Loving You Like Crazy (Chapter 7)

Loving You Like Crazy [Part. 7]

Title: Loving You Like Crazy [Part. 7]

Author: nune

Main Cast: -Park Chanyeol

-Baek Jisun

-Kim Myungsoo

Length: Multichapter

Genre: Drama, Romance, Marriage Life

Ratting: PG-15

Backsound: Utada Hikaru – Flavor of Life (Ballad Version)

new-poster

*****

At Sun-Yeol Apartment~

“Jadi begini, orangtuamu dan orangtuaku memang sangat akrab.” Ujar Chanyeol sambil dirinya mengaduk sayur yang selagi mendidih diatas kompor. Sedangkan Jisun sedang memotong lobak disebelahnya.

Jisun menatap namja itu dalam, sembari jari jari-nya memotong lobak putih itu dengan setengah sadar. Mengapa ada debaran tak terencanakan setiap kali ia memandang namja itu seperti ini?

Oh ayolah mari kita deskripsikan bagaimana ketampanan laki-laki ini. Postur tubuh yang atletis, mata menawan, bibir yang kissable, dagu yang menggantung indah dan dahi yang lebar membuat siapa saja tidak bosan memandangi makhluk ciptaan tuhan yang seperti ini ‘kan?

“Sejak lahir, ayahku memang mempunyai jantung yang sangat lemah! Harta kami habis tak tersisa hanya untuk mengobati beliau. Bahkan ibuku merelakan semua harta orang tuanya untuk ayahku. Ibuku sangat sengsara saat itu, tak terkecuali juga aku! Aku belajar keras agar aku mendapatkan beasiswa, agar tak menyulitkan kedua orangtuaku.”

Chanyeol sendiri tidak menyangka, dengan mudahnya ia menceritakan masa lalu kelamnya pada gadis ini. Sebenarnya yang mengetahui hal ini hanyalah orang-orang yang Chanyeol percaya.

Hening…

Sejak kejadian di lampu merah kemarin, Jisun jadi cenderung diam saat berdekatan dengan Chanyeol. Setiap melihat namja itu –terlebih lagi bibirnya- hatinya jadi makin tak terkendali, membuat memori diotaknya memutar kembali kejadian itu. Membuat Jisun berharap bahwa ciuman itu menjadi unforgettable-moment juga untuk Chanyeol.

“Ayahmu, yang memang sejak lama menjadi dokter untuk jantung ayahku menciptakan penemuan yang membuat ayahku pulih! Lalu orang tuaku tak henti-hentinya memberikan kasih sayangnya pada keluargamu. Aku sangat iri karena mereka terlalu menyayangimu!”

Inilah alasan mengapa dulu aku merasa kesal saat melihatmu. Chanyeol melanjutkan perkataannya itu dalam hati.

Eh? Segitu besarkah pembalasan budi orang tua Chanyeol untukku? Jisun membatin. Ia merasa sedikit mengerti sekarang. Oh jadi inilah alasan mengapa orang tua mereka begitu dekat. Mungkinkah Jisun bisa mengenal Chanyeol seperti ini atas karena kejadian tersebut?

“Kau bertanya, ‘sedekat apa hubungan orang tua kita?’ kan?” Chanyeol berhenti mengaduk sayur yang tengah mendidih itu lalu beralih menatap Jisun yang membeku disana, tatapan Chanyeol seolah olah menguncinya.

“Sedekat ciuman kita kemarin. Sangat lekat, manis, hangat dan passionate.”

Taakk…

Tak sengaja pisau tajam itu menggores jempol Jisun, darah merah segar mengalir dari sana.

“akghh” Jisun meringis pelan.

Mengapa ia bisa seceroboh ini? Jiwanya mendadak menegang ketika Chanyeol mengumbar-umbar tentang ciuman itu. Jadi, Chanyeol juga menikmatinya? Chanyeol juga menganggap ciuman itu menjadi kejadian yang harus diingat?

Chanyeol berdecak dan segera menarik jempol Jisun untuk dimasukan kedalam mulutnya. Chanyeol mengemutnya seakan menghisap habis darah segar yang keluar dari jempolnya.

“Lepaskan!”

Beberapa saat kemudian Jisun menepisnya, ia berlari kecil menuju kamar dan mengunci pintunya. Jisun terduduk di karpet dan melemaskan kepalanya diatas tempat tidur, ia menangis terisak.

“Bodoh! Baek Jisun bodoh! Kalau begini terus lama-kelamaan aku bisa jadi gila!”

Perbuatan Chanyeol belakangan ini benar-benar mematahkan kebenciannya! Bagaimana ini? Bagaimana jika Jisun benar benar mencintai laki-laki itu? Jisun tertawa miris diatas taruhan bodoh yang ia buat, bagaimana jika pada akhirnya ia kalah? Pfft… Senjata makan tuan.

Harus diakui bahwa Jisun sudah terjatuh pada pesona Chanyeol secepat ini. Membuat Jisun merasa yakin bahwa Park Chanyeol lah orang yang benar benar ia sukai –sebelum lupa ingatan ini-. Ya, sudah bisa di terawang bahwa dialah pemenangnya, bukan Jisun sendiri. Haruskah ia menyerah? Tapi mencintai seseorang itu tidak salah ‘kan?

Setelah Jisun menghapus habis semua air matanya, ia melangkah keluar dan mendapati Chanyeol yang berdiri dihadapannya.

“Ikut aku.” Chanyeol menarik pergelangan tangan Jisun lembut dan menuntunnya ke sofa tunggal. Jisun sedikit terenyuh saat Chanyeol menuntun dirinya untuk duduk diatas pangkuannya.

Chanyeol mengobati luka Jisun dengan perlahan. Jisun hanya menatap nanar laki-laki yang tak jauh dari jarak pandangnya. Mengapa terkadang ia merasa bingung akan perasaannya sendiri? Chanyeol terkadang menjadi pribadi yang angkuh, egois dan keras kepala namun ada juga sisi lainnya yang membuat Jisun seperti ini, meleleh seperti es krim yang dipanaskan. Hatinya seakan berteriak bahwa ia ingin terus seperti ini lebih lama. Hal ini membuatnya tidak heran kalau Jisun-yang-dulu sangat mencintai namja ini.

“Sikap cerobohmu ini tidak pernah hilang dari dulu.” Chanyeol membalas tatapan Jisun. Ia tersenyum hangat. Senyuman pertama yang Jisun lihat, yang seolah membuat jantungnya membuncah tak karuan.

Mereka saling bertatapan dalam dan tanpa disadari hidung Chanyeol sudah menyentuh permukaan hidung Jisun. Jalan fikirannya mendadak abnormal saat nafas hangat Jisun berlalu melewati wajahnya. Membuat laki-laki ini sadar bahwa dirinya memang sangat ingin membahagiakan gadisnya ini.

Drrttt… Drrttt… Drrttt…

Mereka menjauhkan wajah mereka dengan segurat kemerahan di pipi masing-masing, getaran ponsel Chanyeol mengacaukan segalanya!

“Waegurae Hyesunie?” ujar Chanyeol ketika ia mengangkatnya.

Jisun menaikan alisnya bingung. Hyesunie? Tunggu dulu! Rasanya Jisun pernah mengenal nama itu. Ditambah lagi Chanyeol memanggilnya dengan embel embel ie, Hyesunie?! Terlihat bahwa mereka berdua sangatlah akrab ‘kan?

“Kau sudah menemukannya? Baiklah kau tunggu disana, aku akan segera kesana.” Chanyeol beringsut bangun, Jisun hanya menatapnya bingung.

“Aku pergi dulu, Hyesunie mencariku. Kau lanjutkan saja masakan kita tadi.” Belum juga Jisun memberikan jawaban, Chanyeol sudah mengambil jaket kulitnya dan langsung pergi meninggalkannya begitu saja. Dada Jisun terasa sesak….

Chanyeol gagal menciumnya hanya karena panggilan telepon dari si Hyesun itu? Sebenarnya siapa dia? Apa hubungan mereka? Baiklah baiklah… Jisun tidak pantas untuk semarah ini karena memang pernikahan ini tidak didasari oleh cinta. Chanyeol juga belum pernah menyatakan cinta padanya. Tapi ini terlalu…. Aish! Apa Jisun terlalu berharap banyak padanya? Terlalu percaya diri bahwa Chanyeol akan selalu ada untuknya?

Jisun mengerjap ngerjapkan matanya saat ia mencium bau gosong yang menyeruak disana.

“WHAT THE HELL??!!”

*****

Hari pertama penyambutan Mahasiswa/i baru di Universitas bergengsi ini akhirnya tiba juga. Kau tahu? Aku terlihat paling menyedihkan disini! Semua orang yang berlalu lalang, bercengkrama untuk mengisi keheningan aula besar ini terlihat sangat bersemangat dan antusiatif, terkecuali aku.

Tubuhku sedikit tidak fit, selama ini aku kurang tidur -terdapat lingkaran hitam dibawah mataku-. Jelas saja~ aku tidak tidur semalaman karena terus menunggunya. Selama 3 hari ini laki-laki itu tidak pulang ke apartment. Sebenarnya dia anggap aku apa? Dia selalu menarik ulur perasaanku seperti ini, hatiku sakit. Aku sangat merindukan kehadirannya. Apakah Jisun-yang-dulu sering juga dikecewakan seperti ini? Apa dia dan si Hyesun itu bermalaman diluar sana? Arkgh! Seharusnya aku berhenti memikirkannya!! laki-laki itu sudah dewasa pasti nanti dia pulang.

Tenangkan dirimu dulu Baek Jisun. Huh… kalau tidak salah Universitas ini juga tempat dimana dia menuntut ilmu, namun aku tidak tahu apa jurusan yang ia ambil. Setelah acara penyambutan ini, aku berniat untuk mencarinya.

Acara dimulai. Aku sedikit kesepian tidak ada Yeonhwa disebelahku, dia memutuskan untuk kuliah diluar kota. Sedangkan Kai memilih untuk tidak kuliah dulu, ia bekerja melanjutkan perusahaan ayahnya di Showroom Mobil didaerah Kangnam. Aku sangat kesepian…

“Yap… Acara keempat adalah kata sambutan dari Mahasiswa berprestasi dari sini. Namun dia tidak dapat hadir. Maka akan diwakili oleh Kim Myungsoo, mahasiswa berprestasi peringkat kedua. Padanya, kami persilahkan.” Seru sang MC.

Seseorang menaiki panggung yang bisa ku tebak adalah Kim Myungsoo. Dia memulai kata sambutannya dengan bijaksana. Pidato dari si Peringkat kedua ini saja bisa sebagus ini, bagaimana kalau si Peringkat satu itu datang? Aku penasaran.

Tapi ini aneh, dia terus menatapku dengan mata tajamnya selama ia berbicara. Apa lingkaran hitam dimataku ini sangatlah tampak sehingga menarik pengelihatannya? Memalukan.

Akhirnya upacara penyambutan melelahkan ini berakhir juga. Aku memutuskan untuk berkeliling kampus sekalian mencari-cari dimana gedung tempat Park Chanyeol belajar. Tapi ini tidak mudah! Universitas ini sangatlah besar! Mungkin butuh waktu berminggu-minggu untuk aku menghafalkan semuanya. Aku hanya bisa berdoa saja supaya bisa berpapasan dengannya ditengah jalan.

Disepanjang jalan tak jarang semua orang melihatku dengan pandangan tidak bisa kumengerti. Apa mereka mengenalku? Aku rasa mereka tahu bahwa aku adalah putri  tunggal dari Baek Seungjo yang sudah menikah. Kira-kira apa yang sedang mereka fikirkan, ya?

“Ada yang bisa kubantu, nona cantik?” Aku tersentak, seseorang mendekatiku. Tunggu dulu! Dia… Kim Myungsoo ‘kan? Aku sedikit menjauh darinya karena aku memang tidak nyaman berdekatan dengan orang yang belum kukenal. Aku berjalan mendahuluinya.

“Mencari siapa? Suamimu?” katanya lagi. Aku terhenti. Apa dia punya ilmu membaca fikiran seseorang lewat mata tajamnya itu?

“Sayang sekali dia sedang tidak ada disini. Seharusnya dia yang memberikan sambutan saat upacara tadi.” Katanya seraya berjalan mendekatiku lagi. Aku tidak menyangka bahwa namja menyebalkan itu ternyata menjadi mahasiswa terpintar disini. Hmm tidak heran sih. Tapi sebenarnya apa kekurangan yang ia miliki?

“Apa kau tahu apa jurusan yang dia ambil?” Baiklah tak ada salahnya bertanya. Aku orang yang sedang tersesat dan tak tahu arah.

Ia mengernyitkan alisnya bingung. Dia terdiam sesaat sebelum menjawab pertanyaanku “Teknik Komputer. Ck! Keberadaanmu sangat diragukan sekali~ kau bahkan tidak tahu hal sekecil itu?! Kau menikahinya karena kau sedang mengandung benihnya, ya? Kekekeke”

Setidaknya aku mendapatkan sedikit informasi darinya. Kata kata terakhirnya yang itu aku abaikan saja dulu. Tak baik membuat masalah dihari pertama menjadi mahasiswi, apalagi keberadaan ayahku yang sedang menjulang tinggi. Aku melangkah meninggalkannya, dia menarik tanganku. Menyebalkan!

“Lepas!” pekik-ku, ia menatapku intens dengan mata tajamnya itu.

“Apa kita pernah bertemu sebelumnya? Kau sama sekali tidak mengingatku?” katanya dengan nafas tertahan, aku bisa merasakan keseriusan dari pertanyaannya ini.

“Tidak, ini pertama kalinya kita bertemu. Aku permisi!” aku menepis tangannya kasar dan melangkah lebar-lebar namun ia terus mengejarku, menahan pundakku.

“Benarkah? Coba kau ingat-ingat dulu. Apa kita tidak pernah bertemu sebelumnya?”

Aku menghela nafasku “Aku sudah jujur, dan jawabanku adalah TIDAK.”

Ia merenggangkan sentuhannya dan membiarkanku pergi. Aneh sekali, mengapa kesan pertama masuk ke perguruan tinggi aku mengalami hal ini, sih?

*****

“HOAAAMM…”

Aku menekan power Off di remote yang ku genggam, sehingga LCD TV yang berada dihadapanku seketika mati. Aku melirik pada jam dinding yang tertera di dekat sudut ruangan. Aku menghela nafas panjang… Sudah jam 11 malam, dan ini adalah hari ke empat Chanyeol tidak pulang.

Berkali kali aku mencoba menghubungi ponselnya, namun tidak aktif. Ingin rasanya aku mengadukan hal ini pada orang tuaku atau bertanya pada mertuaku, namun sebaiknya tak usah. Siapa tahu dia lupa menjelaskanku apa tujuannya melakukan ini ‘kan? Aku anggap dia sedang menjalani penelitian atau praktek di suatu tempat. Yaaah… semoga saja.

Tapi tidakkah ia ingat padaku, disini? Setidaknya jika ponselnya rusak atau lowbat, dia bisa pinjam ponsel temannya untuk mengabariku agar aku tidak kelimpungan seperti ini. Aish… Pria itu benar-benar… Sejak awal aku selalu dibuat pusing!

Aku memutar ulang lagi Hour Glass (jam pasir) pemberian Kai tadi siang. Ya, aku dan Yeonhwa mengunjungi Kai untuk melihat keadaannya. Menghabiskan waktu bersama mereka berdua membuat kepenatanku seakan tandas.

CKLEK

Terdengar suara pintu terbuka. Jisun terkesiap dan segera menggenggam raket nyamuk yang sejak tadi dipangkunya dalam posisi siaga.

“Siapa kau?” seru Jisun berjalan mendekat kearah suara sambil menajamkan pendengarannya.

Tubuh Jisun seakan menegang ketika ia merasakan seseorang berlalu melewatinya.

“Chanyeol? 0__o” Gumamnya. Jisun segera membalikan tubuhnya ke belakang, dan mendapati sesosok pria sedang membuka kulkas, lalu mengambil sekaleng minuman ion disana.

Apa benar itu, dia? Dia sudah pulang? Jisun membatin. Hatinya bergemuruh antara kesal dan bahagia setelah bertemu lagi dengan makhluk yang satu ini.

Jisun berlari kecil menghampirinya.

“Hey… Darimana saja, kau?” tegurnya. Chanyeol meneguk lagi minuman ion –nya hingga tandas.

“Nanti saja ku jelaskan. Aku lelah. Sungguh~”

Chanyeol berjalan menuju kamar dan menidurkan tubuh lunglainya diatas tempat tidur. Jisun mengikutinya dari belakang.

“Kenapa ponselmu tidak aktif? Hey! Jawab aku~”

Chanyeol masih tak bergeming, ia malah menutup kedua matanya dengan lengannya. Jisun berdecak dan duduk disudut tempat tidur. Chanyeol terlihat sangat kelelahan, membuat Jisun sangat khawatir.

“Kau sudah makan? Ada beberapa potong ayam balado di lemari. Makanlah dulu.” Ujar Jisun melembut. Ada rasa lega dan bahagia saat mengetahui bahwa namja ini sudah kembali.

“Aku tidak lapar, aku hanya lelah. Kau boleh keluar.”

Jisun memajukan sedikit bibirnya. Apa ini? Mengapa sikap Chanyeol jadi berubah seperti ini? Berhari hari Jisun mengeluh menunggu namja ini pulang, dan sekarang ia mengabaikan semua tawaran baiknya seperti ini? Jisun merasa harga dirinya sedikit jatuh, menyesal telah menawari Chanyeol hal semacam tadi. Ingin rasanya Jisun menjejalkan guling kemulut Chanyeol, bahkan bersama tempat tidurnya kalau bisa.

Sepertinya Chanyeol sedang tidak mau diusik, sebaiknya Jisun menjauh. Jisun berlalu keluar dari kamar dan menutup pintunya perlahan.

“Tunggu lah sebentar lagi, Park Jisun. Kau pasti akan pulih, aku sedang berusaha.” Gumamnya setelah Jisun sudah tak ada disekitarnya lagi. Setelah itu Chanyeol memejamkan matanya dan tertidur.

*****

@ Cafetaria Campuss~

“Dasar namja MENYEBALKAAAAN!! Berbuat seenaknya saja!” dumal Jisun sambil memasukan Super Big Burger ke dalam mulut mungilnya.

Hari ini memang hari yang menyebalkan. Bagaimana tidak? Chanyeol sudah berlalu pergi sebelum Jisun membuka matanya dipagi hari tadi. Belum juga Jisun mengintrogasinya dengan ratusan pertanyaan yang selama ini ia pendam, namja itu sudah minggat tanpa pamit (lagi).

“Makan lah dengan perlahan~ Awas tersedak!” sambar seseorang tiba-tiba. Jisun mendelik ke arah suara dan memutar bola matanya.

“Jangan berisik kau, Stranger!”

Yang dibilang si-Stranger tadi hanya terkekeh geli. Padahal nama asli si Stranger ini jauh lebih bagus, Kim Myungsoo. Entahlah selama di kampus Jisun jadi banyak menghabiskan waktu dengan laki-laki misterius ini. Bukannya Jisun mau, namun si Stranger ini terus saja mengikuti kemana Jisun berada. Jisun jadi sedikit merasa risih.

“Aku masih belum puas akan jawabanmu. Apa kau benar tidak mengingatku? Sama sekali? Apa ka-”

“Hey! Setiap kali kita bicara pasti selalu membahas hal ini. Baiklah, kau ku terangkan satu hal~ Aku Amnesia, tapi tidak seluruhnya! Tepatnya, aku kehilangan memori hidup dua tahun belakangan ini.” jelas Jisun. Myungsoo terlihat terkesima atas apa yang ia dengar.

“Jadi kau lupa akan Park Chanyeol juga?” Jisun mengangguk pelan.

“…jadi semua berita itu benar.” Gumam Myungsoo tanpa terdengar oleh siapapun. Tersungging senyum kemenangan di bibir tipisnya. “Kemana Chanyeol? Aku tidak melihatnya belakangan ini.”

Mengapa laki-laki ini menanyakan hal yang tidak Jisun ketahui?

“Molla.”

Myungsoo terkekeh lagi, membuat Jisun malas mendengarnya. Ingin rasanya Jisun menusuk-nusuk sumpit ini kelubang hidungnya.

“Huh dia sama saja seperti dulu. Selalu menyakitimu terus-menerus. Haha.”

DEG Tubuh Jisun menegang. Apa tadi dia bilang? Sama seperti dulu? Sebenarnya apa hubungannya dengan Chanyeol? Sepertinya Myungsoo sudah mengenal Chanyeol lama.

“…Apa kau bilang?!” tanya Jisun datar.

Myungsoo berdehem dan bersikap setenang mungkin. “Tidak. Aku hanya bergurau. Apa perkataanku tadi benar?”

Baiklah… Sebaiknya Jisun tak mau ambil pusing.

“Tidak! Karena kami sudah berciuma- ups…” Jisun segera membungkam mulutnya yang tak terkendali itu. Arkgh! Karena terlalu banyak memikirkan Chanyeol dalam waktu yang berkepanjangan, membuat otaknya jadi tidak normal seperti ini. Ini tidak sehat! Sama sekali tidak sehat!

“Apa dia pernah mengatakan cinta secara langsung padamu? Ciuman bukanlah tanda cinta, Jisun-ssi. Apalagi jika kau tanpa menolak menikmatinya, pasti namja akan memandangmu rendah. Memakaimu-lalu-meninggalkanmu begitu saja.”

Perkataan Myungsoo ada benarnya juga. Ya, namja itu memang belum mengungkapkan kata cinta padanya. Jisun bingung akan kepribadian yang Chanyeol punya. Terkadang dia baik hati bak malaikat, tapi terkadang juga dia bersikap bagaikan orang yang paling menyebalkan di dunia ini. Jadi intinya, Chanyeol menganggap Jisun apa?

Myungsoo tersenyum kecil saat melihat reaksi Jisun yang sangat Speechless.

“Laki-laki memang seperti itu, Jisun-ssi. Bertemu > merayu > berbuat manis > mendepak lalu meninggalkan. Sudahlah, tinggalkan saja laki-laki yang seperti itu.”

Ingin rasanya Jisun menutup indra pendengarannya sekarang juga! Jisun segera bangkit berdiri dan merapihkan buku-buku yang berserakan dimeja, lalu melenggang pergi menuju ke kelas berikutnya. Tanpa ia sadari Myungsoo mengikutinya dari belakang.

Kedua kaki itu terhenti dengan refleksnya saat ia melihat sosok Chanyeol tengah berdiri didepan gerbang besar dekat taman belakang. Myungsoo hampir saja menabrak punggung Jisun yang berhenti dihadapannya secara tiba-tiba.

“Chany—“

Teriakan Jisun kalah cepat oleh mobil sedan yang melaju menghampiri Chanyeol.

Bukankah itu mobil Chanyeol? Jisun membatin

Kaca hitam di jok depan terbuka.Terlihatlah seorang yeoja berparas cantik tengah menduduki kursi kemudi, membuat Jisun bertanya-tanya siapa-gadis-itu. Didetik berikutnya Chanyeol memasuki mobil itu dan duduk disebelahnya.

“Yeoja cantik itu Kim Hyesun, mantan kekasih suamimu. Sudah ku bilang Jisun-ssi, tinggalkan saja laki-laki yang seperti itu.” Bisik Myungsoo ditelinganya. Seakan membuat api yang berkobar-kobar dihatinya semakin membuas.

Dadanya terasa sesak, matanya mulai memanas, ia menahan itu semua sehingga bibir merahnya ikut bergerak tak nyaman. Jisun sadar selama ini Chanyeol memang tidak pernah menganggapnya ada. Mungkin tidak lama lagi Chanyeol akan segera menggugat perceraian untuknya. Ketakutan macam apa lagi ini? Mengapa hatinya seolah menolak untuk berpisah dengan namja itu? Mengapa sedih sekali menerima kenyataan bahwa mereka memang tidak ditakdirkan untuk bersama? Bisakah namja itu melihat dan mencintainya saja?

Ini aneh. Jisun merasa bahwa rasa sakit ini bukan sekali atau dua kali dialaminya. Rasa sakit ini seolah membongkar lagi luka lama yang selama ini terpendam. Rasa sakit yang tidak lagi ia jumpai dalam waktu yang lama.

“akgh..” Jisun menekan nekan keningnya yang mulai berdenyut tak karuan. Potongan-potongan memori yang asing beruntutan memenuhi otaknya.

“Jisun-ah, Gwaenchana?” pekik Myungsoo panik saat tubuh Jisun mulai melemas.

“Antar aku pulang…. Akghh” Jisun memejamkan matanya sambil menahan rasa sakit akibat serangan kenangan yang menghampiri otaknya. Ia memijat keningnya lagi.

“Baiklah. Ayo!”

*****

@ Sun-Yeol Appartment

“Ck. Sampai kapan kau akan terus mencintai namja bodoh itu, sih?!” gumam Myungsoo sambil menatap lembut Jisun yang terlelap damai di atas tempat tidur. Sudah 3 jam ia menjaga gadis pujaan-nya ini, membuat hatinya menghangat. Perlahan Myungsoo membelai rambut gadis itu dengan halus.

BRAAAK… Terdengar suara gebrakan pintu kayu jati yang cukup keras.

“JAUHKAN TANGAN LANCANGMU DARI ISTRIKU!”

Entah sejak kapan Chanyeol berada disana. Secepat angin, ia langsung mencengkram kaus Myungsoo dengan nafas yang mengebu-ngebu. Pitam-nya naik ke jarum klimaks saat melihat gadis yang paling berharga untuknya disentuh orang lain.

“Eorrhaemanida (long time no see) Chanyeol-goon.” Myungsoo bersikap sesantai mungkin menanggapi teman lamanya ini.

“APA YANG KAU LAKUKAN DISINI?! JAWAB!!” bentakan Chanyeol seakan-akan mengalahkan singa manapun yang mengaung 7cm dihadapan wajah Myungsoo.

Myungsoo tertawa remeh lalu menatap Chanyeol tajam “Hanya bermain-main sebentar dengan istrimu yang kesepian.”

“KAU—“

BUGH… BUGH… Chanyeol meninju perut Myungsoo, berharap agar ia menyesal telah mengatakan hal sekotor itu padanya. Hatinya bergemuruh panas! Apa ini yang disebut cemburu buta? Ah entahlah apa nama benarnya, yang pasti Chanyeol tidak ingin namja manapun menyentuh gadis itu tanpa seizinnya.

Tanpa mereka berdua sadari, Jisun yang tertidur damai disana mulai terusik.

“HAHAHAHA… Apa ini? Sejak kapan kau mulai peduli padanya, hem?”

DEG~

Chanyeol terdiam, cengkramannya mengendur, manik matanya perlahan melembut. Mengapa Myungsoo bertanya tentang hal yang tidak Chanyeol ketahui?

Myungsoo menghempaskan cengkraman Chanyeol dengan mudah. “Bukankah sejak dulu kau sama sekali tidak menghiraukannya, hem? LALU APA SEKARANG?”

Myungsoo balik mencengkram kemeja biru muda Chanyeol dengan kuat dan menghempaskannya kepermukaan tembok. Memojokkan Chanyeol dengan mata pisaunya.

“Dari dulu aku yang selalu menyukainya! Aku yang selalu memperdulikannya! Aku yang setiap saat memperhatikannya! Tapi mengapa Tuhan mentakdirkan dia untuk mencintai bocah tengik sepertimu?!” Tidak ada jawaban apapun yang terlontar dari Chanyeol. Perkataannya itu benar-benar menohok hatinya.

Hening… yang terdengar hanya haluan nafas mereka yang berlomba-lomba

“Cih~ Kau munafik, Park Chanyeol!”

BUGH… Myungsoo memberikan bogem mentahnya pada sudut bibir Chanyeol.

“Kau bilang, kau hanya menganggapnya sebagai muridmu! Tidak lebih!”

BUGH…

“Kau bilang, kau tidak mungkin membalas cintanya!”

BUGH…

“Kau bilang, akan lebih tenang jika Baek Jisun tidak menyukaimu lagi!”

BUGH…

“Aku sudah mengorbankan apapun!”

BUGH…

“Aku belajar lebih giat dari siapapun agar aku bisa mengalahkan kecerdasanmu! Sehingga Jisun akan mencintaiku!”

BUGH…

“Ini untuk semua omong kosongmu!”

BUGH… BUGH… Myungsoo menekan ulu ati Chanyeol dua kali dengan dorongan dengkulnya.

“Uhhuukkk… Uhuukk…” Chanyeol berlutut lemas ketika Myungsoo melepaskan cengkramannya dan mundur dua langkah. Tidak, Chanyeol tidak pantas untuk melawannya! Sudah terbukti bahwa Chanyeol memang bersalah. Tapi ia harus mempertahankan Jisun! Chanyeol tak akan membiarkan Jisun-nya jatuh ke pelukan Myungsoo (lagi)

“Lepaskan dia, Myungsoo-ah. Shhh Aku benar benar menyesal! Hhh Aku mencintainya, sangat!” ujar Chanyeol pelan sambil menahan rasa sakit yang amat. Wajahnya sudah sangat babak belur.

Ingin rasanya Jisun melerai mereka berdua! Namun syaraf-syarafnya mendadak kaku! Sambil terpejam, Jisun mendengar sayup-sayup percakapan mereka dari awal. Potongan kenangan yang terpisah kini menyatu lagi bagaikan Puzzle. Diotaknya kini terputar kepingan-kepingan film hitam putih dengan dia dan Chanyeol sebagai pemeran utamanya.

Dimulai dari pertemuan pertama mereka yang sebenarnya, ungkapan cinta yang sudah tak terhitung lagi banyaknya, tolakan sadis yang Chanyeol lontarkan, kata-kata penenang dari Myungsoo, saat Kai mendepaknya, saat ia men stalk Chanyeol dengan Taeyeon, saat Chanyeol mempermalukannya didepan publik, kenangan terakhirnya di Paraeseo Falls, . Terputar semua disana.

Kepalanya terasa pusing bukan main. Raganya ia tidak bisa lagi menangani kapasitas otaknya yang sudah melampaui batas (Over Capacity.)

BUGH… Myungsoo menindih Chanyeol dan memukulnya lagi.

“Cih. Jangan buat aku percaya akan sandiwaramu! Dia sudah banyak menderita karenamu!”

“eunghhhhh” Jisun berusaha bangkit dan terjatuh dari atas tempat tidur, tanpa sengaja menyenggol Hour Glass yang ditaruhnya di nakas.

PRANGG…

Myungsoo dan Chanyeol refleks menoleh pada Hour Glass yang sudah pecah tak berbentuk dilantai. Pasir yang terdapat didalamnya berserakan dimana-mana.

“JISUN-AH!!!!!!” pekik mereka berdua.

*To Be Continued*

Next chapter might be the last chapter of this fic kekekekeke… Sengaja di Chapter ini aku panjangin. Abis tanggung banget sih, kalau setengah setengah nanti gak seru kan kekekek… thanks for reading dan tetap menanti Fanfic Average Good ini.. Thanks. Leave your comment^3^

96 pemikiran pada “Loving You Like Crazy (Chapter 7)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s