Ha-Na (Chapter 6)

Title                 : Ha-Na (Part 6)

Author             : Lucky Cupcake

Rating             : PG-13

Lenght             : Chapter

Genre              : Romance, Friendship

Cast                 : Xi Luhan (EXO) Kim Ha Na (OC)

Support cast    : Na Eun (A Pink) Sandeul (B1A4) Jong Hun (FT Island)

Disclaimer       : Abis dengerin lagu Love Day terus muncul inspirasi-inspirasi gila(?) kkekeke^^ Lagu Love Day bener-bener ngasi inspirasi banget. Cocok buat jadi OST ff ni(?), wkwk 😀

page (1)

 ————————————————————————————————————————

            Ha Na POV

“Nona Kim, pasanganmu mana?” pembawa acara bertanya padaku.

“A-anu, i-itu”

            “Aku pasangannya! Maaf aku terlambat” dari belakang panggung muncul seseorang. Luhan!? Sedang apa dia disini!?

“Baiklah, karena pasangannya sudah datang mari kita sambut penampilan pasangan nomor urut 10!!” para penonton pun bertepuk tangan. Kenapa Luhan yang jadi pasangannya? Bukannya Sandeul!? Lalu Naeun berpasangan dengan siapa? Pasti ada sesuatu di antara mereka. Penonton mulai bertanya-tanya apa yang sedang terjadi.

“Ta-ta-tapi—“ aku mencoba berbicara pada pembawa acara tapi Luhan tiba-tiba menarik tanganku dan berbisik.

“Ha Na………, tolong jangan menghindar lagi, berjanjilah..Jangan buat aku sedih lagi” bisikannya terdengar sangat memohon. Aku sudah tidak kuat lagi untuk menghindar darinya. Musik pun dimulai. Sebelum aku mulai bernyanyi, aku tersenyum padanya dan berkata.

“Aku….. berjanji” Luhan tersenyum senang. Matanya terlihat sedikit berkaca-kaca. Sepertinya Luhan mempunyai perasaan yang sama sepertiku. Mungkin ini kesempatan yang bagus untukku mengungkapkan semua padanya. Aku merasa bersalah pada Naeun. Aku lihat dia pergi dari bangku dengan wajah sangat kecewa. Maafkan aku Naeun, aku tidak bisa mengabulkan permohonanmu. Aku harus mengatakannya.

neoreul manhi manhi chohahae, neoreul na saranghage dwaettnabwa, ddokgachi malhago shipeunde, naega geuraedo dwilkka, jomdeo gidaryeobolkka

Aku merasa sepertinya lagu ini sangat cocok dengan keadaanku saat ini. Ditambah lagi aku bernyanyi bersama tokoh utamanya. Ini untuk pertama kalinya aku mendengar Luhan bernyanyi. Suaranya benar-benar indah. Aku ingin waktu berhenti di saat itu juga.

Plok..plok..plok. Penonton mulai bertepuk tangan dengan riuhnya. Waaah, mereka bagus sekali. Pasangan yang sangat cocok. Kuharap mereka pemenangnya. Aku mendengar banyak tanggapan baik dari teman-teman.

Aku dan Luhan pun turun dari panggung. Dan kami menemukan Sandeul dengan senyuman anehnya.

“Ekhem, maaf noona, sepertinya hyung tidak mengizinkanku berduet dengan noona”

“Yaah! Bukannya kamu yang bilang sedang tidak enak badan dan menyuruhku menggantikanmu”

“Kalaupun aku sehat, hyung tetap memaksaku digantikan oleh hyung”

“Yah! Lee Sandeul, kau ini!” Mereka berdua bertengkar seperti anak kecil. Benar-benar sangat lucu. Aku hanya bisa tertawa melihat mereka saling berargumen.

“Luhan…….” kami terkaget oleh suara seseorang. Naeun?! “Aku ingin berbicara denganmu” Luhan kemudian mengangguk dengan ragu. Aku tidak berani memandang Naeun, karena aku sudah mengingkari janjinya.

Luhan POV

Apa yang ingin dibicarakan oleh Naeun? Timingnya sangat tidak tepat. Kenapa disaat aku dan Ha Na sudah dekat lagi, dia datang!?

“Luhan, aku tidak tahu apa yang sedang terjadi antara kamu dan Ha Na, tapi …”

“Maafkan aku Naeun, aku—“

“Apa boleh aku menjawab surat itu sekarang? Tapi………….. kalau pun aku bilang aku menyukaimu, hatimu tetap kepada Ha Na”

“Maaf—“

“Huh, aku benar-benar menyesal. Coba saja aku menyadari perasaanmu sejak awal. Apa waktu bisa terulang lagi?”

“Naeun….”

“Saat aku bersama Jonghun oppa, rasanya tidak ada sesuatu yang spesial. Tapi saat aku bersamamu Luhan, itu sangat spesial. Aku tersadar kalau aku sangat menyukaimu, tapi kamu malah pergi begitu saja”

“Maafkan aku Naeun, tapi saat ini aku…….hanya menganggapmu sebagai sahabatku, tidak lebih”

Naeun tertawa kecil, air matanya mulai berjatuhan. Aku merasa sangat berdosa sudah membuat Naeun seperti ini. Mau bagaimana lagi. Aku menyukai Ha Na. Aku tidak ingin menyakiti perasaan Naeun tapi aku harus tetap memilih.

“Hidupku tidak akan lama, setidaknya sebelum aku pergi, tolong buat hari-hariku jadi menyenangkan Luhan”

Ah!? Apa? “Apa maksudmu?”

“…………Aku di diagnosa terkena kanker, mungkin hidupku sudah tidak lama lagi”

“Apa!? Sejak kapan!?” apa aku tidak salah dengar? Kanker? Kenapa aku baru tahu ini semua?

“Saat kamu pergi, aku mulai sakit-sakitan dan kata dokter aku mengidap kanker darah stadium awal. Mendengar itu rasanya menyakitkan sekali. Tanpamu hari-hariku terasa berat. Tidak ada yang menghiburku lagi dengan hal-hal konyol seperti yang sering kamu lakukan, hahaha”

“Naeun, maaf aku tidak ta—“

“Oleh sebab itu, aku mohon jadilah pacarku! Aku mohon padamu Luhan! Aku tahu didalam lubuk hatimu, kamu masih suka denganku. Jadi kumohon Luhan! Buat aku bahagia disaat-saat terakhirku ini!”

Ha Na POV

Pemenang best couple tahun ini adalah aku dan Luhan. Aku membawa piala beserta sebuket bunga untuk diperlihatkan ke Luhan. Sebenarnya setelah ini aku akan mengatakan perasaanku padanya, aku sudah tidak kuat lagi memendam ini semua. Bagaimana reaksinya ya? Aku menyusuri taman sekolah. Tapi dia tidak ada disana. Dimana dia? Apa dia dan Naeun sudah pergi? Aku menghela nafas panjang. Aku terus mencarinya. Di kelas, tidak ada. Di gedung kesenian, juga tidak ada. Aku tidak pantang menyerah. Aku terus berkeliling hingga aku menemukan dua bayangan seseorang. Aku mendekati bayangan itu dan tebak apa yang kulihat. Luhan dan Naeun berciuman!? Jantungku berdetak sangat kencang, rasanya jantungku sudah tidak kuat lagi menanggung perasaan ini. Tanganku gemetar, kepalaku sakit sekali. Dadaku sesak. Tak sengaja aku menjatuhkan piala serta buket bunga itu, mereka berdua berhenti dan Luhan melihatku.

“Ma-ma-maaf” setelah meminta maaf, aku berlari dengan sangat kencang. Air mataku terus bercucuran. Luhan mengejarku, tapi aku tidak menghiraukannya.

“Ha Na!!!” Luhan terus memanggilku. Aku terus berlari, hingga aku terjatuh dan tidak mampu untuk bangkit. Luhan memegang tanganku dan membantuku untuk berdiri. Dia mengusap air mataku, wajahnya terlihat sangat sedih.

“Maafkan aku Ha Na” dia memelukku dengan erat.

“Seharusnya aku yang harus minta maaf sudah menganggu kalian” aku melepas pelukannya dan mengusap air mataku.

“Ha Na… aku…..”

“Selamat ya, kalian sudah resmi sekarang” aku menjabat tangannya. Aku mencoba  tersenyum walaupun itu susah.

“Ha Na….. apa kamu baik-baik saja?” Aku segera berbalik dan memberikan tanda “OK” dengan jariku. Aku tidak ingin ia melihatku menangis seperti ini.

Aku berjalan menuju gerbang sekolah dan menemukan Sandeul yang datang menyambutku.

“Noonaa!?” Kenapa noona menangis? Apa yang terjadi?

Aku memeluk Sandeul. Aku menangis terus menerus dipundaknya. “Noona, ada apa?” Siapa yang membuat noona menangis!?

Aku tidak menjawab. Aku terus menangis dan melampiaskan kesedihanku padanya. Ia mengelus-elus punggungku. Dan sedikit-demi sedikit aku mulai merasa tenang.

Hari buruk telah terlewati. Aku sempat ragu untuk pergi ke sekolah. Pergi ke sekolah sama artinya menambah sakit yang kurasa. Tapi aku harus tetap pergi, karena hari ini akan ada latihan untuk persiapanku di babak semifinal. Semenjak kejadian kemarin, semangatku untuk melanjutkan kontes itu semakin menipis. Aku tidak yakin saat babak semifinal nanti aku bisa lolos ke babak selanjutnya. Sekarang alasanku untuk memenangkan kontes itu sudah tidak ada. Laki-laki yang selalu mendukungku tidak disisiku lagi. Dia dekat tapi jauh. Apa aku bisa melalui ini semua tanpanya?

Luhan dan Naeun resmi jadian!? Sejak kapan!? Wah mereka terlihat cocok sekali! Lalu bagaimana dengan Kim Ha Na?

            Sambutan yang sangat buruk bagi aku yang baru saja sampai di sekolah. Aku melihat Luhan dan Naeun datang bersama sambil bergandengan tangan. Teman-teman memperhatikan mereka berdua yang terlihat sangat mesra. Luhan sadar akan kehadiranku. Ia terus memandangiku dengan pandangannya yang sulit ditebak. Aku mencoba untuk tidak melakukan kontak mata dengannya. Aku segera pergi menuju ruang musik dan memulai latihanku bersama Ibu Lee. Tapi terjadi masalah lagi.

“Ha Na, ada apa denganmu hari ini? Banyak kesalahan yang kamu lakukan. Kalau begini terus kamu tidak mungkin lolos ke babak final!” Bu Lee memarahiku. Tentu saja dia akan marah. Aku tidak serius mengikuti latihan. Kerjaannya hanya melamun dan melamun. Aku sempat berpikir untuk mengundurkan diri dari kontes menyanyi itu, tapi…. ada sesuatu dalam lubuk hatiku yang mengatakan jangan.

Aku kembali mengulang menyanyikan lagu yang akan kubawakan di babak semifinal nanti. Tapi, kesalahan berulang kali ku lakukan. Bu Lee menggelengkan kepalanya. Dia mulai putus asa akan kemampuanku yang mulai mengendor. Bu Lee pun menyerah dan beliau menyudahi latihan. Beliau benar-benar kecewa padaku.

Aku kemudian keluar dari ruang musik dan berjalan tanpa tujuan. Aku menyusuri koridor dan menemukan Sandeul sedang menunggu seseorang.

Itu Noona!! “Noona!!” Sandeul berteriak memanggilku sambil melambai-lambaikan tangannya.

“Ada apa Sandeul? Apa ada yang ingin kamu bicarakan?”

“Aku hanya ingin mentraktir noona makan siang hari ini setelah pulang sekolah, apa noona ada waktu?” Noona, aku akan membuatmu semangat lagi.

            “Hmmmmm……” Aku sempat berpikir panjang. Moodku hari ini benar-benar hancur. Aku tidak yakin bisa pergi makan siang. Tapi setelah kupikir-pikir, Sandeul itu orangnya sangat baik dan humoris, mungkin dia bisa membantuku untuk melupakan kejadian kemarin.

“Kumohon noona. Noona~~” Sandeul terus memohon dan mulai mengeluarkan aegyo-aegyonya. Dia benar-benar seorang penghibur.

“Baiklah” Sandeul kegirangan mendengar jawabanku.

“Horee!! Kalau begitu, ketemu nanti di Pizza Hut ya noona! Aku yang akan bayar!” aku mengangguk. Sandeul pun pergi dengan girangnya seperti anak kecil yang habis mendapatkan mainan baru.

Walaupun latihan telah usai, aku berniat tidak kembali ke kelas untuk mengikuti pelajaraan terakhir. Aku tidak ingin melihat hal yang tidak ingin aku lihat. Sudah cukup banyak masalah yang terjadi, aku ingin mencari ketenangan sejenak. Aku pergi menuju ke atap sekolah. Tempat yang penuh dengan kenangan bersamanya. Tempat ini yang biasanya diramaikan oleh aku dan dia, sekarang menjadi sangat sepi. Tempat yang biasanya dipenuhi oleh tawaku dan dia, sekarang menjadi tempat pelampiasan kesedihanku. Mungkin tempat ini akan penuh dengan air mataku.

Angin bertiup sangat kencang. Membawa sebuah gulungan kertas menuju ke arahku. Kertas ini melayang dan jatuh tepat di tanganku. Kertas apa ini? Aku membuka gulungan kertas itu. Didalamnya terdapat tulisan seseorang. Aku menemukan nama pembuatnya dan tebak siapa. Luhan.

Apa kamu menemukan surat ini Ha Na? Kalau surat ini sekarang ada di tanganmu, berarti Tuhan sedang membantuku. Aku diam-diam melihatmu latihan. Penampilanmu sangat bagus hanya saja terlihat berbeda. Kamu terlihat sangat sedih. Saat kamu selesai latihan, aku menunggumu di kelas tapi kamu tidak datang. Padahal aku bermaksud ingin membantumu, ingin menyemangatimu. Maafkan aku, aku sadar apa yang sedang kuperbuat padamu. Karena aku, hari-harimu pasti terasa berat. Aku tahu rasanya.

 Terakhir , ada satu hal yang ingin aku katakan padamu. Aku **************

From: Luhan

            Kata-kata terakhir itu basah sehingga sulit dibaca. Aku mencoba membuka mataku lebar-lebar tetapi tetap saja tidak bisa dibaca. Surat ini membuatku tidak bisa berhenti mengeluarkan air mataku.

Pelajaran terakhir usai, aku bergegas turun dari atap sekolah dan segera pergi menuju tempat yang dijanjikan Sandeul. Aku masukkan surat itu didalam saku rokku. Selama perjalanan, aku terus memastikan kalau surat itu masih ada. Hingga beberapa menit kemudian, tibalah aku di restauran pizza itu.

“Permisi nona, ada yang bisa saya bantu?” seorang pelayan datang menghampiriku yang terlihat sedang mencari-cari.

“E-eh saya sedang mencari teman saya, tapi sepertinya dia belum datang”

“Teman? Bisa saya tahu siapa?”

“Sandeul. Lee Sandeul”

“Oh Lee Sandeul, silahkan ikuti saya, teman anda sudah memesan tempat”

Aku mengikuti pelayan itu. Dia menunjukkan sebuah meja dengan dua kursi yang salah satu kursinya diduduki oleh seseorang. Sepertinya itu Sandeul, begitu pikirku.

“Sandeul, apa kamu menunggu lama?” tepat disaat aku bertanya, orang itu berbalik dan dia bukan Sandeul melainkan orang itu. Orang yang mengirim surat itu.

Luhan POV

Flashback

Sandeul berjanji akan mentraktirku sepulang sekolah. Kenapa dia mendadak baik? Padahal hari ini bukan hari ulang tahunku ataupun hari ulang tahunnya. Dia menyuruhku datang sendirian tanpa Naeun. Aku sempat curiga dengannya, jangan-jangan ada sesuatu yang direncanakannya. Tapi tidak ada salahnya menerima ajakannya. Mungkin dengan berbicara empat mata dengan Sandeul tentang masalah yang sedang aku hadapi saat ini, aku dan dia bisa menemukan jalan keluarnya.

Ha Na belum kembali juga ke kelas. Aku cemas dia akan merasa tertekan akibat latihannya yang buruk dan juga pastinya karena aku. Aku sadar sudah membuatnya bingung dan kecewa. Andai saja aku sudah mengatakannya sejak awal kalau aku menyukainya pasti hubungan kami tidak akan seperti ini.

Setelah mengucapkan selamat tinggal pada Naeun, aku pun segera pergi ke tempat yang dijanjikan. Dan ternyata, dia belum datang. Pelayan menyuruhku duduk di tempat yang sudah dipesan oleh Sandeul. Meja untuk berdua!? Lucu sekali Sandeul! Orang-orang pasti mengira kami sedang berkencan.

Beberapa menit aku menunggu, dia belum juga datang. Apa dia mengerjaiku? Aku menghela nafas. Aku mulai bosan. Kemudian, seseorang menepuk pundakku.

“Sandeul, apa kamu menunggu lama?” Suara itu?! Ha Na!? Sedang apa dia disini?

*end of flashback*

           

Ha Na POV

Canggung. Tidak tahu mau bicara apa. Aku terus melihat jam tangan dan bermain dengan game yang ada di handphoneku untuk menutupi momen canggung ini. Luhan juga sibuk dengan rubiknya seperti biasa. Sudah satu jam terlewati, Sandeul belum juga datang.

“Permisi, tadi teman anda, Lee Sandeul menghubungi kami, beliau mengatakan  tidak bisa hadir. Tapi beliau sudah memesan makanan untuk anda, dan sudah membayarnya. Jadi apa boleh saya membawa pesanannya sekarang?” Kami berdua mengangguk pelan. Lee Sandeul, kamu benar-benar daebak. Aku tahu dia yang merencanakan ini semua. Dia mungkin ingin membantuku untuk kembali akrab dengan Luhan. Tapi caranya benar-benar salah. Ini sama saja artinya menaiki roller coaster. Sama-sama memacu jantung.

Pelayan pun datang membawakan dua gelas minuman dan satu loyang pizza. Di sengaja atau tidak, tepat setelah diletakkan di atas meja, kami berdua meminum minuman itu bersamaan.

“Permisi dik, kami ada menu spesial untuk pasangan kekasih, mungkin kalian ingin mencobanya?” Kekasih!? Perkataan pelayan itu membuat kami tersedak.Pelayan pun panik melihat kami berdua yang terlihat kesusahan nafas.

“Maaf, maafkan saya sudah membuat kalian kaget” pelayan itu membungkuk dan memohon maaf. Kami berdua mengacungkan jempol kami, memberi tanda bahwa kami baik-baik saja. Ia pun pergi dengan paniknya.

Kejadian tadi menambah kecanggungan kami. Selama kami menyantap makanan itu, tidak ada obrolan atau satu kata pun yang terucap dari bibir kami. Aku tidak kuat lagi. Selesai menyantap pizza terakhirku, aku beranjak dari kursi bersiap-siap untuk keluar dari momen canggung ini.

“A-a-ku pergi duluan, sampai jumpa”

Luhan POV

Lagi-lagi dia menghindar dariku. Saking tergesa-gesanya, dia sampai menjatuhkan sebuah gulungan kertas. Tapi aku merasa mengenal gulungan kertas itu. Benar saja, ternyata itu adalah surat yang kutulis untuknya. Itu berarti dia sudah membacanya. Tapi ada satu masalah, kata-kata yang terpenting yang seharusnya dibaca olehnya malah terlihat kabur akibat terkena air. Sial! Kenapa harus kata-kata itu yang basah!? Tapi terima kasih Tuhan sudah membawa surat ini padanya.

Saat itu juga, aku segera keluar dan berniat untuk mengikutinya. Aku ingin bicara dengannya. Aku berlari dan kemudian menemukannya masih belum jauh dari restauran. Aku memelankan langkah kakiku agar dia tidak sadar akan kehadiranku. Aku tidak ingin ia menghindar lagi.

Beberapa saat kemudian, Ha Na menghentikan langkahnya di sebuah taman. Ia duduk di kursi dan memandang sekeliling. Dari belakang aku mendengarnya berulang kali menghela nafas. Ini waktu yang tepat. Aku pun ikut duduk di sampingnya. Tentu saja, dia sangat kaget. Kulihat tangannya mulai bergetar. Aku pegang tangannya dan mengajaknya bicara.

“Ha Na, aku minta ma—“

“Terima kasih” Ha Na menjabat tanganku sejenak dan kemudian melepaskannya.

“Untuk apa? Aku tidak pantas menerima ucapan terima kasih itu. Aku hanya pembawa masalah untukmu”

Ha Na menggelengkan kepalanya. “Tidak, kamu tidak membawa satupun masalah melainkan… keajaiban untukku. Aku tidak tahu akan seperti apa aku tanpamu. Jadi…. terima kasih Luhan atas segalanya”

Ha Na tersenyum. Senyumnya yang sangat manis itu membuatku tak bisa berhenti memandanginya.

“Aku tidak tahu cara membalas semua kebaikanmu, aku—-“

“Jadilah pemenang di kontes itu dan jadilah penyanyi profesional, itu cara membalas semuanya!”

“Ta-tapi a—“

“Kamu pasti bisa, aku yakin itu!”

Ha Na mengangguk. Aku memeluknya dengan erat dan tidak ingin melepasnya. Ha Na tidak melawan, ia hanya diam dan terlihat tenang.

Kringgg… kringgg…. kringgg. Handphoneku berbunyi. Aku melepas pelukanku dan mengambil hp yang ada di dalam sakuku. Naeun menelepon.

“Yeobohsehyo?”

“Luhan, tolong temani aku membeli pakaian sekarang, aku tunggu di tempat biasa”

Sekarang!? Aku melihat Ha Na sejenak. Ia tersenyum dan mengangguk, memberi isyarat bahwa aku harus menemani Naeun.

“Ah baiklah, aku segera kesana” aku menutup telepon.

“Maaf Ha Na, aku harus pergi” Ha Na mengangguk. Aku pun pergi meninggalkannya sendirian di taman.

Naeun POV

Saat ini, aku sedang berbelanja bersama dengan Luhan. Aku bermaksud membelikan baju couple untuk kami berdua. Aku pikir itu lucu, kalau kami memakai baju couple di saat kencan kami. Sekarang merupakan hari kedua kami resmi berpacaran. Benar-benar sangat menyenangkan walaupun aku tahu, Luhan mau jadi pacarku karena dia kasihan denganku.

Aku mulai memilih baju couple yang dipajang di toko. Banyak yang lucu dan manis sampai-sampai aku bingung ingin membeli yang mana.

“Hmm Luhan, apa yang ini bagus?”

Dia mengangguk tanpa melihat baju yang kutunjukkan. Dia sibuk membaca katalog yang disediakan di toko tersebut. Aku merasa dia tidak tertarik sama sekali dengan baju couple ini.

“Luhan, baju ini sangat cocok denganmu” kali ini dia memperhatikan baju yang kupilih. Tapi jawabannya hanya anggukan seperti biasa.

“Yah! Jangan mengangguk saja! Ayo di coba!”

“Itu tidak perlu. Rasanya baju itu cukup di badanku jadi tidak perlu dicoba lagi”

“Tidak! Tidak! Aku ingin melihatmu memakainya sekarang!” Luhan pun menyerah. Ia melepaskan blazernya dan menitipkannya padaku. Ia kemudian pergi ke kamar pas. Sambil menunggunya, aku membersihkan debu-debu yang menempel di blazernya. Lalu aku menemukan sesuatu tersimpan di dalam sakunya. Aku penasaran dan mengambil benda itu. Ternyata hanya sebuah gulungan kertas. Aku membukanya dan membaca isinya. Apa maksudnya ini? Luhan mengirimi Ha Na surat!?

Luhan POV

Aku benar-benar terlihat aneh memakai baju ini. Sifat kekanak-kanakan Naeun masih belum berubah. Tapi aku harus tetap memakainya. Aku tidak ingin membuat Naeun kecewa. Aku ingin membantunya untuk bahagia lagi seperti dulu. Aku berharap semoga dia cepat sembuh dan pulih. Aku tidak ingin dia berlarut-larut dalam kesedihan.

Aku keluar dari kamar pas dengan mengenakan baju itu.

“Naeun, aku sudah memakainya. Bagaimana?”

Dia tidak menjawab. Dia sibuk membaca sebuah kertas. Tunggu dulu. Kertas!? Itukan suratku untuk Ha Na. Aku langsung merebut surat itu dari tangan Naeun.

“Yah! Jangan mengambil barang orang lain tanpa izin!”

“Huh!? Orang lain? Aku itu pacarmu, Luhan! Seharusnya aku yang marah, bukan kamu! Apa maksudnya ini Luhan? Bukannya kamu sudah janji akan menjauhi gadis itu!”

Aku bingung akan menjawab apa. Aku benar-benar ceroboh. Orang-orang di toko mulai memperhatikan pertengkaran kami.

“Apa salah aku mengirim surat untuk sahabatku!?”

“Huh? Sahabat? Jangan bercanda Luhan! Aku tahu bagaimana perasaanmu padanya!”

“Sudah kubilang, dia cum—“

“Sekarang kamu harus memilih! Aku atau Ha Na?” Apa!? Memilih? Sekarang!?

 

Wah akhirnya selesai juga part 6. Sekarang buat part 7, aku benar-benar bingung mau nulis apa -____- !? Kalau kalian punya saran, bisa kirim ke lucky.cupcake@rocketmail.com. ^^ Terimakasih sudah setia baca ff Ha Na ini T.T Tetep dukung yaa 😀 Inget! Jangan lupa kasi comment^^, kritik sama saran kalian bener-bener membantu banget! 😉 jangan jadi reader yang kalem yaaaa, ayo tulis-tulis komen kalian~~~

11 pemikiran pada “Ha-Na (Chapter 6)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s