Unspoken Love (Chapter 2)

Unspoken Love [2/2]

 

Author: Ifa Raneza

Cast:

  • Kai (Kim Jong In)
  • Shin Nara
  • Jang Young Hee
  • Kris
  • Oh Sehun
  • Jung Jae Rin

Length: Twoshot

Genre : Horror, Comedy(?), Romance, Angst, Family

Unspoken Love (1)

Warning: Sorry for typo -___-v

 

** ** **

 

I’m not a disturber.

I just want to say something to you.

I love you…

I need you…

And I miss you.

 

 

“Nara-ah!” panggil Jong-in saat ia mendapati sosok itu tengah duduk sendirian di bangku taman dengan buku Fisika tebal yang berada di tangannya.

Sosok itu menurunkan buku yang menutupi wajahnya dan membalas panggilan Jong-in dengan senyumannya yang selalu membuat jantung Jong-in menggila.

Namja itu tiba di hadapan Nara dengan nafasnya yang sedikit tersengal karena ia berlari-lari kecil tadi, tapi walaupun begitu, senyuman puas tetap terlihat jelas di sudut bibirnya.

“Hey…” sapa Nara sambil menutup bukunya. Entah apa yang membuatnya betah berlama-lama memperhatikan senyuman Jong-in, karena nyatanya kini ia tidak bisa berhenti tersenyum saat melihat bibir namja itu membentuk sebuah senyuman.

“Sedang belajar?” tanya Jong-in yang hanya dijawab dengan anggukan oleh Nara. “Apa aku mengganggumu?”

Dengan cepat Nara menggeleng. “Aniyo. Kau tidak menggangguku sama sekali,” ujarnya lembut.

“Ngg… Nara..” Jong-in tampak menggaruk-garuk belakang kepalanya yang sama sekali tidak gatal. Ia menghapus senyumnya dan menggantinya dengan raut wajah bersalah. “Soal kemarin.. Tolong maafkan Sehun. Dia tidak benar-benar bermaksud menamparmu..” ucapnya pelan.

Nara tersenyum tipis seraya menggelengkan kepalanya.

Gwaenchana, aku tahu dia bermaksud baik,” ujar Nara tanpa menghapus senyumannya, membuat Jong-in kembali meleleh mengetahui betapa baiknya ‘malaikat’ cinta yang Tuhan kirim untuknya ini.

“Ngg… Nara––”

“Jong-in ah, bagaimana kalau sore ini aku ke rumahmu? Hari ini eomma dan appa-ku sedang pergi dan akan pulang malam. Bolehkah?” tanya Nara dengan senyuman dan kedua matanya yang berbinar, membuat Jong-in lagi-lagi bersusah payah menahan semburat merah di pipinya.

“Ten… Tentu saja…!” jawab Jong-in sambil mengangguk dengan semangat.

“Ah, benarkah? Gomawo…!” ujar Nara ikut senang hingga tanpa sadar ia menggenggam kedua tangan Jong-in dan mengayun-ayunkannya pelan.

Sekarang Jong-in malah memelototkan kedua matanya melihat kedua tangannya digenggam oleh kedua tangan halus Nara.

“Eh, maaf…” ucap Nara canggung sambil melepaskan tangannya dari tangan Jong-in pelan.

Ne, tidak apa-apa…”

“Sore ini aku ke rumahmu. Aku janji tidak akan telat,” ucap Nara mengingatkan Jong-in.

Ne, aku tunggu.”

**

 

“Jong-in ah, temanmu datang!”

Suara Kris dari ruang tamu membuat semangat Jong-in kembali muncul. Ia langsung meloncat dari tempat tidur dan segera berlari ke ruang tamu bak lari marathon. Tapi semangatnya itu menghilang seperti menguap begitu saja ketika ia mendapati orang yang menunggunya bersama Kris di ruang tamu.

“Kau…?” ucap Jong-in seakan tak rela dengan keberadaan orang itu.

Ne, ini aku,” ujar orang itu dengan senyuman tak berdosanya. “Ini aku, Oh Sehun yang paling keren, tampan, dan memesona,” ujarnya lagi dengan gaya membanggakan dirinya sendiri yang tampak begitu menjijikkan, membuat Jong-in bergidik geli melihatnya sedangkan Kris hanya tertawa kecil.

“Kau kenapa, Jong-in? Dia kan temanmu juga,” tanya Kris saat melihat Jong-in hanya memasang raut wajah kecewa sambil menutupi wajahnya dengan bantal sofa.

“Tapi bukan dia yang kutunggu,” jawab Jong-in pelan.

Mwo? Siapa lagi yang akan datang?” tanya Sehun antusias. Ia bahkan mencondongkan tubuhnya ke arah Jong-in hingga wajah mereka hanya berjarak beberapa centi.

“Yaak, jauhkan wajahmu dariku!” seru Jong-in sambil menoyor kepala Sehun.

“Aaaw… sakit…” ringis Sehun sambil menunjukkan wajah baby-nya yang membuat Jong-in menunjukkan ekspresi ingin muntah.

Yaa… Bukankah kalian ini teman?” tanya Kris yang hanya memandangi kedua orang aneh itu dengan tatapan heran. Biasanya Jong-in dan Sehun akan bersikap layaknya anak kembar jika bertemu.

“Hey, Jong-in. Kau belum menjawab pertanyaanku. Siapa yang kau tunggu?” tanya Sehun lagi dengan raut wajah antusiasnya.

“Shin Nara,” jawab Jong-in cepat, lalu ia kembali menyembunyikan wajahnya di balik bantal.

“Siapa? Siapa? Suaramu kecil sekali,” goda Sehun yang jelas-jelas sudah mendengar jawaban Jong-in.

“Shin Nara.”

Mwo? Shindong?”

“SHIN NARA! SHIN NARA, PABOOOOOO!!!!” teriak Jong-in tepat di telinga Sehun yang membuat namja itu menutup kedua telinganya.

“Aku bisa tuli, Jong-in ah!” seru Sehun galak sambil menggosok-gosok kedua telinganya yang sedikit berdengung.

“Ishh, itu salahmu!” sahut Jong-in sambil melipat kedua tangannya.

“Hey, sudah.. sudah. Kalian ini seperti kucing dan anjing saja,” ujar Kris mencoba melerai Jong-in dan Sehun yang sudah bersiap untuk menelan satu sama lain.

Ting… Tong…

“Ah, itu dia sudah datang,” ujar Kris seraya bangkit dari duduknya dan hendak melangkah menuju pintu depan, tapi Jong-in mencegahnya.

“Biar aku saja,” ujar Jong-in seraya berlari-lari kecil menuju pintu depan.

Hyung lihat, kan? Kalau berhubungan dengan Nara, anak itu pasti akan langsung bersemangat. Tapi kalau denganku…” ujar Sehun lesu. Ia merasa sudah dinomorduakan oleh sahabatnya sendiri.

“Hey, itu artinya dia masih normal. Tidak mungkin kan, seluruh waktu di hidupnya ia habiskan untuk berdua saja denganmu,” balas Kris dengan kekehan.

“Tapi aku kan temannya.”

“Bagaimana kalau berhubungan dengan Jung Jae Rin? Kau pasti akan semangat, kan?” tanya Kris, mencoba memberikan test pada Sehun.

Tanpa diduga, Sehun langsung bangkit dan membentuk tanda love dengan kedua tangannya di atas kepala.

“Tentu saja, Hyung! Dia kan cinta pertama dan cinta abadiku!” serunya bersemangat.

Kris tertawa terbahak-bahak mendengar pengakuan cinta dari Sehun. Entah apa yang Jaerin perbuat hingga ia harus mendapatkan pacar abnormal seperti Sehun.

Ya, Sehun-ah.. Kau sedang apa?”

Suara datar Jong-in sontak membuat Sehun menghentikan pose ‘I love you’ nya yang tampak konyol. Kris lagi-lagi tertawa keras melihat kelakuan adik dan temannya itu. Sedangkan Nara malah tersenyum sambil terkekeh pelan. Ia sedikit merasa terhibur setiap kali dekat dengan Jong-in dan Sehun.

“Ah, annyeong, Nara-ssi,” sapa Sehun sambil menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal, salah tingkah.

Annyeong, Sehun-ssi,” balas Nara sambil membungkukkan badannya sekilas. “Apa aku mengganggu?” tanyanya yang langsung mendapatkan sanggahan berlebihan dari Sehun dan Jong-in.

“Tidak, tidak! Kau sama sekali tidak mengganggu! Kami bahkan tidak ada kerjaan saat ini!” ujar Sehun mencegah perasaan tidak enak pada Nara.

“Kita sudah buat janji untuk hari ini, bagaimana bisa kau mengganggu?” ujar Jong-in cepat yang hampir membuat Nara tidak mengerti apa yang ia ucapkan.

“Oh… Begitu,” ucap Nara pada akhirnya.

“Hey, bagaimana kalau kita membantu Kris-hyung menyiapkan makan malam?” usul Sehun yang langsung disambut sorakan setuju oleh yang lain.

Baru saja keempat orang itu akan melangkah masuk ke dapur, salah satu frame foto di dinding ruang tamu itu jatuh dan pecah. Tidak ada satu pun dari mereka yang berani untuk mendekat pada frame foto yang pecah itu. Semuanya menelan ludah dengan susah payah, wajah mereka juga sudah memucat bak mayat hidup.

“Fo.. foto siapa yang jatuh?” tanya Nara dengan takut-takut.

Dengan keberanian yang ada, Kris melangkah maju mendekati frame foto yang tergeletak di atas lantai itu. Wajahnya menegang ketika ia mendapati foto yang terdapat dalam frame itu. Itu…

“Foto siapa, Hyung? Jangan bilang kalau itu fotoku,” ujar Jong-in. Bagaimana pun ia tahu, jika fotonya yang pecah secara misterius maka sesuatu yang tidak baik akan terjadi pada dirinya.

“Ini…” jawab Kris menggantung. Kedua matanya masih tertuju pada frame foto yang tergeletak di atas lantai itu.

“Foto siapa?” tanya ketiga orang itu secara bersamaan.

“Fotoku.”

Glek…

Sontak ketiga orang itu menelan ludahnya, takut. Sehun mulai buka suara.

Hyung, jangan-jangan kau punya hutang pada seseorang hingga orang itu meninggal, ya?” ujarnya dengan wajah yang sudah pucat pasi.

Kris menatap Sehun dengan bingung. “Ani.”

“La.. lalu, kenapa fotomu jatuh begitu saja…?” tanya Jong-in yang tak mampu untuk Kris jawab.

“Jangan-jangan…” ucap Nara menggantung. Kedua matanya sudah membulat menatap Jong-in dengan raut wajah ketakutannya.

“Hantu yang kemarin mengejarmu, Hyung!” ujar ketiganya serempak melanjutkan ucapan Nara yang menggantung.

BRAKK!!!

Keempat orang itu langsung menoleh pada pintu depan yang tertutup dengan keras secara misterius. Kris langsung menghampiri ketiga ‘adiknya’ yang semakin ketakutan. Walau bagaimana pun mereka sedang menghadapi makhluk halus. Mereka harus berhati-hati dalam bertindak.

“Se… Sehun-ah… Kenapa pintunya tertutup seperti itu…?” tanya Nara tanpa mengalihkan tatapannya pada pintu depan yang tertutup itu.

Sehun juga tidak mengalihkan tatapannya. Ia menggeleng cepat, tidak tahu harus menjawab pertanyaan Nara seperti apa.

“Jangan-jangan…” ucap Kris pelan. Tidak ada rasa takut dalam suaranya, tapi penasaran dan ragu.

“HANTUUUUU!!!!” teriak Sehun, Jong-in, dan Nara bersamaan.

Bersamaan dengan itu seluruh jendela di ruangan itu langsung tertutup secara bersamaan, menimbulkan bunyi gaduh yang mencekam.

“LARIIII!!!!” teriak Sehun mengomando teman-temannya.

Mereka semua berlari menuju kamar Jong-in yang tak jauh dari ruang tamu. Mereka masuk dengan cepat, dan Kris langsung mengunci pintunya begitu semua adiknya sudah masuk ke kamar itu.

Tidak ada yang berani buka suara. Hanya suara detik jam dinding bercampur suara nafas dan detak jantung mereka yang memburu yang menghiasi suasana mencekam di ruangan itu. Seluruh tubuh mereka berkeringat, keringat karena berlari tadi dan keringat karena ketakutan.

“Han… Hantu itu… Jelas-jelas hantu itu mengincar Kris-hyung,” ucap Sehun dengan susah payah mengatur nafasnya.

“Apa kau yakin?” tanya Nara masih dengan nafasnya yang sedikit memburu.

Sehun mengangguk cepat. “Aku yakin. Yakin sekali,” jawabnya pasti. “Coba kalian pikir. Kemarin saat Nara kerasukan, bukankah saat itu Nara sedang bersama Kris-hyung di ruang makan? Dan kali ini foto Kris-hyung tiba-tiba pecah. Bukankah ini sangat masuk akal jika hantu itu mengincar Kris-hyung?” ujar Kris menjelaskan hasil pemikirannya.

Kris mengangguk pelan. “Kau benar…” ucapnya. “Mungkin saja hantu itu mengejarku.”

“Kalau boleh tahu, apa hyung sering merasakan ada yang aneh sebelum ini?” tanya Sehun lagi.

Kini semua tatapan tertuju pada Kris, menunggu jawaban pria bermata elang itu.

“Bahkan sejak lulus SMA aku sudah merasakan ini. Selama bertahun-tahun, aku sering merasakan hawa dingin pada kulit belakang leherku, padahal bukan musim dingin,” jelas Kris.

Kini Sehun dan Jong-in malah sudah berpelukan, bergidik mendengar penjelasan Kris yang begitu mencengangkan.

“Tak salah lagi! Kau sudah diikuti oleh hantu!” ujar Sehun dengan wajah paranoidnya yang sangat konyol.

“Jadi kau diikuti hantu itu selama bertahun-tahun, Oppa?” tanya Nara tak percaya.

“Mungkin saja…” jawab Kris dengan wajah sendunya.

“A… apa yang hantu itu ingin dari hyung-ku? Apa ia ingin membunuhnya??” tanya Jong-in takut-takut yang langsung mendapatkan jitakan dari Sehun, membuat pelukan mereka terlepas.

“Mana mungkin! Kris-hyung itu orang baik, mana mungkin seperti itu!” sanggah Sehun. “Ada beberapa kemungkinan jika diikuti oleh hantu. Pertama, hantu itu masih memiliki hutang di dunia ini yang belum ia selesaikan. Kedua, hantu itu ingin mengatakan sesuatu yang belum tersampaikan di dunia ini. Ketiga, ada sesuatu yang tertinggal di dunia ini semasa hidupnya. Keempat… hantu itu ingin membawa orang yang diikutinya bersamanya.”

“Tidak salah lagi! Kau pasti terkena kemungkinan yang keempat!!” jerit Jong-in paranoid.

“Sudah kubilang belum tentu seperti itu!” sanggah Sehun. “Satu-satunya cara adalah kita menanyakannya langsung pada hantu itu.”

“La.. lalu apa yang bisa kita lakukan untuk menanyakannya?” tanya Nara takut-takut.

Sejenak mereka semua terdiam, memikirkan sesuatu yang bisa dijadikan sebagai jalan keluar masalah ini. Lalu perlahan semua tatapan beralih pada Nara, membuat Nara menjadi bingung dan salah tingkah dengan tatapan itu.

Wae…?” tanyanya ragu. Seakan mengerti dengan arti tatapan ketiga namja di depannya itu. Nara membulatkan matanya tak percaya. “Kalian ingin aku menjadi perantara kalian dengan hantu itu?” ucapnya tak percaya.

Ia lebih tak percaya lagi dengan senyuman berharap dan anggukan dari ketiga namja itu. Tidak ada cara lain. Hanya Nara yang bisa dijadikan alat sebagai perantara.

**

 

Eomma, aku pergi ke rumah Sehun dulu,” pamit yeoja berjaket biru muda itu sambil menjinjing kotak makanan bermotif polkadot merah muda.

“Ini sudah jam enam, Jaerin-ya… Apa kau tidak mau istirahat dulu?” tanya wanita paruh baya yang sedang merapikan meja makan itu.

“Tidak apa-apa. Aku ingin mengantarkan ini padanya dulu,” ujar yeoja itu sambil mengenakan flat shoe berwarna putihnya.

“Baiklah, tapi hati-hati. Jangan pulang larut malam!”

Arraseoyo!”

**

 

ANDWAEEE!!!” bantah Nara menolak usul ‘baik’ yang Sehun ajukan padanya.

“Tolonglah, Nara. Hanya kau yang bisa membantu kami,” ujar Sehun sambil menangkupkan kedua tangannya dengan wajah memelas.

Andwae, kalian pikir hantu itu makhluk yang menggemaskan apa? Hantu itu makhluk halus! Dengar? MAKHLUK HALUS!!!” ujar Nara sambil melipat kedua tangannya di depan dada.

Jebalyo,” ujar Sehun lagi dengan wajah memelasnya.

Satu detik…

Dua detik…

Tiga detik…

Akhirnya setelah beberapa detik berpikir, Sehun dan yang lainnya dapat melihat anggukan kepala Nara. Mereka semua menghela nafas lega dan mengelus dada mereka sendiri, merasa bersyukur dengan kesediaan Nara untuk dijadikan sebagai perantara komunikasi dengan makhluk halus itu.

“Lalu, sekarang bagaimana caranya membuat hantu itu memasuki tubuh Nara?” tanya Jong-in pada Sehun yang wajahnya mulai berubah tegang.

Suasana di dalam kamar itu pun berubah hening. Mereka semua mulai memasang wajah tegang, menunggu jawaban dari Sehun yang akan menolong mereka malam ini.

“Aku… Aku tidak tahu…” jawab Sehun yang membuat Jong-in langsung menjambak rambutnya hingga ia merasa rambut indah itu hampir lepas dari kepalanya.

Yaa… Sakit, Jong-in ah,” ringis Sehun sambil memegangi tangan Jong-in yang masih aktif menjambak rambutnya.

“Kenapa tidak bilang dari tadi kalau kau tidak tahu, hah???!!!” omel Jong-in tanpa menghentikan siksaan pada kepala sahabatnya itu.

Sementara itu, Nara dan Kris memegangi kepala mereka. Pusing dengan jalan keluar yang tidak juga mereka temukan.

BRUK!!

Tatapan mereka tertuju pada sebuah buku tebal yang jatuh begitu saja dari rak buku Jong-in. Jong-in dan Sehun saling bertatapan penuh arti. Lalu sesaat kemudian yang terdengar di sana adalah teriakan Sehun yang menyuruh mereka semua untuk segera lari dari ruangan itu dan teriakan mereka yang histeris disertai dengan bunyi-bunyi gaduh yang ditimbulkan oleh buku-buku yang terjatuh begitu saja dari rak buku.

BLAM!

Pintu itu tertutup dengan keras, meninggalkan kesunyian yang mencekam di dalam kamar Jong-in yang sudah tidak beraturan lagi. Bantal sudah berserakan di atas lantai bersama dengan buku-buku yang terjatuh tadi.

Lalu seperti debu, sesosok gadis dengan senyuman yang mencekam di bibirnya muncul, menatap pintu yang sudah tertutup itu dengan tatapan mengincar.

“Aku menginginkanmu, Kris…” bisiknya misterius yang diakhiri dengan tawa mencekam yang membuat semua orang ingin menutup telinga mereka ketika suara tawa itu terdengar.

**

 

Mwo? Ke mana Sehun kalau aku boleh tahu, Ahjumma?” tanya Jaerin dengan tatapan ingin tahunya.

Jujur saja, ia sedikit kecewa saat tidak mendapati Sehun berada di rumahnya. Tapi walau bagaimana pun ia tetap ingin memberikan kejutan untuk pacar tersayangnya itu dan oleh-oleh dari Mokpo yang ia bawa.

“Jong-in. Tadi dia berpesan ingin pergi ke rumah Jong-in,” jawab wanita paruh baya yang tak lain adalah ibu Sehun itu.

Setelah membungkukkan badannya dan pamit, Jaerin berjalan menuju halte bus terdekat dan pergi ke rumah Jong-in untuk menemui Sehun-nya itu.

Bogoshippeo, Sehun-ah…”

**

 

Nara meremas ujung jaketnya dengan kuat. Keringat dingin terus bercucuran dari pori-pori kulitnya. Di suasana hening ini, ia masih belum bisa menormalkan nafas dan detak jantungnya yang masih terus memburu. Wajahnya pucat, bahkan ia hampir tak merasakan darahnya mengalir dalam urat-urat nadinya.

Tidak hanya Nara, tapi juga ketiga orang di hadapannya itu. Kris dan Jong-in mengusap wajah mereka dengan gusar sambil sesekali memijit pelipis mereka. Sementara itu Sehun yang paling parah, ia menggigit ujung-ujung kukunya dengan wajah ketakutan seperti wanita.

“Ba… bagaimana? Apa hantu itu sudah hilang?” tanya Jong-in pada Sehun yang meremas tangannya gusar.

Molla,” jawab Sehun cepat sambil menggeleng.

Nara menghembuskan nafas lelahnya. Kini mereka terjebak di dalam dapur yang sudah dikunci, berharap hantu yang mengejar-ngejar mereka––lebih tepatnya Kris––tidak dapat masuk ke dalam ruangan itu. Jam sudah menunjukkan pukul tujuh, tapi mereka sudah tiga kali pindah ruangan demi melarikan diri dari kejaran hantu itu.

“Demi Tuhan, Hyung. Dosa apa yang sudah kau perbuat hingga hantu itu mengejar-ngejar dirimu?” tanya Jong-in dengan wajah frustasi. Ia tidak mau rumahnya menjadi sarang hantu hanya karena kakaknya ini.

Aniyo… Kau kira kakakmu ini buronan, hah?” ujar Kris membela diri.

“Lalu kenapa hantu itu mengikutimu terus?” tanya Jong-in dengan raut wajah menuduh.

“Mana aku tahu apa yang hantu itu inginkan dariku,” jawab Kris yang emosinya mulai terpancing.

Nara menengahi kedua kakak beradik itu. Ia menarik lengan Jong-in sedikit menjauh dari Kris, menghindari perkelahian di antara mereka berdua.

“Sudah, jangan bertengkar. Ini bukan waktunya untuk bertengkar,” ujar Nara mencoba meredam emosi Jong-in dan Kris.

Mereka sama-sama menghembuskan nafas lelah. Bagaimana pun dikejar-kejar hantu seperti ini sangatlah tidak enak. Bahkan perut Sehun sudah berbunyi minta diisi.

Kris…

Kris mendelik ke arah Jong-in. Ia menepuk pundak adiknya itu.

“Ada apa?” tanyanya.

Mwo? Maksudmu, Hyung?” tanya Jong-in tak mengerti dengan pertanyaan Kris.

“Ada apa kau memanggilku?” tanya Kris lagi yang membuat kedua alis Jong-in bertaut.

“Siapa yang memanggilmu?” Jong-in balik bertanya, membuat kakaknya itu semakin kebingungan.

“Heh? Kukira kau yang memanggilku,” ujar Kris sambil mengerutkan keningnya. “Sehun-ah, kau yang memanggilku, ya?” tanya Kris sambil menyentuh pundak Sehun.

Sehun mendongakkan kepalanya. “Hah? Kapan aku memanggilmu?” tanya Sehun dengan wajah innocent nya.

“Lalu siapa yang memanggilku barusan?” tanya Kris pada dirinya sendiri, membuat ketiga orang di depannya menatapnya dengan tatapan takut.

Kris…”

Keempat orang itu membulatkan kedua mata mereka, mendengar suara bisikan yang begitu mencekam. Suara wanita.. dan mereka tahu itu suara siapa. Itu bukan suara salah satu mereka, melainkan…

“Semuanya, lariiii!!!!” teriak Jong-in sambil berlari ke arah pintu yang diikuti oleh ketiga orang di belakangnya.

Tapi baru saja Jong-in ingin membuka kunci pintu itu, sebuah piring jatuh dari tempatnya membuat bunyi benda pecah yang sangat memekakkan telinga. Sontak semua mata tertuju pada piring yang sudah tak berbentuk di lantai.

Nara menelan ludahnya dengan sedikit kesulitan. Lalu ia menepuk-nepuk bahu Jong-in, menyuruh namja itu untuk segera membuka kunci pintu dan membiarkan mereka berlari keluar dari ruangan ini.

PRANG!!

Sekali lagi piring yang ada di meja itu jatuh ke lantai dan pecah. Membuat semua orang yang ada di sana semakin merasa ketakutan. Kris tetap memandang piring-piring pecah itu dengan gusar, terlebih saat Jong-in mulai kesusahan membuka pintu dapur. Berbeda dengan Sehun yang kini memilih untuk merapat pada Jong-in dan mulai merapal doa-doa pengusir makhluk halus.

“Jong-in, cepat buka pintunya,” bisik Nara sambil menepuk-nepuk pundak Jong-in, menyuruhnya agar segera bergerak cepat.

PRANG!

Sekali lagi piring di atas meja jatuh dan pecah, membuat keempat orang itu bertambah kalut.

“Jong-in, cepat buka pintunya!!” seru Kris kalut.

CKLEK!

Berhasil! Pintu terbuka dan membuat keempat orang yang dikejar-kejar hantu itu berhasil keluar dan berlari ke tempat yang lebih aman. Mereka berlari ke ruang tamu, hendak bersembunyi di sana saat langkah mereka terhenti saat melihat sosok yeoja yang tidak asing lagi bagi mereka.

“Ka… Kau…”

**

 

“Aiishh… Apa tidak orang, ya?” gumam Jaerin saat ia tidak mendapatkan respon dari pemilik rumah ketika ia berulang kali menekan bel hingga menggedor-gedor pintu rumah Jong-in.

Ia memerhatikan jam tangannya. Masih jam tujuh. Tidak mungkin semua orang di rumah ini sudah tidur, kan?

“Tapi.. tadi ahjumma bilang Sehun ada di sini,” gumamnya lagi.

Kali ini ia mencoba untuk tetap berusaha menyadarkan orang di dalam rumah ini akan keberadaannya. Sekali lagi ia mengetuk––lebih tepatnyamenggedor––pintu rumah itu. Bisa dipastikan jika sebentar lagi orang di rumah itu tidak membuka pintunya, maka pintu itu akan rubuh.

Jaerin berhenti. Ia sudah lelah mengetuk pintu itu. Akhirnya ia mencoba menggerakkan engsel pintu dan… eh, ternyata pintunya tidak terkunci. Dengan hati-hati Jaerin melongokkan kepalanya, mengintip apa yang terjadi pada penghuni rumah ini.

PRANG!!

Jaerin melonjak kaget saat terdengar bunyi sesuatu yang pecah dari dalam dapur. Ia pun dengan beraninya melangkah masuk ke ruang tamu, mencoba mencari tahu tentang kejadian apa yang terjadi saat ini.

Jantungnya berdebar saat melihat keadaan ruang tamu sudah seperti kapal pecah. Frame foto Kris yang pecah, majalah-majalah yang berserakan di atas lantai, bantal-bantal sofa yang tidak lagi berada pada tempatnya… Ia semakin bingung dengan keadaan rumah ini. Apa rumah ini sedang kemalingan?

PRANG!!!

Sekali lagi yeoja itu terperanjat mendengar bunyi gaduh dari dalam dapur. Ia meletakkan kotak makanannya di atas meja dan melangkahkan kakinya dengan hati-hati menuju dapur.

“Jong-in, cepat buka pintunya!!!”

Jaerin menaikkan sebelah alisnya, sebenarnya apa yang terjadi di sini? Ia hapal betul itu suara Kris. Kenapa Kris bisa berteriak seperti itu pada adiknya sendiri? Aneh.

Tiba-tiba saja langkah Jaerin terhenti. Ia merasakan hawa aneh dalam ruangan ini. Tidak.. bukan hanya di ruangan ini, tapi di seluruh penjuru rumah ini. Ia celingak-celinguk memerhatikan seluruh penjuru ruangan itu, mencari tahu sesuatu yang tak beres di sana.

CKLEK!

Tatapannya beralih pada pintu dapur yang baru saja terbuka dan melihat empat orang yang sedang berlari ketakutan seperti dikejar hantu.

Langkah keempat orang itu berhenti saat melihat sosoknya. Ia memiringkan kepalanya, bingung dengan reaksi yang keempat orang itu berikan.

“Ka… Kau…” ucap Jong-in tergagap.

Chagiyaaaa!!!” seru Sehun yang sudah menghambur memeluk Jaerin dengan erat.

Jaerin sampai kewalahan membalas pelukan Sehun yang hampir membuatnya kehabisan nafas. Setelah beberapa detik ‘bergulat’ dengan pelukan erat itu, Jaerin masih bisa bernafas lega karena pacar tersayangnya itu sudah melepaskannya.

“Kapan kau pulang?” tanya Sehun riang. Ia senang akhirnya ia bisa melihat Jaerin lagi setelah beberapa hari kesepian tanpa sosoknya.

“Tadi sore,” jawab Jaerin singkat. Lalu pandangannya menyapu seluruh penjuru ruangan, mencoba mencari tahu penyebab keadaan rumah ini yang begitu berantakan. “Ada apa ini?” tanyanya meminta penjelasan.

PRANG!!!

Sekali lagi terdengar bunyi pecahan kaca dari dalam dapur, membuat Jong-in melonjak dan langsung menarik Nara dan Jaerin ke arah kamar Kris, dan diikuti oleh Kris dan Sehun dengan wajah panik.

“Nanti kujelaskan,” ujar Jong-in cepat tanpa harus repot-repot menoleh pada Jaerin.

**

 

“Jadi begitu ceritanya…” ucap Jong-in mengakhiri cerita panjangnya mengenai hantu yang selama ini mengikuti kakaknya, Kris.

Tidak ada yang bersuara setelah itu. Hanya Jaerin yang masih bersikap cukup tenang selain Kris di kamar itu, sedangkan yang lainnya mulai memasang wajah panik dan ketakutan. Takut jika hantu itu kembali muncul di hadapan mereka dan akan menelan mereka satu persatu.

“Jadi bagaimana, Jaerin-ah? Kami tidak tahu cara mengusir hantu itu. Aku tidak mau rumahku menjadi sarang hantu,” ujar Jong-in dengan wajah berharapnya. Ia berharap Jaerin akan menemukan jalan keluarnya malam ini juga. Ia sudah lelah ‘main kejar-kejaran’ dengan hantu itu.

“Seperti katamu tadi, kita gunakan Nara sebagai perantara untuk berkomunikasi dengan hantu itu,” ujar Jaerin yang membuat kedua mata Nara dan Jong-in kembali membulat.

Mwo? Ta… tapi ak––hmph!”

Belum sempat Nara memprotes usul Jaerin, Sehun sudah membekap mulut Nara yang membuat Jong-in menatap mereka berdua dengan tatapan tidak rela.

“Belajar dari pengalaman, selama ini hantu itu tidak pernah menunjukkan dirinya lewat tubuh siapapun. Dan sejak Nara berkunjung ke rumah ini, hantu itu mulai menampakkan dirinya melalui Nara, kan? Jadi kesimpulannya, hantu itu hanya mau masuk ke tubuh Nara,” jelas Jaerin panjang lebar yang membuat Nara menatapnya tak habis pikir.

“Ta… Tapi, aku..”

“Kau mau hantu itu terus-terusan mengganggu kalian?” potong Jaerin sambil memasang tampang horror ke arah Nara.

Nara tidak berkutik lagi, ia menelan ludahnya dengan susah payah seraya mengangguk lemah. Benar juga, tidak ada cara lain selain menggunakan cara itu. Dengan begitu mereka jadi tahu apa keinginan hantu itu.

“Baiklah, aku mau.. Tapi bagaimana caranya?” tanya Nara polos.

“Hey, Kris-oppa..” panggil Jaerin pada Kris yang hanya terdiam di sudut kamar. “Bagaimana cara hantu itu bisa masuk ke tubuh Nara kemarin?” tanyanya.

Kris memutar otaknya, mengulang kejadian tak terduga yang terjadi kemarin. “Aku.. Kalau tidak salah aku sedang memuji Nara dan tiba-tiba hantu itu datang,” jawab Kris dengan tenang.

“Sepertinya hantu itu cemburu,” ujar Jong-in sembarangan. Lebih tepatnya dia yang cemburu sekarang.

“Baiklah, kalau begitu puji dia sekali lagi. Barangkali cara itu akan berhasil lagi,” ujar Jaerin memberi petunjuk.

Kini Nara duduk di kursi yang sengaja di letakkan di tengah-tengah ruangan itu dan Kris berdiri tepat di hadapannya. Sementara itu, Sehun, Jong-in, dan Jaerin berdiri memerhatikan sikap keduanya dari sudut ruangan dengan baik. Sehun dan Jong-in sudah meremas kedua tangan mereka, berbeda dengan Jaerin yang tetap tenang dan memerhatikan Kris dan Nara dengan serius.

“Eung… Nara.. kau…” ucap Kris terputus. Bagaimana pun ia masih khawatir jika hantu itu kembali masuk ke dalam tubuh Nara yang lemah. Ia takut pertahanan tubuh Nara terlalu lemah untuk hantu itu.

“Cepatlah, Hyung. Jangan buang-buang waktu!” celetuk Jong-in yang langsung disambut dengan jitakan dari Jaerin.

“Sabar sedikit!” gumam Jaerin kesal sambil menatap Jong-in jengah dari sudut matanya.

Jong-in hanya mendengus kesal menanggapi omelan Jaerin. Lalu ia melipat kedua tangannya dan kembali memfokuskan pandangannya pada kakak dan temannya itu.

“Nara… Aku kagum padamu,” ucap Kris pelan, membuat Nara tertunduk menyembunyikan semburat merah yang muncul di kedua pipinya.

Jong-in yang melihat itu langsung meringis, meremas kedua tangannya dengan gusar karena cemburu melihat reaksi yang Nara tunjukkan pada pujian Kris yang menurutnya sangat standar.

“Kau cantik, berbakat, pintar, dan baik. Aku yakin pasti banyak namja yang mengidolakanmu,” ujar Kris lagi yang membuat Nara semakin tertunduk.

Tapi aneh, Nara sama sekali tidak memberikan respon apapun. Semua orang di ruangan itu tidak bisa melihat ekpresi Nara yang tertutupi oleh rambutnya yang terurai. Sampai akhirnya Kris menyadari bahwa Nara tidak lagi bersikap normal. Nafas gadis itu terdengar begitu keras dan membuat Kris berjalan mundur secara perlahan saat gadis itu mulai mengangkat wajahnya.

Sebagian wajah Nara masih tertutupi beberapa helai rambutnya, sementara itu tatapannya begitu menusuk dengan bola mata yang sedikit menyala menandakan amarah.

“Na.. Nara… Dia…” ucap Jong-in tergagap melihat perubahan Nara.

“Ssst… Dia sudah kerasukan,” bisik Sehun tanpa mengalihkan tatapannya dari sosok Nara.

BRAK!!

Nara berdiri dan langsung menghempas kursi yang tadi ia duduki hingga membentur dinding, membuat Kris melonjak kaget melihat sikap gadis itu. Nara mulai melangkah maju mendekati Kris yang perlahan berjalan mundur, menjauhi gadis itu.

“Kau… milikku..” ucapnya pelan dengan nada rendah, membuat siapapun yang mendengarnya bergidik ngeri. “Jangan melirik gadis lain karena kau milikku!!!”

“Apa?” ucap Kris tak mengerti.

“Kau milikku, Kris!!! Tidak ada yang boleh merebutmu!!!” teriak Nara bersamaan dengan jatuhnya seluruh buku yang ada di rak buku milik Kris.

“Tapi… Tapi aku tidak mengenalmu,” ucap Kris berusaha mengalahkan rasa takutnya.

“Kau tidak… mengenalku..?” ucap Nara dengan suaranya yang semakin mengecil dengan wajah sendunya.

Langkahnya berhenti secara tiba-tiba, membuat semua orang yang ada di sana menatapnya heran. Tiba-tiba ia terduduk di lantai dengan kedua bahunya yang terguncang, ia menangis.

“Kau sungguh melupakanku…?” ucapnya lagi sambil menatap Kris dengan kedua matanya yang sudah basah.

Kris menggeleng dan membuat tangisan Nara semakin menjadi. Tapi sedetik kemudian senyuman tipis yang menyiratkan kepedihan muncul di bibir Nara. Kedua mata yang basah karena air mata itu menatap Kris dengan sendu.

“Aku mengerti… Mana mungkin kau yang begitu populer bisa mengingat diriku selama ini..” ucapnya lirih yang membuat Kris semakin penasaran dengan hantu yang memasuki tubuh Nara itu.

“Siapa.. Jelaskan siapa dirimu sebenarnya,” ucap Kris menuntutnya untuk segera menjawab ucapannya.

“Aku… Aku Jang Young Hee…” ucap Nara yang membuat kedua mata Kris perlahan membulat.

Hyung, kau mengenalnya?” tanya Jong-in yang tidak Kris jawab.

Ia ingat.. memorinya akan masa SMA dulu kembali terputar di dalam pikirannya. Masa-masa saat dirinya dipuja-puja siswi SMA lainnya. Dan saat dirinya mengenal sosok sederhana yeoja bernama.. Jang Young Hee.

[Flashback]

 

“Kyaaaa! Kris-oppa!”

Sorakan histeris itu membuat suasana di lapangan basket itu menjadi begitu riuh. Para siswi yang tak bosannya meneriakkan nama idola mereka, Kris, terus menyorakkan nama itu, menyemangati idola mereka untuk memenangkan pertandingan kali ini.

Brak!

Kris melakukan shoot dan tepat memasuki ring. Siswi-siswi itu semakin bersorak melompat-lompat kegirangan karena idola mereka baru saja memenangkan satu babak.

Supporter di lapangan itu bubar, lalu beberapa gadis menghambur ke arah Kris, berlomba-lomba memberikan air minum, handuk kecil, atau apapun untuk membantu idola mereka itu melepaskan penatnya.

“Oppa, kau hebat,” puji salah seorang dari gadis-gadis itu yang langsung disambut dengan senyuman Kris.

“Gomawo,” ujarnya, membuat gadis-gadis itu terpesona melihatnya.

Kris berjalan keluar dari lapangan sambil menyeka keringatnya yang bercucuran dengan handuk kecil. Tapi langkahnya berhenti saat kedua matanya menangkap sesosok gadis yang sedang menatapnya di sudut lapangan parkir.

Ia membalas tatapan gadis itu dan tersenyum, membuat gadis itu menunduk menyadari tatapannya. Kris mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru lapangan, sepertinya tidak ada orang lain lagi yang gadis itu tunggu. Kemudian setelah melihat tidak ada orang lain selain mereka di sana, Kris menghampiri gadis itu. Terlihat dengan jelas gadis itu mulai kebingungan saat Kris semakin mendekat padanya.

“Hai,” sapa Kris ketika sudah berada di hadapan gadis itu.

Gadis itu hanya menundukkan kepalanya dalam-dalam, menghindari tatapan dari kedua mata elang Kris.

“Hai,” sapa Kris lagi setelah lama menunggu balasan dari gadis itu. “Kris imnida, siapa namamu?” tanyanya sambil mengulurkan tangan kanannya.

Gadis itu mulai mengangkat kepalanya menatap Kris dengan tatapan malu-malu.

‘Manis…’ batin Kris menilai gadis pemalu di depannya itu.

“Jang… Jang Young Hee imnida,” sahut gadis itu pelan, membuat Kris semakin melebarkan senyumannya melihat sikap gadis itu.

“Kenapa tidak bergabung dengan supporter yang lain?” tanya Kris.

Younghee menggeleng.

“Siapa idolamu?” tanya Kris lagi yang membuat rona merah muncul di kedua pipi Younghee.

“Ka.. Kau, Oppa…” ucapnya pelan.

“Mwo? Aku?”

Younghee mengangguk menanggapi ucapan Kris. Namja itu terkekeh, lalu tangannya kembali meraih tangan kanan Younghee tanpa persetujuan dari si pemilik tangan dan menjabatnya pelan.

“Salam kenal, Younghee,” ucap Kris lembut, membuat senyuman manis itu muncul di bibir tipis Younghee.

“Salam kenal…” balas Younghee dengan tak kalah lembut. “Op… Oppa, ada yang ingin kusampai––”

“KRIS!”

Ucapan Younghee terpotong, mereka berdua sontak menoleh ke sumber suara dan mendapati seorang namja yang berlari-lari kecil menghampiri Kris.

“Ada apa, Chanyeol-ah?” tanya Kris saat namja tinggi bernama Chanyeol itu tiba di depannya.

“Baekhyun menyuruh kita berkumpul. Dia ingin membicarakan sesuatu,” jawab Chanyeol.

“Mwo? Membicarakan apa lagi?”

“Entahlah, dia bilang ada sesuatu yang penting yang harus dirundingkan.”

Kris menggerutu pelan. Lalu tatapannya beralih pada Younghee yang sedari tadi diam, kecewa dengan kata-kata Chanyeol yang akan membawa Kris-nya pergi sebelum ia sempat menyelesaikan ucapannya.

“Aku pergi dulu,” ujar Kris sambil tersenyum tipis pada Younghee.

“Ta… Tapi, Oppa…”

“Kris, ayo cepat!” ujar Chanyeol cepat, memotong ucapan Younghee, sambil menarik tangan Kris menjauh dari gadis itu.

Dengan sedikit tidak rela, Kris akhirnya mengikuti langkah lebar Chanyeol. Meninggalkan Younghee yang masih berdiri menatapnya dengan sendu di tempatnya.

“Oppa…” bisik Younghee sambil meratapi punggung Kris yang semakin menjauh. “Oppa, saranghae…”

 

**

 

BRAK!

 

“Siapa yang kecelakaan?” tanya seorang yeoja sambil menatap tubuh tak berdaya yeoja yang bersimbah darah karena dihantam sebuah mobil sport merah.

“Entahlah… Tapi sepertinya aku pernah melihat gadis itu…” balas seorang yeoja lagi sambil menggeleng-gelengkan kepalanya pelan, merasa kasihan pada gadis yang tertabrak mobil itu.

Keadaannya sudah parah. Darah terus mengalir dari kepalanya, mengotori seragam SMA-nya yang mulai berubah warna. Kemungkinan hidupnya hanya sedikit, dan hanya keajaibanlah yang mampu membuatnya bertahan hidup dengan kondisinya yang seperti itu.

“Ah, aku ingat! Bukankah gadis itu satu sekolah dengan kita? Dia kelas satu, kan?” ujar yeoja tadi, membuat temannya menatapnya penasaran.

“Eh, kau kenal dia? Siapa namanya?” tanyanya.

“Jang… Jang Young Hee! Ya, namanya Jang Young Hee!” ujar yeoja itu dengan raut wajah paniknya. “Kasihan sekali, padahal dia kan anak yang baik dan pintar,” ucapnya lagi sambil menatap tubuh Younghee yang mulai diangkat oleh petugas dari rumah sakit ke dalam ambulance.

 

**

 

“Bagaimana? Kau ingat?” Suara serak karena menahan tangis itu terdengar mengakhiri kisah tragis yang terjadi bertahun-tahun yang lalu.

Kris mengangguk pelan, lalu tatapannya beralih pada kedua mata Nara––lebih tepatnya kedua mata Younghee yang kini sedang merasuki tubuh Nara. Perlahan kedua kakinya melangkah mendekat pada Nara, menepis semua rasa takutnya akan makhluk halus yang berada di tubuh Nara. Ia mengangkat sebelah tangannya, mengusap pipi kanan Nara perlahan. Kris tahu yang berdiri di hadapannya kini adalah Nara. Tapi bagaimana pun sentuhannya dan tatapannya kini ia tujukan untuk Younghee, gadis yang ia temui setelah menyelesaikan pertandingannya beberapa tahun yang lalu.

Tangan Kris belum juga berhenti menelusuri wajah Nara. Jemarinya menelusuri kelopak mata gadis itu, membuat gadis itu terpejam, menikmati sentuhan Kris.

“Mata ini… Aku selalu tahu bahwa tatapan ini adalah tatapanmu, Younghee..” ucap Kris pelan, membuat kedua mata itu terbuka dan menatapnya teduh.

“Aku selalu menatapmu, Oppa… Aku selalu menatapmu dari jauh, meskipun kau tidak pernah melihatku. Aku selalu begitu, selalu mengikutimu ke mana pun kau pergi tanpa kau sadari keberadaanku di sisimu,” ucap Nara dengan suara yang berbeda, suara Younghee.

Jaerin bisa merasakan kanan kirinya digenggam oleh seseorang di belakangnya. Ia menoleh dan mendapati Sehun membalas tatapannya dengan ramah dan senyuman yang menghiasi bibirnya, membuat senyuman yang sama muncul di bibir Jaerin. Pemandangan kali ini bukanlah pemandangan menakutkan atau menegangkan seperti yang mereka kira, tapi kali ini Kris dan Nara (atau Younghee) mampu membuat mereka terdiam merasakan hati mereka tersentuh dengan kisah tragis mereka, termasuk Jong-in tentunya.

Pandangan Jong-in tak pernah lepas dari sosok Nara dan Kris. Ia tak pernah tahu kakaknya memiliki masa lalu yang kelam seperti itu. Dan kini ia menatap Nara bukan sebagai Shin Nara, gadis pujaannya, melainkan Jang Younghee, gadis yang selalu mengikuti langkah kakak satu-satunya itu.

“Aku tidak pernah bisa berhenti mengikutimu, Oppa… Karena aku…” ucap Nara terputus, membiarkan setetes air mata lagi jatuh dari pelupuk mata itu.

Wae..?” tanya Kris menuntut Nara untuk segera menjawabnya.

“Karena aku… Aku ingin mengatakan sesuatu padamu. Sesuatu yang belum sempat kusampaikan semasa hidupku..”

Kini Kris merasa ada sesuatu yang memberontak dari dalam dirinya, detak jantungnya berpacu dua kali lebih cepat saat ini. Ia ingin segera mendengar kalimat apa yang ingin gadis itu sampaikan padanya.

Mwoya? Katakan. Katakanlah, Younghee,” ucap Kris tidak sabar menunggu kalimat yang keluar dari bibir gadis itu.

“Aku…”

Kris bisa merasakan genggaman di tangannya yang terasa dingin, kedua tangan kecil itu menggenggamnya. Tapi bukan hangat yang ia rasakan melainkan dingin. Ya… ini adalah sentuhan dari Younghee.

“Aku hanya ingin kau tahu…” ucap Nara lagi, membuat semua orang yang ada di situ hampir mati penasaran menunggu kelanjutan kalimatnya.

“Aish, cepatlah!” omel Jong-in dari sudut ruangan yang langsung membuat Jaerin dengan kejamnya menginjak sebelah kakinya.

“Aaarrgghhh…”

“Diam, Jong-in ah!” omel Jaerin, seraya menatap Kris dan Nara (Younghee) di depannya.

OppaSaranghae…” ucap Nara yang membuat tubuh Kris menegang.

Ia tersenyum, senyum samar saat merasakan tangan Kris menegang di dalam genggamannya.

“Hanya itu… Hanya itu yang ingin kusampaikan. Aku hanya ingin kau tahu perasaanku yang sejak dulu kurasakan terhadapmu..” ucap Nara sambil tersenyum getir. Ia tahu, seorang Kris tidak akan pernah membalas perasaannya.

Nara mundur, melepaskan tautan tangan mereka dengan perlahan.

“Kurasa cukup sampai di sini. Aku tidak akan mengganggu kalian lagi, terutama kau, Oppa. Aku sudah tenang, aku sudah mengatakan apa yang kupendam selama ini,” ucap Nara sambil memejamkan kedua matanya.

Ia mendongakkan kepalanya dengan wajahnya yang perlahan berubah menjadi damai dan tenang. Tubuh itu lama-lama menegang, menandakan Younghee akan segera keluar dari tubuh Nara.

Kris kalut, dengan cepat ia berseru, membuat semua orang yang ada di sana terperangah mendengarnya.

“Younghee! Sarang… Saranghae! Nado saranghae!!” teriak Kris. Ia takut Younghee akan pergi sebelum ia bisa mendengar pengakuan Kris.

Nara membuka matanya, membuat Kris bernafas lega saat melihat tatapan gadis itu masih tatapan seorang Younghee.

“Apa?” ucap Nara tak percaya.

Kedua mata itu menatap Kris dengan tatapan yang sulit diartikan. Senang, kaget, shock, semuanya bercampur.

“Kau…”

Ne, aku rasa… aku menyukaimu,” ucap Kris seraya melangkah mendekat pada Nara dengan perlahan. “Sejak pertama kali melihatmu dulu, aku sudah menyukaimu. Sederhana, manis, baik… Semua itu yang membuatku tertarik padamu, Younghee..” ucap Kris yang membuat air mata itu kembali jatuh dari pelupuk mata Nara.

Op.. Oppa…”

“Aku mencintaimu. Itulah sebabnya aku tak pernah menyinggung dirimu lagi setelah kau meninggal. Itu karena aku takut, aku tidak bisa berhenti memikirkanmu walaupun aku tahu perasaan ini akan terus ada untukmu,” ucap Kris sambil menghapus buliran air mata yang perlahan-lahan semakin deras turun dari mata Nara. “Aku mencintaimu. Dari dulu sampai sekarang, walaupun aku selalu berhasil menutupinya, tapi aku tidak bisa melupakanmu.”

Bibir itu melengkung, memberikan sebuah senyuman untuk Kris.

“Terima kasih…” ucap Nara masih dengan suara milik Younghee. “Terima kasih karena sudah mencintaiku…”

Kris mengangguk dengan sebuah senyuman di bibirnya.

“Aku senang… Terima kasih, Oppa… Aku akan pergi ke duniaku dengan tenang. Aku akan menunggumu menyusulku kelak.. Walaupun aku harus menunggu lama, tapi aku akan tetap menunggumu di pintu surga…” ucap Nara yang membuat hati Kris terasa sedikit sakit. Sakit saat seseorang yang kau sayangi harus kembali pergi meninggalkanmu untuk waktu yang lama. “Selamat tinggal…” ucapnya sambil memeluk Kris.

“Jangan lupakan aku, Younghee…” bisik Kris tepat di telinga Younghee.

Nara mengangguk. “Tidak akan, Oppa…”

Kris bisa merasakan kehangatan yang tersalurkan ke tubuhnya meskipun dingin itu terasa begitu nyata di kulitnya. Ia merasakan tubuh Nara yang berada di dalam pelukannya merosot jatuh ke bawah. Jong-in, Sehun, dan Jaerin yang melihatnya bergegas menghampiri mereka berdua, mengelilingi tubuh Nara yang sudah lemas dan tak berdaya. Jong-in mengangkat kepala Nara ke atas pahanya, menepuk pelan kedua pipinya. Ia tak sadarkan diri.

“Dia sudah pergi, Hyung…” ucap Jong-in pelan yang hanya Kris tanggapi dengan senyuman, senyuman kecewa.

Kris mengangguk pelan. “Ne, dia sudah tenang…” ucap Kris sambil menengadahkan kepalanya, menatap langit-langit kamarnya itu. Berharap Younghee bisa melihat senyumannya sebelum gadis itu benar-benar pergi meninggalkannya.

Kris menunduk, menatap Nara yang masih tak sadarkan diri dan yang lainnya yang sedang menatapnya.

“Cepat bawa dia ke tempat tidur, kita juga harus membereskan semua kekacauan di sini,” ucap Kris sambil mengedarkan pandangannya pada sekeliling kamarnya yang sudah tampak seperti kapal pecah.

Tak hanya kamarnya, ia yakin seluruh penjuru rumahnya juga sudah sangat berantakan.

“Ini akan sangat melelahkan,” ucap Sehun.

“Ah, Chagiya.. Tadi aku membawakanmu makanan. Rencananya aku akan mengajakmu makan malam, tapi ternyata ada masalah di sini,” ucap Jaerin dengan senyuman hangat di bibirnya.

Sehun tersenyum senang. “Benarkah? Aish, kau baik sekali,” ujarnya sambil mencubit pelan kedua pipi Jaerin.

Kris tersenyum lebar menatap adik-adiknya yang kembali seperti semula. Jong-in ikut tersenyum menatap pasangan aneh di depannya itu, lalu tatapannya beralih pada Nara yang belum sadarkan diri.

Saranghae…” ucap Jong-in tanpa mengeluarkan suaranya sedikitpun. Ia memang pengecut, ia takut menyatakan perasaannya pada Nara. Tapi mendengar kisah hyung-nya dan Jang Young Hee, membuatnya sadar bahwa cinta tidak harus mengharapkan balasan. Ia tidak mau nasibnya berakhir sama dengan kisah tragis itu, ia takut ia tidak akan sempat menyampaikan perasaannya pada Nara. Ia berjanji dalam hatinya, setelah Nara sadar nanti, ia akan mengatakan semuanya.

“Ayo kita bereskan semuanya!” ujar Sehun semangat yang langsung disambut sorakan oleh Jaerin.

**

 

Three months later…

“Hey, bagaimana kalau malam tahun baru nanti kita adakan makan malam kecil-kecilan di rumah?” usul Jong-in yang langsung disambut dengan anggukan antusias oleh Nara, Sehun, dan Jaerin yang juga ada di ruang tengah sambil.

“Ide bagus!” ujar Sehun sambil menjetikkan jarinya.

“Tumben sekali kau memiliki ide seperti itu, Jong-in ah?” tanya Kris yang sedari tadi diam memerhatikan adik-adiknya yang sedang bercengkrama seru.

Jong-in tidak menjawab, ia hanya menundukkan kepalanya sambil mengusap tengkuknya.

“Ah, jangan bilang ini karena…” ucap Nara terputus. Ia menutup mulutnya yang setengah terbuka.

Ne, ini pasti karena kau, Nara-ah! Jong-in ingin menghabiskan malam tahun baru denganmu!” celetuk Sehun yang langsung mendapat tatapan horror dari Jong-in.

“Yaak! Oh Sehun, kau!” seru Jong-in seraya melayangkan jitakannya pada kepala Sehun.

“Aaaww…” Sehun meringis kesakitan sambil mengusap kepalanya. Ia menyodorkan kepalanya pada Jaerin dan menyandarkannya di bahu pacarnya itu sambil pura-pura menangis seperti anak kecil.

“Sakit, eoh?” tanya Jaerin sambil dengan penuh kasih sayang mengusap kepala Sehun yang terkena jitakan Jong-in.

Ne~” sahut Sehun manja yang membuat Jong-in memasang tampak ingin muntah.

“Astaga, Hyung… Aku jadi ingin muntah,” ujar Jong-in berlebihan sambil memegangi perutnya.

Kris terkekeh. “Muntah saja di hadapan Tuan Oh Sehun yang tampan itu,” ujar Kris membuat wajah telenovela Sehun menatapnya tak terima.

Hyung!!!” teriak Sehun yang membuat Kris beserta Jong-in dan Nara tertawa lepas.

Seperti inilah kehidupan mereka setelah kejadian menegangkan sekaligus menyedihkan malam itu. Malam di mana Kris bisa berbicara lagi dengan Younghee dan mengatakan apa yang mereka rasakan selama ini. Setelah itu, Jong-in menepati janjinya sendiri, ia menyatakannya cintanya pada Nara tepat saat gadis itu sadar dari pingsannya. Nara awalnya kaget, karena ia pikir ini terlalu cepat. Tapi tidak untuk Jong-in, bukankah ia sudah mengagumi Nara sejak lama?

Tapi akhirnya perjuangan Jong-in berbuah manis, Nara menerimanya dan sampai saat ini mereka masih menjalin hubungan sebagai sepasang kekasih menyusul pasangan aneh––sahabat mereka––Sehun dan Jaerin.

Mereka sering menghabiskan waktu bersama di rumah Jong-in bersama Kris juga tentunya. Kris sudah menganggap Sehun, Nara, dan Jaerin sebagai adik-adiknya. Yaah… semenjak kejadian malam itu, ia merasa sudah seperti menyatu dengan ketiganya. Mereka merasa seperti sudah ditakdirkan untuk bersama, membentuk keluarga aneh yang selalu bertingkah konyol.

Hyung, kau mau ke mana?” tanya Jong-in saat melihat Kris keluar dari kamarnya dengan mengenakan mantel.

Kris tersenyum menanggapi ucapan adiknya. “Tentu saja ke sana, kau tidak perlu bertanya lagi, kan?” ujarnya yang membuat Jong-in beserta teman-temannya terkejut mendengarnya.

Hyung, kau yakin? Aku rasa dua minggu yang lalu kau baru saja pergi ke sana,” ujar Jong-in.

Kris menggeleng. “Aku merindukannya, apa itu salah?” ucapnya seraya melangkah ke pintu depan.

Jong-in mendengus pelan sambil melipat kedua tangannya di depan dada. Ia benar-benar tidak bisa melawan keinginan kakak tersayangnya itu.

“Kakakmu benar-benar tidak bisa lepas dari cinta lamanya, ya?” tanya Jaerin sambil menatap Jong-in lurus-lurus.

Jong-in mengangguk. “Ternyata dia memiliki kisah cinta yang menyedihkan,” gumamnya yang membuat yang lain menundukkan kepala mereka.

“Itulah kekuatan cinta. Cinta mereka begitu besar hingga sampai saat ini Kris-oppa masih mencintai Younghee-eonnie. Iya, kan?” ujar Nara mencoba mencairkan suasana dengan suara riangnya.

Jong-in beralih menatap pacarnya itu. Ia mengangguk. “Kita juga akan seperti itu, kan?” tanyanya sambil tersenyum yang dijawab dengan anggukan oleh Nara.

Saranghae…” bisik Jong-in sambil beringsut mendekat ke arah Nara.

Ia menggenggam kedua tangan gadis erat, lalu menatap kedua mata indah itu dalam-dalam. Kemudian tanpa ia sadari, wajahnya maju perlahan, menghapus jarak antara wajah mereka. Dan…

“Yaak, Kim Jong In!!! Jangan melakukannya di depan kami!!!” seru Sehun dan Jaerin bersamaan, membuat pasangan yang mereka cap sebagai pasangan mesum itu langsung menjauhkan wajah mereka dan menundukkan kepala mereka, malu.

Baik Nara maupun Jong-in hanya menunduk, menutupi wajah mereka yang sudah bersemu merah. Nara melirik Jong-in yang juga sedang meliriknya. Lama kelamaan akhirnya suasan kembali mencair, dan yang terdengar selanjutnya di ruangan itu adalah suara tawa Nara dan Jong-in yang disusul dengan tawa renyah Sehun dan Jaerin.

Persahabatan, kebersamaan, kasih sayang… Semuanya yang terjadi di kehidupan mereka diawali dengan cinta, bukan begitu?

*END*

 

 

 

Ow… ow… Akhirnya selesai juga nih FF horror pertama aku 😀

Jujur pas bikin adegan ‘serem’nya aku merinding loh, apalagi pas bikinnya itu malem-malem abis nonton film horror juga di rumah temen *siapa suruh -___-*

Ehm… berhubung ini FF horror pertama aku, aku pengen tahu adegan favorit kalian di sini 😀

Kalo aku sih suka pas adegan Sehun nampar Kai di part 1 xD *LOL* How about you? ^^

Okay, don’t forget to fill the comment box with your comment ~ 😀

-KAMSAHAMNIDA ^^ *bow*

Iklan

14 pemikiran pada “Unspoken Love (Chapter 2)

  1. Suka bgt adegan Sehun manja sama Jaerin.. Jdi mkin aegyeo sehunx.. Ak suka ff kamu,, romance dpt, comedy dpt, horror dpt, dan friendshipx dpt bgt..

Tinggalkan Balasan ke salwa Batalkan balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s