Cherry Blossom (Chapter 1)

Title: Cherry Blossom

Author: chabaronim

Cast:

  • Zhang Lin (OC)
  • Wu Yi Fan
  • Xi Lu Han [as Wu Lu Han]
  • Zhang Yixing
  • Kim Chen , other

Genre: Fantasy

Rating: PG-13

Length: Chapter

chapter 1 (1)

No plagiarize.

Thanks for admin have been posted this fanfict. And my friend cha,ren, and channim. They helped me choose storyline, you’re my everything. Kk~ enjoy guys.

Reply, Comment and like, please.

Bunga bunga merekah. Burung burung berkicauan bernyanyi merdu. Tentu saja itu semua untuk menyambut datangnya sang mentari dari ufuk timur yang menghangatkan seluruh insan di wilayah itu. Es es yang mencair, kini berganti dengan kilauan indah yang memancar dari pantulan pantulan warna pelangi hasil genangan air.

Saat itu, seorang anak manusia sedang teduduk, menunduk dan membisu.

Tidak, anak itu tidak sedang bersedih.

Gadis itu, Ia membuka buku tebalnya. Ia menggoreskan coretan coretan pena pada buku lusuh dan kotor yang telah menemaninya selama lebih dari 15 tahun.

Menulis.

Ya, ia mencurahkan segalanya, penat yang ada di benaknya. Tanpa celah sedikit pun. Ia tak hentinya menggores goreskan susunan kata kata indah.

Tak ada niat sama sekali untuk mendekati kelompok manusia yang letaknya tak jauh darinya. Walau mungkin hanya untuk bersenda gurau, ataupun bertegur sapa. Tak ada waktu untuk itu.

Tak ada yang tau apa yang sedang ditulis gadis itu.

Tak ada. Bahkan, bagi keluarga yang tak dapat diandalkannya. Mungkin, menurutnya keluarga adalah omong kosong dan lebih baik ia tak tercipta di dunia.

Ia begitu menyedihkan. Dengan segala yang ia miliki. Orang tua yang sangat menyayanginya dan harta yang bekelimpangan. Ia menyia nyiakan semuanya.

Baginya, dunia ini penuh kemunafikan. Ia benci kehidupannya.

Tak seperti gadis gadis seumurannya yang sibuk mencari kebebasan hidup, ia hanya menulis, menulis dan menulis.

Ia gadis termasuk gadis beruntung dari kalangan kalangan konglomerat saat itu.

Orang tuanya masih sedikit memperhatikannya. Sedikit, daripada tidak sama sekali.

 

#Zhang Lin POV#

Musim semi pertama,

Hari dimana keluargaku biasa melakukan tradisi tahunan mereka, berkumpul bersama. Appa, eomma, dan oppaku.

Appa dan eomma sengaja cuti hanya untuk hari ini.

Entah mengapa mereka membuat hari ini sangat istimewa.

‘Mereka’ bukan aku.

Yang benar saja, bahkan saat acara pesta ulang tahunku mereka tak kunjung hadir.

Tapi, ya sudahlah. Bukankah itu sudah berlalu? Mereka tidak memikirkanku untuk apa aku memikirkannya. Benarkan?

“Lin-ah!” Panggil oppaku mendekat ke arahku.

“Ne oppa?” Aku menengadahkan wajahku menghentikan goresan tinta yang kubuat.

“Berhentilah menulis sekali saja, aku butuh objek potret untuk majalah kampus minggu ini, topiknya musim semi.” Ia duduk di sebelahku, sambil mengatur efek dan perbesaran kamera yang sekarang ada di genggamannya.

“Lalu?” Aku meliriknya, menaikkan sebelah alis mataku.

“Jadilah objek fotoku.” Oppaku memperkecil jarak diantara kami sambil menatapku penuh harap.

“Jebal…” Mohonnya.

“Aish. Arraseo, eodi?” Aku menutup buku tebalku, dan menolehkan mataku, menatapnya penuh.

“Bawah pohon sakura, arrachi?” Jawabnya sambil kembali mengatur perbesaran kameranya.

“Mwo?! Kau tau sendiri aku benci pohon sakura.”

“Ayolah, kali ini saja, demi kampus kita. Aku janji, liburan musim panas aku akan mengajakmu berlibur ke Jeju.”

“Aku tau oppa. Geundae, kenapa harus pohon sakura?” Aku menatapnya sebal.

“Kau tau ini musim semi kan? Kau pikir aku akan memotret mu di bawah pohon mapple? Kau tau seberapa indahnya pohon sakura itu? menggambarkan ketenangan hati seorang wanita ah tidak, ini berlaku bagi pria juga dengan warna merah muda yang bersinar ia membuat orang yang melihatnya tersenyum apalagi yang jadi modelku adalah kau. Kau jarang terlihat senyum di kampus, bayangkan saja ekspresi mereka semua saat melihatmu tersenyum.”

Bullshit. Kajja, sekarang atau tidak sama sekali.”

***

“Fokuskan pandanganmu pada sakura yang berguguran! Kau ini objek foto! Dan senyummu, perhatikan senyummu! Terlihatlah natural!”

Oppaku meneriakiku dari balik lensa kamera.

“Ne, ne, arasseo.” Aku menjawabnya terpaksa.

Benda berwarna merah jambu itu, entah mengapa aku sangat membencinya.

Dan sekarang, aku diharuskan menatap benda menjijikan itu. Me-nye-bal-kan.

Satu-dua-tiga. Bukankah  ada yang aneh dari bunga itu?

Aku berjalan mendekat ke arah bunga itu, mengambil bunga itu, mengamati setiap inci benda tersebut.

“apa yang aneh?” aku kembali meneliti tiap tiap bagian pada bunga itu.

Srinnngggg…

Brak!

“Awww!” Ah, apa yang tadi itu?

“Auch, neomu appeuda~iks. Oppa~ appeu~ ” aku memegangi lututku yang tergores batu.

“Mama!!!” Ahjumma yang tak jauh dariku berlari mendekatiku, membantukku untuk berdiri.

“Gomapseumnida” lirihku, Ia menopang lenganku di pundaknya.

Ia embawaku ke salah satu ruangan,

Ia membuka hanbok panjangku.

Tunggu,

Hanbok? Sejak kapan?

Ia menempelkan beberapa tumbukkan daun di lututku.

Mungkin saja itu obat herbal.

Ah, mungkin tadi aku salah mengenakan pakaian.

“Zhang Lin Mama, Putra mahkota mencarimu, dan satu lagi sudah kubilang, memanjat pohon sakura itu berbahaya. Sudah kubilang, di luar istana itu berbahaya, Mama. Jangan suka memandang ke luar istana, itu akan membuatmu semakin ingin lepas dari istana. ” Ujarnya panjang sambil tetap menopangku.

“Memanjat? Putra Mahkota? Istana?”

Ahjumma ini berkata apa?

“Ne, Luhan Mama ingin bertemu Anda, Ia menunggu di taman belakang bersama ibu suri.”

Luhan? Nugu?

“Luhan?” Tanyaku.

“Ne Mama”

Ahjumma ini tak berhenti memanggilku Mama,  yang benar saja.

Bukankah di korea Mama adalah panggilan kehormatan bagi seorang yang memiliki hubungan dengan pemegang tahta kerajaan beratus ratus tahun yang lalu?

Apakah wajahku menampakkan wajah seorang putri mahkota?

***

“Eommaaaa!!!!” Seorang anak kecil berumur tak lebih dari 5 tahun memeluk kakiku, aku hanya berdiam menatapnya bingung.

“Zhang Lin!” Aku mengerutkan dahiku, siapa lagi ahjumma ini? Ia memakai pakaian semacam hanbok, tapi mengapa yang ini terlihat lebih aneh? Seperti memerlukan beberapa orang hanya untuk memasangkan setiap komponen detail pada pakaiannya.

Tunggu, a-aku juga memakai pakaian yang sama?

Bahkan aku terlihat lebih menjijikan. Oh God! Apa lagi ini?

“Ne?”

“Tak bisakah kau jangan meninggalkan Luhan sendirian? itukah yang kau sebut eomma yang baik? Tak semua pelayan disini dapat mengawasi Putra Mahkota. Kau tau? Tadi Luhan hampir saja keluar gerbang utama Istana, di luar kawasan istana sangatlah berbahaya. Jika kau tak menjaga Putra Mahkota dengan baik, tak segan segan aku akan membuangmu dari bilik permaisurimu.” Omel ahjumma ini tanpa cela sedikitpun.

“Mianhae, ibu suri. Salah kami, kami terlalu fokus mengawasi Zhang Lin Mama daripada mengawasi Putra Mahkota, Zhang Lin Mama telah memerintahkan kami menjaga Putra Mahkota, tetapi kami telah lalai, mianhae.” Ahjumma yang menopangku tadi berlutut di hadapan ahjumma yang membawa seorang bocah bernama Luhan itu.

“Sudahlah Dong-il, jangan membela anak itu. Jja, ikut aku. Aku rasa anak itu butuh berbicara empat mata antara eomma dan anak.” Ahjumma itu menyuruh ahjumma bernama Dong-Il itu untuk berdiri dan mengikutinya. Merekapun berlalu begitu saja dari hadapanku.

Aku semakin bingung dengan keadaanku sekarang.

Eottokhae?

Anak kecil ini terus memeluk kakiku.

Apa aku harus menggendong anak ini?

Apa aku harus menendangnya menjauh? Atau apa?

Eothokkae? Aigoooo!

“Eomma kemana saja?” Anak ini menatapku teduh.

Ahhhh kyeopta! Geundae, aku tak mengerti caranya menggendong anak anak. Ah baiklah, akan kucoba.

Aku merentangkan tanganku kedepan, mengangkat anak kecil itu lalu menggendongnya.

Ternyata mudah.

“Eomma, mereka melarangku keluar istana. Padahal aku ingin sekali keluar. Aku bosan eomma. Diluar banyak anak anak seumuranku, mereka bilang mereka sedang bermain kembang api merayakan musim semi pertama. Apa itu musim semi pertama eomma?” Bagaimana anak selucu ini bisa berkata secerewet ini, bahkan aku tak dapat menjawabnya. Aigoo.

“Di luar berbahaya aegi~” suara berat sontak mencuri perhatianku membuatku berbalik.

Seorang namja yang cukup tinggi dengan pakaian yang hampir sama rumitnya denganku berjalan mendekat. Aku mundur beberapa langkah menjauh.

“Kalian bisa pergi” ia memberikan tanda pada 2 pengawal disampingnya untuk kembali ke istana.

“Tak bisakah kau berhenti bersikap seperti itu kepadaku?” Ujarnya.

Aku semakin takut. Kenapa di dunia ini semakin aneh saja, siapa dia?

“Appa!!!” Anak ini hendak melompat dari dekapanku.

“Hati hati Luhan, kau tau kan, kau ini putra mahkota? Apa jadinya kerajaan jika terjadi apa apa padamu?” Ia dengan cekatan mengambil Luhan dari gendonganku.

Aku masih tak bergeming menatap kosong kedua orang aneh di depanku.

“Mianhae yi fan appa, luhan janji tak akan mengulanginya lagi. Saranghae appa.” Anak kecil itu kembali berceloteh riang sambil memeluk namja yang dipanggilnya appa itu.

“Ne, sekarang waktunya luhan belajar lagi. Luhan ingin menjadi kaisar yang bijaksana seperti appa, bukan?” Anak itu mengangguk semangat.

“Kembalilah ke bilikmu. Disini berbahaya.” Lirihnya lalu berlalu sambil menurunkan Luhan dari gendongannya, menggandengnya dan berjalan beriringan. Mereka pun menghilang entah memasuki ruangan yang mana.

Ahhhh, sekarang aku harus kembali ke bilikku. Bilik? Apa itu? Dan dimana?! Bangunan disini bentuknya sama semua. Terlihat seperti di Deoksugung yang bahkan aku hanya pernah melihatnya di internet.  Jinjjayo? Tak adakah yang bisa membantuku?

“Mama? Apa yang Anda lakukan disini?” Seorang namja yang memakai hanbok simple bertanya padaku sontak membuatku sedikit kaget.

“Ah! Kau mengagetkanku saja.”

“Mianhae Mama, ada yang bisa ku bantu?”

“antarkan aku ke bilikku.” Tanyaku dengan gaya gaya dingin seolah aku berkuasa  dan sudah lama mendiami tempat ini.

“Ne. Ikut aku.”

***

Aku membungkukan badanku 90 derajat, “Gomawo rrrr…”

“Chen, kim chen imnida.”

“Ah, gomawo Chen-ah.”

“Aniyeo, sudah tugasku, Mama” Ia menunduk, memundurkan langkah kakinya.

“Tak bisakah kalian berhenti memanggilku Mama? Kau tau aku belum terlihat… Nggg… Tua. Panggil saja Zhang Lin” Ujarku canggung, ya aku tau, di dunia seoulku, aku lahir di china. Dalam bahasa mandarin, aku sangat tau ‘Mama’ berarti ibu.

“Tapi Mama, bukankah itu tidak sopan? Aku takut kepala pengawalmu memarahiku.”

Ia menggaruk tengkuknya yang kurasa tidak gatal.

“Ah, tidak usah dipikirkan, dia bukan apa apa.”

“Arasseo, Zhang Lin….ah?” Ucapnya ragu.

“Ne,  begitu lebih baik. Kau boleh pergi sekarang.”

***

Sebenarnya aku masih asing dengan tempat ini. Aku butuh berkeliling sejenak. Ah, Aku bisa meminta tolong chen, bukan?

Ayolah, harusnya menjadi seorang permaisuri itu menyenangkan? Tapi apa yang aku dapat? Terkurung di ruangan ini.

aku ingin berjalan jalan sebentar. Tapi mereka pasti akan mengawasiku.

Lagipula pakaian ini sungguh menyebalkan. Apakah disini tidak ada yang memiliki pakaian yang normal normal saja?

Bahkan, aku harus berjalan beberapa ratus meter untuk ke bilik tempat mengganti pakaian. Benar benar membuang waktu. Aku akan pergi ke pasar dekat sini, mungkin ada beberapa pakaian normal disana.

***

“Mwo!? Apa kau yakin Zhang Lin-ah?” Chen yang sebelumnya duduk bersipu, sontak berdiri.

“Ne, pinjamkan aku satu saja, pakaian biasa, tidak lebih, dan topi tentu saja.” Aku menangkupkan kedua tanganku, memohon.

“Tapi Zhang Lin-ah disana berbahaya” chen kembali duduk dan menopang dagunya dengan tangan yang bertumpu di meja pendek biliknya.

“Asal tidak ada yang tau bahwa aku ada hubungannya dengan istana ini, aku akan aman.” Aku mencoba membujuk chen.

“Kau yakin?” Chen melirikku tak yakin.

“Ne.” Aku masih menangkupkan tanganku memohon.

“Kau tidak ingin ku kawal saja?” Ia menatapku.

“Aniya! Itu akan membuatku terancam.”

“Baiklah kalau itu maumu, aku akan mencoba bicara pada penjaga gerbang, kau bisa pergi lewat gerbang belakang.”

“Gomawo chen-ah! Neon jinjja daebak!” Aku mengacungkan jempolku dihadapannya.

***

Author POV

Gadis itu menanggalkan apapun yang dikenakannya. Meski sedikit merasa kesulitan, namun ia tak berhenti melepaskan satu persatu komponen kecil yang ada di pakaiannya.

Ia melirik sejenak tumpukan pakaian pria di atas meja pendeknya.

Ia meraih pakaian itu dan mengenakannya satu demi satu.

Ia menggulung rambutnya, ia menarik hairstick kerajaan yang ia letakkan tak jauh darinya. Ia menaikkan rambutnya, kemudian mengenakan topi sebagai sentuhan akhir.

Jadilah dia Jang Lin yang baru.

Ia berjalan mengendap endap, melewati satu demi satu bilik bilik yang ada di kawasan istana itu.

Ia membuka gerbang paling belakang di istana itu sedikit demi sedikit.

Ia menyelipkan tubuhnya yang kecil itu dan segera berlari.

Layaknya seorang ninja yang berhasil menjalankan misinya, iya tertawa lirih agar tidak terdengar oleh siapapun di dalam sana.

#Zhang Lin POV#

Tunggu, dimana letak pasar?

Bodohnya kau Zhang Lin!

Mungkin ada seseorang di sekitar sini.

Dengan kemeja lusuh dan celana sedikit kebesaran seperti ini, aku yakin mereka tidak akan mengenaliku.

apakah ini hutan?

Sama sekali tidak ada siapapun disini.

Brakk!

Aww!

Eh?. Kau baru disini beberapa jam dan kau sudah dua kali melukai kakimu Zhang Lin. Daebak!

“joesonghamnida, aku yang salah. Aku ceroboh.” aku segera berdiri dan membungkuk pada orang yang kutabrak tadi.

Dan lihatlah, ia membawa banyak kayu bakar dan aku membuatnya bertebaran. Aku harus membantunya. Ia tak menghiraukanku dan ia langsung membereskan kayu kayu yang baru saja tercecer.

Aku sontak membantu orang itu. Saat aku hendak memberikan tumpukan kayu itu, aku meneliti wajahnya sejenak. Sepertinya aku mengenalnya.

“Oppa!!!” Aku membulatkan mata merasa kenal dengan namja ini.

“Zhang Lin!!!” Teriak namja ini, matanya berkaca kaca.

Ia menjatuhkan kayu yang sedari tadi dikumpulkannya dan menarikku dalam pelukannya.

Sama persis seperti pelukan yang diberikan Zhang Yixing yang asli.

Ia melepas pelukannya, menangkupkan kedua telapak tangannya pada kedua pipiku.

“Ini benar kau? Benarkan?”.

Ia menatapku dalam, dan kembali memelukku.

“Ne, oppa. Bogoshippeuda.” Lirihku.

Benar, aku merindukan mereka. Mereka? Ya, oppaku dan keluargaku.

Bahkan aku rindu appa memarahiku.

“Kau harus ikut bersamaku. Akan kukenalkan kau dengan kakak iparmu. Dan kau harus menceritakan semuanya padaku bagaimana di istana.”

Ia kembali memungut kayu kayu yang tercecer di tanah dan berjalan di depanku.

Karna aku tidak tau apa apa, aku hanya berjalan mengikutinya dari belakang.

***

“Zhang Lin-ah, maafkan oppa tak dapat menjagamu. Sehingga kau berhasil dipaksa menjadi permaisuri oleh putra Mahkota. Ani, ia kaisar sekarang. Andai saja sewaktu dulu, kita mempunyai uang untuk pajak pada pemerintah. Kau tak mungkin seperti ini. Kau memaafkanku kan?”.

Ia memasang tampang lemas penuh kesedihan. Sungguh saat ini aku menahan tawa melihat wajahnya. Oppaku di Seoul tak pernah memasang tampang seperti itu. Dan lagi, kenapa namja ini meminta maaf? Bahkan aku sangat berterima kasih pada oppaku di zaman ini. Aku menjadi permaisuri dan tidak hidup menyedihkan seperti mereka. Haha. Kau jahat Zhang Lin.

Kau tau? kau sendiri menyedihkan Zhang Lin, hanya keluar istana saja harus memakai pakaian lusuh seperti ini. Paling tidak aku hidup lebih baik dari mereka.

“Ne, oppa. Gwaenchana.”

“Lalu apa saja yang kau lakukan disana? Apakah menyenangkan?” Kata unnie baruku yang keluar dari dapur membawa nampan berisi teh hijau.

“Mianhae, disini hanya ada ini saja, Mama.” Ia meletakkan satu persatu cangkir kuno itu di meja pendek tempat kami berbicara.

“Ah Jin Yi unnie tak usah begitu. Kau ini unnieku, panggil saja Zhang Lin.” Aku tersenyum manis padanya. Ia membalas senyumanku.

“Ah iya unn, disana sangatlah menyebalkan. Aku dilarang ini itu. Aku hanya berdiam diri. Aku kan bias menjaga diriku sendiri lebih baik dari mereka yang menjagaku” Jawabku sambil menyesap teh itu.

“Lalu bagaimana dengan Yi Fan Mama? Kudengar ia tampan” Ia menopangkan kedua tangannya pada dagunya.

“Tampan? Sedikit, mungkin. Tapi aku merasa aneh di dekatnya. Sedikit merasa takut. Entah mengapa.”

Aku kembali menyesap teh itu. Entah mengapa aku menyukai teh buatan unnieku ini.

“Ah, aku jadi penasaran. Ah iya, bukankah penduduk istana dilarang keluar istana?” Tanyanya lagi.

“Ya, aku hanya ingin pergi ke pasar unn, tetapi aku terlalu bodoh. Mereka terlalu lama mengurungku. Aku jadi lupa letak pasar disini.” alasanku konyol bukan? Baru berapa jam aku disini, mana mungkin aku tau letak pasar. haha.

“Pantas saja pakaianmu seperti itu. Kau bilang tadi ingin ke pasar?”

“Baru saja aku juga ingin ke pasar membeli kebutuhan sehari hari.  Tapi kau datang, jadi aku mengurungkan niatku. Bagaimana jika kau bersamaku saja?” Tawar Jin Yi unnie.

“Ide yang bagus, tapi un aku harus kembali ke istana sebelum senja.”

***

“Ppali ppaliwaa~ sebentar lagi senja.” Jin Yi unnie berjalan jauh di depanku.

Aku menyesal membeli pakaian sebanyak ini. Bagaimana aku bias kembali ke istana?

“Unnie changkaman!!!”

Jin Yi unnie berhenti dan berbalik.

“Aish jinjja! Aku melupakan sesuatu. Lobak! Ya! Lobak! Lin-ah, tak lama lagi hari akan senja,lihatlah matahari mulai turun. Kau pergi ke istanamu sendiri saja. Mianhamnida. Tak jauh dari sini jika kau lewat gerbang utama istana. Ikuti jalan dengan lampion merah di sebelah kanan.” Jin Yi unnie menepuk pundakku dan masuk ke dalam krumunan pasar itu lagi.

“Unnieee!!!”

Aku hendak mengejarnya.

Tapi disana terlalu ramai. Bisa bisa tanpa sengaja aku bertemu dayang dayang istana dan pengawalnya tentu saja.

Eotthokae? Arraseo, jalan dengan lampion merah di sebelah kanan.

Aku mengedarkan pandanganku. Aku menemukan jalan raya, sedikit besar memang, dengan lampion merah di sebelah kanan jalan. Kau memang pintar Zhang Lin!

#Author POV#

Gadis itu berjalan riang sedikit berlari menyusuri jalanan. Ia tak sadar bahwa hairsticknya tiba tiba meluncur begitu saja dari dekapan gulungan rambutnya, menggerai rambutnya yang indah panjang.

Klak.

“Apa ini?” Seseorang yang hendak memasukkan barang dagangannya ke dalam gerobak kecilnya menginjak sesuatu.

“Sumpit? Tapi disini ada logo kerajaan dan mengapa berbentuk bunga? Pasti seorang yeoja menjatuhkannya.” Ia mengedarkan pandangannya.

Ia menemukan sosok gadis bertopi abu abu dengan rambut hitam indah tergerai. Gadis itu berjalan dengan riangnya tanpa menyadari ada suatu yang hilang dari tubuhnya.

“Hey Nona! Kau menjatuhkan ini!”

Sosok itu mengedarkan pandangan sekelilingnya, memastikan barang dagangannya aman bila ditinggal. Ia mulai sedikit mengejar wanita itu.

“Nona!!! Changkaman!”

Gadis itu mulai memperbesar langkahnya. Gadis itu resah. Ia takut ia akan dibunuh oleh seseorang yang megenalinya.

“Nonaaa!!!” Suara itu semakin keras di telinganya.

Gadis itu melihat ke depan, sudah ada jejeran pohon sakura yang mirip dengan yang ada di dalam istana. Itu berarti, istana tak jauh dari sini.

Grep.

Seseorang meraih tangan Kanan nya, membuatnya hampir kehilangan keseimbangan.

Hampir? Ya. Seseorang itu terlebih dulu mendekapnya. Pandangan mereka bertemu.

Puk.

Sebuah bunga sakura mendarat indah di hidung sang gadis.

Gadis itu hanya mengarahkan pandangan benci ke arah bunga yang tepat berada di antara alisnya.

Sosok yang mendekapnya itu membuang jauh jauh jarak antara wajah mereka.

Gadis itu menutup mata, takut akan apa yang dilakukan oleh namja itu.

Sret.

Ia menyeret bunga kecil yang ada di dahi gadis itu menjauh.

“Aku benci sakura” lirih namja itu.

Bunga itu hilang dari antara alisnya.

Buk.

Gadis itu terjatuh begitu saja.

“Eh? Mianhae. Aku tak bermaksud.” Jelas namja itu.

“Gwaenchana.” Gadis itu menjawab sambil mencoba berdiri.

“Kau orang kerajaan?” Imbuh namja itu lagi.

“B-b-bbagaimana kk-kau bisa t-tt-tau?” Gadis itu menjadi salah tingkah, takut bila ia akan ketauan.

“Kau ceroboh nona, ini tadi terjatuh.” Namja itu mengangkat hairstick yang ditemukannya.

“Ah jinjja?” Gadis itu meraba rambutnya yang tergerai, memastikan apa benar itu miliknya.

“Ah iya. Gomawo.” Gadis itu mengambil hairsticknya dan memakaikannya kembali ke rambutnya. Tentu saja setelah ia melepas topinya.

“Kau orang istana? Bagian apa? Kenapa bisa keluar istana tanpa pengawalan?” tanyanya bertubi tubi.

“Ah, eh-Ani. Aku hanya budak biasa. Bagian membuang sampah dari dalam istana untuk kubawa keluar istana.”

“Eh? Benarkah? Ada bagian seperti itu?”

“Ne, kau liat kan? Pakaianku kotor dan lusuh.”

“Pasti seru sekali di dalam istana? Sejak kecil aku bercita cita bekerja di istana.”

“Jinjja?”

“Ne. apapun bagiannya aku suka”

“Geundae, gerbang utama istana akan ditutup saat senja.aku harus kembali. Mungkin, aku bias membantumu.” Aku tersenyum.

“Arraseo, kirimkan salamku pada Yi Fan mama dan istrinya. Ia pasti cantik.”

“Ne, siapa namamu?”

-TBC-

Thankyou for reading. Iloveyousooomuch. Wait for next chapter ya^^

5 pemikiran pada “Cherry Blossom (Chapter 1)

  1. waaah~
    ff ini uda aku baca sampe end (?)
    tp aku berharap banget ada sequelnya. pengen gitu dibanyakin moment zhang-lin sama wu yi fan & luhan xD
    ahh~ keluarga kecil yang bahagia~ xP

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s