Invisible Contract (Chapter 1)

INVISIBLE CONTRACT

 

Title                            : Invisible Contract

Author                         : Evilyoung (@yorinjase)

Main Cast                    : Choi Rin Seung (OC)

Oh Sehun

Cast                             : Park Ri Chan (OC)

Park Ri Rin (OC)

Jung Dae Hyun

Choi Jun Hong (ZELO)

Kim Joon Myeon (SUHO)

Other Cast                   : Other member EXO and BAP + Matoki

Choi Jun Hee (JUNIEL)

Orang lewat -,-

Genre                          : Slice of Life, Fantasy, Romance, Mystery (?)

Rating                         : PG 15

Length                         : Chapter

 Invisible Contract

Author’s POV

“Hah!” seru seorang yeoja sambil menghentikan langkahnya

“Kau terkepung! Kau tidak bisa kabur lagi, anak kecil..” ucap seorang namja sambil mengeluarkan pisau lipat dari dalam saku jaketnya. Namja yang lain mengelilingi sang yeoja yang sedang menenangkan dirinya sendiri.

“Mau apa kau?” tanya yeoja itu sambil membalikkan tubuhnya dan menghadap namja yang sedang berjalan pelan mendekati sang yeoja.

“’Mau apa?’ Tentu saja membunuhmu dan membawamu ke hadapan tuan dan nona kami!” jawab namja yang sekarang ada di hadapan yeoja itu

“Aku tidak bertanya padamu.” Ketus yeoja itu dengan tatapan dingin

“Jangan main-main denganku, anak kecil!” gerutu namja itu sambil mengarahkan pisau lipatnya ke leher yeoja itu

Terlihat yeoja itu sedikit memundurkan tubuhnya. Dia melihat pisau lipat yang berkilau karena terkena cahaya bulan. Namja-namja di sekitar yeoja itu langsung menahan tangan dan kaki yeoja itu.

“CK!” kesal yeoja itu sambil memberontak

“Tamat riwayatmu, anak kecil!” seru namja yang memegang pisau lipat itu sambil bergaya akan menusuk tubuh sang yeoja. Yeoja itu menutup kedua matanya.

“Aku terima.. kontrak itu…” bisik yeoja itu

Tiba-tiba, tangan namja yang memegang pisau lipat itu ditahan oleh seorang namja bertubuh tinggi dari belakang.

“Tu.. tuan muda Sehun!” kaget salah satu namja yang memegang tangan yeoja itu

“Tadi kau bilang apa? Mau membunuhnya?” tanya namja yang dipanggil Sehun itu dingin, “Kalian berani juga ya..”

“Apa yang kau lakukan Oh Sehun! Lepaskan aku!” bentak namja yang ditahan oleh Sehun

“Lepaskan aku!” kesal yeoja itu sambil terus memberontak, “Ih!”

Salah satu namja yang menahan tubuh yeoja itu langsung mengeluarkan pistol dari saku bajunya. Dia menahan kedua tangan yeoja itu ke belakang dan mengarahkan mulut pistolnya di kepala yeoja itu. Sedangkan namja yang lainnya bersiap untuk menyerang Sehun.

“Jangan macam-macam dengannya, Oh Sehun! Bergerak sedikit saja, yeoja ini akan mati!” gertak namja yang sudah berkeringat karena panic

“Benarkah? Coba saja kau membunuhnya..” sahut Sehun dingin

“Mwo? Kau! Menyebalkan! Ah!” gerutu yeoja itu sambil menatap Sehun jengkel

“Jangan bicara seperti itu..” ucap Sehun

Keluarlah empat pedang panjang yang terbuat dari angin dari balik tubuh Sehun. Empat pedang itu mengarah pada empat orang namja di dekat yeoja yang sedang menundukkan kepalanya. Dengan cepat, empat pedang itu menancap tubuh namja-namja yang sudah pucat melihat Sehun.

“AKH!” rintih mereka yang sudah ambruk

Tangan yeoja itu terlepas dari cengkraman namja yang memegang pistol. Namja yang masih ditahan oleh Sehun hanya membelalakkan matanya dan mencoba kabur. Sehun melepasnya dan berjalan menuju yeoja yang shock melihat namja-namja di belakangnya yang sudah tidak bergerak lagi dengan darah segar keluar dari tubuh mereka.

Sehun mengambil pistol yang ada di dekat kaki sang yeoja. Lalu Sehun berdiri di hadapan sang yeoja. Yeoja itu menatap Sehun panic. Namja yang masih terdiam langsung berlari menyelamatkan dirinya. Namun, Sehun menembak namja itu tepat di bagian jantungnya. Namja itu langsung terjatuh dan tidak bergerak lagi.

Sang yeoja yang melihat langsung hal tersebut menelan ludahnya. Sehun melempar pistol di tangannya sembarangan. Lalu,  kedua tangan Sehun memegang kedua pipi sang yeoja di hadapannya dan membuat yeoja itu ketakutan.

“Kau sudah menerima kontrak itu bukan?” bisik Sehun dingin. Dia menatap yeoja itu dalam. Sang yeoja bungkam.

“Tidak perlu takut, aku tidak akan membunuhmu..” ucap Sehun sambil tersenyum simpul membuat yeoja itu menghembuskan napas lega

“Jika aku benar-benar menerima kontrak itu, apa yang akan terjadi padaku?” tanya yeoja itu sambil memalingkan pandangannya dari Sehun

“Tidak ada yang berubah. Hanya saja, kekuatan di dalam dirimu menjadi lebih besar..” jawab Sehun dingin

“Itu saja? Lalu, jika aku berkontrak denganmu, apa yang akan kau lakukan padaku?”

“Cukup sulit. Karena jika aku berkontrak denganmu, aku harus mempertaruhkan nyawaku demi menyelamatkanmu dari berbagai ancaman. Tapi.., itu hal yang menarik”

Yeoja itu terdiam. Begitu juga Sehun. Angin berhembus melewati mereka berdua. Malam yang dingin itu terasa sepi.

“Baiklah, aku terima!” seru yeoja itu mantap

Sehun tersenyum dan sedikit menjauhkan dirinya dari yeoja itu, “Mari kita lakukan transaksi, Rinseung..”

Invisible Contract

Invisible Contract adalah kontrak antara manusia dengan makhluk Quess. Kontrak ini bertujuan untuk suatu hal yang sudah disepakati oleh kedua pihak.

 

Cara melakukan Invisible Contract dengan bertransaksi. Ada dua macam transaksi yang harus dipenuhi oleh makhluk Quess. Satu, memberikan sebagian kekuatannya pada sang manusia yang bertransaksi dengannya. Dan dua, menghisap darah sang manusia.

 

Makhluk Quess yang bisa melakukan Invisible Contract hanyalah keturunan kerajaan dunia Quess. Karena yang mempunyai kekuatan hanyalah keluarga dari kerajaan dunia Quess.

 

“Bunuh mereka semua! Jangan sisakan satu orang pun!” seru seorang namja sambil menunjuk ke sebuah desa kecil di bawah sebuah bukit. Orang-orang di belakang namja itu menganggukkan kepala mereka dan berlari menuju desa yang ditunjuk oleh namja itu.

Di sebuah rumah kecil di desa tersebut, seorang namja dan seorang yeoja berlari keluar rumah. Mereka berlari dengan cepat dan bersembunyi di balik sebuah pohon besar yang jauh dari desa tersebut. Mereka melihat ke sebelah timur desa mereka. Terlihat banyak sekali orang-orang berpakaian serba hitam dan merah berlari sambil mengeluarkan pedang mereka dari sarung pedang yang terikat di pinggang mereka. Beberapa masyarakat yang keluar dari rumah mereka langsung berteriak dan berlari memasuki rumah mereka masing-masing. Namun, dalam hitungan menit, desa tersebut telah terbakar.

“Junhong-ah..” lirih yeoja yang tidak kuasa melihat desanya terbakar

“Gwenchanayo Junhee-noona! Kita akan baik-baik saja! Lebih baik sekarang kita mencari Rinseung-ah! Dia pasti ada di sekitar sini! Kajja noona!” seru namja bernama Junhong itu sambil membantu yeoja bernama Junhee di sampingnya untuk berdiri.

Tiba-tiba, datanglah seorang yeoja dan seorang namja menghampiri mereka. Junhee dan Junhong membalikkan badan mereka dan menatap kedua orang di hadapan mereka.

“Eoh! Junhee-eonni! Junhong-oppa! Kenapa kalian di sini? Ayo pu…” perkataan yeoja itu terhenti ketika melihat kobaran api yang sangat besar, “Apa yang… terjadi..?”

Yeoja mungil berambut cokelat bernama Junhee hanya memasang wajah sedih. Dia tampak tidak mengerti apa-apa tentang yang terjadi pada desa yang terbakar itu. Sedangkan namja tinggi berambut biru keabu-abuan (kalau gelap warna rambutnya biru tua) bernama Junhong menatap yeoja yang bertanya itu sendu. Lain halnya dengan namja tinggi berambut cokelat yang berdiri di belakang yeoja yang datang bersamanya melihat ke sekeliling.

“Sepertinya teman-teman 4 namja yang menyerbumu tadi sudah mengetahui keberadaanmu.” Kesimpulan namja itu

Yeoja yang terbilang tinggi, berambut hitam dengan jaket hitam yang melekat di tubuhnya menoleh ke namja itu, “Mwo? Apakah mereka tau wajah dan namaku?”

“Setahuku, hanya aku saja yang mengetahui nama dan wajahmu. Tapi, sepertinya mereka tau namamu dan tau bahwa kau adalah seorang yeoja.”

“Begitu ya.. berarti mudah untuk mencariku. Apa ada cara untuk menghindar dari mereka?”

“Menghindar saja sih bisa. Tapi hanya dalam waktu sebentar saja. Karena, yang ku tau para prajurit yang mencarimu itu terpencar di berbagai daerah.”

“Tunggu!” seru Junhee dengan wajah bingung mendengar pembicaraan kedua orang di hadapannya. Kedua orang itu beserta Junhong menoleh padanya.

“Waeyo eonni?” tanya yeoja itu yang ikut bingung melihat Junhee

“Kenapa Rinseung-ah dicari? Untuk apa? Apa ada hubungannya dengan orang-orang yang menyerang dan membakar desa?” tanya Junhee dengan penuh penasaran

“Noona, apa noona tidak pernah tau tentang appa? Maksudku, appa Rinseung?” tanya Junhong

“Memangnya ada apa dengan appa?” tanya Junhee polos

Junhong melirik ke yeoja berambut hitam bernama Rinseung itu. Rinsueng hanya memalingkan wajahnya. Lalu, Junhong kembali menatap Junhee.

“Appa Rinseung adalah makhluk Quess yang sangat berpengaruh dan kekuatannya sangat diperlukan di dunia Quess. Rinseung mewarisi seluruh kekuatan appa. Kekuatan Rinseung jauh lebih besar dari pada aku yang setengah Quess. Eommaku adalah makhluk Quess tingkat menengah yang mengendalikan magnet dan petir. Aku dapat mengendalikan keduanya. Namun hanya dalam waktu terbatas. Sedangkan Rinseung, dia bisa memakai kekuatannya sesukanya dan selama apa pun sama seperti appa. Namun, aku, Rinseung, bahkan orang-orang di sini tidak tau apa kekuatan Rinseung yang diberikan oleh appa.” Jelas Junhong panjang lebar

Terdengar suara kilat (atau petir?) yang menggema di langit yang gelap. Tak lama, butiran-butiran bening jatuh membasahi bumi. Mereka jatuh dengan sangat cepat dan memadamkan api yang membakar desa.

“Jadi.. aku memiliki saudara yang memiliki darah makhluk Quess? Saudaraku itu makhluk Quess?” kaget Junhee

“Ah.. Junhee-noona. Hanya aku yang setengah Quess. Rinseung benar-benar manusia. Aku juga tidak mengerti kenapa dia bisa jadi manusia biasa. Padahal apaa dan eomma makhluk Quess.” Ucap Junhong

“Sudahlah, jangan membahas itu lagi. Hujan semakin deras. Lebih baik kita mencari tempat untuk berteduh!” kata Rinseung sambil berjalan memasuki hutan

Junhee dan Junhong saling berpandangan. Namja tinggi berambut cokelat hanya memasang ekspresi datar dan mengikuti Rinseung. Lalu, Junhee dan Junhong mengikuti kedua orang itu.

Mereka berhenti di sebuah pohon besar yang rindang. Mereka duduk bersender ke batang pohon yang besar itu. Karena banyak dahan dan daun yang lebat, air hujan tidak mengenai tubuh mereka berempat.

Rinseung duduk di samping eonninya, Junhee. Sedangkan dua namja yang bersama mereka duduk agak berjauhan. Rinseung melihat tubuh eonninya yang hampir basah kuyup. Segera Rinseung melepas jaket hitamnya yang entah kenapa tidak terkena air hujan walaupun rambutnya basah karena hujan-hujanan. Dia memberikan jaketnya pada Junhee. Junhee langsung menoleh pada Rinseung.

“Eonni pakai jaketku! Kalau tidak, eonni bisa sakit!” ucap Rinseung

“Bagaimana denganmu? Eonni juga tidak mau kau sakit!” seru Junhee

“Tenang saja. Yang penting eonni tidak sakit! Kalau aku yang sakit, kan eonni yang merawatku! Hehe..”

“Aih kau ini!”

“Sudah eonni pakai saja!”

Rinseung menaruh jaketnya di atas kedua tangan Junhee. Terpaksa yeoja mungil itu menerima jaket pemberian dongsaengnya itu. Junhee pun memakai jaket hitam yang kebesaran di tubuhnya itu.

Namja berambut cokelat yang memerhatikan Rinseung langsung melepas jaket yang dikenakannya dan melemparnya ke Rinseung. Jaket itu tepat mengenai wajah Rinseung. Membuat sang empunya wajah menatap kesal sang empunya jaket.

“Apa yang kau lakukan Oh Sehun?!” gerutu Rinseung sambil memegang jaket namja yang dipanggil Sehun itu

“Pakai jaket itu. Kau tak boleh sakit, babo!” ucapnya dingin dan tanpa ekspresi

“Yak!  Jangan panggil aku ‘babo’!!”

Junhong yang sedari tadi mencoba membuat api unggun pun masih fokus dengan ranting-ranting di hadapannya. Junhee yang melihat pertengkaran dongsaengnya dengan namja yang datang bersama Rinseung itu hanya tersenyum. Junhong menunjuk ranting-ranting yang bertumpukan di hadapannya. Lalu, dia mengeluarkan petir (atau listrik?) dari tangannya dan membuat ranting-ranting di hadapannya terbakar. Dia tersenyum lega dan segera duduk di samping Rinseung.

“Yak! Jangan berisik!” ucap Junhong sambil mencubit kedua pipi hoobaenya sekilas dan membuat Rinseung berhenti berbicara. Yeoja itu mengelus kedua pipinya.

“Oh ya, kita belum berkenalan, kan? Naneun Choi Jun Hong imnida. Teman-temanku memanggilku Zelo.” Kata Junhong sambil tersenyum memperkenalkan dirinya pada Sehun

“Annyeonghaseo. Naneun Oh Sehun imnida.” Sahut Sehun sambil tersenyum simpul

“Annyeong Sehun-ah! Naneun Choi Jun Hee imnida. Panggil aku Junhee. Tapi teman-temanku memanggilku Juniel. Apa hubunganmu dengan Rinseung-ah?” tanya Junhee tiba-tiba membuat Rinseung dan Sehun bingung

“Maksud eonni apa?” tanya Rinseung

“Hubungan kalian. Apakah hanya teman, atau kalian pacaran, atau..”

“Yak! Kami tidak mungkin pacaran! Berteman saja tidak!” bantah Rinseung sambil memakai jaket pemberian Sehun

“Jinjja? Aih.. sayang sekali..” kecewa Junhee

“Hubungan kami adalah Invisible Contract.” Jawab Sehun dingin

Junhong yang tadinya diam saja langsung menatap Sehun. Namja itu melihat namja yang sedang mengelus lehernya dengan tangan kanannya. Dengan cepat Junhong menoleh pada Rinseung yang tepat berada di samping kanannya.

“Rinseung-ah!” panggil Junhong

“Ne?” sahut Rinseung sambil menengok ke oppanya. Junhong langsung melihat leher Rinseung. Terlihat ada bekas luka gigitan di leher dongsaengnya. Rinseung hanya menatap Junhong bingung.

“Waeyo?” tanya Rinseung

“Kapan kau bertransaksi dengannya?” tanya Junhong serius

“Sekitar 10 menit yang lalu..” sahut Sehun yang ternyata mendengar pertanyaan Junhong. Junhong dan Rinseung melihat ke Sehun. Junhee yang tidak mengerti dengan pembicaraan mereka hanya memandang mereka bingung.

“Em.. apa itu Invisible Contract?” tanya Junhee polos

Kedua dongsaeng yeoja mungil itu menoleh padanya. Junhee memasang wajah ingin tau.

“Banyak hal yang belum eonni ketahui ya?” kata Rinseung membuat eonninya itu semakin bingung, “Invisible Contract itu adalah kontrak yang dilakukan oleh manusia dan makhluk Quess. Tujuannya.. tergantung kedua pihak..”

“Lalu.. transaksi yang Junhong-ah bilang itu seperti apa?” tanya Junhee lagi

“Ah..” sahut Rinseung sambil memalingkan pandangannya dari eonninya yang masih penasaran

“Transaksinya dengan cara memberikan setengah kekuatan ke manusia tersebut dan menghisap darah sang manusia.” Jawab Junhong sambil memandang Sehun tajam

“Mwo? Menghisap darah? Berarti Sehun-ah menghisap darah Rinseung-ah?” kaget Junhee

“Ya.. begitulah..” ucap Rinseung sambil memeluk kedua lututnya

“Lebih baik sekarang tidur. Sepertinya tempat ini aman untuk bersembunyi dari orang-orang itu. Besok pagi, kita pergi dari sini.” Kata Junhong sambil membenarkan posisi duduknya

“Ne..” sahut Rinseung dan Junhee bersamaan

Hujan berhenti. Langit mulai menampakkan cahaya bulan dan bintangnya lagi. Rinseung membuka kedua matanya. Yeoja itu melihat ke kanan dan kirinya. Terlihat eonni dan oppanya masih terlelap. Pandangannya mengarah pada Sehun yang memandang langit. Rinseung bangkit dari duduknya dan berjalan sempoyongan sambil memegang kepalanya ke sebuah batang pohon. Sehun yang menyadari itu langsung memerhatikannya. Rinseung berjongkok di depan batang tersebut.

“Keluarlah.. jangan bersembunyi..” ucap Rinseung

Sehun hanya memandang yeoja itu heran. Tiba-tiba, keluarlah sebuah boneka berbentuk kelinci berwarna hitam dengan masker berwarna biru dan ada sebuah ujung kunci yang biasanya bisa diputar untuk menggerakkan mainan di puncak kepalanya. Boneka itu terlihat ketakutan melihat Rinseung. Rinseung mengulurkan tengan kanannya kepada boneka itu.

“Kemari..” ajak Rinseung

Boneka itu memegang tangan kanan Rinseung. Rinseung sedikit terhenyak. Yeoja itu langsung menggendong boneka itu dan membawanya ke dekat api unggun.

“Nah, hangatkan tubuhmu di sini! Jangan sentuh apinya, ya! Nanti kau bisa terbakar!” ucap Rinseung pada boneka itu sambil menaruh boneka itu

“Itu.. apa?” tanya Sehun bingung

Rinseung duduk di belakang Sehun sambil menghadap ke api unggun. Sehun mengubah arah duduknya dan mengikuti Rinseung. Namja itu melihat ke Rinseung yang menatap boneka itu dengan mata sayunya.

“Dia Matoki. Kata appa, Matoki adalah makhluk luar angkasa yang datang ke Bumi karena mencari pemilik mereka. Appa bilang padaku, kalau Matoki yang datang ke Bumi hanya ada 6 saja. Matoki bisa masuk ke dunia Quess dengan mudah. Dan begitu juga dengan keluar dari dunia Quess. Mereka tidak menjadi masalah dalam keseimbangan dunia manusia dan dunia Quess.” Jawab Rinseung

“Hanseung-ssi tau apa saja ya. Dia orang yang hebat.” Puji Sehun

“Ya.. dia appa yang hebat dan baik.” Sambung Rinseung

Boneka berbentuk kelinci berwarna hitam itu menoleh ke dua orang yang sedang tertidur. Rinseung melirik ke eonni dan oppanya. Rinseung mengedipkan kedua matanya. Lalu, tersenyum simpul pada boneka yang disebut Matoki itu. Seakan Rinseung mengerti apa maksud Matoki.

“Apa pemilikmu itu Junhong-oppa?” tanya Rinseung membuat sang Matoki menoleh padanya. Matoki itu menganggukkan kepalanya mantap. Rinseung langsung menghampiri Matoki itu dan kembali berjongkok di hadapan Matoki.

“Jinjja? Siapa namamu?” tanya Rinseung

“Toto! Totomato!” jawab Matoki itu

“Aih! Kau imut sekali!” saru Rinseung sambil mengelus kedua pipi Matoki yang bernama Totomato itu

“Gamsahabnida~” sahut Totomato

“Bangunkan Junhong-oppa! Aku yakin ketika dia melihatmu, dia mengetahui tentang kamu. Kajja!”

Totomato kembali menganggukkan kepalanya mantap. Matoki itu langsung berlari ke Junhong yang masih tidur. Lalu, Totomato naik ke atas tubuh Junhong dan menepuk pipi Junhong pelan.

“Ng!” seru Junhong sambil membuka kedua matanya. Namja itu menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Lalu, dia melihat Matoki yang menatapnya polos. Lama pandangan mereka bertemu. Akhirnya, Junhong membulatkan bola matanya.

“Totomato!” serunya sambil memeluk Matoki di atas tubuhnya itu

Rinseung yang melihat mereka hanya terkekeh. Sedangkan Sehun hanya memandang mereka heran.

“Bagaimana bisa Totomato tau kalau Junhong itu pemiliknya?” tanya Sehun bingung

“Aku juga tidak mengerti. Tentang pemilik Matoki mengetahui tentang Matokinya itu juga aku tidak mengerti. Appa tidak pernah memberitahukannya padaku.” Jawab Rinseung

“Ya! Choi Rin Seung! Dia pasti ada di sekitar sini! Kita berpencar saja!”

Rinseung terdiam. Sehun melirik ke arahnya, “Waeyo? Apa kau merasakan sesuatu?”

“Baiklah. Dengar, kalian harus membawanya dalam keadaan hidup. Jika mati, kekuatannya akan berkurang. Yeoja itu harus segera dibawa untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya dengan memberikan kekuatannya pada yang mulia!”

“Rinseung?” tanya Sehun dengan wajah bingung

“Ne! Ayo cepat kita berpencar!”

Rinseung tetap terdiam. Tatapan matanya kosong. Sehun yang tidak mengerti apapun langsung mengguncang tubuh sang yeoja itu. Junhong dan Totomato yang menyadari itu langsung memandangi mereka.

“Rinseung-ah..”

Rinseung’s POV

Aku melebarkan pandanganku. Ah.. dimana ini? Aku mencoba menggerakkan kedua tanganku tapi tak bisa. Tunggu! Kenapa tangan dan kakiku diikat? Ruangan apa ini? Kenapa hanya ada handycam yang terletak tak jauh dariku. Ruangan yang bercet putih ini hanya diterangi satu lampu yang berada di tengah langit-langit ruangan ini. Sekarang aku berdiri dengan keadaan tangan dan kaki yang terikat. Ada sebuah em.. tembok di belakangku. Dan tangan kakiku terikat dengan tembok itu. Aku merasakan ada yang aneh dengan leherku. Ya.. leherku juga diikat ke tembok itu (dapat ide dari komik death note).

“Kau sudah sadar?” tanya seseorang yang entah sejak kapan ada di hadapanku

“Kamu siapa?” tanyaku balik

“Namaku Kim Jong In. Panggil saja Kai.” Jawabnya dengan wajah malas

“Dimana ini?” tanyaku lagi

“Di penjara..” jawab seorang namja yang tiba-tiba keluar dari balik tubuh Kai

Aku mengernyitkan keningku, “Penjara? Kenapa aku dipenjara? Memangnya aku salah apa?”

Namja yang memiliki mata yang cantik itu langsung mendekatiku dengan memasang wajah datar. Kalau dilihat sekilas, wajahnya mirip Sehun. Tapi tubuhnya lebih kecil dari Sehun. Namja yang sekarang sudah menggantikan posisi Kai langsung menoleh pada Kai. Namja berkulit agak cokelat itu langsung menganggukkan kepalanya. Sedetik kemudian, dia menghilang. Aku hanya terheran-heran dengan apa yang barusan ku lihat.

“Jadi..” ucapnya yang menyadarkanku dari keherananku. Aku menatapnya. Dia menatapku balik.

“Apa?” tanyaku sewot

“Jadi kau Choi Rin Seung?” tanyanya memulai pembicaraan

“Ne. Waeyo? Kau mau membawaku ke seseorang untuk mengambil kekuatanku? Huh?”

“Ani. Untuk apa aku mengambil kekuatanmu. Lagi pula aku punya kekuatanku sendiri.”

“Kau makhluk Quess?”

“Nee..”

“Oh.. pantas saja. Aku merasakan aura aneh darimu.”

Namja di hadapanku itu langsung terkekeh. Aku hanya menatapnya aneh. Tak lama, dia melangkah mendekat padaku. Aku pun menelan ludahku.

“Hey, ayo tunjukkan kekuatanmu..” katanya sambil mendekatkan wajahnya

“M.. Mwo? Aku tidak tau apa kekuatanku!” seruku sambil memalingkan pandanganku

“Hem..?!” sahutnya dengan nada merayu. Yak! Apa-apaan namja ini! Gerutuku dalam hati. Tiba-tiba, aku merasakan ada sesuatu yang menyentuh leherku. Namja di hadapanku mendekatkan lagi wajahnya dari wajahku. Terasa hembusan napasnya menerpa wajahku.

“Rinseung-ah!”

Aku memejamkan kedua mataku. Sekarang aku mulai merasa ada yang menggoreskan sesuatu di bahuku.

“Ayo cepat tunjukkan..”

FLASHBACK

“konsentrasilah dan pikirkan apa yang akan terjadi pada lawanmu.”

“Maksud appa?”

“Coba kamu kamu konsentrasi dan pecahkan gelas ini”

“Eh?”

Aku melihat ke gelas yang sedang dipegang oleh apaaku. Aku berkonsentrasi. Pecah! Seruku dalam hati. Dan sedetik kemudian, gelas yang kutatap itupun pecah menjadi serpihan-serpihan kecil yang jatuh ke bawah dekat kaki appaku. Aku terkejut dengan apa yang barusan aku lihat. Appa hanya tersenyum dan berkata, “Itu adalah pengembangan kekuatan telekinesis. Itu yang Appa maksud.”

FLASHBACK END

Ku buka kedua  mataku dan menatap namja yang.. apa kau tau? Dia mencium hidungku!

“Apa yang kau lakuakn?” kesalku

“Eh? Tidak boleh?” tanyanya sambil memasang wajah kecewa

Apa-apaan namja ini? Lupakan! Sekarang, namja ini harus melepasaku! Kataku dalam hati sambil berkonsentrasi. Lepaskan aku!

“Hem.?” Ucapnya sambil tersenyum

Lama aku menunggu gerak-geriknya untuk melepasku. Namun tidak ada yang terjadi padanya. Apa tidak mempan padanya? Atau dia menggunakan kekuatannya? Apa kekuatannya?

 

To Be Continue…

Iklan

13 pemikiran pada “Invisible Contract (Chapter 1)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s