Love Guarantee (Chapter 2)

Love Guarantee (Chapter 2)

Author : RahmTalks

Genre  : Romance, Friendship, Sad

Length : Chapter | Status : On going

Rating  : PG-16

Main Casts : Choi Nayoung | Byun Baekhyun | Do Kyungsoo | Park Kyura

Support Casts : EXO-K members, etc

 love-guarantee-

===

The greatest feeling you ever had is when you fall in love with somebody else.

===

 

Kyura’s POV

Begitu aku sampai di bawah, Kyungsoo sudah berada di tempat parkir dan ia bersandar pada mobilnya yang jarang sekali ia perlihatkan di depan publik. Ia lebih sering naik taksi, bus, atau menumpang Baekhyun.

“Merasa lelah?” tanyanya.

“Harusnya aku yang berkata begitu. Ngomong-ngomong, apa kau sudah makan malam?” Ia menggeleng. “Apa kau mau menemaniku makan malam?” tawarnya.

“Em… Sebagai gantinya, apa kau mau mengantarku sampai ke rumah?”

“Ok. Deal.”

“Deal.” Kami berjabat tangan.

===

Kyungsoo’s POV

Sejak aku datang aku merasakan hal yang aneh padanya. Mengapa ia tidak marah? Padahal jelas-jelas aku pasti mengecewakannya dan malah memperkeruh suasana dengan mengingatkannya pada kenangan suramnya. Setelah memberiku tissue ia diam, padahal biasanya selalu lebih dulu berbicara. Jadi kusimpulkan, sebenarnya dia marah padaku namun tak mau mengungkapkannya. Aish jinjja. Girls are so complicated.

“Apa kau juga ingin makan?” tanyaku padanya yang sejak tadi terus melihatku makan.

“Ani. Aku sudah makan tadi saat kakiku ditumbuhi semak belukar karena terlalu lama menunggumu.”

“Aku sudah minta maaf. Jangan mengusik masalah itu lagi.”

“Arraseo.” Kemudian dia menikmati hot chocolatenya sambil melipat tissue-tissue yang ada di meja layaknya origami. Diam-diam aku tersenyum melihat tingkahnya yang seperti anak kecil. Entah mengapa aku ingin sekali menggodanya saat ini juga.

“Apa kau belum pernah kesini?”

“Aku bahkan baru tahu kalau disini ada restoran.”

“Disini untuk setiap tissue yang kau gunakan, harus membayar. Lihatlah, Aigoo… Berapa tissue yang kau habiskan?”

“Jinjja? Jangan bohong padaku. Kau tidak pandai berbohong, aku tahu itu.” Dia menatapku santai dan melanjutkan melipat-lipat tissue.

“Jadi kau tidak percaya? Baik aku sudah memperingatkanmu. Jika nanti pelayan datang dan memintamu membayar, aku tidak akan menolong jika ternyata harganya lima kali lipat dari menu yang kupesan.”

“Tapi… Tapi ini tissue biasa. Mana mungkin…” Dia mengernyitkan alis. Aku mengendikkan bahu dan makan lagi.

Aku mendongak kembali menatapnya dan apa yang kulihat tak seperti yang kubayangkan. “Selesai.” Katanya bangga. Ia baru saja membongkar semua origaminya dan mengembalikan tissue yang sudah terlipat-lipat itu kembali ke tempat semula.

“Apa yang kau lakukan?”

“Aku tidak mau rugi mengeluarkan uang hanya untuk melipat-lipat tissue.”

“Kupikir kemampuan actingku kini semakin baik. Kau kira yang barusan serius?”

“Ya! Kau!!” Dia memasang muka menyeramkan, siap untuk menghabisiku.

“Stop! Jangan menyerangku sekarang. Aku bisa tersedak sampai mati.” Kemudian dia menggerutu sendiri dan ia terlihat sangat lucu di mataku. Aish, apa yang kau lakukan Kyura! Kenapa kau tidak pernah memberikan waktu bagi jantungku untuk merelaksasikan diri.

===

Author’s POV

“Ini sudah sangat larut. Apa tidak apa-apa kau keluar sampai malam begini?” tanya Kyungsoo yang sedari tadi menunggu Kyura berhenti mengomel.

“Gwaenchana. Apa kau lupa alasan aku mengajak kalian jalan-jalan adalah karena aku bosan sendirian di rumah? Orang tuaku sedang mengunjungi harabeoji yang sedang sakit.”

“Oh.” Tidak ada sahutan lagi setelah itu.

“Gomawo Kyungsoo-ya. Apa kau tidak mampir dulu?” Ujar Kyura setelah turun dari mobil.

“Sudah terlalu larut. Kau benar-benar sendirian di rumah?” Tanya Kyungsoo yang dijawab dengan anggukan singkat dari Kyura.

“Kau yakin kau berani? Apa perlu kuantar ke rumah Junghee, kau bisa menginap disana untuk sementara. Aku yakin dia tidak akan keberatan.”

“Tidak perlu, aku sudah biasa sendirian. Sekali lagi gomawo. Hati-hati di jalan.” Kyura melambaikan tangan sambil berbalik masuk ke dalam rumahnya. Kyungsoo menutup kaca jendelanya dan menyalakan mesinnya namun ia masih belum menginjak gas, ia menunggu sampai Kyura benar-benar sudah masuk ke dalam rumah dan mengunci pintunnya. Ia benar-benar ingin memastikan bahwa Kyura aman.

Ia mulai mengegas mobilnya namun tiba-tiba lampu jalanan yang berada tepat di depan mobilnya mati, semua rumah yang ada di kompleks itu tiba-tiba mati. Kemudian terdengar teriakan dari dalam rumah Kyura. Tanpa pikir panjang Kyungsoo menghambur keluar dan masuk ke dalam rumah Kyura. Yang ada di dalam kepalanya hanyalah mengeluarkan Kyura dari kegelapan karena Kyura phobia terhadap gelap.

Ia mencari-cari sosok Kyura dan ia mendengar suara isakan dari bawah meja. Tubuh Kyura menggigil dan keringat dingin mulai membasahi tubuhnya. Kyungsoo menarik sosok itu dan memeluknya.

“Tenang. Aku ada disini.”

Kyura mengeratkan pelukannya -merasa aman karena setidaknya ada orang yang melindunginya.

“Sudahlah, jangan menangis lagi. Aku disini, semua akan baik-baik saja.” Ia mengelus rambut Kyura dan menariknya untuk berdiri dan berpindah ke sofa.

“Akan kuambilkan lilin.” Kata Kyungsoo namun Kyura menggeleng. Ia terlalu takut untuk ditinggal sendirian dalam kegelapan bahkan hanya untuk sementara. Kyura tak menjawab apapun, melalui tindakannya  yang semakin mengeratkan pelukannya membuat Kyungsoo memahami bahwa ia harus terus berada di sisinya paling tidak hingga lampu menyala. Ia mengelus punggung dan kepala Kyura hingga tanpa disadari Kyura tertidur dalam pelukannya.

“Aku akan selalu disini menjagamu.” Kyungsoo berbisik dan menempelkan dagunya di puncak kepala Kyura.

Kyungsoo terbangun dari tidurnya dan matanya langsung diserang dengan cahaya lampu yang amat terang. Kemudian ia menajamkan penglihatannya dan melihat Kyura masih tertidur pulas bersandar pada dadanya. Ia membenarkan posisi kepala Kyura dan menidurkannya di sofa. Diambilnya selimut dari kamar Kyura dan menyelimutkannya. Ia tak ingin mengganggu tidur Kyura karena jam masih menunjukkan pukul 2 dini hari. Sementara dirinya, ia mengambil karpet juga bantal untuk tidur di lantai tepat di bawah Kyura.

Keesokan paginya Kyura bangun lebih dulu dan Kyungsoo juga terbangun karena merasakan pergerakan benda di sebelahnya. Teringat kejadian semalam membuat keduanya menjadi canggung.

“Terima kasih untuk semalam.” Kyura berkata sambil menunduk.

“Ne. Cheonma.” Kyungsoo tersenyum.

“Mengapa kau tidak tidur saja di kamar? Di bawah pasti sangat dingin.”

“Tak apa. Aku sudah biasa.” Kyura menempelkan telapak tangannya pada lengan Kyungsoo dan mendapati tubuh Kyungsoo sangat dingin. Bagaimana bisa dia bilang sudah biasa.

“Ini pakailah. Akan ku masakkan sesuatu untuk sarapan.” Kyura memberikan selimutnya pada Kyungsoo dan pergi ke dapur. Kyungsoo menunggu sambil menonton televisi. Setelah lama menunggu ia merasa amat bosan. Ia melipat selimut dan meletakkannya kemudian menuju ke dapur untuk mengambil minuman dan ketika ia tiba, Kyura sudah menuntaskan acara memasaknya.

“Hanya ini bahan makanan yang kupunya. Kuharap kau mau memakannya.” Kyura tersenyum sambil menyodorkan piring berisi roti bakar dan telur goreng. Kyungsoo tidak menjawab melainkan langsung memakannya dan matanya menggesturkan Kyura untuk ikut makan.

Tak ada suara manusia yang mengiringi acara makan mereka. Keduanya diam sambil secara diam-diam mencuri pandang satu sama lain. Hingga saat mata keduanya bertemu, mereka saling menatap untuk sekian detik. Menikmati seluruh waktu yang berharga berharap momen ini tak pernah berakhir. Namun Kyura menyadari lebih dulu dan segera mengalihkan pandangannya agar Kyungsoo tak menyadari perubahan warna pada wajahnya.

Keduanya menoleh pada arah yang sama ketika mendengar suara ringtone handphone dari ruang tamu. Kyungsoo beranjak dan mengangkat telfonnya, “Yeobseyo?”

“Ya! Kyungsoo-ya! Kenapa kau tidak membukakan pagar rumahmu? Cepat buka sekarang atau aku akan meninggalkanmu sekarang dan lupakan masalah kamera itu!”

“Mwo? Kau didepan rumahku?”

“Tidak, aku di kebun binatang! Cepat bukakan! Aku seperti orang gila menunggumu disini sambil berteriak-teriak memanggil namamu. Apa sekarang kau mulai tuli, hah?” Kyungsoo menghela nafas, paling tidak Baekhyun tidak (belum) mengetahui keberadaan Nayoung dalam rumahnya.

“Aku tidak sedang di rumah. Aku di… Aku di rumah Kyura.” Kyungsoo menelan ludah.

“Mwo? Jadi kalian melakukan pesta tanpa aku ya? Baik, aku terima itu.”

“Mianhae. Kau bisa langsung ke rumah Sehun, nanti aku menyusul.”

“Arraseo. Tapi ngomong-ngomong, apa yang kalian lakukan semalam?” Nada Baekhyun kini berubah menjadi jahil.

“Apa maksudmu?”

“Aku tahu kau akan menjawab itu. It’s just something easy to be guessed. I think I smell something fishy.”

“Apa yang kau bicarakan, aku tidak sedang menggoreng ikan! Sudahlah cepat pergi dari depan rumahku.”

“Hahaha. Ne.” Kyungsoo lebih dulu mengakhiri panggilannya.

“Jika kau berada di rumah Kyura, lalu siapa yang kulihat dari balik tirai jendela kamarmu? Apa yang kau sembunyikan dariku, Kyungsoo? Kuharap semua baik-baik saja disini.” Baekhyun menampilkan seringainya, kemudian berbalik menuju mobil dan segera melesat.

“Hampir saja. Kenapa dia belum juga pulang? Semalam ia kelihatan panik sekali, aku jadi khawatir. Mudah-mudahan ia baik-baik saja.” Nayoung bersandar di tembok dekat jendela kamar Kyungsoo. Hanya jendela itu yang sekiranya dapat menyembunyikan orang yang sedang mengintip dari dalam, karena berada tepat di samping pohon dan tempatnya lumayan jauh dari bagian tengah pagar.

“Tapi namja tadi, aku seperti familiar dengan suaranya saat ia tertawa. Apa aku pernah bertemu dengannya? Aish! Suara setiap orang bisa saja sama.” Dia memukul kepalanya sendiri dan setelah itu ia mulai mengerjakan pekerjaan yang memang seharusnya ia lakukan sebagai pembantu.

Sedang asik mengepel sambil bersenandung, seseorang membuka pintu. Nayoung menoleh dan matanya melebar begitu Kyungsoo langsung berlari menghampirinya.

“Baekhyun tidak melihatmu kan?” Nayoung menggeleng cepat.

“Bagus.” Kyungsoo tersenyum puas dan tiduran di sofa.

“Ah… Ini nyaman sekali.”

“Kau nampak lelah, dari mana saja semalam?”

Kyungsoo hanya menatap Nayoung tanpa ekspresi dan tanpa memberi jawaban. Nayoung segera menunduk menyadari arti tatapan itu. Memang tidak seharusnya ia mencampuri urusan majikannya, namun apa tidak boleh jika ia merasa khawatir?

“Nayoung-ssi, nanti malam kau tak usah membuatkanku makanan. Aku akan menginap di rumah temanku. Dan, apakah kau mempunyai ponsel?”

“Ya.” Nayoung mengambil ponselnya di tas dan menyerahkannya pada Kyungsoo.

“Ini. Hubungi aku apabila ada sesuatu terjadi di sini. Apabila ada orang asing maka jangan sekali-kali kau membukakan pintu. Buat seolah-olah tak ada orang di rumah. Apabila kau butuh sesuatu kau hanya perlu menghubungiku dan aku akan membelikannya untukmu. Arraseo?” Kata Kyungsoo dengan wajah serius.

Nayoung diam untuk sesaat, “Mengapa kau sangat menutupi keberadaanku? Aku juga butuh bersosialisasi.”

“Tapi kau akan mengancam reputasiku sebagai namja baik-baik jika ada orang lain tahu kau tinggal serumah denganku.” Kyungsoo berbicara dengan tenang.

“Tapi aku bekerja padamu.”

“Kau bahkan terlihat seumuran denganku jadi mana mungkin mereka percaya.”

“Kenapa kau hanya memikirkan dirimu sendiri? Aku juga memiliki kehidupan. Aku tak bisa terus-terusan dikurung disini.”

“Aku tidak bertanggung jawab terhadap kehidupanmu karena kau sendiri yang bersedia masuk dalam teritorialku. Jadi mau tidak mau kau harus mengikuti apa mauku. Jika kau tak suka, kau boleh pergi sekarang juga.” Kini nada bicara Kyungsoo berubah menjadi tegas kemudian ia bangkit dan duduk.

“Arraseo.” Akhirnya Nayoung hanya bisa pasrah dan mengalah mengingat Kyungsoo adalah orang yang menolong dirinya. Meskipun saat ini ia amat sangat menyebalkan.

“Bangunkan aku satu jam lagi. Aku butuh mengistirahatkan mata sejenak.” Kata Kyungsoo kembali ke posisi berbaring.

“Apa sejak dulu kau terbiasa tidak makan selama dua hari berturut-turut?” Ia berkata sarkastik karena sejak kemarin, seolah sia-sia saja ia memasak.

“Tadi aku sudah makan.” Jawabnya sambil memejamkan mata.

“Kurasa aku harus menghabiskan semua makanan ini sendirian lagi. Bisa-bisa aku bertambah gemuk hanya dengan tinggal seminggu di sini.” Gerutu Nayoung.

“Kau tidak ke universitas?” Nayoung berusaha mengagetkan Kyungsoo dengan kata-katanya namun sayangnya, responnya tidak seperti yang ia harapkan.

Kyungsoo. Tidak. Menggubris. Perkataan. Nayoung.

Setelah semua lantai tuntas ia bersihkan, ia menuju gudang karena kesan pertama yang ia dapat dari gudang itu tidak lain adalah, tempat penyimpanan benda dengan debu setebal 1 cm. Baru tiga langkah masuk kesana kakinya merasa lemas, darahnya seolah tak mampu mengalir dengan normal, kemudian ia berteriak dengan kencang membuat Kyungsoo yang sebenarnya tak ingin tidurnya terganggu menjadi kaget dan ia pun jatuh ke lantai.

“Aw… Punggungku. Aigoo!! Dia kenapa?” Dengan langkah berat karena punggungnya sakit dan mata yang kini terbuka lebar Kyungsoo menuju sumber suara.

“Hei! Ada apa?” Kyungsoo panik Nayoung langsung berlari berlindung di belakang punggung Kyungsoo.

“Itu… Itu…” Nayoung menunjuk sesuatu yang random.

“Wae?”

“Tikus.” Nayoung berujar pelan.

Kyungsoo berbalik dan menatap datar gadis di hadapannya. Kemudian ia mengambil koran bekas di sebelahnya dan memukul kepala gadis itu.

“Appo! Kenapa kau memukulku?”

“Kau berteriak hanya untuk membuatku bangun tidur dengan kondisi mengenaskan dan alasanmu berteriak adalah karena melihat satu hewan pengerat! Sebenarnya apa yang ada dalam otakmu!” Kyungsoo berjalan dengan perasaan marah keluar dari gudang.

“Mi… Mianhae. Aku benar-benar takut. Tikus itu menjijikkan.” Kemudian Nayoung mengikuti jejak Kyungsoo. “Apa suaraku terlalu mengagetkanmu tadi? Jadi kau terjatuh? Bagian mana yang sakit? Apa…”

BLAM

Kyungsoo membanting pintunya tepat di depan wajah Nayoung. Nayoung mengedipkan mata beberapa kali, ia tidak menyangka bahwa dirinya membuat Kyungsoo semarah ini. Ia menyesal, ia merasa bahwa keberadaannya disini hanya mengacaukan hidup Kyungsoo yang nampaknya sangat tenang dan damai. Namun ia bisa apa lagi, ia tak mungkin berkeliaran di dunia luar yang asing baginya sedangkan ia sudah dipertemukan dengan orang baik yang rela menolongnya.

Setengah jam kemudian Kyungsoo keluar dari kamarnya sambil membawa ransel.

“Kyungsoo-ssi, aku minta maaf.” Perkataan Nayoung tidak dihiraukan oleh Kyungsoo, ia berjalan keluar rumah dengan memasang tatapan datar seolah tak ada orang lain di sekitarnya.

Eothokke? Mengapa aku seperti menjadi benalu di kehidupannya. Ia menolongku namun aku tak memberikan balasan yang baik tapi malah menyusahkannya. Batin Nayoung.

Malam hari ia merasa gelisah, ia tak bisa tidur. Masih ia ingat perkataan Kyungsoo pagi harinya, bahwa ia akan menginap di rumah temannya. Itu tandanya kemungkinan Kyungsoo sudah tidak mengingat masalah pagi tadi yang membuatnya kesal. Namun perasaan bersalah selalu menghantuinya, ia tak akan merasa tenang jika belum mendengar penerimaan maaf dari Kyungsoo. Ia menatap ponselnya berniat menelpon Kyungsoo, namun ia urungkan karena takut. Gerakan yang sama masih ia lakukan hingga setengah jam berlalu.

“Mungkin sekarang ia sudah tidur, jadi sebaiknya kuhubungi besok saja. Iya kan?” katanya. Ia mencoba untuk tidur, namun hatinya menyangkal apa yang barusan ia katakan. Matanya tak akan bisa tertutup sebelum hatinya benar-benar lega. Pada akhirnya ia berhadapan dengan layar ponselnya, dimana nama Kyungsoo beserta nomor telponnya sudah tertera disana, siap untuk ditelfon.

Setelah menunggu dan beberapa kali menelfon, akhirnya diangkat juga oleh seseorang di ujung sana. “Kyungsoo-ssi, ini aku Nayoung. Mungkin aku hanya menjadi benalu di kehidupanmu. Aku benar-benar minta maaf atas perlakuanku yang membuatmu marah. Kau mau memaafkanku kan?” Namun orang yang mengangkat telfon itu hanya diam.

“Kyungsoo-ssi, tolong beri aku kesempatan lagi. Aku jamin aku tidak akan berbuat macam-macam lagi dan membuatmu marah. Jadi jangan usir aku, ne?”

“Ha?” Nayoung menganggap jawaban itu sebagai pengganti ‘Ya.’

“Kurasa hanya itu yang perlu kuucapkan. Terima kasih dan selamat malam.” Nayoung mengakhiri panggilannya dan tersenyum puas. Akhirnya ia bisa tidur dengan tenang malam ini.

Namun tidak begitu bagi orang di seberang telefon. Keheningan dan kebingungan menyelimuti dirinya. Ia mencium keganjilan disini.

‘Siapa Nayoung? Apa hubungannya dengan Kyungsoo? Jadi ada seorang yeoja tinggal di rumah Kyungsoo saat ini dan Kyungsoo tak mengatakan apapun padaku. Baik, ini terdengar aneh. Ada sesuatu yang harus kucari tahu.’ Baekhyun menaruh ponsel Kyungsoo di tempat semula dan berbalik menatap para sahabatnya yang kini tertidur di depan TV.

“Apa dia alasan mengapa punggungmu sakit pagi ini?” Baekhyun mengangkat salah satu sudut bibirnya. Kemudian ia ikut berbaring di sebelah teman-temannya. Pikirannya menerawang jauh ke depan hingga tak menyadari bahwa ia sudah mulai masuk ke alam mimpi.

===

Satu minggu kemudian

Kyungsoo sedang menikmati acara TV di depannya sedangkan Nayoung duduk agak jauh darinya, ikut menonton TV namun kali ini dia jauh lebih pendiam dari hari-hari sebelumnya. Tidak ada percakapan diantara keduanya sejak TV itu menyala dan sebenarnya tidak pernah ada percakapan yang berarti diantara keduanya. Kaku, pendek, dan membosankan, itulah hal yang sangat mewakili setiap percakapan mereka.

“Yeobseyo?” Nayoung menoleh pada Kyungsoo yang kini menempelkan sebuah benda pipih kotak di telinganya.

“Ne. Wae?”

“Mwo? Andwae! Kenapa kau tiba-tiba kalian menginap disini?”

“Kalian bahkan tidak meminta persetujuanku. Sehun, bukankah apartemenmu lebih besar dari rumahku yang mungil ini?”

“Hei! Tunggu! Kal…”

TUT TUT TUT

Sambungan telfon terputus. Wajah Kyungsoo menjadi gelisah.

“Waeyo?”

“Teman-temanku akan menginap disini.”

“Jadi?”

“Mereka tak boleh melihatmu.”

“Berapa orang?”

“Lima, dan kelimanya pengacau.” Nayoung terkejut. Paling tidak jika hanya satu orang dia bisa bersembunyi dengan aman di suatu tempat dan Kyungsoo senantiasa tak akan luput pengawasannya pada satu temannya itu agar tak mengusik tempat persembunyian Nayoung. Namun kali ini…

“Lima orang? Banyak sekali!”

TOK TOK TOK

“Kyungsoo-hyung!” Itu suara Kai.

Nayoung dan Kyungsoo saling bertatapan. Tanpa pikir panjang Kyungsoo menarik pergelangan tangan Nayoung dan menyuruhnya masuk ke gudang.

“Aku tidak mau disini. Disini banyak tikus dan berdebu.”

“Bersabarlah dan tahan teriakanmu saat melihat tikus. Bayangkan tikus adalah hewan paling lucu yang pernah kau lihat. Nanti malam setelah mereka tidur aku akan membawamu keluar untuk menginap di hotel.”

“Kyungsoo-hyung!! Kau di rumah kan?” Kali ini suara Sehun.

“Ne. Sebentar.” Sahut Kyungsoo.

“Cepat atau kudobrak pintu tak berdosa ini sekarang juga.” ucap Chanyeol diiringin tawanya yang khas.

“Sekarang saja!” Kyura menghentakkan kaki, menandakan bahwa ia juga panik sekarang.

“Apa kau gila? Mereka sudah di luar.”

“Tap…” Kyungsoo menutup pintu dengan cepat dan menguncinya.

Kyungsoo membuka pintu dan mendapati lima wajah temannya yang sedikit ditekuk karena terlalu lama dibiarkan berdiri di depan pintu.

“Apa ada hal yang sangat penting dan perlu kita bahas?” kata Kyungsoo bingung.

“Yah, apakah kau lupa? Ini hari Jumat dan setiap Jumat kita selalu menginap di rumah satu sama lain.” Kata Suho.

“Dan sekarang adalah giliranmu.” Kata Baekhyun dengan senyum kemenangan.

“Arraseo. Masuklah.” Cetus Kyungsoo pasrah.

Mereka langsung berlari ke dalam dan seperti biasa selalu mengacau di tempat mereka berada kecuali Suho yang menyadari gerak-gerik aneh dari Kyungsoo.

“Apa ada yang salah?” tanya Suho menepuk pundak Kyungsoo.

“Ani, hyung. Aku hanya bingung makanan kecil apa yang akan kusediakan untuk kalian.“ Jawab Kyungsoo berbohong.

“Tenang saja, kami sudah mempersiapkan semuanya sebelum berangkat. Kau hanya tinggal menyediakan tempat untuk kami menginap.” Suho tersenyum dan masuk mengikuti teman-teman yang sudah ia anggap sebagai dongsaengnya sendiri.

“Jadi, apa yang bawa, yang tadi kau bilang menarik?” tanya Sehun pada Kai.

“Oh iya, aku hampir lupa. Akan kuambilkan di mobil sekaligus memasukkan mobilku ke halaman.” Kai beranjak dan beberapa menit kemudian kembali dengan sebuah kotak dan membukanya di tengah teman-temannya yang membentuk lingkaran mengerumuninya.

“Wahh!! Kau daebak!” Puji Chanyeol. Kai hanya memamerkan seringainya.

“Aku tidak mau minum banyak-banyak. Bisa-bisa aku muntah seperti dulu.” Kata Sehun.

“Kau hanya perlu membiasakan diri.” Baekhyun menepuk punggung Sehun.

“Jadi kali ini bagaimana peraturannya?” tanya Kyungsoo.

“Kita adakan permainan. Yang kalah harus menghabiskan minuman yang ada di setiap gelas dari kita. Jadi jika kau kalah sekali, kau harus minum enam gelas. Sementara yang lain hanya satu gelas.” Suho memberi ide.

“Permainan apa?”

“Anything. But, card is ok.” Cetus Kai.

Permainan berlangsung dengan damai dan diawali oleh Suho yang lebih dulu meneguk habis isi keenam gelas tersebut. Namun permainan itu hanya berheni sampai disitu. Kemudian disusul Chanyeol, Kyungsoo, Sehun, Baekhyun hingga pada akhirnya Kai yang belum terlalu terpengaruh alkohol meneguk habis seluruh botol yang tersisa.

Ruangan menjadi sangat kacau. Keenam namja itu duduk di atas karpet dengan TV yang dibiarkan menyala dengan volume keras, sementara mereka sendiri sudah terhuyung-huyung karena kepala mereka terasa sangat berat.

“Sepertinya aku harus melakukan hal yang penting.” Kata Kyungsoo dengan nada yang penuh belokan.

“Apa itu?” jawab Suho yang tak kalah berbelok dan hampir ambruk di atas karpet.

“Molla. Aku lupa.” Setelah itu kepala Kyungsoo jatuh ke lantai dan tertidur.

“Hei!! Ada sesuatu di balik pintu itu.” Baekhyun menggoncang tubuh Kyungsoo namun tak mendapat tanggapan. Kenop pintu yang dilihat Baekhyun bergerak naik turun, seperti ada orang yang berusaha keluar dari sana.

Dengan terhuyung-huyung ia mendekati pintu itu dan ketika tangannya menyentuh kenop ia tak mampu lagi menahan seluruh berat tubuhnya hingga ia jatuh ke lantai dan tertidur.

Sementara itu, Nayoung yang selama berjam-jam dikurung di dalam gudang sudah berkali kali menggigit bibir agar tak berteriak ketika melihat tikus. Ini sudah yang kesekian kalinya tikus-tikus menampakkan diri di depannya dan ia membiarkan bibirnya berdarah karena gigitannya sendiri. Ia merasa takut sekaligus jijik terhadap hewan sebesar genggaman tangan itu. Keringat dingin mulai bercucuran karena selain emosinya yang tertahan, di ruangan itu sama sekali tak ada jendela, ditambah penghuni lain yang sepertinya menyambut baik kedatangan Nayoung -tikus. Ia sudah tak tahan ingin keluar namun Kyungsoo telah mengunci pintu itu.

Mendengar pesta yang sepertinya pesta alkohol dari luar membuatnya mulai kehilangan harapan untuk bisa keluar malam itu. Ia menggelar koran dan duduk merapat di pintu kemudian bersandar pada kardus di sebelahnya. Malam ini terasa begitu panjang dan tak pernah ia bayangkan seumur hidupnya.

===

Suho bangun lebih dulu dan mendapati keadaan di sekitarnya kacau balau. Kenamnya saling berhimpitan bahkan kaki mereka tumpang tindih di perut bahkan di kepala satu sama lain. Ia tersenyum geli dan segera mengambil ponsel untuk mengabadikan momen langka itu namun ponselnya segera dirampas oleh Kyungsoo yang entah sejak kapan juga terbangun.

“Sejak kapan kau belajar tradisi itu, hyung?”

“Sejak bertemu kalian.” Kata Suho tenang lalu menyahut kembali ponselnya dan segera mengambil beberapa gambar yang menurutnya luar biasa itu.

Kegilaan-kegilaan lainnya terus berlanjut setelah Kai bangun kemudian disusul yang lainnya. Mereka menyerang Suho dan menggelitikinya, membuat Suho mengeluarkan air mata karena tak kuasa menghentikan tawa. Secara diam-diam Baekhyun keluar dari kekacauan itu dan tak ada satupun dari temannya yang menyadari.

Baekhyun, seperti perkataannya beberapa hari yang lalu berusaha menemukan apa yang ia butuhkan. Ia berkeliling rumah Kyungsoo, memasuki setiap ruangan yang ada namun ia tak menemukan seperti apa yang ia duga.

“Aish! Aku yakin perempuan itu masih di sini. Dimana kau menyembunyikannya, Kyungsoo?” Cibirnya pelan saat ia berada di dalam kamar Kyungsoo.

Dengan mengendap-endap ia keluar dan menuju ke pintu selanjutnya yang ada di sebelah kamar Kyungsoo, namun saat ia keluar Sehun memergokinya.

“Ternyata kau disini, hyung. Untuk apa kau masuk ke kamarnya?”

“Gwaenchana, aku hanya memastikan apakah dia sudah mengerjakan tugas karena aku akan menyalinnya.” Elaknya.

“Oh. Kajja hyung, semuanya sudah bersiap untuk pulang.”

“Ne.”

Perasaan Baekhyun masih diselimuti rasa penasaran yang luar biasa, ia yakin benar bahwa dugaannya tidak meleset. Sahabatnya telah melakukan sesuatu di belakangnya. Ia berfikir keras dimana tempat yang mungkin bagi Kyungsoo untuk menyembunyikan gadis bernama Nayoung itu. Atau mungkin, Nayoung sudah pergi. Sambil terus mengawasi setiap inchi dari rumah Kyungsoo ia memberesi barang-barangya.

Tunggu! Mengapa semalam aku tidur di depan gudang? Ia mulai teringat sesuatu bahwa semalam ia melihat kenop pintu gudang itu bergerak naik turun. Ia ingat betul bahwa ia hampir membukanya namun ia sudah terlanjur jatuh.

Pasti disana!

“Terima kasih telah menyediakan tempat untuk pesta semalam. Mianhae kami tak bisa membantumu membersihkan ini semua karena kami ada jam kuliah jam 10 nanti.” Kata Suho yang terkesan seperti merayu.

“Kalian pikir aku tidak?” Jawab Kyungsoo datar. Ia memahami benar bahwa teman-temannya yang hanya suka mengacau, tak pernah mau mengembalikan kekacauan yang telah mereka buat ke keadaan semula.

“Fighting, hyung!” ucap Sehun.

“Jangan terburu-buru, kau bisa menyelesaikannya nanti malam jadi nanti kau harus masuk kuliah. Arraseo?” kata Chanyeol memasang senyum derpnya.

“Ne. Apapun yang kalian inginkan.” Ujar Kyungsoo datar.

“Minggu depan kita ke tempat Baekhyun hyung!! Iya kan Hyung? Hyung?” Kai menoleh ke segala arah mencari sosok Baekhyun dan kini semua mata tertuju pada Baekhyun yang sedang berusaha membuka pintu gudang yang rupanya terkunci.

“Apa yang kau lakukan di sana, hyung? Mengapa sejak tadi pagi kau suka berkeliling di dalam rumah ini?” tanya Sehun.

Baekhyun kikuk, badannya tak bisa digerakkan dan nafasnya terhenti sesaat. Ia terlalu kaget dan sedetik kemudian ia menyesal karena ia gagal mendapatkan yang ia butuhkan.

“Ehem. Kalian cepatlah pulang. Aku akan membersihkan rumah ini. Kalian benar-benar pembuat onar.” Kata Kyungsoo.

“Ne. Ne. Kajja kita pulang, kajja Baekhyun.” Ucap Suho.

“Fighting!” Ucap Kai dan Chanyeol menggoda Kyungsoo.

Baekhyun tidak mengatakan apapun. Ia berjalan melewati Kyungsoo bahkan tanpa menoleh.

Apa yang salah dengan anak itu? Apa jangan-jangan ia sudah mengetahui sesuatu? Ia tahu bahwa ada yang kusembunyikan di balik pintu itu. Kyungsoo berasumsi dalam hati.

Setelah kepergian teman-temannya ia segera membuka pintu itu bermaksud meminta Nayoung membantu membersihkan semua kekacauan di ruang tengah. Namun saat akan masuk ke dalam ia kesulitan mendorong pintu. Rupanya tubuh Nayoung menyandar pada pintu itu dan ketika Kyungsoo mendorongnya lebih keras, badan Nayoung terjatuh ke samping membuat posisinya seperti orang tidur.

“Nayoung-ssi, kau masih tidur?” Tak ada respon. Ia berjongkok dan mengamati wajah Nayoung yang terlihat pucat.

“Nayoung-ssi!” Ia menepuk bahu gadis itu namun tetap tak ada jawaban.

“Kyungsoo-ssi. Akhirnya kau akan membawaku keluar.” Ucap Nayoung serak dan tersendat-sendat.

Mata Kyungsoo melebar. Ia tahu kini gadis di depannya tidak sedang baik-baik saja. Ia menempelkan punggung tangannya pada kening Nayoung dan benar saja, panasnya sangat tinggi.

“Omo! Kau demam. Apa kau bisa berjalan?” Tanya Kyungsoo panik namun Nayoung hanya menjawabnya dengan satu helaan nafas yang panjang dan berat. Sudah cukup memberi jawaban bagi Kyungsoo.

“Mianhae.” Kata Kyungsoo dengan nada penyesalan. Baru kali ini ia dihadapkan dengan orang sakit yang penyebabnya adalah dia, jadi ia merasa bahwa itu adalah kesalahan paling besar. Ia memeras handuk kecil pada air es dan meletakkannya di kening Nayoung.

Secara perlahan Nayoung membuka matanya. “Syukurlah, rupanya benar kata dokter itu. Obatnya bekerja dengan sangat baik.” Kalimat ramah Kyungsoo menyambutnya. Terdengar sangat nyaman untuk didengar dan jauh dari caranya bicara hari-hari yang lalu. Entah mengapa Nayoung lupa bahwa semalam ia sangat ingin membunuh Kyungsoo karena tak kunjung mengeluarkannya.

“Kau tidak berangkat?” tanya Nayoung tak kalah ramah.

“Dan meninggalkanmu dalam keadaan seperti ini? Aku tak mau kau mati di rumahku. Jika kau mati maka carilah tempat lain!”

“Ya! Kau jahat sekali. Aku begini gara-gara kau yang mengunciku di tempat paling menyeramkan dan menjijikkan itu.”

“Mian. Semalam aku dalam pengaruh alkohol dan aku lupa tentang mengevakuasimu. Sekarang keadaanmu sudah lebih baik kan?” Kata Kyungsoo dengan wajah penuh penyesalan dan kekhawatiran.

“Ani. Aku sangat buruk.” Nayoung memalingkan muka namun bibirnya mengulas sebuah senyuman yang hanya ia, Tuhan, dan malaikat yang tahu. Entah mengapa ia senang saat Kyungsoo menanyakan itu meskipun hatinya sedikit kesal.

“Tenang saja. Kupastikan itu tak akan berlangsung lama. Nanti malam kau pasti sudah sembuh dan tolong bantu aku membersihkan ruang tengah.”

“Ternyata kau bersikap sangat baik kerena ada maunya.” Ucap Nayoung sarkastik.

“Ani. Aku benar-benar merasa bersalah akan hal ini.”

Drrttt…. Ponsel Kyungsoo yang ada di sakunya bergetar,

“Yeobseyo, Kyura?”

Sedetik kemudian Kyungsoo menepuk jidatnya. “Aku lupa. Mianhae. Sebentar, dalam hitungan menit aku sudah di rumahmu.”

“Kau sudah di universitas?! Baiklah, aku akan menyusul kesana.” Kemudian Kyungsoo menutup panggilan itu.

“Aku harus pergi sekarang. Jaga dirimu baik-baik, ne?”

Setelah Kyungsoo pergi, Nayoung duduk dan bersandar pada bantal. Siapa Kyura? Apa hubungan mereka? Bahkan hanya dengan mendapat panggilan darinya Kyungsoo langsung berubah pikiran dan pergi. Pikirnya.

Buru-buru ia menggelengkan kepala. Aduh! Mengapa aku berubah jadi yeoja yang selalu ingin tau urusan orang lain. Ingat, dia bukan orang yang sudah lama kukenal dan bahkan belum menjadi temanku.

===

To be continued.

Kenapa semakin kesini saya semakin kurang greget yah nulisnya? Ini boring amat… Mianhae. Semoga sampe akhir gak bikin ngantuk terus kayak gini. Fufufu~~~

I really appreciate if you mind to leave a comment. Khamsahamnida.

Iklan

11 pemikiran pada “Love Guarantee (Chapter 2)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s