Ha-Na (Chapter 7)

Title                 : Ha-Na (Part 7)

Author             : Lucky Cupcake

Rating             : PG-13

Lenght             : Chapter

Genre              : Romance, Friendship

Cast                 : Xi Luhan (EXO) Kim Ha Na (OC)

Support cast    : Na Eun (A Pink) Sandeul (B1A4) Jong Hun (FT Island)

page

Disclaimer       : Dapet inspirasi dari komik, novel, MV, sama lagu^^

Luhan POV

“Sekarang kamu harus memilih! Aku atau Ha Na?”Aku terdiam. Tidak bisa menjawab pertanyaannya. Aku menyukai Ha Na, tapi aku tidak ingin menyakiti perasaan Naeun. Ditambah lagi dengan kondisinya saat ini. Dia sangat membutuhkanku.

“….Tolong beri aku waktu untuk menjawab”

“Begini saja. Aku dengar dua hari lagi adalah babak semifinal kontes menyanyi itu. Tepat pada saat itu, keluargaku sedang mengadakan pesta. Kalau kamu memilih aku, kamu datang ke pestaku, tapi kalau kamu memilih Ha Na, kamu silahkan datang ke kontes itu, tapi ingat Luhan, jangan buat aku tambah sakit lagi”

Kejadian kemarin terus terngiang-ngiang dikepalaku. Kepalaku pusing. Rasanya mau pecah. Kenapa makin lama makin rumit saja? Sejak semalam aku tidak bisa tidur. Kantung mataku makin tebal. Kapan masalah ini akan selesai!?

“Luhan, ayo turun. Nenek sudah membuatkan sarapan untukmu”

“Iya nek” Aku turun menuju ruang makan dan menemukan nenek sedang menyiapkan sarapan untukku. Aku memeluknya dan mencium pipinya. Aku sangat menyayangi nenekku. Dia satu-satunya keluargaku. Ibuku sudah lama meninggal. Sedangkan ayahku, aku tidak tahu ayahku siapa dan dimana dia sekarang. Yang aku tahu dia adalah pria asli Korea yang menikahi ibuku kemudian meninggalkan ibuku tanpa sebab. Walaupun begitu, dia tidak melepas tanggung jawabnya. Setiap bulan, aku dan nenek mendapat uang yang dikirim oleh anak buah ayahku. Nenek bilang kalau ayahku adalah orang kaya. Tapi nenek tidak pernah cerita tentang siapa dia. Aku dulu sempat ingin mencari tahu tapi nenek melarangku.

“Luhan. Ada apa denganmu? Wajahmu pucat sekali”

“A-aku hanya kurang tidur saja nek”

“Jangan bohong, nenek tahu kalau kamu sedang ada masalah”

Nenek memang tidak bisa dibohongi. Mau aku akting sebagus apapun, nenek akan tahu kebenarannya.

*sigh* “Sebenarnya aku memang sedang banyak masalah”

Nenek tersenyum. “Apa masalah tentang perempuan?” Nenek benar-benar hebat. Ia bisa menebak semuanya hanya dengan melihat wajahku yang pucat ini. Aku pun mengangguk sambil mengunyah roti.

“Nenek memang sudah tua, tapi nenek juga pernah muda. Nenek mungkin tidak tahu masalahmu seperti apa, tapi…..”

Aku menelan bulat-bulat roti itu. “Tapi apa nek?”

“Coba sekali-sekali dengarkan isi hatimu yang sesungguhnya, jangan biarkan orang lain mempengaruhimu”

Sejenak aku mulai meresapi kata-kata nenek. Aku merasa apa yang dibilang nenek ada benarnya juga. Aku terlalu banyak memikirkan perasaan orang lain tapi tidak pernah memikirkan perasaanku sendiri. Nenek menepuk-nepuk pundakku dan tersenyum.

“Nenek yakin kamu bisa melewati itu semua”

Ha Na POV

            Hari minggu yang sunyi. Seperti biasa, ibu sudah pergi dan hanya meninggalkan sebuah pesan di meja makan. Ibu ada keperluan mendadak jadi ibu harus pergi, sarapan sudah ibu sediakan. Ingat dimakan Ha Na. From: Ibu

Sarapan sendirian lagi. Aku sudah terbiasa dengan kondisi seperti ini. Ibuku seorang wanita karir jadi gak heran kalau dia sibuk sekali. Untung saja hari ini aku tidak seharian diam di rumah. Siang nanti, ibu Lee mengajakku untuk latihan lagi. Aku harap semoga latihan kali ini tidak mengecewakan lagi. Aku tidak ingin membuat Ibu Lee dan Luhan kecewa terhadapku.

Tapi ada satu hal lagi yang sedang aku pikirkan. Apa ibu akan sempat menontonku di babak semifinal nanti? Sebenarnya aku belum mengatakan apapun tentang kontes menyanyi itu pada ibuku. Setiap aku ingin bicara, pasti ada saja gangguan. Kali ini aku berharap semoga ibu bisa mengesampingkan pekerjaannya dan hadir menyaksikanku nanti. Aku ingin dia melihat perubahanku. Aku bukan Ha Na yang dulu lagi. Aku selalu berdoa pada Tuhan agar harapanku itu dapat terkabul.

Plok..plok..plok..plok. Ibu Lee menepuki tangannya.

“Bagus Ha Na, ini yang ibu tunggu. Pertahankan seperti ini, jangan mengulangi kesalahan yang kemarin.” Ibu yakin kamu akan lolos Ha Na!  Latihan kali ini berjalan dengan lancar. Aku merasa semangatku untuk berlomba telah tumbuh lagi. Ini semua karena Luhan. Dia sangat menginginkan aku tuk jadi juara. Jadi aku harus menang dan membalas semua kebaikannya. Aku mencoba melupakan semua hal yang terjadi belakangan ini dan fokus pada kontes.

 

Luhan POV

Pukul menunjukkan jam tiga lewat lima menit. Berulang kali aku melihat jam tangan. 1 jam aku sudah menunggu Sandeul di taman tapi dia belum datang juga. Aku berjanji untuk bertemu dengannya tepat jam dua tapi sampai saat ini batang hidungnya belum terlihat. Kebiasaan buruk Sandeul adalah suka datang terlambat. Sebenarnya hari ini, aku ingin mengajaknya bicara mengenai masalah yang sedang aku hadapi saat ini. Sandeul orangnya sangat enak untuk diajak bicara. Dia adalah pendengar yang baik sekaligus penasehat terbaik. Jadi memilih Sandeul sebagai teman bicara adalah hal yang sangat tepat.

“Hyung, maaf aku telat. Aku tadi menolong kakek menyeberang jalan, terus ada ibu-ibu yang menyuruhku membantunya membawa barang lalu—“

“Yaah Sandeul! Alasanmu tidak pernah berubah, aku tahu itu cuma karanganmu saja. Cukup bilang kamu ketiduran, aku akan mengerti. Cih!”

“Hahaha hyung memang paling tahu kalau aku berbohong, ngomong-ngomong hyung ingin bicara apa? Apa…… tentang Ha Na noona?”Aku mengangguk. “Hyung, aku sempat kecewa dengan hyung. Kenapa hyung lebih memilih Naeun sunbae? Bukannya hyung suka dengan Ha Na noona? Apa hyung dan noona sedang ada masalah?”

“Aku memilih Naeun ada alasannya. Dia saat ini sedang sakit keras. Aku memang menyukai Ha Na tapi aku tidak ingin menyakiti Naeun. Lalu antara aku dan Ha Na sudah tidak ada masalah lagi, berkat rencana gilamu kemarin. Apa itu cukup menjawab semua pertanyaanmu?”

“Hmmm, padahal aku lebih senang kalau hyung dengan Ha Na noona….”

“Tapi………. Ha Na bilang kalau dia sedang menyukai seseorang, aku…..”

“Yah hyung! Apa tangisan noona belum juga cukup jadi bukti? Noona itu suka dengan hyung! Kalian itu saling menyukai!!”

“Tentang itu…. sebenarnya kemarin…” aku pun menjelaskan semuanya pada Sandeul tentang kejadian kemarin. Dia terlihat kaget.

“Wah hyung, lalu bagaimana? Apa hyung sudah menentukannya?” aku menggeleng.

“Apa yang harus aku lakukan?”

Sandeul menghela nafasnya. Dia mulai berpikir dengan pose ala conan.

“Aku juga tidak tahu. Tapi hyung, aku hanya bisa mengatakan ini. Cinta itu….. gak bisa dipaksakan, hyung.”

Ha Na POV

Selesai latihan, aku pun kembali ke rumah. Ternyata ibu sudah pulang. Tidak sendirian, ibu dirumah bersama kekasihnya, Tuan Choi. Ibu terlihat sedang bersantai di sofa sedangkan Tuan Choi sedang sibuk dengan laptopnya. Ini waktu yang tepat untuk bicara dengan ibu mengenai kontes menyanyi itu.

“Ibu, a-a-aku ingin bicara sesuatu”

“Bicara tentang apa sayang?”

“Se-se-sebenarnya, a-aku sedang mengikuti sebuah kontes menyanyi, aku lolos  dan be-besok  adalah babak semifinalnya. Apa ibu bisa datang untuk mendukungku?”

Hah? Anak ini ikut kontes menyanyi? Apa aku tidak salah dengar? Pikiran jahat dari Tuan Choi terdengar dengan jelas, menambah kegugupanku.

“Ha Na!? Kamu ikut kontes menyanyi!? Wah ibu tidak tahu kalau kamu bisa bernyanyi. Ibu bangga sekali denganmu.” Ibu memelukku dengan erat. Aku senang ibu bangga terhadapku.

Ibu melepaskan pelukannya dan mengelus-eluskan rambutku. “Tapi Ha Na, ibu minta maaf, sebenarnya—“

“Besok kami berdua sedang ada pertemuan bisnis yang tidak bisa ditunda. Jadi ibumu tidak bisa hadir.” Anak ini mengganggu saja. Apa!? Pertemuan bisnis?

“A-apa itu benar ibu?” Ibu mengangguk.

“Itu benar….., maafkan ibu ya nak, tapi ibu janji akan mendoakanmu” Emosiku membludak. Aku benar-benar kecewa. Ibu lebih mementingkan pekerjaannya ketimbang aku?! Mataku kembali mengucurkan air matanya. Mulut dan tanganku bergetar, rasanya ingin teriak sekencang-kencangnya.

“Aku benar-benar kecewa dengan ibu…” aku pun bergegas keluar dari rumah. Aku sudah tidak kuat lagi.

“Ha Na maafkan ibu” Ibu bermaksud mengejarku tapi Tuan Choi melarangnya.

Aku berlari dan terus berlari. Aku tidak tahu akan kemana. Orang-orang disekitar memperhatikan aku yang terlihat sangat kacau.  Kenapa anak perempuan itu? Kenapa dia menangis? Apa dia dikejar oleh penjahat. Dia terlihat sangat sedih.

Matahari mulai tidak nampak. Lelah berlari, aku pun berhenti dan beristirahat dengan duduk di trotoar. Aku merangkul kedua kakiku dan menundukkan kepalaku. Sontak tiba-tiba seseorang menepuk pundakku.

“Noona, sedang apa disini? Apa noona menangis?” Kenapa noona bisa ada disini? Noona selalu terlihat sedih, kasihan noona.

“Ah Sandeul” aku mengusap-usap air mataku. “Tidak kenapa kok, noona hanya sedang jalan-jalan saja”

“Jangan bohong noona. Noona pasti sedang ada masalah. Kalau noona mau, ceritakan saja padaku. Aku pasti akan membantu noona.”

Aku terdiam sebentar. “……….ibuku tidak bisa hadir ke babak semifinal besok….dia lebih memilih bisnisnya ketimbang aku….”

Sandeul mengelus-eluskan punggungku, mencoba untuk menenangkan aku yang mulai menangis lagi.

“Tenang saja noona, masih ada aku, aku akan hadir dan menjadi pendukung dengan suara terkeras, jadi noona jangan sedih lagi ya, buing buing~” Lagi-lagi Sandeul mengeluarkan jurus  aegyonya. Itu cukup membuatku tenang.

“Terimakasih…… Sandeul…..lalu apa Luhan juga akan datang?” Ekspresi wajah Sandeul mendadak berubah. Gawat, apa yang harus aku katakan?

Aku mulai curiga dengan gerak-gerik Sandeul yang kelihatan kebingungan. Aku pun mencoba menelaah pikirannya dan menemukan jawabannya. Besok Luhan akan datang ke pesta di rumah Naeun!? Tidak datang mendukungku!?

“Eh…eh…itu…eh sebenarnya hyung..”

“Sudahlah Sandeul….. aku tahu Luhan tidak akan datang besok, sudah ya, aku harus pergi, sudah malam. Bye Sandeul” Aku lari lagi meninggalkan Sandeul. Sandeul berteriak memanggilku tapi aku mencoba untuk pura-pura tidak mendengar. Ibu dan Luhan tidak datang besok, semangatku sudah hilang. Aku mulai pesimis. Muncul lagi keinginan untuk mundur dari kontes itu.

Aku kembali ke rumah. Ibu sudah pergi bersama Tuan Choi dengan meninggalkan sebuah pesan di depan pintu. Ha Na, maafkan ibu tidak bisa hadir mendukungmu besok. Ibu janji akan datang mendukungmu di babak final, jadi berjuanglah! Pastikan kamu lolos ke babak final. Hari ini, ibu pergi ke Jepang dan akan tinggal disana beberapa hari untuk urusan bisnis. Ibu sudah sediakan makanan yang cukup untukmu. Jaga dirimu baik-baik. Ibu sangat sayang dengan Ha Na From: Ibu

Babak final ya? Aku tidak yakin.

 

Author POV

Keesokan harinya, semua warga sekolah bersiap-siap untuk menyaksikan babak semifinal yang akan diikuti oleh Ha Na. Mereka berkumpul di gedung tempat diadakannya kontes tersebut. Ibu Lee masih sibuk mendandani para penari yang akan mengiringi Ha Na di atas panggung. Tapi ada satu orang penting yang tidak terlihat. Ha Na. Ibu Lee memerintah Sandeul untuk menelepon Ha Na, tapi percuma saja, Ha Na tidak mengangkat teleponnya.

“Ha Na, kenapa kamu belum datang juga, sebentar lagi acara akan dimulai” Ibu Lee mulai panik. Sandeul hanya diam saja. Dia terus mencoba menelepon Ha Na dan mengiriminya pesan. Tapi hasilnya nol.

Acara babak semifinal akan segera dimulai. Para kontestan sudah bersiap-siap dibelakang panggung. Kecuali Ha Na. Dia belum datang juga. Ibu Lee mulai tidak tenang, matanya tidak berhenti memandangi handphonenya. Kring.. kring..kring…

“Ha-halo Sandeul, bagaimana? Apa Ha Na ada dirumahnya?”

“Tidak ada bu, noona tidak ada dirumah.”

“Ya ampun, Sandeul coba cari di taman atau tempat-tempat yang sering dikunjungi Ha Na, mungkin dia ada disana.”

“Baik bu”

Kemudian salah satu panitia lomba datang menghampiri Ibu Lee.

“Permisi bu, apa murid ibu sudah datang?”

“Ma-maaf, mungkin dia akan terlambat.”

“Hmmm, murid ibu adalah penampil kelima, kalau sampai penampil keempat murid ibu belum datang, maka dia akan didiskualifikasi”

“Ba-baik, mohon maaf atas keterlambatan ini”

Ha Na POV

Aku merasa bersalah dengan Ibu Lee. Tapi mau bagaimana lagi, aku sudah tidak punya semangat. Orang-orang yang aku sayangi tidak hadir mendukungku. Untuk apa aku berada di atas panggung kalau orang yang sangat aku harapkan untuk datang dan mendengar aku bernyanyi tidak ada di bangku penonton.

Aku diam sendiri di atas atap sekolah. Orang-orang tidak mungkin sadar aku ada disini. Mereka semua sedang ada di gedung itu untuk menyaksikan babak semifinal. Telepon dari Sandeul dan Ibu Lee aku acuhkan. Aku sadar yang aku perbuat sekarang akan membuat semua warga sekolah akan kecewa. Hal yang aku lakukan saat ini benar-benar buruk. Apa boleh buat, aku benar-benar tidak sedang ingin berlomba. Mood dan semangatku sudah hancur.

Luhan POV

Dengan pakaian seadanya, aku pergi menuju rumah Naeun. Pestanya benar-benar resmi. Semua orang mengenakan baju formal. Sepertinya ini pesta untuk para orang-orang kaya. Mereka mulai memperhatikan aku yang terkesan acak-acakan. Terang saja, rambutku yang tidak tersisir rapi, ditambah aku hanya memakai baju kaos dengan celana jean panjang datang ke pesta resmi milik pengusaha kaya.

Naeun belum terlihat di tengah pesta. Aku terus memperhatikan jamku. Babak semifinal sepertinya sudah dimulai. Aku terus melihat sekeliling tapi belum juga menemukan Naeun. Dreet…dreet..dreet.. aku mendapatkan sebuah pesan. Pesan dari Sandeul. Isinya benar-benar mengagetkan aku. Ha Na kabur dari kontes!? Aku mulai panik, aku segera ingin menyelesaikan misiku datang kesini.

Kemudian seseorang dari belakang menutup kedua mataku dengan tangannya.

“Yah Naeun, aku tahu itu kamu”

“Hahahaha! Luhan, aku senang kamu datang kesini, itu berarti kamu—“

“Eh Naeun, aku—“

“Sudah-sudah jangan banyak bicara, tunggu sebentar akan aku panggil orang tuaku”

“Yah Naeun, dengarkan dulu” Dia sudah pergi sebelum mendengar penjelasanku. Dia memanggil kedua orang tuanya. Mereka pun datang menghampiriku.

“Appa, Umma, ini Luhan, dia pa—“

“Annyeonghaseyo, saya Xi Luhan, salam kenal.”

“Salam kenal Luhan. Wah tampan sekali, ayo nikmati hidangannya. Jangan sungkan-sungkan” Ibunya Naeun menyambutku dengan ramah, begitu pula ayahnya. Dia tersenyum padaku.

“I-iya terima kasih, permisi saya ingin mengajak Naeun bicara” Orang tuanya mempersilahkan. Aku menarik tangan Naeun dan membawanya ke belakang rumah.

“Kamu ingin bicara apa?”

“Naeun, aku datang kesini ingin menjelaskan sesuatu padamu”

“Sesuatu?”

Aku menghela nafasku untuk bersiap-siap mengatakan sesuatu yang sangat sulit untuk dikatakan ini. “Maaf….. aku tidak bisa jadi pacarmu lagi. Aku sudah putuskan. Aku memilih Ha Na. Aku….. sangat menyukainya. Aku tidak bisa membohongi diriku sendiri. Maafkan aku. Aku janji, aku akan selalu ada untukmu. Aku harap kita masih bisa jadi sahabat seperti dulu lagi.”

Naeun tertawa kecil dengan raut wajahnya yang terlihat sangat kecewa. “Hahaha, aku tahu akan seperti ini.”

“Maafkan aku…….. Naeun”

Naeun tersenyum. “Seharusnya aku yang minta maaf, karena aku terlalu egois, tidak pernah memikirkan perasaanmu. Aku memang sahabat yang buruk. Aku tersadar selama ini aku hanya bisa menyusahkanmu. Maafkan aku”

“Tidak, tidak. Kamu tidak perlu minta maaf, aku—“

“Yah, berhenti bicaranya, apa kamu mau terlambat menonton kontes itu?”

“Naeun, aku—“

“Yah, sana cepat! Ha Na akan segera tampil! Aku tidak apa-apa kok” Naeun mendorongku keluar.

“Aku senang kalau sahabatku senang, maafkan aku sudah memaksamu. Ayo cepat, nanti acaranya keburu selesai! Jangan buat Ha Na kecewa” Aku mengangguk dan segera pergi. Dalam perjalanan, aku mencoba menghubungi Sandeul.

“Sandeul, apa Ha Na sudah ditemukan?”

“Belum hyung, aku sudah mencarinya kemana-mana tapi noona tidak ada dimanapun, apa hyung tahu tempat yang biasa noona kunjungi?”

“Aku tahuu! Biar aku yang cari dia!”

Aku terus berlari hingga sampailah aku di sekolah. Aku punya firasat bahwa Ha Na sedang bersembunyi di atap sekolah. Aku tahu kalau Ha Na akan pergi kesana disaat dirinya sedang sedih. Tepat sesuai dugaan, Ha Na sedang duduk terdiam disana.

“Ha Na!!!!”

“Luhan….sedang apa kam—”

“Yah! Apa ini cara kamu membalasnya? Dengan kabur seperti ini!? Apa ini caramu membalas semuanya!?”

“Luhan… maaf aku…” Ha Na berdiri dan mulai menangis. Aku pun menarik tangannya dan membuatnya menjadi dekat denganku. Aku menciumnya. Dia mencoba mendorong untuk menghentikanku tapi aku tetap menciumnya hingga akhirnya dia menyerah. Air mata Ha Na mulai berjatuhan di wajahku. Aku pun berhenti dan mengusapkan air matanya.

“Ha Na, aku sangat mencintaimu” wajah Ha Na terlihat seperti tidak percaya. “Aku sangat ingin mengatakan ini dari dulu, tapi.. tidak bisa.”

“Luhan…..”

“Maafkan aku sudah membuatmu kecewa, sedih, marah. Aku memang bodoh. Bisanya hanya membawa masalah saja. Tolong maafkan aku.”

Ha Na mengangguk dan tersenyum padaku. “Maafkan aku juga… sudah melanggar janji ….aku …juga mencintaimu…” Akhirnya perasaan kami berdua pun tersampaikan. Aku memeluknya dengan erat hingga aku tersadar bahwa kami sudah terlambat.

“Ha Na, sudah tidak ada waktu lagi! Ayo segera kita pergi dari sini, sebentar lagi adalah penampilanmu” Tanpa pikir panjang, aku menarik tangan Ha Na dan membawanya lari bersamaku menuju gedung tempat babak semifinal itu.

Untung saja jarak antara sekolah dengan gedung tersebut tidak terlalu jauh, maka selang beberapa menit tibalah kami di tempat tujuan.

 

Ha Na POV

Tapi ternyata tidak semudah yang kami bayangkan. Para petugas keamanan melarang kami masuk karena kami berdua tidak memiliki tiket. Luhan mencoba menjelaskan apa yang terjadi tetapi mereka tidak percaya dengan perkataannya. Tapi dia belum menyerah, dia terus memaksa masuk. Itu hyung dan noona! Aku harus cepat membawa mereka masuk! Aku mendengar pikiran Sandeul. Aku menoleh sekeliling dan menemukannya melambai-lambai bermaksud memanggil kami berdua.

“Luhan….” Aku menggoyangkan tangan Luhan dan membuatnya melihatku. Aku memberikan tanda lewat gerakan mataku untuk memberitahu bahwa Sandeul memanggil kami.

“Hyung! Noona! Lewat sini!” kata Sandeul dengan suara pelan. Dia melambai-lambaikan tangannya menyuruh kami untuk mengikutinya. Kami pun segera pergi meninggalkan petugas tersebut dan berjalan menuju jalan rahasia yang ditunjukkan oleh Sandeul.

Setelah menyusuri jalan yang penuh rintangan itu, sampailah kami di dalam gedung. Para penonton tengah asyik menyoraki seorang kontestan yang sedang tampil. Tepuk tangan yang sangat meriah pun terdengar tepat setelah ia selesai menampilkan suaranya yang sungguh apik. Pembawa acara keluar dari belakang panggung.

“Wah meriah sekali, beri tepuk tangan sekali lagi! Untuk penampilan selanjutnya, kami mohon maaf sepertinya dia ti—“

“HA NA AKAN TAMPIL!!!!!” Luhan berteriak sangat kencang, membuat pandangan tertuju padanya. Ha Na kembali!? Ha Na bersama Luhan!!!!??? Ha Na selalu saja membuat kejutan. Lantas Luhan menyuruhku untuk segera naik ke atas panggung. Ia bertindak seperti seorang bodyguard, ia menyuruh kerumunan penonton yang sedang berdiri ditengah gedung untuk memberi jalan untukku. Ibu Lee pun melihat kehadiranku, ia kemudian menyuruh para penari bersiap-siap. Walau hanya memakai kaos dan celana, aku dengan percaya diri naik ke atas panggung.

“Baiklah karena penampil kelima sudah datang, mari kita sambut ini dia Kim Ha Na!!” Teman-teman yang datang kesana pun berteriak mendukungku. Sandeul mulai berubah menjadi fanboy gila sedangkan Luhan tersenyum dan mengacungkan jempolnya.

Musik pun berbunyi. Penari latar mulai menggerakkan tangan dan kakinya. Kali ini aku akan menyanyikan lagu Good Day milik IU. Aku bernyanyi dan menari mengikuti irama musiknya. Penonton pun ikut bernyanyi bersama denganku.

Nunmureun naoneunde hwaljjak useo. Ne apeul makgoseo mak keuge useo
Naega wae ireonueunji bukkeureomdo eomneunji. Jajonsimeun gopge jeobeo haneur wiro
Hanbeondo motaetdeonmal. Eojjeomyeon dasin motal baro geo mal
Naneunyo oppaga. Joheungeol
(Aiku, hanadul) I’m in my dream
(It’s too beautiful beautiful day. Make it a good day. Just don’t make me cry)
Ireoke joheun nal

Luhan POV

Sangat menyenangkan melihat Ha Na bernyanyi dengan riangnya di atas panggung. Sudah lama aku tidak pernah melihat Ha Na tersenyum semanis itu. Aku berjanji akan membuatnya tersenyum terus dan membuat hari-harinya lebih menyenangkan lagi. Setelah selesai bernyanyi, Ha Na turun dari panggung. Ia kemudian berpelukan dengan Ibu Lee yang sepertinya sangat khawatir dengan Ha Na yang sempat hilang.

“Ha Na, jangan lakukan itu lagi, Ibu sangat panik”

“Iya Ibu Lee, maafkan Ha Na”

Aku sangat senang akhirnya semua masalah telah terselesaikan. Berterimakasih pada nenek yang sudah memberikanku nasehat. Dan terimakasih pula untuk Sandeul atas bantuannya selama ini. Dia benar-benar seorang pahlawan.

“Yah Sandeul, terimakasih…..”

“Haha hyung, aku hanya melakukan yang seharusnya. Harusnya aku yang berterimakasih pada hyung karena hyung sudah banyak membantuku sampai-sampai aku bisa kembali bersekolah.”

“Tidak, tidak. Kamu yang selama ini banyak menolong hyung. Terimakasih Sandeul”

Babak semifinal telah usai. Tibalah waktunya pengumuman sepuluh kontestan yang akan lolos ke babak final. Satu persatu nama disebut. Tapi nama Ha Na belum juga disebutnya. Aku mulai cemas.

“Kontestan kesembilan yang lolos selanjutnya adalah…….. Park Min Ji!” lagi-lagi nama Ha Na belum disebut. Aku harap yang terakhir ini adalah dia.

“Dan kontestan terakhir yang lolos ke babak final adalah………….” Pembawa acara ini benar-benar pintar membuat orang penasaran. Ha Na yang berada di sebelahku terlihat sangat gugup. Aku memegang tangannya dan mencoba menenangkannya.

“Kim Ha Na!!! Selamat!!” Sontak teman-teman yang berada di bangku penonton bersorak gembira mendengar wakil sekolahnya lolos ke babak selanjutnya. Begitu juga Ibu Lee, dia terlihat sangat senang dan bangga. Ha Na tak bisa berhenti tersenyum. Aku senang dia bisa bahagia lagi seperti dulu.

Ha Na POV

The best day ever! Hari ini awalnya memang berat tapi pada akhirnya happy ending juga. Berjalan bergandengan tangan dengan orang yang kusuka benar-benar sangat menyenangkan. Dia bukan lagi hanya seorang teman dekat tapi sekarang dia adalah pacarku.

“Ha Na, setelah ini kita akan kemana?”

“Aku ingin ke taman”

“Ide bagus” Kami berdua berjalan bersama. Tidak pernah aku sebahagia ini sebelumnya. Hidupku benar-benar berubah semenjak bertemu dengannya. Aku sangat berterima kasih pada Tuhan karena sudah mempertemukan aku dengannya.

Taman ada di seberang jalan maka kami pun berjalan melalui zebra cross. Saat tengah malam seperti ini, jalan terlihat sangat sepi jadi hanya ada kami berdua saat itu. Hingga aku mendengar sesuatu.

Itu dia target. Saatnya menjalankan misi

            Siapa yang berpikir seperti itu? Aku melihat sekeliling tapi tidak ada orang. Aku mulai mendapat perasaan tidak enak. Jantungku berdetak keras, aku merasa akan terjadi sesuatu yang buruk. Saat berjalan di zebra cross, aku lihat dari ujung jalan muncul cahaya yang menyilaukan. Sebuah mobil dengan kecepatan tinggi melaju dengan kencang menuju Luhan yang berjalan didepanku.

Target bersiap-siaplah! Hahahaha!

            Sekarang aku mengerti. Mobil itu ingin menabrak Luhan. Dengan cepat aku berlari mendekatinya dan menarik tangan Luhan. Braaaaaaaaaaaakkkkkkkkk. Aku yang berdiri tepat didepan mobil itu pun tak dapat menghindari tabrakan. Badanku sakit sekali. Aku mendengar Luhan berteriak memanggilku. Tapi aku tidak mampu bergerak. Dengan sisa kekuatan yang ada, aku mencoba membuka mataku. Perlahan aku dapat melihat wajah Luhan yang terlihat sangat panik. Aku mencoba tersenyum untuk membuatnya tenang. Namun sakit yang kurasa semakin parah. Aku merasakan banyak darah yang mengalir ditubuhku. Tiba-tiba gelap. Aku tidak bisa merasakan apapun.

 

-TBC-

Waaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa finnaly part 7 selesai. Sempet bingung mau bikin kayak gimana tapi abis baca komik-komik lama tiba-tiba dapet ide dadakan. Hehehe^^ makasi buat kalian yang masih setia buat baca ff ini. Maaf kalo ada salah L Inget di comment yaa. Keep support!

 

 

           

 

 

 

Iklan

10 pemikiran pada “Ha-Na (Chapter 7)

  1. yakk. ada apa?? apa yang terjadi?? #panic.
    heh. kelar juga part 7-nya. siapa ya yang niat nyelakain luhan?? naeun, uh gg mungkin mreka kan dh jd temen. aaaaa aq senang akhir.a luhan dan ha na dh jadian. yeei. lanjjut thor.

  2. aduuuh..
    ada apa lg ini..
    siapa yg ingin jahatin luhan..
    padahal udah bgs na eun akir nya sadar tuk ngerelain luhan pi knpa ada mslh lg..
    si ha na gag kn knpa2 kn ya thor..
    penasaran, langsung ya thor ^^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s