Be Idol (Prolog)

Title : Be Idol—Prolog

Author : Han Yoo Na

Main Cast :

  • ♪ Lee Ji Hyun (OC)
  • ♪ Jang Gyu Ri (OC)
  • ♪ Kim Chae Ri (OC)
  • ♪ Kim Joon Myeon (Suho Exo-K)
  • ♪ Park Chanyeol (Exo-K)
  • ♪ Chen (Exo-M)

Support Cast :

  • ♪ Other Cast

Genre : Romance, Gaje -.-

Lenght : Chaptered

Rating : General

Author’s Note : Annyeonghaseyo~ Salam kenal semuanya. Berhubung ini FF pertama author, jadi harap dimaklumin ya kalau ada kekurangan disana-sini. Hehe. #nyengirkuda. Anyway, kritik dan saran yang membangun SANGAT DIHARAPKAN. Jadi buat yang udah baca, jangan lupa kasih comment ya ^^ . Sekian dari author~ Happy reading ^^ *deep bow bareng semua member EXO*

Disclaimer : This fiction based on my imagination. Everyone have their own imagination and also have their own way to apply it. So, don’t ever BASHING!!! This Fiction is MINE. Don’t COPY PASTE it without my PERMISSION!!!

Disclaimer(again??): OC punya author! EXO dkk punya SM, punya dirinya sendiri, dan punya emak bapaknya *ya iyalah* Ingat, karakter para cast di ff ini cuma REKAYASA AUTHOR BELAKA!! So don’t take it seriously ok?? ^^

Warning : FF ini ceritanya sedikit(?) gaje dan mungkin mengandung unsur typo!!!

***

–          Ji Hyun’s Version  –

“Ji Hyun-ah!!” Panggil -atau lebih tepatnya teriak- seorang yeoja saat aku membukakan pintu untuknya.

“Eoh? Eonnie!! Bogoshippeoso!!” Kataku seraya memeluknya erat.

Nado. Bagaimana kabarmu? Kamu sendirian di rumah? Appa dan eomma kemana?” Tanyanya heran melihat kondisi rumah kami yang sunyi senyap.

Eonnie tidak tau ya? Mereka kan lagi honey moon ke-2. Aku ditinggal sendiri deh.” Aku memasang tampang sedih untuk mendramatisir keadaan.

“Oh iya. Kok eonnie bisa pulang kemari sih? Memangnya eonnie sedang tidak ada jadwal ya?” Lanjutku lalu melepas pelukan kami. Aku mengernyitkan dahi. Biasanya eonnie bahkan gak punya cukup waktu buat makan tepat waktu. Tapi kok sekarang dia bisa pulang kerumah ya? Apa jangan-jangan terjadi sesuatu?

“Hmm… Sebenarnya… aku… aku…”

Eonnie kenapa? Ada yang ngegangguin eonnie ya? Mana orangnya? Sini biar aku pukul mereka.” Aku mengepal-ngepalkan tinjuku dan memasang posisi siap tempur.

“Aku lagi gak ada jadwal aja sih. Haha. Lagian aku dapat titah dari Yoon Hee eonnie buat…”

Shireo!” Potongku singkat, padat dan jelas disertai dengan gerakan memeletkan lidah andalanku.

“Lho? Kamu mau kemana?” Tanya eonnie saat melihat aku mengenakan jaket dan sepatu ketsku.

“Aku mau ke supermarket. Mau beli cemilan.” Jawabku cuek dan berjalan menuju pintu.

Ya! Aku kan belum selesai ngomong. Jangan kabur dulu.”

“Aku udah tau lanjutannya. Bilangin ke Yoon Hee eonnie, apapun yang terjadi, aku tidak akan mau ikut training. Titik.” Aku menutup pintu dan pergi begitu aja tanpa menunggu jawaban dari eonnieku itu.

Ih~ Yoon Hee eonnie itu keras kepala banget sih? Harus berapa kali coba aku bilang ke dia biar dia ngerti?! Aku tidak mau jadi trainee di SM!

Namaku Lee Ji Hyun. Aku murid kelas 2 jurusan vocal di Inhyung High School, sekolah seni paling terkenal di Seoul. Aku punya seorang kakak perempuan yang bernama Lee Soon Kyu atau yang lebih kalian kenal sebagai Sunny SNSD. Yup. Aku adalah adik kandung seorang idol. Tapi hanya orang-orang tertentu aja sih yang tau. Bisa repot kalau semua orang tau. Jadi aku memilih merahasiakannya, bahkan dari teman-teman satu sekolahku.

Dulu, waktu eonnie masih jadi trainee (alias belum debut), aku sering sekali main ke tempat latihannya. Lalu disana aku ketemu Yoon Hee eonnie. Yoon Hee eonnie adalah coach vocal yang bertugas melatih para trainee SM. Dan entah kenapa dia terobsesi banget buat menjadikan aku salah satu anak didik(?)nya. Padahal sudah berkali-kali aku bilang ke dia kalau aku benci sama hal yang merepotkan. Dan bagiku, jadi trainee ataupun jadi idol, itu dua-duanya sangat bodoh dan merepotkan.

~ ~ ~

“Meong~”

‘Barusan kayaknya aku dengar ada suara kucing minta tolong(?).’ Batinku.

Aku celingukan mencari-cari asal suara itu. Ternyata, suara itu berasal dari seekor kucing yang sedang tersangkut(?) di atas pohon. Aku sangat suka kucing. Makanya, aku paling tidak bisa mengabaikan kucing yang sedang kesusahan(?). Tanpa berpikir 2x aku langsung memanjat pohon itu. Dengan cekatan aku membebaskan si kucing dari cabang pohon yang membelit kakinya.

“Dah kucing. Hati-hati di jalan. Jangan sampai tersangkut lagi ya.” teriakku dari atas pohon begitu si kucing melompat turun.

“Beres. Kucingnya udah selamat.” aku tersenyum puas karena misiku berhasil. Tidak sia-sia aku memanjat pohon ini. Haha. Tunggu. Manjat pohon? Aku melihat ke bawah dan…

“Gyaaa!!” gara-gara terlalu semangat mau menyelamatkan si kucing, aku jadi lupa kalau aku takut pada ketinggian.

Appa, eomma, eonnie, aku takut. Hiks hiks. Appa~” Aku yang mulai merasa takut pun hanya bisa menangis.

“Kau sedang apa di atas sana?” Tanya seorang namja yang tiba-tiba saja muncul entah darimana.

“Aku tidak bisa turun. Hiks.” kataku dengan masih terisak.

“Ooo~ Perlu bantuan? Lompatlah. Nanti biar aku tangkap.” Namja itu tersenyum mendengar jawabanku dan menawarkan diri untuk membantuku.

Mwo?” Cuma 1 kata yang bisa kuucapkan. Lompat? Yang benar saja. Kalau jatuh gimana?

“Jangan takut. Aku janji akan menangkapmu.” Namja itu mengangguk untuk meyakinkanku, masih dengan senyum terukir di bibirnya.

Setelah menarik nafas dan komat-kamit membaca doa, aku menutup mataku rapat-rapat dan melompat turun.

Hap.

“Haha. Kamu takut jatuh ya? Sudah kubilang kan kalau aku akan menangkapmu?” Ragu-ragu, aku membuka kedua mataku. Dan apa yang kulihat berikutnya membuatku totally speechless. Pantulan sinar matahari senja yang menyinari wajahnya, ditambah dengan tatapan hangat dan senyumnya yang lembut membuatku terpaku dalam kekaguman. Sosoknya saat ini benar-benar terlihat seperti seorang malaikat. Rasa takutku tadi langsung berubah jadi perasaan yang aku sendiri juga tidak mengerti.

“Kamu gak apa-apa?” Tanyanya khawatir.

“A-a-aku tidak apa-apa kok.” Aku gelagapan. Aduh~ Kenapa aku jadi salah tingkah gini sih? Aku pun cepat-cepat menurunkan kakiku ke tanah. Saat ini wajahku pasti merah sekali. Aku gak mau dia melihatnya.

“Kamu yakin? Sebentar lagi gelap. Bahaya kalau kamu pulang sendiri. Jadi biar aku antar pulang. Tenang saja. Aku namja baik-baik kok.”

Deg. Senyum itu lagi. Aaaa!! Mana bisa aku menolak senyumnya itu? Akhirnya aku setuju dan naik ke atas sepedanya. Sepanjang perjalanan cuma diam. Bukannya aku tidak mau ngobrol banyak dengannya, tapi jantungku benar-benar tidak bisa diajak kompromi. Dari tadi jantungku berdetak sangat cepat seakan bisa melompat keluar dari tempatnya.

Akhirnya kami sampai di depan rumahku. Setelah mengucapkan terima kasih, aku langsung berlari masuk ke dalam rumah karena malu. Setelah sampai di dalam rumah, aku baru teringat satu hal.

“Aaaaa!! Aku lupa tanya namanya. Dasar Lee Jihyun pabo!” Aku memukul-mukul kepalaku sambil terus mengutuki diriku sendiri.

“Jihyun-ah. Kamu kenapa sih? Ngapain mukul kepalamu sendiri? Udah gitu tadi kok kamu pulangnya diantar Suho sih?” Tanya eonnie heran.

“Hah??? Eonnie kenal sama namja yang tadi ngantar aku pulang???” Mataku langsung melebar mendengar pertanyaan eonnie itu.

“Ya kenal lah. Dia kan hoobaeku di SM. Dia emang belum debut sih. Masih trainee gitu lah. Hehe.”

Spontan, aku langsung memegang erat kedua tangan eonnie.

Eonnie, kasih tau ke Yoon Hee eonnie, aku mau jadi trainee. Lebih cepat lebih baik. Kalau perlu besok langsung mulai.” Kataku dengan semangat berkobar-kobar.

Eonnie mengangguk heran. Bisa kulihat kalau saat ini sedang memberiku tatapan penuh kebingungan. Tapi aku tidak peduli. Yang penting aku bisa ketemu lagi sama dia. Aaa~ Aku tidak sabar buat ikut training. Hehe.

–          End of Ji Hyun’s Prolog –

~ ~ ~

–          Gyu Ri’s Version –

“Cih. Kenapa aku harus melakukan pekerjaan bodoh ini sih?” aku mendengus kesal melihat tumpukan kertas yang tergeletak di atas meja. Ingin rasanya aku melempar kertas-kertas itu keluar jendela atau membakarnya di tempat pembakaran sampah di taman belakang sekolah. Tapi biar gimanapun juga aku tidak mungkin melakukan itu semua.

Aku, Jang Gyuri, adalah murid kelas 2 sekaligus Ketua Osis di Mooyeon High School ini. Sebenarnya sih aku malas membahas apalagi mengakuinya. Tapi mau gimana lagi? Emang kenyataannya gini. Huft~ Kalau bukan demi mempertahankan beasiswa, aku juga tidak akan sudi melakukan hal-hal tidak penting ini.

***

“Akhirnya selesai juga.”

Aku menggeliat seolah baru bangun tidur. Aigoo… duduk berjam-jam lamanya membuat tulang-tulangku sakit semua. Kulirik jam tanganku. Baru jam 3. Itu artinya aku masih punya waktu 2 sebelum gerbang sekolah ditutup. Setelah membereskan pekerjaanku, aku segera berlari menuju ke ruang klub dance. Sebagai Ketua Osis, aku memang punya kunci cadangan semua ruang klub yang ada di sekolah ini. Otomatis aku bisa memasuki ruang klub manapun yang aku suka –pastinya kalau ruangannya sedang tidak dipakai oleh anggota klub-. Sebenarnya sih aku tidak diperbolehkan buat pakai ruangan di sekolah tanpa izin. Kalau ketahuan aku pasti diomelin habis-habisan sama si botak –kepala sekolah maksudnya-. Tapi aku tidak peduli.

Sejak kecil aku memang sudah diikutkan dalam kursus menari. Tapi bukan modern dance kayak yang lagi ngetrend saat ini. Kursus yang kuikuti adalah kursus balet. Dan bukannya over confidence, tapi kurasa aku cukup bagus dalam balet.

Kulangkahkan kakiku memasuki ruang latihan yang udah gak asing lagi bagiku. Yup. Aku emang sering (banget) diam-diam masuk ke ruangan ini –untuk menari tentunya-. Aku mulai menari diiringi musik klasik dari MP3 Playerku. Aku gerakkan badanku meliuk ke kiri dan ke kanan mengikuti irama musik. Saat menari, aku merasa bebas. Aku bisa jujur dan menjadi diriku sendiri. Aku bisa mengekspresikan diriku secara total. Itulah kenapa aku sangat suka menari.

“Hosh hosh…”

Aku terkapar di atas lantai setelah selama kurang lebih 30 menit aku menari tanpa jeda. Kalau soal nari, aku emang selalu serius dan total. Saking seriusnya, aku tidak sadar kalau dari tadi ada sepasang mata yang mengamati gerak-gerikku.

“Waa~ Kau hebat sekali tadi! Keren abis! 4 jempol deh buat kamu! Haha.” Seru seorang namja -yang entah sejak kapan ada disana- diiringi tepuk tangan dan decak kagum dari orang yang sama.

“Cih.” aku mendengus kesal dan pergi meninggalkan ruang klub. Sebelum pergi, aku sempat memberikan death glare pada namja tinggi itu yang membuatnya kaget dan langsung diam. Sepanjang jalan aku terus memikirkan namja menyebalkan yang sudah menggangguku tadi. Tapi kok kayaknya wajah namja itu familiar ya? Hmmm~ Aha! Aku ingat. Kalau tidak salah namanya Park Chan Yeol. Dia sunbaeku yang sangat terkenal di semua kalangan. Hampir tiap hari para yeoja di kelasku ribut ngomongin tentang dia. Kalau aku pribadi sih tidak begitu kenal sama dia, soalnya kami beda tingkat dan beda jurusan pula (aku lari, dia basket).

***

Sejak itu aku jadi sering banget diam-diam memperhatikan (re: memata-matai) sunbaeku itu. Sedikit demi sedikit aku mulai bisa mengerti kenapa para yeoja di sekolah ini mengidolakannya. Tubuhnya yang tinggi, kulitnya yang putih, dan rambutnya yang kecoklatan membuatnya terlihat menonjol diantara namja lain disekitarnya. Tingkahnya yang kocak selalu bisa menghidupkan suasana dimanapun ia berada. Dan saat main basket, dia terlihat begitu cemerlang.

Entah kenapa, entah sejak kapan, jantungku mulai berdetak kencang tiap kali aku melihatnya. Cuma dengan mikirin dia saja aku bisa langsung senyum-senyum sendiri kayak orang gila. Bagiku, dia itu ibarat pelangi. Hari-hariku yang mulanya berwarna hitam-putih, kini berubah menjadi lebih berwarna karenanya.

“Kau yang namanya Jang Gyu Ri ya?” Tanya seorang yeoja asing yang kayaknya udah dari tadi nunggu di gerbang sekolah ini.

“Ne. Anda siapa ya?”

“Aku Kang Hye Rin. Kau bisa memanggilku Hye Rin eonnie. Ayo ikut aku.” Dia menarik tanganku dan menuntunku masuk ke dalam mobilnya.

“Kemana?” Tanyaku singkat, padat, dan jelas.

“Sudah, ikut saja. Nanti juga kau tau sendiri.” Katanya sambil tersenyum penuh arti. Akupun ikut masuk ke mobilnya dengan seribu tanda tanya di benakku.

Yeoja ini mencurigakan banget sih. Sebenarnya dia mau ngajak aku kemana ya? Lagian kenapa aku mau aja diajak pergi sama orang ini? Kenal aja nggak. Gimana kalau nanti aku diculik? Bodoh amat lah. Sudah terlanjur juga. Lagipula kalau dia berniat jahat kan aku tinggal lari saja.

“Nah, kita udah sampai. Ayo turun.”

Lagi-lagi aku cuma diam dan ikut dibelakangnya dengan ekpresi muka malas. Aku menunduk. Bukan karena takut. Tapi saat ini tiba-tiba saja aku merasa sangat mengantuk.

Noona!! Noona serius nyeret dia kemari?” Lho? Suara itu? Kayaknya aku kenal. Aku mengangkat kepalaku.

Neo?” Tanyaku kaget saat melihat Chan Yeol sunbae diantara gerombolan namja lain yang tidak kukenal.

Mianhaeyo Gyu Ri-ssi. Ini semua salahku.” Kata Chan Yeol sunbae yang membuatku bingung.

Flashback

“Yah, nih HP pakai acara drop lagi baterainya. Pinjam HP donk.” Pinta Hye Rin, entah pada siapa. Kris lalu menyodorkan HP-nya.

Gomawo… Lho? Kok tidak bisa dipakai?” Tanya Hye Rin bingung.

“Ya iya lah noona. Kan tidak ada pulsanya.” Jawab Kris stay cool.

“Aish~ Dasar tidak bermodal! Yang lain?” Tanya Hye Rin lagi yang diikuti gelengan kepala dari 10 namja lainnya.

“Nih noona. Pakai saja punyaku. Ada pulsanya kok. Haha.” Kali ini Chan Yeol yang menyodorkan HP.

Gomawo… Hmmm… Siapa ini?” Hye Rin mengernyitkan dahinya.

“Oh, itu? Adik kelasku. Kemarin waktu aku dihukum, tidak sengaja aku liat dia lagi nari. Terus aku rekam deh. Haha.”

“Sudah kuputuskan. Bagaimanapun caranya, aku bakal nyeret dia kemari.” Kata Hye Rin bersemangat dengan mengepalkan kedua tangannya.

Flashback End

Mwo?” Cuma itu yang bisa kuucapkan setelah mendengar cerita dibalik penculikanku ini dari Chan Yeol sunbae.

“Baiklah. Sudah aku putuskan. Mulai hari ini Jang Gyu Ri resmi jadi trainee di SM.” Titah Hye Rin eonnie yang membuat semua orang di ruangan itu melotot saking herannya.

“Ok.” Kataku cool yang diiringi tatapan tidak percaya dari yang lain. Apa salahnya? Emang sih agak merepotkan, tapi aku kan emang suka nari. Lagian kalau aku ikut training, aku kan jadi bisa makin dekat dengan sunbae. Mungkin ini ya yang dinamakan memancing di air keruh? Biarlah.

-End of Gyu Ri’s prolog-

~ ~ ~

– Chae Ri’s Version –

“Disini tidak ada… Disana juga tidak ada… CHEN!! KAU DIMANA?!” Teriakku frustasi. Untung saja sudah tidak ada siapa-siapa lagi di kelas. Kalau tidak, bisa-bisa aku dipelototin lagi kayak tadi pagi.

Aku, Kim Chae Ri, secara resmi menetapkan hari ini sebagai hari galau sedunia. Bagaimana tidak galau? Kim Jong Dae alias Chen tiba-tiba saja menghilang tanpa jejak. Bukan cuma tidak masuk kelas, aku juga tidak bisa menemukannya dimanapun. Di kantin, perpustakaan, UKS, atap, ruang guru, taman belakang sekolah; semua tempat sudah aku datangi tapi hasilnya nihil. Aku bahkan sampai mencari di bawah kolong meja dan sempat juga mengobok-obok tong sampah kelas. Alhasil, bukannya menemukan Chen, aku malah dipelototi oleh anak-anak satu kelas. Salahku juga sih. Ngapain coba aku cari Chen di tong sampah? Tapi namanya juga orang lagi panik, jadi wajar donk kalau agak(?) berlebihan.

Mungkin kalian bertanya-tanya, kenapa sih aku sampai seheboh ini cuma gara-gara ada temanku yang tidak masuk sekolah? Kalau cuma ‘teman’ku saja yang tidak masuk sih bodoh amat. Tapi yang lagi kita omongin itu Chen lho! Chen!

Chen adalah teman sekelasku di Jeorim High School ini. Chen itu baik banget orangnya. Dia selalu tersenyum dan bersikap ramah sama orang lain. Dia juga pintar dan cute. Bagiku, Chen itu ibarat pangeran yang keluar dari buku dongeng. Bahkan dia jauh lebih sempurna dari seorang pangeran sekalipun.

Kami berdua cukup dekat. Sebenarnya sih aku sudah lama suka padanya. Dan sejak awal masuk sekolah aku sudah gencar mendekatinya. Malah aku sering -lebih tepatnya hampir tiap hari- bilang suka ke dia dan selalu mengikutinya di sekolah.

Awalnya kukira Chen akan jadi benci padaku dan nganggap aku yeoja gila. Tapi ternyata Chen memang baik hati banget. Dia sama sekali tidak benci, marah, ataupun kesal dengan kehadiranku -yang sangat mengganggu itu-. Dia malah selalu tersenyum dan mengajakku untuk berteman. Dia bahkan mau datang ke pesta ulang tahunku bulan lalu.

Jujur saja, aku tidak mau kalau cuma dianggap ‘teman’. Aku mau hubungan kami lebih dari sekedar ‘pertemanan’. Tapi aku tidak mungkin maksa dia buat langsung jadian denganku kan? Yah, aku cuma bisa sabar dan tetap berusaha.

~ ~ ~

Hari ini pun dia tidak masuk. Aku benar-benar tidak tau lagi harus mencari dia dimana.

“Eh, sudah dengar gosip terbaru belum?” Tanya Ri An -teman sebangkuku- begitu aku duduk.

“Aku tidak tertarik ._.”

“Jutek amat sih? Aku kan cuma mau ngasih tau soal Chen. Tapi kalau kau tidak tertarik, ya sudah, mending aku ke kantin aja deh.” Katanya cuek lalu bangkit berdiri.

Mendengar nama Chen, radar yang ada di telingaku langsung aktif. Aku langsung menarik tangannya, menahannya agar tidak pergi.

“Tadi katanya tidak tertarik?” Goda Ri An lengkap dengan seringaian di wajahnya.

“Jung Ri An yang cantik dan baik hati, kasih tau aku donk. Please~” Kataku dengan wajah super memelas.

Arasseo. Aku bakal cerita. Tapi sebelumnya, singkirkan dulu ekspresi menggelikan itu dari wajahmu. Aku bisa muntah kalau melihatnya lebih dari 5 menit.” Katanya mengejek. Ada senyum kemenangan -yang menyebalkan- di wajahnya. Rasanya aku ingin sekali menjitak kepalanya. Sabar Kim Chae Ri. Sabar~

~ ~ ~

Menurut informasi yang aku dapat dari Ri An, Chen tidak masuk sekolah karena dia sedang fokus menyiapkan diri untuk training di SM. Hmm… Oh iya, Chen kan sempat menyanyikan sebuah lagu berjudul Winter Child di pesta ulang tahunku. Dan aku akui, suaranya memang bagus banget. Tapi masa sih dia ikut training-training kayak gitu? Tanpa memberitahuku? O.o

“Hei, sedang apa kau disana? Ayo cepat masuk. Latihannya sudah mau dimulai.”

Hah? Latihan? Aku kesini kan cuma mau membuktikan omongannya Ri An itu benar atau tidak. Kenapa malah diajak latihan?

Sebenarnya aku mau protes, tapi namja itu langsung menyeretku masuk tanpa memberiku kesempatan untuk bicara.

~ ~ ~

“Kau yang berdiri di pojok. Siapa namamu?” tanya seorang yeoja yang berdiri di depan sambil menunjuk ke arahku. Kalau diliat-liat sih kayaknya dia pelatihnya deh.

Gawat. Aku harus jawab apa nih? Aduh. Semua ini gara-gara namja sok tau itu. Aku pun cuma bisa menundukkan kepalaku.

“Kenapa diam saja? Kau bukan salah satu trainee disini kan? Apa jangan-jangan kau itu penyusup?” Tanyanya lagi. Kali ini dengan nada suara yang lebih tinggi dari sebelumnya.

“Aku-bukan-penyusup-aku-kesini-cuma-mau-memastikan-sesuatu-aku-juga-tidak-tau-kenapa-tiba-tiba-aja-aku-ditarik-masuk-sama-orang-itu.” Kataku dengan kecepatan super sambil menunjuk namja yang tadi menyeretku.

Semua orang yang ada disana melihatku dengan mulut menganga lebar. Gawat. Kalau sedang aku gugup, aku akan ngomong super cepat. Sebenarnya aku sudah mencoba segala macam cara untuk menghilangkan kebiasaan ini, tapi semuanya gagal T.T

“Oo~ Ok. Kalau diberi kesempatan, apa kau mau jadi trainee disini?”

Hah? Ngomong apa dia? Gak mungkin lah aku mau ikut yang kayak ginian. Emang aku kurang kerjaan apa? O.o

“Aku tidak…”

Noona, maaf aku terlambat. Lho? Chae Ri? Kau sedang apa disini?” ucapanku terpotong saat seorang namja yang sudah tidak asing lagi bagiku masuk dengan ekspresi wajah kebingungan.

Ternyata apa yang dibilang Ri An 100% benar. Chen beneran jadi trainee disini. Dan kalau aku jadi trainee juga, artinya kami bisa bersama seharian. Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku bersyukur punya kebiasaan aneh kayak gini.

“Aku mau eonnie.” Jawabku tanpa pikir panjang.

Saat itu juga kurasakan muncul hawa membunuh dari beberapa orang yang ada di ruangan itu. Abaikan saja lah. Demi Chen, jangankan cuma menghadapi mereka, mendaki Gunung Fuji pun aku berani. Aku sudah tidak sabar buat training bareng Chen <3.

– End of Chae Ri’s prolog –

Gimana? Gaje kan? Haha. Nah, sekian perkenalan dari para calon main cast di FF author yang judulnya Be Idol ini. Thank u so much buat semua yang udah luangin waktunya buat baca FF gaje dari author ini *hug n kiss*. N don’t forget to RCL~

With Love, Han Yoo Na^^

 

 

3 pemikiran pada “Be Idol (Prolog)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s