Racing Love (Chapter 3)

Racing Love (Chapter 3)

Author : summerkids

Genre  : Romance, Action

Rating  : PG-13

Length : Chaptered

Main Cast        :

–          Sehun (EXO-K)

–          Kang Jung Hee (OC)

–          Lee Seung Jo

Support Cast    :

–          Kai (EXO-K)

Note    :

Have published in gotogethertilltheend.wordpress.com (I changed my url, sorry!)

Ya ampun, writer’s block menghadang terus waktu mau buat ff ini-_- Maaf kalau tidak memuaskan dan untuk typo(s). Seperti sebelumnya saya menerima komen, kritik, saran, dan pendapat. Hehehe, thanks banget udah baca! xoxo<3

racing-love

“Jung Hee-ya, Sehun, apa yang dia lakukan padamu?” tanya Seung Jo dengan nada tak senang. Diliriknya Jung Hee yang menatap kosong ke arah jalan. Waktu menunjukkan hampir tengah malam, namun masih banyak mobil-mobil yang lewat.

Jung Hee hanya diam, terlalu lelah untuk bicara. Tapi, akhirnya ia bicara juga.“Tidak penting, Oppa,” katanya pelan.

“Tidak penting apanya?! Kau sampai lemas seperti itu!”

Oppa… tolonglah…”

Seung Jo menghela napas berat. Ia tahu sekeras apapun ia memaksa, Jung Hee tidak akan buka suara. Gadis itu menyimpan semuanya di tempat terjauh, menolak untuk mengatakan barang sepatah kata.

Begitu sampai di depan rumah, Jung Hee langsung keluar dari mobil. Seung Jo ikut keluar, kemudian menarik lengan gadis itu pelan. Takut kalau ia menariknya terlalu kuat, gadis itu akan semakin menjauh.

“Dengar. Jung Hee, kau tahu kau bisa mengatakan apapun padaku,” kata lelaki itu pelan. “Aku bisa melindungimu darinya.” Tangan Seung Jo meraih bahu Jung Hee, lalu menariknya kedalam pelukan.

Sebuah pelukan yang hangat dan… menginginkan.

Seung Jo sadar hatinya benar-benar menginginkan Jung Hee. Ia mungkin berlapang dada melihat Sehun memiliki semuanya, tapi ia tidak bisa merelakan yang satu ini.

Ambillah semuanya, tapi jangan yang ini.

Oppa –“ lirih gadis itu.

Seung Jo cepat menyela. “Menolaklah kalau dia memaksamu ikut dengannya. Katakan padaku dan aku akan datang memukulinya. Kumohon, jangan dekati dia, Jung Hee.”

Lelaki itu melepaskan pelukan hangat yang ia buat. Tangannya bergerak meraih wajah Jung Hee dan menciumnya. Bibirnya bergerak pelan, menunggu Jung Hee membalas, tapi gadis itu tak kunjung merespon. Tiba-tiba tangan Jung Hee mendorong lelaki itu menjauh. Entahlah, Seung Jo membuatnya merasa tidak nyaman.

Mian, Oppa, aku harus pulang,” ujar Jung Hee pelan, masih dirundung keterkejutan. Ia cepat-cepat berbalik pergi, meninggalkan Seung Jo yang memandanginya hingga menghilang dibalik pintu rumah. Tatapan Seung Jo seakan melukiskan semuanya. Keinginan, sedih dan putus asa, dan perasaan lain yang mungkin ia sendiri tidak menyadarinya.

 

Semalaman Jung Hee tidak bisa tidur. Frustasi memikirkan bagaimana Sehun dan Seung Jo menciumnya dan sekarang ia terperangkap  diantara berbagai perasaan. Percayalah, Jung Hee benar-benar benci tentang masalah seperti ini.

Waktu Sehun bertanya kemarin pun ia tak menjawab. Setelah dipikir-pikir, ia lalu merutuki tingkahnya yang hanya diam saja bagai orang bodoh waktu Sehun menciumnya. Jung Hee bahkan berpikir untuk masuk ke rumah sakit jiwa!

“Argh! Sial! Kenapa dua orang seperti mereka muncul bersamaan seperti ini!” teriaknya setelah menghela napas panjang. Gadis itu bergegas masuk ke kamar mandi dan menguyur diri dengan air. Juga membersihkan bibirnya dengan pasta gigi stroberi.

Tapi, kenangan tetaplah kenangan, dan tidak akan luntur begitu saja.

 

Jung Hee melirik ke kanan dan ke kiri saat menyiram tanaman. Siapa tahu, kan, Sehun atau Seung Jo tiba-tiba datang? Ia sedang tidak ingin bertemu mereka sekarang. Setelah memastikan, ia menghela napas cepat.

“Aman,” kata Jung Hee senang.

“Apanya yang aman?”

Deg. Rasanya Jung Hee ingin menghilang saat itu juga. Ia menoleh kebelakang ragu-ragu, lalu terduduk lemas waktu melihat Sehun.

Tiba-tiba, Jung Hee menendang-nendang kaki Sehun, membuat lelaki itu meringis pelan. Kemudian, gadis itu langsung berdiri dan mendorong tubuh Sehun kuat-kuat. “Apa yang kau lakukan disini?! Pergi! Pergi!”

Senyum. Sehun hanya menyunggingkan senyum nakal. Ia berbalik menarik lengan Jung Hee dan memasukkannya paksa kedalam mobilnya. Lalu menekan kunci otomatis, tidak peduli gadis itu memberontak di dalam dan memukul-mukul kaca Porsche-nya. Ya, beruntung kaca mobilnya lumayan tebal.

Sehun lalu berlari kecil menuju rumah Jung Hee. Mengetuk pintu beberapa kali sampai seorang lelaki paruh baya keluar dan memandangnya dengan alis bertaut. Tak lama menyusul seorang wanita yang mirip dengan Jung Hee. Sekali pandang saja, Sehun langsung tahu kalau mereka adalah orang tua gadisnya.

“Siapa kau?”

“Namaku Sehun, teman Jung Hee, Ahjussi, Ahjumma. Senang bertemu kalian,” ujar Sehun seraya membungkuk, lalu tersenyum manis. Uh, dia benar-benar tahu caranya mengambil hati orang.

Ibu Jung Hee tersenyum lembut sambil menarik lengan suaminya masuk kedalam. “Nak Sehun, masuklah dulu.” Sehun mengiyakan lalu masuk. Kemudian mereka duduk bersama di sofa berwarna cream. “Tadi Jung Hee ada di luar, tapi sekarang ia tidak ada. Mungkin akan kembali sebentar lagi, tunggu saja ya.”

“Ahjumma, Ahjussi, Jung Hee tidak pergi, ia ada di mobilku sekarang. Aku disini untuk meminta ijin,” kata Sehun pelan. Diperhatikannya ekspresi Tuan Kang yang terlihat ingin tahu.

“Nah,” ujar Tuan Kang. “Ijin untuk apa?”

“Membawa Jung Hee pergi liburan.”

 

Sehun masuk dengan santainya ke dalam mobil, masih menghindari kontak mata dengan Jung Hee. Ia tahu gadis itu pasti marah besar padanya.

“Kita mau kemana?!”

“Liburan,” jawab Sehun pendek. Ia menghidupkan mobil lalu mengemudi lebih lambat dari biasanya. Mungkin awalnya agak melelahkan, tapi ia mulai agak terbiasa. Ya, demi Jung Hee.

“Apa-apaan kau ini! Berhenti sekarang!”

“Tidak mau. Lagipula aku sudah ijin pada orangtuamu.”

Percayalah, kali ini Jung Hee terus saja berteriak dan tidak merasa lelah. Mungkin karena lawannya adalah Sehun? Ya, bisa jadi. “Cih! Mana mungkin ayah mengijinkanmu begitu saja! Kau bilang apa padanya?!”

“Aku bilang kalau anak pemilik Hongdo Group tidak akan mempertaruhkan nama baik keluarganya,” kata Sehun sambil tersenyum menang, sedang Jung Hee hanya menatap tidak percaya.

Hongdo Group adalah tempat ayahnya bekerja, dan tidak mungkin, kan, ayahnya menolak permintaan anak sang atasan yang sudah sangat baik padanya? Dasar licik! Jung Hee memasang muka kesal sepanjang jalan.

“Sialan kau,” pekik gadis itu tertahan. Lalu ia memalingkan wajah.

 

Porsche Sehun berhenti di sebuah kedai es krim. Ia harus menarik paksa Jung Hee agar ikut turun. Raut wajah gadis itu benar-benar kusut tak tertolong! Namun Sehun hanya tertawa lucu melihatnya.

“Hei! Berhentilah memasang muka seperti itu. Kita ini, kan, sedang liburan.”

“Tidak! Ini pemaksaan! Aku tidak mau!” Jung Hee cepat-cepat beranjak pergi tapi tangan Sehun menarik tangannya –lagi– hingga terduduk. Dan sekarang Sehun tidak mau melepaskannya barang sedetik.

“Kalau kau kabur, aku akan bilang pada orang tuamu kalau kau punya trauma. Juga kalau kau pernah pergi ke arena balapan. Jadi menurutlah,” ujar Sehun.

Muka Jung Hee merah padam menahan kesal. Sekarang ia terpaksa mengikuti Sehun. “Terserah!”

Chu~

Sehun mencium pipi Jung Hee dan membuat wajahnya jadi lebih merah! “Kau tahu tidak? Kau itu lucu saat sedang marah, cantik saat tersenyum, menyeramkan saat menangis.”

“Dasar sinting!” teriak Jung Hee sambil memukul lengan Sehun.

“Sudah-sudah, es krimnya datang. Mereka nanti meleleh melihatmu! Ha-ha-ha,” goda Sehun. Wajah lelaki itu berubah 180 derajat jadi datar begitu es krimnya datang. Jung Hee melihatnya dengan tatapan aneh. Baru kali ini ia bertemu orang yang bisa tersenyum satu detik lalu berubah serius lagi dua detik berikutnya.

Suara Sehun terdengar lembut, namun juga memaksa. “Makan.”

Awalnya Jung Hee menolak, namun lama kelamaan tidak tahan dengan aroma es krim stroberi kesukaannya. Entahlah bagaimana Sehun bisa tahu kesukaannya. Ia makan dengan lahap sambil sesekali melirik Sehun. Cepat-cepat ia memalingkan muka saat Sehun balik menatapnya. Lelaki itu mecondongkan wajah mendekati Jung Hee, lalu menciumnya lembut di dekat bibir dan membuat Jung Hee terpana.

“Ada es krim di sudut bibirmu.”

“Berhentilah menciumku, dasar sinting!” Jung Hee mengambil tisu dan mengusap bibirnya. Sungguh, ia malu sekali! Sehun melakukannya dua kali didepan orang banyak. Entah apa yang orang lain pikirkan saat melihat mereka.

Ya ampun, bunuh saja aku sekarang.

 

Sehun dan Jung Hee masuk ke sebuah rumah sakit. Apa lagi yang akan dilakukan orang sinting ini? pikir Jung Hee. Ia menggoyang-goyangkan lengan Sehun saat sedang ada di lift.

“Mau apa kita disini?”

“Menyembuhkan traumamu.”

Gadis itu membelalak dan mundur beberapa langkah. “Mwo?! Aku tidak mau!”

“Harus mau. Kalau tidak, aku akan menciummu lagi!” Sehun menarik pergelangan tangan Jung Hee tanpa melirik sedikitpun. Sekuat apapun Jung Hee menarik, memukul dan menendang, itu hanya sia-sia. Mau tak mau ia masuk ke ruang dokter dan menurut saat diperiksa.

“Kau mengalami trauma dengan kecepatan? Hmm, beberapa orang kadang mengalami itu.”

“Nah, jadi bagaimana menyembuhkannya?” kata Sehun langsung sambil melirik Jung Hee yang menunduk tidak minat. Dokter itu memandang Sehun tepat di mata. “Tentu saja dengan menghadapi ketakutan itu. Kau mungkin bisa membantunya. Kalian pasangan, kan?”

“Ya.”

“Bukan!” Mereka bicara di saat yang bersamaan. Dokter itu hanya tertawa kecil. ”Ya-ya, terserahlah. Ini ada beberapa obat yang bisa membantu kalau kau merasa pusing.”

Sehun menarik Jung Hee berdiri. “Geurae, terima kasih, Ahjussi. Annyeonghi.”

 

“Kau dengar, kan, kata Dokter tadi,” kata Sehun lembut. Ia tahu gadis itu sudah bangun, tapi pura-pura tidak dengar. Jung Hee masih menutup mata dan menciptakan jarak sejauh mungkin dengan Sehun. “Terserah.”

“Ngomong-ngomong, kau belum menjawab pertanyaanku waktu itu.”

Deg. Menutupi gugupnya, gadis itu langsung menjawab, “Aku tidak akan mau.”

“Baiklah, yang penting kau tidak dekat-dekat dengan orang itu.”

“Bukan urusanmu,” desis Jung Hee.

Mereka berhenti di sebuah jalan yang dikelilingi banyak mobil-mobil keren. Sepertinya ini diluar kota, karena suasananya benar-benar berbeda dengan Seoul dan ada pantainya. Awalnya Jung Hee tidak sadar, tapi ia tiba-tiba pucat saat suara mobil menggema disepanjang jalanan itu. Napasnya panjang pendek, ditatapnya Sehun memohon. “Pulang… aku mau pulang!”

“Dengar, kau harus melawannya. Tatap aku, pikirkan hanya aku!” ujar lelaki itu. Ditangkupnya wajah Jung Hee yang pucat pasi. Perlahan gadis itu mulai tenang, ia menatap manik mata Sehun ragu-ragu saat bunyi bedebum kembali menggema.

“Sehun…”

“Aku tahu kau bisa.” Sehun mencondongkan tubuh, mengatur agar Jung Hee duduk dengan benar di kursinya. Tapi gadis itu terlalu gelisah untuk melihat jalan, jadi ia duduk dengan kepala menghadap Sehun.“Waktunya mencoba kecepatan. Kendalikan dirimu dan lihat aku,” perintah Sehun. Jung Hee meremas ujung gaunnya kuat-kuat saat mobil melaju cepat. Dan sekarang debaran jantungnya mulai berkurang. Hanya sedikit.

Tapi, gadis itu tak bertahan lama. “C-cukup… aku sudah t-tidak kuat.” Suara Jung Hee terdengar seperti bisikan. Bernapas saja sulit, apalagi bicara. Sudah bagus suaranya masih keluar. Sehun memelankan jalan Porsche-nya. “Kita akan melakukannya setiap hari. Tidak usah takut, ada aku.”

“K-kita mau kemana? Kenapa tidak kembali?”

“Kita ada di Busan. Memakan waktu lama kalau kita kembali. Apalagi kalau mengemudi pelan seperti ini. Huh,” jawab Sehun datar.

Jung Hee kelihatan terkejut sekali. “Busan?! Kau pasti benar-benar gila! Buat apa jauh-jauh sampai ke Busan?!”

“Liburan. Kalau di Seoul, besar kemungkinan Seung Jo bisa menemukan kita.”

Lama-lama bersama Sehun membuat kerutan di wajah Jung Hee makin banyak. Bayangkan, pergi ke Busan hanya untuk menghindari Seung Jo! Gadis itu menghela napas kesal, ia tidak tahu harus bagaimana lagi menghadapi orang seperti Sehun.

Mereka melewati jalanan yang sekelilingnya dibatasi pantai. Tiba-tiba Sehun memberhentikan Porsche-nya, dan tentu saja, membuat dahi Jung Hee membentur kaca. “Turun. Aku mau bermain sebentar.”

“Pergi saja sendiri!”

“Aku akan menelepon orang tuamu.” Sehun mengambil handphone-nya dan langsung menelepon orang tua Jung Hee.

“Sialan! Kau ini benar-benar! Ya sudah, tunggu!”

“Ini, bicara pada orang tuamu.” Ternyata lelaki itu sengaja menyuruhnya menelepon. Astaga, Jung Hee kira ia sedang mengancamnya. Dasar licik!

Sehun memegangi lengannya selama menelepon, berjaga-jaga barangkali gadis itu melapor (Author: Lol). Gadis itu bicara agak lama, Sehun memberi isyarat dengan bicara tanpa suara. Kalau sampai kau bilang yang tidak-tidak, aku akan memberitahu mereka.

Jung Hee bergidik sedikit, lalu mengiyakan. Ditutupnya telepon setelah mengucapkan ‘saranghae’. “Ini!” Ia mengembalikan telepon Sehun setengah hati. Beberapa butiran air jatuh di lengan Jung Hee. Cuaca di musim ini memang sukar ditebak. Seketika hujan langsung datang dengan derasnya. Buru-buru Sehun melepaskan sweaternya yang agak transparan dan menaruhnya di kepala gadisnya. “Cepat masuk!”

Mereka berlari bersama memasuki mobil. Langsung saja mobil Sehun berjalan menerobos hujan. Pakaian Jung Hee tidak basah, hanya ujung-ujung gaunnya saja, sedangkan Sehun hampir basah kuyup. Air hujan tersangkut di rambutnya serta kulitnya yang putih seperti susu, lalu meluncur satu per satu. Jung Hee agak terpana melihat betapa tampannya Sehun saat itu.

Gila. Dia bisa gila, kalau begini terus.

“Ini bajumu, pakai,” ucap Jung Hee tanpa menoleh kearah Sehun. Tangan Jung Hee sudah lelah, namun baju itu tak kunjung diambil pemiliknya. “Hei! Cepat pakai!”

Sehun memutar matanya. “Tidak mau. Sama saja bohong memakai baju yang sudah basah, Bodoh!”

“Benar juga. Tapi aku tidak bisa melihatmu begitu!”

Wae? Kau terpesona?”

Hening.

“Cih. Mimpi sana!” cetus Jung Hee, pura-pura tidak senang. Sehun tahu kalau Jung Hee hanya akting. Jelas sekali terlihat wajah gadis itu berubah merah. Sejujurnya Jung Hee malu, tapi lebih malu lagi, kan, kalau dia jujur pada Sehun. Huh.

 

Sehun dan Jung Hee berlari masuk ke sebuah rumah kecil. Kayu-kayu penopangnya kelihatan coklat sekali dan berlumut karena diterpa air pantai. Suasana disitu sangat nyaman ditambah angin yang berhembus pelan. Benar-benar tempat refreshing yang menyenangkan.

“Kau punya rumah yang… menyenangkan,” kata Jung Hee pelan sambil memandangi isi rumah yang tertata rapi. Catnya berwarna coklat muda level pertama, kontras sekali dengan perabotan yang berwarna gelap. Tempat tidur, rak buku, sofa, perabotannya hanya ada satu, mengingat tempat itu hanyalah sebuah rumah kecil.

“Tentu. Kau istirahatlah di ranjang. Aku di sofa.” Suasana tiba-tiba jadi agak canggung. Jung Hee langsung menjauh dari Sehun, ia tak tahan melihatnya tanpa atasan seperti itu. Ya ampun! Bagaimana ini?! Ia menghela napas panjang seraya menjemur pakaian Sehun di sebuah kursi. Kemudian, diangkatnya mengangkat kursi itu ke balkon, biarlah sinar bulan yang mengeringkannya.

Jung Hee benar-benar lelah, ia langsung saja merebahkan diri di ranjang. Rasanya, seprai kasur itu beraroma sama dengan tubuh Sehun, seperti jeruk bercampur mint. Aroma menenangkan yang mampu membuatnya langsung terlelap. Sedangkan Sehun yang melihat gadis itu tersenyum kecil seraya tangannya menyalakan pemanas ruangan di dinding. Setelah memastikan suhunya cocok, ia tidur di sofa beludru yang lumayan lebar.

 

Jam 1 malam Jung Hee terbangun karena suhu udara yang hampir membuatnya jadi kepiting rebus. Ia berjalan setengah sadar, mencari-cari alat pemanas ruangan. Begitu alat itu terlihat –mereka bersinar di dinding– langsung saja dipukulnya tombol off.

“Jung… Hee…” Ia langsung membuka mata lebar-lebar waktu melihat Sehun gemetaran dan mengigau dengan namanya. Sumpah, Sehun pucat sekali, lebih pucat dari dirinya waktu naik mobil yang ngebut. Bibirnya pun mulai membiru.

Buru-buru Jung Hee mengambil selimut tebal di ranjang yang tadi ia tiduri. “Nah, kan, dasar orang sinting yang bodoh. Kau berlagak melindungiku dengan pakaianmu dan sekarang kau jatuh sakit.  Hah!” Dibukanya selimut itu lebar-lebar lalu dilapisi tubuh Sehun yang kedinginan. Setelah itu Jung Hee menyusun benda-benda yang sejajar dengan sofa, lalu tidur diatasnya. Tak enak hati meninggalkan Sehun, ya hitung-hitung balas budi.

Beberapa jam setelah itu, Sehun terbangun, seluruh tubuhnya serasa tidak bertulang. Huh, ia benci sakit. Diliriknya tubuh Jung Hee hampir terjatuh-jatuh dari tempat tidur yang –sama sekali –tidak layak disebut begitu. Meski Sehun berdiri tidak seimbang, tangan masih meraih tubuh Jung Hee, dan mengangkat gadis itu sepelan mungkin ke atas sofa.

“Ternyata kau juga sama bodohnya dengan aku. Haha.” Sehun tertawa datar. Dadanya menjadi bantal sedangkan tangannya memeluk Jung Hee. Dihirup aroma stroberi yang menguar dari rambut gadis itu. Kepalanya diturunkan sedikit lebih dekat demi memenuhi kebutuhannya akan aroma tubuh Jung Hee.

Uh, rasanya itu tidak akan pernah cukup.

 

Pukul 7 pagi, Jung Hee terbangun dengan pandangan yang masih buram. Semalam tidurnya nyenyak sekali, tempat tidurnya juga hangat. Tunggu… hangat?

“APA YANG KAU LAKUKAN?!” Jung Hee berteriak begitu matanya terbuka dan melihat ‘mimpi buruk’-nya. Ditendangnya Sehun sampai tersungkur ke bawah. Lelaki itu meringis pelan, namun tersenyum… jahil? Apa karena demamnya sudah turun, lalu ia kembali jadi menyebalkan? Ya ampun, pikir Jung Hee

“Ck. Aku tidak melakukan apa-apa! Kita hanya tidur, tidak perlu berteriak!” Sehun balas berteriak dengan ekspresi santainya, seakan tidak terjadi apa-apa.

Hei! Mereka-tidur-di-satu-tempat-semalam!

Jung Hee mendengus kesal lalu berteriak marah-marah. “Apa katamu?! SEORANG WANITA HANYA AKAN TIDUR SATU TEMPAT DENGAN SUAMINYA! Bagaimana aku menjelaskan dengan suamiku nanti, hah?! Dasar sinting!”

“Ya, tidak perlu dijelaskan. Makanya kau jangan bilang apapun padanya kelak.”

“Terserah! Aku mau pulang sekarang! Kalau kau tidak mau mengantar aku akan pulang sendiri!”

Sehun berjalan mengambil sweaternya lalu menyusul Jung Hee yang berlari keluar. Penampilan gadis itu masih berantakan tapi ia tampaknya tidak peduli. Sehun menariknya masuk kedalam mobil. “Aku antar.”

Sepertinya Jung Hee benar-benar kesal, melirik sedikitpun ia tidak mau. Lelaki disebelahnya hanya tertawa kecil lalu berkata, “Hei, semalam itu kau terjatuh dari tempat tidur anehmu itu, karena kasihan aku mengangkatmu tidur ke sofa. Aku tidak kuat kalau harus mengangkutmu ke ranjang. Kau itu berat.”

“Hah, aku tidak berat kok, dasar kau saja tukang cari kesempatan,” sergah Jung Hee, wajahnya masih ditekuk, tapi Sehun tahu gadis itu sudah agak melunak. Sehun tersenyum jahil kearah Jung Hee, lalu ia menginjak pedal gas lebih dalam. “Lihat aku. Kita akan latihan sedikit.”

 

To Be Continued…

P.s. Berhubung beberapa komen berisi harapan ttg kelanjutan alur ff ini, saya minta maaf kalau hasilnya tidak berjalan sesuai yang kalian harapkan (entahlah, tapi saya merasa seperti memberikan kalian harapan palsu._.). But, I want to say thank you for your appreciation so far^-^

Iklan

29 pemikiran pada “Racing Love (Chapter 3)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s