Looking Forward (Chapter 6)

Title                 : Looking Forward (Chapter 6)

Author             : claraaprillia / @claraKHB

Rating             : PG – 15

Length             : Chaptered

Genre              : AU, Romance, School Life

Main Cast        : Oh Sehun

Kang Ha Na (OC)

Kim Jong In

Other Cast       : Kang Hye Bin (OC)

Byun Baek Hyun

DC                    : FF ini milik author dan jangan sampai meng-copast FF ini tanpa izin. RCL, gomawo ^^ maaf untuk typo(s). Happy reading.

 

Preview:

“Tuan Oh Sehun mengalami patah tulang di kaki kanannya. Dan akan membutuhkan waktu yang cukup lama untuk pulih kembali, bahkan kemungkinan terburuk ia tidak akan busa menggunakannya lagi.” Penjelasan dokter benar-benar membuatku tercengang.

“M..mwo? Benarkah itu, uisa?”

“Ne, kuharap kau busa mengerti itu.” Ucapnya kembali seraya menepuk bahuku pelan dan setelah itu berlalu.

***Looking Forward***

Apakah ini karmaku?

Benarkah aku yang menjadi dalangnya?

Jika ya, maafkan aku

— Kang Ha Na —

(Author POV)

“Sehun..” dengus gadis yang selama lebih dari tiga jam ini menunggunya. Sepasang kantung mata menghiasi wajahnya, ia tak tidur.

“Mianhae~ jeongmal mianhae.” Ia menundukkan kepalanya begitu dalam.

— Flashback —

Sebuah bus masih melaju dengan kecepatan standard. Sesaat setelah Sehun menanyakan tentang cinta pertama pada Ha Na, ia pun mengalihkan pembicaraan agar suasana tidak menjadi canggung.

“Ah, Ha Na~”

“Hmm?”  Ha Na menanggapinya dengan wajah datarnya seperti biasa.

“Kau punya cita-cita?”

“Wae? Kenapa bertanya cita-cita?”

“Ya! Jawab saja!”

“Anni.” Jawabnya singkat.

“Kau ini! Aish..”

“Memangnya kenapa? Kau sendiri? Punya cita-cita?”

“Tentu aku punya.” Sedetik kemudian Ha Na menaikkan sebelah alisnya.

“Penari profesional. Itu cita-citaku. Entahlah, aku tak bisa membayangkan jika harus berhenti menari. Sepertinya aku akan menjadi sedikit gila, hh.” Jawab Sehun dan kemudian tertawa kecil.

“Kau tahu? Kau ini memang sudah gila, Oh Sehun. Tidak perlu menunggu berhenti menari untuk jadi sedikit gila, karena saat ini pun kau sedang mengalaminya. Mi-cheo-seo.”

“Ya!”

— Flashback End —

“Oh Sehun! Jangan jadi gila jika kau bangun nanti, mengerti?” bisik Ha Na dengan senyuman getir di bibirnya.

(Ha Na POV)

Hangatnya sinar matahari menyeruak masuk ke dalam ruang inap yang tengah di tempati Sehun ini. Ya, aku terjaga sepanjang malam. Masa bodoh dengan kantung mata yang terlihat buruk saat ini.

“Kau tidak mau bangun, Oh Sehun?” cibirku padanya yang masih senantiasa terbaring di tempatnya.

“Kau tidak pulang, Ha Na-ya?” tanya Hye Bin yang baru masuk ke ruangan.

“Anni. Kalian pulanglah dulu dan bersihkan diri. Kalian harus masuk sekolah hari ini.”

“Bagaimana denganmu?” Baek Hyun mulai terlihat cemas padaku.

“Jangan khawatir, aku di sini menjaganya. Tolong sampaikan pada sonsaengnim, aku absen hari ini.”

“Kau yakin?”

“Ne. sudah, nanti kalian terlambat.” Ucapku seraya mendorong mereka untuk keluar dan pulang.

“Sampai bertemu nanti, Ha Na-ya~ kami akan kembali lagi sore ini. Jaga dirimu.” Hye Bin melambaikan tangannya kearahku dan berlalu, begitu pun Baek Hyun.

“Kau lihat? Mereka saja mengkhawatirkanku. Apa kau tidak?” kembali aku mencibirnya.

Sepanjang hari kuhabiskan dengan membaca koran yang ada di ruangan ini sesekali menari untuk menghilangkan rasa bosan yang terkadang datang.

Kuperhatikan wajahnya dari jarak yang sangat dekat ini. Kusentuh keningnya, turun ke hidungnya, pipi, dan akhirnya ke bibirnya.

“Kau tahu? Milikmu ini telah mencuri ciuman pertamaku. Pabbo!” dengusku kesal sambil menekankan jari ku pada bibir kecilnya berulang kali.

Tanpa sadar kurasakan bibirnya bergerak. Kutarik jariku dari bibirnya dan mulai memperhatikannya lagi.

“Oh sehun?” gumamku pelan.

Terlihat ia mulai membuka pelan matanya dan membiasakan cahaya yang masuk ke dalam matanya mengingat matahari bersinar terang sekali siang ini.

“Kau sudah sadar? Kau tak apa?” tanyaku dengan hati-hati.

“Neo..” lirihnya lemah. Aku tahu, ini berat baginya. Ia pasti merasakan sakit yang begitu banyak.

“Neo.. nuguya?”

“Eo? Se.. Sehun? Aku Ha Na, Kang Ha Na.” Jawabku dengan sedikit heran. Ada apa dengannya?

“Siapa kau? Apa kita pernah bertemu sebelumnya?”

“Sehun..” aku tak percaya, ia tak mengenalku? Oh Sehun tak mengenaliku?

“Mengapa aku di sini?”

“Sehun.. kau tak mengenalku? Aku Ha Na..”

“Anni.”

Apakah aku bermimpi? Dia benar-benar tak mengenaliku?

“Aku tak menemukan kejanggalan pada otaknya.”

“Benarkah itu, uisa?”

“Biar kami lakukan pemeriksaan lebih lanjut.”

“Terima kasih, uisa.”

Tidak ada kejanggalan pada otaknya? Lalu apa? Apa Sehun berpura-pura?

(Author POV)

Sang fajar mulai menyembunyikan dirinya di balik awan yang mulai mengepul. Cakrawala berubah menjadi jingga keemasan menandai datangnya senja.

“Jadi apa yang sebenarnya terjadi, Oh Sehun?” lirih Ha Na seraya memperhatikan Sehun yang sedang menatap langit petang di balkon.

“Ha Na-ya~”

“Eo? Hye Bin-ah~ kau sudah datang?”

“Ne, dimana Sehun?”

“Disana.” Ucap Ha  Na seraya menunjuk ke arah balkon.

“Ada apa dengannya?” tanya Hye Bin dan Ha Na hanya menaikkan kedua bahunya.

Hye Bin dan Baek Hyun yang penasaran pun segera menuju balkon untuk menemui Sehun yang terlihat dalam posisi yang sama. Ha Na memerhatikan ketiga sahabatnya itu dengan seksama dan penuh harap. Apa? Sahabat?

“Anni. Kau bukan sahabatku, Sehun-ah~ kau.. yang aku cintai kini.” Lirihnya pelan.

Air mata mulai nampak di ujung mata Ha Na. Benar, bahkan Sehun pun tak mengenali Baek Hyun maupun Hye Bin. Apa yang harus kulakukan? Pikir Ha Na.

“Dia.. hilang ingatan?” tanya Hye Bin yang baru saja kembali dari balkon dengan wajah penuh kecemasan.

“Kurasa~”

***Looking Forward***

(Ha Na POV)

Oh Sehun.

Ya, kau Oh Sehun. Apa yang sedang kau lakukan? Mengapa kau lakukan ini padaku? Kau tahu, aku hampir gila sekarang.

“Kau harus makan sekarang. Kau mau tubuhmu itu semakin sakit, huh?” apa yang sebenarnya ada di otaknya, sih?

“Apa hubungannya denganmu?”

“Ya! Oh Sehun! Sudah dua hari kau tidak makan dan hanya makan buah. Kumohon, sekarang makanlah.”

“Aku tidak mau, nona. Sebenarnya kau ini siapa? Aku tidak mengenalmu sama sekali.”

“Ya! Aissh. Terserah kau saja.” Aku pun meletakkan nampan berisi makanan dan susu ke atas meja dengan sedikit kasar dan keluar ruangan ini. Jenuh, memang.

Entahlah. Aku benar-benar tidak tahu apa yang harus kulakukan sekarang. Aku akan mundur, mungkinkah?

Entahlah, aku tak bisa membayangkan jika harus berhenti menari. Sepertinya aku akan menjadi sedikit gila, hh.

Andwae!

Aku tidak boleh mundur sekarang, dia membutuhkanku kan? Meskipun tidak aku akan tetap di sisinya. Aku tidak peduli.

“Bagaimana keadaannya?”

“Eo? Kau.. kau sedang apa di sini?”

“Aku sudah dengar dari temanmu. Apa aku bisa menemuinya?”

“Tidak. Kau tidak bisa menemuinya, aku tidak mengizinkannya.” Acuhku.

“Hh, kau kira aku akan melukainya? Begitu menurutmu Kang Ha Na?”

“Bukan. Tapi karena aku tidak mau kau ikut campur dalam urusan ini.”

“Memangnya kau siapa?” Sehun? Sejak kapan?

“Memangnya kau siapa melarang orang lain menemuiku?” kembali ia bertanya seraya kedua tangannya menjalankan kursi roda miliknya sendiri.

“Dia.. bagaimana kau bisa di sini? Kau harus segera masuk dan beristirahat.”

“Apa kau temanku? Siapa kau?” Gotcha! Sekarang Jong In sunbae akan mengetahuinya.

“Sehun? Kau lupa siapa aku? Atau kau tak mengenalku?” wajahnya kini terlihat begitu heran.

“Anni. Aku sama sekali tak mengenalmu. Jika memang kau temanku, mari kita bicara sebentar.  Aku sedang bosan berada dalam kamar terus.  Kau mau?”

“Ah, n.. ne.” Ya, bisa kau lihat sekarang? Jong In sunbae kini tengah mendorong kursi roda milik Sehun menjauh dariku.

“Haah!” pekikku frustasi.

(Jong In POV)

“Dia.. menarik bukan?” ia bertanya dengan suara yang terdengar tenang.

“Maksudmu?”

“Kang Ha Na. Gadis itu menarik, tapi aku benar-benar tak mengenalnya. Bisa kau bantu aku untuk lebih dekat dengannya?”

Aku hanya terdiam tanpa suara. Hh, apa yang harus kukatakan? Apa harus kukatakan bahwa mereka berdua memang saling memiliki perasaan atau apa? Mungkinkah ini kesempatanku?

“Anniyo.”

“Ada apa?” ia terlihat bingung dengan pernyataan singkatku.

“Dia telah memiliki seseorang yang dia sukai, anni.. seseorang yang dia cintai.”

“Benarkah? Siapa?”

“Aku.”

“Kau? Jadi kau kekasihnya? Maafkan aku. Aku benar-benar tidak tahu, maafkan aku.”

“Gwenchana~”

Bukankah ini bagus? Oh Sehun, terima kasih karena telah hilang ingatan. Kau benar-benar datang di saat yang paling tepat.

“Sayang sekali. Kuharap kalian bisa bersama selalu.” Ucapnya dengan senyum yang tulus. Kurasa ia benar-benar hilang ingatan.

Kami pun menghabiskan banyak waktu dalam diam. Entahlah, yang terpenting sekarang aku telah berhasil menyingkirkan satu hambatan besarku untuk mendapatkan Ha Na.

***Looking Forward***

(Author POV)

Sehun masuk ke dalam kamarnya dan menutup kembali pintu yang terbuka. Ia baru menyadari seseorang yang kini tengah terlelap di sofa di dalam kamar itu, Ha Na. Seulas senyum terukir di bibir Sehun.

“Ha Na-ssi~” ucap Sehun dengan menepuk pelan bahu Ha Na. Namun sang pemilik nama tak kunjung membuka matanya. Ia terlihat sangat lelah bahkan saat tertidur. Bagaimana tidak? Hampir tiga hari ini ia tidak tidur malam demi menjaga Sehun.

Sehun tertegun melihat gadis di depannya kini hingga tanpa sadar tangannya bergerak menyentuh pipi halus milik Ha Na.

“Ha Na-ssi~ maafkan aku.”

Satu minggu sudah Sehun dirawat di Rumah Sakit, tentu rasa bosan pun semakin menghinggapi perasaannya. Ia memang telah mengetahui perihal kaki kanannya yang mengalami patah tulang. Ia tak mempermasalahkan hal itu, bukan? Ia tak lagi mengingat bahwa baginya kaki adalah anggota tubuh terpentingnya karena ia menggunakannya untuk menari. Sesuatu yang tak mungkin ia lepaskan.

“Siapa yang peduli dengan kaki ini?” namun tanpa sadar, sebulir air mata menetes melewati pipinya dan mendarat halus di atas lantai kamar Rumah Sakit ini.

Hatinya berkecamuk tidak tenang, Sehun terlihat sedikit panik. Ha Na sedang pergi membeli makan ringan untuk mereka berdua dan tinggallah Sehun sendiri di dalam kamar.

“Siapa.. siapa yang mau tahu dengan kaki ini?  Kaki sialan! Bagaimana kau bisa patah?” teriak Sehun dengan tangis yang semakin menjadi.

Ia pun bangkit dari tempat tidurnya dan berusaha menapak di lantai yang dingin tanpa alas kaki. Wajahnya pucat menahan sakit di kaki kanannya.

“Ngh.. Kau bisa melakukannya Oh Sehun. Ya, jangan berhenti!” semangatnya pada dirinya sendiri. Tangannya mencengkeram kuat pada sprei tempat tidurnya.

Baru ia ingin melangkah, kakinya tak mampu menopang berat badannya sehingga ia tersungkur ke lantai. Matanya terus mengeluarkan cairan kesedihan yang teramat sangat, tangisan. Sehun menangis tertahan dan menggigit kuat bibir bawahnya hingga meninggalkan sedikit luka di sana.

“Apa yang harus kulakukan? Aku bahkan tak bisa berjalan lagi.” Isak Sehun dengan suara serak.

Apakah harus berakhir seperti ini? Mengapa jadi begini?

(Ha Na POV)

Oh Sehun.

Maafkan aku, kumohon maafkan aku. Kalau saja saat itu aku mau mendengarkanmu, aku mau menunggu alasanmu, pasti –

“Siapa.. siapa yang mau tahu dengan kaki ini?  Kaki sialan! Bagaimana kau bisa patah?” kulihat Sehun yang kini tengah menatap penuh kebencian pada kaki kanannya yang malang.

“Ngh.. Kau bisa melakukannya Oh Sehun. Ya, jangan berhenti!”

Dia, Oh Sehun kini berusaha bangkit dan berjalan. Namun aku tahu akan begini, ia gagal. Sehun gagal mendapatkan langkah pertamanya semenjak kaki kanannya patah. Maafkan aku, Sehun.

“Aku bodoh, Kang Ha Na bodoh.” Runtukku dengan air mata yang tidak pernah bosan membanjiri pipiku.

Kubalikkan tubuhku dan duduk di kursi depan kamar Sehun. Mimpikah ini? Melihatnya yang selalu ceria, dingin, konyol, berubah menjadi seperti ini. Semua karena apa, anni, tapi karena siapa? Kang Ha Na.

“Ha Na?”

“Hh..  aku bodoh, bukan? Kang Ha Na yang kau kenal inilah yang menyebabkan dia menjadi seperti sekarang ini.”

“Hentikan!”

“Dia yang membuat seorang Oh Sehun kehilangan kaki kanannya. Dia – “

Belum sempat kuselesaikan, tubuh hangatnya telah mendekap erat diriku. Kang Hye Bin, sahabatku. Aku tahu hanya dia yang mengerti diriku lebih dari siapa pun.

“Janganbicara seperti itu lagi, Ha Na. Ini semua kecelakaan dan tak ada hubungannya denganmu, jangan pernah salahkan dirimu lagi.”

Rahangku mengeras mendengar pernyataannya barusan. Apa Hye Bin baru saja membelaku? Aku bahkan terlihat tak bersalah di matanya, tapi hati ini berkata lain. Bagiku akulah penyebabnya.

“Ha Na-ya~ aku pernah punya sebuah mimpi.” Ucapnya dengan masih menyenderkan kepalaku di bahunya.

“Aku bermimpi membangun sebuah rumah bersama eonnieku untuk kedua orang tuaku. Kau tahu? Dia gadis yang pandai menggambar arsitektur rumah, kuakui aku sedikit iri padanya. Namun aku menepis segala pikiran dengki itu, aku sadar memang itulah talenta yang diberikan Tuhan padanya.” Ia menganmbil napas sejenak sebelum melanjutkan.

“Sampai kejadian dua tahun lalu terjadi. Aku sedang belajar mengemudi dan tentu saja dialah yang membimbingku. Saat itu aku lepas kendali dan membanting stir ke pembatas jalan dan menabrak salah satu bangunan disana. Aku beruntung ada air bag yang menyembul saat terjadi benturan. Tapi bagaimana dengan eonnieku? Dia berusaha meraih stir yang kukemudi untuk menyelamatkan kami, namun terlambat. Ia mengalami benturan yang lebih keras dari pada diriku.” Kurasakan setitik cairan menetes di atas rambutku.

“Uljima~” bisikku dengan suara serak.

“Ia selamat. Tapi.. tapi tidak untuk tangan kanannya, tangan emasnya. Ia mengalami patah tulang dan tidak bisa melanjutkan mimpinya lagi. Karena itu.. aku benci melihat darah, aku benci mengalami kecelakaan, dan aku tidak akan pernah tahan melihat orang yang kukasihi mengorbankan dirinya untukku. Bahkan saat Sehun mencoba menyelamatkanku, aku teringat akan eonnieku. Aku akan menjadi gila jika saat itu Sehun tidak dapat diselamatkan.”

“Lalu apa yang harus kulakukan, Hye Bin-ah?”

“Kau tahu? Eonnieku tak pernah menyalahkanku atas kejadian itu. Kurasa, Sehun pun tak akan menyalahkanmu. Karena aku yakin.. dia mencintaimu.”

“Hye – Hye Bin?” kutarik tubuhku darinya.

“Kalian berdua saling mencintai, bukan? Lalu untuk apa berpura-pura?”

“Kau.. bagaimana kau tahu?”

“Sehun sering bercerita tentangmu terlebih.. tentang pertemuan kalian di masa lalu.”

“Kau juga tahu itu?” ia pun menganggukkan kepalanya seraya tersenyum.

“Bagaimana kalian bisa – “

“Kau di sini rupanya, Ha Na-ssi. Aku menunggumu.”

“Se.. Sehun?”

“Oh? Hye Bin-ssi, kau di sini juga? Senang melihatmu.”

“Ne,”

Bagaimana mungkin sekarang aku bisa mengatakan bahwa aku mencintaimu, Oh Sehun? Kau bahkan tak lagi mengingatku.

“Aku merindukan sekolah.” Sehun? Dia ingat sekolah? Bagaimana bisa?

— To Be Continue —

Iklan

30 pemikiran pada “Looking Forward (Chapter 6)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s