Perfect

Title               : Perfect

Author            : Han Ryu In ^^

Genre            : Romance

Length           : Ficlet

Cast               :

  • Cha Yuin (Fiction)
  • Oh Sehun (EXO K)

Annyeong Hasseyo….

Aku author baru disini. Ini juga adalah ff pertama author yang akhirnya berhasil terselesaikan. Jadi mian kalo jelek, gaje, dan lain sebagainya.

ff ini asli buatan dan pemikiran author sendiri. Kalo ada kesamaan cerita maaf ya….

Ok, sampai sini aja basa-basinya.

HAPPY READING ^^

~~~~~~~~~~©©©~~~~~~~~~~©©©~~~~~~~~~~©©©~~~~~~~~~~

‘Kau tak perlu cantik untuk mendapatkan perhatianku. Kau tak perlu pintar untuk membuatku kagum. Kau tak perlu kaya untuk memberikanku sesuatu yang mahal dan berharga. Dan kau tak perlu sempurna untuk mendapatkan cintaku. Yang kubutuhkan hanyalah dirimu. Dirimu yang tulus mencintaiku. Dirimu yang tulus menyayangiku. Dan dirimu yang tulus memberikan arti cinta yang sebenarnya padaku. Karena hanya ketulusanmulah yang membuatku akan selalu mencintaimu. Sekurang apapun dirimu, kau akan selalu menjadi yang paling sempurna di mataku.’

~~~~~~~~~~©©©~~~~~~~~~~©©©~~~~~~~~~~©©©~~~~~~~~~~

 

Seorang yeoja berambut ikal panjang kecokelatan terlihat tengah duduk tenang pada salah satu bangku kayu panjang yang berada dipinggiran sungai Han. Sang yeoja amat sangat menyukai suasana disekitarnya kini. Kicauan burung-burung dari atas pohon, semilir angin lembut yang menerpa wajah manisnya, dan suasananya yang cukup tenang membuat sang yeoja betah berlama-lama disitu.

Tiba-tiba ada seseorang yang menutup mata sang yeoja dari arah belakang. Bersamaan dengan itu, seulas senyum manis yang menambah kecantikan yeoja itu tersungging dibibir merah jambunya. “Halo nona manis. Apa yang tengah kau lakukan disini sendirian?” Tanya orang yang kini tengah menutup matanya. Jika mendengar dari suaranya yang berat, orang itu pastinya adalah seorang namja.

“Aku? Aku sedang menikmati suasana menenangkan yang berada disekelilingku sekarang.” Jawab yeoja itu tenang. “Kalau begitu, apakah kau tak takut berada disini sendirian?” Tanya orang itu lagi.

“Takut? Tidak. Memang apa yang perlu kutakutkan?” Balas sang yeoja.

“Apa kau tak takut kalau-kalau nanti ada orang jahat yang akan menculikmu? Apalagi kau ini adalah yeoja yang sangat cantik dan manis.” Ujar sang namja. Senyum sang yeojapun semakin berkembang mendengar pujian barusan. Rona kemerahan terlihat di kedua pipi putihnya.

“Kalau begitu, apakah kau orang jahat yang akan menculikku itu?” Tanya sang yeoja.

“Eum, bagaimana kalau kujawab ya?”

“Berarti kau adalah penjahat terbodoh yang pernah ada jika kau melakukannya.” Mendengar jawaban sang yeoja, perlahan-lahan tangan sang namja yang tengah menutup kedua mata yeoja itu merenggang dan akhirnya terlepas. Namun setelah itu sang namja segera memeluk leher sang yeoja dan menyenderkan dagunya dibahu kanan sang yeoja.

“Tidak, kau salah. Justru jika aku menculikmu, itu artinya aku adalah seorang penculik paling beruntung didunia ini karena dapat menyandera seorang yeoja seperti dirimu. Yeoja yang selain cantik kaupun juga baik, tulus, dan berhati malaikat.” Senyum sang yeoja yang sejak tadi tersungging dibibirnya, kini memudar dengan perlahan ketika mendengar penuturan sang namja.

Iapun mengangkat tangannya untuk menyentuh lengan sang namja yang masih bertengger manis di lehernya. Sang yeojapun mencengkram pelan lengan sang namja sambil tetap memandang lurus kedepan. Lalu yeoja itupun menghembuskan nafasnya berat sebelum mengatakan sesuatu pada namja dibelakangnya itu.

“Aku sudah memperingatkanmu. Kalau kau tetap ingin menculikku itu artinya kau benar-benar penjahat yang lebih dari sekedar bodoh.” Sang namjapun semakin mengeratkan pelukannya. Ia hirup sebanyak-banyaknya aroma bunga lily milik yeoja yang kini tengah ia peluk. Seulas senyum tipis bertengger dibibirnya.

“Jika memang itu kenyataannya, bagiku itu tak masalah. Sebodoh apapun diriku, selama ada kau di sisiku. Sekalipun aku disebut gila. Itu semua tak masalah buatku. Karena pada kenyataannya, diriku memang sudah gila. Gila karena terlalu mencintai dan menginginkan cintamu.” Sang yeoja terdiam mendengar rentetan kata-kata namja yang memeluknya.

Setelah itu keheningan langsung menyelimuti mereka selama beberepa saat dengan posisi sang namja yang tetap memeluk leher sang yeoja. Yeoja berambut ikal itupun menutup matanya menikmati suasana disekitarnya seperti sebelumnya. Namun kini ia menikmatinya dengan sebuah kehangatan yang diciptakan dari pelukan hangat sang namja.

Keheningan diantara merekapun terpecah ketika salah satu diantara mereka membuka suaranya.

“Sehun-ah…” Panggil sang yeoja pada namja itu.

“Eum?” Jawab namja bernama Sehun itu.

“Kau tak akan pernah bahagia.” Tutur sang yeoja. Sang namjapun kini semakin mengeratkan pelukannya dileher yeoja dihadapannya itu seakan ia merasa akan kehilangan yeoja itu jika ia melepaskan pelukannya. Merasa pelukan sang namja semakin mengerat, yeoja itupun juga semakin mengeratkan cengkeramannya di lengan sang namja.

“Kau tak akan pernah bahagia…bersamaku.” Ulang sang yeoja dengan tambahan kata diakhir kalimatnya.

“Apa hakmu mengatakan hal itu? Dan apa yang kau tau tentang perasaanku? Sudah kukatakan sebelimnya bahwa aku akan selalu bahagia bersamamu. Hanya kau satu-satunya yeoja yang kucintai selain Ibuku, Yuin-ah.” Ujar sang namja yang membuat yeoja bernama Yuin itu terdiam. Namun setelah itu iapun tersenyum tipis.

“Aku memang tak punya hak untuk mengatakannya. Dan akupun juga tak tahu menahu tentang perasaanmu, karena memang hanya dirimu yang merasakannya. Sekarang, yang kini kulakukan adalah menjalankan kewajibanku.” Ucap Yuin yang sukses membuat sebelah alis Sehun terangkat bingung.

Belum sempat namja itu mengeluarkan pertanyaanya, Yuin pun meneruskan kalimatnya. “Kewajibanku disini adalah mengingatkanmu. Mengingatkanmu bahwa sampai kapanpun, aku tak akan pernah membawa kebahagian untuk dirimu. Mengingatkanmu bahwa sampai kapanpun aku hanya akan menjadi beban berat dalam kehidupanmu. Dan itu semua karena ak-”

Ucapan Yuin itu terhenti ketika telunjuk kanan Sehun tertempel dibibirnya. Meminta nya untuk segera bungkam. Setelah memastikan yeoja dalam dekapannya itu sudah diam, Sehunpun menjauhkan tangannya dari bibir Yuin dan kembali mendekap erat yeoja itu.

“Sudah kukatakan padamu berulang-ulang. Dimataku kau adalah yeoja paling sempurna dimuka bumi ini. Apapun kekurangan dalam dirimu, aku akan selalu menerima dirimu apa adanya.” Sehun terdiam sebentar sebelum melanjutkan kalimatnya.

“Kau tak perlu cantik untuk mendapatkan perhatianku. Kau tak perlu pintar untuk membuatku kagum. Kau tak perlu kaya untuk memberikanku sesuatu yang mahal dan berharga. Dan kau tak perlu sempurna untuk mendapatkan cintaku. Yang kubutuhkan hanyalah dirimu. Dirimu yang tulus mencintaiku. Dirimu yang tulus menyayangiku. Dan dirimu yang tulus memberikan arti cinta yang sebenarnya padaku. Karena hanya ketulusanmulah yang membuatku akan selalu mencintaimu. Sekurang apapun dirimu, kau akan selalu menjadi yang paling sempurna di mataku.”

Setetes air mata kini berhasil keluar dari pelupuk mata Yuin. Dan tetesan-tetesan itu kini sudah berubah menjadi dua aliran sungai kecil di wajah manis yeoja itu. Sehun yang sadar gadisnya kini tengah menangis segera memutar pelan wajah Yuin agar mengahap ke arahnya. Iapun menghapus aliran air mata diwajah Yuin dengan kedua ibu jarinya.

“Uljimma, aku tidak suka kau menangis seperti ini. Apalagi jika kau menangis karena perkataanku barusan. Maafkan aku jika perkataanku tadi menyakit-” Perkataan Sehun terhenti ketika jemari Yuin membekap mulut namja itu.

Selama beberapa saat, suasana kembali hening. Namun setelah itu Yuinpun membuka suaranya. “Aku menangis bukan karena sedih. Namun aku menangis karena aku bahagia.” Yuin mengambil nafasnya sebentar sebelum melanjutkan.

“Bagiku dicintai namja hampir sempurna sepertimu adalah hal termustahil untuk yeoja seperti diriku. Aku amat bahagia ketika dirimu menyatakan perasaanmu padaku. Namun perasaan ragu selalu menyelimutiku. Aku selalu merasa ragu kau memang mencintaiku. Apalagi kau pernah mengatakan kau mencintaiku dengan sangat tulus. Aku juga selalu berfikir bahwa aku tidak akan pernah membahagiakanmu dengan keadaanku sekarang. Justru aku selalu merasa akan selalu menjadi beban untuk dirimu. Dan aku tak mau itu terjadi.”

“Maka dari itu, selama ini aku sudah mengatakan beberapa kali padamu bahwa kau tak akan pernah bahagia bersamaku. Aku hanya akan menjadi beban untukmu. Dan bahkan aku juga pernah menyuruhmu untuk mencari yeoja lain yang lebih baik dari diriku. Itu semua kulakukan karena aku amat sangat mencintaimu, Oh Sehun. Aku tak ingin memberatkanmu.”

Ujar Yuin sambil mengusap pelan wajah namja-nya. Air mata yang tadi sempat terhenti kini kembali menyeruak keluar membasahi wajahnya. Sementara Sehun tertegun sambil terus menatap yeojanya itu. Seulas senyum bahagia terukir dibibirnya. Iapun kembali mengusap pelan wajah Yuin yang banjir dengan air mata.

“Uljimma. Ne, aku mengerti. Terima kasih karena kau juga sudah mau mengerti Yuin.” Ucapnya lalu kembali memeluk yeoja itu dari belakang lagi. Namja itu tak peduli dengan punggungnya yang sudah mulai pegal karena sejak tadi ia terus memeluk Yuin dengan posisi membungkuk karena yeoja itu memang sedang duduk sejak tadi.

“Jadi, apa kini kau percaya bahwa aku akan selalu mencintaimu dengan tulus sampai kapanpun? Akan selalu merasa bahagia bersamamu dan tak akan pernah menganggapmu sabagai beban hidupku?” Tanyanya sambil mendaratkan dagunya di atas kepala Yuin.

“Setelah mendengar penjelasanmu itu tadi, bagiku itu sudah lebih dari cukup.” Ujar Yuin yakin.

“Gomawo.” Bisik Sehun lembut  yang di respon dengan senyuman manis Yuin. Yeoja itupun kembali menggenggam lengan Sehun yang memeluk tubuhnya.

“Seharusnya aku yang berterima kasih.”

“Terima kasih karena dirimu mau dengan senang hati menerima diriku apa adanya. Menerima diriku yang sebenarnya tak pantas untuk bersanding disampingmu. Terima kasih karena telah mengisi ruang yang selama ini selalu kosong di hatiku. Terima kasih karena sudah datang menghampiri hidupku dan memberikan kebahagiaan dalam hidupku. Dan terima kasih karena dengan amat tulus kau berikan cintamu yang berharga ini padaku. Terima kasih. Terima kasih banyak.”

“Terima kasih kembali,” Jawab Sehun.

“Sehun-ah.” Panggil Yuin. “Ne, ada apa?” Tanya namja itu.

“Kau tidak merasa pegal terus berada dalam posisimu saat ini?” Sehun terkekeh pelan.

“Gwenchana, selama kau masih ada dalam pelukanku seluruh sistem syrafku seakan mati rasa. Hanya debaran jantungku saja yang masih terasa.” Ucapnya yang dibalas dengan gelengan kepala Yuin. ‘Namja ini memang benar-benar pintar merayu.’ Batinnya.

“Terserah apa katamu. Sekarang lebih baik kau duduk saja disampingku.” Pinta Yuin sambil menepuk-nepuk tempat desebelahnya. Dan tanpa pikir panjang Sehunpun menuruti perintah yeoja-nya itu. Setelah duduk Sehun kembali mendekap Yuin kedalam pelukannya.

Dan setelah itu, kedua pasangan itupun kembali terdiam menikmati suasana damai disekitar mereka dengan saling berbagi kehangatan, kasih sayang, dan cinta masing-masing.

Beberepa lama kemudian terdengar suara dering telopon milik Sehun. “Hah, mengganggu saja.” Gerutu Sehun yang merasa suasana diantara dirinya dan kekasihnya itu terganggu. Yuin hanya tersenyum tipis mendengar keluhan namja itu. Sehunpun merogoh saku celananya dan melihat nama sang penelepon.

Setelah melihat nama sang penelepon kekesalan namja itu sedikit berkurang. “Nuguya?” Tanya Yuin.

Sehun menoleh sebentar kearah Yuin sambil tersenyum. “Ibumu.” Jelasnya. “Hah, Eomma pasti mencemaskanku lagi.” Kini giliran yeoja itu yang menggerutu. Sehunpun tekekeh geli melihat tingkah yeoja-nya itu. Iapun segera mengangkat teleponnya.

“Yoboseoyo. Ada apa Ahjumma? Yuin? Ne, ia berada bersamaku. Sekarang? Baiklah Ahjumma aku mengerti. Ne, aku akan segera kesana.”

Pip

Sehunpun memutuskan sambungan telepon.

“Yuin-ah, kajja kita pulang. Eommamu sudah mengkhawatirkanmu.” Ajak Sehun.

“Hah, Eomma pasti selalu begini. Akukan sedang menikmati waktu bersamamu.” Ucapnya sambil mengerucutkan bibirnya yang membuat dirinya semakin manis.

Sehun terkekeh pelan melihat kelakuan Yuin. “Itu artinya orang tuamu amat sangat mencintaimu. Suadahlah, ayo kita pulang. Besok kita bisa jalan-jalan lagi bukan. Lagi pula sekarang sudah sangat sore. Kau harus istirahat. Kajja.” Ajak Sehun sambil menarik lembut lengan Yuin agar berdiri.

“Baiklah kajja. Tapi sebelumnya tongkatku dimana Sehun-ah?” Ujar yeoja itu. Sehunpun menyerahkan tongkat yang Yuin maksud.

“Igheo. Sekarang genggam tanganku. Aku akan menuntunmu.” Perintah Sehun yang langsung dituruti Yuin. Merekapun berjalan perlahan menuju mobil Sehun yang diparkir tak jauh dari tempat mereka.

Dengan bantuan tongkat dan tuntunan dari Sehun, merekapun sampai di mobil Sehun.

Apakah kalian sudah dapat menebaknya?

Ya, Yuin adalah seorang penderita Tuna Netra. Ia tak dapat melihat sejak kecil karena kecelakaan yang sempat menimpanya.

Itulah mengapa Yuin merasa ia hanya akan memberatkan dan tak akan membahagiakan seorang Oh Sehun, namja yang dicintainya dan juga mencintainya. Namja yang mencintainya dengan setulus hati dan jiwanya. Namja yang tak pernah melihat kekurangan apapun dalam diri seorang Cha Yuin. Namja yang sampai kapanpun akan menjadi cinta pertama dan terakhir untuk seorang Cha Yuin.

Itulah cinta. Mencintai dengan tulus tanpa pernah memandang kekurangan apapun dari orang yang ia cintai. Maupun itu dari segi sifat, fisik, atau apapun.

 

“Cha Yuin, norul hangsang saranghal goya(aku akan selalu mencintaimu).” Oh Sehun

 

The End

Gimana? Gaje ya? Ga bagus ya? Aneh ya?

Mian kalo jawabannya iya semua. Maklumin aja ya. Namanya juga ff pertama.

Author tunggu komennya ya. Tapi kalo ga mau komen juga ga apa-apa.

Annyeong…. ^^

Iklan

12 pemikiran pada “Perfect

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s