Happy Ending (Chapter 1)

Author : White Teddy @8degrees0107

Main Cast :

1. Kim Jong In                 4. Choi Sa Jin               7. Kim Joon Myun

2. Park Chan Yeol           5. Alin Hwang              8. Do Kyung Soo

3. Oh Se Hun                    6. Mira Valentia          9. Byun Baek Hyun

Other cast : Exo member, Cathrine Volandy, Lanzy Roventya, Jung Kia.

Genre : Romance, Friendship.

HE chap 1

 

Pesan : Hai semuaa!! Aku author baru disini^^ ini ff chapter pertamaku. Harap maklum kalo ceritanya kurang greget(?) juga kalo typo bertebaran, udah aku edit tapi kalo ada yang kelewat mian chingu… Chapter selanjutnya sedang dalam proses, jadi tunggu saja… dan ff ini sepertinya akan menjadi ff yang sangat panjang.. kunjungi  www.kkamexotics.wordpress.com ada beberapa fanfict buatanku dan teman-teman juga disana.. Comment kalian sangat membantu!;D Jadi don’t be silent readers yaa ;;)mian kalau Typo.. oke, tidak perlu berlama-lama… Ini dia ‘Happy Ending?’! Semoga kalian sukaa!! ^^ No bash yaa..

————————————-

Author POV

Papa! Mama! Om! Tante! Alin sama Mira berangkat dulu yaa!” teriak seorang yeoja sambil melambaikan tangannya.

Jangan lupa ketemu Kim Ajusshi dan sampaikan salam ayah!” sang ayah balas berteriak.

Oke! Dadah semuaaa!”

Mereka langsung berlari karena pesawat yang akan mereka tumpangi sudah datang.

Fiuhh, akhirnya sampe juga mir!”

Iya nih. Eh, dorm kita nomor berapa? Kuncinya mana?”

“Gue juga ga tau, mending kita ke lobby dulu.”

Mereka pun berjalan menuju lobby asrama putri yang lebih mirip Apartemen daripada asrama cewek. Mereka sedang berada di K Art School, sekolah mereka saat ini. Setelah mengetahui dorm mereka di lantai dua, mereka langsung menuju ke sana. Sesampainya di depan sebuah pintu bertuliskan 210, mereka saling berpandangan dan akhirnya mengetuk puntu dengan ragu. *Tok… Tok..* saat pintu terbuka muncul seorang gadis.

“Oh! Annyeong Haseyo!” ucap Alin dan Mira serempak.

“Annyeong Haseyo, apa kalian yang bernama Alin dan Mira?”

“Ne, saya Mira dan ini Alin. Apa benar ini dorm kami?”

“Ya benar, perkenalkan aku Jung Kia.”

“Kia-sshi bolehkah kami masuk?”

“Ah, ye. Silahkan.”

‘Tipe orang yang tidak banyak bicara’ kata Alin dalam hati. Alin dan Mira saling pandang sambil berbicara lewat mata mereka, ‘Dia pendiam sekali, berbeda jauh dengan kita’ kemudian mereka tertawa kecil. Sesampainya di dalam mereka menemukan ‘sesosok’ perempuan, cantik, lumayan tinggi, kurus, rambutnya sebahu, dan berwajah ceria.

“Annyeong Haseyo! Nama kami Alin dan Mira!”

“Annyeong Haseyoo! Aku Choi Sajin. Senang berkenalan dengan kalian!”

“Semoga kita menjadi teman dekat!”

Dia tertawa. “Oh ya. Kalian berasal dari mana? Sepertinya bukan dari Korea ya?”

“Hehe.. Iya aku dan Mira dari Indonesia. Kamu sendiri dari daerah mana?”

“Pantas wajahmu unik, cantiknya berbeda dengan yang lain. Aku dari daerah Busan”

“Haha, kau ini. Terima kasih. Aku sangat ingin melihat lihat pantai di Busan”

“Oh ya? Kapan-kapan kalian akan aku ajak kesana!”

Setelah melihat lihat isi dorm dan berbincang, mereka mengetahui Kia mengambil kelas yang sama dengan SaJin yaitu dance and vocal juga song writer, mereka memilih 2 kamar yang ada di lantai 2, yang sebenarnya tidak ada pilihan lagi, karena hanya ada satu kamar di bawah dan sudah ditempati oleh Kia, sedangkan kamar paling pojok sudah ditempati Sa Jin. Mira mengambil kamar yang dekat tangga dan Alin mengambil kamar yang ada di tengah. Anak ini memang sedikit penakut, maklum yang paling kecil. Umurnya beda 1 tahun dengan teman-teman satu gradenya. Sedangkan Mira tidak terlalu penakut pada hantu, sangat menyukai novel, dan film romantis, sama seperti Alin, bedanya dia lebih tinggi, lebih kurus (ga seperti Alin yang agak chubby), lebih jago main alat musik, sangat lentur. Eh, kanapa jadi ngomongin Alin sama Mira.

Mereka pun kembali ke kamar masing masing, Alin sedikit takjub dengan dorm ini, bertema musim, kamarnya musim gugur, Mira musim salju, Kia musim Hujan, dan Sajin musim panas. Sedangkan ruangan lainnya musim semi. Setelah mengamatinya mereka membereskan kamar masing-masing dan bersiap untuk mengambil kunci kamar di lobby.

“Alin! Udah selesai beres-beresnya belum?”

“Bentar, mir! Dikit lagi”

Setelah selesai Alin melihat Mira sudah berancang-ancang di depan tangga. Saat Alin sampai mereka langsung berlari.

“Gue menang!”

“Huh! Mira curang! Lo kan larinya lebih cepat, nyuri start lagi!”

“Kalian ini bicara apa, seperti anak kecil saja. Ayo ambil kunci dorm dan bersiap ke sekolah!” kata Kia yang sudah tidak memakai bahasa formal.

“Ne!”

 

Alin POV

Hari sudah siang, aku, Mira dan Sajin harus cepat-cepat mengambil kunci dorm untuk masing-masing. Hari ini pelajaran dimulai jam 3, yang berarti satu jam lagi. Saat sampai di lobby asrama putri, kami langsung meminta kunci dorm, dan saat itu, aku melihat empat orang siswa berjalan di taman, dan mata siswi siswi disekitarnya langsung tertuju pada mereka, bahkan ada yang secara terang terangan ‘memuja’ mereka. Aku langsung tau bahwa mereka adalah pangeran kampus tahun ini.

“Alin! Apa yang kau lihat?” tanya Sajin.

“Ah, tidak ada. Ayo kita kembali dan bersiap-siap masuk kelas!”

Setelah mandi siang *apa ini* aku pun memilih baju lengan panjang dan rok dua centi diatas lutut. Setelah melihat diriku di cermin, aku merasa terlalu polos, akhirnya aku menambahkan kalung panjang. Aku dan Mira sering janjian memakai baju yang sama, aku harap Sajin dan Kia nantinya juga bisa ikut.

Sampai di luar aku sudah melihat Mira dengan baju yang setema dengan ku, hanya dia menggunakan warna biru, dan aku warna peach. Itu bedanya. Kalau Sajin dia memakai tank top putih dan blazer hitam, dipadukan celana jeans panjang. Dia hanya memakai aksesoris beberapa gelang di tangannya. Sampai di bawah, aku melihat Kia memakai kaos dan celana panjang tanpa aksesoris. Simple. Itu yang aku lihat dari dirinya.

“Semua sudah siap?” tanya Sajin.

“Ne!” jawab kita serempak.

“Kalau begitu. Kaja!”

Sore ini adalah jadwal untuk jurusan dance and vocal, tapi tepatnya hari ini adalah hari untuk vocal.. Setelah sampai di sekolah aku langsung, menuju papan pengumuman di pinggir jalan utama. Aku senang! Aku sekelas dengan Mira dan Sajin! Tapi berbeda kelas dengan Kia, untung saja kita bertiga masih satu kelas, karena total kelasnya ada 5. Aku melihat orang-orang disekitarku menunjuk-nunjuk 4 nama namja disana. Aku tidak tau kenapa.

Sesampainya di ruang 1, yang tidak lain ruang kelas vocalku, aku kembali duduk diantara Mira dan Sajin. Kelas yang tadinya hening tiba-tiba berisik seketika, aku memandang Sajin dan Mira bergantian seakan berkata ‘ada apa ini?’ tapi mereka hanya mengangkat bahu, sampai aku melihat ke pintu kelas, dan ternyata ada keempat orang yang tadi aku lihat berjalan di taman.

“A…Alin-a mereka tampan sekali..” bisik Sajin kepadaku.

“Hahaha, kenapa kau tidak ikut berteriak seperti yang lain?”

“Aku tidak seperti mereka”

“Haha, aku tau itu. Kau bukan tipe orang yang suka berteriak histeris, mungkin nanti di dorm kau akan berteriak memanggil-manggil nama mereka..”

“Ishh.. mungkin itu kau”

“Hahaha.. aku hanya bercanda Sajin-a”

“ya ya.. aku tau..”

“jangan marah”

“aku tidak marah”

“Hya! Kalian ini kenapa? Gurunya sudah masuk!” bentak Mira tiba tiba.

“Ah, jinja?”

Akupun melihat ke depan, dan ternyata sudah ada seorang laki-laki yang duduk disana.

“Hehe.. Kau benar”

Mataku terfokus ke depan, guru itu ternyata bernama Luhan. Luhan Songsaengnim menyuruh kami memperkenalkan diri satu persatu, tidak, boleh berdua, bertiga ataupun ber empat. Aku Mira dan Sajinpun maju bersama saat namaku dipanggil.

“Annyeong haseyo! Urineun Mira, Sajin, geurigo Alin imnida. Saya dan Alin berasal dari Indonesia, dan Sajin berasal dari Busan. Senang berkenalan dengan kalian.” Kata Mira.

Kami pun membungkuk 90 derajat dan kembali ke bangku masing-masing. Setelah kami ada seorang perempuan yang berasal dari Amerika dan Australia, yang menyita hampir seluruh perhatian laki-laki, kecuali ke empat orang yang aku belum tau namanya itu. Mereka adalah Cathrine Volandy dan Lanzy Roventya. Setelah mereka giliran ke empat cowok itu, ternyata nama yang paling dingin tatapannya itu Kai, tapi dia yang paling membuat detak jantungku tak karuan ‘Alin kau baru bertemu dengannya, kau tidak mungkin suka dengannya, mungkin hanya karena dia tampan dan cool, bukan berarti kau menyukainya’ akupun langsung berpaling ke sebelahnya, dia yang paling tinggi tapi juga dingin, Chanyeol. Dan dua orang yang selalu tersenyum itu adalah Sehun dan Baekhyun. Jujur aku ingin berteman dengan mereka, karena aku belum mempunyai teman laki-laki disini, kalau laki-laki yang lain sepertinya, kurang pas untuk menjadi teman ku, karena mereka sudah terpengaruh oleh pesona Cathrine dan Anggita.

Di kelas luhan seonsaeng memberi pengarahan dan menyuruh kami semua untuk maju satu persatu minggu depan. Saat dia menjelaskan aku merasa ada yang memperhatukanku, akupun menengong ke kanan dan ke kiri sampai aku menangkap sepasang mata. Mata milik Baekhyun! Dan dia tersenyum kepadaku! Aku sedikit shock, tapi langsung menormalkan kembali ekspresiku. Aku balas tersenyum padanya dan langsung memfokuskan pandangan ke depan.

*Kringgg*

Bel istirahat berbunyi, seisi kelas langsung berhamburan keluar. Padahal gurunya masih ada di depan kelas. Dasar murid-murid tidak sopan! Akupun membereskan bukuku dan beranjak ke kantin bersama Sajin dan Mira. Aku memesan Pancake, dan segelas milkshake Vanilla. Setelah makananku habis, tiba tiba aku teringat sesuatu.

“Omo! Mira-ya! Aku harus bertemu paman Kim! Aku lupa dengan itu!”

“Paman Kim? Kim sajangnim pemilik sekolah ini?” tanya Sajin yang masih sibuk menghabiskan makanannya.

“Iya, ayahku teman baiknya. Dan aku harus menitipkan salam ayahku padanya.”

“Yasudah cepat sana!” sehut Mira.

“Temani akuu. Mira-yaa jebaall” aku menunjukkan aegyoku.

“Hhh.. Araesso, kau ini bisa tidak simpan aegyomu untuk lain kali”

“Hehe, tidak bisa. Kalau aku tidak menunjukkannya kamu tidak akan menemaniku”

Dia hanya memandangku kesal, sedangkan Sajin menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkahku. Aku menahan tawaku dan langsung menarik tangan Mira menuju ruangan paman Kim. Langkahku sempat terhenti saat melihat Baekhyun dan kawan-kawannya di koridor dekat kantin lagi-lagi dia tersenyum padaku. Ada apa denganmu Alin, cepat, jangan pedulikan dia! Kau harus ke ruangan paman Kim sebelum bel masuk berbunyi!

Setelah sampai di ruangan paman Kim aku langsung mengetuk pintu dan terdengar sahutan dari dalam.

“Nuguseyo?”

Akupun membuka pintu dan melongokkan kepalaku.

“Saya Alin anak dari Hwang Tae In”

“Oh! Alin, masuk masuk. Sudah lama sekali kita tidak bertemu. Kalau tidak salah saat kau masih duabelas tahun, sekarang umurmu berapa? 18?”

“Aku masih 16 tahun paman.”

“Jinjja? Ah, aku lupa kau sekolah 2 tahun lebih cepat dari yang lain”

“Hehe, iya paman.”

Mira mulai mencolekku, akupun teringat kalau aku membawanya kesini.

“Oh! Paman, kenalkan ini temanku dari Indonesia”

“Mira Imnida” katanya sambil membungkukkan badan.

“Kau sekelas dengan Alin? Atau malah satu dorm?”

“Keduanya paman”

“Kau pasti dibikin pusing olehnya, tingkah lakunya seperti anak kecil”

“Paman, itu sifatku saat masih 12 tahun.” Kataku mengelak.

“Sepertinya masih begitu sampai sekarang” akupun langsung cemberut. Mira dan Paman Kim tertawa, tiba-tiba…

*Tok.. Tok.. Tok..* “Appa! Aku boleh masuk?” terdengar suara namja. ‘anaknya paman Kim? Yang sulung atau yang bungsu?’ batinku.

“Masuklah, ada anak dari Paman Hwang dan temannya disini, kalian belum pernah bertemu kan. Setiap dia datang kau pasti selalu mempunyai acara dengan Jong In.”

Masuklah seorang namja. Tampan, tingginya lumayan, putih *jelas lah, dia orang Korea! Pake dijelasin*, sepertinya baik, dan selalu tersenyum.

“Annyeong Haseyo, Alin Imnida.” Kataku sambil membungkukkan badan.

“Annyeong Haseyo, Mira Imnida, temannya Alin”

“Ne, Annyeong Haseyo Suho Imnida. Senang berkenalan dengan kalian. Hm, kalau dilihat kalian masih grade 1 ya?” katanya sambil tersenyum.

Omo, kenapa hari ini banyak sekali namja yang tersenyum padaku.

“Iya, berarti aku harus memanggilmu sunbae. Sunbae grade 2 atau 3?”

“Haha, terserah kau. Aku grade 3”

“Ohh”

Kami berempat pun berbincang-bincang sampai bel masuk terdengar.

“Sudah bel masuk, kalian sebaiknya cepat-cepat ke kelas, nanti dapat hukuman. Suho-ya. Jaga adik-adik kelasmu ini ya! Mereka kan bukan berasal dari Korea, kau harus menjaganya baik-baik”

“Ne Appa”

Kamipun keluar ruangan, Mira langsung berlari meninggalkanku. Huh dasar. Saat aku akan berlari juga aku merasa ada yang memegang tanganku, akupun menoleh. Ternyata itu Suho sunbae.

“Ada apa sunbae?”

“Aku hanya ingin minta nomor ponsel”

“Untuk apa?”

“Appa tadi menyuruhku untuk menjagamu, nomormu diperlukan agar aku bisa mengetahui keadaanmu. Bagaimana aku bisa menjagamu kalau aku tidak tau nomormu”

“Haha, iya juga. Kenapa aku bodoh sekali”

Akupun menyebutkan nomorku

“Oke terima kasih. Jaga dirimu, karena kita berbeda gedung.” Ya sekolah kita memang terdiri dari 3 gedung. 1 gedung untuk 1 grade.

“Jadi aku bisa memantaumu tiap saat seperti yang diminta Appaku lewat telefon” lanjutnya sambil mengacak pelan rambutku. Aku terpaku sesaat, tapi aku ingat bahwa sudah jam masuk. Akupun berpamitan dan langsung berlari ke kelas berharap gurunya belum datang.

Tapi nasib tidak memihak padaku hari ini, aku sudah melihat sesosok namja duduk di kursi guru ruang Musik. Ya, sekarang saatnya pelajaran musik. Jadi aku berbeda kelas dengan Sajin dan Kia yang sudah pulang sepertinya karena kelas Song Writer baru dimulai besok pagi. Akupun mengetuk pintunya perlahan.

“Masuk” terdengar suara dari dalam, aku takut, tapi aku harus mengikuti kelas. Akupun memberanikan diri membuka pintu.

“Maaf saya terlambat seonsaengnim”

“Siapa namamu? Absen berapa?”

“Hmm. Alin Hwang, aku tidak tau absen berapa disini, aku tidak sempat melihatnya”

Dia melirik kesal ke arahku sambil menghela nafas. Aku melihat sekeliling, ada Mira, dia menunjuk-nunjuk bangku disebelahnya, rupanya dia sudah menyiapkan bangku untukku. Oh ternyata Anggita juga disini, juga Sehun dan.. Baekhyun, dia menatapku khawatir tapi tetap tersenyum. Aku tersenyum kecil melihatnya.

“Kau absen 3 disini. Karena ini hari pertamamu aku biarkan kau duduk. Jangan diulangi lagi.”

“Baik seonseng, maaf aku tidak akan mengulanginya.”

Akupun duduk di sebelah Mira, dia tersenyum khawatir kearahku. Aku balas tersenyum dan langsung fokus kedepan. Takut dimarahi lagi nantinya. Kelaspun selesai dan aku langsung membereskan bukuku.

Mira POV

Saat kelas selesai aku langsung membereskan bukuku, karena aku merasa sedari tadi Sehun menatapku, dan terus saja tersenyum padaku. Selain itu sahabatku yang satu ini sangat jarang terlambat, kenapa tiba-tiba dia terlambat. Tidak menceritakannya padaku pula! Aku melirik kesal kearah yeoja disebelahku.

“Alin! Kamu itu gimana sih?! Kenapa bisa masuk kelasnya telat? Hari pertama udah terlambat, kamu bisa-bisa di cap jelek tau ga?!”

“Ya maaf. Tadi Suho sunbae mengajakku ngobrol sebentar. Itupun aku sudah lari-lari kesini.”

Tiba-tiba datang sebuah suara. “Hai! Kalian Alin dan Mira kan?”

Kamipun segera menengok. Dan tersentak melihat Sehun di depanku. “Ne. Waeyo?” jawab Alin.

“Tidak, kami hanya ingin berkenalan dengan kalian. Aku Baekhyun dan ini Sehun” ‘aku sudah tau, tadi kan kalian memperkenalkan diri di depan kelas’ batinku.

“Mira hago Alin imnida” jawabku.

Kali ini Sehun yang bicara “Kalian berasal dari Indonesia? Tapi kenapa kau tidak terlihat Indonesia?” tanyanya sambil melihat kearah Alin.

“Kenapa kalian memilih sekolah ke Korea? Karena artis-artisnya?” dia melanjutkan.

Aku dan Alin tertawa kecil, sepertinya dia orang yang menyenangkan, lucu, baik, tinggi, dan tampan. Eh, ada apa denganmu Mira.

“Aku akan menjawab pertanyaan pertama. Aku memang campuran Indonesia, Cina, dan Korea.”

“Itu menjawab pertanyaan kedua, bukan pertama.” sahut Baekhyun.

“Ya, pokoknya itulah. Tidak ada bedanya juga, yang jelas kalian mengerti.” Alin langsung cemberut seperti biasa.

“Hahaha.. Kau lucu sekali” Baekhyun tertawa melihat reaksi Alin. Sedangkan Sehun hanya tertawa kecil.

Kami terus ngobrol, ternyata mereka mengasyikkan. Tak terasa sudah pukul 7 malam, kita harus kembali ke dorm. Mereka akan mengantar kita sampai depan asrama. Itu menurut yang mereka katakan.

“Kalian sudah kenal dengan Cath dan Anggita?” tanyaku pada Sehun. Karena Baekhyun dan Alin sedang ngobrol sendiri.

“Hanya tau nama, tidak kenal.”

“Kok? Bukannya banyak cowok yang ingin berkenalan dengan mereka? Kenapa kalian belum berkenalan? Aku fikir kalian cukup populer, sampai-sampai saat kalian dan teman-temanmu yang lain masuk kelas, kelas jadi penuh dengan teriakan yeoja.” Kataku.

“Kau terlihat cemburu, kalau aku di gilai para yeoja. Hmm?”

“Siapa yang cemburu?! Aku hanya bertanya, kalau tidak mau jawab yasudah.”

“Hey, jangan ngambek gitu. Haha.. Oke, aku jawab. Aku tidak terlalu tertarik karena mereka tebar pesona. Aku tepatnya kami ber-empat lebih suka yang mempesona daripada yang tebar pesona. Walau mereka sebenarnya memang mempesona.”

“Kau menjelekkan mereka, tapi habis itu memujinya. Kau ini labil”

“Kau sangat lucu kalau sedang marah, hahahaa..” katanya sambil mencubit pipiku.

“Hya! Sakit tauu!”

Alin dan Baekhyun langsung menengok saat mendengar teriakkanku. “Ada apa?” tanya Baekhyun.

“Tidak ada apa-apa hyung”

“HYUNG?!” kataku dan Alin serempak.

“Iya, dia memang lebih tua dariku. Mungkin kalian semua. Aku masih 17 tahun.”

“Aku juga, aku lebih cepat 1 tahun disini.” Sahutku.

“Ternyata kau salah satu dari 4 murid yeoja yang berumur 17 tahun. Aku juga dengar ada murid yang berumur 16 tahun, pasti masih bocah. Akan aku suruh dia memanggilku oppa kalau aku tau siapa orangnya.” Aku menahan tawaku sambil melihat ke arah Alin yang langsung cemberut total sambil menatap kesal ke arah Sehun.

Aku tidak bisa menahan tawaku “Hahahaha… Orangnya ada disini Sehun” kataku sambil melirik Alin.

“Jadi kau masih 16 tahun, little maknae” kata Baekhyun.

“Panggil aku oppa!” kata Sehun

“Shireo!”

“Panggil aku oppaaa!”

“Shireeooo!” kata Alin sambil menutup telinganya.

“Mereka berdua sama-sama maknae, sifatnya sulit dirubah.” Kata Baekhyun sambil menggelengkan kepalanya.

Aku tertawa melihat mereka masih berdebat. “Ayo! Keburu malam! Nanti susah bangunnya Alin!”

“Iya iya”

Kamipun berjalan, sesampainya di depan asrama putri Baekhyun dan Sehun melambaikan tangan kemudian pergi ke asramanya. Aku melihat Cathrine dan Anggita di lobby, Cathrine menatap sinis pada Alin ‘apa yang Alin perbuat’ tanyaku dalam hati. Kamipun menaiki tangga, sedang malas menunggi liftnya turun. Di depan dorm aku melihat dua sosok namja, semakin mendekat ternyata itu adalah Suho sunbae dan temannya, hmm.. Aku tidak tau siapa namanya, yang jelas mukanya lucu, matanya bulat, dan selalu tersenyum. Kenapa disini banyak namja yang sering tersenyum. Ah, tidak, lebih banyak yang cemberut. Contonya dua namja teman Baekhyun dan Sehun.

“Annyeong Haseyo sunbae” sapa Alin. Kenapa selalu dia yang pertama kali menyapa orang ya. Apa reaksiku terlalu lamban. Entahlah.

“Annyeong Alin-a, Mira-ya. Kenalkan ini Kyungsoo, teman sekelas sekaligus satu dormku.”

“Annyeong Haseyo sunbae”

“Kalian tidak usah bicara seformal itu. Suho bilang kalian masih grade 1 ya? Mukanya masih bocah semua. Hehehe” sahut Kyungsoo. Ternyata orangnya supel. Tapi sama aja kayak Sehun, suka bilang orang kayak bocah. Padahal mukanya sendiri juga kayak bocah.

“Iya, memangnya muka kita masih bocah apa? Sudah dua orang bilang negitu. Tapi aku tidak percaya..” jawab Alin.

“Sunbae ada perlu apa kesini?” tanyaku.

“Aku hanya mengecek keadaan kalian, Appa tadi kan menyuruhku menjaga kalian. Mira-ya, boleh aku minta nomormu, agar bisa memantau kalian saat di sekolah. Aku sudah meminta nomor Alin, sekarang tinggal kamu.”

“Aku juga mau nomormu Mira. Alin! Nomormu juga”

Kami menyebutkan nomor masing-masing.

“Mira, Alin. Jangan panggil kami sunbae. Panggil saja oppa.”

“Kenapa banyak sekali orang yang meminta dipanggil oppaa” keluh Alin.

“Siapa saja memang?”

“Kalian, juga teman sekelasku”

“Teman sekelasmu? Kenapa”

“Hhh. Aku 16 tahun.” Jawab Alin dengan malas.

Aku mendengar gelak tawa Kyungsoo dan Suho. Ups, para Sunbae maksudku. Eh, oppa. Dan saat itu juga aku melihat Cathrine dan Anggita, Cathrine masih menatap Alin sinis, sedangkan sekarang. Anggita menatapku sama sinisnya. Oh Tuhan! Apa salah kami.

Setelah Cathrine dan Anggita masuk ke dorm mereka, aku mulai bicara lagi.

“Sunbae. Eh, maksudku oppa. Kalian tidak masuk dulu? Kalau bicara di lorong takut mengganggu yang lain.”

“Boleh, kalau kalian mengizinkan”

“Aku kan yang menawarkan. Aku juga ingin menperkenalkan kalian pada 2 temaku lagi. Sajin dan Kia!”

“Okay, lets go inside.” Kata Alin.

Sesampainya di dalam aku langsung berteriak.

“KIAA! SAJINN!”

“Tidak perlu berteriak. Aku tidak tuli.” Sahut Sajin yang sedang di dapur.

“Hehe, maaf. Ini aku bawa teman. Eh, oppa, aku harus menyebut kalian apa? Kalian temanku kan?”

“Sebut saja teman” jawab Suho oppa.

“Sebenarnya mereka kakak kelas kita. Ini Suho oppa, anak dari paman Kim. Dan ini Kyungsoo oppa, teman sekelas dan sedormnya Suho oppa.”

“Aku Kia”

“Aku Sajin!”

“Kalian juga memanggil kami oppa ya”

“Kenapa banyak sekali namja yang suka dipanggil oppa sih” gerutu Alin.

Suho dan Kyungsoo kembali tertawa. Ternyata Kyungsoo oppa kalo tertawa lucu ya. Eh, kenapa ini. Kok jadi Kyungsoo oppa. Kami pun duduk di karpet ruang tengah, sebetulnya ada sofa. Tapi tak tau kenapa mereka lebih memilih karpet. Kami pun berbincang.

“Sajin-a kau memilih kelas apa saja?”

“Aku memilih kelas Dance and Vocal juga Song writer. Bersama Kia!”

“Jadi kalian satu kelas..”

“Aku hanya satu kelas di Song writer. Tetapi beda kelas di Dance and Vocal”

“Hmm.. Kia, kau dari tadi hanya diam. Bicaralah sesuatu.” Kata Suho.

“Ne, oppa. Aku hanya bingung ingin berkata apa.”

“Baiklah, eh, ini sudah jam delapan, sebaiknya kami pulang. Besok malam kami akan kembali kesini mengecek keadaan kalian”

“Baik oppa!” jawab kami serempak.

Mereka keluar sambil melambaikan tangan dan tersenyum. Senyumnya Kyongsoo oppa. Lagi-lagi membuatku ingin tersenyum bahagia. Saat pintu sudah tertutup, aku langsung kembali ke kamar. Dan tak lama langsung tertidur.

Keesokkan harinya aku terbangun pagi-pagi sekali.  Aku tidak tau kenapa bangun pagi, mungkin gara-gara ini hari kedua sekolah dan ada kelas dance pagi. Aku kira belum ada yang bangun, tapi ternyata aku sudah melihat Kia di dapur menyiapkan sarapan. Akupun segera membantunya.

“Kia! Kau masak apa?”

“Mira-ya kau sudah bangun? Aku memasak Bulgogi, kau bisa membantuku?”

“Tentu!”

Kamipun mulai memasak, setelah masakan selesai tiba-tiba Sajin datang mungkin karena mencium bau makanan. Hehehe…

“Sajin-a makanan sudah siap. Apa Alin sudah bangun?”

“Sepertinya belum”

“Dasar anak itu, akan aku bangunkan! Kebiasaan bangun siangnya mulai lagi.”

Aku langsung berlari keatas. Sesampainya di depan kamar Alin aku langsung mendobraknya dan berteriak.

“ALIINN BANGUN CEPEETT!” teriakku sambil mengguncang tubuhnya.

“Nanti dulu ah. Masih ngantuk.” Katanya sambil menutup kepalanya dengan selimut.

“HYA! KAU INI! KITA ADA KELAS PAGI!”

“Ish, ya ya aku bangun sekarang. Bawel.”

Dasar anak itu, dia berlajan sempoyongan ke bawah, masih setengah sadar. Aku langsung menyusulnya turun. Setelah kita selesai makan, kami langsung mandi dan bersiap-siap dan menggunakan crop shirt pink ku. Kulihat Alin sudah menggunakan Crop shirt warna biru. Kami pun berangkat.

Aku duduk di bangku ku. Sebenarnya kita masuk terlalu pagi, kelas baru dimulai jam 8, dan ini masih jam 7. Baru ada 3 anak perempuan(tidak termasuk aku dan Alin), dan 2 tas laki-laki. Alin pamit ke kamar mandi, setelah dia keluar tiba-tiba ada sepasang tangan yang menutup mataku.

“Siapa kau?!”

To be continued

 

Lalala~ tbc~ semoga kalian sukaa^^ jangan lupa comment yaaaa^o^~

Iklan

Satu pemikiran pada “Happy Ending (Chapter 1)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s