Why I Love You (Chapter 1)

Author            : Byun Jina (@meileniadwi)

Title                : Why I Love You? (Chapter 1)

Cast                 : Jung Jieun [OC], Byun Baekhyun [EXO-K] & Luhan [EXO-M]

Support Cast: Oh Sehun [EXO-K], Song Yorin [OC] & other(s)

Genre              : Romantic, School-Life, AU

Length            : Chaptered (1/2)

Rating : PG-13

WARNING     : OOC

wily

Author POV

 

Seorang pria berparas imut itu menlangkahkan kakinya masuk ke sebuah sekolah yang sangat besar, kebanyakan orang pun mengatakan sekolah ini adalah sekolah elite. Entahlah. Kebanyakan siswa disini dari kalangan orang yang sangat mampu. Pria muda itu masuk kedalam sekolah tersebut dan matanya tertuju kepada ruangan dengan pintu lumayan besar dan didepannya tertulis ‘Ruang Guru’. Itulah yang ia cari, tanpa berfikir panjang, ia langsung masuk kedalam ruangan tersebut. Tidak lupa mengucapkan salam terlebih dahulu agar terlihat sopan.

“oh? apakah kau anak pindahan dari China itu?” tanya seorang guru disitu.

ne.” jawab pria itu singkat.

“kalau tidak salah nama-mu, Byun Baekhyun, kan?” tanya guru itu sekali lagi. ruang guru terlihat sepi. Mungkin guru ini memang sudah disiapkan untuk mengantar pria itu ke kelasnya.

“itu benar, seongsaengnim.”

“ikutlah denganku, aku akan menunjukan kelas terbaik untukmu.”

ne.”

 

Baekhyun POV

 

Seoul International High School. Memang ini sekolah yang kuinginkan. Sekolah terbaik. Dan juga mendapatkan kelas terbaik. Tidak usah ditanya lagi, aku memang pintar dalam segala hal. Semua pelajaran dapat aku kuasai, olahraga pun juga, bahkan musik juga. Aku juga sudah bosan mendengar pujian dari banyak gadis yang mengagumi pesona perfect ku. Tapi aku sangat benci, ketika orang bilang bahwa aku ini imut. Aku benar-benar tidak menyukainya. Ayolah, aku bukan seorang anak kecil lagi.

Guru itu memasuki sebuah kelas yang memang berbeda dengan kelas lain. Guru itu pun bilang, ini kelas unggulan, benarkah? Seberapa pintar orang-orang yang berada dikelas ini?

Aku ikut memasuki kelas itu. Terlihat semua orang menatapku dengan tatapan biasa. Sudahlah, itu tidak penting. Semuanya terlihat biasa saja. Apa guru ini yakin bahwa kelas ini adalah kelas unggulan? Aku tidak yakin.

“perkenalkan, dia siswa pindahan dari China. Baekhyun, silahkan perkenalkan dirimu.”

annyeong, aku Byun Baekhyun.” kataku singkat. Kupikir sampai situ saja. Toh, mereka juga pasti akan mengenalku lebih dekat lagi nanti.

“begitu saja? Oh, betapa sombongnya pria dari China ini.” ucap salah satu gadis yang membuatku sangat kesal. Dia belum tahu aku ini siapa, ya?

“apa maksudmu, huh?” tanyaku. Namun, gadis itu hanya mengangkat kedua bahunya dan memasang tampang menyebalkan.

 

Author POV

 

“sudah-sudah. Jieun-ya, kau tidak boleh seperti itu kepada teman barumu.” ucap Shin seongsaengnim.

“Baekhyun, sementara kau boleh duduk disamping Jieun.”

“tapi, bukankah itu tempat Luhan?” protes Jieun.

“hanya untuk hari ini.”

 

-oOo-

“menurut kalian, bagaimana pria itu?” tanya Sehun kepada dua temannya, Jieun dan Yorin.

“bagaimana apanya?” tanya Jieun balik sambil menyantap minumannya.

“sifatnya.”

“tidak bagus.” jawab Jieun santai.

“tapi, dia pintar juga, ya.” ucap Yorin.

“pintar tapi sombong. Apa untungnya?” kata Jieun sinis.

“benar juga.” kata Sehun.

“dari tadi pagi aku tidak melihat Luhan, kemana dia?” tanya Yorin, kemudian menatap Jieun seperti menunggu jawaban.

“apa? Kenapa kau menatapku? Aku tidak tahu!”

“benarkah?” goda Sehun.

“aish, kalian berdua hanya bisa membuatku tambah kesal.” Jieun langsung berdiri dan berlari entah kemana.

 

Luhan POV

 

Aku tahu, kami hanya tetangga dan teman sejak kecil. Tapi, perasaan akan berubah suatu hari, kan? Aku ingin sekali memberitahunya bahwa kesehatanku kurang baik. Ayolah, aku sudah mengenalnya selama bertahun-tahun. Bukan satu atau dua hari. Dari tadi pagi aku hanya menatap handphone-ku yang entah apa yang akan aku lakukan dengannya. Ah, ini benar-benar membuatku gila.

Akhirnya aku membaringkan tubuhku dikasur, kemudian kembali menatap handphone-ku. Ini sudah waktunya pulang sekolah. Mungkin saja Jieun dan yang lainnya akan kerumahku. Semoga saja.

 

“Luhan, temanmu datang.” ucap eomma-ku dari luar.

“suruh saja mereka kesini.”

 

Beberapa saat kemudian pintu kamarku terbuka, dan terlihatlah ketiga temanku masuk. Jieun, Sehun dan Yorin. Merekalah ketiga temanku yang sudah bersama denganku sejak lama sekali. Terlebih Jieun, ketimbang Sehun dan Yorin, aku lebih lama kenal dengan Jieun. Walau, kita sempat hilang kontak ketika aku pulang ke China. Saat itu, dia juga sempat membenciku. Aku tahu, memang salahku pergi tanpa memberitahunya. Kejadiannya saat awal kami masuk sekolah menengah.

 

“Luhan! Mengapa kau melamun?” suara Jieun pun membuatku tersadar akan lamunanku barusan.

“ti-tidak.”

 

Author POV

 

“bagaimana rasa masakannya?” tanya eomma Luhan.

“wah, eomma, rasanya sedikit berbeda. Tapi enak.” jawab Luhan.

“jelas saja, aku membantu eomma-mu.” kata Jieun. Luhan pun sedikit tersedak.

ya! makannya pelan-pelan saja.” Jieun, Sehun dan Yorin pun menepuk-nepuk(?) punggung Luhan.

“ah, appo!”

 

-oOo-

 

“lain kali kami akan mampir lagi.” ucap Sehun dan Yorin.

“kau tidak pulang, Jieun?” tanya Luhan.

“jadi kau mengusirku?”

“tidak. Oh ya, apa kau tahu siapa yang baru tinggal disamping rumahmu itu?”

“aku tidak tahu, kenapa?”

“tidak. Aku hanya pernah melihat seorang pria yang mirip sekali dengan temanku di China masuk kedalam rumah itu.”

“mungkin saja itu dia.”

“apa?”

“tidak. Yasudah, sampai jumpa!”

 

-oOo-

eomma! aku pulang.” teriak Jieun ketika sampai dirumahnya.

“oh Jieun-ah! Pas sekali, ada tetangga baru yang sedang bertamu.”

“siapa?” Jieun berjalan menuju ruang tamu. Disitu beberapa orang sedang duduk santai. Namun, mata Jieun tertuju pada satu pria yang sepertinya ia kenal.

“kau!”

“oh? kau!”

“jadi, kalian sudah saling kenal?” tanya eomma Jieun.

“dia… siswa baru dikelasku!”

“oh, baguslah! Bagaimana kalau kita makan malam bersama.”

eomma, kumohon, aku baru saja makan dirumah Luhan.” kata Jieun berusaha sepelan mungkin agar Baekhyun dan keluarganya tidak mendengar.

“oh, kau ingin belajar? Baiklah.” ucap eomma Jieun berbohong.

“wah, kau gadis yang rajin, ya.” kata eomma dari Baekhyun.

“hehe, terima kasih. Saya permisi.” Jieun segera lari menaiki tangga untuk kekamarnya.

 

-oOo-

Jieun membanting(?) tubuhnya kekasur dan segera mengambil handphone-nya, kemudian menelfon temannya, Yorin.

“Yorin. Kau tahu? Tetangga baruku itu adalah siswa baru yang menyebalkan itu!”

benarkah? Hahahahaha.”

“kenapa kau tertawa, huh?”

tidak! Hanya lucu saja. Sudahlah, aku ingin tidur. Sampai jumpa besok, tuan putri. Hahahaha.

“Yorin!”

Merasa bosan, Jieun pun mencoba memejamkan matanya. Kemudian perlahan tidur.

 

-oOo-

Cahaya pagi menembus jendela Jieun yang lupa tertutup semalam, membuat Jieun langsung terbangun dengan damai. Jieun melirik jam dindingnya. Sekarang menunjukan pukul 04.00 pagi. Jieun pun bergegas mandi dan memakan sarapan. Ia sengaja bangun pagi, agar bisa bertemu teman-temannya di halte bus.

Jieun berjalan ke halte bus yang tidak terlalu jauh dari rumahnya. Kira-kira hanya 100 meter dari rumahnya. Waktu menunjukan pulul 05.15 pagi. Bukankah itu terlalu pagi? Ya, memang, tapi Jieun sengaja. Biasanya ia akan menunggu temannya juga, kemudian mereka berbincang santai di kantin sekolah yang masih sangat sepi. Jieun selalu Luhan, Sehun dan Yorin dimanapun. Bahkan beberapa teman sekolah mereka bilang bahwa mereka sangat bosan melihat Jieun, Luhan, Sehun dan Yorin selalu bersama.

“Jieun-ah. Kau selalu datang pertama, apakah kau sengaja melakukannya?” kata Luhan yang baru datang.

“sengaja? Tentu tidak. Tapi, tidak biasanya sekali kau datang cepat. Biasanya kau datang terakhir.”

“aku sedang tidak ada uang.”

Sebenarnya, mereka ber-empat punya perjanjian. Barang siapapun yang datang terakhir ke halte bus, dia lah yang akan membayar yang lain makan.

“benarkah? Oh..”

“oh? Baekhyun?”

“Luhan?”

 

Baekhyun POV

 

Aku sengaja memasang alarm pagi sekali. Ya, didalam kamusku tidak pernah ada kata ‘terlambat’. Aku selalu datang tepat waktu. Bahkan datang lebih pagi dari siapapun disekolah, kecuali penjaga sekolah. Selain itu, aku tidak hanya ingin duduk ditempat itu sehari saja. Itu tempat yang sangat pas, walau sangat menyebalkan, karena bersebelah dengan seorang gadis yang sangat membuatku kesal. Jung Jieun. Dan yang membuatku tambah kesal, ia tetangga baruku, tepat disamping rumahku. Oh, come on.

Aku memutuskan untuk pergi sekolah tanpa sarapan terlebih dahulu. Itulah yang biasa aku lakukan. Lagipula, siapa yang ingin membuatkan aku sarapan? Eomma-ku? Dia mana peduli kepadaku. Dia hanya mementingkan pekerjaannya dan berdandan. Aku hanya dimanfaatkan untuk memimpin perusahaan nanti. Aku ingin bergabung ke dunia musik, bukan menjadi orang kantoran.

Untung saja halte bus sangat dekat dari sini. Aku sangat malas untuk mengendarai mobil sendiri. Lagipula aku belum punya surat izin mengemudi, tapi mengapa aku sudah dibelikan sebuah mobil? Bukankah itu gila?

Terlihat jelas dari kejauhan halte bus tersebut. Tunggu? Siapa pria itu? Aku seperti mengenalnya. Aku semakin mendekat. Mungkinkah…

“oh? Baekhyun?” ucap pria yang kumaksud itu.

Akhirnya aku tersadar, “Luhan?”

 

Author POV

 

“kau juga kembali ke Korea? Jadi, yang tinggal ditempat itu, kau?” tanya Luhan.

“iya. Dan gadis ini? Ternyata kau mengenalnya?” tanya Baekhyun balik. Kemudian Luhan sekilas menatap Jieun yang masih berdiri bingung dan kembali menatap Baekhyun.

“dia sahabatku yang sering aku ceritakan.”

“jadi dia sahabatmu? Kupikir kau pintar dalam memilih teman.”

“cih.”

“apa maksudmu, Baekhyun?”

“kau salah, Luhan hanya tetanggaku.” ucap Jieun kemudian memutuskan pergi ke sekolah dengan berjalan kaki. Padahal, sekolah sangat jauh.

“Jieun-ya! Tunggu aku!” Luhan berusaha mengikuti Jieun yang belum jauh itu, kemudian berhenti sejenak dan melanjutkan kata-katanya, “Baekhyun, berubahlah sedikit saja.” kemudian kembali mengikuti Jieun.

 

-oOo-

Akhirnya Jieun dan Luhan tiba dikelas. Sepanjang jalan tadi tidak ada yang mereka bicarakan. Hanya pertanyaan Luhan dan jawaban ‘hm.’, ‘ya.’ atau ‘mungkin.’ dari Jieun. Jelas saja, perkataan Baekhyun tadi sangat membuat Jieun kesal.

“Jieun? Luhan? Kenapa kalian tidak ada di halte bus tadi? Kalian lewat ma-” perkataan Yorin terpotong ketika lihat ekspresi Jieun yang sangat berbeda.

Sambung Yorin, “-na?….” Yorin pun menyenggol bahu Sehun.

Semua siswa dikelas mungkin saja sedang melihat kearah Jieun karena wajahnya yang sangat berbeda seperti biasanya. Ya, benar, dia adalah gadis yang sangat ceria. Bahkan teman-temannya tidak pernah melihat dia dengan wajah murung atau sedih.

 

-oOo-

Bel istirahatpun telah berbunyi. Tetapi, gadis itu, Jieun, sama sekali tidak berniat untuk beranjak dari tempat duduknya. Sedari tadi ia hanya menulis hal yang sama sekali tidak jelas dibuku hariannya. Bahkan tidak jarang terlihat Jieun menghela nafasnya panjang seperti menanggung beban yang sangat berat.

“Jieun, kau tidak lapar?” tanya Luhan yang sedari tadi masih berada disampingnya.

“tidak.” jawab Jieun singkat.

“kau marah padaku?”

“tidak.”

“lalu?”

“aku tidak tahu.”

“baiklah, kau yakin tidak lapar? Kebetulan aku membawa makanan kesukaanmu. Tetapi, berhubung kau tidak lapar, yasudah. Aku bisa memakannya sendiri.” kata Luhan kemudian ia mengeluarkan sebuah kotak makanan dari tasnya.

“ah, baiklah.” Jieun langsung mengambil kotak makanan itu dan memakan makanan yang dibawa Luhan tersebut.

“aku juga mau.”

 

-oOo-

Berhari-hari, mungkin saja berbulan-bulan. Jieun yang sangat membenci Baekhyun pun akhirnya mau untuk berteman dengannya, ya memang, itu paksaan dari Luhan. Tetapi tetap saja, Jieun masih tidak suka dengan sikap Baekhyun yang tidak pernah berubah dari sejak awal bertemu dengannya.

 

“Jieun-ah!” teriak Luhan dari dalam sekolah.

“oh? Luhan? Mana tasmu?”

“maafkan aku, aku tidak tahu jika ini semua akan terjadi. Hari ini aku ada kelas tambahan mendadak. Mana Sehun dan Yorin?”

“mereka sudah aku suruh pulang dari tadi.”

“kau ini bodoh atau apa?”

“apa? Bukankah kau yang bilang sendiri ingin pulang bersamaku?”

“iya, aku tahu, maaf.”

“Luhan, kau ditunggu gurumu dikelas.” kata Baekhyun yang baru saja datang.

“Baekhyun! Kau tidak ada kelas tambahan, kan?”

“tidak. Memangnya kenapa?”

“kalau begitu, kumohon, pulanglah berama Jieun.”

“APA?” teriak Baekhyun dan Jieun bersamaan.

“ah! Aku ingat ada janji dengan Yorin, sampai jumpa.” kata Jieun kemudian ia berusaha berjalan meninggalkan Baekhyun dan Luhan.

“tidak usah berbohong, Yorin hari ini ada kursus.” kata-kata Luhan tersebut pun berhasil membuat Jieun berhenti.

“ah, baiklah. Kalau kau ingin pulang bersamaku, jalan lebih cepat sedikit.” Jieun pun melambaikan tangannya kepada Luhan dan berjalan mendahului Baekhyun.

 

-oOo-

Sepanjang jalan Baekhyun dan Jieun tidak berbicara satu sama lain. Hanya berada dipikiran mereka masing-masing. Pada kenyataannya Jieun tidak terlalu peduli, tetapi, sangat bosan bukan? Bahkan jika ia tau suasana akan sepi seperti ini, ia lebih memilih untuk pulang sendiri. Rasanya tidak ada beban.

Jieun berusaha menatap jalan yang berada disamping Baekhyun, sejujurnya ia ingin melihat ekspresi Baekhyun. Hm, sudah Jieun duga, tidak ada ekspresi tersendiri dari dirinya. Itulah yang membuat ia semakin menyebalkan menurut Jieun. Baekhyun sangat berbeda dengan Luhan yang ceria sama seperti Jieun.

Jarak dari sekolah Jieun ke rumahnya sangat jauh, tetapi jika pulang sekolah Jieun selalu sengaja untuk berjalan kaki. Biasanya ia dan teman-temannya akan mampir kesuatu tempat. Tentu saja dengan persetujuan orang tua.

Jieun menghela nafasnya dan mencoba untuk berbicara, “sepi sekali.”

“mau bagaimana lagi? Tidak ada orang lain sekali kita.” ucap Baekhyun santai.

“tsk.”

 

-oOo-

Jieun POV

 

“Baekhyun, aku ma-” aku sengaja memotong perkataanku setelah melihat Baekhyun yang langsung mendahului rumahku dan masuk kerumahnya tanpa sepata katapun.

“menyebalkan sekali.” aku langsung berlari kedalam rumah kemudian masuk kedalam kamarku dan membanting pintu kamarku yang mungkin saja membuat orang-orang dirumah terkejut. Aku tidak peduli.

“tapi, mengapa aku harus kesal seperti ini? Bukankah sudah setiap hari dia bersikap seperti itu? Ah tidak mungkin!”

 

Author POV

 

Baekhyun terlihat duduk dikursi tempat biasa ia belajar. Dia menggaruk kepalanya yang tidak gatal dan berfikir sejenak. Dalam hatinya tersimpan rasa yang sangat berbeda. Dia sendiri pun tidak tahu.

“mungkinkah?” Baekhyun mengetuk-ngetuk jarinya diatas meja dan sesekali menghela nafasnya.

 

-oOo-

Jieun terlihat terbangun dari tidurnya. Hari ini minggu, tetapi bagi Jieun hari ini tetaplah hari seperti biasanya. Tidak ada yang berbeda. Hanya sekolah libur saja.

Tiba-tiba ponselnya berbunyi menandakan ada pesan masuk, yang ternyata dari temannya, Luhan. Jieun membuka pesan itu, saat membacanya Jieun membulatkan matanya setelah melihat isi pesan tersebut.

 

From: 친구, 루한 (My Friend, Luhan)

 

Congrats, Baekhyun likes you ^^

 

“apa?”

 

-TBC-

 

Halo~ terima kasih udah baca ^^ ditunggu komentarnya~

Iklan

26 pemikiran pada “Why I Love You (Chapter 1)

  1. apa??? Terus gimana luhan??

    Ah, thor.. Ceritanya bagus tapi.. Kurang detail aja mungkin ya? Terkesan terlalu buru2..

    Part selanjutnya ditunggu lo thor..
    Cepet publis ya? Maaf kalo mungkin komentar aku kurang berkenang di hati author.. 😦

    semangat terus ya! 😀

Tinggalkan Balasan ke aichanyeol Batalkan balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s