik. Sesaat setelah itu pemilik jas tersebut datang. Dia terkejut melihat jasnya sudah berlumuran es krim. Hyesa kecil yang ketakutan langsung berlari meninggalkan Jong In sendirian. Samar-samar ia mendengar bentakkan pria itu. Ia ingin kembali tapi ketakutan menyelubungi hatinya. Ia hanya bisa menulis sebaris kalimat pada sebuah kertas dan menyelipkannya di pohon yang biasa ia dan Jong In panjat.

‘Oppa, datanglah kesini besok pagi. Jam 9.’

***

“Hyesa! Ayo cepat! Nanti kita ketinggalan pesawat!!!”

“Tunggu dulu Haelmoni! Aku harus bertemu seseorang!”

“Nuguya?! Si Jong In itu? Sudahlah! Kau tidak ingin bertemu dengan orangtuamu memangnya?!”

“A..Aku ingin Nek, sangat ingin. Tapi aku punya janji dengannya Nek! Jebal.” Hyesa memohon-mohon pada neneknya.

“Tidak bisa! Pesawat berangkat pukul 9.30, sekarang sudah jam sembilan!” Sang nenek langsung menarik tangan kecil cucunya. Memang beginilah sikap neneknya. Selalu menentang Hyesa dan Jong In. Dia berfikir bahwa Jong In hanya bisa mengajak Hyesa main sampai larut dan jadi jarang belajar. Padahal tanpa sepengetahuannya, Hyesa selalu belajar bersama Jong In minimal seminggu sekali.

Hyesa kecil tidak mampu melawan kata neneknya. Ia hanya bisa memasang wajah memelas pada kakeknya, berharap sang kakek bisa membantunya. Tapi nyatanya, sang kakek hanya menggelengkan kepalanya dan mengangkut koper-koper ke bagasi taksi. Hyesa hanya bisa menghela nafas. Ia bingung dengan janji yang ia tulis pada Jong In. Ia juga ingat janji-janji sebelumnya. Bahwa salah satu dari mereka hanya akan dimaafkan jika mengatakan maaf secara langsung. Airmata mengalir deras di pipinya. Ia pasti akan merindukan Jong In. Suaranya, kulit hitamnya, rambutnya, aroma tubuhnya, segalanya. Salam perpisahanpun belum ia ucapkan. Memang kepindahannya sangat mendadak. Kemarin saat dia sampai rumah, koper-koper sudah siap. Ia akan pindah ke Jepang menyusul orangtuanya dikarenakan sang nenek dan kakek akan pindah ke China.

‘Jong In oppa, mianhae. Saranghae. Annyeong.’ Batin Hyera.

Di waktu yang sama tempat yang berbeda, Jong In kecil duduk di pinggir sungai. Menunggu seseorang yang sebenarnya sudah terlambat lebih dari setengah jam. Tapi ia terus menunggu.

Setelah menjelang malam Jong In baru menyerah dan melangkahkan kakinya menuju rumah. ‘Kenapa dia berbohong?’ batin Jong In. Jong In terus berjalan hingga sampai di depan rumah Hyesa. Rumahnya masih dua blok lagi. Tapi pemandangan apa yang ia lihat? Rumahnya gelap seperti tak berpenghuni. Tidak ada tanda-tanda kehidupan disana. Iapun langsung berlari kencang menuju rumahnya dan mencari ibunya.

“EOMMA! KENAPA RUMAH HYESA GELAP?”

“Kau dari mana saja, Chagi? Kenapa baru pulang?” bukannya menjawab pertanyaan Jong In Nyonya Kin malah balik bertanya.

“Aishh, aku habis dari sungai. Jawab pertanyaanku, eommaa!!”

“Kau belum tahu? Hyesa sudah pergi ke Jepang menyusul orangtuanya”

“Apa?!” seketika itu juga tubuh Jong In lemas. Ia melangkah ke kamarnya. Pertanyaan heran dari nyonya Kim ia abaikan. Malah suara bantingan pintu yang nyonya Kim dengar.

“Hyesa, kenapa kau meninggalkanku?” lirih Jong In.

*Flashback end*

“K… Kau? Apa benar ini kau?” setelah hening cukup lama, Kai angkat bicara. Saeri hanya menatap heran mereka berdua. Apa hubungan teman barunya ini dengan kakak kelas populer sekolah?

“Ini aku oppa, Song Hyesa.” Hyesa langsung berlari memeluk Kai. Ia berani melakukkan itu karena ia sudah tau jawaban dari pertanyaan yang berputar di otaknya. ‘Apa benar ini Jong In oppa?’ dan ternyata hatinya berkata ‘Ya’.

Ternyata tanpa diduga Kai juga membalas pelukan Hyesa. Mereka sama-sama menyalurkan kerinduan mereka. Menyalurkan rasa sayang yang masih ada dan tidak tergantikan sampai sekarang. Mereka berpelukan dalam diam. Tak ada yang mengucapkan satu patah katapun. Murid-murid sepanjang koridorpun bungkam. Ini pemandangan langka. Seorang cowok populer sekolah! Mereka bertanya-tanya siapa wanita yang ada di pelukkannya. Berhubung Hyesa murid baru jadi belum banyak yang tahu tentangnya.

“Aku merindukanmu Hyesa-ya” bisik Kai.

“Kau benar-benar Kim Jong In?”

“Ini benar-benar aku.” Hyesa melepaskan pelukan Kai.

“Tapi, kenapa namamu Kai?”

“Aku dipanggil Kai oleh teman-teman SMPku dan itu berlanjut sampai sekarang.”

Tanpa Hyesa sadari Saeri sudah berada disampingnya. Seri menyikut pelan tangan Hyesa.

“Hyesa, kau tidak sadar kau jadi tontonan?” bisik Saeri.

Hyesa melepas pelukan Kai dan memandang sekeliling. Sial. Sebuah lingkaran manusia sudah memenuhi koridor gedung dua. Kai yang menyadari situasi itupun langsung menarik tangan Hyesa, Hyesapun menarik tangan Saeri. Ternyata Kai menariknya ke sebuah taman. sebelum berbiara apapun Hyesa terlebih dahulu memperkenalkan Saeri pada Kai.

“Oppa, ini Saeri. Teman pertamaku di sekolah ini.”

“Salam kenal Saeri! Kau tadi yang memanggilku kan? Berarti kau sudah tau namaku. Hehe.”

“Hehe, siapa yang tidak mengenalmu oppa? Kau salah satu dari duabelas cowok populer sekolah ini! Oh, sebaiknya aku pergi. Kalian pasti butuh waktu berbicara. Permisi!” Saeri yang sadar situasi langsung berjalan menjauh sambil melambaikan tangannya. Setelah Saeri tidak terlihat, Hyesa membuka pembicaraan.

“Oppa, aku ingin mengatakan sesuatu. Maafkan aku. Aku mempunyai banyak salah padamu di masa lalu. Banyak janji yang aku langgar. Untuk meminta maaf secarang langsung, untuk tidak pernah meninggalkan satu sama lain, untuk tidak pernah saling memaafkan dan lain lain. Maaf aku baru bisa minta maaf sekarang.” Ucap Hyesa sambil memainkan ujung jaketnya.

“Kau minta maaf untuk apa sebenarnya?”

“Soal es krim yang tumpah waktu itu. Kau jadi dimarahi oleh bapak-bapak itu.”

“Hahahahaa, kau minta maaf untuk itu? Harusnya kau minta maaf karena kau meninggalkanku! Aku hampair gila tahu! Pabo!!”

“Ah, soal itu, maafkan aku juga. Aku tahu aku salah. Tapi waktu itu nenek memaksaku pergi. Aku awalnya ingin berpamitan sekaligus minta maaf padamu. Maafkan aku”

“Sudahlah, itukan masa lalu. Lupakan. Tapi berjanjilah sesuatu padaku.”

“Apa?”

“Kita akan terus bersama dan jangan pernah tinggalkan aku lagi.”

“Hmm! Aku janji!” mereka mengaitkan jari kelingking satu sama lain. Tandah bahwa janji itu sudah sah. Terkesan kekanak-kanakkan memang. Tapi itu yang mereka lakukkan dulu. Mereka sama-sama tidak ingin melupakan masa lalu yang indah.

***
Hari ini Hyesa pulang bersama Kai. Sudah seminggu mereka terus bersama kemana-mana. Terkadang Saeri juga inkut bersama. Gosip sudah beredar di seluruh penjuru sekolah bahwa Kai dan Hyesa berpacaran. Tapi mereka berdua selalu mengelaknya dan berkata kalau mereka hanya sahabat. Kai satu angkatan diatas Hyesa, beruntung teman-teman perempuan Kai tidak membully Hyesa. Hari ini Kai ingin mengajak hyesa dan Saeri menuju tempat ia dan kesebelas temannya yang dikenal sebagai cowok populer sekolah berkumpul. Hanya sebuah apartemen kecil yang khusus mereka sewa untuk berkumpul.

“Hyesa! Saeri! Ppaliwaa!” teriak Kai dari dalam mobilnya. Hyesa dan Saeri langsung berlari tergopoh-gopoh. Buku-buku pelajaran masih mereka pegang asal-asalan. Tidak ada waktu untuk memasukkannya ke tas karena baru saja bel berbunyi Kai sudah menunggu sambil berteriak di depan kelas.

“Haah, kau ini! selalu saja ingin bertindak cepat. Tidak kasihan pada kami memangnya hah?!” Kai hanya tertawa melihat Hyesa dan Saeri yang penuh keringat mengingat jarak kelas mereka ke tempat parkir lumayan jauh.

“Kenapa kau tertawa oppa?!” kini giliran Saeri yang sewot.

“Hahaa, mian. Sudah cepat masuk mobil!”

“Memang kita mau kemana?” tanya Hyesa saat mobil berjalan.

“Ke markasku dan teman-teman.” jawab Kai santai.

“MWOOO?!?!” tapi yang terdengar teriakan dari arah belakang. Tepatnya dari mulut Saeri.

“Waee?” tanya Kai bingung.

“Amugotto aniya”

“Sebenarnya Saeri itu fans beratnya Baekhyun oppa, dia malu jika bertemu Baekhyun oppa.” Baekhyun adalah salah satu teman Kai.

“Hahaha! Kau malu bertemu Baekhyun? Tenang saja aku akan mengenalkan kau padanya.” ujar Kai sambil menahan tawa gelinya.

“Aish, kau ini! Awas saja kalau kau macam-macam!”

Perjalanan selanjutnya diselingi dengan canda tawa, tanpa sadar mereka sudah sampai tempat tujuan. Sebuah apartemen mewan yang ternyata isinya anak-anak SMA. Hyesa dan Saeri hanya mengekor di belakang Kai sambil bergandengan tangan. Dan sampailah mereka di depan pintu bernomor 309. Kai mengeluarkan kartu apartemennya dan pintupun terbuka. Mereka masuk dan terlihatnya jejeran laki-laki tampan memenuhi ruangan. Saeri sedikit meremas tangan Hyesa saat melihat Baekhyun.

“Perhatian semua, aku membawa dua gadis cantik ke apartemen kita!” suara Kai terdengar.

“Nugu? Nuguyaaa?!?!!” kumpulan laki-laki itu langsung berkumpul memenuhi ruang tamu.

“Annyeonghaseyo, Hyesa imnida dan ini Saeri. Salam kenal sunbaenim.”

“Ah! Jadi kau yang bernama Hyesa. Kau benar-benar pacar Kai-ku?” Kyungsoo, salah satu dari mereka berbicara.

“Tidak sunbae, kami hanya sahabat kok.”

“HYA! Kyungsoo! Berhenti bicara Kai-ku! Aku bukan milikmu tahu!!”  Kai berteriak sewot.

“Hahahahaa!” semua orang disana tertawa.

Perbincangan dilanjutkan, canda dan tawa menggema. Saeri sudah mulai dekat dengan Baekhyun. Tanpa terasa sudah lama mereka berbincang, dan hari sudah sore. Hyesa dan Saeri mohon pamit, Kai mengantar mereka. Tanpa ada yang sadar, salah satu dari keduabelas orang disana memperhatikan gerak-gerik Hyesa sedari tadi. Dia merasa ada sesuatu yang menarik perhatiannya dari diri Hyesa. Seorang pria berambut pirang.

***

“Kai oppa, kita mau kemana hari ini? Kenapa kau memaksaku pergi? Aku ada tugas untuk besok!”

“Ini kan sudah sebulan setelah kita bertemu kembali, aku ingin merayakannya!”

“Kita akan makan? Aku sudah kenyang.”

“Memangnya mau kema…….” kata-kata Hyesa terputus saat melihat gedung yang menjulang tinggi didepannya.

“Kau sudah tau kan. Jadi aku tidak perlu menjawabnya.”

Kai menarik tangan Hyesa dan segera mesuk kedalam gedung tersebut. Saat berjalan Hyesa terdiam sambil memandang kagum sekelilingnya. Ini adalah tempat yang dari kecil sangat ingin ia kunjungi. Namsan Tower. Lantai teratas gedung ini berisi gembok-gembok atau gantungan nama-nama yang saling bertautan. Banyak yang bialng kalau menaruh namamu dan pasangan disini cintanya tidak akan pernah putus. Hyesa memang bingung kenapa Kai mengajaknya kesini. Mereka bukanlah pasangan. Tanpa disadari mereka sudah sampai lantai teratas.

“Aku sudah membeli dua gembok untuk kita. Ayo kita tulis nama masing-masing! Semoga persahabatan kita tidak pernah putus!”

Hyesa dan Kai saling menulis. Hyesa menulis sedikit panjang.

‘Tuhan jika mitos ini benar, biarkan aku tetap bersama Kai. Aku merasa aku mencintainya. Semoga dia punya perasaan yang sama terhadapku.’

“Hyesa-ya apa yang kau tulis sebenarnya? Panjang sekali!”

“Mau tau aja!”

“Kau ini! Awas jika kau melihat punyaku!”

Merekapun mengaitkan gembok mereka beserta tulisannya di pagar yang tersisa. Setelah itu mereka duduk-duduk sebentar kemudian makan malam. Dan terakhir Kai mengantar Hyesa pulang ke rumahnya dengan selamat.

***

Hari ini Hyesa pergi ke rumah Kai. Ia memang sudah berjanji ingin masak bersama ibunya Kai. Mereka akan masak bibimbab dan takoyaki hari ini. Hyesa sudah membawa beberapa bahan yang sekiranya tidak ada di rumah Kai. Akhirnya sampailah dia di depan rumah Kai. Setelah mengetuk sebentar muncullah wajah Kai.

“Ada apa kau kemari Hyesa-ya?”

“Kau lupa ya? Aku ada janji dengan eomonim untuk masak bersama!”

“Oh! Pantas saja daritadi dia sibuk di dapur tapi tidak masak apapun. Kalau begitu masuklah, langsung saja ke dapur. Masak yang enak ya, biar aku yang makan ga kecewa.”

“Huh! Dasar! Nanti di mangkukmu akan aku berikan racun serangga!”

“Jahat sekali kau Hyesa!”

Hyesa langsung berlari meninggalkan Kai sambil menjulurkan lidahnya.

“EOMONIM! AKU SUDAH DATANG! AYO KITA MASAK!!” teriak Hyesa penuh semangat. Kai hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah Hyesa.

Hyesa dan ibu Kai mulai memasak. Mereka memasak diiringi tawa. Terkadang Kai membantu tapi akhirnya diusir oleh ibunya karena lebih banyak merusuh. Jadilah Kai hanya duduk di dekat dapur sambil menunggu masakannya matang.

“Masakan matang!” seru ibu Kai. Kai yang mendengar hal itu langsung duduk tegap menunggu datangnya makanan.

“Kai! Bantu aku!” Hyesa sedikit berteriak karena tidak kuat mengangkat piring bibimbab yang cukup berat. Hari ini ia dan ibu Kai membuat porsi besar.

Kaipun datang dan membantu Hyesa membawa piring yang menurutnya enteng. Setelah makan bersama orangtua Kai. Ayahnya baru saja pulang. Hyesa mohon pamit. Sebelumnya ibu Kai menitipkan makanan yang tadi mereka buat untuk orangtua Hyesa. Dan Hyesa dengan senang hati menerimanya.

“Nah, sudah sampai” Kai mengantar Hyesa sampai rumahnya.

“Kau tidak masuk dulu? Eomma pasti rindu padamu.”

“Baiklah, tapi sebentar saja ya. Sudah malam.”

“Iya, ayo masuk! EOMMA! ADA KAI!!” ibu Hyesa yang mendengar teriakan anaknya langsung turun ke bawah. Hyesa menyerahkan titipan ibu Kai.

“Selamat malam eomonim! Tadi kata Hyesa eomonim kangen ya sama Kai. Jadi malu. Hehe…”

“Kau ini, iya eomonim memang kangen. Habisnya Kai tidak pernah mampir lagi. Oh ya, ucapkan terima kasih pada eomma mu ya. Bilang tante ngajak ketemuan. Eomonim kangen sama eomma mu.”

“Haha, siap eomonim! Chenmanyeo. Saya pamit dulu ya tante. Sudah malam.”

“Ah, baiklah. Hati-hati ya!”

“HATI-HATI KAI!” seru Hyesa dari dalam rumah.

***

“Hyesa! Kau sudah tau kau akan dilatih oleh siapa?” ucap Saeri sedikit berteriak.

“Hmm, belum. Memangnya kau sudah tau?”

Hari ini adalah hari pengumuman siapa kakak kelas yang akan menjadi tutor selama dua minggu. Sekolah ini memang mementingkan seni. Walaupun dia mengambil jurusan umum, pasti tiap tahunnya mereka akan mendapat pelatihan khusus dibidang seni. Seperti saat ini. Hyesa sangat kurang di seni tari dan dia akan mendapat pelatihan khusus dari kakak kelas jurusan dance. Dan dia belum tau itu siapa.

“Belum, ayo kita lihat!”

Hyesa dan Saeri berusaha menembus papan pengumuman yang sangat padat. Mereka merasa seperti sedang mengantri sembako. Saat berhasil menerobos kerumunan Hyesa dan Saeri segera mencari nama mereka.

28. Im Saeri akan di latih oleh Byun Baekhyun

…..

34. Song Hyesa akan di latih oleh Kris Wu

“APA?! A…Aku di latih Baekhyun. Tuhan! Apa ini mimpi?” Saeri mulai menepuk-nepuk pipinya seperti orang gila.

“Saeri-ah, sebaiknya kau keluar kerumunan dulu baru berteriak. Kasihan yang lain.”

Setelah keluar kerumunan, Hyesa melihhat Kai berdiri di dekat kelasnya. Ia segera menghampiri Kai dan meninggalkan Saeri yang masih menepuk-nepuk pipinya.

“Oppa, kau jadi tutornya siapa?”

“Hyo Nara, entahlah siapa itu. Kenapa aku tidak menjadi tutormu?! Kau kan payah di dance!”

“Aish, kau ini! Aku di tutor oleh Kris Wu. Kau tau yang mana orangnya?”

“Itu temanku yang tinggi, blasteran Cina-Kanada, dan berambut pirang.”

“Oh, itu. Aku ingat.”

***

“Annyeonghaseyo Kris sunbaenim, aku murid yang akan kau latih. Mohon kerjasamanya!” Hyesa membungkuk 90 derajat.

“Ah, ne. Kau pacar Kai kan?”

“Aniyo sunbae. Aku hanya bersahabat dengannya.”

“Oh, ara. Kita langsung mulai saja latihannya”

Hyesa melakukkan gerakan step by step dasar dari Kris. Namun karena memang inilah kekurangannya gerakan yang harusnya lentur malah menjadi gerakan robot patah. Kris berulang kali memperbaiki gerakan Hyera namun Hyera tak kunjung berhasil. Kesabaran Kris mulai habis. Ia meraih tangan Hyera dan membimbingnya dari belakang. Orang-orang yang melihatnya pasti mengira Kris sedang memeluk Hyera.

“Sun…Sunbae. tak bisakah kau melepas tanganmu?”

“Wae? Kau tidak akan pernah bisa jika kuajari seperti biasa. Sudahlah diam. Aku tau aku tampan, tapi tidak perlu gugup begitu.”

“Siapa yang gugup?! Aku tidak gugup!” jawab Hyesa mantap. Kris hanya tersenyum kecil mendengar jawaban Hyesa.

Latihan pun berjalan lancar. Hyesa ternyata lebih cepat menangkap dengan cara seperti tadi-_- buktinya sekarang dia sudah menguasai 3 gerakan dalam waktu satu jam.

“Benarkan kataku! Kau harus belajar dengan cara seperti tadi! Karena kau melihat wajah tampanku dari jarak dekat sehingga kau mendapat energi tambahan!”

“Enak saja! Lebih tampan juga Choi Minho!”

“Yang penting aku lebih tampan dari Kai!”

“Siapa bilang?! Dia jauh lebih tampan dari pada sunbae!”

“Uh, aku patah hati.” Jawab Kris dengan memasang muka pura-pura memelas.

“Haha, sunbae! Kau tambah jelek jika seperti itu! Aku pulang dulu! Annyeong!”

“Haish, kurang ajaarr!!”

***

“Hyesa! Gerakannya bukan seperti itu! Harusnya kau menggerakan tanganmu kesini kemudian berputar!” Kris menjelaskan gerakan pada Hyesa.

Ya, mereka sudah seminggu latihan bersama. Kedekatan mereka pun sudah menjadi sorotan sekolah. Tak berbeda jauh dengan kedekatan Kai dan Hyesa. Tapi tetap saja pamor Kai Hyesa lebih besar daripada Kris Hyesa. Kris orang yang baik, tapi sedikit keras kepala. Hyesa menyukainya, bahkan mungkin lebih. Perhatian Kris pada Hyesa membuat Hyesa menyayangi Kris. Tapi, bagaimana dengan Kai? Hyesa juga menyayanginya? Entahlah.

“Baiklah oppa! Aku akan mencobanya.”

***

“Oke, latihan hari ini selesai. Jaga dirimu baik-baik. Jangan sampai kau jatuh sakit!” Kris mengakhiri latihan dengan mengacak rambut Hyesa.

“Oppa, rambutku berantakan tau!”

“Hahaha. Minum dulu nih!” Kris memberikan sebotol air mineral.

“Gumawo oppa!”

“KRIS OPPA! LATIHAN SUDAH SELESAI KAN? AKU BAWA PERGI HYESANYA YA!” suara cempreng Saeri terdengar.

“Sudah, cepat bawa Hyesa dan pergi. Suaramu merusak kupingku tau!”

“GUMAWO NAE OPPA!”

“Menjijikan.” Umpat Kris

Hyesa langsung berjalan mendekati Saeri. Saeri langsung menarik Hyesa menjauh.

“Ada apa?”

“Aku… Aku jadian dengan Baekhyun oppa!”

“APA?! KAU SERIUS?!”

“Tidak. Ya jelas aku serius lah!”

“SELAMAT! Semoga kau langgeng dengannya! Dan aku cepat menyusul!”

“Amin! Menyusul dengan siapa? Kai oppa atau Kris oppa?”

“Ih! Apaan sih”

“Hyesa, itu bukannya Kai oppa?”

Hyesa menoleh ke arah yang dilihat Saeri. Terlihatlah sosok Kai sedang menggandeng seorang wanita mungil berambut sebahu. Apa itu Hyo Nara? Kenapa mereka begitu dekat? Hati Hyesa terbakar cemburu. Apa iya Hyesa mencintai Kai? Ya. Bahkan ia sudah mencintai Kai sejak kecil. Namun sekarang Hyesa bingung terhadap perasaannya. Ia bingung siapa yang sebenarnya ia cintai saat ini. Kai atau Kris. Keduanya telah mengisi hatinya.

***

“Hyesa, ini hari terakhir kita latihan. Tubuhmu sudah lumayan lentur dan bisa digerakkan untuk menari tidak seperti saat pertama latihan. Kau seperti robot yang belum di service tau?”

“Kau jahat sekali oppa!” Hyesa cemberut dengan kata-kata Kris.

“Haha! Wajahmu sangat lucu saat cemberut!”

“Eh?”

“Hmm.. Hyesa, aku ingin bicara sesuatu. Tapi kau harus mendengarkannya baik-baik.” Kris menghela nafas. “Aku.. Sepertinya aku mencintaimu. Maukah kau mendari pacarku?”

“Apa?! Kau tidak salah oppa?”

“Tidak, aku serius!”

“Aku tidak tau oppa. Aku bingung. Bisakah aku berfikir dulu?”

“Kau bisa menjawabnya kapanpun”

“Baiklah, aku pergi oppa” Hyesa langsung kabur setelahnya. Ia sangat bingung harus menjawab ya atau tidak. Disatu sisi ia menyayangi Kris. Tapi disisi lain dia mencintai Kai. Dia terus berfikir tanpa melihat kanan dan kiri. Pikiran-pikiran itu membuatnya bejalan tanpa arah. Tiba-tiba dia mendengar suara Kai.

“HYESA!! AWASS!!!!” Hyesa menoleh, dia melihat Kai berlari cepat ke arahnya seiring dengan sebuah mobil berkecepatan tinggi datang ke arahnya. Hyesa kaku. Kakinya lemas. Kemudian…

CCIIIITTT BRAAKK!!

Tubuh Hyesa serasa remuk semua. Ia merasa berat. Saat sedikit membuka matanya terlihatnya wajah Kai yang berlumuran darah. Kemudian semuanya gelap.

***

 

“Euuunghh.” Kai membuka matanya perlahan. Kepalanya terasa sangat pusing, seluruh badannya terasa sangat ringan. Terlihat disekelilingnya hanya ruangan serba putih. Di sebelahnya terbaring sosok gadis yang sangat cantik menurutnya. Song Hyesa. Kai masih bingung perihal dimana dia berada sekarang. Kepalanya bertambah sakit. Dia sedikit mengerang.

“Eummhh” terdengar suara lain dari arah kiri Kai. Tepatnya suara Hyesa.

“Dimana aku?” suara Hyesa kembali terdengar.

“Aku tidak tau. Bangun-bangun aku sudah berada disini.” jawab Kai.

“Oh, ada kau rupanya oppa!”

TRING

Tiba-tiba mucul seseorang dihadapan mereka. Sosok tinggi dengan sorot mata tajam dan dingin yang menggunakan baju serba putih.

“Kalian sudah sadar rupanya.”

“SIAPA KAU?!” pekik Kai dan Hyesa bersamaan.

“Aku malaikat Tao yang ditugaskan membantu kalian selama kalian berada disini.”

“Memangnya kami ada dimana?” Hyesa bertanya.

“Kalian berada di dunia ruh. Dunia dimana kalian berwujud ruh. Dalam dunia nyata kalian sedang terbaring koma, saat ini kalian adalah ruh. Kalian bersifat seperti manusia biasa, bedanya hanya kalian tidak terlihat. Selain itu kalian seperti manusia pada umumnya.”

“Dunia ruh? Mengapa kami berada disini? Kapan kami bisa kembali ke dunia yang sebenarnya?”

“Kalian disini karena kalian berdua belum saatnya meninggal dunia. Salah satu dari kalian ada yang harus meninggal dunia. Tapi, siapa yang akan meninggal ditentukan diri kalian sendiri. Yang akan meninggal harus mengetahui alasan kenapa dia harus pergi. Alasan itu tidak boleh difikirkan! Tapi, harus kalian temukan. Nikmati hidup kalian! Oh ya, takdir bisa saja berkata lain!”

TRING

Dia menghilang.

***

“Hyesa, kita harus kemana?” Kai bertanya pada Hyesa yang sedari tadi terus melamun.

“Tidak tau oppa. Aku bingung.”

“Awas!” Kai sedikit menarik tubuh Hyesa. “Kau hampir saja menabrak orang, bodoh!”

“Mianhae. Bagaimana kalau kita jalan-jalan ke tempat masa kecil kita. Mumpung kita bisa berpindah tempat dengan cepat!”

“Kau benar! Kajja!”

Mereka berjalan cepat menuju tempat yang mereka inginkan. Tujuan pertamanya adalah toko es krim. Toko favorit mereka. Tempat dimana mereka sering menghabiskan es krim bersama. Es krim vanila kesukaan Hyesa dan es krim coklat kesukaan Kai. Mereka duduk bersama di kedai kecil itu.

“Oppa, kau ingat tidak saat aku iseng memberimu es krim rasa durian? Setelah memakannya kau langsung muntah-muntah bukan? Hahaha”

“Sudah! Itu kejadian memalukan! Patut untuk dilupakan!”

“Hahaha, baiklah oppa.”

Mereka terus bernostalgia mengingat masa kecil mereka. Saat dimana Kai bertindak bodoh atau saat dimana Hyesa bertindak ceroboh. Mereka saling menceritakan kenangan masa kecil mereka.dan perbincangan itu terhenti karena hari sudah mulai malam. Jika toko ini tutup, mereka akan terkunci di dalam dan harus menunggu sampai besok. Jadi, lebih baik jika mereka pergi sekarang.

***

Hari ketiga mereka berada di dunia ruh. Mereka memutuskan untuk ke Jepang. Kai ingin mengetahui kehidupan Hyesa disana.

Di jepang.

“Nah! Itu rumahku dulu oppa! Sederhana tapi menyenangkan.”

Kai dan Hyesa masuk ke dalamnya. Kebetulan Seo ajhumma pengurus rumah Hyesa di Jepang membuka sebuah jendela dekat ruang utama. Setelah berhasil masuk Hyesa langsung menunjuk sebuah pintu berwarna pink.

“Ah! Itu kamarku oppa!”

“Jinja? Ayo kita masuk!” seru Kai.

“ANDWE!”

“Wae? Aku ingin masuk!” Kai segera berlari memasuki kamar Hyesa.

“Aigoo, eoddokhaji?!”

Saat Kai masuk hal yang pertama dilihatnya adalah sebuah pigura berisi fotonya dan Hyesa pada masa kecil.

“Kau masih menyimpannya?”

“Eum, ne”

Kai berkeliling kamar dan sangat banyak hal yang berhubungan dengannya di sana. Mulai dari surat-surat masa kecilnya, mobil-mobilan yang pernah ia berikan pada Hyesa, kado-kado ulangtahun Hyesa darinya sampai coretan pada kertas, meja bahkan sedikit di dinding yang bertuliskan namanya. ‘Kim Jong In ♥’ Tanpa Kai sadari ia menitikkan air matanya.

“Oppa! Mengapa Kau menangis?”

Tiba-tiba Kai memeluk Hyesa, “Gumawo” bisiknya sambil mengelus puncak kepala Hyesa.

“Kkk.. Ne cheonma!”

Kai mengeratkan pelukannya dan mencium puncak kepala Hyesa. Yang Hyesa tau itu adalah saat paling bahagia menurutnya.

“Kalau itu tempatku dulu sering bermain. Tapi tetap saja disini terasa sepi tanpamu oppa!”

Hyesa terus berceloteh panjang lebar sedangkan Kai lebih memilih untuk memandangi wajah cantik gadis yang ia sayangi. Gerak tubuhnya yang ekspresif, cara berbicaranya, rambut panjangnya, segalanya tentang gadis ini.

Sekarang mereka telah berada di taman kecil yang berisi banyak pohon Sakura. Pemandangannya sangat Indah! Kai merangkul pundak Hyesa. Tanpa Kai sadari Hyesa menangis dalam rangkulannya. Hyesa sangat takut kehilangan Kai. Ia tidak ingin kehilangan Kai untuk kedua kalinya. Ia ngin terus bersama Kai. Tapi, apa takdir berkata seperti itu? Hyesa merasa bersalah pada Kai, karena dirinyalah Kai sekarang berada disini. Bukannya sedang berkumpul dengan teman-temannya. Hyesa terisak. Dan kali ini Kai menyadarinya. Dengan sigap Kai langsung merengkuh tubuh mungil Hyesa dan membisikkan kata-kata seakan mengerti apa yang Hyesa pikirkan.

“Jangan takut kehilangan orang lain. Walaupun kau kehilangan dirinya, tapi percayalah kau akan tetap dihatinya. Serahkan semua pada takdir.”

Kai melonggarkan pelukannya dan menatap wajah Hyesa. Sebuah kecupan singkat ia daratkan ke dahi Hyesa.

***

Setelah pergi ke taman, Kai memutuskan untuk membeli sesuatu di toko dunia ruh. Ia pergi meninggalkan Hyesa sebentar dan mengambil dua barang yang ia anggap cocok

***

Ini sudah hari ke lima dan mereka menyempatkan diri mampir ke rumah sakit tempat mereka dirawat. Dan disana terlihatlah sosok Kris sedang menggenggam tangan Hyesa dan menangis. Seumur-umur Kai belum pernah melihat Kris menangis. Ini pertama kalinya! Hyesapun shock melihat Kris menangis. Tapi, Kai lebih terkejut. Ia merasa seperti terpukul.

Hyesa dan Kai sama-sama terdiam. Sebegitu besarnya kah cinta Kris pada Hyesa? ‘Apa memang tindakan itu yang perlu aku lakukkan?’ batin Kai.

***

Setelah pergi ke rumah sakit mereka memutuskan untuk pergi ke sungai tanpa nama mereka. Hyesa menyenderkan kepalanya di bahu Kai dan kembali menangis. Kai menyadari hal itu. Tapi ia hanya mengusap pelan rambut Hyesa karena dirinya juga sedang sedih mengingat keputusan yang ia buat.

Hyesa dan Kai bermain air di sungai itu. Mereka berdua saling mencipratkan diri satu sama lain dengan air. Mengingat tempat ini adalah tempat pertama mereka bertemu. Hyesa kecil yang sedang duduk di pinggir sungai dihampirik oleh sosok pria mungil yang mengajaknya berkenalan. Mulai dari situlah persahabatan mereka berlanjut.

“Awas kau Song Hyesa! Kau tidak bisa lari dariku!” Kai mengejar Hyesa yang tadi sudah sukses membuat bajunya basah.

“Tangkap saja kalau bisa oppa! Bwee!” Hyesa menjulurkan lidahnya.

“Kemari kau!!”

“Coba tangkap akuu!”

“Akan ku… SONG HYESA! AWASS!”

Hyesa yang sedari tadi berlari tanpa memperhatikan arah tidak sadar bahwa ada satu truk besar yang berjalan cepat ke arahnya. Hyesa merasakan dorongan yang amat keras, kepalanya sedikit membentur trotoar. Saat ia berbalik ia sudah melihat tubuh Kai berlumuran darah sedangkan Truk tapi pergi begitu saja berhubung sang supir tidak bisa melihat mereka.

“OPPA!!” air mata turun deras dipipinya

Hyesa berlari ke arah Kai dan memeluknya. Kai masih bernafas saat itu. Hyesa berharap Kai akan segera pulih mengingat mereka adalah ruh. Tapi sepertinya itu semua tidak mungkin.

“Hye..sa.. Ini sangat sakit”

“Oppa! Bertahanlah! Oppa pasti bisa! Jangan tinggalkan aku oppa!”

***

 “Cinta tidak selalu berpihak pada kita, ada saatnya kita harus berkorban untuknya. Ada kalanya kita berbahagia bersama dia, ada kalanya pula kita merelakan kebahagiaan kita untuknya.

Aku percaya, semua akan bahagia pada saatnya. Mungkin kebahagiaanku bersamanya hanya bisa sampai disini. Memang tidak lama, tapi aku bahagia. Bagaimanapun kebahagiaannya adalah sesuatu yang paling berharga bagiku. Saat dia bahagia, akupun juga merasakannya. Tatkala cinta harus merelakan, relakanlah. Biarkan dia bahagia bersama orang lain, walau itu bukan diriku. Sesakit apapun diriku, aku tidak peduli. Asalkan dia bahagia, kematianpun ku ladeni. Seperti saat ini. Saat terakhirku bisa menggenggam tangannya.  Percayalah, dia pasti akan memberikan setitik tempat untukku dihatinya. Tapi bagiku, seluruh hatiku hanyalah untuknya. Everything is you Hyesa, malaikatku.” –Kai.

Kai berusaha mengeluarkan sebuah benda yang ia cari-cari dari dalam tasnya. Walaupun saluruh tubuhnya terasa amat sakit dia tetap saja berusaha mengambil benda itu. Benda yang ia beli saat mereka di Jepang. Benda terakhir yang ingin ia persembahkan untuk Hyesa. Kai susah payah mengeluarkan benda itu. Dan saat berhasil tubuhnya sudah sangat lemah.

“Si..Simpan ini Hye..Sa.. Ber..Berbahagialah dengan Kris. Itu permintaan terakhirku.” Kai berusaha menghapus airmata Hyesa

Tubuh Kai sedikit demi sedikit memudar. Hyesa semakin sulit merengkuhnya.

“Oppa! Kau harus bertahan! Jangan tinggalkan aku oppa!” jerit Hyesa histeris.

“Mianhae Hyesa, *saranghae…”

Setelah mengucapkan hal itu tubuh Kai menghilang dan saat itu pula ruh Hyesa kembali ke tubuhnya. Sungai tanpa nama, saksi pertemuan pertama dan terakhir mereka.

***

“Ada satu yang ingin aku tanyakan. Mengapa kau menyuruh kami menemukan jawabannya? Bukankah itu hanya mempersulit keadaan?” tanya Kai

“Kau belum mengerti rupanya. Aku menyuruh kalian menemukan jawaban itu karena jika tidak kau pasti akan merelakan nyawamu begitu saja, dan Hyesa akan menganggap itu hanya pengorbanan seorang sahabat. Bukan cinta. Aku ingin kalian menyadari apa yang ada di dalam hati kalian, aku tidak ingin kau mati sia-sia. Karena aku sayang pada kalian berdua. Jadi apa alasannya?” ternyata dibalik sisi dinginnya malaikat Tao punya sisi yang hangat.

“Ya, aku sudah mengetahuinya. Sangat mengetahuinya bahkan. Karena aku mencintainya.”

***

Hari ini Hyesa sudah diperbolehkan pulang. Saat sampai di kamarnya ia melihat kotak yang sama persis dengan yang Kai berikan. Sontak airmatanya mengalir deras. Ia rindu pada Kai. Tapi kali ini ia tidak akan pernah bisa bertemu dengan Kai lagi. Selamanya. Ia harus menunggu ajal menjemputnya baru ia bisa bertemu Kai lagi. Ia membuka kotak itu. Didalamnya ada sebuah boneka teddy putih dan sebuah kalung. Disanapun ada sepucuk surat.

‘Hyesa, Kai menitipkan ini tepat sehari sebelum kalian kecelakaan. Mungkin dia sudah tau takdir akan menjemputnya. Ia sangat memohon pada eomonim untuk memberikan ini padamu. Eomonim tau, Kai sangat mencintaimu. Sejak kecil ia tidak pernah berhenti memikirkanmu. Saat kau pergi ke Jepang, kau harus tau bagaimana sikap dirinya. Dia hampir gila! Dia mengurung diri dikamar selama seminggu penuh. Mungkin semuanya sudah terlambat, tapi tante hanya ingin kau tau bahwa dia sangat mencintaimu.’

Surat dari ibu Kai yang sukses membuat air mata Hyesa mengalir jauh lebih deras dari sebelumnya. Ia merasa sangat bodoh tidak menyadari hal itu. Ia merasa sangat jahat karena Kai mengorbankan nyawanya untuk Hyesa. Ia merasa tertekan!

Satu tempat yang ia ingin kunjungi sekarang. Namsan Tower. Tempat yang sangat ingin ia kunjungi bersama Kai. Dan akhirnya terwujud.

***

Hyesa melangkahkan kakinya menuju tempat gembok-gembook dipasang. Ia mencari gembok miliknya dan Kai. Ia sangat ingin melihat apa yang Kai tulis saat itu. Ia berhasil menemukannya. Gembok hati berwarna biru. Ia membuka gulungan kertas milik Kai. Dan terlihatlah sederet tulisan berantakkan milik Kai.

‘Tuhan, aku mencintainya. Biarkan dia bahagia, karena dia segalanya bagiku.’

Airmata Hyesa mengalir kembali. Ia tidak menyangka cinta Kai padanya sangatlah besar. Ia sangat menyesali masa lalunya. Ia terlalu bodoh. Hyesa jatuh tertunduk sambil memeluk lututnya. Pandangan aneh orang-orang tidak dihiraukannya. Mereka semua tidak tau seberapa sakit Hyesa sekarang.

***

Hyesa berdiri di depan gundukan tanah yang tertancap nisan bertuliskan nama orang yang sangat berarti dalam hidupnya. Kim Jong In. Disebelah kanannya berdiri sosok pria tinggi yang sedang menggandeng dua anak kecil. Kris. Di sebelah kirinya ada sepasang pria dan wanita yang baru saja menikah. Baekhyun dan Saeri. Dua anak kecil yang berada dalam genggaman Kris melepaskan genggamannya dan maju sedikit kedepan dan berlutut di hadapan makam Kai. Mereka adalah Wu Jong Sa dan Hye In.

“Annyeonghaseyo hyung! Aku Jong Sa! Mungkin hyung belum mengenalku, tapi aku sangat mengenal hyung. Ibu dan ayah sering bercerita tentang hyung! Kata mereka hyung adalah laki-laki paling baik, tulus dan memiliki pengorbanan yang besar! Saat sudah besar nanti aku ingin menjadi seperti hyung!”

“Annyeong! Aku Hye In! Oppa, kau tau? Menurut cerita ayah dan ibu, pendapatku adalah kau itu laki-laki paling sempurna! Saat besar nanti aku akan mencari pacar yang sifatnya seperti oppa! Oppa sudah mau berkorban banyak! Terima kasih oppa!”

“Kai-ah, apa kabarmu disana? Kau tau? Aku merindukanmu bodoh! Aku rindu sifatmu, aku rindu melihat kau menari. Kapan kita bisa bertemu? Kau! Berjanjilah sesuatu! Jangan pernah lupakan kami! Karena kami tadi pernah melupakanmu! Jaga dirimu disana!” kini giliran Baekhyun yang bersuara.

“Oppa! Aku rindu padamu! Kapan aku bisa melihat kau yang menyebalkan lagi? Oh ya, sekarang aku sudah bersama Baehyun oppa. Katanya oppa mau mengenalkanku padanya! Mana buktinya? Malah aku yang berkenalan sendiri! Sudah dulu ya oppa! Jaga dirimu!” Saeri angkat bicara.

“Kai-ah, aku sangat rindu padamu. Terimakasih atas segalanya. Karena dirimu aku bisa bersama Hyesa sekarang. Tanpa pengorbananmu aku tidak akan bisa seperti ini! terimakasih atas segalanya! Kau teman terbaikku! Berbahagialah!” Kali ini Kris yang bicara.

Hyesa sedikit melangkah maju mendekati makam Kai. Kris yang menyadari situasi segera berucap. “Jong Sa, Hye In! Ayo kita kesana! Kita beli es krim!”

“Ayo ayah! Dadah Kai oppa! Kapan-kapan aku akan berkunjing lagi!” sahut Jong Sa dan Hye In bersamaan. Baekhyun dan Saeri pun mengikuti mereka. Kini tinggal Hyesa sendiri disana.

“Kai oppa. Apa kabarmu disana? Aku harap kau baik-baik saja. Kau lihat? Disini aku sudah berbahagia seperti yang kau suruh. Aku sudah mempunyai dua malaikat kecil. Mereka sangat mirip dengamu. Oppa, sebenarnya aku ingin berbicara banyak, tapi aku rasa aku akan mempersingkatnya.” Airmata Hyesa turun. Ia segera mengusapnya.

“Terima kasih oppa atas segalanya. Segala yang kau berikan untukku. Pengorbananmu selama ini tidak akan pernah terbayarkan dengan apapun. Aku mencintaimu. Walau sekarang hatiku telah terisi oleh Kris dan dua malaikatku, tapi namamu tetap terpahat dengan sempurna di sudut hatiku. Aku tidak akan pernah melupakanmu. Oh ya, terma kasih kalungnya. Kalung ini sangat indah oppa. Aku akan terus memakainya! Sampai sini dulu ya oppa, aku pamit dulu.”

Hyesa membuka kalung berbentuk liontin itu. Terlihatlah sebaris tulisan. ‘Everything is you, baby’. Air mata Hyesa kembali turuh. Ia segera menutup kalung itu dan menghapus airmatanya. Ia meletakkan bunga yang ia bawa disebelah bunga-bunga milik Kris dan lain-lain. Ia melangkah meninggalkan makam milik Kai. Dan tanpa ada yang tau dari kejauhan sosok Kai sedang memperhatikan mereka.

“Aku menyayangi kalian semua.” Lirihnya.

***

“Cinta tidak selalu berpihak pada kita, ada saatnya kita harus berkorban untuknya. Ada kalanya kita berbahagia bersama dia, ada kalanya pula kita merelakan kebahagiaan kita untuknya. Cinta butuh pengorbanan. Cinta bukanlah sesuatu sederhana, cinta itu rumit. Jangan pernah anggap cinta itu remeh. Karena cinta mempersatukan dua hati, dan cinta juga bisa memisahkannya. Jaga baik-baik apa yang kau sebut cinta. Kesalahan sedikit saja akan berakibat fatal bagi jiwamu, terutama hatimu. Hati yang retak tidak bisa dengan mudah menyatu kembali. Butuh orang yang tepat untuk memperbaikinya. Tapi terkadang, saat hati yang retak berbanding terbalik dengan hati orang yang kau cinta. Kau akan memilih untuk meretakkan hatimu, dan membuat utuh hatinya. Walau itu tak mudah, tapi kau akan memberikan segalanya. Selamanya dia ada dihatimu.” –White Teddy-

~END~

Thanks for reading guys! :*

9 pemikiran pada “Everything is You

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s