Love in Winter (Chapter 1)

Love In Winter

Capture 1

Characters:

-Song Jae Ah as Jae Ah/you (OC)

Capture 2

 

-Oh Sehun as Sehun

Capture 3

 

-Son Naeun as Sehun’s girlfriend [cameo]

Capture 4

 

-Other casts

Genre: Angst, little bit horror, romance

Rating: PG-13

Length: Chaptered

Description:

Song Jae Ah, adalah seorang yeoja yang manis, cerdas, dan memiliki sifat yang sangat baik. Karena kecerdasannya itu, ia dikirim ke kota lain untuk bekerja dalam waktu kurang lebih setengah tahun. Di kota itu, ia jatuh cinta kepada seorang namja bernama Sehun, dan mereka bertemu untuk yang pertama kalinya pada waktu musim dingin. Namun sayangnya, ditengah-tengah perasaan cintanya itu, Sehun malah berpacaran dengan yeoja lain yang ternyata suka mabuk mabukan. Bagaimana kisah cinta Jae Ah selanjutnya?

Foreword:

Annyeong! Kali ini author dengan nama Park Rin Chan mempersembahkan satu fanfiction yang berjudul Love In Winter. Bukan Love in Paris yaa, jalan ceritanya beda loh xD Oiya, ff ini serapan dari pengalaman seseorang di RPW (role player world), keliatannya pengalaman dia bisa dikembangkan jadi ff, makanya terbuatlah ff ini. Penasaran? Ini dia ceritanya, hope you enjoy it!

Jae Ah POV:

Sudah sejak awal musim gugur aku menetap disini untuk bekerja. Lebih tepatnya, tiga bulan yang lalu. Saat ini sudah mulai memasuki musim dingin. Ternyata, menetap disini lebih menyenangkan dari apa yang kubayangkan sebelumnya. Penduduknya lebih ramah, dan pemandangannya lebih indah. Apalagi pada waktu musim dingin atau winter. Memang sih, aku jauh dengan keluarga inti. Aku hanya tinggal bersama Song Victonia, ahjumma-ku. Ia bercerai dengan ahjussi-ku sekitar lima belas tahun yang lalu, dan ia hanya memiliki seorang anak perempuan yang bernama Soojin. Ia dua tahun lebih tua dariku. Perekonomian mereka cukup baik, tetapi aku tetap berusaha untuk tidak merepotkan mereka. Kalau aku mau makan siang, biasanya aku membeli sendiri. Dan kalau aku pulang kerja, aku selalu menaiki kendaraan umum dan tidak pernah meminta ahjumma untuk menjemputku, walaupun ia selalu mengkhawatirkan keadaanku. Ia takut kalau terjadi hal-hal yang tidak diinginkan saat aku dalam perjalanan pulang. Disini, aku berlatih menjadi lebih mandiri, tidak seperti waktu aku masih duduk di bangku sekolah, semua permintaanku pasti dituruti oleh appa dan eomma-ku.

Suatu malam, aku hanya sendirian di rumah ahjumma. Ia menemani Soojin eonnie yang sedang dirawat di rumah sakit, sehingga ia terpaksa bermalam disana. Karena takut tidak ada yang menjaga rumah, akhirnya aku tidak keluar rumah. Tidak hanya itu, tetapi malam ini lebih dingin dari malam sebelumnya, maklum karena sekarang ini adalah musim dingin, sehingga aku malas mencari makan malam di luar.

Dan seperti biasanya, aku membaca buku di kamar. Kebetulan, meja yang disediakan untuk membaca tersebut menghadap ke jendela. Sembari melepaskan kejenuhan, aku mencoba membuka tirai jendela itu. Tidak ada apa apa disana, hanya rumah tetangga yang sedikit tertutup oleh salju, dan pohon pohon kecil yang tertanam di halaman. Hingga akhirnya, pandanganku tertuju kepada salah satu jendela di rumah tetanggaku. Jendela tersebut terlihat paling terang diantara yang lainnya, mungkin ruangan yang ada di dalam sedang digunakan oleh penghuninya.

Akupun mengalihkan pandangan dan kembali fokus pada buku yang kubaca. Tetapi entah apa yang membuatku melirik jendela itu lagi. Tampak seorang namja yang sedang mengintip ke arah jendela. Kurasa, ia juga ingin melepaskan kejenuhannya. Perlahan lahan, kulihat ia berusaha membuka jendelanya, lalu ia berteriak untuk memanggilku. Ia memberikan isyarat dengan tangannya, dan ia bermaksud menyuruhku membuka jendela.

Akupun membuka jendela kamarku. Karena jarak jendela antar rumah hanya beberapa meter, akhirnya aku dapat berkomunikasi dengan namja itu. Dan dari situlah kami berkenalan secara langsung. “Annyeong!”, Sapa namja itu. “Ah….Annyeong!!”, Balasku sedikit malu malu. “Siapa namamu?”, Tanya namja itu. “J….Jae Ah imnida. And you?”, Tanyaku. “Sehun imnida. Salam kenal, Jae Ah!”, Ujarnya sambil tersenyum. Aku pun membalas senyumannya, dan kami berbicara sebentar.  Ia bilang, besok pukul 12 siang ia ingin bertemu denganku di taman yang tidak jauh dari rumah, karena kebetulan besok adalah hari libur.

Kelihatannya, Sehun adalah teman yang baik untukku. Dari awal berkenalan, ia memang sangat ramah. Maka dari itu, aku sangat tidak sabar menunggu besok, karena aku akan bertemu dengannya secara langsung. Dan entah kenapa, malam ini Sehun tidak bisa lepas dari pikiranku. Aku sudah berusaha mengalihkan pikiran, tapi tetap saja tidak bisa. Aish jinjja!!

Keesokan harinya……

Jae Ah POV:

Ya! Aku sudah siap bertemu dengan Sehun! Ia berada ditengah keramaian anak anak yang sedang bermain di taman itu. Kali ini jantungku berdegup kencang, dan perlahan lahan aku mulai melangkahkan kakiku ke taman, ditemani dengan angin sejuk musim dingin. Tampak dari jauh, Sehun sudah menungguku. Tak lama kemudian, akupun bertemu dengannya. Perlahan ia duduk di sebelahku, dan ia memulai pembicaraannya.

“Jae Ah, bagaimana kabarmu hari ini?”,

“Aku baik baik saja, bagaimana dengan kau?”,

“Aku juga baik baik saja. Omong omong….kau baru pindah kesini ya? Bagaimana pendapatmu tentang daerah ini?”,

“Ya, bisa dibilang baru sebentar aku tinggal disini. Baru 3 bulan, tetapi jujur aku sudah merasa nyaman”,

“Kalau aku boleh tau, dimana daerah asalmu?”,

“Aku lahir di Seoul. Tetapi sebenarnya aku dan keluargaku pernah menetap disini selama tujuh tahun. Sekarang, aku pindah kesini untuk bekerja, dan berpisah dengan keluargaku di Seoul”,

“Jadi, kau berasal dari Seoul? Bukannya Seoul itu tempat tinggal orang-orang kaya? Kau sungguh beruntung, Jae Ah. Kau lahir dari keluarga yang kaya raya. Tidak seperti aku, sejak kecil, aku dan keluargaku hidup miskin. Tapi aku yakin, kau bukan orang kaya yang sombong. Buktinya, kau masih mau tinggal di perumahan yang kumuh ini”,

“Ah, tidak kok. Aku dan keluargaku hidup sederhana. Menurutku, perumahan ini cukup bagus. Jadi, jangan merendahkan diri, ne?”,

“Mmm…..Kalau aku boleh tau, berapa umurmu?”,

“24 tahun untuk umur Korea. Bagaimana dengan kau?”,

“Mwo? Aku kira kau masih berusia 18 tahun, karena wajahmu masih terlihat seperti anak anak. Umurku? Aku satu tahun lebih tua darimu. Tapi sepertinya, kau lebih pintar dan berbakat daripada aku. Maklum, kau kan berasal dari kota besar”,

“ Sudahlah, umur kita berbeda. Pasti kemampuanku masih jauh dibawahmu. Menurutku, tinggal di kota besar maupun kecil sama saja, kalau aku tinggal di kota besar tapi aku tidak pernah berusaha, pasti tidak akan berhasil. Oh iya, kalau kau lebih tua dariku…..berarti aku akan memanggilmu dengan sebutan oppa”,

“Ne, Jae Ah. Omong omong…..mian Jae Ah, ada sesuatu di rambutmu”, Ucapnya sambil meraba rambutku.

“Ah…ternyata sekuntum bunga. Biar kuselipkan bunga itu pada rambutmu, kau akan terlihat cantik”, Ujarnya lagi.

Wajahku pun memerah karena malu. Kurasa memang benar aku sedang jatuh cinta. Ya, mungkin memang jatuh cinta pada pandangan pertama. Tatapannya yang tajam dan suaranya yang lembut membuatku semakin cinta. Belum lagi, sifatnya yang sangat baik. Satu hal yang kuharapkan, ia juga merasakan yang sama. Dan….oh ya! Apa mungkin ahjumma-ku mengenal eomma dari Sehun oppa? Kalau memang iya, semoga mereka dekat dan aku bisa mengenal Sehun oppa lebih dekat! Pokoknya, ketika ahjumma kembali, aku harus menceritakan semua ini padanya. Yeah…..Sehun oppa, jeongmal saranghae!!

*backsound: Exo K-Into Your World (Angel)*

Seminggu kemudian…..

“Jae Ah, buka pintunya…..”, Ucap ahjumma sambil mengetuk pintu.

Saat ahjumma dan Soojin eonnie kembali, aku tertidur di ruang tamu. Padahal, waktu baru menunjukkan pukul 6 sore. Kalau musim dingin, biarpun sebenarnya masih sore, pasti langit sudah gelap. Apalagi saat ini sedang bersalju, semakin gelap dan dinginlah di luar rumah, dan tentunya aku lebih cepat mengantuk.

“Jae Ah….tolong buka pintunya, di luar dingin sekali”, Ujar ahjumma lagi. Akupun langsung terbangun dan membukakan pintu untuk mereka. Dan aku baru ingat, bahwa aku akan menanyakan sesuatu yang berkaitan dengan Sehun oppa. Maka dari itulah aku tidak tidur lagi dan langsung membukakan pintu.

“Mian ahjumma, eonnie, tadi aku tertidur. Silahkan masuk”, Ujarku sambil mengajak mereka masuk ke dalam.

“Bagaimana, Jae Ah? Seminggu ini tidak ada kejadian apa apa kan?”, Tanya ahjumma.

“Umm…..sepertinya tidak ada. Memangnya kenapa?”, Ujarku.

“Tidak apa apa. Aku hanya memastikan saja”, Jawab ahjumma.

“Baiklah….Omong omong……aku mau menanyakan sesuatu”, Ucapku.

“Apa itu?”, Tanya ahjumma-ku dengan penasaran.

“ Apakah ahjumma kenal dengan orang tua Sehun oppa? Itu loh, tetangga di sebelah rumah ahjumma”, Tanyaku sambil setengah tersenyum.

“Sehun? Anak dari Oh Haeun, bukan?  Iya, ahjumma kenal. Kamu jangan pernah main sama dia ya!”, Jawab ahjumma tegas.

“Loh? Memang kenapa, ahjumma? Sehun oppa baik kok sama aku”, Tanyaku.

“Nih, ahjumma beritahu ya. Eomma dari Sehun itu jahat! Kerjaannya membuat isu-isu yang tidak benar, bahkan ia suka memfitnah tetangga yang lainnya! Kau tau kan, ada peribahasa buah yang jatuh tidak akan jauh dari pohonnya? Kalau eomma Sehun bukan orang yang baik, pasti Sehun juga! Sekali lagi kutekankan, jangan pernah bergaul dengan Sehun! Apalagi dia itu orang miskin. Nanti dia minta minta sama kamu”, Ucap ahjumma panjang lebar.

“Aigoo, maksud ahjumma apa sih? Belum tentu Sehun oppa sama seperti eomma-nya, kalau memang itu benar, akan kubuktikan!”, Ujarku dalam hati.

“Wae, Jae Ah? Nampaknya… kau menyukai Sehun, ya? Tidak ada selera yang lebih baik? Di Seoul sana, pasti masih banyak namja yang lebih baik darinya. Kau kan lulusan dari universitas unggulan. Masa kau mau dengan namja dari daerah yang kumuh? Appa dan eomma-mu pasti malu melihat anaknya dekat dengan namja miskin. Belum lagi dongsaeng-mu, dia tidak akan sudi memiliki seorang hyung yang dekil seperti itu kalau kau menikah dengannya”, Ucap ahjumma lagi.

“Aduh ahjumma, sudahlah. Umurku kan masih termasuk muda, jangan memikirkan soal pernikahan. Aku dan Sehun hanya berteman, memangnya ada masalah?”, Tanyaku dengan suara yang sedikit keras.

“Ya sudahlah, terserah kau saja. Tapi, jangan salahkan aku kalau kau menjadi miskin seperti Sehun. Aku tidak suka melihatmu berteman dengannya. Jauhi dia, atau kubunuh dia kalau perlu!”, Teriak ahjumma.

“Ya ya ya, aku turuti kemauan ahjumma. Tapi, tolong jangan bunuh Sehun!”, Jawabku.

Aku sama sekali tidak menyangka, bahwa semuanya akan terjadi seperti ini. Ahjumma-ku membenci keluarga Sehun oppa. Semoga saja, keluarga Sehun oppa tidak membenci ahjumma-ku. Aku yakin, semua ini pasti ada jalan keluarnya, sekalipun harus ada salah satu pihak yang mengalah. Aku siap menerima semua ini.

Sehun POV:

“Sehun-ya!”, Teriak eomma-ku dari kamar lain. Entah ceramah apa lagi yang akan ia berikan padaku.

“Ne, eomma?”,

“Minggu lalu, kau bermain dengan  jokattal dari Victonia ahjumma kan? Apa kau sudah gila? Eomma dan Victonia ahjumma memang bermusuhan sejak dahulu. Dia itu keluarga broken home, maklum kalau tingkah lakunya mirip mirip dengan orang yang sakit jiwa!”, eomma-ku berteriak lebih keras dari sebelumnya, sampai orang orang yang ada di sekitar kami langsung menutup telinga.

“Jae Ah bukan merupakan anak dari Victonia ahjumma. Pastilah ia berbeda dengan ahjumma-nya yang sombong. Aku lebih tau asal usul Jae Ah. Jadi, eomma jangan sok tau!”,

“Mereka pasti sama saja! Kalau ternyata Jae Ah juga suka menghina kita di belakang, kau mau apa, hm?”,

“Keluarga Jae Ah ada di Seoul. Tempat orang-orang kaya di negara ini bernaung. Dari awal aku bertemu dengannya, ia sama sekali tidak pernah menghina kita. Itu berarti, ia memang berbeda dengan ahjumma-nya!”,

“Terserah kau. Yang jelas, kau tidak boleh berteman dengannya!”,

Apa apaan sih eomma-ku ini. Mungkin ini memang sudah kebiasaannya yang suka membicarakan kejelekan orang lain. Tidak hanya Jae Ah, semua tetangga di daerah ini tidak ada yang tidak pernah ia bicarakan kejelekannya. Sampai sampai, banyak tetangga yang pindah rumah dengan alasan selalu dibicarakan kejelekannya oleh eomma-ku. Tidak ada yang bisa kulakukan, sampai eomma-ku sadar akan kesalahannya sendiri.

Jae Ah POV:

Aku ingin memberitahukan perasaanku yang sebenarnya kepada Sehun oppa. Tetapi, bagaimana kalau ahjumma tau dan ia marah marah padaku? Dan satu lagi, belum tentu Sehun oppa juga memiliki perasaan yang sama denganku. Duh, kalau saja ahjumma-ku dan eomma dari Sehun tidak bermusuhan, pasti semuanya akan lebih mudah! Dasar ibu ibu arisan, ada saja yang diperdebatkan.

Aha! Aku punya ide. Bagaimana kalau aku mengirimkan surat kaleng kepada Sehun oppa? Biasanya kan para yeoja yang malu menyampaikan perasaan kepada namja yang disukainya, ia akan mengirimkan surat kaleng. Dan kalau mereka mengirimkan surat, biasanya tidak akan tanggung tanggung. Dalam sehari, mereka bisa mengirimkan lima surat pada orang yang sama. Nah, mengapa tidak? Kajja, Jae Ah!

Akupun menuliskan surat kaleng tersebut di kertas yang berwarna pink. Supaya tidak ketahuan, kugunakan nama samaran, yaitu Snow Girl.

Keesokan harinya……

Sehun POV:

“Sehun, ada surat untukmu!”,

“Aduh, kau ini bagaimana sih, jam segini masih tidur. Cepat bangun, ada surat”, Ucap Myungsoo, hyung-ku.  Ia menyerahkan amplop kecil yang sudah agak basah terkena salju.

Kuraih dan kubuka amplop tersebut. Dengan mata yang masih setengah tertutup, kuambil isi amplop itu.

“Dari siapa? Surat cinta ya? Atau jangan jangan surat terror?”, Tanya hyung-ku lagi.

“Sudahlah, kau pergi saja sana, jangan mengintip!”, Ucapku.

To: Oh Sehun

Annyeong! Kau tau, apa isi surat ini? Aku suka padamu! Sejujurnya, aku masih malu menyatakan perasaanku. Tetapi….. tidak ada salahnya kalau aku harap kau merasakan hal yang sama.

From: Snow Girl

Ini sih sudah rezeki sejak aku lulus sekolah dasar. Sering dikirimi surat kaleng yang menyatakan bahwa sang pengirim suka padaku. Dan mereka bilang, mereka masih malu malu untuk mengakui siapa mereka sebenarnya. Tiga tahun yang lalu, ada beberapa orang yang mengaku bahwa mereka menyukaiku. Tetapi, saat itu aku sedang berpacaran dengan seseorang. Aku tau mereka cemburu, tetapi ya….apa lagi yang harus kulakukan.

“Bagaimana? Apa isi surat itu?”, Tanya hyungku lagi.

“Mau tau saja kau. Sudah, mandi sana!”, Jawabku sambil menarik selimut.

“Santai saja kali, aku kan hanya tanya”, Ucap hyung-ku sambil berbalik meninggalkanku.

Aku masih memikirkan siapa sang pengirim sebenarnya. Nama samaran dari sang pengirim tidak membantu sama sekali. Kucoba mengingat ingat siapa orang yang pernah mengaku suka padaku. Mungkin karena saat ini aku tidak memiliki seorang yeojachingu, ia memanfaatkan kesempatan untuk mendekatiku. Coba kutebak mulai dari……

To be continued…….

Iklan

10 pemikiran pada “Love in Winter (Chapter 1)

  1. ju”r q g tllu suka krakter oh sehun dsini… ntah knp bgtu jauh klo kita liat dy dg image nya yg cool… Q malah lbih ngebayangin chanyeol atau baekki saat bca ini.. hhaa … sorry y thor
    tp Q suka ko’ kta” bkunya tersusun rapi… Fighting!

  2. jadi sehun dah punya pacar dan jae ah dengan bodohnya ngirim surat kaleng pernyataan cintanya pada sehun
    hadeuhhhh
    nyakitin diri banget sich

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s