Yours, Only Me (Chapter 5: FAT!)

Title                 : Yours, Only Me (FAT!)

Author             : Leon (@itaitaws)

Genre              : Romance

Length             : Series

Rating             : PG-15

Main Cast        : Park Chanyeol (EXO) ; Choi Inhi (OC)

FAT poster

“You’re more important than that numbers. I do not care how much weight you gain, just be Inhi who I love the most.”

 

Jam 6 sore. Waktu saat Chanyeol sampai di rumah setelah kurang lebih 20 menit dalam perjalanan. Dia selalu menunggu saat-saat di mana dia akan membuka pintu rumah dan Inhi menyambutnya hangat. Dia senang melihat Inhi jengkel bila dia dengan sengaja memindah tangankan bawaannya pada  gadis itu.

Tapi sepertinya rutinitasnya setiap sore harus terlewatkan, Inhi tidak di ruang tamu sebagaimana hari-hari sebelumnya. Chanyeol menyalakan lampu dan seketika menyadari keadaan rumah begitu sepi. Pembantu rumah tangga yang bekerja padanya tentu sudah pulang satu jam yang lalu. Lalu jangan bilang… gadis itu pergi tanpa izin darinya?!

Chanyeol menaiki anak tangga cepat-cepat berikut membuka pintu kamarnya hingga menjeblak terbuka. Satu detik kemudian dia menyadari sudah menahan napas sedari tadi, karena ketika menemukan Inhi di dalam sana napasnya menghebus kuat. Inhi di atas tempat tidur, membelakanginya, dengan tubuh meringkuk, dan menatapnya kaget.

You surprise me!” desis Inhi lirih dan Chanyeol mendapati suara gadis itu sangat serak.

“Kau kenapa?” tanya Chanyeol begitu dia duduk di sisi tempat tidur. Menyingkirkan beberapa helai rambut di wajah Inhi berikut mengelus rambut panjang itu hati-hati.

“Tidak apa-apa.”

“Apanya yang tidak apa-apa kalau kau lemas begini?”

“Ini efek bangun tidur. Memangnya kau mau aku kenapa, sih?” jerit inhi frustasi. Chanyeol menatap gadis itu kaget dan kembali berdiri. Hell, dia hanya khawatir, tapi sepertinya gadis itu malah mengekspetasikan hal lain!

Slow down.. Tidak ada ciuman selamat datang?”

“TIDAK!”

“Bagaimana kalau ucapan?”

What the heck?!”

“Aku punya cerita lucu, kau mau mendengar ceritaku, tidak?”

“Lain kali.”

“Bagaimana kalau kau bangun dan memasak untukku? Aku lapar.”

Delivery saja sana!”

“Inhi..”

“Jangan menggangguku, Park Chanyeol!”

“Demi Tuhan, Inhi, aku akan mencekikmu sekarang juga kalau kau tetap menyebalkan begini!”

Pupil mata Inhi sontak melebar ketika Chanyeol menyelesaikan ucapannya. Dan Chanyeol bersumpah gadis itu akan menangis kalau sampai dia lanjut mengomel.

Chanyeol menarik napas kesal. Dia mencoba mengingat-ingat apa membuat kesalahan hingga gadis itu begitu menyebalkan sore ini. Tapi seingatnya dia tidak melakukan apapun yang salah. Chanyeol melempar asal dasi, kemeja, celana panjang, dan kaus dalamannya berikut berjalan ke kamar mandi tanpa menatap belakang lagi.

Lima belas menit kemudian Chanyeol keluar dari kamar mandi dan mendapati gadis itu kembali ke posisi awalnya. Tidur dengan posisi miring, wajah hampir seluruhnya terpendam bantal, dan mata terpejam. Okay, dia tahu ada yang salah dengan gadis itu hari ini.

“Aku lapar,” bisik Chanyeol yang sudah memosisikan tubuhnya berhadapan dengan Inhi. Dia menarik napas dalam dan tersenyum senang ketika aroma khas gadis itu tercium olehnya. Chanyeol memeluk Inhi posesif lalu mencium kulit lembut di bawah daun telinga Inhi

“Bagaimana kalau delivery saja?” desah Inhi dan Chanyeol tersenyum ketika menyadari bahwa dia sudah sedikit menembus pertahanan gadis itu.

“Tidak mau.”

“Kau bisa pesan junk food, bagaimana?”

Chanyeol mengalihkan bibirnya ke leher Inhi yang otomatis mendongakkan kepalanya, memberi akses penuh bibir Chanyeol untuk bereksplorasi di sana.

“Aku ingin masakanmu,” jawab chanyeol berkeras.

“Malam ini saja, please?”

“Beri aku satu alasan kenapa harus melakukan itu”

Inhi mendengus sebelum akhirnya menyerah, “Perutku sakit. Sungguh!”

Chanyeol memundurkan tubuhnya berikut menyisir tubuh Inhi dengan matanya. Dan dia tidak sadar kalau sedari awal gadis itu memang mencengkram perut bagian bawahnya degan sebelah tangan.

“Kuambilkan obat.”

Inhi menahan tangan Chanyeol yang sudah duduk di ujung tempat tidur.

“Tidak perlu. Ini hanya sakit datang bulan.”

“Tapi.. Kau yakin?”

Inhi menghembuskan napas pasrah, beranjak untuk duduk dan menatap Chanyeol sayu, “aku yakin. Kau mau makan apa?”

“Aku delivery saja,” ucap Chanyeol mengalah akhirnya. Tapi kemudian dia berpikir gadis itu mempermainkannya karena lagi-lagi dia ditahan.

“Tsk~ tadi bukannya kau yang bersikukuh ingin makan masakanku? Kenapa kau membuatku bingung?!”

“Tidak, perasaanmu saja.”

“Kau menyebalkan! Jangan membuatku marah, Park Chanyeol!.”

“Seharusnya aku yang berkata seperti itu, Nona Choi!”

Inhi memainkan tangan Chanyeol dengan wajah memelas. Dia sedang malas bertengkar walaupun emosinya sudah meluap-luap.

“Apa yang kau lakukan?” tanya Chanyeol heran, dia menarik tangannya yang dipilin-pilin Inhi cepat hingga gadis itu hampir terjungkal ke depan. Gadis itu menatapnya dengan mata membelalak.

“Sesukamu, lah!” jerit Inhi kesal kemudian berjalan cepat keluar setelah membanting pintu kamar. Meninggalkan Chanyeol yang menghembuskan napas kesal dan sedikit menyesal karena sudah bersikap kasar.

***

Chanyeol tidak menyangka bahwa Inhi benar-benar marah setelah argumentasi singkat tadi. Setelah ada waktu untuk sendiri dan memikirkan tentang perdebatan mereka, Chanyeol tahu alasan kenapa Inhi marah padanya. Dia cukup bersyukur Inhi tidak menyinggung-nyinggung soal kemampuannya mengenai wanita yang jelas dia sendiri ragukan. Satu hal yang dia lupakan tadi, wanita yang sedang mengalami pasca mensturuasi akan lebih sensitif. Ya, dia hanya lupa, karena sebenarnya dia tahu fakta itu sejak remaja.

Inhi duduk bersila di sofa single yang menghadap langsung ke tv begitu keluar dari kamarnya. Dia cukup bersyukur gadis itu tidak menangis karena jujur saja, dia tidak tahu harus melakukan apa pada wanita yang menangis.

“Aku pesan teriyaki. Kau bilang ingin makan teriyaki kan kemarin?” Tanya Chanyeol begitu dia duduk di lengan sofa, merangkul gadis itu sambil memberi usapan ringan di pundaknya.

“Jangan marah lagi, aku… aku.. aku takut.”

“Arraseo, maafkan aku,” jawab Chanyeol kemudian meluncur turun dari lengan ke badan sofa hingga duduk berimpit dengan Inhi. Sebelah tangannya terangkat untuk memeluk gadis itu.

It was my fault, don’t apologize.” Inhi semakin menyurukkan kepalanya ke dada Chanyeol. Menikmati jantung pria itu yang bekerja di luar kendali.

“Aku laki-laki, lagipula aku yang tidak mengerti posisimu.”

“Tapi ini salahku.”

“Tidak, salahku! Aku yang harus minta maaf.”

“Jangan begitu, kau membuatku semakin merasa bersalah.”

“Sudah kubilang ini salahku, maaf.”

“Yeol..”

“Inhi.. Mengalah padaku kali ini saja, okay?”

Chanyeol menarik pelan rambut Inhi hingga gadis itu mendongak menatanya. Dia menempelkan hidungnya dengan milik Inhi, membiarkan hembusan napas Inhi menggelitik bibirnya. Hangat.

“Okay~”

That’s my girl,” seru Chanyeol puas. Tangannya yang berada di rambut Inhi perlahan mengusap ringan helai demi helaian tersebut hingga aroma lily menguar. Bersamaan dengan itu keduanya tertawa pelan.

Chanyeol melarikan matanya pada tubuh Inhi. Mulai dari kaki menekuknya yang ditutupi celana piyama polkadot, berikut tubuhnya yang diselubungi kaos kedodoran Chanyeol. Satu hal yang Chanyeol dapati setelah tinggal bersama Inhi, gadis itu suka sekali memakai bajunya. Dan hell! Bagaimana mungkin Inhi kelihatan cute dengan pakaian kedodoran itu?!

“Kenapa menatapku begitu?” Tanya Inhi, mengontrol keinginannya untuk menenggelamkan jemarinya pada rambut berantakan Chanyeol—yang membuatnya kelihatan hot—kemudian mendorong kepala itu hingga bibir mereka bertaut.

“Kau mau diam di sini atau makan? Perutku sudah kelaparan.”

“Gendong!”

“Tumben manja.”

“Ayolah~ perutku tambah sakit tadi waktu kau memarahiku.”

“Depan/belakang?” Tanya Chanyeol iseng.

“A..apa?”

“Gendong depan atau belakang? Di belakang kau bisa saja mencium leherku tiba-tiba, di depan aku bisa menggendong sambil menciummu, bagaimana?”

“Mesum! Jongkok sekarang, dan jangan harap aku mencium lehermu.”

Chanyeol menarik napas pasrah sebelum akhirnya turun dari sofa lalu berjongkok di depan Inhi. Gadis itu tersenyum senang kemudian melompat ke punggung Chanyeol. Dari jarak sedekat ini, dia bisa mencium aroma maskulin sabun yang Chanyeol pakai. Nyaman sekali.

“Aku tidak menyangka kau seberat ini,” ucap Chanyeol iseng.

“Serius?? Aku juga merasa gemukan akhir-akhir ini. Aaaa Nyeol, bagaimana ini?” Inhi menggerak-gerakkan kakinya hingga Chanyeol berhenti sebentar untuk menaikkan posisi gadis itu.

“Kau mau kita jatuh bersama ya? Romantismu mengerikan, Nona Choi.”

“Aku tidak merasa berkata kalau aku ingin kita jatuh bersama-_-.”

Chanyeol mendudukkan Inhi di salah satu kursi tinggi kemudian berjalan memutar untuk duduk berhadapan. Di atas meja sudah berjejer berbagai makanan hingga membuat Inhi mengaga. Datang bulan membuat nafsu makannya bertambah dan dia sangsi akan kalimat Chanyeol beberapa detik yang lalu. Dia berat. What the heck! Dia menyesal makan banyak akhir-akhir ini. Baiklah, dia akan menikmati makan malam ini sepuasnya, karena sepertinya untuk beberapa waktu ke depan dia akan menghentikan kegiatan itu dan menurutkan badan. Teriyaki, come to mama!

***

Inhi’s POV

Aku menatap horor timbangan yang berada di bawahku. Jarum masih diam di angka 0, dan aku tidak yakin ini akan berakhir bagus. Aku mulai naik ke atas benda kramat tersebut sambil menghitung domba dalam hati. Sedetik setelah aku membuka mata, satu ruang keluarga dipenuhi suara jeritanku. Oh, ini tidak baik. 57 kilo, ini berarti aku sudah naik 6 kilo dalam kurang lebih 2 bulan.

Chanyeol baru saja berangkat, namun rasanya aku ingin meneleponnya agar segera pulang. Astaga, bahkan tadi pagi aku tidak olahraga. Aku mulai membayangkan lemak-lemak menari di bawah kulitku. Memikirkannya saja membuatku bergidik ngeri.

Baiklah, aku akan diet ketat mulai hari ini. Semoga saja ini berakhir cepat, karena jujur saja, aku tidak suka berdiet. Itu menyiksa, dan aku sudah pernah merasakan hal itu dulu dalam jangka waktu yang panjang.

Aku mulai menulis hal-hal yang akan kulakukan pada selembar memo.
Kurang lebih seperti ini.

1. Tidak boleh makan sebelum jam 12, dan berhenti sebelum jam 6 sore.

Ini cara diet yang dilakukan guru vocal paduan suara saat SMA dulu. Aku tidak pernah mencoba cara ini tapi semoga saja berhasil.

2. No junk food, although just a bit.

3. No carbohydrate and meat.

4. Say goodbye to oreo and potato chips.

Rasanya aku ingin menangis saat menulis yang ini. Oreo.. Astagaa, aku akui cookies ini kalorinya memang setara dengan hamburger, tapi bagaimanapun ini cookies enak.

5. Vegetables and fruits!

6. Jangan lupa olahraga!

Setelah aku membubuhkan tanda tangan di pojok kanan bawah, memo tersebut kutempel di.. Dalam dompet. Satu-satunya tempat yang semoga saja tidak dijangkau Chanyeol. Bagaimanapun aku tidak mau Chanyeol tahu kalau aku diet. Bisa-bisa dia menggagalkan semuanya, bukannya justru membantuku. Aku tidak tahu harus menaruh di mana lagi karena aku tidak punya diary. Dan terakhir.. Kenapa jam 12 rasanya lama sekali?!

***

Sudah 3 minggu aku berdiet. Ini menyiksa, tentu saja. Chanyeol sering mengomel setiap malam karena aku hanya duduk diam menemaninya makan. Tidak jarang dia menyuapiku makanannya supaya aku ikut makan. Dan tentu saja aku tidak bisa menolaknya lantaran tidak mau dia tahu aku berdiet. Dan terkutuklah makanan itu karena nyatanya mulut dan perutku sejalan untuk menikmatinya. Berdoa sajalah supaya tubuhku lupa sudah dimasukkan makanan saat malam hari.

Aku juga sempat menjelajah internet dan menemukan artikel yang berisikan tentang.. Ciuman bisa membakar kalori. 2-3 kalori per menit. Ada juga yang mengatakan kalau ciuman bergairah tiga kali per hari, setidaknya 20 detik per ciuman, bisa membantu menurunkan berat badan. WOW! Apa aku harus mencium Chanyeol lebih dulu? Rasanya tidak mungkin. (/.\)

Dan aku tengah memakan apel keduaku siang ini sambil menonton acara gosip. Ada super junior, dan pastinya ada Kyuhyun. Sudah berapa lama ya aku tidak melihat wajahnya?

Aku baru saja akan mulai mengigit apel lagi ketika ponselku berbunyi. Park Chanyeol. Tumben sekali meneleponku. Setelah mengecilkan volume tv, kutempelkan ponsel ke telinga dan suara berat pria itu langsung terdengar.

“Sedang apa?”

“Makan.”

“Makan apa?” Aku mengerjap berkali-kali. Aku tidak mungkin mengatakan kalau apel yang kumakan sekarang. Ini jam 12 dan waktunya makan siang. Biasanya makananku cukup berat untuk makan siang.

“Makan apa?” Tanyanya sekali lagi.

“A.. Ayam.” 1 dosa berbohong di siang hari.

“Apel atau ayam?” Skakmat! Bumi telan aku sekarang!”

“A.. Ayam. Kenapa?”

“Semalam waktu aku membuka kulkas, banyak sekali apel di sana. Dan aku yakin itu punyamu. Kau tidak bohong kan?” Tanyanya yang langsung membuatku mengangguk. Syukurlah dia tidak bisa melihatnya.

“Tidak.”

“Apa aku perlu pulang untuk memastikanmu benar-benar makan ayam?”

“Nyeol.. Tidak lucu.”

“Aku tidak melawak. Sumpah.”

Aku mendengus bosan. Berita soal Kyuhyun sudah berakhir dan aku tidak menontonnya sampai habis.

“Kau diet ya?” Tanyanya lagi dan aku sontak menggigit bibir untuk menahan segala macam omongan tak terkendali yang mungkin keluar.

“Kau bercanda? Hahaha ini baru lucu.” aku tertawa sumbang. Dan aku yakin kucing saja mungkin akan mendelik padaku kalau aku tetap tertawa aneh begini.

“Lucu? Astaga, aku bahkan mengatakan lelucon apapun.”

“Kau sudah makan?” Tanyaku mengalihkan pembicaraan. Aku tidak bisa berlama-lama dalam topik yang menyudutkan seperti ini.

“Apa kau sedang mencoba mengalihkan pembicaraan?”

Shit! Shit! Stop that fuckin’ topic!’ Ucapku tanpa suara sambil menunjuk-nunjuk layar ponsel dengan geram.

“Aku bertanya apa kau sudah makan?” Tanyaku bersikukuh. Masa bodohlah dia merasa diacuhkan atau apa. Dan aku bersumpah akan mematikan sambungan ini kalau jawaban Chanyeol masih tidak nyambung.

Terdengar helaan napas di ujung sana, “belum, sedang menunggu.”

“Menungguku?”

“Menunggu makananku!” Ketus Chanyeol sebelum akhirnya tertawa.

“Makan dengan siapa? Jangan katakan dengan sekretarismu yang kau bilang sexy itu?”

Jealous?

“Tidak!”

“Dia memang mengajakku tadi, tapi karena aku pria yang setia jadi kutolak.”

“Jadi..”

“Dengan Appa, dan appamu. Aku sulit menolak makan gratis.”

“Bagaimana kalau sekretarismu yang…”

“Sudah kukatakan aku ini pria yang setia.”

Senyumku mengembang. Tapi tunggu, apa chanyeol baru menyebut-nyebut soal appa? Dia bilang appa?

“Appa di sana? Nyeol aku mau..” Belum sempat aku melanjutkan omongan, dia berkata, “karena sedang meneleponmu, aku di luar restaurant sekarang. Kau bisa meneleponnya nanti.”

“Baiklah. Jangan katakan yang aneh-aneh tentangku pada appa, ya?”

“Yang aneh bagaimana? Aku hanya akan bilang kalau kau selalu memakai lingerie saat tidur untuk menggodaku, kau suka berlari keliling rumah sehabis mandi dengan handuk, kau sering..”

Oh my gosh, siapa yang menyuruhmu mengarang bebas seperti itu?”

Tawa Chanyeol kembali terdengar, “sudah ya, telingaku panas. Makan dengan baik dan jangan bawa laki-laki yang sudah puber masuk ke rumah.”

“Ayeey captain!”

Bersamaan dengan terputusnya sambungan, aku kembali menggigit sebongkah apel yang sudah di kupas yang ada di tanganku. Warnanya sudah sedikit kecoklatan. Apa aku terlalu lama bicara? Ah~ tapi rasanya tetap enak.

***

“Bagaimana kalau kita makan malam di luar?” Tanya Chanyeol saat kami sedang duduk di balkon. Di sofa yang ada di balkon lebih tepatnya. Kepalaku yang bersandar di dadanya langsung terangkat.

“Aku sudah makan,” jawabku lalu kembali menyandarkan kepala ke dadanya yang seperti aspal tapi nyaman itu. Sebelah tanganku bergerak ke perutnya dan mendapati perut itu benar-benar rata. Dia langsing dan aku gemuk. Fat fat fat!

“Jangan bohong!”

“Aku tidak bohong.”

Chanyeol menghembuskan napas keras dengan tangan menyisiri rambutku.

“Kau tidak perlu diet,” ucapnya setelah mengangkat daguku dengan telunjuk. Aku menatapnya dalam hingga bisa melihat pantulan wajahku sendiri di mata hitamnya.

Aku mengerang perlahan sebelum akhirnya Chanyeol menciumku. Lembut, hangat, dan.. Mint. Kebanyakan orang mungkin mengatakan kalau ciuman rasanya manis, tapi Chanyeol berbeda. Jantungku berdetak semakin kuat kala Chanyeol mengangkat tubuhku hingga berada di pangkuannya. Di atas pahanya dengan kendali yang dia pegang penuh. Dan yang bisa kulakukan hanya bertumpu pada pundak Chanyeol. Pundak yang cukup kokoh, berbeda dengan tubuhnya yang kurus. Dia menggeram saat lidahku melesak masuk ke dalam mulutnya, menyentuh organ lunak yang berada di sana hingga bertaut. Dan ini jauh lebih hangat dari bibirnya.

Napasku mulai memburu. Aku butuh asupan oksigen secepat mungkin. Dan seolah mengerti, Chanyeol memiringkan kepalanya hingga hidungku berada di cekungan pipinya. Dia mencumbuku lebih, melambungkan tanpa membuatku khawatir akan jatuh di akhir. Dia menghargaiku, dengan segala apa yang dia berikan sekarang. Dan aku tahu, seperti inilah rasanya dipuja laki-laki.

“Jadi, kapan kau akan mengaku kalau kau memang diet?” Tanya Chanyeol sesaat setelah bibir kami berpisah.

Aku mengelap bibirku yang basah dengan punggung tangan lalu berkata, “aku tidak diet.”

“Siapa yang membolehkanmu berbohong padaku?” Tanyanya lagi, kali ini dengan nada yang lebih dingin. Atau mungkin hanya perasaanku saja.

“Aku tidak bohong,” jawabku masih berbohong.

“Aku tidak suka makan malam sendiri semenjak ada kau di sini.”

“Aku tahu.”

“Lalu kenapa kau tidak mau makan malam akhir-akhir ini?”

“Aku..” Diet. Sialan! Aku hampir saja mengatakan kata terkutuk itu pada Chanyeol. Dan demi apapun, aku mendapati rahang pria itu menggeretak.

“Diet? Kau mau bilang itu,kan?” Tembaknya langsung yang membuatku terpojok.

“Tidak!”

“Aku tidak suka dibohongi, terlebih olehmu!” Ucapnya tepat di depan wajahku. Astaga, jangan menangis Inhi!

Aku menarik napas, “aku..”

“Terserah! Aku tidak peduli pada pembohong sepertimu!” Ketusnya lalu beranjak dari sofa. Meninggalkanku sendirian.

***

Seumur hidup aku tidak pernah menangis untuk laki-laki manapun. Dan kuharap kali ini juga akan begitu. Tapi sepertinya otak, hati, dan segala saraf dalam tubuhku tidak berjalan serasi karena.. Hell! Aku hampir menangis sekarang. Hanya hampir, dan dadaku rasanya sakit sekali. Wtf, Park Chanyeol!

Malam ini berakhir dengan dingin. Yah dingin, karena aku tidak berani masuk ke kamar dan lebih memilih tidur di sofa bed. Tidak ada selimut dan guling di sini. Aku tidak tahu Chanyeol mengunci pintu kamar atau tidak. Kalaupun tidak aku belum berani melihat wajahnya.

Hah, sudahlah! Lebih baik aku tidur dan minta maaf padanya besok pagi. Tapi perutku lapar. Apel siang tadi adalah makan terakhirku hari ini. Aku tahu diet ini tidak sehat, tapi.. Ini cara yang paling cepat. Instan, seperti hidup Park Chanyeol. Mataku sudah terpejam, namun pikiranku masih terbang ke mana-mana. Andai ini drama atau setidaknya novel, Chanyeol pasti sudah tidur di sebelahku atau setidaknya menyelimuti tubuhku. Tapi.. Ini kenyataan, bukan fiksi dalam hal apapun.

Dan aku terbangun dengan jam dinding yang menunjukkan pukul 8. Chanyeol pasti sudah berangkat satu jam yang lalu dan aku tidak olahraga pagi ini! Aku menunduk sebentar, mengucek mata lalu menyingkirkan selimut yang menutupi tubuh. Tunggu.. Selimut?! Oh, haruskan aku meloncat-loncat di atas sofa? Ini pasti perbuatan Chanyeol, tidak ada orang lain di jam sepagi ini kecuali kami berdua. Karena walaupun marah Chanyeol masih peduli padaku. Kenapa dia baik sekali, huh?!

Kalau begini lebih baik aku ke kantornya nanti dan meminta maaf. Mungkin akan lebih baik kalau tidak memberi tahunya karena ini bisa jadi surprise. Masa bodohlah tentang sekretaris dada plastik itu, dia tidak akan bisa melawan Choi Inhi yang dilanda luapan kesenangan.

Ponselku berbunyi tepat ketika aku menjejakkan kaki di lantai. Kulirik layar benda tersebut, dan nama Choi Ara tertera di sana.

“Ada apa?” Tanyaku kemudian berdeham sedikit ketika mendapati suaraku terdengar serak.

“Eonnie!! Apa kabar??!!” Tanyanya girang. Tidak biasanya.

“Katakan apa maumu?”

Gadis konyol itu terkekeh sebelum berkata, “ada restaurant sushi baru, teman-temanku bilang di sana enak. Bagaimana kalau kita ke sana?”

“Di mana?”

“Dekat kantor Chanyeol oppa. Bagaimana? Ayolah kau tidak kasihan pada bayiku?”

Aku mendecak sebal. Adikku ini selalu saja bertingkah seperti ibu hamil jika sudah ada maunya seperti ini. “Araseo, kapan? Kau yang traktir kan?”

Dia diam sesaat, “eonnie, kau tahu kan kantung mahasiswa sepertiku? Lagipula aku tahu uangmu banyak semenjak tinggal dengan Chanyeol oppa. Berbagilah kebahagiaan pada adikmu ini,” ujarnya memelas.

Aku ingin tertawa, tapi sayangnya hanya senyuman yang keluar. “Baiklah, kapan?” Tanyaku sekali lagi.

“Nanti siang. Sudah ya eonnie, dosenku sudah masuk. Asal kau tahu kalau saja pelajarannya tidak penting aku tidak sudi duduk di kelas ini,” ucapnya lalu dengan semena-mena memutuskan sambungan. Kurasa dia perlu diajarkan bersikap sopan pada kakak perempuan satu-satunya ini.

***

“Jadi sudah sampai mana hubunganmu dengan Chanyeol oppa?” Tanya Ara begitu pelayan yang mencatat pesanan kami pergi. Dia menyandarkan punggung ke sofa lalu ikut menatap layar ipad yang kupegang.

“Chanyeol oppa? Manis sekali,” gumamku asal sambil menggerakan layar ke bawah perlahan. Situs berita diskon yang kubuka sekarang tidak ada perkembangan apa-apa. Dan itu artinya aku tidak akan belanja dalam waktu dekat.

“Jangan bilang kau hanya memanggilnya Chanyeol?!” Katanya histeris yang membuatku langsung menatapnya aneh.

“Yap, just Chanyeol. That’s heard sexier when I say it loud.”

“Itu terdengar buruk. Tidak manis sama sekali!” Serunya sinis dan aku hanya terkekeh.

“Dia tidak marah?” Tanya Ara lagi.

“Dia sedang marah, tapi bukan untuk alasan ini,” ucapku setelah mematikan layar ipad dan memfokuskan diri pada Ara.

Then?”

Aku menarik napas lalu menceritakan segala kronologi masalahku dengan Chanyeol. Tentang aku yang diet sembunyi-sembunyi, dan Chanyeol yang bersikap seperti detektif serba tahu.

“Menurutku kau justru terlihat lebih kurus.”

“Itu karena aku sedang diet, Choi Ara!”

Kembali kunyalakan ipad Ara dan membuka benji banana. Sudah lama aku tidak main game ini.

“Lalu, kau sudah sejauh apa dengannya?” Tanya Ara kemudian menyeruput green tea yang baru saja diantarkan waitress.

“Masih sehat, kau tenang saja.”

“Pegangan tangan?”

Check!”

“Pelukan?”

Check!”

“Ciuman?”

Check!”

“WOW! Bagaimana rasanya?” Tanyanya yang langsung membuatku menekan icon pause.

“Penting untukmu?”

“Manis sekali, pasti!”

Aku terkekeh sebentar kemudian kembali melanjutkan permainan.

“Tidur bersama?”

“Che.. Bukan tidur dalam tanda kutip, jadi check!”

Have sex?”

Nope.”

Seriously?” Tanya Ara setelah dengan seenaknya menekan pause dan menatapku tidak percaya.

“Ya. Kalau tidak percaya kau bisa lihat dari bola mutiara mistismu itu,” jawabku lalu kembali menekan icon play.

“Kau virgin?”

Pretty sure, yes! Aku usahakan tetap virgin sampai menikah.”

“Kolot!”

“Aku tahu!”

Bersamaan dengan datangnya pesanan kami, monyet yang bergelayutan di akar-akar gantung itu jatuh. “Shit! Shit! Stupid monkey!” Umpatku pelan namun sepertinya masih terdengar Ara, karena gadis itu langsung tertawa terbahak-bahak.

***

Ternyata diet ini berefek juga padaku, karena nyatanya sudah 3 hari terakhir aku merasa maag-ku sering kambuh. Seperti saat ini, aku hanya mampu menerima sedikit makanan dari beragam jenis yang Ara pesan. Kami baru saja selesai makan, dan masih menikmati sedikit waktu yang tersisa untuk berkumpul sebagaimana dulu.

“Minho oppa sering meneleponmu?” tanyaku ketika Ara menyuapkan sushi terakhir ke mulutnya. Jam makan siang masih berlangsung dan restaurant ini semakin ramai didatangi pelanggan.

Ara mengangguk selagi meminum green tea-nya.

So?” tanyaku lagi.

So.. What?”

“Dia menanyakanku, tidak?”

“Tentu saja. asal kau tahu, dia jauh lebih menyayangimu dibanding aku! Padahal aku yang terkecil,” tandas Ara, sengaja menumpahkan kekesalan yang sudah dia tahan selama ini.

“Kau berlebihan,” sangkalku cepat sehingga membuatnya mendengus.

“Tapi kenyataannya memang begitu!”

Aku terdiam sejenak sebelum berkata, “Yakin?”

“Seratus persen,” balas Ara.

Aku kemudian berdiam diri lagi selama beberapa detik, memuaskan diri memainkan ipad Ara yang di tumpuk game ini. Beruntung aku masih dalam control, karena kalau tidak semua mata pelanggan restaurant ini sudah tertuju padaku lantaran teriakanku bila kalah dalam game.

Ara menjerit tertahan, “Eonnie!”

“Apa?” tanyaku sambil mencoba tetap berfokus pada layar ipad.

“Chanyeol oppa, dia di sini,” ucap Ara lirih lalu menggerakkan tanganku brutal.

Mendengar itu, aku segera menekan icon pause dan langsung menoleh ke pintu masuk.

“Kau menggeram,” lirih Ara lagi di sampingku.

Aku terdiam sejenak. Menatap nanar tubuh tinggi Chanyeol yang sudah duduk di meja yang berada di ujung dekat jendela. Seperti biasa, pria itu tampan. Dengan kemeja bergaris lengan panjang yang digulung hingga batas siku. Tapi bukan itu masalahnya.

“Apa yang dia lakukan…” desisku akhirnya menemukan suaraku kembali. Chanyeol duduk berhadapan dengan orang itu, dan aku hanya bisa melihatnya dari samping.

Aku tidak tahu siapa orang yang duduk dengan Chanyeol sekarang. Aku yakin itu bukan sekretarisnya karena sejujurnya aku masih mengingat wajah wanita berdada plastic itu. Gadis itu.. cantik. Dengan rambut pirang panjang yang diikat ekor kuda, poni lurus yang menutupi kening, dan setelan baju formal yang melingkupinya. Anehnya gadis itu mengenakan celana. Dan apa itu berarti Chanyeol lebih menyukai wanita tomboy daripada yang seperti aku?

Aku mulai membuat hipotesa—yang kuharap tidak benar—ketika mendapati kedua orang itu tertawa bersama. Hubungan rekan bisnis rasanya terlalu janggal untuk mereka karena.. Keduanya terlihat sangat akrab. Posisi duduk kami yang cukup jauh tidak memungkinkanku untuk mendengar apa yang mereka bicarakan. Aku jadi mengingat-ingat apa Chanyeol pernah terlihat sebahagia itu ketika bersamaku?

Baru kemarin kami bertengkar, dan dia sudah terlihat baik seperti itu sementara aku masih uring-uringan. Bahkan dia tidak mengamati suasana restaurant ini, lebih memilih memusatkan focus pada gadis itu. Aku menyumpah dalam hati mengingat cara Chanyeol menatap semua wanita dengan cara yang sama. Tidak ada tatapan hangat yang seharusnya dominan untuk gadis yang disukainya.

“Minta bill dan segera antar aku pulang,” ucapku pelan pada Ara yang langsung menurut.

***

Setelah kejadian tadi siang aku menutup diri terhadap semua yang berhubungan dengan Chanyeol—kecuali rumah. Jika hari-hari biasa aku lebih memilih mengenakan bajunya, kali ini aku mengenakan bajuku sendiri. Semua foto Chanyeol di rumah selalu membuatku membuang muka. Bahkan aku meletakkan sepatu di tempat yang jauh dengan miliknya. Semua ini kulakukan semata-mata untuk.. Latihan. Jika Chanyeol sudah menemukan gadis baru bukankah itu berarti dia akan segera membuangku? Setidaknya aku tidak akan terlalu kaget jika sewaktu-waktu dia.. Mencampakkanku untuk wanita lain. Mengatakan kalimat itu entah kenapa membuatku ingin menangis.

Aku percaya padanya, sampai saat inipun aku percaya. Tapi kalau sudah begini aku bahkan tidak tahu harus bagaimana. Chanyeol baik, dan selamanya kurasa akan begitu. Hanya saja.. Aku tidak menyangka kalau masalah yang kuanggap ringan ternyata berdampak buruk seperti ini.

Whatever you think of, but.. Can you make me some food? Please,” Pinta Chanyeol tiba-tiba saat aku tengah berdiri di balkon, menatap langit yang tidak ada bagus-bagusnya malam ini. Sejak kapan Chanyeol pulang? Aku menoleh ke sedikit ke samping, tapi tak menemukan tubuh tinggi tersebut. Detik berikutnya aku merasakan dada bidang mengenai punggungku. Hangat.
“Maaf soal tadi malam. Aku terlalu emosi,” ucapnya lagi, kali ini merengkuh tubuhku dari belakang. Berpikir kalau ini mungkin terakhir kalinya kami seperti ini, aku memilih menyandarkan punggung padanya.

Aku menghembuskan napas ketika lagi-lagi soal masalah kami terlintas di otakku. Beberapa waktu yang lalu aku hanya calon dokter yang memutuskan untuk hidup mandiri dan tidak mau berurusan dengan laki-laki untuk sementara. Tapi kemudian Chanyeol masuk dan membuat hidupku jungkir balik. Awalnya aku yang hanya menunduk saat menangis, kini mendapat pelukan hangat. Dulu kalau aku tidak suka pada orang yang manja, kini aku dengan rela meladeni semua sikap manja Chanyeol. Hampir semua berubah, dan ironisnya aku menikmati perubahan-perubahan tersebut.

Perhatianku tertuju pada tangan Chanyeol yang berada di perutku. Setelah permintaan maaf tadi apa dia memang berniat berdamai denganku atau.. Menutupi diri? Aku pernah membaca buku psikologi milik appa, dan disana tertulis bahwa, orang akan berbuat baik untuk menutupi kesalahannya. Aku tidak suka orang yang selingkuh, dan Chanyeol tahu hal itu.

Masalahnya sekarang aku bahkan tidak tahu seperti apa sebenarnya status kami. Chanyeol tidak pernah menjelaskannya meskipun aku sudah bertanya. Akupun awalnya membiarkan karena semua sikap Chanyeol menunjukkan kalau dia.. Mencintaiku. Dan aku selalu menganggap hubungan kami berada pada jalur aman. Tidak begini.

No! Kau delivery saja.” Ucapku bersamaan ketika aku menghempaskan tangannya dan kembali masuk ke dalam.

“Kau masih diet?” Tanyanya, mengikuti langkahku di belakang.

“Tidak.”

“Lalu?”

“Tidak apa-apa.”

“Kau marah?”

“Menurutmu?”

“Kenapa sekarang jadi kau yang marah?” Ucanya dengan nada bingung yang tidak bisa di tutupi.

Aku sontak berbalik hingga berhadapan dengan tulang selangka Chanyeol. Sampai saat inipun aku masih menyumpah dalam hati karena harus mendongak ketika berbicara dengannya. “Persetan dengan diet, why don’t you ask that woman to do that shit?! Why should me?!” Teriakku sambil menunjuk dadanya dengan telunjuk.

Woman? Woman? What are you talking of?” Tanya Chanyeol dengan ekspresi bingung. Oh, ayolah perlukah aku menyebut kronologi kejadian siang tadi? Mengingatnya membuatku.. Ingin menangis.

“Aku melihatnya sendiri, Park Chanyeol! Mungkin kalau aku tahu ini dari orang lain kau masih bisa menyangkalnya!”

“Melihat.. Apa?”

“Tidak usah pura-pura lupa, tentu saja aku melihatmu dengan wanita itu,” ucapku semakin memelan lantaran air mataku yang mulai menetes. Ini pasti karena debu, aku tidak pernah menangis karena laki-laki.

“Tapi.. Aku benar-benar tidak mengerti apa yang kau katakan.”

“Kalau kau mengaku sekarang, aku pasti baik-baik saja. Aku yakin aku tidak apa-apa,” lirihku sambil berusaha tersenyum. Tanganku sendiri mengusap air mata yang entah kenapa justru turun semakin deras.

“Aku.. Tidak mengerti. Bisa kau jelaskan?”

“Bagaimana kalau aku tidak mau? Asal kau tahu, mengingat hal itu membuatku.. Sakit,” sahutku asal sambil berusaha tertawa, walaupun aku yakin itu terdengar sumbang.

“Dan aku lebih tidak mau kita bertengkar karena hal yang bahkan aku tidak tahu penyebabnya.” Chanyeol mengulurkan tangan kanannya untuk merengkuhku, tapi tubuhku justru mundur hingga tangan kokoh itu kembali turun.

Aku terdiam beberapa saat. Napasku sudah terlalu memburu lantaran air mata yang semakin deras ini. Untuk pertama kalinya aku mengaku ada seorang pria yang membuatku menangis. Dan dia juga satu-satunya pria yang.. Bermain di belakangku.

Aku menarik napas, “restaurant sushi dekat kantormu, meja ujung dekat jendela, kau dengan kemeja bergaris digulung hingga siku.” Chanyeol masih terdiam, menatap kosong lantai marmer dengan mata menyipit. “That woman, rambut pirang panjang yang diikat, poni yang menutupi dahi, setelan formal, dan tertawa bersamamu. Apa kita pernah sesenang itu?” Terangku diakhiri tawa yang terdengar sangat miris.

Crap, Chanyeol menepuk tangan satu kali. Kurasa dia mengerti masalahnya, “Inhi.. Kau cemburu?” Tanya Chanyeol yang membuatku sontak menatapnya. Bibir itu terkulum seolah menahan senyum.

“Ya, kau berhasil, Park Chanyeol!” Jawabku sinis.

Chanyeol menarik napas sebelum berkata, “apa kau masih cemburu kalau kukatakan orang yang kau bilang wanita itu adalah laki-laki?”

“A.. Apa?! Sayangnya aku cukup pintar untuk termakan bualan itu.”

Sorry to say this but, kau ternyata kurang pintar jika kau tetap percaya pada apa yang kau lihat. Terkadang apa yang kita lihat belum tentu benar.”

“Tidak usah dibuat sulit begini… Kau..”

Chanyeol menunduk sedikit hingga tubuhnya sejajar denganku. Dia tersenyum di depan wajahku yang masih dipenuhi air mata yang kini hampir mengering sebelum akhirnya mengusap air mata itu. Dan aku membiarkannya. Sebenarnya yang ingin kulakukan hanya memeluknya saat ini karena.. Aku sudah bergantung pada hal itu semenjak dia ada.

“Dia laki-laki, tulen. Aku berani bertaruh seumur hidupku padamu soal fakta ini. Namanya Ren, temanku saat kuliah. Dia memang bergaya seperti itu. Lagipula aku terlalu buruk untuk belok menjadi errr.. Gay.”

“Jangan bohong,” kataku lirih.

“Sumpah aku tidah berbohong. Kau bisa menemuinya besok sebagai pembuktian kalau perlu.”

“Kau tidak selingkuh?”

“Tidak.”

“Sekalipun aku mengizinkannya?”

“Aku yakin kau tidak akan melakukan itu. Lagipula, kau tenang saja, aku hanya mengencani 1 wanita dalam 1 waktu.Aku pria setia, ingat?”

“Hanya menyayangi Choi Inhi seorang?”

“Ya, saranghae.”

Senyumku seketika muncul dan sedetik kemudian aku sudah menghambur ke pelukan Chanyeol. Hangat, nyaman, menenangkan, dan hanya milikku. Tidak peduli soal fakta bahwa tubuhnya kurus, dia tetap yang terbaik.

“Bagaimana kalau kita makan jajangmyeon di luar?” Tawar Chanyeol begitu melepas pelukannya.

“Aku bisa gemuk.”

“Nah, jadi kau memang berdiet, kan?” Geram Chanyeol dengan nada bercanda.

“Y..ya. Kau tahu dari mana?” Tanyaku salah tingkah. Aku melingkarkan lengan di lehernya berikut mendorong sedikit kepala Chanyeol agar menunduk.

“Pertama, nafsu makanmu yang biasanya banyak jadi berubah. Kedua, kau tidak mau makan malam denganku lagi. Ketiga, aku menemukan memo di dompetmu. Kebetulan sedikit terlihat, karena penasaran akhirnya.. Yah.. You know what I wanna say.”

“Ya! Dompet itu privacy!”

“Hidup denganku artinya tidak ada privacy sedikitpun.”

“Aku..”

“Tidak ada diet-diet lagi. Kau terlalu kurus sekarang. Lihat siapa yang lebih pantas disebut aspal, huh?” Tanyanya dan aku hanya tertawa.

Chanyeol menarik tanganku, dan kami berhenti di depan.. Timbangan. Musuh sebagian besar wanita di bumi ini.

“Naik!” Perintah Chanyeol. Aku berusaha menjelaskan sesuatu tapi hanya tanganku yang bergerak lantaran mulutku yang tiba-tiba sulit bicara.

“Perlu kugendong?” Tawarnya usil. Mau tidak mau aku naik ke atas timbangan itu sambil berdoa dalam hati agar beratku kembali normal.

“See? 47! Kau terlalu kurus. Makan sedikit lebih banyak mulai sekarang.”

“Dan membuatku gemuk lagi? No way!”

“Aku tidak ingin kau sakit, apalagi tersiksa karena diet tidak sehatmu itu.”

“Aku tidak sa.. Hanya maag sedikit, sih. Tapi..”

Chanyeol tersenyum, mengusap kepalaku lalu berkata, “You’re more important than that numbers. I do not care how much weight you gain, just be Inhi who I love the most.”

Love the most?”

Chanyeol mengangguk yakin, “dan aku usahakan akan tetap seperti itu, bahkan bertambah setiap detiknya. Jadi.. Bagaimana kalau kita pergi sekarang? Aku sudah sangat lapar!”

“Kkaja!”

***

Bonus Scene!

Author’s POV

“Ngomong-ngomong, kau jangan tidur di sofa bed lagi!” peritah Chanyeol yang tengah memutar setir ke kiri. Mereka baru keluar dari kawasan komplek dengan pajero hitam Chanyeol. Awalnya Inhi meminta dia untuk membawa motor, karena Inhi bilang selama tinggal di rumahnya,  gadis itu baru tahu kalau ternyata dia punya motor sport malam ini. Tapi tentu saja Chanyeol menolak lantaran musim panas sudah berakhir dan dia tidak mau gadis itu kedinginan di jalan.

Tanpa mengatakan apapun gadis itu mengangguk setelah menoleh sedikit padanya. Dia mendengus, Inhi selalu melupakannya kalau sudah berhadapan dengan ponsel, seperti sekarang.

“Sedang apa, sih? Serius sekali sampai aku dilupakan.”

“Jangan ingin tahu urusan wanita.”

“Lupa soal ‘hidup denganku berarti tidak ada privacy’?” tanya Chanyeol jengkel sambil mengacak rambutnya asal.

Inhi tertawa lalu memasukan ponsel ke dalam kantung sweater. “Oh iya, semalam kau yang menyelimutiku, ya?”

Chanyeol mengangguk masih dengan mata terfokus pada jalanan. “Ya. Tadinya aku berniat menggendongmu ke dalam kamar. Tapi akhirnya malah aku ikut tidur di sofa bed bersamamu.”

“Benarkah? Kok aku tidak tahu?”

“Tidurmu lelap sekali. Bahkan dengkuranmu membuat berisik satu rumah. Menggangu, tahu?”

Inhi mencibir, “kalau memang begitu tidak usah tidur denganku lagi!”

“Bukankah aku baru saja mengatakan kalau kau tidak boleh tidur di sofa bed lagi?”

But you said…”

Hell! Aku tidak menyangka akan mengatakan ini tapi..  aku tidak bisa tidur tanpa kau di sampingku. Aku tidak bisa tidur tanpa merasakan tanganmu menyentuhku. Aku tidak bisa tidur tanpa mencium feromon tubuhmu. Dan intinya kau harus tidur di kamar, bersamaku, di atas tempat tidurku.”

Inhi  menaikkan sebelah alisnya dengan wajah terperangah menatapnya. Oh astaga, dia sendiri tidak mengerti kenapa justru membeberkan masalah ini pada Inhi. Akan lebih baik jika gadis itu tidak mengetahuinya karena.. ini memalukan.

Chanyeol masih cukup bersyukur karena tidak mengatakan kalau dia juga ingin Inhi berada di atas tempat tidurnya tanpa busana, rambut berserakan di bantal, berkeringat, bergairah. Dia yakin Inhi akan segera lari darinya jika dia mengatakan hal itu sekarang juga. Bukan berarti dia mencintai inhi karena nafsu. Sejujurnya dia menginginkan itu, setelah status mereka resmi di mata hukum dan Tuhan. Sepertinya sebagian besar laki-laki juga menginginkan hal yang sama dari wanita yang dicintainya. Kecuali laki-laki gay karena seumur hidup dia tidak tahu apa yang berada di pikiran mereka. Wanita itu indah, tapi mereka justru lebih memilih yang berjenis sama. Tidakkah itu aneh? Biarlah dia bersabar sedikit lebih lama karena hal ini pasti akan jadi kejutan nanti.

***

I’m sorry for this part T.T~ sepertinya gadapet feel pas mereka berantem. Aku bener-bener gatau gimana bikin mereka berantem karena mereka cocoknya unyu-unyuan. Iya ga? :p jangan bosen ya :””””) kalau ada yang mau nanya soal couple ini boleh, tar aku jawab. Kalo mau di twitter juga boleh, dengan senang hati~~ tapi sepertinya gada yang ngebingungin ._.

46 pemikiran pada “Yours, Only Me (Chapter 5: FAT!)

  1. baru pertama ini mereka berantem sejak tinggal bersama 😀
    menurut ku feelnya lumayan dapet saat mereka berantem, tapi jujur emg ga pke BANGET si 😀 haha

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s