The Hex (Chapter 1)

The Hex CHAPTER 1

Main cast : Baekhyun

                   Park Soo hee (OC)

Chanyeol

Bang Minah

Baekhyun

Author : Abstyle09

Genre : Horror, Romance, Crack

Rating : G

Length : Ficlet

 ___________________________________

 Bagiku dunia benar-benar sudah berakhir. Pohon Kehidupan sudah lenyap”

Suho berbaring di ranjang dikamar yang putih sepenuhnya. Disampingnya, berbaring sang kekasih. Hal seperti ini, sudah biasa mereka lakukan.

“Aku ingin, kita mati bersama-sama.” Tiba-tiba saja kata-kata itu terlontar dari mulut Suho. 

Aku terkejut mendengar perkataan Suho oppa.

“Tidak mungkin oppa .. Sewaktu-waktu, kita akan berpisah.” Jawabku sambil menatap langit-langit kamar Suho.

“Jadi, kau sudah tidak suka lagi berkencan denganku?!” seru Suho.

Seruannya membuat telingaku sakit. Aku langsung terbangun, “Bukan begitu maksudku oppa. Tapi, bisa saja sewaktu-waktu kita akan berpisah. Kita tidak bisa meramalkan masa depan.” Aku berusaha meluruskan apa yang aku katakan.

“Aku tidak peduli. Pokoknya, aku ingin kita mati bersama! Itu namanya cinta sejati.” Suho menegaskan.

Aku hanya memandangnya datar. “Aku ingin kita mati. Seperti ini!” tiba-tiba saja Suho menariku dan memeluku erat.

Kami berdua saling bertatapan wajah. Aku tersenyum. Suho membalas senyumanku. Suho memajukan wajahnya, aku mengerti maksud kode-kode itu. Akupun langsung menutup mata.

“Belum waktunya, kau masih kecil.” Ucap Suho sambil menyentuh hidungku. Suho langsung melepaskan pelukannya dan menjauh dari tubuhku.

“Jam berapa ini?” gumamku. Aku menarik tangan Suho untuk melihat jam tangannya.

“Astaga! Ini sudah malam! Aku harus pulang sebelum ayah dan ibuku kembali. Sampai Jumpa.”

Aku langsung melompat dari ranjang Suho dan mengambil jaket yang tergantung, tidak peduli jaket siapa yang aku ambil.

“Sampai Jumpa ..” ucapku sambil melambaikan tangan.

Suho mengantarku sampai depan teras rumahnya. “Sampai Jumpa ..” kami berpamitan di depan gerbang rumah Suho.

Aku berjalan pelan di trotoar menuju stasiun bus. “nnggg” tiba-tiba saja kupingku terasa berdenging. Mataku gelap. Aku tidak bisa melihat apa-apa. Aku mencoba memejamkan mataku, mungkin saja setelah aku memejamkan mata penglihatanku kembali. Ini adalah pertama kalinya, mata dan telingaku bermasalah. Aku membuka mataku, masih gelap. Tanganku berjalar mencari pegangan. Aku mengucak-ucak mataku. Tetap tidak berhasil. Aku panik takut kehilangan penglihatan. Aku mencoba memejamkan mata, kalau kali ini tidak berhasil, mungkin aku akan menangis seumur hidup. Aku membuka mataku dan semuanya kembali seperti semula. Aku bernapas lega. Aku melihat orang-orang di sekeliling. Semuanya tidak ada yang berubah.

“Ada apa dengan mataku?” gumamku.

-XOXO-

Aku menekankan ibu jariku kealat pensidik jari. Aku membuka pintu apartemenku dan tidak lupa melepaskan sepatu,  mengganti sepatu yang kupakai dengan sandal.

“Minah eonni ..” Minah eonni adalah sunbaeku. Sebenarnya, dia bukan sunbae lebih tepatnya kakakku. Aku sudah menganggapnya sebagai kakak. Dia seorang yatim piatu. Ayah dan ibunya mengalami kecelakaan saat dia berumur 9 tahun.  Dulu ayahku dan ayahnya adalah teman dekat.

“Minah eonni ..” aku memanggilnya sekali lagi. Tidak ada jawaban dari Minah. “Minah eonni .. Dimana kau?” Aku memanggilnya sekali lagi.

Aku membuka satu-persatu pintu kamar. Aku juga mencoba mengetuk pintu kamar mandi, tapi aku tetap tidak menemukannya.

“Sebenarnya dimana dia??” gumamku sambil berkacak pinggang.

Aku menoleh ke kanan dan ke kiri. Aku melihat pintu gudang terbuka begitu saja.

“Minah eonni, disitukah kau?” seruku sambil mendekati gudang itu. Aku masuk kedalam gudang. Gudang itu sangat gelap.

“Kenapa dia tidak menyalakan lampunya ..” keluhku.  “Minah eonni?” panggilku sekali lagi. Jari-jemariku berjalan menelusuri tembok,  mencari-cari saklar lampu. Seketika lampu menyala. Kardus-kardus tersusun rapih disana. Di gudang terdapat piano lama dan terlihat Minah sedang duduk di depan piano itu. Dia termenung. Tangan hanya menyentuh tuts piano, dia tidak memainkannya. Aku mencoba mengamat-amati wajahnya. Wajahnya terlihat sudah membiru. Aku langsung berlari menghampiri Minah.

“Minah eonni!!! Kau tidak apa-apa??!! Yaaak!! Jawab!!!” Aku menepuk-nepuk pipinya. Aku rasa dia sudah meninggal karena suhu badannya yang turun. Tapi, suhu di gudang sangat hangat tidak mungkin dia mati karena kedinginan.

“Eonni!!! Ada apa denganmu?!” Aku berteriak panik. Tiba-tiba saja, Minah menoleh kearahku. Dia menatapku dengan tatapan kosong.

“kau tidak apa-apa?” tanyaku.

“Aku bingung harus bagaimana.” Ucap Minah dengan suara yang serak. Suara seraknya membuatku bergidik.

“Apakah aku ini orang paling sial di dunia? Paling dibenci atau tidak disuka? Aku tidak diterima bekerja di perusahaan. Orang tuaku meninggal saat aku kecil. Cintaku bertepuk sebelah tangan.” ucapnya.

“Menurutku .. yang paling menyakitkan adalah cinta. Aku begitu mencintainya, aku sudah tidak bisa menahan perasaanku dan yang terutama, dia adalah cinta pertamaku” sambungnya.

Aku menyipitkan mata. Ini bukanlah sifat Minah yang sebenarnya. Dia anak yang pintar, periang, dan dia cukup cantik. Kenapa dia tidak diterima bekerja? Kenapa cintanya di tolak? Dia bahkan sudah memiliki kekasih.

“Minah eonni, ini bukanlah sifatmu.” Kataku pelan. Suasana diantara kami jadi mendingin mendingin. Tidak ada yang mulai berbicara. Tiba-tiba saja,  “ARKK …” Minah mencengkik dirinya sendiri. Mataku langsung membulat dan langsung menarik napas panjang dan menahannya.

“Minah eonni! Jangan bercanda! Kau tahu, aku takut dengan hal-hal yang berbau hantu! Kumohon jangan permainkan aku!”

Aku tidak percaya dengan apa yang sekarang aku lihat. Aku kembali menarik napas dan menahannya kuat-kuat.

“Apa dia kerasukan sungguhan?” gumamku.

Arrrkk ..” Minah memperkuat cekikannya dirinya sampai dia mengeluarkan darah. Mataku membulat melihat darah segar keluar dari mulutnya.

Sebenarnya ada apa ini?! Seumur hidupku, tidak pernah aku melihat penampakan atau sejenisnya. Apa ini mimpi? Atau mungkin … kutukan?

“Eonni!!! Eonni!! Sadarlah!!” Minah terjatuh dari kursi. Dia meronta-ronta di lantai. Aku hanya bisa memandang dirinya melawan setan yang menguasai dirinya. “Sekarang aku harus bagaimana??” rengekku.

Tiba-tiba saja, Minah menahan kakiku. “Lepaskan! Lepaskan!!! Aku tidak bersalah padamu!” Aku berusaha melepaskan genggaman tangan Minah dari kakiku. Aku terus mengelak sambil menatap wajah Minah dengan kesal. Wajah Minah berubah. Kulitnya keungu-unguan bercampur kebiru-biruan, giginya menghilang, dan wajahnya berubah menjadi datar. Mulutnya-mulutnya terdapat cairan bening. “Arrrkk!!” cairan-cairan yang menempel di mulutnya tertarik sehingga terlihat seperti taring.  Aku berteriak sekencang mungkin. Aku berusaha menenangkan diriku. Aku berusaha melepaskan genggaman tangan Minah. Aku menginjak tangan Minah dengan kaki kiriku. Akhirnya genggamannya lepas dari kakiku. Aku langsung berlari menjauh dari Minah. Tanganku langsung meraih kunci gudang dan mengunci Minah dari luar. Aku bersandar di dinding, mengatur napasku.

“Sebenarnya ada apa? Kenapa dia jadi seperti itu?” gumamku. “Braakk!” Minah menonjok pintu gudang. Aku spontan mundur menjauh sedikit dari pintu gudang. “Soo Hee!!” Tangan Minah menjalar keluar mencari diriku. Tangannya menjalar ke kanan dan ke kiri. Aku langsung berlari keluar dari apartemen. Aku merogoh kantung celanaku, mencari ponsel. Aku menekan nomor 2, sebagai panggilan tercepat untuk menghubungi orang tuaku.

“Ayo .. Kumohon .. Angkatlah ..” kataku berharap.

“Nomor yang anda hubungi, berada di luar daerah.”

“Sebenarnya dia pergi kemana?!” keluhku. Aku membanting ponselku dengan penuh emosi. Ponselku hancur berkeping-keping. Aku langsung jatuh lemas dan menangis sejadi-jadinya.

=XOXO=

Aku duduk bersandar di dinding lorong komplek apartemenku. Kaki dan tanganku terlipat. Aku menyembunyikan wajahku.

“Soo Hee!” panggil Yoora tiba-tiba. Aku langsung menunjukan wajahku yang kusut.

“Bibi!” Aku langsung berlari dan memeluk bibiku.

“Ada apa denganmu Soo hee?” tanya Bibi Yoora.

“Tidak apa-apa .. Aku tertidur tadi.” jawabku. ” ngg .. Bibi, bolehkah aku  menginap dirumah bibi beberapa hari?” Pintaku.

“Ada apa? Apa yang terjadi? Ada sesuatu yang tidak beres? Dimana orang tuamu?” tanya bibi Yoora beruntun.

“Aku tidak mau menjelaskan disini.” Jawabku.

“Awalnya, aku ingin menginap dirumahmu.” sesal bibi Yoora. “Baiklah, bersiap-siap menahan kejahilan paman Chanyeol dan paman Baekhyun.” sambungnya.

Aku menyunggingkan alis, “Baekhyun?” tanyaku.

“Kau akan tahu nanti. Ayo ..” bibi Yoora langsung merangkulku dan pergi meninggalkan lorong komplek apartemenku.

“Semoga hari ini tidak terulang lagi ..”

-tbc-

 

Iklan

10 pemikiran pada “The Hex (Chapter 1)

  1. kak ini misterius banget ceritanya. suho main cast tapi ga nongol nongol hmm curiga sih dia yang ngutuk so hee. ini chaptered kan? ditunggu banget chapter 3nya! semangat!

  2. lanjut!!! kyaa!!! seru badai thor! horror nya dapet banget. apalagi pas minah mati ngebusuk dan ada belatung belatungnya gitu. trus juga pas ada orang ketabrak itu thor.
    good job deh buat author!!!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s