The Real Destiny (Chapter 6)

Title                 : The Real Destiny (Chapter 6)

Author             : @claraKHB

Rating             : T

Length             : Chaptered

Genre              : AU, Romance, School Life

Main Cast        : Park Ji Eun

Xi Luhan

Other Cast       : Kim Jong In

And Other

DC                    : FF ini milik author dan jangan sampai meng-copast FF ini tanpa izin. RCL, gomawo ^^ maaf untuk typo(s). Happy reading.

 

Preview:

“Entah mana yang harus kupilih?” kudengar suaranya yang serak karena menangis. Nampak dirinya yang sedang menggigit bibir bawahnya menahan tangis. Satu hal yang membuatku tak percaya, ia mengatakan hal yang sama seperti dalam mimpiku tadi. Namun lidahku terasa kelu sampai bersuara pun terasa sangat mencekat tenggorokanku.

“Persahabatankah? Perasaankukah?”

Kumohon hentikan! Hatiku terus berteriak namun lidahku tetap tak berkutik. Aku masih saja diam.

“Atau… lebih baik aku berlari dengan menyisakan semua pertanyaan ini?” lanjutnya.

“Hentikan. Kumohon hentikan itu, Park Ji Eun.” Kueratkan pelukanku padanya.

———————————————–

Aku tidak pernah menyangka akan seperih ini rasanya. Entah mana yang harus kupilih? Persahabatankah? Perasaankukah? Atau… lebih baik aku berlari dengan menyisakan semua pertanyaan ini?

———————————————————————————–

~~~ The Real Destiny ~~~

(Author POV)

“Igeo mwoya?” gumam Ha Na ditengah aktivitasnya yang sedang membaca timeline pada sebuah jejaring sosial.

“Ada apa? Apa yang kau lihat?” Hye Bin yang baru datang pun kemudian duduk disebelah Ha Na dengan melihat layar posel yang menjadi konsentrasi Ha Na saat ini.

“Lihat ini. Menurutmu apa yang sedang ia pikirkan?” Ha Na balik bertanya pada Hye Bin dan nampak lawan bicaranya yang memasang wajah berpikir.

“Hmm.. aku tidak yakin tapi kurasa dia sedang menyukai seseorang. Molla~” jawab Hye Bin seraya membetulkan posisi duduknya.

“Aish.. Hye Bin-ah~ lihatlah dulu. Aku rasa ada yang salah disini. Semenjak kita melakukan permainan Truth in Sleep itu.. apa kau merasa ada yang berbeda?”

“Tidak. Karena sebelum ada permainan itu bukankah seluruh ‘kisah’ku kalian ketahui? Yang terburuk sekalipun?”

“Ck. Bukan itu maksudku.” Ha Na berdecak kesal.

“Lalu?”

“Ji Eun dan In Joo. Mereka nampak menyembunyikan sesuatu. Kau tidak merasakn hal itu?”

“Kemari!” ucap Hye Bin sembari jari-jarinya bergerak memerintahkan Ha Na untuk mendekat kearahnya

“Aku bahkan telah merasakan keganjilan ini sebelum kau mengatakannya. Itu sangat jelas. Sesuatu yang tidak biasa tidak akan bertahan jika terus menerus disembunyikan, bukan? Menurutku lebih baik saat ini kita diam dan  menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya.” Jelasnya dan kemudian menghela nafas panjang.

“Emhem, kau benar.” Mereka pun bersikap seperti biasa.

*****

Di lain tempat seorang Luhan justru duduk tak bergeming di dalam kelasnya. Ia masih memikirkan hal yang terjadi seminggu lalu.

“Entah mana yang harus kupilih?”

“Persahabatankah? Perasaankukah?”

“Atau… lebih baik aku berlari dengan menyisakan semua pertanyaan ini?”

“Hentikan. Kumohon hentikan itu, Park Ji Eun.”

Ia menghela nafas panjang sebelum akhirnya bergumam pelan.

“Entahlah. Kapan aku mampu mengatakan padanya yang aku rasakan. Bahkan aku pun tak tahu dari mana asalnya perasaan ini? Hh.”

Ia pun memilih untuk pergi ke taman belakang sekolah. Tempat paling nyaman dan aman tentunya untuk menumpahkan seluruh perasaannya.

Dengan tangan yang dimasukkan kedalam saku celana seragam serta penampilan yang casual, Luhan nampak begitu tampan. Ia memang tampan, namun ia tidak menggunakan kelebihannya itu untuk menarik banyak perhatian. Sesungguhnya, ia orang yang rendah hati.

“Mengapa ada yang seperti ini?” gumamnya seraya kedua kakinya menendang-nendang kerikil kecil dihadapannya.

“Kau ingat itu?” mendengar suara yang muncul dari bangku taman membuat Luhan sesegera mungkin mencari tempat untuk bersembunyi.

“Ya.. dan kau pikir orang itu adalah Xi Luhan?”

“Aku?” Luhan merasa sedikit heran. Apa yang mereka bicarakan tentangnya?

“Emhem. Dia.. selalu ada disaat-saat yang mungkin bisa dikatakan.. tepat. Saat aku butuh seseorang untuk membagi kisahku. Ah molla~”

“Ehm.. Mianhae~”

“Untuk apa?”

“Kyung Soo~ aku menjadi lebih dekat dengannya sedang aku tahu kau.. kau menyukainya. Mianhae~”

“Gwenchana. Lagipula aku tak akan berharap lagi padanya. Hh, bodoh. Seharusnya aku tahu posisiku dan posisinya. Sangat tidak sebanding.”

“Ji Eun-ah~”

“Shin In Joo~ hal seperti ini bukan yang pertama, ‘kan? Tentu aku bisa menghadapinya. Jangan khawatir.”

“Jeongmal mianhae~” lirih In Joo setelahnya.

“Hh.. Selalu seperti itu. Mengatakan kau baik-baik saja sedang hatimu meronta untuk melepaskan diri dari keegoisan yang kau rancang sendiri. Kau tahu? Kau sangat kacau.” Ucap Luhan dalam hatinya sembari memandang lekat kearah Ji Eun dan tersenyum.

(Ji Eun POV)

“Matematika dan Penerapannya..  Eum..” gumamku seraya jemariku sibuk menunjuk deretan buku non-fiksi. Ya, entah mengapa aku lebih betah menghabiskan waktuku di perpustakaan ini ketimbang mengikuti ekstrakurikuler.

In Joo dan Ha Na memang sedang mengikuti penyuluhan ekstrakurikuler Pencinta Alam. Sedang aku dan Hye Bin memilih ke tempat ini dan menghabiskan waktu untuk membaca.

“Ji Eun-ah~ aku mau mengambil bukuku yang tertinggal di kelas. Kau tunggu sebentar, ne?”

“Emhem. Jangan terlalu lama.” Jawabku dengan menganggukkan kepala.

“Tentu.”

Dan.. tinggallah diriku di perpustakaan ini seorang diri. Tidak lama setelah Hye Bin keluar dari ruangan ini, seseorang pun masuk. Aku menyadari itu namun aku mengabaikannya. Kubaca buku yang ada di hadapanku saat ini dengan seksama hingga suatu suara mengejutkanku.

“Kau terlalu serius, Park Ji Eun.”

“Eoh? Kau..”

“Kau sering datang kemari? Atau menghindar dari kegiatan ekstrakurikuler?” ia bertanya seraya menyunggingkan senyuman di bibirnya.

“Keduanya tidak salah. Dan kau? Sering datang kemari atau ada alasan lain?” kutelisik matanya tajam. Ia nampak terkejut akan pertanyaanku.

“Kaupikir apa yang aku lakukan disini? Jelas aku akan membaca buku, bukan?” ia justru balik bertanya padaku.

“Oh..” jawabku singkat.

“Memangnya ada apa?”

“Anni. Hanya saja semenjak hari itu kita jadi sering bertemu. Bukan begitu, Xi Luhan?”

Benar saja. Pertanyaanku barusan mampu membuat lidahnya terkunci dan bibirnya menutup rapat-rapat seakan tak ada yang ingin katakan. Dengan kaca setebal setengah sentimeter yang menjadi pembatas antara kami berdua, dapat kulihat air mukanya berubah menjadi sedikit gugup.

“Hh, kau benar. Mungkin karena ketidaksengajaan.” Ucapnya meyakinkanku.

“Kau yakin hanya itu?”

“Dan kemudian? Kaupikir ada hal lain?”

“Anni. Kurasa kau benar..” kugantungkan kalimatku sebelum akhirnya melanjutkan kembali.

“Semua ini hanya ketidaksengajaan.” Lanjutku dengan menekankan nada bicara pada akhir kalimatku.

“Ji Eun-ah~ maaf aku terlalu lama. Hehe, eoh? Kau siapa?” Hye Bin datang dan langsung duduk di sebelahku. Namun matanya dengan cepat menangkap gambaran seseorang yang sedang duduk dihadapanku dan mengajakku berbincang saat ini.

“Annyeonghaseyo~ Xi Luhan imnida.” Ucapnya yang kini tengah berdiri dan memberi salam kepada sahabatku ini.

“Oh, ne. Annyeonghaseyo~ Kang Hye Bin imnida.” Sahut Hye Bin membalas salam dari Luhan.

“Sepertinya masih ada beberapa hal yang harus kulakukan. Untuk itu, aku akan pergi terlebih dahulu.” Ia membungkukkan badannya dan bersiap untuk pergi.

“Oh, ne. Sampai jumpa, Luhan-ssi.” Ujar Hye Bin dengan membungkukkan badannya pula. Begitupun denganku.

Ia hanya tersenyum dan berlalu dari hadapan kami.

“Dia temanmu?” Hye Bin tiba-tiba bertanya dan itu membuatku cukup tersentak.

“Oh? Iya. Dia temanku. Wae?”

“Anni.” Kurasa ada yang ia sembunyikan. Perkataannya masih menggantung.

(Luhan POV)

“Ya! Kenapa kau bersikap seperti orang bodoh? Bukankah kau selau tenang dalam menghadapi situasi apapun, Xi Luhan?” runtukku pada diriku sendiri.

Jika menarik garis ke beberapa hari lalu rasanya sangat teduh jika berada di dekatnya. Park Ji Eun.

Namun mengapa tadi itu sangat berbeda rasanya? Lidahku sangat kelu dan napasku pun tak karuan. Aku tak dapat menenangkan diriku dihadapannya. Apa ini karena dia telah mengetahui siapa diriku? Sebelumnya aku tak pernah segugup tadi.

Tanpa sengaja tubuhku menabrak seseorang di hadapanku.

“Cheosonghamnida, aku tidak melihat.” Ucapku sembari membungkukkan tubuhku.

“Ehm, gwenchana.” Ia pun langsung berlalu dari hadapanku. Sepertinya aku sangat mengenal orang itu. Anni, tapi sangat mengenalnya. Kim Jong In.

Hari ini berlalu sedikit lebih lambat menurutku. Mungkin karena aku terlalu lelah. Lebih baik aku pulang dan beristirahat lebih awal.

Saat kakiku hendak melangkah keluar gerbang sekolah ini, mataku menangkap bayangan seseorang yang selalu membuat hatiku bahagia saat melihatnya. Park Ji Eun. Ia menoleh kearahku dan dengan segera kubalik badanku kearah lain dan membelakanginya.

Aku tidak yakin, namun kulihat ia berjalan kearah perpustakaan. Ah, kurasa dia hendak meminjam atau mengembalikan buku. Ingin aku mengikutinya dan berada di dekatnya jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan sewaktu-waktu. Aku harap tidak. Maafkan aku, Ji Eun, namun saat ini aku benar-benar merasa lelah.

“Jaga dirimu..” lirihku pelan.

*****

(Ji Eun POV)

Bel telah berbunyi dan itu tandanya pembelajaran hari ini telah berakhir. Aku berencana untuk meminjam beberapa buah buku untuk bacaanku di rumah selama libur akhir pekan ini. Namun aku merasa ada yang memperhatikanku selama aku berjalan menuju perpustakaan.

“Nuguya?” ucapku sedikit ragu. Mungkin hanya perasaanku saja.

Aku pun masuk dan mulai mencari beberapa buku yang akan kupinjam.

“Ji Eun?” suara itu? Saat aku hendak pergi suara itu kembali menghentikan aktivitasku.

“Kumohon jangan pergi. Kumohon dengarkan aku dulu, Park Ji Eun~”

“Untuk alasan apa aku harus tinggal? Untuk alasan apa aku harus mendengarkanmu?” suraku terdengar sedikit parau. Aku mulai merasa gelisah.

“Kumohon. Kau.. tidakkah kau mengenaliku lagi? Tidakkah kau ingin berbicara padaku? Meski hanya mengucapkan salam?”

“Hh, apa yang kau bicarakan? Mudah sekali bagimu mengatakan hal seperti ini? Kau tahu? Dua tahun lalu kau memakiku di depan sahabatku dan menyuruhku meminta maaf padanya akan kesalahan yang sama sekali tidak kuperbuat. Kau lupa?”

“Kau masih memikirkan hal itu, Ji Eun?”

“Bukan hanya itu. Di tahun berikutnya kau datang bukan sebagai malaikat penolong bagiku, justru menjadi pembuka luka lama bagiku. Ji Hyun. Dia berkencan denganmu, bukan?”

“Kau..”

“Tak perlu bertanya darimana aku mengetahuinya. Mungkin aku akan terlihat begitu rendah dihadapanmu, namun kau perlu tahu. Butuh waktu yang lama untuk menghapus nama Kim Jong In dari ingatanku terlebih hatiku.” Setitik air mata meluncur bebas dari genangan di pelupuk mataku.

“Park Ji Eun..”

“Namun aku lega telah mengatakannya padamu. Dengan begitu, aku tak perlu menyembunyikan semuanya lagi, bukan?” suaraku bergetar menahan tangis yang bisa semakin menjadi sewaktu-waktu.

“Jangan katakan kau membenciku, Ji Eun..”

“Sejak kapan aku membencimu? Aku hanya tidak ingin terjebak dalam perasaanku padamu untuk yang kesekian kalinya. Aku bosan menahan rasa sakit di hatiku. Aku bosan menahan tiap air mata yang selalu mengacaukan pandanganku. Ah, kurasa kau tak akan peduli hal-hal bodoh seperti itu, bukan? Haha, maaf aku lupa. Kau hanya memikirkan perasaanmu seorang, Kim Jong In.”

Saat kakiku kembali melangkah kurasakan sebuah tangan besar meraih lenganku dan menarikku kearahnya. Aku tak dapat merasakan apapun, hanya saja kini kusadari aku telah berada dalam dekapannya.

Ini kali pertama ia memelukku. Jujur aku tersentak, namun tungkaiku serasa begitu lemah sehingga aku tak mampu menghindar darinya.

“Apa yang kau bicarakan? Mianhae~ aku yang salah. Aku yang tak pernah menyadari perasaanmu terhadapku. Aku yang selalu mengabaikan perasaanmu. Mianhae~”

“Kau tahu? Hari ini kau kembali membuka luka masa laluku. Kau benar-benar jahat!” suaraku yang terdengar serak karena menangis dan tertahan di dada bidangnya.

“Kuharap kita bisa bersama saat ini dan seterusnya.”

Kini baju seragamnya telah basah oleh air mataku. Aku merasa bodoh karena tidak dapat menghindari tindakannya ini. Tiba-tiba tubuhku terasa sedikit dingin. Aku tak merasakan pelukan yang menghangatkan. Aku merindukan dirinya, dirinya yang memelukku dengan hangat. Apa ia tidak berada di dekatku saat ini? Apa dia tidak melihatku saat ini?

“Xi Luhan..” lirihku samar-samar.

“Apa yang kau katakan barusan?” Jong In melepaskan pelukannya kepadaku dan menatap mataku dalam-dalam.

“Mianhae~ namun aku telah menemukan orang lain.”

“Benarkah? Adakah yang membuatmu luluh selama ini?”

“Kau tak mendengarnya? Xi Luhan. Aku menyukainya. Anni, aku mencintainya.”

“Kau tidak mungkin memilihnya, Park Ji Eun. Aku adalah orang yang..”

“Aku mencintainya, dia, Xi Luhan. Bukan lagi seorang Kim Jong In.” ujarku seraya menatap matanya tajam.

“Aku harap kau tahu itu, Jong In. Dan aku harap kau tidak melukai hati orang lain lagi seperti kau melukai hatiku, Kim Jong In. Mianhae~ aku harus pergi sekarang.” kulangkahkan kakiku secepat mungkin sebelum ia kembali menahanku.

Namun aku terlambat.

Chu~

Dia, Kim Jong In menciumku. Tangannya menarik tengkukku untuk memperdalam ciumannya padaku. Seketika buku yang sedari tadi berada di genggaman tanganku pun terjatuh ke lantai.

‘Plakk!’

“Apa yang kau lakukan?! Kau jahat, Kim Jong In!” hardikku padanya.

Kuberlari keluar dari perpustakaan dengan mengabaikan bukuku yang semula akan kupinjam dan tentunya mengabaikan dirinya yang masih tak bergeming di tempatnya.

Kau jahat, Kim Jong In. Tidak tahukah dirimu? Ini ciuman pertamaku.

“Nappeun!”

~~~ The Real Destiny ~~~

(Author POV)

Minggu pagi yang cerah tak disambut baik oleh seorang gadis yang mengurung dirinya di kamar sejak semalam. Ia merasa kesal, marah, sedih, juga senang di saat yang bersamaan. Ia terlalu bingung dengan apa yang ia rasakan saat ini.

“Bodohnya kau, Park Ji Eun!” gerutunya dengan mengetuk keningnya pelan.

‘Bip!’

Satu pesan diterima.

“Nomor siapa ini?”

‘Kau ada waktu? Pergilah ke taman pukul 11 hari ini. Aku ingin mengajakmu jalan-jalan. Hihi ^^’

”Nuguya?” gadis itu menatap layar ponselnya dengan heran. Entah pesan itu berimbuh mantera atau semacamnya, gadis itu pun mengikuti apa yang tertulis di dalamnya.

Park Ji Eun sedang bersiap-siap untuk pergi ke tempat yang dimaksud sang pengirim pesan. Meski ia tidak mengenalnya, entah mengapa dalam hatinya ia merasa begitu yakin.

*****

“Apa benar isi pesan itu?” Ji Eun yang sedang duduk di bangku sepanjang jalanan cherry blossom dengan bunga sakura yang sedang bermekaran, terlihat sedikit khawatir dan menggoyangkan kedua kakinya berulang kali.

Saat hendak berdiri dan pergi dari tempat itu, tiba-tiba ponsel Ji Eun berdering.

Incoming Call.

“Bukankah ini nomor yang tadi? Ehm, yeoboseo?”

“Maaf, namun sepertinya kau salah tempat menunggu, nona. Aku disini.” Ucap laki-laki dari seberang panggilan ini.

“Kau.. siapa? Kau benar mengenalku?”

“Tentu. Kau tak mengingatku, huh?” laki-laki itu pun berjalan mendekat kearah Ji Eun sementara gadis itu masih mencari-cari keberadaan seseorang yang sedang berbicara dengannya melalui telepon itu.

Seketika mata Ji Eun membulat melihat seorang laki-laki yang kini berada tidak jauh darinya dan berbicara melalui telepon dengan ponsel di telinganya.

“Dasar, laki-laki sombong. Jarak sedekat ini saja kau bisa meneleponku?” tanya Ji Eun dengan menaikkan satu alisnya.

“Aku tidak sombong. Ini semua karena matamu yang tidak bekerja dengan baik. Tidakkah kau melihat diriku saat melewatiku dan berjalan begitu saja, huh?”

Xi Luhan. Mengetuk kening Ji Eun pelan seraya mengakhiri sambungan telepon.

“Mengapa kau menyuruhku kemari?” tanya Ji Eun seksama.

“Ayo kita pergi!” sebelum sempat Ji Eun berucap, tangan Luhan kini telah menarik tangannya dan meletakkannya di lengan laki-laki itu.

‘Mungkin inilah waktunya aku mengatakan kepadamu yang sesungguhnya. Aku menyukaimu. Anni, aku mencintaimu Park Ji Eun’

 

~~~ The Real Destiny ~~~

(Author POV)

“Kau bisa mengambilnya?” suara Ji Eun nampak ragu-ragu.

“Kau meragukanku?”

“Sangat. Sudah, biarkan aku yang mengambilnya. Aku tidak yakin para lelaki tertarik dengan hal-hal seperti ini.” Ucap Ji Eun seraya mengambil alih permainan penjepit boneka.

Ya, saat ini mereka sedang menghabiskan akhir pekan bersama. Keduanya sama-sama belum mengatakan perasaan mereka masing-masing. Namun sesegera mungkin mereka akan mengungkapkannya.

“Kau bercanda? Hal semudah ini? Hh, lihat saja kalau aku bisa.” Luhan nampak serius dan perlahan penjepit pun turun dan mulai menjepit salah satu boneka yang di pilih Ji Eun sebelumnya.

“Wah! Lihat itu, aku berhasil!” seru Luhan seraya menunjuk penjepit boneka yang tengah berjalan membawa boneka berukuran besar.

“Ya! daebak!”

“Igeo~” ucap Luhan sembari memberikan boneka tersebut pada JI Eun.

“Yeey, gomawo~” jawab Ji Eun dan langsung memeluk boneka besar itu.

“Kajja kita ke tempat lain!” sahut Luhan bersemangat.

“Ne~”

Mereka pun berjalan melewati sepanjang jalan di Jinan dengan canda tawa. Entahlah, Ji Eun merasa begitu tenang dan nyaman berada di dekat Luhan. Ia tidak akan melupakan hari ini, hari yang menjadi saksi bahwa ia berhasil mengalahkan lara hatinya dan memilih untuk mengabaikan luka lamanya, Jong In.

‘Aku menyukaimu. Anni, aku mencintaimu Xi Luhan.’

—– To Be Continue —–

Review:

“Igeo~” ucap Luhan sembari memberikan boneka tersebut pada JI Eun.

“Yeey, gomawo~” jawab Ji Eun dan langsung memeluk boneka besar itu.

“Kajja kita ke tempat lain!” sahut Luhan bersemangat.

“Ne~”

Mereka pun berjalan melewati sepanjang jalan di Jinan dengan canda tawa. Entahlah, Ji Eun merasa begitu tenang dan nyaman berada di dekat Luhan. Ia tidak akan melupakan hari ini, hari yang menjadi saksi bahwa ia berhasil mengalahkan lara hatinya dan memilih untuk mengabaikan luka lamanya, Jong In.

‘Aku menyukaimu. Anni, aku mencintaimu Xi Luhan.’

Iklan

34 pemikiran pada “The Real Destiny (Chapter 6)

Tinggalkan Balasan ke kimjong2elf Batalkan balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s