Agelast

Agelast

Athor : peterpanwendy (@fyevita)

Cast : Kim Taerin (OC)

           Oh Sehun

PG : -13

Genre : romance, angst, little comedy

aaaaaagelastFF ini murni imajinasiku. Jika ada kesamaan alur dan cast, itu ketidaksengajaan yang memang tidak sengaja(?). Kali ini aku pake sudut pandang pertama.

Okeoke,  sekian cuap-cuap dari aku, Happy Reading~

 

 

Bagaimana bisa laki-laki sedingin Oh Sehun disatukan dengannya? Mana mungkin bisa laki-laki pengidap Agelast seperti Oh Sehun jatuh cinta dengannya? Aku sungguh tak faham.

“Sehun? Oh Sehun?” tanyaku penuh penekanan. Hyemi tersenyum lalu mengangguk. “Laki-laki pengidap Agelast itu?” tanyaku lagi. Hyemi mendengus kesal.

“Berhenti memanggilnya dengan istilah ilmiah seperti itu. Dia Sehun, Oh Sehun. Dia punya nama Taerin-ah!” jawab Hyemi. Kumainkan kedua bola mataku.

“Yayaya, siapapun namanya dan apapun motifmu, aku mohon jangan bawa aku! Aku benar-benar tak bisa,” kataku.

“Aku mohon. Kau sangat ahli dalam ini. Kau tau kan kalau aku sangat menyukainya? Bantu aku, Taerin-ah. Aku mohon~” pinta Hyemi dengan nada manjanya. Kedua tangannya saling bertautan, seakan dia benar-benar membutuhkan bantuanku.

Kuhembuskan nafasku kesal. “Baiklah! Terserah padamu saja.”

***

Musim gugur telah datang. Daun-daun jatuh berguguran, membuat halaman sekolahku terlihat kotor. Walau begitu aku sangat menyukai suasana ini. Pandanganku terhenti ketika melihat si pengidap Agelast—atau si dingin—Oh Sehun tengah duduk di sebuah bangku. Akupun segera menghampirinya lalu duduk disebelahnya.

“Oh Sehun, ada yang ingin kubicarakan denganmu,” kataku pada teman sekelasku ini. Dia masih fokus dengan buku supertebalnya, seakan tak menghiraukan aku. Sial!

“Katakan saja,” jawabnya singkat.

“Kau tahu Jung Hyemi? Dia kelas 12-2, yeoja yang sering pulang bersamaku. Apa kau mengenalnya?” tanyaku bertubi-tubi. Aku menatapnya sambil menunggunya membuka mulut.

“Aku tidak kenal dengannya,” jawabnya. Kuhembuskan nafasku kesal. Kalau bukan Hyemi yang memaksaku, aku juga tidak mau berurusan dengan namja super cuek dan dingin ini.

“Bagaimana kalau kau berkenalan dengannya? Maksudku, aku bisa membantu kalian. Dia yeoja baik dan kuyakin—“

Buk! Aku tersentak ketika dia—dengan keras dan kasar—menutup bukunya. Sehun menatapku tajam. Sungguh, kali ini aku benar-benar takut. “Aku tidak mau,” katanya lalu pergi meninggalkanku yang tengah mematung.

 

***

 

Bel masuk kurang limabelas menit lagi. Kini sebuah kotak berwarna merah sudah ada ditanganku. Kira-kira apa isinya? Aku penasaran.

Pintu kelasku kembali terbuka untuk kesekian kalinya lalu masuklah seorang namja yang kutunggu. Setelah dia—Oh Sehun—duduk dibangkunya, aku segera menghampirinya.

“Sehun-ah, ada seseorang yang menitipkan kotak ini padaku. Dia bilang untukmu,” kataku sambil menyodorkan kotak merah ini padanya. Dia hanya menatapku.

“Dari Hyemi?” tanyanya dingin. Tepat! Sepertinya dia mulai tertarik dengan Hyemi.

“Bagaimana kau tahu?” tanyaku. Dia tersenyum miring. Seringai. Perlahan dia berdiri lalu kembali menatapku.

“Aku tidak bodoh. Bukannya kau bilang kalau dia menyukaiku?”

Ne? Aku tidak bicara seperti itu! Aku hanya ingin membantumu untuk bisa dekat dengannya!” elakku. Dia kembali menyeringai, kali ini disertai tawanya yang membuatku bergidik.

“Aku sudah bilang kalau aku tidak menyukainya. Jadi berhenti melakukan ini,” katanya tajam lalu pergi dari hadapanku. “Kim Taerin,” panggilnya. Perlahan kubalikkan tubuhku lalu menatapnya. “Katakan padanya, jangan pernah melakukan hal konyol seperti ini karena semua akan percuma. Aku menyukai yeoja lain,” lanjutnya lalu benar-benar meninggalkanku.

Aku diam mematung. Menyukai wanita lain? Siapa? Kenapa aku sedikit tak suka ketika mendengarnya?

 

4 days later…

To : Oh Sehun

Aku menunggumu di cafe daerah Apgujeong. Ada sesuatu yang ingin kubicarakan. Aku mohon datanglah.

“Sudah?” tanya Hyemi. Aku memasukkan ponselku lalu mengangguk. “Gomawo, Taerin-ah! kau benar-benar sahabatku. Semoga kali ini dia mau membuka hatinya untukku,” katanya. Aku hanya tersenyum. Bagaimana kalau dia tahu kenyataan yang sebenarnya? Pasti hatinya akan sakit.

“Kalau begitu aku pergi ya. Semoga harimu menyenangkan. Annyeong!” pamitku lalu meninggalkannya sendiri di cafe ini. Ya, cafe yang kumaksud dalam pesanku pada Sehun.

Akupun berjalan menuju toko buku sekaligus perpustakaan kota yang terletak tak jauh dari cafe tersebut. Disaat seperti ini memang berburu novel adalah hal yang menyenangkan.

Setelah sampai di perpustakaan, aku segera menelusuri satu persatu rak yang ada. Mataku berbinar ketika menemukan novel yang selama ini kucari. Akupun berjinjit untuk mendapatkannya.

Gila, aku baru sadar kalau novel itu ada di rak paling atas. Lalu, haruskah aku naik ke kursi untuk mendapatkannya? Sepertinya itu ide yang buruk. Akupun kembali berjinjit demi mengambil novel itu. Ayo sedikit lagi, sedikit…

Mataku membulat ketika seseorang mengambil novel itu dengan mudahnya. Akupun menatap orang itu dan seketika dunia berhenti berputar. “O…Oh Sehun?”

“Kau terlihat bodoh ketika seperti itu,” katanya. Apa? Apa yang dia katakan? “Ini, lain kali mintalah bantuan seseorang jika kau memang tak sanggup,” lanjutnya sambil menyerahkan novel itu padaku.

“Apa yang kau lakukan disini?” pertanyaan bodoh itu keluar dari mulutku. Dia menatapku heran.

“Aku? Tentu mencari buku. Kau pikir ini toko baju?” tanyanya balik. Aku menggeleng.

”Tapi bukankah kau harusnya ke cafe?”

“Bagaimana kau bisa tau?” tanyanya balik. Aku menggaruk tengkukku yang tak gatal. Aku terjebak ucapanku sendiri. “Aku tau kau merencanakan semuanya. Kau menyuruhku ke cafe agar bisa bertemu Hyemi. Benar?” tanyanya lagi. Aku menunduk lalu mengangguk.

Kudengar dia menghela nafas pelan. Kudongakkan kepalaku lalu kutatap dia yang juga tengah menatapku. Aku benar-benar terlihat bodoh sekarang.

“Bagaimana lagi caraku memberitaumu? Aku sudah bilang, aku tak suka semua ini. Lagipula aku menyukai yeoja lain. Haruskah aku membicarakan ini secara langsung dengannya?”

Andwae! Aku mohon. Dia pasti akan sakit hati jika tau yang sebenarnya,” jawabku. Dia menghembuskan nafasnya pelan. “Sebenarnya siapa yeoja yang kau maksud? Kenapa kau begitu menyukainya sampai Hyemi tak bisa memiliki kesempatan?” tanyaku.

“Kau benar-benar ingin tau?” tanyanya balik. Aku mengangguk. “Kau yakin tak akan menyesal?” tanyanya lagi dan kujawab dengan anggukan pasti. Dia menghela nafas pelan lalu memelukku.

Tiba-tiba saja jantungku berdetak cepat. Ini tak benar. Ini sudah tak benar. “Yeoja yang kumaksud adalah yeoja yang tengah kudekap sekarang. Aku menyukaimu, Kim Taerin,” katanya—terdengar—lembut ditelingaku. Perlahan kulepas pelukannya.

Kini aku merasa bersalah. Lalu bagaimana dengan Hyemi? “Ini bohong kan? Kau bercanda?” tanyaku pelan.

“Semua bohong ketika aku berkata kalau aku tak mencintaimu. Jadi sikapku selama ini adalah sebuah kebohongan. Maafkan aku, Taerin-ah,” jawabnya. Perlahan airmataku jatuh.

“Lalu kau berharap aku menerimamu? Bagaimana dengan Hyemi? Dia menyukaimu, Sehun-ah! Dia menyukaimu!” kataku. Dia kembali memelukku.

“Aku sudah mengatakan padanya. Sebelum aku kesini, aku sudah mengirimnya pesan. Kurasa dia mengerti. Jadi tak ada alasan untuk menolakku, Kim Taerin,” jawabnya. Aku hanya diam sambil merasakan airmata yang terus jatuh dari kedua mataku.

“A… aku… kurasa aku juga menyukaimu.”

 

End~~

Gajekah? Coment ditunggu guys~ apapun itu asalkan bisa membuat aku jadi lebih baik. Gomawo^^

39 pemikiran pada “Agelast

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s