Loving You Like Crazy (Chapter 6)

Loving You Like Crazy [Part. 6]

Title: Loving You Like Crazy [Part. 6]

Author: nune

Main Cast: -Park Chanyeol

-Baek Jisun

-Kai

Length: Multichapter

Genre: Drama, Romance

Ratting: PG-15

Backsound: Lenna Park – My Everything

*****

BUGH!!

Seketika itu Chanyeol tersungkur ke tanah, seseorang tiba-tiba melayangkan bogem mentah ke sudut bibirnya. Chanyeol mendongakan kepalanya ke atas, dan sedikit terhentak saat melihat Kai melangkah menghampirinya.

“…K..Kai?” desis Chanyeol.

Ya, Kai lah orang yang menonjok Chanyeol barusan.

“Berani-beraninya setelah banyak memberikan Jisun penderitaan, kau malah ingin menikahinya. Dimana harga dirimu, eoh?” Kai menatap tajam kearah Chanyeol yang tersungkur dibawah. Kai tidak sengaja melihat Chanyeol dan Taeyeon tengah berdebat di café tadi, ia menguping pembicaraan mereka.

Kai dan Chanyeol terdiam sesaat, hanya haluan nafas berat merekalah yang saat ini terdengar.

“Ayo terus caci maki aku! Terus pukul aku! Tapi aku mohon izinkan aku untuk menikahinya!”

Tanpa banyak kata, Kai segera menindih Chanyeol dan terus memukul wajahnya tanpa henti, namun Chanyeol sama sekali tak menghindar ataupun melawan. Dia sadar, ini semua memang salahnya. Chanyeol memang sangat bodoh, ia baru menyadari betapa berartinya gadis itu untuknya. Biarlah pukulan dari Kai ini yang membalas semua kebodohannya.

“AAARRKGHHH…” Kai mengerang frustasi, ia menggaruk kepalanya gusar. Chanyeol sudah terlihat cukup babak belur dibuatnya. Kai pun bangkit.

“Dengar, ya! Ini semua belum cukup untuk membayar semua penderitaan yang Jisun tanggung!” Kai mencoba mengatur nafasnya, mencoba menetralkan emosi yang memuncah dikepalanya.

“Cuih” Chanyeol membuang darah yang terkumpul bersama ludahnya. Chanyeol terengah-engah, iapun mulai menetralkan haluan nafasnya.

“Sudah cukup? Kau sudah mengizinkanku? Ayo pukul aku lagi sampai kau puas!” teriak Chanyeol pada Kai. Kai hanya menatap Chanyeol iba, wajahnya terlalu babak belur! Ternyata Kai melakukannya diluar kendali. Sial!

Kai melangkah pelan meninggalkan Chanyeol yang terduduk disana.

Chanyeol merangkak menggapai kaki Kai yang sedikit mulai menjauh. Chanyeol menarik ujung jeans Kai, hingga Kai berbalik dan menghentikan langkahnya.

“Aku sangat mencintainya. Tolong izinkan aku hidup bersamanya, aku mohon~” mata tajam Kai perlahan melembut setelah mendengar tuturan tulus dari seorang namja yang berlutut dihadapannya ini.

Perlahan air mata itu turun melewati pipi Chanyeol, membuat sungai kecil disana. “Aku tahu, dia tak bisa mengingatku. Saat mengetahui itu, hatiku sangat hancur! Duniaku serasa mau runtuh! Aku tidak bisa seperti ini terus, Kai~”

Kai terkekeh “Bagaimana rasanya? Sakit bukan? Menahan penyesalan sendirian amatlah menyakitkan, bukan?”

Isakan isakan kecil yang Chanyeol keluarkan membuat hati Kai tergoyah juga. Kai bisa melihat semua guratan penyesalan didasar mata Chanyeol. Semuanya sudah terjawab.

*****

3 Minggu Kemudian…

“Ck kau licik sekali. Aku saja yang sudah berumur 29 tahun belum menikah menikah juga.” keluh Baek Eunjo, adik dari Baek Seungjo.

Jisun menatap sinis paman-nya yang paling menyebalkan itu lewat pantulan cermin.

“Protes sana pada hyung-mu! Mengapa harus aku, sih?! Aturan samchun (paman) saja yang dijodohkan seperti ini! Aish.” Jisun menghentak hentakan High Heels putihnya dan duduk disebelah paman-nya.

Jisun merasa kesulitan bergerak, karena gaun pernikahan yang ia pakai ini terlalu rumit!

“Bukankah ini semua yang kau inginkan eoh?” tanya Baek Eunjo sambil sesekali merapihkan setangkai bunga yang tersampir disaku jas-nya. Jisun terdiam tak mengerti akan apa yang dibicarakan samchun-nya ini.

“..m..mwo?”

Baek Eunjo menjitak kepala keponakan tersayangnya itu dengan pelan, namun tataan rambut Jisun jadi sedikit berantakan padahal membuat rambut Jisun seperti ini membutuhkan waktu tiga jam. Jisun meringis dan menatap paman-nya itu garang.

“Siapa tahu setelah aku menjitakmu seperti ini, otakmu jadi pulih kembali~” Baek Eunjo terkekeh. Bukankah semua ini adalah hal yang paling kau inginkan, Jisunie? Menikahi Park Chanyeol? Ujar Baek Eunjo dalam hati.

Jisun menghela nafas beratnya, hidupnya terputar dari awal lagi. Tapi bukankah ia sedang menjalin hubungan special dengan Kai? Tapi baginya Kai bukanlah alasan yang utama untuk ia menolak perjodohan ini. Mengapa Jisun rasanya sudah terbiasa hidup tanpa namja itu? Bagaimana bisa?

*****

“Bahagia eoh?” seru Kai seraya berjalan menghampiri Chanyeol yang duduk tergugup disana. Chanyeol yang mendengar seruan itu segera bangkit menghadap Kai, Chanyeol terlihat sangat tampan dengan Tuxedo berwarna silver itu, bak pangeran di negeri dongeng. Kurang lebih satu jam lagi resepsi pernikahan akan dimulai.

“Aku akan menjaganya.” Ujar Chanyeol dengan penuh penegasan.

Kai tertawa renyah “ckck aku baru tahu jika selera Jisun sangat buruk sekali.”

Chanyeol menelan saliva-nya, kata kata dari bocah nakal ini memang tak pantas untuk diambil hati. Kai berhenti bergurau dan mulai serius dengan apa yang akan ia katakan

“Buatlah Jisun bahagia. Kau akan tahu apa yang terjadi jika kau membuatnya menangis walaupun sedikit.”

“Aku tahu.” Jawab Chanyeol akhirnya. Lalu merekapun saling berjabat tangan, saling melempar senyum satu sama lain.

Resepsi pernikahanpun akhirnya dimulai. Ratusan pasang mata menjadi saksi atas janji suci mereka berdua. Tidak sedikit juga para wartawan yang meliput mereka. Memang sih mereka bukan selebritis, tapi bakal lain cerita jika yang menikah kali ini adalah putri dari dokter terbaik di korea.

Jisun tidak bisa membendung lagi air matanya saat ia melihat kedua orang tua-nya tersenyum bahagia dan bangga. Jika ini yang sangat mereka inginkan, Jisun akan berusaha menghadapinya dan belajar untuk hidup bersama Chanyeol. Ya, Jisun akan berusaha menganggap semua ini adalah takdir yang sudah Tuhan tuliskan untuknya.

Mereka sudah resmi menjadi suami-istri, namun mereka masih sangat gugup saat sang pendeta meminta mereka untuk melakukan ciuman secara kudus. Chanyeol hanya mencium kening Jisun singkat. Chanyeol takut jika jiwa dan raganya tidak terkendalikan secara normal. Dan Chanyeol akan mengingat hari ini selamanya, karena ini adalah hari terindahnya.

Pada pertengahan resepsi, sepasang pengantin baru itu berjalan menyambut tamu-tamu yang ada.

“Jisun-ah chukhae!!” Yeonhwa memeluk Jisun erat.

“chukhae!” sambar Kai. Jisun mendadak gugup, ia tidak berani menatap Kai. Ia takut jika Kai tersakiti karena pilihannya ini. Tapi Kai terlihat baik baik saja seperti biasa. Ada apa?

“Sekarang aku percaya, karma memang benar adanya.” sindir Yeonhwa sambil mendelik sinis kearah Chanyeol. Jika Chanyeol belum berjanji pada Kai untuk tidak menyakitinya lagi, mungkin Yeonhwa akan mempengaruhi Jisun habis-habisan agar ia membatalkan pernikahan ini. Yeonhwa sudah kelewat kesal pada Chanyeol.

“mwo? Siapa yang kena karma?” tanya Jisun dengan polosnya

“Aku.” Seru Chanyeol dengan datar.

“Kalian diminta untuk foto bersama keluarga besar Baek dan Park, silahkan kearah sana^^” titah salah seorang Photographer yang tiba-tiba menghampiri mereka. Baru saja Jisun ingin bertanya apa maksud Chanyeol, tapi perkataannya sudah lebih dulu disela.

*****

Acara pernikahan akhirnya selesai, setelah Jisun dan Chanyeol mengganti pakaian mereka dengan baju santai, mereka diantar menuju Apartment milik mereka pribadi, –hadiah pernikahan dari orang tua Chanyeol–. Haluan nafas keduanya membuat si supir selalu mendelik ke arah sepion dalam. Mungkin dia bingung, ternyata ada juga sepasang suami istri yang sangat terlihat canggung.

“Kita mau kemana? Ini bukan jalan pulang kerumahku!” ujar Jisun panik saat pak supir membelok ke berlawanan arah.

“ke Apartment kita.”

Jisun terbelalak kaget. Itu artinya mereka akan tidur bersama, kan? Ditambah lagi seharusnya malam ini memang malam pertama mereka! Jisun kelewat panik, apa yang harus ia lakukan disana?

“Aku ingin pulang! Ahjussi, tolong putar balik!!” titah Jisun dengan ketus kepada pak supir

“Hajimayo Ahjussi.” Seka Chanyeol dengan datar. Jisun menatap tak suka pada Chanyeol yang duduk disebelahnya.

“Aish dasar menyebalkan! Aku akan meminta aboeji untuk menjemputku nanti!” umpat Jisun dengan kesal. Chanyeol menghela nafasnya dengan pelan, terlihat dengan jelas bahwa Jisun hanya terpaksa menikahinya. Cintanya bertepuk sebelah tangan, Chanyeol hanya bisa tertawa garing diatas karma yang ia terima.

Chanyeol berdecak saat mengetahui bahwa pak supir tetap memperhatikan mereka lewat sepion dalam.

“Jangan bercanda! Ikuti perintahku, atau aku akan menurunkanmu disini!”

Tanpa sadar kata kasar itu keluar dari mulut Chanyeol, membuat Jisun ingin menangis sekarang juga. Apa jadinya jika ia memberikan sisa hidupnya pada namja seperti ini? Jisun paling tak kuat dengan namja yang dingin dan sering melontarkan perkataan menyakitkan seperti dia.

Tapi yang seharusnya berhenti bercanda itu kau, Park Chanyeol! Kau takkan tega menurunkan Jisun-mu di jalan seperti ini, karena gadis itu sangatlah berharga bagimu.

*****

Mereka akhirnya sampai di Apartment. Jisun memutar kepalanya agar otot-otot lehernya bisa merenggang, hari ini sangat melelahkan sekali, ditambah lagi mood –nya sedang sangat buruk. Dan Chanyeol mengetahui itu.

Ia ingin sekali meminta maaf atas perkataannya tadi, namun mulutnya malah membisu. Saat berbicara atau bertatapan dengan gadis itu, ia jadi tak terkendali, jantung Chanyeol berdetak 2x lipat lebih cepat dari biasanya, maka kata kata yang tak diinginkan pun terlontar.

Jisun tidak mau berbicara ataupun berdekatan dengan Chanyeol, karena ia masih marah atas apa yang Chanyeol katakan saat di mobil tadi. Jisun menyeret kakinya menuju pintu berkayu jati disebrang sana, yang ia tebak itu adalah kamar tidur. Chanyeol pun mengikutinya dari belakang.

Jisun terbelalak takjub saat ia berhasil membuka pintu berkayu jati itu. Lilin-lilin berwarna yang tersusun rapih itu membantu bulan untuk menerangi malam lewat jendela yang terbuka, wewangian penenang jiwa menyeruak masuk kedalam indera penciuman Jisun, terdapat juga puluhan kelopak bunga mawar merah yang tersusun membentuk hati diatas tempat tidur empuk itu.

“Kau suka?” fantasi Jisun seakan membuyar saat ia menyadari bahwa Chanyeol sedang berdiri dibelakangnya. Ia pun memasang wajah dingin-nya lagi.

“Berisik! Aku mau tidur!” Jisun segera naik ke atas tempat tidur dan mengibaskan selimut yang berada diatas kasur itu dengan kasar, sehingga kelopak mawar merah berbentuk hati itu berserakan dibawah lantai.

Chanyeol menghela nafasnya~ Semuanya hancur… Padahal ia menghabiskan waktu luangnya selama 12 jam hanya untuk membuat ini semua.

Setelah selesai mandi, Chanyeol menghampiri tempat tidur yang ditiduri Jisun sambil mengusap rambutnya yang basah. Walaupun seluruh tubuh Jisun tertutupi oleh selimut, Chanyeol tahu bahwa gadisnya ini belum tidur, masih ada gerakan-gerakan resah yang terlihat.

Chanyeol membaringkan tubuhnya tepat disebelah Jisun, membuat jantung Jisun seakan ingin lompat sekarang juga. Ia pun bangkit, berniat untuk tidur di sofa depan.

GREP…

Chanyeol menggapai pergelangan tangan Jisun lalu menariknya. Tubuh mungilnya terlempar kembali ke permukaan tempat tidur, Chanyeol mendekapnya sebelum ia memberontak.

“Lepaskan! Nghhh” Jisun meronta agar ia melepaskan dekapannya. Chanyeol semakin mendekap Jisun lebih erat, ia menjepit kaki Jisun dengan kakinya sehingga gadis itu tidak dapat berkutik.

“Lepaskan! Atau aku akan berteriak agar semua orang menyebutmu maniak!” ancam Jisun, Chanyeol malah terkekeh tak peduli.

“Lakukan saja jika kau ingin ditertawakan mereka karena menyebutku seorang maniak. Aku sudah resmi jadi suamimu, bodoh!”

Jisun mencelos. Lalu apa yang harus ia lakukan? Jisun hanya terus mencoba untuk melepaskan dekapan Chanyeol sebisanya.

“Tidurlah. Atau aku akan melakukan hal yang lebih dari ini jika kau terus terusan memberontak.” Ujar Chanyeol pelan.

Jisun menelan salivanya karena ini baru pertama kalinya ia tidur seranjang dengan namja, ditambah lagi aroma shampoo yang belum lepas dari tubuh namja itu membuat fikiran rasionalnya terbius, membuat ia nyaman berada didekapan namja ini.

“Kau masih ingat taruhan yang kita buat, hem?” tanya Chanyeol. Jisun terdiam, tanda mengiyakan.

“Tentu aku ingat. Tapi untuk apa kau menikahiku segala? Cih, aku jadi terlihat murahan sekali.” Gumam Jisun yang jelas terdengar oleh Chanyeol.

Bukan itu saja, Park Jisun. Aku menikahimu jelas karena aku mencintaimu, sangat! Chanyeol membatin.

“Aku menikahimu karena suruhan ibuku juga, dia sangat menyukaimu lebih dari siapapun!”

Kalian bisa lihat? Park Chanyeol tetap bersikap munafik dari awal sampai akhir. Begitu bodohnya…

Nafas hangat Jisun berhembus melewati permukaan lehernya, membuat angin indah musim semi menyapu habis fikiran normalnya. Gila! Dia rasa dirinya sudah gila!

Jisun mulai menguap. “Hoaam… Dengar, ya! ditaruhan itu pasti aku pemenangnya!” gurau Jisun.

“Benarkah? Bagaimana jika aku pemenangnya? Aku bisa meminta apa saja padamu, kan? Kau ingat persetujuan kita itu, kan? Jangan terlalu yakin sebelum kau membaca semua diary-mu tentangku yang ada dikolong tempat tidur itu! Diakhir tulisan kau selalu berdoa dan meminta kepada Tuhan agar aku menjadi suamimu kelak, dan hey! Aku sudah menjadi suamimu sekarang. Kau selalu mengintaiku dan membuat semua gadis yang mendekatiku kapok. Kau berkali-kali mengatakan cinta padaku, tapi selalu aku tolak. Kau selalu menyimpan benda benda kecil pemberianku tanpa memberi izin orang lain untuk menyentuhnya. Kau selalu mencari perhatianku tapi aku terus mengabaikanmu. Kau mencintaiku! Selamanya pun akan begitu! Kau masih menyangkal bahwa kau tidak mencitaiku, eoh? Park Jisun?” Chanyeol menahan nafasnya, ia sangat grogi atas apa jawaban yang akan Jisun katakan. Dengan segumpal nyali ia sudah berusaha mengungkapkan semuanya.

Tak lama terdengarlah dengkuran yang membuat Chanyeol mendengus sebal. Ternyata Jisun sudah tertidur?! Sejak kapan? Sejak Chanyeol mengatakan bagian yang mana? Hufft Mungkin ini bukan saat yang tepat untuk meyakinkannya.

“Dasar bodoh. Selalu seperti ini disaat aku ingin bicara serius padamu.” Chanyeol merenggangkan dekapannya untuk menatap wajah damai gadisnya ini.

Chanyeol sadar bahwa pada Jisun lah hatinya tertuju~ Jisun lah orang pertama yang ingin Chanyeol ajak bicara saat ia membuka mata dipagi hari, dan orang yang terakhir yang ingin Chanyeol lihat sebelum ia memejamkan matanya kembali.

*****

“Bagaimana tadi malam? Kalian sudah melakukannya?”

“Uhuukk.. Uhuuuk…” hampir saja makanan yang sedang Jisun kunyah muncrat semua. Ia segera mengambil segelas air yang berada didekatnya. Jisun sangat kaget atas apa yang ditanyakan oleh Park Gyuwoo, mertuanya. Tadi pagi Jisun menerima panggilan bahwa orang tua Chanyeol meminta mereka untuk datang kesini.

“Pertamanya memang sakit, Jisunie. Tapi kau nikmati saja, ne?!” sambar ibu Chanyeol. Jisun hanya bisa tersenyum masam, sedangkan Chanyeol yang duduk disebelahnya hanya menyantap hidangan tanpa membuka suara. Tolong bantu aku bicara… aish menyebalkan sekali kau Park Chanyeol! rutuk Jisun dalam hati.

Setelah membicarakan ini Jisun jadi tidak ada selera makan lagi.

Setelah jamuan makan siang selesai, Jisun memutuskan untuk mencuci piring kotor didapur, sedangkan kedua mertuanya sedang bercengkrama di ruang tamu. Melihat keharmonisan keluarga besar ini membuat hati Jisun menghangat. Tidak disangka bahwa mertuanya itu berlaku sangat baik padanya walaupun Jisun sama sekali tak mengingat mereka.

Setelah itu ia memutuskan untuk berkeliling di rumah mertuanya ini. Jisun merasa tertarik pada beberapa bingkai berkaca yang tertempel di tembok dekat tangga sana. Uniknya didalam bingkai itu, hanya terisi oleh sobekan Headline Koran dengan topik yang sama.

‘Seorang Dokter Terjenius Korea Telah Menemukan Penemuan Emasnya!’

“mwo?! Tunggu dulu.” Jisun mengernyitkan alisnya sesudah ia membaca topik yang tertera pada sobekan kertas tersebut. Lalu ia membaca dengan teliti artikel yang tertulis dibawahnya.

“Aboeji? Park Gyuwoo? Ayah Chanyeol?” Jisun tampak berfikir keras. Kesimpulan berita itu adalah ayahnya menciptakan serum yang sangat penting untuk Park Gyuwoo, ayah Chanyeol. Ada apa dibalik semua ini? Posisinya disini bagaikan seorang detektif yang mencari asal usul masa lalu-nya yang tersembunyi…

“Arkgh! Aku pusing!!! Akan aku tanyakan pada Chanyeol nanti.”

*****

“Yak! Apa kau tahu apa hubungan antara orang tuamu dengan orang tuaku?”

Chanyeol hanya terus fokus mengemudi tanpa memberikan sedikit perhatiannya pada Jisun. Sejak tadi ia memang merasa kalau Jisun sedang banyak fikiran, ia terus melamun selama diperjalanan ini. Baru sekarang Jisun mulai buka bicara.

“Yak! Taettaphaebwa! (jawab aku)” ujar Jisun lagi dengan nada yang lebih tinggi.

Ting! Lampu merah. Chanyeol-pun perlahan menghentikan lajuan mobilnya, menunggu lampu hijau menyala lagi.

“Aku sedang menyetir, bodoh! Apa tadi?” jawab Chanyeol akhirnya sambil menyandarkan punggungnya kebelakang.

“Apa hubungan orang tua ku dengan orang tua mu, Chanyeol-ssi??” Jisun mengulang pertanyaannya itu dengan sabar.

Chanyeol menatap Jisun dalam. Pertanyaan inikah yang membuat Jisun melamun sejak tadi? Kesempatan Jisun untuk mengingat kenangan dua tahun terakhirnya selalu ada, namun Chanyeol hanya punya waktu dua bulan lagi untuk membuktikan semuanya pada gadis ini. Bagaimana?

“Panggil aku ‘oppa’ dulu baru aku ceritakan semuanya padamu.”

“SHIREO!” pekik Jisun. Chanyeol segera melepaskan sabuk pengamannya dan mendekatkan wajahnya pada gadis itu, Jisun spontan menghindar namun punggungnya mentok menghimpit pintu samping. Sial! Gadis itu tidak bisa berkutik lagi! Jarak mereka dekat sekali!

“’oppa~’,’Chanyeol oppa’ hanya itu.”

Perkataan lembut darinya membuat Jisun tidak bisa berbuat banyak. Ia hanya menatap Chanyeol dengan mata bulatnya –tatapan yang sulit diartikan-. Jantung Jisun berdetak tak beraturan setiap kali Chanyeol memberinya tatapan seperti ini.

“Oppa… Chanyeol opp– hmmpp”

Chanyeol menciumnya! Bibir mereka bertemu, Chanyeol menyentuh tenguk Jisun agar ia bisa menciumi gadis itu lebih dalam. Kepala Chanyeol bergerak-gerak seakan lebih mudah bibirnya menyapu bibir mungil gadis itu. Jisun ingin sekali mendorongnya namun hatinya berteriak Jangan! Hatinya menyuruhnya untuk menikmati semua yang ada seakan-akan inilah kesempatan yang Jisun impikan! Jisun memejamkan matanya.

Chanyeol hanya kelewat senang saat kata ‘oppa’ terlontar dari bibir gadis itu. Ia sudah sangat rindu dengan panggilan spesialnya ini, dan sekarang Chanyeol sudah mendapatkannya kembali.

Seakan kembang api membuncah direlung hatinya ketika Jisun tidak menolak bahkan ia mencoba mengikuti gerak permainan bibir Chanyeol. Namja itu menuntun kedua lengan Jisun untuk melingkar dilehernya. Merekapun melakukannya dengan lembut, manis dan penuh kasih sayang.

TIIIN!! TIIIIN!! TIIIN!!

Mereka sontak menjauhkan wajah mereka masing-masing ketika mendengar sautan bunyi klakson yang berlomba-lomba dibelakang. Sial! Bahkan Chanyeol tidak menyadari bahwa lampu hijau sudah kembali menyala.

~To Be Continued~

Eaaaa awas readers mimisan hahaha…. Part ini nune sengajain agak dipanjangin. Jisun dan Chanyeol ngerasain Lovey-dovey gitu lol. di Part selanjutnya nune bakalan ngadain konflik lagi. Gimana nih komentar kalian akan part yang satu ini? 😀  Leave your comment ok! ^^ see you again~

Iklan

77 pemikiran pada “Loving You Like Crazy (Chapter 6)

  1. kyaaaa…akhrnya mrk nikah juga… \^^/ sayang jisun lg ilang ingatan,kl gk pst jingkrak2 gk karuan kl tau akhrnya chanyeol jd suaminya… 😀
    konflik lg???andwee…biarin mrk ngerasain buln madu dlu…#hihi mesum :p#

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s