Two Moons (Chapter 5)

Title                            :           Two Moons

Author                         :           Ddangkoplak

Genre                          :           Romance, Friendship, Gaje

Length                         :           Chaptered

Cast                             :

  • Lu Han
  • Jung Seo Ri
  • Jung Eun
  • Wu Yi Fan a.k.a Kris

Part                              :           5

two moons 3 (1)

#sorry for the bad poster. Gag jago bikin soalnya

 

Annyeong!!! Adakah yang nungguin FF ini? #gakada#plak. Hehehe, mianhae kalau author ngepostnya telat… Yah, dikarenakan ada sesuatu hal yang mesti dikerjakan, jadi yah…. Begitulah #apadehbahasanya -__-

Oke deh, biar ngga banyak bacot, langsung aja ya… Hope you enjoy it… ^^

***

‘Damn! Apakah ia benar-benar bodoh untuk menyadari bahwa yang kumaksud adalah dirinya?’ gerutu Luhan dalam hati namun ia tetap mencoba bersabar.

            “Aku berlari meninggalkannya sendirian, tepat saat aku mengatakan kalau aku ingin pipis” jawabnya.

            Jung Eun mengangguk-angguk mengerti. Dan sesaat kemudian ia tersadar dan kedua matanya membulat…

            “Oppa… katakan siapa yeoja yang kau maksud itu?”

 

-Part 5-

            Luhan menghembuskan nafasnya pelan. Oh my god!

“Menurutmu?” tanyanya balik. Tak ada jawaban terlontar dari mulut gadis itu dan sebaliknya, gadis itu kini menatapnya terkejut.

“Ne,, gadis itu dirimu” ucap Luhan setelah menyadari bahwa yang bersangkutan tak kunjung mengeluarkan suaranya.

#Author pov end#

#Jung Eun pov#

Ne,, gadis itu dirimu” ucap Luhan oppa sambil tersenyum menatapku.

Deg

Mwo? Apa yang dia katakan? Jadi gadis itu… Luhan oppa menyukai…

Tiba-tiba ia meraih kedua tanganku dan menggenggamnya erat. Kedua matanya menatapku dalam dan ia masih menyunggingkan senyumannya.

“Sarang hamnida, Jung Eun… Would you be mine?”

Mwo?

Oh tuhan, apakah aku sedang bermimpi? Benarkah ia mengatakan jika ia mencintaiku?

“A… aku…aku…” ucapku tergagap. Otakku tidak dapat berfungsi dengan baik saat ini. Tenggorokanku rasanya tercekat, enggan  mengeluarkan kata-kata untuk menjawabnya.

Ia menghela nafas panjang sembari melepaskan genggaman tangannya perlahan. Kepalanya tertunduk.

“Arra… ini memang terlalu cepat…” ujarnya lirih. Ia hanya memandang kosong kearah sprei hello kitty yang menghiasi ranjang UKS ini.

Aku tidak tahu apa yang harus kukatakan saat ini. Jujur saja, ini benar-benar di luar dugaanku.

“Aku tahu ini memang terlalu cepat bagimu, mengingat perkenalan kita yang baru berlangsung dua minggu ini. Tapi sungguh, aku merasakan hal yang berbeda terhadapmu. Aku…aku mencintaimu” ucap Luhan oppa masih dengan kepalanya yang  tertunduk.

Aku lebih memilih untuk diam. Sungguh, aku tak tahu apa yang harus aku lakukan saat ini. Bahkan aku masih tidak percaya jika kata-kata yang barusan diucapkan Luhan oppa itu kenyataan.

Aku beralih memandangi wajah Luhan yang kini juga balas memandangiku. Tatapan kami terkunci untuk beberapa saat. Kurasakan jantungku yang kian berpacu saat kedua mataku menatapi sepasang mata bulat polos dihadapanku saat ini. Dan sedetik kemudian, bibirnya melengkung mengukir sebuah senyuman.

Tulus. Hanya itu yang bisa kudapatkan dari pandangan mata yang ia tujukan padaku.

“Maaf” hanya satu kata itulah yang justru berhasil meluncur keluar dari mulutku. Aku sendiri bahkan tidak sepenuhnya sadar saat mengatakannya.

Kulihat Luhan oppa yang mengerutkan dahinya hingga membuat kedua alisnya bertemu.

“Mwo?”

“Maafkan aku…aku tidak bisa” kepalaku langsung tertunduk begitu kata-kata itu selesai kuucapkan.

Hening…

Dan aku yakin, oppa pasti kecewa dengan jawabanku.

“Tapi… Kenapa?” tanyanya lirih. Masih dengan kepala tertunduk, aku menghela nafas sebelum akhirnya kujawab pertanyaannya.

“Aku takut, oppa” ucapku lirih. Aku berani bertaruh, saat ini ia pasti kebingungan mendengar alasanku.

“Takut? Pada apa?”

“Aku takut, jika suatu saat nanti, ketika aku sudah benar-benar menyerahkan seluruh hatiku, hidupku, dan cintaku padamu… Kau malah akan pergi meninggalkanku” jawabku lirih. Kedua tanganku meremas erat ujung rok seragam sekolahku.

Kurasakan kedua tangannya menggenggam erat tanganku. “Aku tidak akan melakukannya, Jung Eun” ucapnya. “Aku berjanji”

Aku tidak menjawab. Untuk sesaat, keheningan kembali menyelimuti kami berdua.

Tiba-tiba ia melepaskan pegangannya pada tanganku. “Tidak apa-apa…” ucapnya akhirnya. Aku mendongakkan kepalaku dan menatapnya. Kini, ia balas menatapku sembari tersenyum penuh ketulusan.

“Tidak apa-apa jika kau belum bisa menjawabku sekarang. Aku akan menunggumu” ucapnya masih dengan senyuman itu.  Kulihat kini ia berdiri dan menatapku dalam. “Aku akan menunggu sampai kau bisa menjawabnya.”

Aku hanya bisa terdiam menatapnya. Iapun mengulurkan tangannya dan mengacak pelan rambutku.

“Masuklah… sebentar lagi bel” ujarnya dan kemudian ia berbalik meninggalkan ruangan itu.

Meninggalkan diriku yang masih larut dalam kebimbangan…

#Jung Eun pov end#

#Author pov#

Seorang pria  jangkung yang sedang duduk di bangku kerjanya kini memandangi setumpuk dokumen yang digenggamnya saat ini. Kedua mata tajamnya nampak meneliti kertas-kertas dokumen tersebut dan selang beberapa menit kemudian, ia meletakkan dokumen tersebut diatas meja kerja dihadapannya seraya tersenyum puas.

“Kathleen Jung. Finally i got you…”

 

***

            Keanehan kini dirasakan Seo Ri sepanjang hari ini. Bukan, bukan pada dirinya. Melainkan pada kedua orang terdekatnya. Ya, Luhan dan Jung Eun.

Entah mengapa, ia merasakan ada yang aneh diantara kedua orang itu. Mereka berdua lebih banyak diam. Kalau untuk Jung Eun sih tidak apa-apa, karena memang dasarnya ia pendiam. Tapi Luhan? Seo Ri yang sudah sangat mengenal Luhan, tahu persis jika namja itu tidak akan mungkin berdiam diri kecuali jika ada masalah yang benar-benar pelik.

Yeoja itu bergegas bangkit dari tempat tidurnya dan beranjak perlahan meninggalkan ruangan yang merupakan kamar tidurnya. Ia melangkah pelan menembus kegelapan ruang tengah di lantai dua rumah itu, menuju ke sebuah pintu di seberangnya. Tangannya terulur mengetuk pelan pintu kayu bercat cokelat tua itu.

“Jung Eun?” panggilnya.

Selang beberapa menit kemudian, kenop pintu berputar dan pintu terbuka. Memunculkan seorang gadis berpiyama putih sedang berdiri didepan pintu.

“Seo Ri-ya? Ada apa?” tanyanya bingung. Seo Ri hanya nyengir lebar.

“Aku tidur disini ya…” ucapnya tanpa meminta persetujuan terlebih dahulu kepada yang bersangkutan.

“Mwo? Ummm… Baiklah” ucap Jung Eun sembari membuka pintu lebih lebar, mempersilahkan Seo Ri untuk masuk kedalam kamarnya.

Seo Ri menghempaskan dirinya di ranjang bersprei biru itu tepat saat Jung Eun sudah menutup pintu dan menguncinya.

“Tumben sekali kau ingin tidur disini…” komentar Jung Eun. Seo Ri kembali menunjukkan cengiran lebarnya.

“Kau belum tidur?” tanyanya. Jung Eun menggeleng. “Belum mengantuk” jawabnya. Gadis itu kini duduk di kursi depan meja belajarnya dan mulai mengetik pada laptopnya.

“Kau sedang apa?” tanya Seo Ri.

“Mengetik cerpen…” jawab Jung Eun singkat.

“Ya… Aku boleh bertanya?” ucap Seo Ri. Jung Eun berbalik menoleh ke belakang, kea rah Seo Ri dan sesaat kemudian ia mengangguk.

“Apa?”

“Apa yang terjadi padamu dan Luhan oppa?” tanyanya to the point.

Deg

Kedua mata Jung Eun membulat. Apa ini? Bagaimana bisa Seo Ri menanyakan hal itu padanya? Apakah mungkin ia sudah mengetahuinya?

“A…aku tidak apa-apa. Memangnya kenapa?” ucapnya berusaha terdengar biasa kendati perasaannya saat ini benar-benar tak karuan.

Seo Ri menghela nafas. “Ani. Hanya saja,kurasa kalian berdua sedikit aneh…” ujarnya.

Jung Eun harus bersusah payah meneguk salivanya sendiri dan kemudian ia tertawa dengan terpaksa.

“Mungkin itu hanya perasaanmu saja” jawabnya dan kembali memfokuskan diri kepada laptopnya.

“Jung Eun-ah…” panggil Seo Ri lagi.

“Mmm…” sahut Jung Eun.

“Kurasa aku sudah tidak bisa lagi memendamnya…” ucapan Seo Ri rupanya berhasil membuat jemari Jung Eun berhenti menari diatas benda kotak persegi panjang itu. Yeoja itu terdiam sesaat, kemudian berbalik untuk memandang yeoja yang merupakan saudara tirinya itu.

“Jika aku berhasil  memenangkan babak semifinal lusa, aku akan menyatakan perasaanku pada Luhan oppa…” ucap Seo Ri tersenyum-senyum sendiri sambil menatap langit-langit kamar.

Jung Eun hanya bisa menghela nafas berat mendengarnya. Setelah mengatakan semua itu, Seo Ri berbalik dan tidur membelakangi Jung Eun.

Hampir satu jam berlalu semenjak Jung Eun menghentikan aktivitasnya mengetik cerpen di laptopnya. Kini yeoja itu sedang berdiri di balkon kamarnya dengan kedua sikunya yang disandarkan pada pagar pembatas. Kepalanya mendongak ke atas, menatapi ribuan bintang yang menghiasi gelapnya langit malam. Dibiarkannya angin malam membelai tubuhnya, membuat beberapa helai rambut ikalnya menari-nari diterpa angin.

Yeoja itu lalu membalikkan badannya. Mengalihkan pandanganya kedalam ruang kamarnya. Tepat diatas ranjang tidurnya kini tengah diisi oleh sesosok yeoja yang sedang tertidur pulas. Dipandanginya wajah yeoja itu lekat-lekat. Berbagai pikiran kini berkecamuk dalam otaknya, berusaha menimang-nimang langkah apa yang harus diambilnya. Hingga setengah jam kemudian, ia memutuskan untuk melangkahkan kakinya masuk ke ruang kamar. Mengambil benda kecil persegi panjang bernama handphone yang terletak diatas meja belajarnya dan menekan-nekan tombol kecil pada benda itu untuk mencari nama kontak yang diinginkannya. Sejurus kemudian ditempelkannya benda itu pada telinga kanannya, menanti panggilannya diterima oleh kontak yang dituju.

“Yoboseyo” sebuah suara akhirnya terdengar setelah nada tunggu yang didengarnya selama beberapa saat.

“Oppa…” ujarnya.

#Author pov end#

#Author pov#

Yeoja itu dengan gigihnya mendribble sebuah bola basket dan mengopernya ke arah ring basket. Peluh yang bercucuran membasahi sekujur tubuhnya tak dihiraukannya. Ia masih tetap asyik melakukan kegiatannya meski langit mulai gelap.

Dan akhirnya, setelah merasa cukup lelah, yeoja itu menjatuhkan dirinya di tengah-tengah lapangan basket. Ia mengatur nafasnya sejenak seraya menatap ring basket yang menjulang tinggi dihadapannya.

Dengan nafas yang terengah-engah, ia menatapi langit cerah diatasnya. Sejurus kemudian, seulas senyum merekah di bibirnya. “Luhan oppa… Aku akan menang” ujarnya…

***

            “Kau mau kemana?” tanya Seo Ri seraya meneguk segelas air. Yeoja itu baru saja pulang dari latihan basketnya dan sudah mendapati Jung Eun yang tengah berdandan cantik. Ia memakai dress pink selutut dan sepatu berhak tidak terlalu tinggi. Rambut ikalnya tergerai indah dihiasi jepit bunga berwarna senada dengan dressnya.

“Aku mau… pergi” jawab Jung Eun ragu-ragu. Kedua alis Seo Ri terangkat.

“kemana?” tanya Seo Ri lagi.

“Err… Jalan-jalan. Sebentar.” Jung Eun menyelempangkan tas ke bahunya.

“Oh ya? Dengan siapa?” Seo Ri menyunggingkan senyum jahilnya. Jung Eun menggigit bibir bawahnya dengan cemas.

“Teman” lirihnya nyaris tak terdengar…

“Seo Ri-ya… Jangan menggoda saudaramu” tegur Nyonya Jung yang baru saja  keluar dari dapur. Seo Ri tertawa cekikikan.

“Rupanya saudaraku yang manis ini sudah bisa berkencan ternyata…” ucap Seo Ri menggoda Jung Eun.

“Kau ini…” Jung Eun merenggut sembari menoyor kepala Seo Ri yang masih tersenyum jahil.

“Sudahlah… Jung Eun-ah, jangan pulang terlalu malam ne?” nasihat Nyonya Jung. Jung Eun mengangguk mantap “Jangan khawatir, eomma. Aku pergi dulu…” pamit Jung Eun kepada Seo Ri dan Eommanya.

“Jangan lupa minta kisseu, ne?” celetuk Seo Ri.

“Ya!” gertak Jung Eun menahan malu. Yeoja itu lalu berlari keluar diiringi tawa ngakak saudara tirinya.

“Ya! Seo Ri-ya… Jangan berdiri disitu saja. Ayo bantu eomma memasak” perintah Nyonya Jung. Seo Ri spontan menghentikan tawanya dan mengangguk. “ne, eomma…” jawabnya.

Ia baru akan melangkahkan kakinya saat hatinya tiba-tiba saja diselimuti perasaan aneh.

‘Tunggu! Kenapa perasaanku tidak enak?’ batinnya. Ia melemparkan pandangannya ke arah pintu depan, tempat Jung Eun keluar beberapa saat yang lalu.

“Seo Ri-ya… Ppaliwa” tegur Nyonya Jung dari arah dapur.

“ne, eomma” jawab Seo Ri dan yeoja itu langsung menyusul ibunya…

‘mungkin perasaanku saja’

***

            Namja itu kini menatapi yeoja yang tengah berdiri dihadapannya dengan mata tak berkedip. Yeoja itu memakai dress pink selutut. Rambut ikalnya digerai bebas dengan hiasan jepit bungan berwarna senada dengan dressnya. Hembusan angin membelai pelan tubuhnya, membuat beberapa helai rambutnya berkibar. Luhan benar-benar terpana. Ia bahkan kesulitan untuk meneguk salivanya sendiri.

“Sudah lama menunggu?” tanya yeoja itu membuat Luhan tersadar.

“Eummm… Err… Tidak juga” jawab Luhan terbata-bata. Ia nampak seperti orang bodoh sekarang. Nyengir kuda sembari menggaruk kepalanya yang sama sekali tidak gatal. Yeoja itu mengangguk dan sejurus kemudian ia duduk disebelah Luhan. Membuat tubuh namja itu seketika menegang.

Hening

Luhan masih berusaha mengontrol jantungnya yang berdegup kencang sementara yeoja itu menunduk seraya memainkan kakinya yang mengenakan sepatu berwarna pastel.

“Oppa…” panggilnya lembut. Luhan segera menoleh kearah Jung Eun.

“Ne?”

“Kau ingat kan, syarat yang kuajukan kemarin malam?” tanya Jung Eun. Luhan mengangguk.

“Tentu saja. Sembunyikan hubungan kita dari siapapun hingga saat yang tepat” ucap Luhan disertai anggukan Jung Eun.

“Tapi… Kenapa?” tanya Luhan akhirnya. Sejujurnya, namja itu sudah penasaran sejak Jung Eun menerimanya tapi dengan syarat harus menyembunyikan hubungan mereka. Namun karena terlalu senang, ia lupa menanyakan alasannya dan hanya mengiyakan saja.

Jung Eun menghela nafas pelan lalu menjawab “Aku hanya memerlukan waktu yang tepat”

Luhan mengangguk. Setelah itu, tak ada lagi yang memulai berbicara.

“Ayo kita… Jalan-jalan sebentar” ajak Luhan disambut anggukan dari yeoja itu.

Mereka berdua berjalan berdampingan dalam hening. Entah mengapa, setelah mereka resmi menjadi kekasih, keduanya malah merasa canggung. Tidak seperti dulu, saat mereka belum menjalin hubungan apa-apa. Luhan, karena ia masih terlalu gugup dan terlalu sibuk mengontrol detak jantungnya. Sedangkan yeoja itu- Jung Eun merasakan perasaan yang bercampur aduk.

#author pov end#

#Luhan pov#

Aigoo! Apa yang terjadi padauk? Kenapa jantungku berdebar tak karuan? Kenapa aku susah sekali mengeluarkan suara? Kenapa aku bisa canggung dengannya? Kenapa? Kenapa?

“Oppa… Gwenchanayo?” suara Jung Eun menyadarkanku. Aku menoleh ke samping dan mendapatinya tengah menatapku cemas.

“Eeh? Err.. Gwen..Gwenchana. hehehe” Luhan nyengir kuda.

“Jjinjayo? Tapi kulihat kau menjambaki rambutmu. Apa kau sakit kepala?” tanya Jung Eun. Aish! Jadi aku menjambai rambutku? Bagaimana bisa aku tidak menyadarinya?

“Hahaha… Aniyo. Aku hanya… Aku hanya…” aish! Apa yang harus kukatakan? Alasan apa yang harus kuberikan? Oh tuhan… Aku tidak ingin terlihat bodoh dalam kencan pertamaku. Tidak dihadapan yeojahinguku ini…

Mataku bergerak-gerak liar, berusaha mencari inspirasi dan tiba-tiba saja kulihat sesuatu yang dapat menyalakan lampu dalam otakku.

“Bubble tea!” seruku menunjuk sebuah kedai bubble tea yang ada dibelakangnya. Jung Eun berbalik untuk melihatnya. Pengalihan perhatian berhasil. Fiuh… -__-

“Apa itu bubble tea?” tanyanya.

“Itu minuman yang sangat enak. Kau harus mencobanya. Kajja…” aku bergegas menariknya menuju kedai itu.

“Ahjumma. Choco bubble tea dua…” pesanku pada ahjumma penjual yang langsung mengangkat jempolnya.

“Minuman ini enak sekali. Aku pernah sampai ketagihan dan akhirnya dimarahi mama. Hahaha” tawaku. Aku menoleh kearahnya dan mendapati yeoja itu tengah terdiam sambil memandangi tangannya.

Aku mengikuti pandangan yeoja itu ke arah tangannya yang… kupegang?

Deg

Deg

Deg

“Ah… mianhae…” ucapku seraya melepas tangannya. Kualihkan pandanganku kedepan, kearah kedai bubble tea itu. Kurasakan pipiku memanas. Aish! Wajahku pasti mirip kepiting rebus sekarang…

Setelah menerima bubble tea dan membayarnya tentu saja, kami berdua melangkah berdampingan kepelaminan disepanjang pertokoan disekitar situ.  Aku masih merasa deg-degan, terlebih lagi setelah aku spontan menarik tangannya. Ya! Bukankah itu wajar? Aku kan namjachingunya sekarang. Kenapa aku harus malu? Akhirnya dengan segenap keberanian, kutolehkan kepalaku ke arahnya yang berjalan disebelahku.

“Jung Eun-ah…” panggilku. Ia yang saat itu sedang menyedot bubble tea ditangannya kini menoleh begitu mendengar panggilanku.

“Ne?”

“Errr… Kau tahu? Kau tampak cantik…”

#Luhan pov end#

#Jung Eun pov#

“Errr… Kau tahu? Kau tampak cantik…”

Blush

Kurasakan pipiku mulai memanas sekarang. Aku yakin wajahku saat ini sudah memerah seperti kepiting rebus. Aku menunduk, berusaha menyembunyikan semburat kemerahan yang mungkin akan terukir jelas pada kedua pipiku.

Dan tak lama kemudian, sebuah tangan kekar mulai menyentih tangan kananku. Aku terkejut dan mendongak menatap Luhan oppa. Namja itu nampak tersenyum saat tangan kirinya menggenggam tangan kananku.

“Tidak apa-apa kan?” tanyanya gugup. Apa ini? Kenapa jantungku semakin berdebar?

Aku mengangguk. Oh! Itu kulakukan tanpa sadar! Dan kudapati senyuman di wajah baby facenya semakin melebar.

“Gomawo” Luhan oppa kini menunduk meski terlihat jelas kalau ia masih tersenyum. Aku tidak menjawabnya namun seolah bisa membaca pikiranku, ia kembali melanjutkan…

“Karena telah menjadi kekasihku” ucapnya sambil tersipu. Kulihat semburat merah juga menghiasi pipi tirusnya. Mau tak mau bibirku melengkung membentuk senyuman. Kini kurasakan kehangatan menjalar di seluruh bagian tubuhku. Aigoo! Sepertinya aku tak akan bsa berhenti tersenyum…

Kami terus berjalan dalam diam dengan kedua tangan kami yang saling bergandengan. Dan aku masih saja tersenyum-senyum sendiri. Sesekali kucoba melirik Luhan oppa dari ekor mataku. Rupanya ia juga sama, senyum-senyum sendiri. Yah, kami berdua menghabiskan perjalanan dengan tersenyum-senyum sendiri. Mungkin orang lain yang melihat akan mengira kami pasangan orang gila yang baru saja kabur dari rumah sakit jiwa…

“Hey! Ayo kita kesana…” ajak Luhan oppa seraya menunjuk sebuah arena game centre. Game centre?

“Err.. boleh juga” aku menuruti ajakannya. Kami berdua langsung melangkah memasuki tempat ramai tersebut.

Sesampainya disana, Luhan oppa langsung membeli kartu dan kami mulai mencari-cari permainan yang bagus. Dan Luhan oppa menunjuk sebuah permainan basket.

“Errr… oppa. Sejujurnya aku tidak bisa main baket” Luhan oppa nampak terkejut.

“Jjinjayo? Kukira karena Seo Ri jago basket kau juga jago…” ujarnya. Mwo? Seo Ri?

“Ya sudahlah. Ayo kita coba” ia menarik tanganku menghampiri permainan tersebut.

Kami bergantian melempar bola ke ring. Ia berhasil memasukkan beberapa bola. Aku? Aku sangat payah, tentu saja. Tak satupun bola yang kulempar masuk ke lubang sialan itu. Aaarrrgh!

“Waaah, kalau Seo Ri ih, dengan mata tertutup juga bisa…”

Deg

Seo…Ri?

“Er, oppa… Aku lapar.” Pintaku.

“Mwo? Baiklah. Ayo kita keluar dan cari makanan…” ajak Luhan oppa. Kamipun bergegas meninggalkan tempat bermain tersebut dan mencari rumah makan terdekat. Akhirnya pilihan kami jatuh pada sebuah kedai ramen.

“Ramen disini enak sekali. Aku dan Seo Ri biasa membelinya saat akhir pekan” ujar Luhan oppa.

Deg

Seo Ri lagi… Seo Ri lagi…

“Oppa…” ia berhenti saat tanganku menahannya masuk kedalam kedai tersebut.

“Aku… Aku tidak begitu suka ramen. Lagipula aku tidak terlalu lapar. Kita cari camilan saja, ne?” ajakku. Luhan oppa terlihat sedikit bingung namun akhirnya ia mengangguk.

Selanjutnya kami berdua kembali melangkah di sepanjang jalan setapak di taman tersebut.

“Jagung bakar!” pekik Luhan oppa tiba-tiba. Aku menoleh dan melihat penjual jagung bakar yang biasa mangkal di taman ini.

“Ayo kita beli,..” Oppa tiba-tiba saja menarik pergelangan tanganku dan berlari menuju pernjual jagung bakar itu. Yah, untuk kali ini aku sudah mulai terbiasa berpegangan tangan dengannya.

“Jagung bakarnya dua” pesan Luhan oppa kepada ahjussi penjual jagung bakar tersebut. Senyum sumringah teukir di bibir mungilnya. Yah, dia memang seperti itu jika melihat jagung bakar…

Setelah menerima pesanan dan membayar, kami mencari tempat yang bagus untuk duduk dan menikmatinya. Kulihat, Luhan oppa yang menggerogoti jagun bakarnya dengan rakus dan membuatku sedikit… ngeri.

“Oppa, makannya pelan-pelan” nasihatku. Ia hanya mengangguk dengan mulut yang menggembung.

“Yummy… Jagung bakar adalah makanan terenak didunia” ujarnya seraya tersenyum. Aku juga ikut tersenyum melihat tingkahnya yang berbanding terbalik dengan umurnya.

“huh… Aku jadi teringat Seo Ri. Biasanya sepulang dari ekstrakurikuler kami akan membeli jagung bersama”

Deg

Tuh kan! Seo Ri lagi…Seo Ri lagi… Kenapa ia terus saja membicarakan Seo Ri dihadapanku?

“Oppa, aku mau pulang” Aku langsung berdiri dan kulihat ia terkejut lalu mengecek arloji yang melingkar di tangan kanannya.

“Tapi ini kan baru jam setengah tujuh”

“Aku tak ingin pulang terlalu malam. Aku sudah berjanji dengan eomma” sanggahku. Ia mengangguk meski kulihat jelas kekecewaan di wajahnya.

“Kalau begitu mari kuantar…”

“Tidak perlu. Kau gila? Kita bisa ketahuan” tolakku. Kulihat ia menghela nafas pelan.

“Ne…Ne. Kau berhati-hatilah” ucapnya kemudian.

“Jangan khawatir…” ucapku menenangkannya. Aku segera berbalik dan meninggalkan tempat itu.

Sepanjang perjalanan pulang, aku terus saja menggerutu kesal. Bagaimana tidak? Luhan oppa terus saja menyebut-nyebut Seo Ri. Apa-apa Seo Ri. Sedikit-sedikit Seo Ri. Hello! Aku adalah yeojachingunya sekarang. Tak sepantasnya kan ia menyebut Seo Ri pada kencan pertama kami…

“Aku pulang” sapaku seraya membuka pintu. Kulihat Eomma dan juga saudara tiriku tengah duduk santai di ruang keluarga.

“Eh? Kau sudah datang, Jung Eun? Mianhae eomma tidak menyisakan makanan untukmu, takutnya kau sudah makan tadi…” jelas eomma.

“Gwenchana, eomma. Aku sudah makan” ucapku berbohong. Lagipula aku juga tidak lapar.

“Bagaimana kencannya?” celetuk Seo Ri diiringi senyum jahilnya. Aku tidak menjawabnya melainkan hanya melengos kesal dan bergegas naik ke kamar tidurku. Dan rupanya Seo Ri juga mengikutiku…

“Yak… Kenapa wajahmu kusut sekali? Kencanmu gagal yah?” ucapnya tak jelas. Aku masih tidak menjawabnya dan segera merebahkan diri pada ranjangku tanpa mengganti dress dengan piyama.

“Apa kau sudah minta kisseu?” kini ia nyengir lebar hingga memperlihatkan kedua gigi kelincinya.

“Yak!” bentakku sebal. Kutarik selimut hingga menutupi seluruh tubuhku. Ia tertawa ngakak…

Seo Ri… Jika saja kau tahu dengan siapa aku berkencan, apakah kau masih bisa tertawa seperti itu?

#Jung Eun pov end#

#Author pov#

Sorak sorai para supporter yang merupakan siswa SMA terdengar riuh meramaikan gelanggang olah raga sore itu, menyemangati tim yang mewakili sekolah mereka masing-masing. Tim dari SM High School kini tengah bertanding dengan tim dari JYP, berusaha memperebutkan bola untuk dilempar ke arah ring. Dan nampak satu-satunya yeoja yang ikut bertanding di lapangan basket itu. Ialah Jung Seo Ri, siswi dari SM High School…

Seo Ri dengan gigihnya mendribble bola dan mengopernya ke teman satu timnya. Tubuhnya yang mungil tidak memungkinkan baginya untuk menembakkan bola langsung ke ring, karena itu ia diandalkan untuk menggiring bola ke arah ring lawan dan mengopernya ke teman satu timnya untuk langsung di shoot ke arah ring. Sesekali ia melirik ke tempat  supporter SM High School berada dan senyumnya mengembang begitu dilihatnya Luhan tengah tersenyum sembari melambaikan tangan ke arahnya. Namja itu juga ikut meneriaki namanya, memberikan semangat. Dan hal itu sukses membangkitkan semangat dalam diri Seo Ri. Ia semakin gencar merebut bola dari tagan lawan-lawannya yang bertubuh jauh lebih jangkung darinya.

Dan setelah peluit panjang dan berulang-ulang dibunyikan, seluruh pemain maupun supporter SM High School melompat girang. Papan skor menampakkan angka 43-20… 43 untuk SM High School dan 20 untuk JYP School. Kemenangan sudah jelas berada di pihak SM…

Senyum kemenangan terlukis di wajah Seo Ri. Ditatapnya Luhan yang tengah merayakan euphoria kemenangan mereka…

‘Oppa… Aku menang’ batin Seo Ri

***

            “Jung Eun-ah… Chankaman!” tangan kanan Luhan menahan Jung Eun yang tengah berjalan dengan tergesa-gesa.

“Kau ini kenapa sih?” tanya Luhan dengan kening berkerut. Sejak pagi tadi, Jung Eun bersikap dingin padanya. Ia bahkan menjawab singkat saat Luhan menanyakan sesuatu.

Jung Eun menepis pelan tangan Luhan yang mencengkeram lengannya.

“Aku tidak apa-apa, oppa…” kilahnya. Yeoja itu kembali melanjutkan langkahnya namun kembali ditahan Luhan.

“Lalu kenapa seharian ini kau bersikap dingin padaku? Apa aku berbuat salah?” cerca Luhan dengan nada yang sedikit meninggi. Jung Eun menghela nafas pelan. Ditatapnya namja yang kini telah menjadi namjachingunya itu. “Aniya… Kau tidak salah apa-apa, oppa”

“Lalu apa yang menyebabkanmu seperti ini? Apa kau punya masalah? Kau bisa ceritakan padaku” Kedua tangan Luhan kini menggenggam erat bahu Jung Eun.

Jung Eun kembali menghela nafas. Terlalu banyak yang harus dipikirkannya. Terlalu banyak yang harus dirasakannya.

“Sepertinya kita harus berakhir, oppa…” ucap Jung Eun lirih. Spontan Luhan membelalakkan mata mendengarnya. Apa? Mengakhiri hubungan mereka yang baru hitungan hari ini?

“Aku tidak yakin dengan perasaanmu padaku, oppa.” Sambung Jung Eun. Ia menunduk, tak berani menatap wajah kecewa Luhan saat ini.

“Aku pergi…” katanya dan melangkah melewati Luhan.

Grep

Belum sempat Jung Eun melangkah lebih jauh, tangan Luhan telah menariknya kedalam pelukan namja itu. Wajahnya menempel pada dada bidang Luhan, membuatnya dapat mendengar jelas debaran jantung namja itu. Luhan melingkarkan tangan kanannya di pinggang Jung Eun, mengeratkan pelukan mereka. sementara tangan kanannya mendekap kepala Jung Eun yang menempel di dadanya. Jemarinya membelai halus helaian rambut ikal Jung Eun yang terurai. Namja itu memejamkan matanya. Menghirup aroma strawberry yang menguar dari rambut yeojachingunya itu.

Tanpa sepengetahuan Luhan, Jung Eun yang berada dalam pelukan Luhan kini menitikkan air matanya.

“Mianhae, Seo- ri ya…”

Dan tanpa mereka sadari, seseorang tengah mengamati mereka dengan tangan terkepal erat…

 

To be Continued

Gimana? Semakin gag jelas kan? Fiuh… Yah harap maklum ya, soalnya author lagi galau juga nih nungguin pengumuman kelulusan… Ngga dapet feel? Pasti. Soalnya sekarang ini sulit banget cari inspirasi. Ngga tau deh kenapa… Jadi maaf ya kalo misalnya di chapter ini kurang mengenakkan atau apalah…

Oh iya, dari komen2 yang author liat di chapter kemarin tu semua bilangnya bagus. Apa bener nih udah bagus? Kalo misal emang ada kekurangan atau apa, jangan ragu-ragu ya buat ngasi kritik dan saran… Pasti akan author hargai, karena author juga masih baru dan perlu belajar. Jadi jangan sungkan yah… 😀

Ya udah, gitu aja deh… Trims buat admin yang ngepost, buat readers yang rajin RCL, dan also buat siders juga… Tapi khusus buat siders, tolong hargailah author yang udah capek-capek bikin ni FF… Kaya kata author di salah satu blog: If you can be a good writer, you should be a good reader too… ^^v

8 pemikiran pada “Two Moons (Chapter 5)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s