Determined

Title                 : Determined

Author             : Chanz

Main Cast        : Choi Minchan (OC)

Kim Jongin

Genre              : Romance, Marriage Life, Hurt/Comfort

Length             : Oneshoot

Rating             : PG-17

Disclaimer       : Semuanya milik Yang Maha Kuasa. Bahkan story-line nya pun. Hanya saja perantaranya melalui otakku-yang-kecil yang Dia sampaikan melalui ‘Ilham-NYA’. So, i’m not a plagiator. PLAGIATOR, –DAMN- WALK AWAY!!!

Summary         : Hanya perlu sebuah kenekatan untuk mengetahui apa yang seharusnya  kau lakukan.

 

==============================================

Aku menghembuskan nafasku pelan. Entah untuk yang keberapa kali selama beberapa menit aku terduduk di Cafe ini. Orang-orang yang datang kesini biasanya untuk menikmati kopi serta minuman dingin, mengingat ini adalah musim panas. Aku sendiri tengah menatapi Mango Frizz didepanku yang belum kusentuh sama sekali. Setelah merasa pesananku akan mubazir, aku akhirnya memutuskan untuk meneguk Mango Frizz dihadapanku. Rasa segar mangga dan sensasi sodanya menyapa tenggorokanku. Memberikan sensasi menyegarkan secara fisik. Minuman dingin segar yang baru kuteguk ini tidak mempengaruhi suasana hatiku sama sekali. Mungkin agak memburuk, mengingat perlakuan dingin seseorang padaku, rasa dingin yang tidak jauh beda dengan Mango Frizz ini. Ah, tidak. Mungkin lebih dingin lagi.

 

Mataku kuarahkan pada jendela kaca disampingku. Suasana cerah daerah Gangnam seolah mengejekku. Mereka yang hanyalah benda mati, matahari, langit, awan-awan yang berarak, bisa terlihat lebih bahagia ketimbang diriku sekarang. Mungkin ini memang nasib yang harus kuterima. Menikah dengan seseorang yang dijodohkan padamu betul-betul bukan ide yang bagus. Atau mungkin aku saja yang tidak beruntung mendapat pria seperti itu. Ah, atau mungkin dia yang merasa sial menikahi wanita sepertiku hingga ia bertingkah seperti itu. Ya, aku tidak patut menyalahkan sebuah perjodohan. Salahkan kualitasku yang tidak bisa dibanggakan.

 

Aku bukanlah wanita yang mengagumkan. Bukanlah wanita yang bergelimang harta, bukanlah wanita yang membuat mata para lelaki terarah padaku dengan decak kagum, bukan pula wanita yang berprestasi hingga mengharumkan nama bangsa. Aku hanyalah wanita bisa, ah mungkin sedikit berbeda. Seperti kulitku. Kulit wanita Korea pada umumnya putih bersih dan indah, sementara kulitku berwarna kecoklatan, warisan dari kakekku yang merupakan keturunan Asia Tenggara. Kulit wanita khas negara iklim tropis. Tidak hitam, hanya tingkat kecerahannya betul-betul dibawah kulit wanita Asia Timur. Ya, kulitku memang nyaris menyerupai kulitnya. Suamiku yang berkulit tan yang justru membuatnya terlihat sexy. Namun kulit ini tidak menjadikanku terlihat sexy seperti dirinya. Mataku. Ah, satu-satunya yang mungkin membuatku betul-betul merasa bangga memilikinya. Aku tidak perlu melakukan surgery apapun untuk membuatnya indah. Mataku tidaklah sesipit orang Asia Timur pada umumnya, namun tidak juga besar seperti milik wanita Amerika Latin. Mata yang dengan alaminya memiliki eye-lid dan terlihat indah dengan pupil cokelatnya serta bulu mata dan alis mata yang lebat. Organ tubuh kesukaanku, mata. Hidungku tidaklah mancung, tidak juga flat, dan aku merasa tidak perlu melakukan surgery apapun untuk mengubahnya. Bibirku. Biasa saja. Tapi Appa ku bilang aku terlihat manis jika tersenyum. Tentu saja, dia Appaku, siapa lagi yang bisa memujimu dengan baik selain kedua orangtua mu. Rambutku berwarna kecoklatan dengan panjang sepunggung, agak bergelombang. Postur tubuhku seperti wanita Asia pada umumnya, 163 cm, biasa saja.

 

Pergaulanku tidaklah seluas pergaulannya. Pria yang kunikahi nyaris tiga bulan ini memiliki banyak teman. Ia memanglah sosok yang populer. Para wanita dikampusnya menatap ia penuh minat, para pria menatapnya dengan tatapan iri, dan para orang tua menatapnya penuh harap akan memiliki anak sepertinya atau menantu sepertinya. Persis seperti yang dirasakan kedua orangtuaku. Mereka berdua adalah sahabat dari Appa suamiku. Mereka yang baru bertemu setelah sekian tahun berpisah, akhirnya memutuskan untuk saling menjodohkan anak. Kami sekeluarga dulunya menetap di Cina. Appa bekerja di kedutaan besar Korea dan ia ditugaskan di Cina. Namun tahun lalu, Appa dikembalikan ke Korea. Disinilah kami sekeluarga sekarang. Menetap di Korea, negara kelahiranku. 4 tahun di Cina betul-betul membuatku berdecak kagum ketika kembali menjejaki Korea. Banyak yang berubah. Sangat banyak. Pembangunan menyebar dengan cepat, serta beberapa hal lain yang begitu berubah. Sekolahku yang dulu, taman kecil tempatku bermain dulu sekarang telah menjadi gedung perkantoran, beberapa kedai yang dulu sering aku kunjungi bersama Eomma tidak lagi ada. Aku merindukan segalanya.

 

Meski telah kehilangan beberapa hal, namun kini aku memiliki, lebih tepatnya ditakdirkan memiliki seorang pria yang berstatuskan sebagai suamiku. Ia terpaksa menikahiku, meski kami memang dijodohkan, sebenarnya ada sebuah kejadian, semacam kecelakaan yang menjadikan pernikahan kami dipercepat. Malam itu, Appanya mengusulkan agar kami berkencan. Lebih tepatnya ia dipaksa berkencan denganku, untuk saling mengenal, saling mengetahui satu sama lain. Mungkin karena kesal, waktu itu ia membawaku ketempat yang sama sekali tidak tepat untuk berkencan. Sebuah Night-club. Ia membawaku kearah kumpulan teman-temannya, memperkenalkanku sebagai seseorang yang sangat terpaksa dibawanya kesini karena paksaan Appanya. Ia dikelilingi wanita waktu itu, sementara aku hanya duduk canggung diantara hingar-bingar musik yang menyentak, diantara lampu-lampu yang gemerlapan, diantara dentingan gelas-gelas, botol-botol minuman yang saling beradu satu sama lain. Mereka semua menikmati minuman memabukkan itu. Sementara itu, salah seorang temannya mencekokiku dengan minuman serupa. Aku tidak mau, namun tiba-tiba aku menjadi pusat perhatian. Semua mata temannya tertuju padaku seolah menuntutku untuk meminum minuman memabukkan itu. Termasuk dirinya. Ia menatapku tajam seolah berkata ‘Jangan mempermalukanku dihadapan mereka’. Aku meminumnya. Terpaksa. Siapa yang menyangka, meski minuman itu tidak seenak Jus Melon, bahkan terasa membakar tenggorokanku, namun pemberian nama pada minuman itu memang tidak pernah salah. Memabukkan. Minuman itu membuatku meneguknya lagi dan lagi. Hingga entah siapa yang memulai, entah bagaimana prosesnya. Well, aku bisa mengingatnya samar-samar. Tubuhku dibopong olehnya, membawaku kedalam sebuah ruangan. Tubuhku yang terhempas diranjang, aku yang menjadi agresif. Dirinya yang menginginkan diriku. Semuanya terjadi begitu saja, begitu cepat.

 

Kami tidak pulang semalaman, orangtuanya menamparnya. Mereka murka. Orangtuaku kecewa. Mereka memutuskan mempercepat pernikahannya. Sejak saat itu, entah memang ia membenciku sejak awal, sikapnya padaku begitu dingin. Hanya sekali, kami tidak pernah lagi betul-betul saling menyentuh setelah malam ‘kecelakaan’ itu.

 

Ia menjalani harinya dua kali lebih sibuk dibanding sebelumnya. Ia adalah seorang suami, ia harus bertanggung jawab padaku bagaimanapun. Selain menjalani aktifitasnya sebagai mahasiswa di Yonsei, ia juga terjun kedunia bisnis Appa nya lebih cepat dari seharusnya. Memperoleh jabatan sebagai Manager Pemasaran membuat waktunya tersita oleh dua hal itu. Mungkin ia agak senang dengan kesibukannya. Setidaknya ia tidak perlu menghabiskan waktunya bersamaku. Ia kerap kali tidak pulang semalaman. Entah kemana, ponselnya tidak aktif. Aku mencemaskannya hingga tertidur disofa ruang tamu rumah kami. Dini hari, nyaris pagi, ia pulang. Aku merasakan bunyi pintu yang ia buka. Namun aku tidak bergeming, aku terus pura-pura tidur, menghindarkan pertengkaran yang mungkin kumulai karena menyalahkannya. Ingin rasanya memaki dirinya, tapi kembali aku harus tau diri. Meski aku adalah istrinya, tapi aku adalah seorang istri yang tidak diinginkan keberadaannya. Mungkin ia berfikir, untuk apa orang tuanya mempercepat pernikahan kami, toh aku tidak hamil. Ya, patut disyukuri aku tidak hamil. Aku hanya tidak ingin anakku, andai ia ada, mempertanyakan sifat Ayahnya yang seperti itu.

 

Sedikit drama, ketika orang tua kami ada, berpura baik-baik saja. Semuanya terlihat sempurna dari luar. Padahal kami tidak ubahnya hanyalah dua orang asing yang serumah dan diikat janji suci pernikahan.

 

Semuanya bisa kulalui dengan mudah, hingga suatu hari, disebuah pusat perbelanjaan yang begitu ramai. Aku melihatnya, berjalan bersama seorang wanita. Tangannya memeluk pinggang ramping wanita itu, tersenyum satu sama lain, begitu bahagia. Patut disesali, ia terlalu eye-catching bagiku. Hingga bahkan ditengah keramaian seperti itu aku masih bisa menemukan sosoknya.

 

Rasanya kini tidak semudah yang kubayangkan. Perasaan yang begitu menusuk seolah mengoyak sesuatu dalam tubuhku. Terasa perih. Apa aku mencintainya? Tidak mungkin, jika difikir secara logika, harusnya tidak. Untuk apa aku jatuh cinta pada seseorang yang telah merebut kesucianku –well, meski kami melakukannya dalam keadaan tidak sadar- dan tidak merasa bertanggung jawab sama sekali dengan tindakannya. Aku seharusnya tidak jatuh cinta pada pria macam itu. Ataukah, apa mungkin ikatan janji suci dihadapan Tuhan itu yang membuatku merasa seperti ini. Merasa sesak, merasa diikat oleh tali tak kasat mata. Entahlah.

 

Aku mengikutinya, dalam hal ini mungkin aku betul-betul bodoh, memantaunya berkencan dengan gadis itu seharian. Padahal aku masih mengingat ucapannya ketika keluar dari rumah, “Aku ada ujian, setelah ini aku ada rapat. Jangan menungguku”. Hei, kami memiliki mulut dan bisa bicara. Tentu saja ada komunikasi diantara kami sesekali.

 

Sesekali aku berjalan agak dekat kearahnya. Jaraknya kurang lebih dua meter, didepanku, mereka masih berangkulan mesra. Apa aku sebegitu tidak terlihatnya? Mereka makan bersama, sesekali saling menyuapi dan menyeka bibir satu sama lain, hingga saling berbagi ciuman didalam mobil. Hingga pada puncaknya, hal yang sangat kubenci, memasuki hotel bersama.

 

Entah sejak kapan, kegiatan menguntit dirinya sudah seperti candu bagiku. Aku merasa tidak tenang jika tidak melihatnya. Apakah ia makan hari ini? Bersama siapa dia hari ini? Berapa lama ia bercinta hingga meninggalkan hotel? Segalanya kulakukan diluar kendaliku. Beberapa kali aku bahkan bolos kuliah karena penjadi penguntitnya. Kami beda kampus, aku diam-diam mendatangi kampusnya dan membaur disana. Memantau aktifitasnya. Sesekali kulihat ia bermain basket, nongkrong di kantin bersama teman-temannya, mengerjakan tugas dibawah pohon. Melihatnya seperti itu membuatku merasa ia sosok yang begitu berbeda dengan yang kuhadapi dirumah. Ia banyak tertawa, ia banyak bicara, atraktif, menarik. Setelah dari kampusnya, ia akan langsung kekantor, aku menghabiskan waktu menunggunya di Cafe ini. Pelayan di Cafe ini bahkan mengenaliku karena seringnya aku disini.

 

Aku kembali meneguk Mango Frizz ku hingga tandas. Mataku menangkap mobilnya yang baru saja keluar dari basement kantornya, dengan cepat aku meninggalkan cafe dan membuntutinya dengan mobilku. Menebak-nebak mobilnya akan kemana. Oh, kesebuah apartemen. Aku masih mengekor dibelakangnya. Kubiarkan ia keluar dari mobilnya terlebih dahulu sebelum akhirnya aku ikut keluar mengikutinya. Ia berjalan agak tergesa. Ia memasuki lift. Kutahan langkahku yang nyaris saja memperlihatkan diri, setelah pintu liftnya tertutup, aku menaiki lift dibelahnya yang secara kebetulan sedang terbuka. Lantai 5. Aku sudah hafal apartemen ini, siapa wanita yang ia kunjungi. Wanita yang sama yang selalu menemaninya. Mungkin kekasihnya.

 

Tepat ketika pintu lift terbuka, ia baru saja memasuki apartemen gadis itu. Jam segini, wanita itu tidak ada diapartemennya. Dan itu artinya, suamiku sudah menganggap apartemen itu seperti miliknya sendiri. Memiliki kuncinya dan bahkan menghabiskan waktu istirahatnya disini. Aku menggigit bibir bawahku ketika tubuhku kini berhadapan dengan pintu apartemen itu. Hari ini aku memantapkan hatiku. Aku ingin mengakhiri semuanya. Semoga permintaanku ini bisa ia kabulkan. Dengan tekad yang sudah bulat, dengan kenekatan diatas rata-rata, aku memencet bel. Menunggu beberapa saat hingga kemudian pintu didepanku terbuka. Ia agak kaget mendapatiku berdiri dihadapannya. Penampilannya terlihat berbeda. Setelan kantor yang ia pakai menghilang, digantikan t-shirt biru cerah serta celana selutut yang membuatnya terlihat begitu tampan. Sepertinya apartemen ini memang adalah rumah keduanya.

 

“Hai..” sapaku, menyunggingkan senyum sebaik mungkin. Ia terlihat menggumamkan namaku tidak percaya.

 

“Boleh aku masuk? Ada yang ingin kubicarakan. Lagipula, pemilik apartemen ini belum pulang, iyya kan?”

 

“Bagaimana__”

 

“Akan kujelaskan didalam..” potongku cepat.

 

Ia mengangguk pelan, melebarkan pintu mempersilahkanku masuk. Mataku meneliti apartemen ini. Apartemen yang rapih. Ternyata selain cantik, wanita ini juga telaten mengurus semuanya. Mungkin ia adalah sosok yang suamiku inginkan untuk dijadikan istrinya.

 

“Ayo, duduk..” aku tersenyum kearahnya. Mengikuti ucapannya untuk duduk. Wah, aku seperti bertamu kerumahnya. Kami betul-betul seasing ini ternyata.

 

“Apa yang ingin kau katakan? Apa harus sekarang? Tidak bisa menungguku dirumah?”

 

Aku menggeleng, “Malam ini aku akan ke Cina”

 

“Kau ke Cina?!” ia melebarkan kelopak matanya seolah tidak percaya dengan ucapanku.

 

“Bagaimana kalau kau mendengarkanku dulu? Setelah itu, aku akan menjelaskan semuanya..” ia mengangguk menyetujui usulku.

 

“Sebelumnya, aku ingin meminta maaf. Dua minggu belakangan ini aku terus menguntitmu, mencari tau kehidupanmu diluar sana seperti apa. Aku cukup senang mendapati fakta bahwa pria yang berstatus sebagai suamiku adalah pekerja keras, dicintai teman-temannya, berbakat, dan mempesona..” aku tertawa pelan. Menertawai kebodohanku yang mengucapkan semua pujian itu dihadapannya.

 

“Aku bingung. Awalnya aku berfikir jika pernikahan kita tidak lebih hanya sebatas rasa tanggung jawab yang harus kau penuhi padaku. Tidak ada unsur cinta sama sekali. Tapi, entah mengapa selama menguntitmu, melihatmu bersama wanita lain, bermesraan bersama mereka, rasanya.. Aku tidak baik-baik saja..” aku menunduk, tidak berani menatap wajahnya yang mungkin saat ini menatapku muak. Wanita macam apa aku ini? Menguntit orang sembarangan.

 

“Minchan-ah..”

 

Aku mendongak menatapnya ketika mendengar namaku disebut dengan lirih olehnya. Tatapan matanya agak berbeda dari yang tadi. Ia terlihat merasa bersalah.

 

“Kau tidak perlu merasa bersalah. Ini semua salahku. Sepenuhnya salahku..”

 

Kami terdiam agak lama. Mungkin ia membiarkanku berfikir sembari menunggu kalimat yang akan kukeluarkan berikutnya. Aku menghela nafasku. Mencoba menguatkan diri pada apa yang akan kuucapkan padanya kemudian. Setelah merasa yakin, kukeluarkan amplop berwarna coklat dari dalam tasku. Meletakkanya dimeja kemudian menggeser amplop itu kearahnya.

 

“Itu.. Surat cerai kita. Sudah kutanda tangani..”

 

“APA?!” ia terlihat tidak suka dengan ucapanku. Aku tau, ia pasti tidak ingin bercerai denganku karena ia akan dihajar oleh Appanya. Mungkin mengeluarkannnya dari silsilah keluarga. Tapi aku buru-buru menjelaskan padanya sebelum ia salah paham.

 

“Jangan dibuka sekarang. Aku tidak sedang buru-buru..” aku memaksakan tawa getir dari bibirku.

 

“..malam ini aku akan ke Cina. Ayah dan Ibumu sudah tau. Mereka mengijinkan. Aku akan berada disana selama tiga bulan, ah tidak, selama yang kau butuhkan hingga kau merasa siap untuk bercerai denganku. Kau bisa bilang pada Ayahmu aku pergi meninggalkanmu, memiliki kekasih disana, selingkuh, apa saja hingga beliau menerima usulmu untuk bercerai. Jika kau sudah siap, hubungi aku, aku akan kembali untuk menuntaskannya di pengadilan.”

 

Ia terlihat membuka mulutnya untuk bicara, namun kudahului hingga ia kembali menutup mulutnya dan mendengarkanku, “Sebelum aku pergi, aku ingin menuntut hakku sebagai istrimu..” aku meremas jari tanganku. Menunggu persetujuan darinya. Namun aku tidak mendengar sepatah katapun dari bibirnya. Mungkin ia merasa aku ini wanita tidak tau diri yang malah menuntut haknya setelah menyerahkan surat cerai. Tapi tidak apa-apa. Hanya sekali ini aku menjatuhkan harga diriku didepannya.

 

“Aku ingin bercinta denganmu dalam keadaan sadar..”

 

Ia menatapku dengan tatapan tidak percaya, namun ia bisa menguasai ekspresinya dengan cepat. Aku mendongak ketika ia berdiri dari posisinya, menghampiriku kemudian berlutut dihadapanku. Ia meraih kedua tanganku yang saling meremas kedalam tangannya yang hangat. Untuk sesaat, aku mengagumi bagaimana jemarinya mengisi celah-celah jemariku. Bagaimana warna kulit kami terlihat serasi satu sama lain. Kurasakan sebuah sapuan pelan jarinya pada pipiku. Untuk pertama kalinya, mata kami saling menatap satu sama lain. Meski sulit kuartikan, tapi aku merasa nyaman dengan tatapannya padaku. Aku bisa merasakan perasaan hangat menulusup begitu saja kedalam rongga dadaku hanya dengan tatapan itu.

 

Wajahnya mendekat. Bisa kurasakan hembusan pelan nafasnya pada wajahku. Aku memejamkan mataku ketika merasakan sentuhan pelan bibirnya menyapu bibirku. Ia menggerakkan bibirnya disana, perlahan. Entah sejak kapan bibir kami sudah saling memagut. Meraup bibir bawahnya, terkadang dia yang meraup bibir bawahku. Tangannya telah berpindah menuju tengkukku. Mengontrol pergerakan kepalaku, menentukan posisi bibir kami.

 

Aku terbaring di sofa. Satu hal yang kusadari, ternyata bukan hanya minuman itu yang memabukkan. Dirinya memang memabukkan. Wajar saja waktu itu aku mengingatnya samar-samar. Karena pada saat sadar seperti sekarang inipun, aku merasa memasuki dimensi waktu yang berbeda. Entah berapa lama ciuman itu hingga kini aku telah terbaring dibawahnya. Hal apa yang kulewatkan?

 

Keningku mengerut sesekali, dari sela-sela bibirku keluar gumaman yang terasa asing. Terdengar menggairahkan, membuat tubuhku memanas. Penjelajahan bibirnya, entah sampai mana, aku tidak mau tau. Yang kulakukan hanya memejamkan mataku dan meresapi segala macam perasaan asing. Rasa menggelitik yang berbeda, hangat yang berbeda, sentuhan yang berbeda, remasan yang harusnya terasa sakit tapi malah, ehm, nikmat. Semuanya asing dan baru. Begitu berbeda dari yang dulu. Yang begitu membekas hanya rasa sakitnya. Sekarang aku bisa mendengar suaranya. Aku dengan sadar menggumamkan namanya. Sesekali menggigit bibir bawahku ketika rasa aneh itu menguat.

 

Betul-betul seperti memasuki dimensi waktu yang berbeda. Aku tidak bisa memperkirakan waktunya, berapa lama hal ini kami lakukan. Berapa lama hal ini berlangsung? Dan kenapa aku berada diatasnya? Bagaimana proses pergeseran posisi kami? Bagaimana bisa pakaian-pakaian itu bergelimpangan dilantai seperti ini? Mataku membuka perlahan tapi malah memperhatikan semua hal itu, mempertanyakan ini itu, sementara tanpa kusadari ada sepasang mata yang kini menatapku begitu intens.

 

Aku menyambut tatapan itu. Menyunggingkan senyum kearah pemilik mata itu. Mataku beralih dari matanya. Memperhatikan helaian rambut kecoklatan miliknya yang berantakan, keningnya yang basah, berkeringat, nafasnya yang tersengal, bibirnya yang agak terbuka, menyeringai kearahku. Wajahku memanas dengan cepat. Aku menyentuh rambutnya, merasakan teksturnya yang halus.

 

“Berapa lama lagi?” mungkin aku terlalu tenggelam dengan segala hal baru tadi, jadi kuputuskan untuk bertanya padanya. Tentang kedatangan wanitanya.

 

“15 menit. Dia kekasihku..”

 

Ara..” bisikku tepat dihadapannya. Aku kembali memejamkan mataku, membenamkan wajahku pada lekukan lehernya. Tanganku merangkul bahunya.

 

“7 menit… Aku masih ingin merasakannya. Bolehkah?”

 

Ia tidak menjawabnya secara lisan, ia membiarkan tubuhnya yang menjawab. Membuatku memekik tertahan karena begitu tiba-tiba. Aku tertawa pelan, entah menertawai apa. Rasanya seperti aku yang berselingkuh dengannya. Datang ke aparteman kekasihnya, bercinta disana. Ah, jadi seperti inikah rasanya berselingkuh? Tidak buruk.

 

Setelah membereskan kekacauan yang kami lakukan, sofa yang bergeser dari posisinya, meja yang juga bergeser entah mengapa, baju-baju yang bergelimpangan, aku merapihkan rambut menggunakan jemariku. Pakaianku telah kembali pada asalnya, tubuhku. Begitupun dengan dia. Ah, namanya Kim Jongin. My soon ex-husband bernama Kim Jongin.

 

“Ingin kuantar?” tawarnya. Sebentuk perhatian terakhir sebelum aku pergi, miris.

 

“Tidak perlu, aku bawa mobil”

 

“Maksudku ke bandara..”

 

Aku menggeleng, “Tidak usah..” aku tersenyum kearahnya. “Terima kasih untuk hari ini. Selamat tinggal..” aku membalik tubuhku, melangkah menuju pintu apartemen kekasihnya.

 

“Tunggu..”

 

Langkahku terhenti mendengar seruannya. Aku membalik tubuhku yang sudah mencapai pintu.

 

“Kau bilang, kau akan pergi selama apapun hingga aku siap untuk bercerai. Bagaimana jika aku tidak pernah siap untuk bercerai??”

 

Aku mengerutkan keningku tidak mengerti. Bukan, aku tidak sepenuhnya tidak mengerti, hanya saja aku butuh penjelasan lebih agar tidak salah paham dengan ucapannya.

 

“Maksudku, bukan karena Appa. Aku, pada awalnya mungkin ingin berpisah denganmu, tapi sekarang. Aku tidak bisa. Membayangkan kehidupanku tanpa dirimu kenapa rasanya.. Aku tidak baik-baik saja”.

 

Hum? Apa-apaan dia? Dasar copy-cat!!

 

“Kenapa diam saja? Jawab pertanyaanku!! Bagaimana jika__?”

 

“Jongin-ah… Kau hanya belum mencoba. Lagipula, sejak awal kau memang hidup tanpaku. Dan kau bisa bertahan. Kali ini kau juga pasti bisa” aku hanya mencoba untuk realistis. Pria ini hanya merasa bingung. Mungkin efek dari, ehm, kegiatan kami tadi.

 

“Atas dasar apa kau menyimpulkan semudah itu? Kau, apakah kau pernah memikirkan bagaimana perasaanku terhadapmu? Bagaimana aku yang harus selalu menahan diri? Kau— Kau sangat menyebalkan!!”

 

Aku menghela nafasku, kubiarkan kakiku membawa tubuhku menghampirinya. Tangan kananku terangkat menangkup pipinya, mengelusnya, “Kau hanya butuh waktu untuk berfikir. Uhm, baiklah, akan kuberi opsi kedua. Jika kau tidak siap bercerai dariku, telpon aku, maka aku akan merobek amplop cokelat itu untukmu. Bagaimana?”

 

Ia tidak kunjung mengeluarkan jawaban. Aku menghela nafas, melepaskan pipinya kemudian berbalik, meninggalkannya menuju pintu. Tanganku baru saja akan terulur membuka pintu ketika ponselku berbunyi nyaring. Segera kukeluarkan dari dalam tasku untuk melihat si penelpon. Uhm, Jongin? Aku menoleh kearahnya yang tengah menempelkan ponsel ketelinganya, menatapku penuh harap agar aku menjawab panggilannya. Aku mengulaskan sebuah senyum tipis kepadanya, kemudian melanjutkan langkahku hingga keluar dari apartemen kekasihnya. Ponselku masih berbunyi.

 

“Halo..” aku menjawab ponselku sembari terus melangkah menuju lift.

 

“Aku tidak ingin bercerai”

 

Aku tertawa pelan, “Akan kusobek ampolopnya. Bawa saja kerumah, aku menunggumu. Tapi__” aku sengaja menggantung kalimatku. Langkahku berhenti didepan lift. Menunggu hingga pintu lift terbuka.

 

“Tapi apa?”

 

“Selesaikan dulu masalahmu bersama__” aku menyunggingkan senyumku kearah wanita yang baru saja keluar dari dalam lift, ia membalas senyumku dengan ramah. Kekasihnya. “…kekasihmu” lanjutku menekan tombol lift.

 

“Baiklah..”

 

“Humm.. Sampai jumpa dirumah…”

 

Aku memasukkan ponselku kedalam tas. Melangkah dengan ringan menuju ke basement. Mungkin memang seperti itu. Namanya sudah tepat. ‘Bercinta’. Kau bisa merasakan cinta itu seperti apa, selain gairah yang membakar tubuhmu tentu saja. Kau bisa meyakinkan dirimu, apa yang betul-betul kau inginkan, apa yang betul-betul kau butuhkan. Ah, segalanya jauh lebih ringan. Mobilku melaju menembus jalanan distrik Gangnam. Matahari itu, langit biru itu, dan awan-awan yang berarak, mereka tidak bisa mengejekku lagi. Karena kini, aku jauh lebih bersinar ketimbang mereka.

 

Hanya perlu sebuah kenekatan untuk mengetahui apa yang seharusnya kau lakukan.

 

KKEUT~

 

So Sorry for typo(es)

89 pemikiran pada “Determined

  1. author ini ada sequel’a ga? aku suka sama cerita’a,, aduuh tp msa pihak cewe’a yg hrs menderita trs sih thor.. hehehe

    tp tak apalah yg pnting happy ending, fighting.

  2. baru nemu ff ini. sumpah, ini keren banget. bahasanya bagus dan mudah dipahami. konfliknya cukup singkat dan gak bertele tele. ah, love it^^ suka banget yg kayak ginian.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s