Hello Precious! (Chapter 8)

coverpart8__

FF EXO|[HELLO PRECIOUS!]|#8 Turn to You

Title : Hello Precious!

Subtitle : Turn to You

Author : @bbymomoo

Genre : Romace, Drama, Fluff, Sad

Rating : T – PG17+

Length : Chaptered

Main Cast :

Ahreum (T-ara),

Kai (Exo-k),

Suho (Exo-k),

Krystal (f(x)),

D.O (Exo-k),

Naeun (A-pink),

Sehun (Exo-k)

Support Cast :

Shindong as Ahreum’s Father

Kangin & Sayumi as Kai and Suho’s Parents

Jung Yunho haraboji

Jessica as Krystal’s Mother

Kang Sora as Jung Sora –has die-

WARNING: Typo(s)

A/N : Happy Reading!

 “Besok pagi-pagi sekali kau sudah harus berada di alamat itu. Tepat di depan pintunya!”lanjut Kai.

Ahreum memandang Kai dan kertas alamat di tangannya bergantian. Joongri Apartement Lantai 12 no. 88, Apgeujong. Benar-benar kawasan orang-orang kaya. Ia memikirkan betapa kayanya si Kai itu. Kalau ia kaya untuk apa meminta ganti rugi? Bukankah uangnya masih cukup untuk membeli barang bernama PSP tadi, pikiran Ahreum berkecamuk.

~~~~~~

 “Baiklah, akan kuantar.”

                “Untuk apa? Aku bisa ke rumah Ahreum sediri, lagi pula kau ka—” Naeun mencoba menolak sehalus mungkin. Ia baru saja ditinggalkan Woohyun, ia ingin meluapkan semuanya dengan bercerita dengan Ahreum. Namun, ia juga tak bisa memungkiri kalau hatinya sedikit melompat-lompat bila bersama D.O. Jatuh, terjatuh dan D.O dengan cepat menangkapnya—seperti saat ini.

                “Karena aku..”

8th

==========

HELLO PRECIOUS!

========

I wanna be your favorite hello…

…and your hardest goodbye

.

.

D.O menarik napas sebelum melanjutkan kalimatnya. Menatap Naeun yang juga tengah menatapnya—menunggu ia bicara. “Karena aku ingin membuatmu tersenyum lebih banyak daripada sebelumnya.”

Sekejap, semuanya menjadi terasa ringan dan mata Naeun membulat mendengar itu.

 

 

“KYAAAAAA!!!”

Ahreum berteriak sampai-sampai Naeun menyumpal mulut gadis itu dengan bantal. Kalau tahu Ahreum akan membuat night-scream Naeun akan memilih tidak menceritakan apa yang ia lakukan bersama D.O di taman. Ahreum benar-benar tak percaya dengan apa yang dilakukan D.O pada sahabatnya itu—walaupun ia tahu yang mengantarkan Naeun ke rumahnya tadi adalah pemuda tersebut. Naeun lantas merebahkan tubuhnya ke kasur tempat mereka duduk. Melihat langit-langit kamar kecil Ahreum.

“Jangan membuat keributan, Lee Ahreum!”kesal Naeun.

Untung saja ayah Ahreum—Shindong—sedang tidak ada di rumah. Pria itu masih belum pulang dari pekerjaannya di rumah Tuan Jung Yunho. Makanya Ahreum berani berteriak sekencang itu.

“Aku kan kaget, sumpah itu romantis sekali.”ujar Ahreum membela diri.

“Aku bingung..”ucapnya.

“Kenapa harus bingung?”Ahreum ikut merebahkan tubuhnya di samping Naeun. “Ku rasa D.O mengatakan perasaannya padamu. Ah, Eun-ya aku tidak bermaksud membuatmu..”

“..melupakan Woohyun begitu saja?”Naeun menebak. Lalu menghela napasnya. “Aku juga tidak ingin seperti itu hanya saja.. semuanya terasa ringan saat dia mengatakan hal itu, Ahreum.”

Beginilah aktivitas Ahreum dan Naeun saat menginap bersama. Terkadang Ahreum juga bermalam di rumah Naeun. Karena setiap akan tidur mereka selalu bercerita—tentang apapun. Hal itu yang membuat keduanya hampir seperti saudara. Bukankah kebahagiaan akan tersa dua kali dan kesedihan akan berkurang setngahnya jika kau mau membaginya dengan orang lain? Ahreum dan Naeun tentu merasakan itu.

“Rumit sekali. Ayo, lebih baik kita tidur. Besok pagi kau harus mengambil buku di rumahmu kan?”ujar Ahreum lalu menarik selimut.

“Iya. Baiklah.”

Naeun melirik jam waker Ahreum, sudah jam 9 malam. Sudah dua jam sejak ia datang kemari. Tangannya mengambil jam itu. Mengatur alarmnya agar berbunyi besok tepat jam 5 karena ia harus pulang untuk mengambil buku. Ia juga sudah menelpon ibunya—dengan alasan mengerjakan tugas. Alasan yang sangat klasik tapi bisa dengan mudah membuat ibunya percaya. Ia jadi sedikit bersalah.

“Ahreum! Ahreum..”panggil Naeun sambil menggoyangkan tubuh temannya itu.

“Apa?”tanya Ahreum sambil membuka mata.

“Aku lupa menaruh irisan mentimun untuk mataku tadi.”ujar Naeun panik. Ahreum hendak melayangkan jitakanya namun ia segera tidur kembali.

“Bodoh.”gumamnya.

“Ya!! Dimana? Mataku bisa bengkak!”

Dan rengekan Naeun pun tidak dihiraukan oleh Ahreum. Naeun pun beranjak dari tempat tidur Ahreum untuk mencari mentimunnya. Ia mendekati meja belajar AHreum—ada baskom almunium di sana.

“Ini dia.”gumam Naeun. Saat ia mengambil baskom itu tak sengaja matanya melihat sebuah kertas, kartu nama.

“Apa tempat yang dimaksud Ahreum adalah apartemen ini?”tanya Naeun dalam hati. “Dia juga tidak menyebutkan apa alasannya datang ke tempat ini..”

Naeun melirik Ahreum yang sudah tertidur pulas. “Dasar mata serangga.”umpatnya.

.

Hello Precious

.

                Krystal terlihat sangat elegant dengan dress hitamnya. Dress tanpa lengan yang memperlihatkan bahu putihnya. Kakinya yang jenjang juga terekspose karena dress itu hanya beberapa senti diatas lutut gadis bangsawan itu. Hampir sama dengan Krystal, Jessica juga terlihat sangat glamor. Yunho dan Sehun sudah menunggu dua perempuan itu di mobil.

“Maaf agak lama, aboji.”ujar Jessica begitu sudah duduk di kursi belakang. Sehun memilih duduk di samping kemudi, jadi Krystal sendirian di belakang.

“Kita berangkat tuan,”ujar Shindong lalu mulai menjalankan mobil mewah itu.

Tempat yang mereka tuju adalah sebuah restoran di hotel bintang lima milik rekan bisnis Yunho dan Kangin. Karena ada acara peresmian perusahaan baru, maka dari itu Yunho dan Kangin sepakat untuk hadir sekaligus mengadakan acara makan malam antara keluarga Jung dan Kim.

Sehun keluar dari mobil itu dengan stelan jas abu-abunya, tampan. Namun ia tak menunjukkan seulas senyum pun di wajahnya. Begitu sampai di tepat, nuansa klasik langsung menyambut keluarga tersebut. Kangin dan keluarganya sudah menunggu di meja dekat jendela—yang memperlihatkan indahnya kota Seoul dari gedung lantai 7 itu.

“Selamat malam,”sapa Jessica sambil menjabat tangan Sayumi lebih dulu. Sementara Yunho langsung duduk di samping Kangin. Sehun memilih duduk di samping Suho dan tentu saja Krystal, sudah mendapat tempat khusus di samping Kai. Wajahnya hampir sama seperti raut muka Sehun. Senyum yang dipaksakan. Dan acara makan malam yang membosankan—menurut Sehun, Suho dan Kai pun dimulai.

“Jadi bagaimana kalian di sekolah?”tanya Kangin pada Kai dan Krystal.

“Cukup menyenangkan, paman.”jawab Krystal dengan senyumnya. “Kai selalu mengajakku makan siang di kantin bersama, kami juga sering..”

Kai hanya mengumpat dalam hati melihat tingkah Krystal seperti itu. Benar-benar mulut wanita. Krystal menceritakan hal-hal kecil sepele antara dirinya dan Kai yang dibuatnya tampak seperti adegan dua orang yang saling mencintai.

“Baguslah, paman harap kalian bisa lebih dekat dari pada itu.”komentar Kangin sambil menikmati wine putihnya.

“Tentu saja, paman. Iya kan Kai?” Krystal mengarahkan pandangannya ke samping—dimana Kai duduk.

“Ya ya..”balas Kai malas.

“Oh ya, karena kalian masih sama-sama bersekolah. Jadi Jessica-ssi dan ibu merencanakan kalau tunangan kalian akan segera diadakan, dan baru setelah kalian lulus pernikahannya dilangsungkan.”jelas Sayumi. Rupanya dari tadi Jessica dan dirinya membicarakan tentang pernikahan Kai dan Krystal setelah lulus.

“Ya, itu tidak buruk. Karena sambil kuliah tidak ada masalah walaupun kalian sudah menjadi suami istri.”tambah Kangin.

“Bagus, ide yang bagus.”ujar Yunho menanggapi.

Mata Kai langsung terbelalak. Berbeda dengan Krystal yang sudah memamerkan senyum sumringahnya. Sama juga dengan Jessica—yang merasa rencananya berhasil. Ingin rasanya Kai menolak dan (kalau ia bisa) membalikkan meja di depannya sekarang juga. Sayangnya ia hanya bisa memberikan senyum palsunya.

“Dan, kami berdua harap setelah ujian kenaikan kelas kalian bisa langsung bertunangan.”tambah Jessica.

“Setelah ujian kenaikan kelas?”tanya Kai heran sekaligus kaget. Ia bahkan tak tahu sekarang sudah pada semester berapa pembelajaran di sekolahnya.

“Dua minggu lagi.”jawab Suho. Suho memang mengikuti diskusi tetang jadwal ujian tersebut bersama guru-guru di rapat kemarin. Salah satu keuntungan menjadi siswa organisasi. Sementara Sehun hanya bungkam sedari tadi. Tidak mencoba menghiraukan obrolan ini, ataupun menikmati makanannya. Hanya sesekali melihat ke jendela.

Kai berdecih sambil mengumpat dalam hatinya. Seenaknya saja mereka memutuskan acara konyol ini, bahkan dulu—sejak awal, seingatnya sudah ia menolak secara langsung perjodohan ini. Menunjukkan secara langsung penolakannya.

Kai merapihkan rambut Krystal yang terurai malam itu. Lalu tangannya turun memegang lengan gadis itu.

“Aku perlu bicara dengan mu.”bisiknya tegas.

“Aigoo, kalian mesra sekali.”komentar Jessica dan Sayumi yang dibalas senyum kecut Krystal. Ia tahu apa maksud Kai ingin bicara dengannya. Nada bicara Kai berubah saat membisikkan kata itu. Krystal tahu benar apa maksud Kai, namun ia bersikap tenang dan memasang senyumnya pada semua orang di meja itu.

.

Hello Precious

.

                Ahreum mengintip, apakah bus yang dinaiki Naeun sudah berbelok di pertigaan jalan—karena ia harus menaiki bus yang berbeda arah untuk sampai di kawasan elit Apgeujong. Masih cukup sepi karena semua warga Seoul umumnya mulai beraktivitas pada jam 6 lebih. Dan ke Apgeujong membutuhkan waktu sekitar lima belas menit dari halte dekat rumah Ahreum. Jadi ia memutuskan untuk berangkat lebih awal selain Naeun yang harus pulang dulu sebelum berangkat ke sekolah.

Tadi pagi bahkan Shindong sempat kaget menemukan ada dua pasang sepatu sekolah di ruang tamunya.

“Whoaa, benar-benar apartemen yang mewah..”ucapnya kagum begitu ia sampai di depan gedung bertingkat itu.

Ia belum pernah masuk ke gedung apartement seperti ini. Kalaupun tahu ia hanya menonton di serial drama di TV saja tentang apartement mewah di Apgeujong.

Gadis itu melangkahkan kakinya masuk ke dalam apartement itu. Lalu mulai menaiki lift menuju lantai yang tertera di kertas yang dibawanya. Tepat di lantai enam, ia langsung mencari pintu bernomor 88. Begitu ketemu, Ahreum memencet tombol belnya hati-hati.

Sambil menunggu pintu itu terbuka ia melihat sekeliling. Tidak jauh berbeda dengan hotel ya? Pikirnya bodoh. Ia jadi cekikikan sendiri.

“Lee Ahreum?”

Gadis itu langsung menoleh ke arah pintu yang sudah terbuka. Matanya tidak salah lihat kan? Bukannya yang berdiri di hadapannya saat ini adalah Suho? Suho malaikat penjaga yang ia kagumi. Pemuda itu sudah memakai kemeja  dan jas sekolahnya, sepertinya ia sedang membenahi dasinya saat Ahreum memencet bel.  Terlihat dasinya belum seberapa rapi. Ahreum hampir saja nosebleed di depan pemuda tampan ini.

“Eoh? O-oppa?”kagetnya. Bukankah ini apartement pribadi Kai—ia menyimpulkan.

“Kenapa kau  bisa berada di sini?”tanya Suho.

“A-aku, sebenarnya..”

“YA!”teriak Kai dari dalam. “Minggir hyung, pagi ini dia tamu ku.”ujarnya mendekati pintu masuk—dimana Suho dan Ahreum berdiri. Suho menggeser sedikit badannya.

“Ikut aku!”lanjut Kai lalu menarik lengan Ahreum masuk. Gadis itu masih sempat saja tersenyum pada Suho. Ini benar-benar jackpot!! Suho membalas senyumannya canggung. Pasalnya pemuda itu bingung dengan apa yang barusan ia lihat.

“Jadi dia gadis yang dimaksud Kai?”pikirnya. Tapiuntuk apa Ahreum datang e apartemen ini pagi-pagi sekali? Ia pun kembali melakukan kegiatannya yang tertunda—menyiapkan keperluan sekolahnya.

“Sakit.”ringis Ahreum karena Kai menarik pergelangan tangannya, membawanya ke dapur. Pemuda jangkung itu langsung melepasnya.

“Buatkan aku bekal, cepat.”perintah Kai. Pemuda itu melipat tangannya di depan dada. Persis seperti seorang mandor yang menyuruh anak buahnya. Ahreum mengerutkan dahi. Sejenak ia masih berpikir. Lalu langsung menatap Kai malas.

“Jadi ini maksud mu menyuruhku mengganti benda yang kemarin aku jatuhkan itu?”tanya Ahreum selidik.

“Yap! Ini masih satu, masih banyak lagi permintaanku yang harus kau lakukan, karena ya.. Selama seminggu kau harus mau menjadi asistenku, nona Lee.”ujar Kai menjelaskan sambil menepuk-nepuk kepala Ahreum. Ia tersenyum penuh kemenangan.

“SEMINGGU? Lama sekali?!! Kau mau menyiksaku ya?!?”

“Terlalu lama ya? Kalau begitu, dua minggu.”

“Ya! Kau ini—”

“Protes berarti tambah satu minggu.”potong Kai. Ahreum langsung menutup mulutnya. Kai tersenyum setan. “Masih mau protes?”tanyanya menggoda.

Ahreum menjawabnya dengan gelengan kepala. Dalam hatinya merutuk dan mengumpati pemuda jangkung di depannya sekarang. Menyebalkan sekali. Apalagi sekarang Kai tersenyum penuh kemenangan—seperti baru memenangkan lotre, atau mendapat jackpot permainan di carnival.

“Kenapa diam? Sudah sana cepat, bahan makanan di dapur ku masih lengkap.”

Kai membalikkan badan Ahreum menghadap dapurnya. Dapur yang terkesan minimalis tapi tetap berkelas. Ahreum baru menyadari kalau tempatnya berdiri saat ini benar-benar mewah dan luas. Ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling dapur. Ada lemari es dua pintu, microwave, kompor dengan oven, serta dapur yang memiliki meja pantry. Hampir sama dengan dapur di rumah Yunho haraboji—kalau ia boleh menganggap.

“Memangnya kau suka makan apa untuk bekal?”tanya Ahreum. Ia menolehkan kepalanya kebelakang. Kai terlihat berpikir.

“Apa saja, asal bukan sayuran, terutama brokoli.”jawab Kai.

“Apa salahnya dengan brokoli? Dan sayuran?”tanya Ahreum. Gadis itu mengerutkan dahinya.

“Tsk, jangan banyak tanya. Cepatlah, aku bahkan belum mengganti bajuku dengan seragam sekolah.”ujar Kai.

Gadis itu menatap Kai dari ujung rambut sampai ujung kaki. Ahreum bahkan baru sadar kalau pemuda jangkung itu masih mengenakan kaus putih dan celana pendek biasa. Ia sedikit tertawa mengejek, sementara Kai langsung berjalan cepat menuju kamar mandi. Ia memilih untuk melepas tas ranselnya. Meletakkannya di kursi meja makan di sana.

Ahreum terlihat berpikir, apa yang harus ia lakukan di sini. Ayahnya selalu mengajari kalau ia tidak boleh berbuat lancang dan tidak sopan. Ia pun langsung mencari kotak bekal di sana, mengambil beberapa telur dan kim *(rumput laut kering; nori) di lemari es. Karena melihat ada sedikit daging salmon ia pun mengambilnya juga.

“Tanpa sayuran? Ah, brokoli ya?”ia mengamati sayuran apa saja yang ada di lemari es itu.

Daging sapi, telur, beberapa makanan instan di freezer, minuman bersoda, mie ramen instan, susu, roti, hampir tidak ada sayuran di lemari es itu kecuali sawi putih dan wortel. Ahreum tidak habis pikir, bagaimana si Kai bisa tumbuh tinggi kalau memakan manakan seperti itu-itu saja? Ia pun memutuskan untuk mengambil wortelnya saa. Wortel: bukan sayuran berwarna hijau, pikir Ahreum.

“Anggap saja seperti dapur di rumahmu sendiri, Reum.”suara Suho mengagetkannya. Ahreum langsung berbalik lalu menggaruk rambutnya dan tersenyum canggung. “Aku senang sekali kau mau membuatkan adikku bekal, dia sering makan tidak teratur.”lanjut Suho seakan mendpat jawaban atas pertanyaan mengapa-ahreum-datang-ke-apatement-ini?. Pemuda itu tampak mengambil roti dan susu kotak di lemari es.

“Eoh?” Ahreum sedikit tidak percaya. Suho terlihat sekali sangat menyayangi Kai, namun pemuda yang sedang mereka bicarakan malah terkesan cuek kepada Suho—pikir Ahreum.

“Kenapa?”

“Ah, tidak. Eum, Oppa, kau mau bekal untuk makan siang juga?”tawar Ahreum. Ia jadi mengingat kejadian bekalnya untuk Suho yang jatuh kemarin.

“Boleh, memangnya apa yang mau kau buat?”tanya Suho. Ia pun meletakkan roti dan susu yang telah ia ambil begitu saja dan mulai menghampiri Ahreum. Gadis itu tengah mengenakan apron merah di dapur itu.

“Kimbab, tapi dengan isi yang aku temukan di situ.”jawab Ahreum sambil tersenyum. Tangannya menunjuk ke lemari es. Suho jadi ikut tersenyum.

“Aku ingin membantu tapi aku tidak bisa memasak.”ujar Suho jujur. “Hanya ramyun instan yang bisa aku masak.”lanjut pemuda itu sambil tertawa. Ahreum ikut tertawa.

“Ini mudah kok, Oppa hanya tinggal mengiris ini menjadi potongan-potongan kecil. Bisa kan?”tanya Ahreum sambil memberi contoh. Ia mengiris wortel menjadi potongan kecil layaknya korek api. Suho memperhatikan dengan seksama.

“Sepertinya mudah.”ujar Suho lalu mengambil pisau yang diletakkan Ahreum. Sementara Ahreum sibuk memberi bumbu pada daging—sebelum ia memasaknya, serta membuat telur dadar.

Gadis itu juga tengah menyiapkan nasi yang akan ia letakkan di atas rumput laut kering di sana. Suho sudah hampir selesai dengan pekerjaan mengirisnya.

“Kalau sudah, Oppa bisa memasukkannya di sana.”Ahreum menunjuk sebuah panci dengan air mendidih—untuk merebus wortel itu. Suho melakukannya dengan baik, pemuda itu tersenyum puas. Hampir sama seperti membuat pelengkap ramyun, pikirnya.

“Aku ambilkan kotak bekalnya.”ujar Suho lalu mengambil tiga kotak bekal yang ada di lemari dapurnya.

“Kenapa ada tiga?”tanya Ahreum heran.

“Untuk makan siangmu juga kan,”jawab Suho yang lebih cocok disebut pertanyaan. Ahreum tertawa. Sebenarnya ia sedikit senang karena Suho tampak memperhatikannya.

“Aku sudah membawa bekalku sendiri, Oppa.” Ujar Ahreum yang membuat Suho membentuk bibirnya menjai huruf ‘O’. Kemudian pemuda itu ikut tertawa. Mereka melanjutkan kembali dengan memasukkan potongan-potongan kimbab itu ke kotak bekal.

Kai baru kembali ke dapur lagi setelah semuanya selesai. Suho dan Ahreum terlihat sedang bergurau di meja makan. Suho menghabiskan roti sarapannya pagi itu. Tebersit rasa kesal di hati Kai melihat hal itu. Entah mengapa, apa karena ia tahu kalau Ahreum menyukai hyung-nya itu?

“Ehmm..”Kai berdeham seraya ikut duduk di meja makan. Mengambil roti lalu mengoleskan selai kacang di atasnya. Suho dan Ahreum diam melihatnya.

“Ah, terimakasih Ahreum-a, aku tidak sabar menunggu makan siang nanti,”ujar Suho sambil mengacak rambut Ahreum pelan. Kai memakan rotinya kasar, ia yang tidak tahu apa yang sudah dilakukan Suho dan Ahreum hanya bisa mengernyit heran. Ia benar-benar merasa diabaikan oleh Suho dan Ahreum saat itu.

“Nde Oppa. Lain kali kita harus melakukannya lagi,”ujar Ahreum dengan semburat merah di pipinya.

“Tentu saja.”Suho lalu melihat jam tangannya. “Ehm, Kai, Ahreum, kurasa aku akan berangkat duluan.”pamit Suho. “Sampai ketemu di sekolah,” lanjutnya kemudian mengambil tasnya dan keluar dari apartement itu. Ahreum tersenyum sendiri memandangi Suho yang sudah berlalu.

“Mana bekalku?”tanya Kai.

“Itu.” Ahreum menunjuk kotak bekal di meja pantry. Kai mengedarkan pandangannya lalu mengangguk.

“Masukkan ke dalam tasku, ayo berangkat.”

Pemuda itu langsung berdiri dan berjalan pelan menuju pintu masuk apartement. Ia masih belum mengenakan sepatunya. Ahreum melengos. Bisa-bisanya Kai memperlakukannya sama seperti pembantu—ah, bukan, kalau pembantu saja masih dibayar. Dengan kesal ia pun mengambil kotak bekal itu dan memasukkannya ke dalam tas milik Kai.

“Ini sudah.”Ahreum menyusul Kai ke dekat pintu masuk—tempat pemuda itu mengenakan sepatunya. Ahreum mengulurkan tas ransel Kai yang besar, untuk ukuran gadis seperti Ahreum.

“Untuk apa? Kau kan asistenku, jadi kau yang harus bawa.”ujar Kai tanpa rasa bersalah sedikitpun. Ia memamerkan senyum khasnya. Tampan. Sementara Ahreum memanyunkan bibirnya kesal. Dalam hati ia mencoba bersabar walaupun sudah jengah dengan sikap Kai yang seenaknya. Berbeda sekali dengan Suho. Padahal mereka jelas kakak beradik bukan?

.

Hello Precious

.

                SMA Hanlim sudah ramai oleh murid-murid yang datang. Jam besar yang berada di tengah gedung seakan menghitung menit-menit tiap gerakan jarumnya untuk segera berbunyi karena sudah hampir pukul tujuh. Pertanda jam pelajaran pertama hingga keempat akan segera dimulai. Kai turun dari mobilnya—tenang, seperti biasanya. Cool dan keren. Tak berapa lama Ahreum juga ikut turun dari mobil itu.

Semua mata tertuju pada Kai yang tengah berjalan bersama Ahreum menuju kelasnya. Kai sengaja menyuruh Ahreum untuk membawakan tasnya hingga ke kelasnya—kelas A—golongan orang-orang kaya, elit dan berpendidikan. Kecuali Krystal and the gang, mungkin.

Ahreum menundukkan kepalanya dalam. Ia malu, benar-benar malu. Ia merasa dipermalukan sekarang. Bahkan lebih memalukan tinimbang Krystal yang mengolok-oloknya sebagai anak seorang pembantu. Pasalnya, sekarang, semua murid tengah menatapnya dengan pandangan yang sulit diartikan atau bahkan memiliki banyak arti. Antara tatapan penasaran, merendahkan, kesal dan geram, mentertawakan hingga menggunjingkannya. Apalagi di tangannya masih ada tas besar milik Kai.

Kai sendiri hanya bersikap biasa, bahkan senyumnya ia tujukan pada tiap orang di koridor. Biasanya ia hanya akan tersenyum pada orang-orang yang ia kenal dengan baik. Pemuda itu baru berhenti tepat di depan pintu masuk ke kelasnya. Ahreum juga ikut berhenti, ia lantas mendongakkan kapalanya menatap Kai.

“Terimakasih asisten baruku, kau benar-benar bekerja dengan baik!”Kai sengaja mengeraskan suaranya lalu menepuk kepala Ahreum pelan. Tak lupa dengan senyum yang memamerkan deretan giginya. Gadis itu langsung menangkis tangan Kai.

“Ahaha, aku benar-benar membencimu, Kim Jongin.”ujar Ahreum sambil tersenyum paksa dan tawa garingnya.

Tanpa basa-basi lagi ia langsung berlari ke kelasnya. Meninggalkan Kai yang masih berdiri di depan kelas dan sejuta pandangan penasaran murid-murid di sana. Bibisk-bisik itu masih bisa didengar oleh Ahreum dan seperti biasa, ia hanya bisa menghiraukannya.

Krystal tampaksnya telah mengamati kejadian itu dari sudut matanya. Ia tidak melepaskan pandangannya sekalipun pada Kai hingga pemuda itu duduk di bangku samping jendela—yang menghadap ke langit—di kelas itu. Bangku di sebelah Kai masih kosong, menandakan pemiliknya belum datang. Namun ia heran melihat sebuah amplop cokelat berada di bangku sampingnya itu. Tangan Kai hampir terjulur untuk mengambilnya,

“Kim Jongin!” Tetapi suara Krystal menginterupsinya. Ia menghela napas berat lalu mengalihkan pandangannya. Menatap Krystal yang berdiri tepat di samping mejanya. Gadis tinggi semampai itu memamerkan senyumannya. Cantik.

“Ada apa?”tanya Kai.

“Ada apa?” Krystal mengulangi pertanyaan Kai dengan nada kesal. “Seharusnya aku yang bertanya ada apa padamu..”lanjutnya sedikit merajuk.

“Oh iya, aku ingat, kau pasti menanyakan apa yang ingin aku bicarakan padamu waktu makan malam kemarin kan?”tanya Kai lagi. Krystal terlihat berpikir lalu menggembungkan pipinya. Gadis itu menggeleng.

“Bukan. Maksudku, ada apa denganmu dan perempuan pembantu itu?”tanya Krystal tanpa rasa takut. Kai langsung menatap Krystal tajam.

“Bukan urusanmu.” Kai hendak pergi meninggalkan kelas itu namun Krystal menahannya.

“Kai-ya, aku kan tunanganmu..”rengek Krystal hampir mirip anak kecil yang merengek meminta mainan baru.

“Ya mungkin keluargamu dan keluargaku berpikir seperti itu, tapi aku tidak, Jung-ah..”ujar Kai lalu menarik tangannya kasar.

“Ya! Kai-yaaaa!”teriak Krystal namun tak digubris oleh Kai. Dia tidak berniat mengejarnya.  Pemuda itu terus saja berjalan meninggalkan kelas.

Krystal menyibakkan rambutnya yang indah dengan kasar. Semua mata di kelas unggulan itu menatapnya heran. Ia menghentakkan kakinya kesal. Luna dan Suzy langsung menghampirinya.

“Tenanglah Krys, kami berdua sudah mencari tahu tentang kejadian beberapa menit lalu,”ujar Luna bangga. Krystal menatapnya tidak percaya. Luna memberi kode mata pada Suzy untuk menjelaskan pada Krystal.

“Aku dengar Ahreum dijadikan pembantu sama si Kai calon tunanganmu itu. Beberapa fans Kai mengatakan begitu.”jelas Suzy. Krystal mengangguk mengerti, namun sebuah seringai menakutkan terpatri di bibir gadis bernama asli Jung Soojung itu. Luna dan Suzy lantas berpandangan heran. Keduanya sama-sama mengendikkan bahu.

Jadi begitu.. Hah, dasar gadis pembantu, bermimpi saja dia bisa merebut Kai dariku,”batin Krystal, pandangannya menerawang.

“Kalian memang sahabatku yang terbaik!”ujar Krystal. Moodnya sudah berubah seperti kebanyakan mood perempuan di pagi hari. Senang dan penuh cinta. Dua orang yang dimaksud hanya saling melempar tawa renyah mereka.

“Eumm, nona nona, sebenarnya aku punya acara siang ini dan tentu saja acara itu tidak akan seru tanpa kalian berdua,”ujar Suzy. Krystal dan Luna langsung membulatkan matanya penasaran.

“Apa?”

“Acara? Apa?”

Krystal dan Luna bertanya bersamaan sampai Suzy menyipitkan matanya—seolah menyuruh mereka berdua menebak.

“Menonton DVD?”tebak Krystal.

“Karaoke? Belanja? Makan?”tebak Luna.

“Bukan.”ujar Suzy. Ia pun mengajak dua temannya itu untuk duduk di bangku mereka. “Kita mencoba wahana baru di Lotte*, ada game centre baru dan salon milik Eonni-ku disana sedang mengadakan promosi. Bagaimana nona nona?”jelas Suzy.

“Kita pergi!!”teriak Luna dan Krystal.

*wahana permainan dan mall

.

Hello Precious

.

                Mobil hitam klasik milik keluarga Jung terparkir sendirian. Warnanya yang hitam mengkilat membuatnya tidak bisa berkamuflase dengan tempat yang diddominasi warna hijau dari rumput. Indah dan menyejukkan. Hanya saja tempat itu jarang didatangi apalagi pertengahan musim panas seperti ini. Hanya ada satu dua orang yang terlihat. Terbukti hanya ada satu mobil hitam itu saja yang berada di sana, di pemakaman umum Ilsan.

Shindong menunggu Yunho yang sedang duduk bersimpuh di depan dua makam. Shindong sendiri sudah memberikan penghormatan terlebih dahulu. Ia tahu Yunho bisa menghabiskan waktu yang cukup lama di sana, maka dari itu ia lebih memilih memberikan penghormatan kecil dahulu. Angin musim panas berhembus pelan. Membuat beberapa daun kecil terbang menjauhi induk pohonnya. Yunho masih setia memandangi sebuah foto di sana. Di makam dua orang yang benar-benar ia cintai. Mendiang istrinya dan anak sulungnya.

“Maafkan aku.”ujar Yunho. Ditangannya masih membawa sebuket bunga kesukaan anak perempuannya dulu, bunga lily—bunga musim panas.

Bunga cantik yang melambangkan kesucian, ketulusan dan kecantikan. Sangat indah, sayangnya bunga itu juga seringkali dilambangkan dengan duka karena sering dipakai untuk pemakaman. Yunho tersenyum miris melihat foto yang terpampang di sana—meskipun sudah usang, anaknya tetap secantik dulu.

“Ayah merindukanmu, Sora..”ujar Yunho tulus. Lalu pandangannya beralih pada makam di sebelah anak sulungnya itu. “Aku juga sangat merindukanmu, Son Gain..”lanjutnya. Hembusan angin menerpa wajahnya yang menua, seakan menyampaikan semua perasaannya pada dua orang yang telah tiada itu. Membawa pesan rindu Jung Yunho menuju surga. Senyuman di foto kedua wanita itu semakin membuat dada Yunho terasa sesak.

Ia memegangi dadaya, meremas bajunya tepat di sana. Jung Sora—anak perempuan yang paling ia sayangi setelah ia kehilangannya. Lelaki itu, Yunho, kembali menyalahkan dirinya sendiri.

“Maafkan aku..”ucapnya lagi. Rasa sakit di dadanya semakin besar. Membuatnya sulit bernapas hingga harus membuka mulutnya. Menghirup oksigen sebanyak ia mampu. Sesekali ia terbatuk.

Shindong yang menyadari hal itu langsung berlari menghampiri Yunho.

“Tuan Jung! Tuan Jung!”panggil Shindong sambil membantu Yunho berdiri.

Lelaki tambun itu baru sadar kalau Yunho menahan sakit sambil memejamkan matanya. Jantungnya kambuh. Dengan segera ia membawa Yunho ke mobil. Tidak lupa ia menelpon ke kediaman Yunho. Sedetik kemudian mobil hitam itu melaju ke rumah sakit.

Shindong tahu persis, seharusnya ia tidak mengikuti kemauan Yunho untuk datang ke tempat pemakaman Ilsan. Namun semua sudah terlambat. Penyakit Yunho sudah terlanjur kambuh. Shindong hanya dapat mempercepat laju mobil yang ia kemudikan agar cepat sampai di rumah sakit tujuannya.

Begitu mobil hitam keluarga Jung sudah tak terlihat dari kompleks pemakaman itu, datang seorang lelaki tampan dengan kaca mata hitam menutupi matanya. Ia memakai stelan jas berwarna hitam pula serta sebuket bunga lily di tangannya. Hampir sama dengan yang Yunho bawa tadi. Ia bergegas menuju makam yang sama. Makam dengan nama Jung Sora di sana.

“Sora, aku datang.”ujarnya lalu mulai memberikan sebuah penghormatan. Senyuman Sora di foto itu seolah menggambarkan jawaban atas kedatangan lelaki tersebut. Dia tersenyum—masih dengan senyum yang sama.

.

Hello Precious

.

Siang itu, Krystal, Luna dan Suzy tengah bercanda sambil menunggu perawatan kuku mereka selesai. Di tangan Suzy memegang majalah fashion, Luna dengan Iphone dan earphone-nya, sementara Krystal tengah asik bermain ponsel. Entah untuk berfoto atau sekedar Googling tentang trend mode.

Mereka bertiga masih berada di kawasan Lotte. Menghabiskan waktu luang dan uang di sana. Begitu selesai, ketiga anak manusia itu langsung menghadap cermin. Rambut yang telah selesai diwarna, kulit bersih setelah spa dan kuku-kuku mereka yang berkilat. Benar-benar cantik.

“Setelah ini..”Luna tidak melanjutkan kalimatnya.

“Shopping!”

“Game centre!”

Suzy dan Krystal berteriak melanjutkan kalimat Luna bersamaan. Ketiga gadis itu lantas mengambil tas mereka dan buru-buru keluar dari salon milik kakak perempuan Suzy.

“Min eonni, aku pergi dulu!”pamit Suzy pada kakaknya. Min hanya bisa menggelengkan kapalanya melihat tingkah laku Suzy seperti itu.

“Kali ini kau masih selamat, nak.”ujarnya pelan.

Krystal mulai memasuk-keluari beberapa toko yang berbau Girly di sana. Memilih beberapa baju, atau sekedar menambah koleksi aksesorisnya.

“Krystal, lihatlah, ini bagus untuk kita bertiga!”Luna menunjukkan sebuah kacamata dengan frame bermotif bendera USA. Suzy malah sibuk memilih tas-tas kecil di sana.

“Ya memang.”balas Krystal. “Ahh, tas itu lebih keren!”Krystal langsung menarik Luna untuk menghampiri Suzy.

“Kita beli yang ini saja kalau begitu.”ujar Luna.

“Pilih saja, aku yang traktir.”ujar Krystal yang disambut senyum sumringah dari Luna dan Suzy. Ketiga orang itu seakan meraskan surga saat berbelanja seperti ini.

Setelah puas, Suzy merengek meminta Krystal dan Luna untuk mencoba wahana baru. Bomber coaster. Semacam roller coaster yang lebih menegangkan dari roler coaster biasa, karena Krystal meminta game centre menjadi hal terakhir yang harus dikunjungi. Jadi ketiga orang itu memutuskan menaiki Bomber coaster itu.

“Ini pasti menyenangkan!”ujar Suzy lalu ketiganya mulai mengantre.

Krystal mengedarkan pandangannya. Tenggorokannya mulai haus berkeliling sana-sini untukberbelanja. Namun, tak disangka ia malah mendapati siluet tubuh Ahreum yang berada di antrean panjang salah satu wahana di sana—bianglala. Ia memfokuskan pandangannya lagi. Ahreum terlihat membawa dua bubble tea di tangannya dan memberikannya satu pada seseorang di sana. Tangannya juga menenteng beberapa belanjaan.

“Kai?”kaget Krystal bercampur rasa ingin tahu. Pemuda itu terlihat menerima bubble tea dari Ahreum dan meminumnya. Kai juga menepuk kepala Ahreum lalu mengacak rambut depannya.

-ToBeContinued:)-

23 pemikiran pada “Hello Precious! (Chapter 8)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s