Krim Historia – Morning Fight

Krim Historia – Morning Fight

 

Author : Eunroro13 (@Muthiamauli)

Main Casts : EXO-M Kris as Kris Wu & Kang Ahrim as Ahrim Wu (OC)

Support Casts : EXO-K Chanyeol as Park Chanyeol, EXO-M Luhan as Xi Luhan, EXO-M Xiumin as Kim Minseok

Length : 2.725 words

Rating : R, PG 17

Genre : Romance, Married Life

Disclaimer : I just own the idea and storyline. The casts except OC, belongs to SM Entertainment, their God, family, and fans. Cover Tutorial belongs to Pie Cherry. Last but not least, this fanfiction already posted on my personal wordpress.

Other Historia : Dear OppaGood Night

Author’s Note : Seri lainnya dari Krim Historia. Hahaha. Semoga pada suka karena aku bikin karakter Kris sedikit lain daripada biasanya –menurut aku sih. Maafkan aku kalau ada kata-kata yang salah atau typo, cover ga bagus ―emang ga bakat ngedit, dsb. Ditunggu komentar plus kritik dan sarannyaJ

Krim Historia - Morning Fight

Happy reading ^^

 

Krim Historia | ©2013 by Eunroro13

 

Apartement kecil bernuansa minimalis itu sepertinya tidak pernah tenang. Kendati hanya 2 orang yang menjadi penghuni di dalamnya, saat mereka berdua berada di dalamnya pastilah ramai dengan suara-suara yang cukup membisingkan. Untung saja apartemen itu telah didesain sedemikian rupa agar penghuni sebelah masih terjaga kenyamanannya. Setiap hari selalu ada perang nada tinggi yang terlontar dari mulut Kris maupun Ahrim, para penghuni apartemen itu. Terutama setiap pagi. Waktu dimana seharusnya kedamaian memulai perannya.

Seperti pagi ini misalnya. Pertengkaran kali ini bermula hanya karena pinggiran roti yang tersisa di piring. Jangan tanyakan pagi-pagi sebelumnya. Tidak ada pagi yang tidak mereka lalui dengan bertengkar. Lipatan celana yang tidak rapi, secangkir kopi yang terlalu manis, atau bahkan televisi yang dibiarkan terus menyala sejak semalam. Intinya, pagi tanpa suatu pertengkaran di antara keduanya tampaknya menjadi suatu hal yang bisa dibilang keajaiban. Agak berlebihan memang, tetapi itulah kenyataannya.

“Sudah ku bilang kau tidak boleh membuang makanan, Kris! Kau ini seperti anak-anak saja!”

“Apa kau bilang? Aku seperti anak-anak? Ya! Itu cuma pinggiran roti!”

“Pinggiran roti sekalipun itu tetap makanan, dan tetap bagian dari roti! Memang seperti anak-anak bukan? Menyisakan makanan yang mereka tidak suka,”

Kris mendesis kesal. Dia memang tidak suka pinggiran roti dari dulu, dan dia kesal jika dipaksa memakan makanan yang ia tidak suka. Lebih kesal lagi karena Istrinya terus mengomel dan mengeluh soal itu. Tanpa diberitahu pun Kris juga tahu bahwa pinggiran roti tetap bagian dari roti. Tapi walaupun begitu tetap saja ia tak suka.

“Demi Tuhan kau tinggal membuang sisa pinggiran itu ke tong sampah, Ahrim-ah!” erang Kris frustasi.

Ahrim yang mendengar hal itu dibuat kesal, “Setiap hari aku juga melakukannya. Tapi aku sudah bosan membuang-buang makanan seperti itu. Kau tau. Setiap hari aku kenyang dengan pinggiran-pinggiran roti mu itu,”

“Aku tidak menyuruhmu memakannya. Aku menyuruhmu membuangnya,”

“Tapi aku tidak suka,”

“Kalau begitu aku saja yang membuangnya,” putus Kris.

Kris bangkit dengan piring di tangan, bersiap untuk membuang. Tinggal beberapa langkah ia menuju tong sampah, rentangan tangan Ahrim mencoba menghalangi jalannya. Dilihatnya mata Ahrim yang menatap tajam matanya seolah memperingatkan. Kris memutar kedua bola matanya jengah. Sebenarnya apa mau gadis ini, Tuhan.

“Habiskan,” suruh Ahrim.

“Tidak,” tegas Kris.

“Dasar anak kecil,”

“Aku bukan anak kecil!”

“Kalau begitu habiskan. Orang dewasa tidak pilih-pilih makanan,”

Kris kehilangan akal untuk membalas ‘kekerasan hati’ istrinya itu. Sepertinya ia telah salah menikahi seorang gadis. Yang ia nikahi bukanlah malaikat, tetapi jelmaan ahjumma-ahjumma yang menyebalkan. Dia terus memikirkan cara agar perdebatan ini bisa berakhir dengan damai. Tapi tunggu dulu! Kenapa yang terlintas dipikirannya sekarang adalah hal itu! Err, mengerikan. Baiklah kita coba saja. Satu… Du―

“Jangan memikirkan yang tidak-tidak! Dan jangan ber-aeyo di depan ku. Aegyo mu hanya membuat ku sakit perut tau,” seloroh Ahrim seolah bisa membaca pikiran suaminya itu.

Kris mendesis kesal, “Siapa bilang aku akan melakukan hal itu. Menjijikan. Minggir. Aku mau membuang ini.”

Kali ini giliran Ahrim yang mendelik kesal. Kali ini tatapan tajam yang Kris lontarkan tidak akan mempan untuknya. Dengan malas, Ahrim mencomot pinggiran roti di piring Kris dan memakannya. Ahrim berjalan menjauh terlebih dahulu sebelum Kris melontarkan perkataannya.

“Ahrim-ah,”

“Besok pagi… Kau masaklah sarapan mu sendiri,” tegas Ahrim sambil berlalu menuju kamar mereka.

Kris tertawa mengejek, “Lucu sekali, Ahrim-ah. Kau pas―,”

Perkataan Kris terhenti setelah suara debaman pintu kamar mereka menelisik telinganya. Sedetik setelahnya Kris baru sadar bahwa istri yang sangat ‘dicintainya’ itu tidak sedang bermain-main.

“Wu Ahrim! Tarik ucapanmu itu! Ya! Kang Ahrim! Buka pintunya!”

* * *

Mood Kris benar-benar jelek hari ini, dan semuanya lebih banyak dilampiaskan pada sekretarisnya. Mulai soal laporan yang tidak rapi ―walaupun pada dasarnya sudah rapi dan Kris hanya ingin mencari alasan saja, sampai soal keterlambatan mengangkat panggilan darinya. Bagaimana mood-nya tidak jelek. Pagi ini Ahrim berulah dengan tidak memasakkan sarapan sedikitpun ―seperti yang Ahrim ucapkan kemarin. Kalau bukan karena ancaman Kris membuang seluruh koleksi novel dan memblokir kartu kredit milik sang istri, Ahrim tidak akan memasakkan nasi goreng untuknya. Ancaman yang paling tepat bagi Ahrim yang tidak bisa tidak membaca buku dan tidak bisa tidak membeli barang satu novel saja dalam sebulan. Kekesalan Kris tidak sampai disitu saja. Ahrim kembali membuatnya kesal dengan memilih kabur berangkat sendirian ke kampusnya dengan naik bus, menolak diantar olehnya. Demi apapun hari ini benar-benar menyebalkan.

Seolah menambah suasana buruk hatinya, saat istirahat makan siang tadi rekan-rekan kerjanya seperti Chanyeol, Luhan, dan Minseok membicarakan kemesraan mereka dengan para istri. Dimulai dari Minseok yang bercerita tentang bagaimana setiap detik yang mereka habiskan dengan bermesraan. Walaupun pada saat Minseok dengan bangganya menceritakan soal ‘pertempuran’ mereka, Kris dan yang lainnya mendesis jijik. Belum lagi saat lelaki itu berlagak memberikan petuah mengenai romantisme dalam rumah tangga. Tidak ada satupun yang mendengarkan dengan seksama sampai akhirnya Minseok sendiri lah yang memutuskan untuk mengakhiri ceritanya.

Sementara itu Luhan yang ditanya mengenai perkara rumah tangganya hanya menjawab dengan santai. Dengan muka tenang Luhan bercerita bahwa ia dan istrinya hanya menjalani rutinitas pagi seperti morning kiss, sarapan bersama, dan selalu bertukar kabar. Karena baginya hal simple seperti itu sudah cukup. Sungguh Kris yang mendengar cerita itu begitu iri. Jangankan morning kiss, tidak bertengkar dengan Ahrim saja sudah syukur. Yah walaupun dirinya juga melakukan sarapan bersama, tetapi tetap saja Kris merasa Luhan lebih beruntung ketimbang dirinya. Oh ya jangan lupakan pesan. Sampai detik Kris memikirkan ulang kejadian makan siang tadi pun Ahrim belum mengiriminya pesan balasan. Awas saja nanti Ahrim! Kau tak akan selamat!

Chanyeol yang baru saja menikah pun turut membagikan ceritanya. Chanyeol bercerita di setiap kesempatan dia dan istrinya selalu memasak bersama ―walaupun Kris yakin Chanyeol hanya ikut merusuh saja. Chanyeol dengan mimik muka senangnya berterima kasih karena Tuhan memberinya istri yang pengertian dan selalu memasakkan makanan kesukaannya. Ayolah bagaimana Kris tidak iri? Ahrim bahkan mengomelinya soal makanan yang ia tak suka. Sampai akhirnya topik itu ditujukan pada sosok Kris. Chanyeol menanyainya dengan muka polos ingin tahunya. Tak bisa mengelak, Kris menjawab dengan muka angkuh dan tatapan tajamnya.

“Instead a morning kiss, we always had a morning fight.”

Sontak Chanyeol dan Minseok terkejut dibuatnya. Mereka bahkan tidak berniat lagi untuk melanjutkan pembicaraan itu dan memilih untuk menghabiskan makan siang mereka. Siapa yang berani melanjutkannya jika ditatap tajam seperti itu oleh Kris. Luhan hanya tersenyum simpul melihat ekspresi kekesalan sahabatnya itu. Dia juga bisa menebak bagaimana frustasinya Kris menghadapi sosok Ahrim. Karena pada dasarnya mereka berteman sangat akrab seperti adik dan kakak, Luhan dan Ahrim. Tidak ada yang tidak Ahrim ceritakan pada Luhan dan begitu juga sebaliknya.

“Masih kesal juga dengan Ahrim?” tanya Luhan sesaat ia memasuki ruang kerja Kris.

Kris hanya menatapnya balik dan mengangguk malas. Luhan mau tak mau tersenyum geli melihat tingkah laku Kris hari ini. Betapa hebatnya seorang Ahrim yang bisa membuat Kris sekacau ini, pikir Luhan. Luhan mendudukkan dirinya di kursi di hadapan Kris. Well, tidak ada salahnya ikut membuat Kris kesal sedikit kan.

“Jadi apa saja yang kalian lalui sehari-harinya huh? Bertengkar?”

Kris menatapnya tajam, “Kau pasti tahu dari Ahrim kan. Mengapa bertanya lagi?”

“Santai sobat. Aku kan hanya bertanya. Jadi kali ini masalahnya apalagi? Sepatu yang tidak mengkilap?” kekeh Luhan tak mengindahkan tatapan tidak bersahabat dari lawan bicaranya.

“Haruskah aku menceritakannya?”

“Tentu. Aku kan sahabat kalian,”

Melihat wajah polos Luhan, Kris hanya bisa mendesah dan menuruti kemauan sahabatnya itu, “Kau tau pinggiran roti yang menyebalkan itu? Dia mengomel dan mengatai ku anak kecil hanya karena aku tidak menghabiskannya,”

Luhan tidak bisa lagi menyembunyikan tawanya. Kris hanya menatapnya frustasi dan memohon lewat desisannya agar Luhan menghentikan tawa yang membuat ia malu. Luhan mengangkat tangannya menyerah dan mulai menghentikan tawanya. Walaupun sesekali ia masih terkekeh jika menatap wajah sahabatnya.

“Ahrim memang hebat. Sepertinya aku harus berguru padanya agar bisa membuat mu kesal seperti ini, Kris,”

“Luhan—,”

“Oke. Jadi apa yang akan kau lakukan? Menceraikannya?”

“Kau gila Xi Luhan! Sampai kapan pun aku tidak akan berpisah dari Ahrim,” tegas Kris yang mengundang senyum Luhan.

“Lalu?”

“Aku tidak tahu,”

“Baiklah. Kau tidak ingin terus bertengkar dengannya bukan?”

Sebagai jawaban Kris hanya menganggukkan kepalanya. Luhan kembali mulai bicara, “Kalau kau tidak ingin terus bertengkar, kenapa kau tidak mencoba untuk menghentikannya?”

“Caranya?”

“Kau pasti tahu caranya Kris. Bukan dengan gengsi dan egomu. Hatimu.”

* * *

Ahrim masih betah untuk tinggal di kampusnya. Rasanya kakinya begitu malas untuk melangkah menuju halte. Entah kenapa pemandangan taman di kampusnya kali ini menarik perhatiannya barang untuk duduk dan menikmati kopi sebentar. Jadilah disini ia sekarang, menenangkan diri sambil memandangi bangunan kampusnya yang mulai menyepi.

“Tidakkah aku terlalu jahat dengannya?” gumam Ahrim.

“Hah. Tapi kesal sekali rasanya setiap hari melihat ia terus membuang makanan. Entah itu tomat, selada, pinggiran roti. Dikiranya memasak itu gampang apa. Ha!”

“Apa dia sudah makan siang? Dia bahkan tidak menghubungi ku,”

Ahrim mengacak rambutnya frustasi saat mendapati ponselnya tidak menampilkan apa yang ia harapkan. Haruskah ia yang menghubungi Kris terlebih dahulu? Oh ayolah! Bukankah sekarang Ahrim tengah memainkan peran sebagai ‘yang perlu ditenangkan’? Mengapa ia yang harus berinisiatif terlebih dahulu? Ahrim sendiri sebenarnya tidak mengerti mengapa ia begitu kesal Kris membuang pinggiran rotinya. Ahrim tahu –sangat tahu— bahwa Kris tidak menyukainya. Tapi tetap saja dia kesal. Tidak bisakah Kris menerima hasil jerih payahnya memasakkan sarapan untuk Kris? Ahrim mendesah. Entah mengapa ia menjadi sensitive sekali akhir-akhir ini, dan tak jarang menjadi pemicu pertengkaran di antara mereka berdua.

“Kau terlihat seperti orang gila, nyonya Wu,”

Ahrim menoleh kaget ke arah sumber suara. Didapatinya sosok sang suami yang berjalan untuk duduk di sampingnya. Sebutlah Ahrim gila sekarang karena matanya benar-benar tidak bisa lepas dari sosok Kris yang menenteng jasnya di tangan dengan dasi yang sedikit dilonggarkan. Tampan, pikir Ahrim.

Kris tersenyum mengejek melihat ekspresi yang ditunjukkan istrinya. Pasca berbincang-bincang sebentar dengan Luhan tadi, Kris memutuskan untuk segera pulang menemui istrinya. Akan tetapi sesampainya ia di rumah, ia tidak mendapati Ahrim disana, Kris langsung memacu mobilnya untuk menuju kampus sang istri. Syukurlah sekarang ia bisa menemukannya duduk di bangku taman. Kris mengulurkan tangannya untuk sedikit mengacak rambut istrinya. Seketika membuat Ahrim sadar dari lamunannya dan mencoba menghindari acakan Kris pada rambutnya. Seketika itu juga otaknya memerintahkan untuk segera memasang wajah dingin kepada suaminya itu. Kembali memainkan peran istri yang sedang kesal.

“Apa yang kau lakukan disini?” ketus Ahrim

Kris tersenyum tipis, “Menjemput istriku. Tidak boleh?”

Jawaban yang dilontarkan Kris sukses membuat Ahrim tertegun. Tidak bisa dipungkiri bahwa hatinya sekarang terkejut senang mendengarnya. Tapi tidak boleh seperti ini. Tidak boleh semudah ini Kris berhasil membuatnya tidak kesal lagi. Alhasil Ahrim pun kembali berakting dingin setelah berhasil mengontrol kembali ekspresi wajah dan hatinya.

“Aku bisa pulang sendiri naik bus. Tak perlu repot-repot.”

Ahrim bangkit dari duduknya, mencoba menghindar. Tapi sayangnya tangannya terlebih dahulu digapai dan digenggam oleh Kris. Genggaman erat tangan Kris dan tatapan tajam favoritenya itu berhasil membuat ia menurut untuk dituntun menuju mobil dan pulang bersama sang suami.

* * *

Waktunya makan malam dan Ahrim tengah berkutat dengan berbagai bahan di dapur. Walaupun sebenarnya dia benar-benar malas untuk memasak, tetapi tidak mungkin membiarkan Kris memesan makanan cepat saji untuk makan malam. Dia tidak ingin suaminya sakit, tentu saja. Saat Ahrim disibukkan dengan wortel yang harus dipotong dadu, sepasang tangan bergelayut manja di pinggangnya yang membuat pisau di tangannya terlepas begitu saja. Siapa lagi kalau bukan Kris yang melakukannya.

“Ya. Kau mengagetkan ku tau,”

“Hmm, aku tau. Kau memasak apa?”

“Makanan untuk makan malam. Jadi menjauhlah dari sini dan tunggu makan malamnya selesai,” titah Ahrim.

Kris tidak bergeming dari posisinya sekarang. Justru ia semakin mengeratkan pelukannya. Rasanya sudah lama sekali mereka tidak memosisikan diri semesra ini, batin Kris. Ahrim terus menggeliatkan tubuhnya tak nyaman. Selain karena pelukan itu membuat  jantungnya berdegup kencang, ia jadi tidak bisa berkonsentrasi dengan potongan-potongan sayur di depannya.

“Kris. Lepaskan atau tidak akan ada makan malam,”

“Aku pilih yang kedua,”

“Aku serius Kris,”

“Aku juga,” balas Kris.

Dirinya berusaha menghirup feromon kesukaannya di tengkuk Ahrim. Nyaris membuat Ahrim berlutut karena tubuhnya yang lemas. Ahrim memejamkan matanya mencoba mengontrol diri saat Kris membenamkan wajahnya di leher miliknya.

“Kris—,“

“Kita sudah lama tidak seperti ini Ahrim-ah. Jadi diamlah. Jangan buat aku marah.” potong Kris tajam.

Ahrim mengunci mulut dan tubuhnya seketika. Tidak berniat berontak ataupun melontarkan protes lagi. Dia sadar bahwa sekarang Kris tidak sedang bermain-main. Toh dia juga merasa rindu dengan perlakuan Kris sekarang dan memutuskan untuk membiarkan suaminya berlaku sesukanya. Detik demi detik mereka lalui dengan berdiam diri dan berpelukan. Tidak ada sepatah kata pun yang terlontar dari mulut keduanya.

“Aku merindukanmu sayang,” ucap Kris memecah keheningan. Nada tulus yang Kris lontarkan berhasil membuat tubuh Ahrim meremang.

Ya. Ahrim juga sama rindunya dengan Kris. Bahkan mungkin lebih. Akhir-akhir ini Kris dan dirinya jarang bertemu dan saling menghabiskan waktu bersama. Kris sibuk dengan perusahannya, sementara Ahrim sibuk dengan pendidikan semester akhirnya. Jikalau Ahrim sampai terlebih dahulu di rumah, Kris bisa jadi belum pulang dan baru sampai ketika dirinya sudah terlelap di sofa –menunggu sang suami. Tapi jika hal sebaliknya yang terjadi, Ahrim akan langsung menyiapkan makan malam untuk sang suami, dan tanpa sepatah kata apapun langsung menuju tempat tidur untuk melepas lelah. Pertengkaran di antara mereka pun tak jarang terjadi karena mereka tidak bisa mengontrol emosi akibat kelelahan. Padahal sebenarnya omelan atau sindiran yang memicu pertengkaran hanya karena satu sama lain ingin mendapatkan perhatian.

“Aku juga, Kris,” jawab Ahrim.

Kris membalikkan tubuh Ahrim untuk langsung menatap wajah sang istri. Diusapnya lembut pipi istrinya yang perlahan membiaskan semburat merah. Kris terkekeh dibuatnya. Wajahnya mendekat membuat sang istri gelagapan dengan tingkahnya itu.

“Kau tau aku nyaris gila terus bertengkar setiap hari dengan mu,”

“Kau pikir aku tidak gila apa. Kau benar-benar menyebalkan tahu,” sungut Ahrim.

Kris menyunggingkan seringai andalannya, “Maafkan aku. Tapi kau juga menyebalkan. Kau seperti ahjumma-ahjumma yang berjualan di pasar selalu ribut setiap saat,”

Ahrim melotot, “Apa kau bilang?! Aku—“

Perkataan Ahrim terhenti begitu saja saat suatu hal yang lembut membungkam bibirnya. Jantung Ahrim berdetak cepat seiring dengan pupil matanya yang melebar saking terkejutnya. Kris semakin melumat bibirnya membuatnya tidak tahan untuk tidak memejamkan mata. Tangan Kris berusaha membuat tubuh mereka semakin mendekat dan mengusap pinggang Ahrim pelan. Ahrim yang semakin larut dalam ciuman itupun mengalungkan tangannya di leher Kris. Kris tersenyum samar mengetahui reaksi Ahrim dan memperdalam ciuman mereka. Beberapa menit setelahnya tautan bibir itupun terlepas dan sunggingan senyum saling terlempar dari keduanya.

“Kris,”

“Ya?”

“Tidak jadi. Lepaskan aku. Kita hampir terlambat makan malam.” kata Ahrim sambil mencoba melepaskan diri dari rengkuhan Kris.

Kris menahannya. Membuat Ahrim melontarkan tatapan bertanya sekaligus kesal. Kris mengecup singkat bibir istrinya yang mengerucut itu.

“Aku mencintaimu,”

Ahrim berdecak sebal, “Iya aku tau. Sekarang lepaskan pelukan mu dan kita akan segera makan malam.”

Kris tetap tak bergeming akan pelukan eratnya, “Kita bisa makan malam nanti setelah ini.”

“Oh ayolah Kris. Ini sudah hampir jam 8 malam. Kau mau makan jam berapa lagi?”

“Nanti setelah aku selesai merindukanmu.” tutup Kris.

Kris membopong istrinya menuju kamar mereka berdua. Ditutupnya pintu kamar itu dengan menggunakan sebelah kakinya. Malam ini mereka benar-benar melampiaskan semua ‘kerinduan’ mereka di dalam sana. Hanya berdua dengan segala cinta yang ada.

* * *

“Kemarin siang aku berbincang dengan Luhan dan yang lainnya. Mereka benar-benar menguji kesabaran ku dengan membicarakan soal morning kiss dan hal lainnya.” cerita Kris.

Ahrim yang berbaring membelakangi Kris pun tertawa. Menaikkan selimut nya ke atas untuk menutupi tubuhnya. Ya, mereka baru saja selesai melepas ‘rindu’. Sekarang tengah dini hari dan mereka berdua belum juga tidur, masih betah berpelukan di balik selimut yang membungkus tubuh mereka.

“Luhan bahkan tertawa saat aku menceritakan bahwa kau mengataiku anak kecil,” sungut Kris yang mengundang kekehan dari istrinya.

“Kau memang anak kecil, Kris,”

“Mau mulai lagi?”

“Tidak,” putus Ahrim cepat.

Kris tersenyum dan semakin mengeratkan pelukannya. Sesekali ia menggelitiki tubuh Ahrim dan berakhir dengan mencuri sebuah ciuman di pipi sang istri.

“Sepertinya ritual morning kiss tidaklah buruk,” cetus Kris sambil menyunggingkan smirk-nya.

“Apa? Tidak! Aku tidak mau melakukannya!”

“Ya! Masa iya kita kalah mesra dengan Luhan! Kau mau ditertawakan oleh kakakmu itu hah?”

“Shireo! Kau minta saja sana morning kiss dengan guling,” balas Ahrim sembari menarik selimutnya menjauh dan melepaskan diri dari pelukan Kris. Yang benar saja laki-laki ini. Meminta morning kiss segamblang itu padanya. Aish! Untung saja dia tidak melihat wajahnya yang memerah.

Kris menyadari bahwa istrinya malu akibat permintaannya yang terlalu mendadak. Tapi sungguh –entah sejak kapan— menggoda Ahrim adalah hal yang menyenangkan baginya. Kris kembali meraih tubuh Ahrim ke pelukannya, mempertipis jarak di antara mereka berdua.

“Arraseo. Besok pagi saja kita bahas lagi. Sekarang tidurlah, nyonya Wu. Jalja.” tutup Kris sambil memejamkan mata. Ahrim tersenyum dibuatnya. Perlahan Ahrim pun menyusul Kris terlelap dalam dekapannya.

Krim Historia

— Kkeut —

 

Iklan

12 pemikiran pada “Krim Historia – Morning Fight

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s