Cry For Love

Title: Cry for Love

Author: @afnfsy / kyungjj

Genre: Sad, hurt, angst, song-fic

Length: One-shot

Main cast: Park Chanyeol, You

 

A/N: And this is Davichi’s Cry for Love, highly recommend to listen the song while reading it.

=====================================================================

It’s been such a long time
Have you been well?
Is it the same you, who had made my heart race before?
Even after time passed,
Your warm voice hasn’t changed at all

Kau menatap ponselmu dengan nanar. Benda itu tidak berhenti bergetar—tanda ada sebuah panggilan masuk. Kau berusaha menahan seluruh gejolak-gejolak aneh yang seperti hendak meledak dari dadamu. Dengan tangan bergetar, tanganmu merayap pada meja itu untuk mengambil ponselmu.

Yeo-yeoboseyo?” sapamu dengan suara yang terdengar aneh; seperti tercekat dan parau.

Senyum mulai terukir sekilas di wajahmu, “Apa kabar?” tanyamu, berusaha untuk menahan tangisan bahagia yang ingin keluar.

Suara lelaki itu tidak berubah, masih terdengar berat dan hangat seperti biasa—maksudmu, pada masa lalu. Kau selalu menyukai suara uniknya. Bagaimana suara itu dengan menyanyikan lagu dengan lembut agar kau tertidur, bagaimana suara itu memanggil namamu.

“Jadi… can we meet? Tomorrow?” tanya Chanyeol dengan antusias. Kau bisa merasakan lelaki itu tersenyum lebar hanya dengan mendengar suaranya. Oh, betapa kau merindukan senyuman manis tetapi creepy miliknya itu.

Tanpa suara kau pun mengangguk, sedetik kemudian tersadar bahwa ia tidak akan melihatmu, “Arraseo,”

I think I know too, that I’m not the one for you
But still, I wanted to love
There was so much I wanted to say
And I finally saw you
But I can’t say anything and I’m just looking at you

Keesokan harinya,

Dalam lubuk hatimu yang paling dalam, masih banyak yang ingin kau bicarakan, masih banyak yang ingin kau sampaikan, masih banyak yang harus diakui dan diutarakan. Tetapi kau hanya tidak bisa menemukan kata-kata yang pas.

Kau merapikan dress selutut berwarna biru jeans yang kau kenakan, takut-takut kau akan terlihat aneh didepan lelaki itu. Tetapi kau pun pada akhirnya hanya menghela napas, segelas vanilla latte yang kau pesan mulai mengeluarkan asap-asap kecil, tanda minuman itu sudah menunggu lumayan lama.

Bel yang berada di pintu kafe tersebut pun berdenting tak lama kemudian. Kau masih saja tidak sekadar memutar tubuhmu untuk melihat siapa yang datang. Kau sudah melakukannya berkali-kali tadi. Dan masih saja tak ada tanda-tanda kedatangan dari lelaki jangkung itu.

Tetapi mungkin saja kau salah, seseorang tengah memandangimu dengan tatapan bingung. Seakan-akan masih tidak yakin bahwa yang dilihatnya adalah dirimu. Lelaki itu sedikit membetulkan kacamata yang membingkai wajahnya dengan pas, perlahan berjalan mendekatimu.

Lelaki itu pun mengulurkan sebelah tangannya untuk menepuk pundakmu. Tetapi ia kalah cepat karena kau tiba-tiba saja memutar tubuhmu, face him.

“Park Chanyeol,” gumammu pelan.

I told you that I love you
I told you to please look at me
Because it might be the last chance
I told you that I missed you like crazy
I cried without saying anything, I only shed tears

Kalau saja segelas vanilla lattemu bisa melompat-lompat kegirangan, benda itu akan melakukannya sekarang. Pada akhirnya kau pun mengaduk minuman di depanmu itu dengan sedikit tidak niat. Jujur saja kau tidak bisa menyembunyikan ekspresi gugupmu. Sementara Chanyeol hanya mengeluarkan cengiran lebarnya seperti biasa.

“Apa?” tanyamu pada akhirnya, menatap lelaki aneh di depanmu, berusaha menahan tawa yang ingin meledak karena menurutmu wajahnya adalah hal yang paling lucu di dunia.

Hey, don’t you know that I’ve missed you so much?” sembur lelaki itu dengan wajah sedikit kesal, bermaksud bercanda. Kau sendiri pun merasakan bahwa jantungmu berdegup lebih cepat kali ini. Missed? Tadinya?

Kenapa lelaki ini berkata dalam kalimat lampau?

I miss you too,” jawabmu dalam hati. Karena memang kenyataannya bahwa kau selalu merindukannya.

Chanyeol masih menunggu kau untuk sekadar menjawab perkataannya. Tetapi kau memang tidak tahu apa yang harus kau bicarakan dengannya. Seluruh dialog dan skenario yang sempat kau pelajari buyar saat itu juga.

“Kau masih marah kepadaku?” tanya Chanyeol lagi. Kali ini ia mendekatkan wajahnya kearahmu, membuatmu secara refleks menjauhkan wajahmu. Kau pun menatapnya seolah berkata, “Menurutmu?”

Chanyeol menghela napas dan langsung menegakkan tubuhnya kembali. Ia membuang pandangannya kearah jendela, tangannya menggaruk belakang lehernya yang terasa gatal. Lelaki itu juga bingung.

“Ngomong-ngomong, lihat siapa yang kubawa!” seru Chanyeol dengan suara beratnya yang khas, menarik seseorang untuk mendekat kearahnya.

Kau pun mendongak untuk melihat siapa yang dimaksud oleh Chanyeol. Kau terkesiap saat mendengar seperti ada kaca yang pecah dalam tubuhmu. Matamu memanas, tetapi sebisa mungkin kau menarik bibirmu, memberikan senyumanmu yang paling tulus yang pernah kau tunjukkan.

You didn’t know
That I hated the girl that you loved

Kau meneguk ludah yang menggumpal di tenggorokanmu. Ini bukan apa yang kau harapkan sama sekali. Bukan ini yang seharusnya terjadi. Tidak.

Tanganmu bergetar saat meletakkan sendok pengaduk diatas tisu, ketika kau menunduk kau bisa merasakan air matamu yang siap jatuh kapan saja. Dengan segala kekuatan yang kau punya, dengan cepat kau menghapus air mata itu dengan cara menguceknya. Supaya Chanyeol dan pacarnya hanya mengira bahwa matamu gatal.

Chagiya, kenalkan. Ini sahabatku sejak SMU yang sering aku ceritakan padamu,” kata Chanyeol kepada gadis di sebelahnya itu.

Sering ceritakan? Apa saja yang kau katakan padanya, Chanyeol?

Gadis itu pun tersenyum seraya melambaikan tangannya padamu, kau pun hanya membalasnya dengan senyuman tulusmu yang tadi.

The day I stood in front of your house
The night I saw the two of you
I remember how I turned around and ran as I cried

-flashback-

Sehari sebelum kepergian Chanyeol ke London, kau berniat untuk membuatkannya sedikit kejutan. Tetapi siapa tahu dengan apa yang akan terjadi.

“Chanyeol surely would love this!” pikirmu seraya membawa board yang biasa kau gunakan untuk berbicara dengannya dalam kejauhan.

Kalian berdua tinggal bersebelahan, jendela kamar Chanyeol dan kau pun terletak saling berseberangan. Chanyeol sering sekali memanggilmu dengan cara melemparkan batu-batu kecil kearah kaca jendelamu, dan itu biasanya mengganggu waktu tidurmu.

Kau pun menulis sesuatu dengan spidol berwarna hitam, lalu berjalan menuju jendela kamarmu dan membukanya lebar-lebar. Kau hendak saja melempar batu kecil kearah jendelanya sambil masih memegang board yang sudah ditulis itu. Tetapi tanganmu berhenti tiba-tiba. Kau terkejut dengan apa yang kau lihat.

Dengan hati-hati kau menurukan lenganmu, air mata turun perlahan dari sudut matamu.

Chanyeol dan pacarnya sedang berciuman. Dalam hatimu kau merutukki Chanyeol karena tidak menutup jendelanya. Tetapi kau merasa begitu hancur, kau pun menjatuhkan board yang kau pegang. Tubuhmu pun merosot di dinding, kau melipat kedua kakimu lalu menenggelamkan wajahmu yang mulai memerah dan penuh air mata.

Dengan kesal kau pun merangkak menuju board yang bertuliskan kata-kata penyemangat untuk Chanyeol, kau menghapusnya dengan kasar. Lalu kau melempar board itu sembarangan, tidak peduli kalau benda itu akan terbelah menjadi dua atau apa.

Kau hanya tidak percaya dengan apa yang kau lihat. Kau pun berpikiran bahwa tidak seharusnya kau membuka jendela kamarmu.

Dan yang terakhir kau pikirkan, semua usaha yang kau lakukan sia-sia.

Air mata masih terus turun dari kedua matamu, entah kapan itu akan berhenti.

-flashback end-

I told you that I love you
I told you to please look at me
Because it might be the last chance
I told you that I missed you like crazy
I cried without saying anything, I only shed tears

The days I longed for you, the nights I longed for you
Again today, I wait for you

“Dan sampai sekarang aku masih menunggumu. Kau ini tidak peka apa bagaimana? Aku tidak mengharapkan kau untuk menyukaiku balik. Karena ini hanya akan menjai kesempatan terakhir bagiku, aku bicara ini karena aku benar-benar merindukanmu,” ucapmu menahan untuk tidak berteriak di depan wajah tampannya. Untung saja gadis itu sedang pergi ke kamar kecil. Menyadari air matamu yang ternyata sudah turun membasahi pipimu, segera saja kau menghapusnya.

Chanyeol hanya terdiam, tak mampu berkata apa-apa setelah mendengarkan pengakuanmu selama ini. Bagaimana kau benar-benar mencintainya setulus hati dan tanpa alasan apapun. Bagaimana Chanyeol melihatmu menangis di depanmu untuk yang pertama kalinya. Chanyeol tidak mengira bahwa gadis sekuat dirimu bisa menangis.

“Kuharap kau bahagia,” katamu cepat mengakhiri segala percakapanmu dengan Chanyeol. Entah kau merasa bahwa memang tidak ada gunanya berbicara kepada lelaki ini kalau pada akhirnya ia hanya meresponnya dengan diam. Kau tidak tahu apa yang ia pikirkan, tetapi jika ia masih mempunyai hati, ia seharusnya menyadarinya.

Kau pun berdiri dan segera mengambil tasmu, lalu berjalan cepat untuk meninggalkan lelaki itu.

You told me that you are sorry
I ended up shedding a bucket of tears
Because I couldn’t forget you
I told you that it’s okay even if I just look at you
I endlessly shouted that I loved you

Langkahmu terhenti, sebuah tangan tengah menahan lenganmu. Kau melihat Chanyeol yang memegang lenganmu, tatapannya begitu sayu.

“Maafkan aku,” bisik Chanyeol lirih.

“Dan aku tidak akan pernah berhenti mencintaimu, Chanyeol-ssi.”

 

Iklan

16 pemikiran pada “Cry For Love

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s