Blood (Chapter 2)

Author: syasa adinda (@syasaadinda)

Gender: sad, trailer.

Length: chapter

Maint cast:      xi luhan

Wu yi fan a.k.a kris

Oh sehun

Park chanyeol

Byun baekhyun

Linka

Note: kembali lagi dengan ff BLOOD, semoga cerita ini selalu di nanti dan di tungggu. Selamat membaca.

‘semua sesuai dengan kesalahan mu’ gumam ku pelan seraya melihatnya di hadapan ku.

Kini seperti biasa ku pergi kesekolah. Dengan cepat ku langkahkan kaki ku untuk tidak melewatkan berita pagi ini. ‘ini pasti sangat menyenangkan’ gumamku.

Setiap orang menanyakan keada-an ku setiap hari. Tak luput pula mereka menanyakan namja itu. ‘itu? Hahah atau lebih tepatnya byun baekhyun’.

“linka.. apa kau tau baekhyun kemana?” Tanya seorang namja kepada ku.

“entah lah, aku pun tak tau sehun. Dia tak pernah menjengukku lagi. Kami sudah putus kontak.” Jawabku sambil murung.

“aigoo, ada apa dengan namja ini? Kau yang sabar ya linka. Dia memang seperti itu, sesuka hatinya dalam bertindak”

“sudah lah, tidak apa. Mungkin aku bukan yang terbaik untuknya” jelasku dengan wajah memelas.

“tidak. Siapa bilang. Kau terlalu sempurna linka. Wanita cantik dan pintar lagi. Siapa yang tak mau dengan mu, dia saja yang tak berfikir jernih. Menelantarkan yeojachingunya sendiri”

“hehehe… kau ini. Sudah lah. Aku pergi dulu ne? aneyeong”

“ne.. hati-hati dijalan ya “

“ne” ‘pria yang menarik’ gumamku kembali menyunggingkan sebuah senyuman..

Hari libur memang membosankan. Tidak ada katifitas yang menarik bisa ku lakukan. Terbesit dibenakku untuk jalan-jalan di luar sekedar untuk melihat-lihat sekitar apartement ku.

Terasa lelah ku berjalan yang bisa dikatakan cukup jauh di tempuh. ‘Ternyata disini sangat luas’ padahal baru sekitar apartement. Ku cari bangku untuk bisa ku duduki menghilagi lelah . ku edarkan pandangan di sekitar bangku yang ku tempati ini. Di depanku bisa dilihat terdapat sebuah lapangan basket. Beberapa kelompok namja tengah seru bermain. Salah satu di antara mereka menarik perhatianku. Tubuh tinggi nan sempurna mencakupi dari dirinya.

Tiba-tiba bola basket itu menggelindir mengarah kaki ku. kini bisa dilihat pria yng ku perhatikan tadi berlari mengarah kepadaku. Dia mengambil bola itu tepat dikakiku. Dia tersenyum, dannn…

“mianhae” gumamnya padaku

Ku hanya menjawab dengan sebuah senyuman. Dia kemabli menghampiri teman-temannya untuk bermain kembali. Dari awal sampai akhir dari permainan mereka terus ku lihat. Mungkin ku bisa menjadi penonton setia nantinya.. hehehehe.

Saat pandangan  ku teralih pada seorang anak kecil. Terasa ada orang asing yang duduk di sampingku. Ku arahkan pandanganku kesamping, ingin tau siap yang duduk di sebelahku. Betapa terkejutnya, ternyata dia yang ku perhatikan dari tadi tepat berada di sampingku. Dia terus menatap lurus kedepan, tak ku sia-siakan kesempatan ini memperhatikan wajahnya dengan seksama. ‘sempurna’ kata itu yang dapat tersimpul dari mulut ku.

“chanyeol imnida” jelasnya memandang lurus kedepan.

“ne” tanyaku heran.

“chanyeol.. ekhem.. park chanyeol  imnida” jelasnya kini beralih memandangku .

Ku hanya tersenyum mendengarnya. “linka.. linka imnida” jawab ku.

“nama yang cantik”

“benarkah” tanyaku.

“sama seperti pemiliknya” . namja ini terlalu jujur dengan perkataannya. ‘Dia sangat sangat  menarik’ gumamku dalam hati.

Dengan segera ku berdiri dari tempat duduk ku. dan di jawab dengan tatapan heran dari sang namja yang dihadapanku bernama chanyeol.

“kau mau kemana eoh?” tanyanya.

“aku ingin pulang? Kau mau mengantarku?” jelasku sambil menawarinya.

“bolehkah?”

“tentu, jika itu tak merepotimu”

“kajja” jawabnya sambil menarikku…

Selama di perjalanan dia terus menanyaiku dengan segudang pertanyaan di benaknya. Menanyakan kebiasaanku, kesukaanku, hobiku, apa yang tak ku sukai, apa yang seringku lakukan. Tiba-tiba dia terdiam. Bisa ku tebak, dia kehabisan pertanyaan. Tampak jelas di wajahnya sambil mikir.

“Dimana apartementmu linka?” tanyanya

“itu didepan itu, sudah dekat kok” jelasku.

“oohh, kapan-kapan. Aku boleh main ke apartement mu?” tanyanya lagi

“tentu saja, pintuku terbuka lebar untuk mu chanyeol” jawabku sambil tersenyum manis..

“kau sungguh menarik linka” jawabnya.

“benarkah”

“ya,… baiklah sepertinya sudah sampai. Aku pergi dulu ne”

“ne.. aku masuk dulu ne.. aneyeong” pamitku. Saaat ku mau masuk dia kembali memanggilku.

“LINKAAA..”

“eh.. wae-yeo?” tayaku heraa.

“huh.. huh..huh.. akuh.. mintah.. nomerh.. hape mu..” jawabnya sabil mengatur nafas karena berlari menghampiriku.

“ahaha… ne, sini handpone mu”

Dia menyodorknan handphonenya. Dan ku ketik beberapa dijit angka lalu menyimpannya.

“sudah… baiklah, aneyeong aku masuk dulu ne”

“ne.. gamsahamnida… aneyeong” jawabnya samba melambaikan tangan kepada ku.

Malam ini ku rebahkan tubuhku di atas ranjang ku. sungguh lelah rasanya berjalan jauh, tapi ada hikmah dibalik itu. Kenapa? Karenaa…

Drrrttt drttt drtttt… handphone ku begetar ,

From: chanyeol

“ sedang apa?”

 

 

Aku hanya bengerutkan keningku dan seketika sebuah senyum simpul terukir di bibirku.

To: chanyeol

“ menurutmu?”

 

 

From: chanyeol

“haha.. apa sedang memikirkan ku?”

 

 

To: chanyeol

“ ternyata kau narsis cahnyeol. 😛 “

 

 

From: chanyeol

“biasanya tebakan ku selalu benar”

 

 

To: chanyeol

“baiklah, aku menyerah.”

 

 

From: chanyeol

“nah, benarkan. Kalau begitu kau harus mentraktirku”

 

 

To:chanyeol

“kenapa harus aku?”

 

 

From: chanyeol

“karena memikirkanku tanpa ijin”

 

 

To: chanyeol

 “haruskah minta ijin tuan park chanyeol”

 

 

From: chanyeol

“tentu saja nyonnya linka”

 

 

To: chanyeol

“oh.. baiklah.. kau ingin ku traktir apa tuan park?”

 

 

From: chanyeol

“besok ku jemput, ara? Jangan lari dari  ku nyonya linka”

 

 

To: chanyeol

“ahhahaha… araseo, tuan park. Dengan senang hati”

 

 

Hanya itu yang terbahas saat kami saling mengirim pesan. Sungguh dia sangat menarik, mungkin ntah keberapa kalinya aku mengatakan kalimat itu. Tapi itu sangat benar.

siang ini aku sudah didalam sebuah mobil, ku lirik lagi namja yang mengemudi di sampingku. Di terus focus kedepan, kini dia mengalihkan pandangannya kepadaku. Kulirik ke sekitar, ternyata sudah sampai pada tempat tujuan. Kami turun di sebuat restoran seafood mewah, karena dibisa dilihat. Dari isi dalamnya yang cukup memukau, serta pelayanannya yang sangat ramah. Ku lihat menunya, dan bingo! Semuanya mahal. Tidak ada yang murah semuanya mahal. Ku pikir sejenak,’apakah cukup uangku untuk mentraktirnya?’ gumamku dalam hati. Aku belum mengambil uangku di tabungan. Yang ku pegang sekarang mungkin cukup untuk membayar satu orang. Ku lirik chanyeol di hadapanku, dia tersenyum. Kini menjadi tawa. Aneh, menurutku tidak ada yang lucu.

“hahahaha… linka”

“ne, apa ada yang lucu?” tanyaku heran.

“wajah  mu lucu saat lihat daftar menu. Hahahaa…”

“maksudmu” tanyaku lagi dengan wajah  inconnect.

“tenang,Hari ini aku yang traktir. Lain kali kau yang traktir, araseo.”

“eh.. hehehe.. ne, araseo” jawabku . ‘ternyata dia bisa baca pikiranku’ gumaku dalam hati.

Setelah kami makan di restoran yang *ekhem* mewah itu.

Kami pun melanjutkan jalan-jalan ke wahan permainan. Ini sontak membuatku tak nyaman. Wahana ini menjadi saksi bisu akan kehadiran cintaku pada baekhyun.

To be continue

8 pemikiran pada “Blood (Chapter 2)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s