Face Off (Chapter 1)

Face Off

Author : Wizzie

(twitter : @Iam_BabyExotic / facebook : facebook.com/KaramJungMin)

Genre : Drama, Friendship, Romance, Sad

Rating : General Audience (maybe)

Lenght : Chaptered

Alur : Mix

Main Cast :

  • Gong Sehyun (OC)
  • Byun Baekhyun
  • Kris Li
  • Kai
  • Go Woori

P.S : If in this fanfic you find a mistake, I’m really sorry but I just try do the best as possible. Don’t be silent reader or secret reader, please leave a comment. So, I can instrospection my self and my fanfic. Don’t be plagiarize. I’m happy if my fanfic can inspired you but don’t plagiarize. Thx.

—————————————————————————————–

I think I’m ugly
And nobody wants to love me
Just like her I wanna be pretty
I wanna be pretty
Don’t lie to my face cuz I know
I’m ugly”
(2NE1-UGLY)

—————————————————————————————–

 

 

“Bwayo! Neon neomu chuhan saram !”
(Lihat! Kau orang yang sangat jelek!)

“jeoge sram eolgurini ?? omo omo … neomu chuhada !”
(Apakah ini wajah orang ?? Ya ampun ya ampun … jelek sekali !)

“Naega jeoraesseumyeon nan beolsseo jasalhaeta~”
(Jika itu aku, aku pasti bunuh diri~)

Ya, itulah yang setiap hari ku dengar. Mereka yang cantik atau tampan, selalu seperti itu kalau melihatku. Tak ada yang bisa ku lakukan selain berlari dari mereka dan bersembunyi di pohon tua rindang yang terletak di halaman belakang sekolah sambil menangis, bahkan berteriak.

“AAAAAAAAAAAAA !!!! WAE ??!!! WAEEEEE ?!!!!” teriakku kepada pohon yang ada di hadapanku. Aku merasa hancur, tidak berharga, hina, menjijikkan , semua bercampur jadi satu. Pipiku sudah basah oleh air mataku, aku tidak kuat lagi! Kenapa dunia begitu tidak adil padaku ?! Apakah karena aku jelek ? Dan kenapa aku harus jadi jelek ?! Ini tidak adil !

Huuhh~
Korea, kalau yang ada di otakmu hanya ada definisi negara yang maju dalam bidang industri dan hanya berisi orang yang cantik dan tampan seperti artis, kau salah besar! Buktinya masih ada aku, Sehyun. Gadis jelek berbadan kurus,bermata sipit tanpa lipatan mata, hidungku pesek, bibirku dower dan semua kejelekkanku di perburuk dengan bekas luka di wajah kiriku akibat terkena pecahan kaca. Teman-teman dan guruku tidak menyukaiku, bahkan pesuruh dan satpam selalu mencibirku. Kecuali, tetanggaku Woori, ibuku, dan …

“ya! mwohae? (hei! Sedang apa ?)” ujar seseorang yang berada di belakangku, Byun Baekhyun.

Dia satu-satunya anak laki-laki yang tidak mengejekku atau kabur saat melihatku, malah sebaliknya dia memberikanku senyuman dan tatapan hangat yang membuatku merasa nyaman.

“Ya! Neo uldeunji ? dasi ? (Hei! Kau menangis ? Lagi ?)” tanya Baekhyun sedikit heran.

 

Aku hanya menggeleng dan menghapus semua air mataku, namun itu tidak cukup untuk membuatnya percaya, “aniya, geojitmal ma (tidak, jangan berbohong)”  tentu saja, tidak mudah membuat Baekhyun percaya. Apalagi, dia tau betul masalahku.

Aku menangis lagi dan membuat Baekhyun mengerti masalahku “Mereka mengejekmu lagi ?” aku hanya mengangguk. “Masih ingat apa yang ku bilang beberapa waktu lalu ?” Aku kembali teringat akan kejadian beberapa waktu lalu yang masih terasa seperti kemarin.

*flashback* *Autor POV*

Sehyun berjalan lambat menusuri tangga, menuju balkon lantai 4 sekolah. Waktu menunjukan 23.30, semua murid sudah pulang kecuali gadis itu.

Ekspresi gadis itu frustasi bercampur depresi berjalan dengan langkah terseok-seok sambil menangis. Sekarang Sehyun sudah di balkon sekolah, menatap kosong daratan yang kini seperti dibawah kakinya.

Sambil membayangkan daratan itu sebuah kasur, Sehyun menelan banyak sekali obat penenang yang ia campur dengan obat tidur agar Sehyun tidak takut lagi untuk melancarkan rencana yang sudah lama ingin ia lakukan, bunuh diri !
Sehyun meneguk air minum yang ada di botol minum dan inilah saatnya.

Sehyun menerjunkan dirinya dan seketika Sehyun merasa melayang seperti terbawa angin, tapi …

Ia merasa jatuh, tapi bukan terjatuh kejalanan sekolah. Ia merasa jatuh ke benda yang empuk namun agak kaku. Benda itu mengingatkannya dengan … Matras.

Tapi siapa yang menaruh matras di sini ? Bahkan ia yakin sekali, sekalipun ada pesuruh sekolah atau satpam mereka tidak akan bersusah-susah menaruh matras untuknya. Tiba-tiba dihadapannya ada seseorang, lebih tepatnya seorang anak laki-laki. Tapi, siapa ?

Matanya terlalu kabur untuk melihat wajah orang itu. Tak lama, orang itu mendekatkan dirinya ke Sehyun dan berkata,

“neo michigesseo (kau pasti sudah gila)”

Dan pandangan gadis itu pun langsung jadi gelap karena efek obat yang ia minum.

#Keesokkan harinya#

Mata Sehyun mulai terbuka, namun matanya terlalu silau untuk melihat sorot cahaya yang ada di atas wajahnya. Ia mulai mendengar suara dokter dan suster yang tengah memeriksanya.

“ganhosanim (suster), kelihatannya pasien mulai nengalami pemulihan kesadaran. Periksa dan pantau kondisinya setiap 3 jam, pastikan juga asupan makanannya dan obat-obatan harus rutin di berikan.” kata seorang dokter kepada sang suster. Suster itu pun mengangguk sebagai tanda bahwa ia paham atas apa yang di katakan dokter itu.

Kemudian, mereka pun pergi dari kamar Sehyun dan terdengar langkahan sepatu memasuki kamar itu.

“Kau, sudah sadar rupanya.” kata Baekhyun pada gadis itu sambil tersenyum hangat pada gadis yang masih belum pulih kesadarannya,

“Nan eodiya ? Nan wae yeogi isseo ? (Aku dimana ? Kenapa aku disini ?)” Baekhyun hanya tertawa kecil mendengar pertanyaan Sehyun yang begitu polos.

Sehyun pun heran dengan ekspresi Baekhyun yang menatapnya lucu.

“Gong Sehyun aggashi (Nona Gong Sehyun), apakah semalam kau bermimpi sangat indah sampai lupa akan hal gila yang kau lakukan kemarin ?” Hal gila ?

Dalam hati Sehyun bertanya, ia merasa ada sepotong dari ingatannya yang hilang kemarin malam, otaknya masih terlalu lemah untuk berpikir.

“Oh, atau jangan-jangan kau juga meneguk alkohol semalam? Bukan hanya 8 butir obat penenang dan 6 butir obat tidur dosis tinggi yang kau telan ?” Sehyun mulai bingung dengan Baekhyun.

Sepertinya ada yang salah disini, tapi … tunggu dulu … obat penenang ? Obat tidur ? Sepertinya Sehyun merasa tidak asing dengan obat itu.

Bingo! Akhirnya Sehyun pun ingat, kemarin ia nekat ingin bunuh diri dan ia hatus terima kenyataan kalau usahanya kini telah gagal.

Sehyun pun bangkit dari tempat tidurnya, kepalanya terasa pening. Saking peningnya ia menangis, pening yang ia rasa bukan karena efek obat atau apapun itu. Sehyun merasa pening dan sedih karena ia tau Baekhyunlah yang menyelamatkannya. Bukan karena terharu ia menangis, tapi merasa takut dan sedih untuk menjalani hari-harinya yang kelabu itu.

Sehyun benar-benar menginginkan kematian menjemputnya. Punggung gadis itu bergetar, membuat Baekhyun merasa iba atas apa yang menimpa Sehyun. Baekhyun sadar bahwa ia sudah membuat Sehyun sedih karena menggagalkan usaha gadis itu untuk mati.

Tapi, Baekhyun hanya yakin bahwa mati bukanlah solusi yang baik untuk menyelesaikan masalah. Baekhyun masih percaya bahwa suatu hari nanti gadis yang ada di hadapannya akan menemukan titik terang atas masalahnya.

“sehyun-ah, Deurida (Sehyun, dengarlah)” Sehyun mengangkat kepalanya dan menatap mata kecil Baekhyun yang sedang menatap hangat dirinya.

“Seberat apapun hidup, tolong! Jangan pernah berpikir untuk mengakhiri hidupmu! Aku tau kau sangat menderita, apalagi karena rupa wajahmu yang menurutmu sangat membuat depresi. Tapi tolonglah …”

Baekhyun mulai berpikir lagi, sedangkan Sehyun menatap bingung kearah Baekhyun,” … apakah kau tidak peduli pada ibumu ? Woori ? bahkan kau juga sudah tidak peduli padaku ?”

Sehyun masih bingung, apalagi melihat wajh Baekhyun yang mulai bersemu merah.

“Aku tau kau bingung dengan kata-kata ku. Hajiman, gieokhae (tapi, ingatlah) di dunia ini kau tidak sendiri, masih ada orang lain yang peduli padamu. Jadi aku ingatkan, kalau kau merasa sedih, benci, dan lain-lain. Ingatlah pada orang-orang yang masih peduli padamu.”

Sehyun tertegun, ia kembali menundukan kepalanya. Tiba-tiba, Sehyun merasakan tangan yang cantik tengah merangkulnya hangat. Baekhyun memelukanya.

Di tengah pelukannya Baekhyun memberikan sebuah kalung ke tangan gadis itu. Kalung itu berwarna perak, bandulnya berbentuk symbol seperti matahari dan ditengahnya ada krystal putih membuat kalung itu cukup bersinar.

“gieokhae (ingatlah), aku akan selaku menjadi matahari yang bersinar di tengah hari surammu.”

*flashback off* *Sehyun POV*

Aku menghapus air mataku dan menoleh ke arah Baekhyun, “Aku kan sudah bilang … jangan kebanyakan nangis. Nanti kepalamu bisa pusing.” kata Baekhyun dengan nada penuh perhatian.

“Ah, Baekhyun-a. Tidak mudah bagiku menerima semua ini, aku belum terbiasa.” jelasku padanya. Baekhyun hanya tersenyum kecil padaku,

“Kalau kau sedih, kau hanya perlu mengingat orang-orang yang peduli padamu. Khususnya Byeon Baekhyun, Neo-ui meotjin wangjanim  (Byun Baekhyun, Price Charming-mu)” katanya sambil memasang wajah sok keren dengan jari membentuk angka 2 (peace).

Aku tertawa kecil ke arahnya dan senyum hangat Baekhyun pun kian melebar. Aku berjanji dari dalam hatiku, jika aku sudah menemukan kebahagiaanku.

Aku tidak akan pernah melupakannya, Byun Baekhyun. “Ya!” seruan Baekhyun tadi cukup membuatku kaget. “Eo ? Mwoya ? (ya? Apaan ?)” tanyaku polos

“Hahahahahahaha … 야! Kau mau menginap di bawah pohon ini ? Ayo kita pulang!” seru Baekhyun di iringi dengan tawa cerianya. Aku hanya tersenyum biasa sambil berdiri.

“oneuldo (hari ini), aku mampir ke rumahmu ya?” tanya Baekhyun padaku, “O, geurae (oh, baiklah)” jawabku singkat.

 

Kami berjalan kaki menuju rumahku, karena rumahku cukup dekat dengan sekolah.

Saat sedang menusuri jalan, orang-orang menatap heran kepada kami, atau mungkin lebih tepatnya kearah Baekhyun.

Mereka heran karena Baekhyun mau berjalan dekat-dekat denganku. Bahkan diantara mereka ada kerumunan 5 gadis SMP cantik yang berbisik-bisik karena melihat wajahku.

“Ya Ya! bwayo, kenapa Oppa itu mau berjalan  dekat gadis jelek itu?”
“Molla (tidak tahu)”
“Aneh sekali”
“ige namjaga, neomu kwiyeopda ( Dia (laki-laki) imut sekali)”

Kurang lebih seperti itu yang ku dengar. Aku merasa risih, sangat risih! Aku benar-benar belum bisa menerima ini semua. Sampai akhirnya aku tidak mendengar mereka dengan jelas karena ada tangan yang menutup telingaku.

Jakkaman (tunggu dulu)! Tangan? Kenapa ada tangan menutup kupingku? Aku pun menoleh kearah Baekhyun. Ternyata, dia yang menutup telingaku dan ia pun berbisik,

“Biarkan saja mereka.” aku mulai merasa tenang, Baekhyun selalu tau cara membuatku merasa nyaman.

#Di rumah Sehyun

“Kau mau jus jeruk atau susu stawberry ?” “Aku mau jus jeruh yang dicampur air soda.” Aku meletakan tas ku di sofa dan segera ke dapur, sedangkan Baekhyun, ia sudah tiduran di sofa dan bersiap menonton MUSIC BANK.

Kebetulan ini hari jumat dan 10 menit lagi acara itu mulai. Apalagi hari ini adalah comeback perdanannya Girls’ Generation, girlband favouritenya (terutama Taeyeon).

 

“Sehyun-ah~ palli dora~ (Sehyun, cepat kesini)” teriak Baekhyun memanggilku.

“Ne, jakkaman! (Ya, tunggu sebentar).”

Aku segera meletakan minuman keatas nampan dan bergegas ke ruang tengah, karena Baekhyun yang ingin cepat-cepat minum. Saat memasuki ruang tengah, Baekhyun menoleh kearahku dengan wajah sedikit tidak sabaran,

“Ya! Lama sekali~” keluhnya kepadaku. Aku hanya sedikit memajukan bibirku, karena sikapnya yang kurang sabaran kalau sedang menunggu sesuatu.

“Mian, nan geunyang nongdam-iya (Maaf, aku hanya bercanda)” katanya sambil memamerkan senyum isengnya.

Aku pun duduk di sampingnya sambil meletakan minuman. Baekhyun langsung mengambil minumannya, ku lihat cara minumnya yang rakus sepertinya ia sangat haus. Dia bukan orang yang tahan haus.

“Aahh~ Segarnya~” dia senang sekali aku buatkan minum. “Oh, sudah mulai.” Celetuk Baekhyun.

Sorot matanya sudah menunjukan keantusiasan yang khas seperti seorang fanboy pada umumnya.

“A-YO! GG!”

Ia pun bangkit berdiri sambil berteriak seperti itu sudah sangat cukup mebuatku hamper menyemburkan minuman dari mulutku, laki-laki bodoh!

Dan sekarang, aku sedang melihat keantusiasan yang benar-benar antusias. Baekhyun mulai menggoyangkan pinggulnya seperti yang di lakukan para member Girls’ Generation tanpa perduli bahwa sekarang ia sedang menumpang nonton di rumahku dan aku selaku tuan rumah sudah melongo melihat tingkahnya, dasar fanboy yang menyusahkan.

“Ya! Hati-hati dengan barang-barang itu!” protesku karena goyang Baekhyun bukan hanya erotis tapi juga anarkis yang memungkinkan ia untuk mengahncurkan barang-barang pajangan ibuku.

“Ne, Gwaenchana … Aku tidak akan menghancurkan seisi rumah ini, OK ?” jawabnya santai.

Hufftt~ Baekhyun~

Tiba-tiba mataku terarah kearah salah satu member GG, yaitu Taeyeon. Aku tidak heran kalau Baekhyun begitu mengidolakan Taeyeon. Maksudku, coba lihat Taeyeon.

Matanya bulat seperti kacang almond dengan lipatan mata yang cantik, wajahnya mulus dan kecil tapi tidak tirus, kulitnya putih bersih, dan kakinya cukup langsing.

“Oneuldo, Taeyeon noona neomu yeppeuda (Hari ini, Kak Taeyeon sangat cantik).” kata Baekhyun dengan mata berbinar memandang kearah TV. Aku menundukan kepalaku, aku sunggu kesal mendengar kata ‘cantik’.

“Waeyo?” Tanya Baekhyun padaku, tapi aku tetap mengabaikannya dan terus menunduk sambil bergumul di dalam hatiku.

“Hajima, aku hanya menunjukan keantusiasanku.” jelasnya padaku. Tapi aku tetap diam saja.

“Sehyun-a, jebal. Aku tidak bermaksud menyindirmu sama sekali.” ucap Baekhyun sekali lagi.

Huh~

Demi membuat Baekhyun senang aku mengangkat wajahku dan mengahadap kearahnya sambil tersenyum kecil. Dari sorot matanya, aku tau bahwa Baekhyun tau senyumanku itu hanya setengah hati. Namun, dia tidak mau terlalu ambil pusing karena takut akan membuat suasana semakin tidak nyaman.

Ting Tong …

Ting Tong …

Ting Tong …

Terdengar bunyi bel pintu rumahku, aku kedatangan tamu. “Biar aku buka dulu pintunya.” Kataku kepada Baekhyun. Baekhyun hanya mengangku dan aku pergi meninggalkannya menuju pintu rumahku.

 

Ceklek. Ku buka pintu rumahku.

“Sehyun-aaa!!”

Sesosok gadis berambut panjang dengan baju mini dress biru muda menyebut namaku dengan girangnya, dia Woori. Sahabat sekaligus tetanggaku juga orang yang tidak mencelaku.

“Woori-ah, ayo masuk.” Aku mempersilahkannya masuk kerumahku. Woori dan Baekhyun, mereka adalah orang yang paling sering datang ke rumahku. Kami pun berjalan beriringan menuju ruang tengah untuk ikut bergabung dengan Baekhyun yang sudah mengganti channel TV.

“Baekhyun-ah, Annyeong.” sapa Woori kepada Baekhyun.

“Ah, Woori-ah. Neo wasseo. (Ah, Woori. Kau datang.)” balas Baekhyun.

“Anjeuseyo Woori-ah. (Silahkan duduk Woori)” kataku mempersilahkan Woori duduk.

“Ah! Sehyun-a!” seru Woori, “Aku punya berita bagus.” Lanjutnya. “Berita apa ?” tanyaku sedikit antusias, Baekhyun pun demikian. Tak lama, Woori membuka majalah yang ia bawa dari rumah. “Ini dia!” serunya setelah menemukan halaman majalah yang dituju.

Aku melihat sekilas halaman itu, aku dan Baekhyun sedikit melongo.

“Operasi Plastik ?”

To be continue …

—————————————————————————————–

Gimana ? Bagus ga ? Ato GAJE ? Mian yah kalo GAJE … Next, episode pasti akan lebih baik lagi. Thx, readers. Annyeooonngg~

11 pemikiran pada “Face Off (Chapter 1)

  1. Lanjut Thoorr !!!!! Bagus Banget Aku Gemes Bacanya !! penasaran BAekhyun Jadi Suka ga Ya sama sehyun habis oplas ?? DAEBAK THOOOOOOOOOOORRRRRRRRR !!!!!!!!!!!!!!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s