A Boyfriend For Each Ben (Chapter 1)

cast        :  kyung soo, kris  ( + additional cast )
author  : @rollingkris
genre    : silent love (?)

summary:            berkepribadian ganda, kris tidak pernah menyangka kalau ia akan menyakiti seseorang. walau itu tidak terlalu penting untuknya, karena kris bahkan tidak tahu kalau ia memiliki pribadi lain. pribadi yang jatuh hati pada kyung soo.

IMG_5879[1]

chapter 1.12
“ settled “

Kyung Soo merasakan perutnya seperti dikuras ketika ia memperhatikan keluarga Sehun berjalan tegopoh-gopoh, keluar dan masuk dari rumah mereka sambil membawa kardus-kardus besar. Perlahan-lahan memenuhi bagasi mobil SUV mereka dengan properti. Kyung Soo pun dengan lemas memasuki pekarangan rumah keluarga Oh yang luas, menghampiri seorang wanita dewasa yang tampak kelelahan mengatur barang-barang.

“Nyonya Oh..”

Panggil Kyung Soo pelan, ia berdiri di depan pintu sambil meremas sebuah kantung plastik dengan kedua tangan gempalnya. Wanita yang memiliki wajah sangat mirip dengan putera laki-lakinya itu menoleh dengan terkejut ke arah Kyung Soo.

“Eo, Kyungs sayangku!”

Ibu Sehun langsung merangkul Kyung Soo yang lebih mungil darinya dan mengajak anak itu masuk ke dalam agar tidak tersengat matahari siang terlalu lama.

“Kyungs ya, aku sangat sedih membayangkan kau akan sangat kesepian di kota ini karena kita pergi.. Aku dan Sehun benar-benar tidak berniat pindah, tapi ayah Sehun baru saja menanam bisnis di Seoul sehingga kami mau tidak mau mengikutinya.”

“Ya, padahal kupikir aku dan Sehun akan bertumbuh di sini bersama-sama hingga kita menjadi kakek-kakek seperti tetangga kita yang lain.”

Membayangkan penduduk di kota Goyang yang kebanyakan hanya kakek-kakek yang suka bermain catur membuat ibu Sehun tertawa.

“Sayang sekali, kau dan Sehun adalah satu-satunya remaja dan Sehun harus pergi.”

“Ibu! Itu Kyung Soo??”

Dari atas langit-langit ruang tamu keluarga Oh yang sudah kosong melompong, terdengar pekikan yang menggema.

“Iya!! Kyung Soo datang!!”

Ibu Sehun menjawab anaknya dari lantai bawah lalu ia pun menepuk-nepuk lembut bahu Kyung Soo.

“Nah, naiklah, Kyung Soo. Si manja sudah memanggil.”

Kyung Soo tersenyum sambil mengangguk, lalu ia menaiki tangga rumah setelah membungkuk singkat di depan ibu Sehun. Kyung Soo masih menggenggam kantong plastik ukuran kecilnya selagi ia berjalan menuju Sehun.

Sehun sedang meletakkan buku-bukunya ke dalam kardus ketika Kyung Soo melihatnya.

“Kupikir kau akan menangis tersedu-sedu saat kau menemuiku.”

Sehun menutup kardusnya dan akhirnya menegakkan kepala untuk menatap sahabatnya. Tapi ia tidak menyangka kalau kepalanya akan dipukul oleh Kyung Soo.

“Kenapa kau tidak bilang dari dulu?! Kau baru memberitahuku pagi ini saat kau bangun untuk bersiap-siap pergi dan apa yang kau lakukan? Kau hanya mengirimiku sms untuk memberi tahuku!!”

“Heish. Bicara langsung itu lebih sulit, Kyung Soo.  Kau pikir aku bisa santai-santai saja saat aku akan meninggalkanmu?”

Kyung Soo tidak ingin menjawab dan hanya mendelik marah ke arah kardus-kardus yang ditumpuk oleh Sehun. Tapi ia akhirnya bergerak untuk mengangkat salah satunya, berusaha membantu.

“Jangan!!”

Bahu Kyung Soo mengejang karena suara Sehun.

“A-ada apa? Apa kau tidak mau membawa kardus ini?”

“Tidak, maksudku, jangan membantuku.” Sehun mengambil kardusnya dari tangan Kyung Soo.

“Tapi kenapa??”

“Karena membantuku hanya akan menyakiti hatimu.”

Sebenarnya, Sehun tidak tega kalau ia meminta bantuan pada Kyung Soo, karena ia tahu Kyung Soo akan merasa sedih. Maksudnya, Kyung Soo pasti sedih karena ia menolong sahabatnya untuk mengeluarkan barang-barangnya dari rumah. Membantunya lebih cepat pergi. Dan dua mata Kyung Soo selalu bisa menggambarkan bagaimana menderitanya ia di dalam walau pun ia tidak bicara. Well, Sehun tidak akan ingin melihat tatapan menderita itu di hari terakhir ia bicara dengan Kyung Soo sebelum ia bertolak ke Seoul yang berjarak hampir 2 jam dari Goyang.

“Tidak apa, bodoh. Jangan berlebihan, aku justru membantumu agar kau cepat pergi.”

Sehun mendesis karena ucapan Kyung Soo.

“Tunggu sebentar, aku akan memberikan kardus ini pada ibuku.”

Kyung Soo terpaku pada dinding kamar Sehun yang hampir penuh oleh foto-fotonya. Hampir semua foto di kamar Sehun memiliki wajah Kyung Soo di dalamnya, bahkan di foto Sehun yang baru saja belajar menulis. Rentetan gambar-gambar itu seakan merekam pertumbuhan Sehun dan Kyung Soo yang sudah bersama sejak mereka masih TK. Lalu Kyung Soo menarik nafas dalam dan berat ketika ia melihat foto-foto itu semakin jauh.

Kyung Soo dan Sehun lulus SD, Kyung Soo dan Sehun berpura-pura menjadi foto model di taman perumahan dengan latar belakang kakek-kakek yang bermain catur, Kyung Soo dan Sehun karaoke bersama ahjumma-ahjumma, Kyung Soo dan Sehun masuk SMA. Seharusnya mereka berfoto bersama lagi saat akan masuk ke universitas, tahun ini adalah tahun senior mereka di SMA. Kyung Soo merasa lemas mengetahui mereka tidak akan bisa berfoto di depan kampus nanti.

“Awas kalau kau copot salah satu dari foto-foto itu.”

Kyung Soo menoleh pada Sehun yang ternyata sudah berdiri di ujung kamarnya. Ia berjalan menghampiri dinding pajangan itu, lalu melepaskannya satu per satu dari hadapan Kyung Soo. Sehun yang berdiri membelakangi laki-laki mungil itu sama sekali tidak sadar kalau sahabatnya sedang menelan air mata. Kyung Soo menahan tangisannya sekuat tenaga selagi Sehun dengan luwes menanggalkan memori mereka.

Kyung Soo juga tidak sadar kalau Sehun melepaskannya dengan cepat agar ia juga tidak terpaku dan bersedih. Sudah berapa malam Sehun habiskan untuk menonton tembok bisu itu, berusaha mengingat-ngingat harinya yang kacau bersama Kyung Soo sebelum hari pindahannya datang. Sehun meletakkan semua foto yang sudah ia lepas di dalam sebuah ransel yang kemudian ia pakai. Sehun sudah sangat siap untuk pergi.

“Kyung Soo?”

Berusaha menarik ingus kembali ke hidungnya dengan sehati-hati mungkin, Kyung Soo mengangkat wajahnya.

“Apa?”

“Menurutmu.. aku bisa bertahan di Seoul?”

Pertanyaan Sehun entah bagaimana caranya bisa membuat Kyung Soo tertawa singkat. Atau ia hanya sedang berakting di detik-detik sebelum kepergian Sehun.

“Tentu saja, konyol, kau dan wajah tampanmu akan bertahan hidup di Seoul.”

“Lalu bagaimana denganmu? Kau dan pribadi tidak senonohmu itu, apa kau bisa bertahan sendirian disini?”

“Kuhajar kau.”

Sehun tertawa tanpa sinar matanya yang ceria. Ia memang benar-benar tertawa, tapi ia tidak bisa tertawa dengan bahagia lagi.

“Kyung Soo, peluk aku.”

“Apa-apaan kau?”

“Ayolah, peluk aku, kumohon..”

Sehun membuka kedua tangannya di hadapan Kyung Soo, ia sudah siap untuk mendekap tubuh mungil Kyung Soo dan menelannya di balik tangan-tangannya yang panjang. Kyung Soo pun mengambil satu langkah dan akhirnya ia memeluk pinggang Sehun. Tapi pelukannya terhalang oleh ransel Sehun.

“Aku tidak bisa memelukmu karena tasmu!”

Pekik Kyung Soo frustasi, seakan ia tidak sabar. Sehun pun buru-buru melepaskan ranselnya dan menjatuhkannya ke atas lantai hingga terdengar bunyi gedebum yang lumayan kencang. Namun Kyung Soo tidak sempat kaget karena ia tiba-tiba sudah diangkat oleh Sehun. Kyung Soo berpegangan pada bahu Sehun sementara anak itu menenggelamkan wajahnya di leher Kyung Soo. Ada sesuatu yang lembab tapi hangat di atas kaus Kyung Soo.

Kedua orang itu diam berpelukan seperti itu untuk waktu yang cukup lama, tapi juga cukup singkat untuk perpisahan mereka. Sehun merengek di dalam hatinya ketika ia menangis di atas bahu yang sudah ia tumpahi dengan air mata selama bertahun-tahun.

“Ya Do Kyung Soo,” Sehun bicara dengan suara serak.

Ia melepaskan pelukannya perlahan-lahan.

“.., jangan bermain dengan Jong In setelah aku pergi ya.”

Kyung Soo tersenyum dan meninju dada Sehun.

“Tentu saja tidak, aku tidak mau berteman dengan tukang lapor orang tua seperti dia.”

Sehun menyeka air matanya dengan punggung tangan sambil terkekeh.

“Dan satu hal.”

“Apa lagi? Kenapa sih kau tidak bisa melepaskanku begitu saja.”

“Dengarkan aku, ini penting. Sewakan kamar-kamar kosong di rumahmu itu.”

“Apa?”, sebelah alis Kyung Soo naik.

“Dengan menyewakan kamarmu, setidaknya ada seseorang lain di dalam rumah yang bisa menolongmu jika terjadi sesuatu. Kau tahu kan, kita tidak bisa mempercayai semua tetangga kita karena mereka semua sudah berada di umur emasnya. Kalau aku pergi, aku tidak akan bisa datang ke rumahmu untuk menolong lagi.”

“Selama ini kau hanya datang ke rumahku untuk makan, sih.”

“Kyung Soo, aku serius!”

“Iya, iya. Aku akan memikirkannya.”

Sekali lagi terlihat senyuman senang dari wajah Sehun. Anak itu kemudian mengenakan kembali ranselnya, lalu menghela nafas beratnya.

“Hh.. baiklah. Kita akan baik-baik saja. Aku pergi ya, Kyungs.”

“Ini untukmu.”

Tiba-tiba ada sebuah kantong plastik kecil yang disodorkan padanya, Sehun pun mengambilnya dengan ragu.

“Apa.. ini?”

“Es krim.”

Bungkusan basah itu menyimpan es krim yang selama ini sangat disukai olehnya dan Kyung Soo. Es krim mahal yang membuat Sehun dan Kyung Soo harus menabung dulu sebelum membelinya.

“Kenapa kau harus memberikan kenangan saat aku akan pergi, sih?”

“Jangan banyak bicara, aku menghabiskan uang jajanku minggu ini untuk kenang-kenangan itu tau.”

∞∞∞

Sehun membuka bungkusan dari Kyung Soo ketika SUV keluarganya sudah keluar dari wilayah Gyeonggi-do. Seperti yang sudah ia duga, ia melihat es krim itu di dalamnya.. dengan selembar notes yang basah. Sehun mengangkat notes itu.

ignorant bitch

Ia pun mendengus. Di lipatnya notes itu untuk dimasukkan ke dalam dompetnya, lalu Sheun pun membuka es krimnya. Dan ia hanya menemukan batang es krim yang tenggelam di dalam cairan cokelat kental. Es krimnya sudah meleleh sepenuhnya.

“Eish! Si konyol itu sengaja!”

Suara menggelegar Sehun yang tiba-tiba membuat ibu dan ayahnya melompat.

“Ada apa Sehun?!”

Ayahnya bicara sambil berusaha menstabilkan stirnya.

“A-ah? T-tidak, tidak ada apa-apa.”

Lalu Sehun hanya memegangi bungkus es krim itu dengan kerinduan yang menyebalkan.

∞∞∞

Kyung Soo menutup buku tulisnya dan mengistirahatkan bahunya untuk sebentar setelah ia belajar sepanjang siang. Ia menatap keluar jendela dan menikmati beberapa kepik merah yang beterbangan mengitari bunga-bunga matahari yang ia rawat. Matahari hampir tenggelam dari langit, dan musim panas sedang beranjak pergi. Kyung Soo menonton itu semua sendirian dari kamar luasnya yang dingin. Mencoba untuk menghabiskan hari-harinya tanpa Sehun.

Well, hidup Kyung Soo tidak akan begini sunyi jika saja orang tuanya tidak meninggal 11 tahun yang lalu. Kyung Soo tidak akan menggantungkan seluruh hidupnya hanya pada Sehun. Mungkin ia masih akan memiliki orang yang bisa mengurusnya di umurnya yang membutuhkan bimbingan ini. Tapi Kyung Soo hanya ditinggalkan dengan rumah yang sangat besar dan uang asuransi orang tuanya dalam jumlah besar.

Kyung Soo menghembuskan nafas berat selagi ia berdiri dari kursinya. Ia kemudian berjalan menuju dapur, mencari sesuatu yang bisa ia makan. Tapi lemari es Kyung Soo hanya menawarkan seikat brokoli dan beberapa bungkus biscuit yang sudah lama mengemban di dalam.

Mungkin aku akan berakhir dengan meminum air lagi malam ini, pikir Kyung Soo.

Dapur Kyung Soo sebelumnya selalu dipenuhi oleh banyak sekali persediaan makanan. Dia selalu menyimpan banyak cemilan dan bahkan bahan-bahan untuk membuat hidangan yang berat. Itu karena Sehun yang banyak makan sering sekali menginap di rumah Kyung Soo untuk mencegah Kyung Soo tinggal sendirian di dalam rumahnya. Sekarang, ketika akhirnya anak itu sudah pergi selama beberapa hari, Kyung Soo tidak dapat menemukan alasan untuk menyimpan makanan lagi.

Akhirnya karena depresi dengan dapurnya yang hampa, Kyung Soo beranjak menuju kamarnya lagi. Kyung Soo memutuskan untuk duduk dan memikirkan beberapa hal saja. Apapun itu agar ia tidak bosan. Dan setelah beberapa lama melalang buana untuk memikirkan banyak hal, Kyung Soo pun teringat dengan saran Sehun padanya, tentang ia seharusnya menyewakan kamar-kamar kosong di rumahnya.

Di saat seperti ini, Kyung Soo merasa bahwa ide Sehun memang ide yang bagus. Dengan adanya tamu, Kyung Soo bisa menyibukkan dirinya untuk membersihkan rumah dan lain-lainnya, daripada melamun dan hanya belajar dan belajar. Kyung Soo membuka laptopnya setelah ia berpikir beberapa kali lagi, hendak membuka situs dari koran harian di Seoul. Ia akan menulis iklan untuk rumahnya.

∞∞∞

Kyung Soo berhenti mengorek-ngorek kulkasnya saat ia mendengar bel dari pagar rumahnya. Dengan segera, ditutupnya properti kosong itu untuk berjalan keluar dengan cepat. Saat akhirnya ia mencapai pagar yang lebih tinggi sekitar 10 cm dari batas kepalanya, Kyung Soo mendapati sepasang mata melihat ke arahnya. Kyung Soo melotot dan hampir melepaskan jantungnya karena terkejut. Jelas saja, Kyung Soo tidak pernah kedatangan tamu yang memiliki tinggi yang cukup untuk bisa melihat dari balik pagarnya sebelum hari ini.

Dengan gugup, Kyung Soo pun membuka sedikit pagar rumahnya untuk melihat siapa sebenarnya yang datang. Tapi Kyung Soo langsung ciut begitu ia melihat tamu di hadapannya. Seorang laki-laki tinggi besar dengan dandanan santai namun terlihat mahal, wajahnya tampan. Tidak, wajahnya melebihi batas normal.

Kyung Soo tidak sadar kalau ia sedang menggantungkan kata-kata sapaan saat akhirnya orang itu yang menyapa duluan.

“Uhm, selamat pagi.. Tuan Do? Oh, kau bukan tuan Do. Kupikir kau jauh lebih muda dari apa yang kuharapkan.”

“A-ada apa?”

Kyung Soo memotong kata-kata lelaki itu dengan suara yang tidak ia sangka bisa begitu tidak stabil.

“Kau masih memiliki kamar yang disewakan?”

Tanya orang itu.

Akhirnya Kyung Soo teringat kalau ia memang menyewakan kamar-kamar di rumahnya yang kosong. Ia memasang iklan di Koran beberapa hari yang lalu. Kyung Soo pun mengangguk pada laki-laki itu.

“Iya, aku masih memiliki kamar yang disewakan. Berapa lama kau akan tinggal?”

“Satu bulan. Atau lebih, well, tergantung.”

Kyung Soo menaikkan sebelah alisnya. Orang ini adalah tamu paling pertama setelah ia membuka rumahnya untuk disewakan.. dan ia akan tinggal di rumahnya selama itu?
Orang itu mengetahui kalau Kyung Soo terkejut, maka ia menjelaskan lebih lanjut.

“Aku hendak menenangkan diriku dari hiruk pikuk di Seoul. Kupikir kota kecil akan sempurna dan aku menemukan rumahmu di koran.”

Ia menunjukkan gulungan koran yang rupanya ia cengkram dari tadi.

“Oh… ya. Boleh aku meminta KTP-mu?”

Laki-laki itu bergerak mengambil dompetnya dari tas kulit yang terlihat sangat istimewa. Di kesempatan seperti itu, Kyung Soo pun menelitinya dari bawah sampai atas, selagi orang itu sibuk mengambil dompetnya. Sepatu kets putih, celana hitam dengan rantai-rantai yang tidak terlihat sembarangan di pasang, hingga kaus putih kasual yang tangannya dilipat. Ia memiliki beberapa tindikan di telinganya dan rambutnya dicat pirang.

“Ini.”

Kyung Soo sudah berhadapan dengan sebuah kartu ketika ia akhirnya melihat wajah orang itu. Mata Kyung Soo menangkap jam hitam dari titanium di pergelangan tangan orang itu selagi ia mengambil kartu pengenalnya. Dibacanya keterangan yang tertera pada kartu pengenal orang itu.

“Oke, Tuan Li Jiaheng-“

“Panggil saja Kris.”

Orang itu tersenyum dengan bibirnya yang tipis, dan Kyung Soo hanya bisa termangu dengan bibirnya yang penuh.

“Baik, uhm.. Kris.., aku akan menunjukkan kamarmu.”

Walaupun Kyung Soo tidak yakin kalau Kris adalah tamu yang baik, tapi setidaknya Kris bisa menolongnya mengganti bola lampu atau apalah itu nanti.

-to be continued~~~

a/n: AHHHH AKHIRNYA FIC BARU!! DAN AKHIRNYA KRISSOO!!!! cuma segelintir orang yang tahu kalau sebenernya gua itu ngeship krissoo sejak awal exo debut (yang diketahui khalayak banyak itu gua ngeship kyungmyeon dan anti kaisoo /HEH /NGGAK) Tapi sayangnya karena terpisah oleh jarak, jarang banget bisa liat moment krissoo!! Waktu itu cuma di photoshoot exo yang jaman-jaman What Is Love, ada Kris berdiri di sebelah Kyungs. Dan cuma itu yang selama ini memotivasi gua untuk ngeship mereka.

But anyways! Sejak exo tampil sebagai OT12, kris jadi deket banget sama dyo. Baru tau kan kris, main sama kyung soo itu asik??? /dor. HUHUHUHUHU FEELS GUA BERDARAH….

Gak berharap banyak sih…. tapi gua harap banyak yang suka sama cerita ini, soalnya udah gua rangkai sejak lamaaaaaaaaa banget. Please please please support L supaya semangat lanjutinnya L  Ya sudah, see you on the next chapter bb!!!!

More fics please visit risolkris.wordpress.com ❤

Iklan

13 pemikiran pada “A Boyfriend For Each Ben (Chapter 1)

  1. ok.krisoo.
    dulu mereke top 2 bias yang susah banget nyari momentnya
    dan karenanya aku jadi kaisoo ama sud.o shipper,dan ff ini datang menggoyahkan semuanya/halah.. ==”/
    ok thor ditunggu lanjutannya,kalau bisa jangan lama lama ya 🙂
    suka fic nya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s