Werewolf (Chapter 5)

Title : Werewolf [Chapter 5]

Author : gabechan (@treshaa27)

Genre : Fantasy, Tragedy, Thriller, and maybe Romance?

Length : Chapter (still don’t know)

Rate : T

Main Cast : Park Chanyeol and a Girl, Wu Yi Fan, and some new casts!

FF ini terinspirasi dari lagu VIXX “Hyde” dan EXO “Wolf”

This is it! Chapter 5 akhirnya muncul ^^ Aku udah berusaha untuk manjangin chap ini. Dan part romancenya gak tau feelnya dapet atau engga >.< mian kalau ternyata masih belum dapet feelnya. Setelah baca jangan lupa ngasih komen atau kalau suka tinggal klik ‘like’ ajaa J

Oke, tanpa basa-basi ayooo langsung dibacaa~ Happy reading~~

 

NO PLAGIARISM, THIS IS PURE MINE!

____

Mudah untuknya jika harus berganti-ganti peran.

Maka dari itu, ia akan melanjutkan rencananya, hari ini.

Tepat ketika gadis itu terlelap.

____

Melihat senyum yang menghias wajah gadis di hadapannya, lelaki itu ikut tersenyum. Ia tidak bisa menahan rasa senangnya karena bisa melihat wajah manis gadis itu ketika tersenyum.

Maka, tanpa ragu, ia langsung menjawab.

 

“Chanyeol, namaku Park Chanyeol.”

 

Lelaki itu tidak bisa menghilangkan senyum yang sudah terukir indah di bibirnya.

 

“Aku Hyejin, Lee Hyejin.”

 

Tanpa dipikir dua kali, Hyejin langsung mengucapkan namanya begitu saja. Ia langsung merutuki dirinya dan berusaha agar tidak menatap kedua mata milik lelaki itu saat ini. Sementara, lelaki itu tampak tidak puas dengan kalimat singkat yang keluar dari bibir gadis di hadapannya. Ia mengharapkan kata-kata lain lolos dari bibir mungil itu.

“Tapi, tidak perlu repot memanggil namaku. Lebih baik kau tidak mengingatnya.”

 

Bodoh.

 

“Kita baru saja berkenalan dan kau langsung mengatakan hal itu padaku. Menurutmu, apa yang terpikirkan olehku, hm?”

Hyejin mengangkat bahu tanpa beban. Lalu, menatap lelaki di hadapannya dingin, “Tidak tahu.”

Chanyeol tidak bisa untuk tidak menghela napas. Ia lelah jika harus terus-menerus menerima perlakuan dingin gadis itu. Seluruh urat di wajahnya pun ikut mengendur ketika ia memutuskan untuk menenangkan diri. Pada akhirnya, ia juga akan terbiasa. Atau mungkin menganggap hal itu sebagai makanannya sehari-hari.

Kamar Hyejin  yang biasanya akan dipenuhi dengan suasana ceria dirinya  tiba-tiba saja berubah canggung. Tidak biasanya Hyejin mau banyak omong dengan seseorang yang dapat dicap sebagai orang asing ini. Bahkan ia sempat melupakan aturan terbaru hidupnya.

“Bagaimana caranya sampai kau berdiri di depan pintu kayu itu dan rela menunggu sampai pintunya terbuka?”

Mata Chanyeol tidak berhenti berkedip setelah ia mendengar pertanyaan yang ditanyakan secara tiba-tiba itu. Gadis itu tampak tak acuh terhadap reaksi lelaki itu. Ia masih memijat pelan pelipisnya dengan ibu jari, lalu meringis ketika kepalanya semakin berdenyut.

“A  aku tersesat. Ya, tersesat, haha..” Tawa hambar itu memenuhi kamar Hyejin. Gadis itu meliriknya sekilas. Bisa terlihat jelas kegugupan pada wajah lelaki itu.

“Lalu?”

“Kalau kau ingin tahu, aku baru saja sampai di Seoul hari ini. Aku dari Jepang.” Chanyeol berdeham sambil melirik Hyejin. “Karena tidak tahu dimana harus menginap, aku berjalan ke daerah ini untuk mencari penginapan. Yang kutemukan malah rumahmu.”

Hyejin mengernyit. Lelaki di hadapannya ini sedang bercanda? Berusaha membuatnya tertawa? Bodoh. Mana mungkin ia bisa tersesat di tengah kota metropolitan? Bisa saja, sebenarnya. Tapi, aneh sekali jika ia bisa terdampar ke daerah terpencil seperti ini.

Karena tak ada tanggapan dari lawan bicaranya, Chanyeol memutuskan untuk menyelesaikan pekerjaannya. Ia mengambil kain lap yang tadi ia letakkan di sudut ruangan, lalu kembali membersihkan sisa-sisa bubur di atas lantai. Tak lama, ia sudah berjalan ke dapur untuk meletakkan mangkuk berisi bubur dan kain lap kotor itu.

Hyejin memanfaatkan kesendiriannya untuk beranjak dari posisinya. Sayangnya, saat ini seluruh anggota tubuhnya sedang tidak bisa diandalkan. Rasa pegal pada bahu dan punggungnya membuat gerakannya terbatas. Terlebih lagi, denyutan di kepalanya semakin menyiksa.

Seolah seluruh gravitasi disekitarnya menghilang, Hyejin kehilangan keseimbangan.

“Aargh..”

“Kau tidak apa-apa?”

Hyejin membeku. Ia sadar sekarang posisinya sudah berubah. Kedua tangan Chanyeol sudah mencengkeram masing-masing lengannya. Harusnya ia tadi sudah jatuh. Harusnya ia sudah merasakan sakit di sekujur tubuhnya.

 

Tapi, kenapa orang itu selalu muncul?

 

Saking terkejutnya, Hyejin hanya bisa memandang kedua tangan besar itu. Ia berusaha untuk mengatur napasnya, tapi sia-sia. Bahkan saat ia mencoba untuk menghentikan degupan jantungnya yang berlebihan, ia malah mendongak dan mendapati wajah cemas itu sedang menatapnya.

“Jangan memaksakan diri. Sebaiknya kau tidur sampai suhu tubuhmu turun.” Chanyeol membantu Hyejin untuk berdiri dengan benar, lalu menyentuhkan punggung tangan kanannya pada dahi Hyejin. “Demammu tambah parah, sepertinya.”

“Apa?”

“Kubilang, istirahat saja dulu. Kau tidak akan sembuh kalau banyak bergerak.”

“Ah..ya..”

Chanyeol tidak bisa menahan senyumnya. Sikap dingin gadis itu padanya seolah menguap, lalu terganti dengan semburat merah di pipinya.

“Akan kubuatkan teh hangat.” Ia mendudukkan Hyejin di kursi meja belajarnya. “Tetap di sini. Abaikan saja pikiran-pikiranmu sekarang.”

Hyejin menganggukkan kepala tanpa diminta. Pandangannya tetap terpaku pada punggung lelaki itu sampai ia menghilang dari jarak pandangnya.

“Oh, satu hal lagi.” Hyejin menoleh, sedikit kaget karena ia yakin bahwa lelaki itu sudah masuk ke dapur. Chanyeol mengangkat bahu, “Aku bukan hantu.”

Mata Hyejin membulat. Dia membaca pikiranku? Apalagi yang bisa ia lakukan? Berteleportasi kemana pun, lalu muncul secara tiba-tiba di hadapanku?Haha. Lucu sekali.

Pikiran-pikiran konyol itu diabaikan Hyejin, tepat seperti apa yang disarankan oleh Chanyeol padanya. Ia kembali memijat pelipisnya, berusaha mengurangi rasa pusing di kepalanya. Sementara kedua matanya sibuk memperhatikan rintik-rintik hujan yang mulai membasahi jendela kamarnya.

“Sepertinya ia orang baik-baik. Tidak ada salahnya ‘kan aku berteman dengannya, bu?”

Hyejin menutup kedua matanya. Dibiarkannya jemarinya mengusap kalung berliontin kepala serigala itu. Seulas senyum terukir di bibir mungilnya. Senyum sebagai topeng untuk menutupi perihnya hatinya.

____

Normal POV

 

Restoran itu tidak berubah. Setelah peristiwa tragis itu terjadi, restoran ramen itu melakukan beberapa renovasi. Bagian dalamnya tampak lebih hidup dibanding terakhir kali Hyejin melihatnya. Seluruh meja kayu beserta kursinya pun sudah diganti dengan meja dan kursi kayu yang lebih kuat dan terlihat lebih nyaman untuk diduduki.

Berharap mendapat pelanggan lebih banyak, Byun Baekhyun   pemilik restoran   mulai mempekerjakan beberapa pelayan baru. Gadis-gadis yang masih belia, seusia Hyejin, menarik banyak pelanggan. Mengingat salah satu pelayan dan koki andalannya yang sudah pergi ke tempat yang tidak bisa dicapai, jadilah restoran itu mulai hidup lagi setelah gadis-gadis belia itu mulai bekerja.

Hyejin tidak bisa menahan senyumnya ketika Baekhyun setengah berlari saat melihat kehadirannya di depan meja pesanan. Lelaki itu tidak bisa mengontrol kegembiraannya, ia pun langsung memeluk gadis itu tanpa basa-basi.

“Baekhyun-ssi.. aku juga.. senang ber..temu denganmu…”

Sadar pelukannya bisa membuat Hyejin kehabisan napas, Baekhyun segera melepaskan pelukannya. Lelaki itu masih setia menyunggingkan senyum sambil memandang Hyejin dari ujung kaki sampai puncak kepalanya. Lalu, ia kembali menatap mata Hyejin dengan murung.

“Maaf aku tidak bisa datang ke pemakaman ibumu. Saat itu, aku ada di Cina. Kau tahu, menyelesaikan beberapa masalah dengan kedua orangtuaku.” Ia menghela napas, “Tapi aku juga benar-benar merasa kehilangan.”

“Tidak apa-apa. Ibu pasti senang mendengar kata-katamu sekarang.” Baekhyun mengangguk. Ia tidak ingin jika harus melihat gadis yang sudah ia anggap sebagai adiknya sendiri ini menangis.

Lelaki itu mengajak Hyejin duduk di kursi yang kosong, lalu langsung membuka pembicaraan. “Jadi, apa yang kau lakukan di sini? Terakhir kali, kau meminta untuk berhenti bekerja sementara waktu.”

Hyejin mendongak, menampakkan wajahnya yang terlihat letih. Ia tersenyum tipis, “Aku ingin bekerja lagi. Tapi hanya sampai pukul 3 sore.”

“Kau yakin? Bekerja setengah hari saja aku sudah menyetujuinya.”

“Aku yakin selama kau tidak memaksaku untuk melakukan pekerjaan berat. Lagipula, tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Seperti yang kau lihat, aku baik-baik saja.”

Baekhyun bersedekap, “Kau lebih terlihat seperti mayat hidup.”

Hyejin tertawa. Walaupun terkesan cuek, lelaki ini perhatian. Bahkan, dulu   ketika Hyejin sempat datang terlambat ke restoran karena bangun kesiangan   lelaki ini malah menyuruhnya untuk duduk dan memakan ramen buatannya sendiri. Yang Hyejin pikirkan sampai saat ini, kenapa tidak ada satupun gadis yang menjadi kekasihnya? Sangat disayangkan.

“Aku anggap itu sebagai jawaban. Aku akan bekerja mulai besok.”

Baekhyun mengerucutkan bibirnya. Ia tampak tidak setuju dengan perkataan gadis itu. Tapi apa boleh buat. Gadis yang sedang dihadapinya saat ini bukanlah gadis dengan pikiran tumpul, ia sedang menghadapi gadis keras kepala.

Ia berdiri  diikuti Hyejin  lalu berjalan menuju pintu restoran. Hyejin berdiri dengan kikuk ketika Baekhyun mengelus kepalanya lembut. Hal ini sudah biasa dilakukannya saat lelaki itu sedang khawatir.

“Hati-hati. Jangan terlalu memaksakan diri. Aku tahu kau keras kepala dan senang berimajinasi, tapi hentikan kebiasaan itu. Gunakan otakmu untuk berpikir logis, Hyejin-ah.”

“Kau berlebihan.” Hyejin tersenyum tipis, lalu membungkuk sedikit. “Annyeong.

“Sudah kubilang jangan terlalu formal! Aku ini bukan bos besar!” gerutu Baekhyun dengan suara keras. Hyejin yang sudah berjalan jauh hanya tertawa sambil melambaikan tangannya.

 

“Haahh.. semoga ia baik-baik saja..”

 

Baekhyun ikut tersenyum, lalu balas melambai.

 

____

 

Esoknya, Hyejin bangun pagi-pagi. Setelah mandi dengan air hangat yang sudah dimasaknya, ia buru-buru berjingkat ke dapur untuk membuatkan sarapan. Kondisi tubuhnya yang masih terbilang tidak sehat itu tidak menghambatnya untuk bergerak. Ia bahkan lupa kapan terakhir kalinya ia terlihat begitu semangat seperti ini.

Ia meletakkan sepiring gimbab di meja makan. Hyejin bersandar pada dinding di belakangnya sambil menenggak segelas air. Ia tersenyum. Entah kenapa, ada sesuatu yang berbeda darinya. Mungkin karena kehadiran lelaki asing itu? Tidak, tidak. Hyejin hanya lega karena ada seseorang yang bisa diajak untuk bicara.

Hyejin memelankan langkahnya  setelah mengambil waktu istirahatnya  berusaha keras untuk tidak membuat keributan. Ketika melewati kursi kayu khas ruang tamu yang cukup panjang, Hyejin melirik lelaki yang maih tertidur pulas itu. Ia menghela napas. Orang yang aneh, batinnya.

“Padahal masih ada kasur ibu. Ia tetap tidak mau menggunakannya, ya? Dasar..” gumamnya.

Setelah membetulkan letak bantal yang menjadi alas kepala Chanyeol, ia keluar dengan senyum yang tak bisa disembunyikan.

 

Sayangnya, hanya satu hal yang tidak disadari Hyejin.

 

Ada yang mengawasinya.

 

____

Chanyeol tidak merasa asing lagi dengan rumah ini. Ia tahu letak kamar mandi, kamar Hyejin (tentu saja), dapur, bahkan ia sudah hapal letak alat-alat rumah tangga yang sering dipakai pemilik rumah untuk membersihkan rumahnya. Tidak perlu penjelasan bertele-tele untuk menerangkan apa saja yang harus dikerjakannya sewaktu sang pemilik rumah sedang bekerja.

Sampai saat ini, tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Hyejin memberikan seluruh kepercayaannya pada Chanyeol untuk menjaga rumahnya selagi ia bekerja di restoran ramen yang terkenal itu. Mendengar Hyejin bercerita bahwa ia akan kembali bekerja, Chanyeol berusaha untuk tidak terlihat tegang. Restoran ramen itu bisa dijadikan sebagai saksi bisu peristiwa 20 tahun lalu yang menimpanya.

Awalnya, Chanyeol sedikit ragu untuk menjalankan rencana ini. Rencana, yang menurutnya, sangat mudah untuk dilaksanakan. Walaupun perlu beberapa perubahan sikap dan cara bicara, Chanyeol bisa menyanggupinya sampai hari ini.

Chanyeol berusaha untuk bersikap baik. Memainkan perannya sebagai orang baik-baik yang tersesat. Menggelikan untuknya, memang. Tapi mungkin, hanya itu satu-satunya cara untuk mempercepat penyelesaian rencananya. Ia sudah cukup sabar untuk menghadapi sikap dingin dan cuek yang diberikan gadis itu untuknya. Ketika ia merasa sudah tidak bisa membendung amarahnya, ia hanya akan menumpahkan berbagai alasan untuk menyendiri. Lebih baik seperti itu daripada nantinya akan terjadi hal yang tidak diinginkan di rumah itu.

Mudah untuknya jika harus berganti-ganti peran.

Dan hari ini, ia baru menyadari sesuatu. Baru beberapa hari saja menumpang di rumah gadis bernama Hyejin ini, senyum yang sebelumnya harus terpaksa ia keluarkan, sekarang muncul dengan sendirinya tanpa beban. Sepertinya ia sudah terlalu mendalami peran yang sedang ia mainkan.

Ketika ia sedang menikmati waktu senggangnya, ia seringkali bertanya. Apakah karena perlakuan gadis itu padanya?

Memang, Hyejin dicerminkan sebagai gadis keras kepala, berhati dingin, dan hemat bicara. Tapi sifat perhatian yang juga sudah melekat pada dirinya tidak bisa disembunyikan dengan lebih apik. Tanpa sepengetahuan Hyejin, Chanyeol sebenarnya tidak benar-benar tidur. Ketika mendengar suara-suara di dapur, lelaki itu langsung tahu kalau gadis itu sedang berkutat dengan peralatan dapur.

Gadis itu yang setiap pagi membuatkannya sarapan sederhana. Gadis itu yang terkadang menyempatkan diri untuk membetulkan letak bantal maupun selimutnya. Chanyeol tahu itu semua. Ia hanya bertingkah seolah tidak terjadi apapun ketika ia masih terlelap.

Sayangnya, Chanyeol tidak bisa terus-menerus membiarkan gadis itu diam-diam menaruh perhatian padanya. Ia tidak mau melihat gadis itu bersikap baik padanya. Jika sudah terlanjur, hanya luka yang akan tertinggal. Lebih baik gadis itu terus mendiamkannya, memakinya, maupun memarahinya. Tidak apa-apa. Chanyeol sudah merasakan yang lebih menyakitkan.

 

Maka dari itu, ia akan melanjutkan rencananya, hari ini. Tepat ketika gadis itu terlelap.

 

____

11.45 PM

 

Ia memasuki kamar yang minim pencahayaan itu nyaris tanpa suara. Bagaikan sebuah bayangan yang tidak meninggalkan jejak, Chanyeol melangkah dengan santai menuju kasur tipis milik Hyejin. Ia memutuskan untuk menggunakan keistimewaannya untuk melihat dalam gelap.

Gadis itu terlihat sangat damai. Menyelami alam bawah sadarnya tanpa terganggu dengan kehadiran Chanyeol yang sedang duduk bersila di samping kasur. Kasur yang cukup tipis itu tidak membuatnya gelisah, mengingat lantai yang dingin pada malam hari. Hyejin tetap terlelap dengan nyaman.

Chanyeol memandangi wajah itu dalam-dalam. Kedua matanya yang tertutup rapat, hidungnya yang menggemaskan, pipinya yang kurus, lalu bibirnya. Chanyeol mengerjapkan matanya berkali-kali ketika ia sadar bahwa jemari kanannya sudah terjulur untuk menyentuh hidung gadis itu.

 

Sadar Chanyeol. Kau berada di sini bukan untuk mendapat pemandangan gratis.

 

Suara itu terngiang di kepalanya, membuat Chanyeol sedikit mengernyit. Hal itu sudah biasa terjadi, walaupun tidak sejelas tadi. Karena itu, ia memutuskan untuk memejamkan matanya sejenak, mengambil napas dalam-dalam sebelum kembali membuka matanya. Cahaya merah yang tidak terlalu terang langsung memberikan sedikit pencahayaan bagi kamar ini. Kedua iris mata lelaki itu sudah berubah saat ia membuka kembali matanya.

 

Lakukan!

 

Degupan jantungnya terasa memukul-mukul dadanya. Napasnya yang tiba-tiba saja berubah sedikit lebih cepat, membuatnya harus menenangkan diri. Sekarang ia tidak boleh ragu lagi. Inilah saatnya. Jika ia tidak berhasil menyelesaikannya malam ini, kekuatan yang tersisa dalam tubuhnya akan semakin memudar. Chanyeol tidak bisa membiarkan hal itu terjadi. Ia harus membunuh gadis itu saat ini.

Dengan kasar, Chanyeol menarik kalung berliontin kepala serigala yang melingkari leher Hyejiin. Ia tidak peduli jika gadis itu terbangun, lalu mendapati sesosok makhluk sedang menatapnya dengan tatapan membunuh. Hanya sedikit lagi, kuku-kuku tajam itu sudah dapat mencabik tubuh kiri gadis itu.

Sedikit lagi, tapi keraguan tetap mengalahkannya.

Tepat saat itu, Hyejin menggeliat. Gadis itu membuka matanya dan langsung terbelalak ketika melihat sosok Chanyeol dengan mata yang beriris merah terang. Chanyeol sudah memprediksi reaksi gadis itu.

“APA YANG KAU LAKUKAN, HUH?” teriaknya.

Tanpa menunggu jawaban, Hyejin langsung mundur ke arah dinding di samping lemari kayu. Berharap untuk tidak ditemukan oleh makhluk itu. Sayangnya, usahanya sia-sia.

Hyejin bisa merasakan aura berbahaya di sekitarnya ketika Chanyeol mulai melangkah semakin dekat. Dan lelaki itu sukses menyudutkan Hyejin. Gadis itu bahkan terlalu takut untuk menggerakkan tubuhnya. Matanya yang sejak tadi bergerak-gerak liar untuk mencari celah untuk melarikan diri, sekarang sudah terpaku pada kedua mata merah Chanyeol.

Chanyeol berjongkok di hadapan Hyejin sambil menyeringai, “Apakah aku terlihat sangat mengerikan? Kau bahkan belum melihat perubahan seluruhnya.”

“Bicara apa kau?!” Kali ini Hyejin mencoba untuk tidak terlihat takut, tapi suaranya hanya terdengar seperti cicitan.

“Sssttt.. Jangan seperti itu. Tenanglah sedikit.” Ia, lalu, mendekatkan bibirnya pada telinga Hyejin, “Aku akan semakin bersemangat untuk mengambil jantung yang sedang berdetak dalam tubuhmu itu, jika kau sangat ketakutan. Kau tidak mau hal itu terjadi ‘kan?”

Hyejin semakin merasa terpojok. Ia belum pernah berada pada situasi seperti ini sebelumnya. Ia belum pernah merasakan bagaimana saat nyawanya sedang dipertaruhkan. Mungkin inilah perasaan yang menyelimuti ibunya dan Kyungsoo. Pada akhirnya, mereka memasrahkan diri karena tidak ada lagi yang bisa dilakukan.

Dan jika dirinya mati, mungkin ia bisa menyelamatkan orang lain. Mungkin ia bisa menebus kesalahan melalui cara ini. Setelah itu, tidak akan ada lagi yang bernasib sama seperti ibunya dan Kyungsoo.

“Kau sudah tahu kalau kalung ini membahayakan nyawamu, tapi kau tetap memakainya. Kau benar-benar cari mati, rupanya.”

 

Hyejin diam untuk beberapa saat.

 

“Lakukan.”

 

Chanyeol menaikkan sebelah alisnya, agak terkejut dengan apa yang barusan didengarnya.

“Kubilang, lakukan sekarang!”

Lelaki itu menyeringai, “I will, but not here.

Ia langsung menajamkan pendengarannya dan penglihatannya, lalu tanpa Hyejin duga, Chanyeol menarik tangannya dan menggendongnya di punggungnya.

Hyejin tidak sempat meronta, karena setelah itu, hembusan angin dingin langsung menyapa wajah dan kakinya.

____

Chanyeol menghempaskan tubuh Hyejin ke lantai dingin ruang tamunya. Ya, ruang tamunya. Ia sengaja memilih ruang tamunya yang luas untuk dijadikan saksi bisu ketika Chanyeol merenggut kehidupan gadis itu.

Tatapan tajam di mata Chanyeol tidak pernah lepas dari tubuh kurus yang tengah bersandar pada dinding ruangan. Tubuhnya menggigil, Chanyeol tahu itu. Tapi perkataan Kris selalu mengingatkannya untuk tidak pernah memberikan belas kasihan pada manusia murni. Meskipun mereka memohon-mohon padamu, abaikan saja. Begitu katanya.

Tubuh Chanyeol yang jauh lebih kebal terhadap suhu dingin, akhirnya menyerah juga. Udara malam kali ini terasa lebih dingin dari malam-malam sebelumnya. Dan Chanyeol pun tidak mau kalau korbannya mati terlebih dahulu sebelum ia menyiksanya.

Well, are you ready?

Perhatian Hyejin terpusat sepenuhnya pada kedua mata yang tengah menatapnya penuh dengan rasa iba yang palsu. Sekarang ia benar-benar takut. Takut jika apa yang ia pilih saat ini adalah sebuah kesalahan. Tapi tidak ada pilihan lain yang ada di hadapannya. Maka, sudah dipastikan ia akan mati di tangan laki-laki ini.

“Tidak usah banyak bicara, lakukan saja.” Hyejin berdiri, “Lagipula, tidak akan ada yang peduli aku mati atau tidak. Tidak ada yang akan menyadari keberadaanku.”

Chanyeol tidak menanggapi. Ia sedang berusaha untuk menyulut kemarahan yang sudah ia tahan selama berhari-hari, sehingga mencapai pada puncaknya. Anehnya, tiap kali kedua matanya bertemu dengan mata kecoklatan milik Hyejin, seluruh amarah dan nafsunya untuk membunuh perlahan sirna. Tidak seharusnya hal itu terjadi.

Ia memalingkan wajahnya, sebisa mungkin menghindari kontak mata dengan gadis itu. Chanyeol menengadah, menatap langit malam yang agak terang. Cahaya bulan seakan merengkuh malam dengan erat, tidak membiarkan gelapnya malam menemani penghuni bumi. Tapi, ada keuntungan lain baginya.

Sebentar lagi. Hanya perlu beberapa menit sebelum bulan purnama muncul sepenuhnya bersamaan dengan tengah malam. Saat yang tepat bagi manusia serigala seperti dirinya untuk mendapatkan kekuatan lebih.

“Jangan memohon padaku agar aku berhenti saat kuku-kuku ini berhasil menembus kulitmu. Aku tidak akan mendengarnya.”

Dengan meninggalkan kalimat itu, Chanyeol bisa merasakan seluruh tubuhnya memanas. Seluruh energinya seakan terisi kembali dan bisa sangat membahayakan jika Chanyeol tidak mengontrol tubuhnya. Ia harus tetap mempertahankan kendali tubuhnya. Dan hal itu membuat kepalanya sedikit sakit.

Kedua matanya yang tadinya sudah berubah menjadi merah, sekarang sedikit lebih terang dari sebelumnya. Gigi-giginya juga bertumbuh semakin tajam membentuk taring. Tubuhnya yang penuh dengan energi baru, mulai bertambah kekar dan kuat.

Ia melolong keras, memecah keheningan mencekam di ruangan ini. Hyejin yang tadinya berdiri tak jauh dari lelaki itu, kini sudah merapat kembali pada dinding di belakangnya. Hyejin sudah tidak bisa lagi menyembunyikan ketakutan luar biasa yang ia tahan sejak tadi. Kengerian terpancar jelas di matanya.

 

Ini mimpi buruk, batinnya.

 

“Sayang sekali. Tapi kau sekarang berada di dunia nyata, Hyejin-ssi. Jangan mencoba menyangkalnya.”

 

Hyejin bergidik. Apakah makhluk di hadapannya ini adalah makhluk yang dilihat ibunya dua puluh tahun yang lalu? Kalau ya, kemungkinan besar hidupnya tidak lama lagi.

Tepat saat itu, makhluk di hadapannya mengerang keras. Chanyeol memegang dadanya, seolah kesakitan. Erangan itu sangat pilu sekaligus mengerikan. Tapi Hyejin menutup telinganya. Seperti dirasuki, Hyejin malah mendekat. Ia mengabaikan seluruh rasa takut yang sekarang memerangkapnya.

Ketika hendak menyentuh bahunya, Chanyeol menoleh dengan cepat. Ia mendesis, “Pergi…”

“Tapi tubuhmu   

“PERGI!”

Tanpa sadar, Chanyeol menepis bahu kiri Hyejin, membuatnya terlempar sampai membentur dinding dengan keras. Gadis itu terkapar lemas di atas lantai dengan nyeri pada sekujur tubuhnya. Ia berusaha keras untuk bangun, tapi sia-sia. Seluruh tubuhnya terasa remuk karena benturan yang keras dengan dinding. Hyejin meringis ketika ia merasakan bahu kirinya mulai mengeluarkan darah segar akibat tepisan punggung tangan Chanyeol. Kuku-kuku panjang itu sudah berhasil melukai dirinya.

Rasa sakit itu semakin menyiksanya. Terlebih, ketika ia berusaha untuk bergerak menjauh dari Chanyeol yang sekarang tengah melangkah dengan terhuyung-huyung ke arahnya.

“..hen..tikan..”

Pandangan Hyejin yang sedikit kabur, membuatnya kesulitan untuk melihat apa yang sedang terjadi. Tangan Chanyeol tidak kunjung mengangkat tubuhnya. Tetapi, ia bisa melihat kedua kaki Chanyeol berhenti tepat di depan wajahnya.

 

“Chanyeol-ssi, kau hanya akan mempercepat kematianmu dari gadis itu.”

 

Suara orang lain yang didengar Hyejin.

 

[To be Continued]

Iklan

36 pemikiran pada “Werewolf (Chapter 5)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s