Way to Get Yours (Chapter 5)

way to get yours-

Author : RahmTalks

Genre : Romance, Friendship, School Life

Length : Chapter| Rating  : G

Cast     : Lee Jihyun|Park Yoonhee|Kim Jongin|Oh Sehun

=== WAY TO GET YOURS===

Yoonhee masih terus menangis, sehancur itukah dirinya? Apakah Kai juga seperti ini? Pasangan kekasih yang terkenal seantero sekolah dan menjadi topik pembicaraan setiap yeoja maupun namja, harus berakhir dengan amat menyedihkan begini? Chukkae Chanyeol, kau benar-benar berhasil mematahkan hati dua orang sekaligus.

Yoonhee mendorong pelan tubuhku, “Mianhae…”

“Gwaenchana jika itu bisa membuatmu lebih baik.” Aku menghapus air mata yang masih tersisa di wajahnya.

“Gomawo. Setidaknya aku sedikit lebih baik sekarang.” Dia tesenyum manis sekali. Teman-temanku bilang Yoonhee adalah yeoja yang sangat cantik, namun selama tiga tahun berada satu sekolah dengannya dan satu kali menjadi teman sekelas, baru kusadari kalau ia memang cantik bahkan saat menangis.

“Kau mau kemana sekarang? Pulang atau…”

“Aku ingin pergi ke suatu tempat.”

“Kemana? Akan kuantar.”

“Tidak usah. Aku sedang ingin sendirian.” Aku tahu dia pasti membutuhkan saat-saat ini.

“Arraseo. Aku pulang dulu. Annyeong.” Ia hanya mengangguk sambil terus memasang senyum yang dipaksakan.

===

Yoonhee’s POV

Angin semilir menerpa wajahku. Cuaca hari ini begitu cerah namun semuanya berkebalikan dengan hatiku.

Apa keputusanku sudah benar?

Lagi-lagi, air mata ini jatuh lagi. Aish! Apakah masih kurang kau membuat baju Chanyeol basah? Aku masih belum bisa merelakannya, namun perkataan Jihyun juga patut kupertimbangkan.

Flashback

Aku menunggu Jihyun pulang, sudah hampir malam namun ia belum sampai rumah. Kata Aeri eonni dia memang biasa pulang agak sore, namun kali ini mengapa ada yang berbeda tentang firasatku terhadapnya. Apa yang dilakukannya sekarang?

“Yoon-ahh, Jihyun sudah dalam perjalanan pulang. Tunggu sebentar ya.” Kata Aeri eonni.

“Baiklah eonni.” Kemudian Aeri eonni menemaniku mengobrol. Moodku sedang tidak bagus kali ini jadi aku agak tidak mendengar apa yang ia katakan.

“Aku pulang…” Pintu depan terbuka dan kudengar suara Jihyun menggema di seisi ruangan.

“Itu dia datang. Baiklah, aku mandi dulu.” Aku hanya mengangguk dan tersenyum.

“Yoonhee, kata eonni kau sudah menunggu lama ya? Mian aku tak tahu, HP ku baru kuaktifkan. Ada perlu apa kau kesini? Sepenting itukah sampai kau mau berlama-lama menungguku?”

“Jihyun-ah…” hanya kata itu yang berhasil terucap dari bibirku bersamaan dengan jatuhnya setetes butiran bening dari mataku.

“Eh? Mengapa kau menangis? Kajja ke kamarku.”

Aku duduk di pinggiran tempat tidurnya dan ia duduk di depanku.

“Jadi ada apa? Apa masalah di sekolah tadi?” Aku mengangguk.

“Ceritakan saja.” Dia mengelus pundakku.

“Kai diskors.”

“Lalu?”

“Karena itulah sepertinya ia sekarang tambah membenciku. Sebenarnya aku senang ia diskors karena mungkin itu hukuman yang tepat baginya yang semena-mena memukuli orang, namun aku ingat lagi kalau ia begitu gara-gara melihatku dan Chanyeol kemarin. Aku jadi merasa serba salah Jihyun-ah… Aku kesal dan kecewa padanya namun aku juga merasa kesal pada diriku sendiri.”

“Terkadang cinta terasa begitu membingungkan. Saat orang yang kau cintai melakukan kesalahan padamu, kau marah dan kecewa. Sebenarnya ada perasaan ingin mengalah, namun keegoisan selalu menjadi pemenangnya. Setelah keadaan menjadi semakin buruk, barulah penyesalan itu ada dan kau juga merindukannya. Itukah yang kau rasakan?”

“Mungkin.”

“Pergilah mengunjunginya. Terkadang kita sebagai yeoja juga butuh mengalah kan.”

“Tapi Sehun melarangku, katanya akan lebih baik jika aku datang besok atau beberapa hari kemudian karena Kai pasti sedang tidak ingin melihatku hari ini.”

“Mianhae Yoonhee-ya… Entah perasaanku saja atau bagaimana, kurasa Kai adalah orang yang mudah marah ya, tempramental. Sangat berkebalikan denganmu.”

“Begitulah, dia mudah tersinggung dan sangat sensitive apalagi tentang hal yang berhubungan denganku. Tapi ia tak pernah semarah ini sebelumnya.”

“Jika mendengar ceritamu yang kemarin, mungkin Kai memang pantas marah. Maksudku, dia mudah emosi kan, tentunya ia akan langsung marah melihatmu dan Chanyeol.”

“Ia sama sekali tak mau mendengar penjelasanku.”

“Bersabarlah Yoonhee-ya. Aku sedikit menyayangkan kenapa gadis sebaik dirimu mempunyai namjachingu pemarah seperti itu. Aish! Apa yang salah dengan anak itu, kenapa ia sering mempunyai masalah denganmu? Apa itu yang membuat hubungan kalian bertahan lama?” Jihyun sedikit menggodaaku.

“Sebenarnya dia sangat baik dan pengertian, saat bersama Sehun dan teman-temannya yang lain ia juga sangat baik… Namun sikapnya memang sedikit berbeda terhadapku… Bahkan hal sepele saja diperdebatkan saat denganku.”

“Maksudmu Kai berubah sifatnya gara-gara kau?”

Kalimat terakhir Jihyun benar-benar membuatku mati kutu. Apa Kai terlalu sulit mengimbangiku? Kami terlalu sering berbeda pendapat namun ia tak pernah menunjukkan sikap yang sama pada yang lain. Apa? Apa yang salah denganku? Kupikir dia bukanlah tipe yang overprotective.

Yang kutahu, Kai adalah anak yang baik dan tidak pernah berbuat yang macam-macam meskipun ia tersinggung dan sangat marah. Namun mengingat kejadian itu… Ia sampai tega menghajar Chanyeol? Baru kali ini Kai menghajar seseorang apalagi notabenya adalah teman satu sekolahnya sendiri. Apa salahnya membiarkan aku menjelaskan sih? Aku tahu dia cemburu tapi ini sudah terlalu jauh.

Atau mungkin… gara-gara aku hidupnya berubah jadi kacau seperti ini? Mungkinkah dia bisa kembali seperti semula jika aku tak ada? Jadi lebih baik aku menghilang dari kehidupannya, aku hanya ingin hidupnya bahagia tanpa dikelilingi masalah yang mungkin akan datang lagi suatu saat nanti jika aku masih terus bersamanya.

End of Flashback

Apa aku sudah benar-benar siap dengan semua ini? Aku heran, mengapa aku sampai hati mengatakan kalimat itu di depan pintu apartemen Kai, padahal hatiku meolak itu semua. Namun apa gunanya aku menanyakan hal itu sekarang? Itu semua sudah terjadi. Lagipula sepertinya ia juga menyetujui permintaanku, buktinya ia bahkan tak mau menemuiku dan malah bersembunyi di belakang pintu.

Mulai saat ini, Kai adalah masa laluku. Sanggupkah aku melihat masa depan tanpanya?

Kulangkahkan kakiku ke bawah pohon tempat biasa aku dan Kai menghabiskan waktu di tempat ini, di tempat bersejarah kami. Kupikir ini tempat yang sangat bagus dan bisa membuatku nyaman, namun rupanya malah membuatku semakin rindu padanya. Tapi tak apalah, aku ingin menikmati perasaan rinduku padanya di tempat ini.

===

At Other Place

Jihyun’s POV

Ragu-ragu akhirnya kulangkahkan juga kakiku ke apartemen Kai. Menurut penuturan Chanyeol, mereka sudah putus. Aku jadi takut untuk menemuinya karena kalian tau sendiri kan, dia sangat tempramental apalagi jika ada hubungannya dengan Yoonhee jadi bisa saja dia melampiaskan kemarahannya padaku. Namun aku justru khawatir padanya, jadi aku kesini hanya untuk memastikan keadaannya saja. Tapi alasan apa lagi yang harus kupakai? Ingin menenangkannya yang sedang patah hati? Konyol! Ingin menjenguknya? Nah itu lebih baik, mungkin saja keadaannya belum sehat betul.

Jantungku berdegup kencang saat tiba di depan pintu apartemennya dan akhirnya kuyakinkan diriku untuk mengetuk pintu itu. Kali ini aku tak perlu menunggu lama-lama lagi karena dalam hitungan kurang dari sepuluh detik ia sudah membukakan pintunya. Ia menatapku bingung, namun tak ada satupun kata yang keluar dari bibirku untuk menjelaskan alasan kedatanganku. Aku terlalu gugup.

“Kau? Ada apa lagi datang kemari?” katanya datar, syukurlah keadaannya sepertinya sudah lebih baik.

“Em… Aku hanya ingin memastikan keadaanmu. Apa kau sudah sehat?”

“Seperti yang kau lihat.” Dari ekspresinya ia sama sekali tak menunjukkan perasaan marah ataupun tersakiti hatinya. Dia benar-benar merelakan Yoonhee?

“Syukurlah…”

“Apa kau sudah makan siang?” aku menggeleng.

“Tunggu sebentar.” Ia masuk ke dalam dan beberapa detik kemudian ia keluar bersama jaket dan kunci mobil di jarinya.

“Kajja, temani aku makan siang.” Mwo? Apa aku tidak salah dengar? Kai mengajakku makan siang? Mimpi apa aku semalam. Aku menuruti permintaannya dan mengikutinya berjalan di belakang.

Selama makan siang tak banyak yang kami bicarakan. Mungkin karena kami belum terlalu dekat. Mengapa Kai tidak mencurigaiku tentang alasan sebenarnya aku sering mendatanginya belakangan ini?

“Kau mau menemaniku?”

“Kemana?”

“Sekedar mencari angin.” Oh God! Hari ini benar-benar hari keberuntunganku.

Ternyata Kai mengajakku berjalan-jalan keliling Seoul tak tanggung-tanggung juga. Ini sudah malam dan kami masih belum pulang. Ah… Ini seperti kencan. Bajuku yang semula seragam sudah berganti menjadi pakaian santai, tentu saja Kai yang membelikannya. Sepertinya ada yang salah dengan otaknya, dan ini sangat menguntungkanku.

Kami tiba di sebuah restoran untuk makan malam.

“Bagaimana hari ini?” aku sedikit tersentak saat ia menanyakan itu.

“Aku sangat senang.” Jawabku malu-malu.

“Terima kasih telah menemaniku. Aku hanya sedang membutuhkan seorang teman.” Intonasinya menurun.

Jadi itu sebabnya? Sudah kuduga kau hanya menjadikanku pelampiasan karena tak ada Yoonhee. Baik, kuterima perbuatanmu meskipun itu sangat menyakitiku. Menjadi yang kedua memang sangat menyakitkan. Lihat saja, suatu saat aku akan menjadi yang nomor satu di hatimu.

“Cheonma. Kapanpun kau butuh, kau boleh memanggilku.”

“Aku tak menyangka kita bisa sedekat ini. Kurasa aku perlu minta izin dulu dari Sehun. Kekeke.”

“Kita semua adalah teman bukan?”

Setelah menghabiskan semua hidangan ia mengajakku pulang. Aku sedikit kecewa karena aku masih ingin bersamanya setidaknya untuk satu atau dua jam lagi.

“Aish! Kenapa ramai sekali!”

Jalanan begitu padat jadi Kai memilih untuk mengambil jalan pintas. Jalan ini begitu sepi, hanya ada beberapa kendaraan yang berlalu lalang. Dapat kulihat tiga orang namja dengan pakaian ala preman di pinggir jalan tengah (sepertinya) merampok seseorang. Kai memperlambat mobilnya, mungkin ragu antara ingin menolong atau tidak.

“Tolong!!” Teriak sang korban yang… Hei! Aku kenal suara itu.

CKIT

Kai menghentikan mobilnya dan keluar,

Yoonhee? Sedang apa dia disini malam-malam?

Perkelahian antara mereka pun tidak terelakkan, aku tak bisa apa-apa. Aku terlalu takut untuk keluar, aku masih ingin hidup lama. Tapi, bagaimana dengan Yoonhee dan Kai? Molla, aku takut. Yang kulakukan hanyalah tetap duduk di mobil, memejamkan mata, dan berdoa.

===

Author’s POV

Ternyata mengalahkan ketiga namja itu bukanlah hal yang terlalu sulit bagi Kai. Entahlah, mungkin ia merasa sudah mempunyai objek sasaran untuk meluapkan emosinya. Apalagi ketiga preman itu sedikit mabuk.

GREP

Yoonhee refleks memeluk Kai sedangkan Kai hanya diam tak bergeming.

“G… Gwaenchana?” suara Kai serak.

“Aku takut…” Yoonhee yang masih mengenakan seragam sekolah menangis dalam pelukan Kai.

“Kenapa kau bisa disini malam-malam?” Tanya Kai tanpa nada sama sekali. Yoonhee hanya menggeleng dan sesaat kemudian Jihyun keluar dari dalam mobil.

“Astaga Yoonhee-ya… Kau tak apa? Kenapa kau belum pulang?” Pekik Jihyun. Sekali lagi Yoonhee menggeleng. Saat itu juga Kai mendorong pelan tubuh Yoonhee karena mengingat Yoonhee pernah melakukan hal serupa dengan Chanyeol yang tentunya membuatnya geram.

“Keadaanmu sangat memprihatinkan. Kai, sebaiknya kau antar dia pulang.”

Kai hanya mengendikkan bahu dan masuk ke dalam mobil.

“Kajja.” Jihyun menuntun Yoonhee masuk dan mereka duduk di belakang.

“Apa yang kau lakukan di tempat itu malam-malam begini?” Jihyun akhirnya buka suara lagi setelah Yoonhee tenang.

“Aku… Aku juga tak tahu. Pikiranku kosong dan kakiku membawaku melangkah begitu saja, aku tak tahu kemana tujuanku. Setelah mereka datang aku baru sadar bahwa aku berada di kawasan yang tak kukenal sama sekali.”

“Apa yang membuatmu seperti ini?” Jihyun bertanya prihatin, lebih tepatnya berpura-pura prihatin. Tentu saja dia sudah tau apa penyebab Yoonhee sampai seperti ini. Yoonhee hanya menggeleng. Hal itu dapat dilihat jelas oleh Kai melalui kaca spion tengah.

Jihyun turun terlebih dahulu karena saat ini mereka sedang melewati blok rumahnya. Di dalam mobil hanya ada suara mesin dan AC yang terdengar, keduanya hanya diam membisu.

“Kai… Bisakah kita menjadi teman?” Yoonhee memecah keheningan. Kai masih terus fokus mengemudi dan lima detik kemudian baru memberi respon berupa endikan bahu. Yoonhee tahu maksudnya, Kai benar-benar telah menolaknya bahkan membencinya.

“Mianhae.” Ucap Yoonhee.

‘Yoon, aku juga minta maaf… Kau tahu, aku sangat merindukanmu, aku ingin memelukmu dan selalu memberimu perlindungan. Aku tak ingin kejadian seperti tadi terulang kembali. Mianhae, apa kau berbuat seperti tadi karena menyesali perbuatanmu yang memutuskanku secara sepihak? Kau masih mencintaiku kan? Atau sudah ada Chanyeol yang menggantikanku? Rasanya sakit melihat kalian berpelukan, duniaku rasanya runtuh seketika. Sangat menyebalkan melihat kalian semakin hari semakin dekat. Apa baiknya Chanyeol dari pada aku?? Tiang listrik dengan gigi-giginya yang besar saat tertawa. Apa dia lebih bisa mengerti akan dirimu daripada aku yang keras kepala ini? Apa kau yakin benar-benar memilihnya?’ Batin Kai.

“Gomawo…” Kai tak berlama-lama menunggu Yoonhee menghilang di balik pintu seperti biasa, hanya meninggalkannya yang baru dua detik menutup pintu mobilnya.

===

Dua hari berikutnya…

“Sehun? Tumben sekali kau kesini malam-malam.”

“Kau! Kenapa masih disini?!”

“Memangnya aku harus kemana?”

“Paboya! Kau tak tahu Yoonhee masuk rumah sakit? Aish! Bahkan telfonku pun tak kau angkat.”

“Dia? Masuk rumah sakit? Kenapa?”

“Kecelakaan.”

“Bagaimana bisa?!”

“Sudahlah, kujelaskan nanti. Kajja!”

“Kenapa kalian tak bilang kalau sudah putus?” omel Sehun.

“Untuk apa?” kata Kai pelan.

“Aku tidak setuju! Big no! Apa masalahnya serumit itu?”

“Kurasa.”

“Aish! Apa gara-gara Park Chanyeol itu? Kurang ajar sekali dia.”

“Sudahlah, tak usah membahasnya. Menyetirlah dengan benar.” Kata Kai dengan muka gusar.

“Kalian masih saling mencintai, harusnya ini bisa dihindari.”

“Darimana kau tahu dia masih mencintaiku?”

“Tentu saja aku tahu. Dia kecelakaan gara-gara kau.”

“Apa?”

“Kata ahjumma pelayannya, Yoonhee selalu pulang malam sejak dua hari yang lalu dan tadi ia mengulanginya lagi. Masih lengkap dengan seragam sekolah, ia berjalan di tengah hiruk pikuk kota. Namun siapa sangka ia bisa tertabrak mobil itu. Kurasa ia tidak memperhatikan langkahnya karena sedang memikirkan sesuatu, ani, lebih tepatnya seseorang.” Sindir Sehun.

‘Jeongmal? Benarkah ia masih mencintaiku? Memang saat itu ia bilang kalau masih menyayangiku, tapi aku tak tahu masih sedalam apa perasaannya padaku. Tapi mustahil jika ia masih mencintaiku padahal secara telak ia yang memutuskan hubungan kami. Ditemani Chanyeol pula…’ Kai berperang sendiri dengan pikirannya.

“Kai?” Sehun menyadarkan.

“Kau… Juga masih sangat mencintainya kan??” Untuk beberapa menit keadaan sunyi.

“Kau melihat kecelakaan itu?” Kai mengalihkan pembicaraan.

“Aku mau memanggilnya tadi dan ternyata aku didahului oleh mobil itu. Sial! Nah, kita sudah sampai.” Sehun tidak memperpanjang tentang Kai yang mengabaikan pertanyaannya, ia tahu kalau sahabatnya ini butuh waktu untuk memahami keadaan barunya.

“Bagaimana keadaannya?”

“Masih belum sadar, saya takut terjadi apa-apa.”

“Ahjumma, dimana orang tua Yoonhee?”

“Mereka berada di Singapura dan baru tiba besok.” Ucap salah satu pelayan di rumah Yoonhee.

“Aigoo… Kasihan sekali dia…”

“Ahjumma, ini sudah malam. Lebih baik anda pulang saja dan biarkan saya dan Kai yang menjaganya.” Ucap Sehun.

“Tapi ini kewajiban saya untuk menjaganya…”

“Sudahlah, ahjumma pasti lelah. Biarkan kami yang menjaga, tenang kami tak akan macam-macam kok. Lagipula kan ada Kai, anda tahu kan bagaimana hubungan Kai dan Yoonhee…”

“Ba… Baiklah, besok pagi-pagi sekali saya akan datang menggantikan kalian. Terima kasih.”

Waktu sudah menunjukkan pukul 01.00 dini hari. Keadaan setelah pelayan Yoonhee pergi tidak berbeda jauh, ruangan hanya diselimuti keheningan. Tak ada satupun yang berbicara.

Kai yang semula hanya duduk di kursi dekat pintu kini melangkah menghampiri Yoonhee yang masih memejamkan mata. Sementara Sehun sepertinya sudah berada di alam bawah sadarnya karena lelah dan bosan. Kai menatap lekat wajah yeoja yang pernah menjadi yeojachingunya itu, yang sampai sekarang masih memenuhi hati dan otaknya. Wajahnya cantiknya kini ditutup perban di beberapa bagiannya, membuat siapa saja yang melihatnya menjadi iba.

“Mianhae. Mianhae aku tak bisa selalu melindungimu seperti janjiku dulu. Kau pasti tambah membenciku sekarang, kau boleh melupakanku karena aku memang pantas untuk itu.” Secara perlahan ia meraih tangan Yoonhee yang terkulai lemas dan menggenggamnya.

“Kali ini aku janji. Aku akan selalu melindungimu… Janji yang sebenarnya, dan bukan hanya omong kosong. Tak peduli meskipun aku berada jauh darimu dan kau mungkin akan menolakku. Yang jelas, aku akan terus menepati janjiku bagaimanapun caranya. Karena hal terindah dalam hidupku adalah melihatmu tersenyum dan bahagia. Teruslah tersenyum meskipun itu bukan untukku.”

===

Sinar matahari menerpa lembut seisi ruangan bernuansa putih itu. Musim gugur memang hampir berakhir, itu tandanya musim salju akan segera tiba. Namun hari ini matahari seolah-olah sedang ingin memamerkan kehebatannya.

Yoonhee membuka matanya perlahan karena seberkas sinar menyorot tepat di matanya. Ia menggerakkan tangan kiri untuk menutupi matanya, namun ia urungkan karena di tangan itu kini tertancap sebuah jarum infus. Ia beralih mengangkat tangan kanannya, dan saat itu juga nafasnya seolah terhenti. Tangan Kai menggenggam erat tangannya dan kini ia sedang tertidur pulas dengan kepala di tepi tempat tidur.

Ia tersenyum bahagia dan sebutir air mata turun dari matanya yang indah, ia sadar bahwa ia memang belum siap melepas namja ini. Ia membelai halus rambut Kai dengan tangannya yang dihiasi infus. Ia teramat merindukan namja ini, namja yang sampai saat ini masih hadir di mimpinya dan mempengaruhi setiap tindakannya. Kemudian ia kembali ke posisi semula karena tak mau menganggu. Ia mengedarkan pandangannya dan mendapati Sehun yang tertidur di sofa dengan muka polosnya yang mirip bayi. Ia sedikit tersenyum melihat kepolosan wajah sahabatnya itu dan akibatnya Kai tersadar dari tidurnya karena merasakan sesuatu yang bergerak. Pandangan mereka berdua bertemu dan secara tiba-tiba secara refleks Kai memeluk Yoonhee.

“Kau membuatku khawatir.” ucap Kai serak sedangkan Yoonhee hanya bisa terdiam dan tak lama akhirnya membalas pelukan hangat Kai.

“Eh… Mianhae… Bagaimana keadaanmu?” Secara tidak rela Kai menarik tubuhnya ke belakang. Suasana menjadi canggung.

“Sangat baik.” Satu-satunya alasan mengapa Yoonhee berbicara seperti itu adalah karena kehadiran Kai.

“Kau tadi menangis?” Kai mengusap sisa air mata di pipi Yoonhee.

“Aniyo.” Yoonhee menggeleng sambil tersenyum dan tangannya bergerak perlahan menyentuh tangan Kai yang masih menghiasi pipi kanannya.

“Maaf mambuatmu khawatir.”

“Kau sudah sering melakukannya. Namun kali ini kau benar-benar keterlaluan.”

“Apa kau marah?” tanya Yoonhee dengan muka polosnya.

“Ne. Lain kali jangan lakukan lagi, berjanjilah padaku.”

“Aku janji.”

Kai mengusap lembut rambut Yoonhee, membuat sang yeoja merasa wajahnya merah seketika.

‘Aku tak ingin ini semua berakhir.’ Batin mereka yang secara kebetulan bersamaan.

‘Tapi… ini tidak benar.’ Batin Kai kemudian.

Mereka terhanyut dalam suasana yang selama ini mereka rindukan. Suasana kali ini terasa berkali kali lebih indah daripada yang dahulu. Ingin sekali rasanya memiliki time control dan menghentikan waktu saat ini juga agar moment ini tak akan pernah berakhir.

Keduanya masih saling mencintai, namun anggapan-anggapan lain seolah mencegah mereka untuk mengakui pada satu sama lain. Yoonhee tak ingin membuat hidup Kai berantakan karena dirinya, sedangkan Kai tak ingin Yoonhee lebih menderita karena sifatnya yang terlalu keras kepala. Mereka ingin orang yang dicintai bahagia. Menurut mereka tindakan ini sudah benar namun nyatanya mereka salah, mereka hanya akan bahagia jika keduanya saling melengkapi.

TOK TOK

Kai berdecak, ada saja yang menganggu momen indahnya bersama Yoonhee. Seorang yeoja berparas cantik dengan rambut panjang terurai masuk ke dalam ruangan, kemudian di belakangnya diikuti dua orang namja tinggi yang tampan. Mereka adalah Jihyun, Sehun, dan Chanyeol yang sudah lengkap dengan seragam mereka.

“Yoonhee-ya… Apa kau baik-baik saja? Mana yang sakit?” Jihyun menghambur ke arah Yoonhee dan Kai.

“Aku sudah lebih baik. Wahh… Kalian datang pagi sekali.”

“Seharusnya aku datang tadi malam, tapi dia baru memberitahuku tadi pagi makanya aku buru-buru kesini.” Jihyun memandang kesal pada Sehun sementara Sehun hanya tersenyum kecil.

“Sehun, bukankah kau tadi tidur di sofa?” kata Yoonhee kaget.

“Sudah kutebak kalian tidak menyadari kepergianku. Huh! Kalian terlalu asik berduaan, nah kan… Kalian masih saling mencintai. Sangat tidak cocok jika kalian putus.”

“Kau ini apa-apaan Sehun-ah…” Kata Yoonhee malu.

Kai melirik Chanyeol dengan tatapan dingin. “Aku yang mengajaknya. Lagipula ia kan teman Yoonhee juga.” Kata Jihyun seolah mengerti arti tatapan itu, sedangkan Sehun memasang muka asam dan tidak suka. Lain halnya dengan Kai yang mukanya datar namun hatinya sangat geram. ‘Untuk apa dia kemari? Merusak awal hariku yang indah!’ batin Kai.

“Sebaiknya aku pulang dulu.”

“Mau kemana? Aku sudah repot-repot membawakan tas dan seragammu. Sebaiknya kau mandi di sini dan kita sama-sama berangkat sekolah. Hari ini kau sudah boleh masuk kan?” Tanya Sehun.

“Itu benar, jika kau pulang dulu nanti kau akan terlambat.” Jihyun ikut buka suara.

Akhirnya Kai menuruti perkataan teman-temannya. Padahal rencananya ia ingin membolos –setelah seminggu diskors- dan menemani Yoonhee seharian, namun karena pengganggu kecil ini ia mengurungkan niatnya.

Begitu Kai keluar dari kamar mandi beberapa pelayan Yoonhee sudah tiba meskipun orang tuanya masih belum datang. Setidaknya itu membuat perasaan Kai sedikit lebih lega.

“Kajja.” Ajak Sehun.

“Annyeong… Cepat sembuh Yoonhee-ya…” kata Jihyun.

“Kami pergi dulu, ne?” ucap Sehun sambil tersenyum ala bayinya.

Sementara Kai hanya melempar senyum tipis pada Yoonhee.

“Gomawo. Jeongmal gomawo sudah kesini. Hati-hati di jalan…”

Ketiganya berjalan menuju pintu namun tidak dengan Chanyeol yang justru melangkah mendekati Yoonhee.

“Cepat sembuh dan kembali ke sekolah. Arraseo?” kemudian Chanyeol menepuk kepala Yoonhee. Tak ada seorangpun yang melihat itu kecuali satu, satu orang yang terus mengawasi tiap gerak-gerik Chanyeol, Kai. Namun ia pura-pura tak melihat dan meneruskan langkahnya.

===

“Apa?! Kau sudah gila? Aku tak mungkin bertindak lebih jauh dari ini! Kuakui Yoonhee memang menawan tapi aku memiliki orang lain jadi aku tak akan pernah menuruti permintaanmu!” sentak Chanyeol. Mereka berdua –Chanyeol dan Jihyun- sedang ada di dekat gudang belakang sekolah yang sama sekali tak pernah dijamah siswa.

“Lupakan orang itu! Kau dengar sendiri kan? Tadi pagi mereka masih bermesraan, kau bilang mereka sudah putus?” ucap Jihyun ketus.

“Memang itu yang terjadi. Mereka sudah mengakhiri hubungan mereka, itukan yang kau inginkan? Sekarang kau bisa leluasa untuk mendekati Kai, itupun kalau dia mau.” Kata Chanyeol tidak kalah ketus namun bagian akhir dengan nada sedikit melecehkan.

“Tidak semudah itu Park Chanyeol.”

“Perasaan seseorang tidak bisa dipaksakan, mereka masih saling mencintai dan terikat satu sama lain.”

“Sudah kubilang, buat dia melupakan Kai secara perlahan. Jadikan dia yeojachingumu!”

“Cih! Apa kau membayarku untuk ini? Ingat, perjanjian kita sudah selesai, kau sudah melihat mereka berpisah dan itu berarti sekarang aku bebas.”

“Kau belum selesai! Ya! Jangan menyelesaikan tugas secara setengah-setengah!”

“Sudahlah! Aku lelah meladeni gadis sinting sepertimu. Sepertinya Kai terlalu meracuni otakmu yang tak waras itu.” Chanyeol berbalik untuk meninggalkan Jihyun.

“Jika iya memangnya kenapa? Aku senang menjadi tak waras, dengan begitu aku bisa bertindak semauku termasuk melaporkanmu ke polisi.” Langkah Chanyeol terhenti, ia menelan ludahnya dengan susah payah.

“See? Bahkan kau takut dengan perkataanku.”

“Tolong. Jangan ganggu kehidupanku lagi.”

“Setelah ini berakhir aku akan melepaskanmu.” Jihyun tersenyum sinis.

Tanpa diduga, ternyata ada sepasang bola mata yang mendengar setiap perkataan antara Jihyun dan Chanyeol. Salah satu ujung bibirnya terangkat sedikit dan ia pun pergi dari tempat itu.

“Kita lihat saja, apa kau akan semudah itu mendapatkannya, Lee Jihyun?”

===

“Jihyun-ah…” Sehun menghampiri Jihyun yang duduk sendirian di kelas sambil membaca novel.

“Ya? Sedang apa kau kesini?”

“Menemanimu, aku tahu kau sangat kesepian karena tak ada Yoonhee.”

“Ya, hari ini terasa sepi. Aku jadi tak bersemangat mengikuti pelajaran.” Jihyun menunduk lesu.

“Jangan menekuk wajahmu, kau terlihat konyol. Bukankah disini sudah ada aku.” Sehun terkikik.

“Kau lebih konyol!” Balas Jihyun tak terima sambil memukul bahu Sehun.

“Bagaimana kalau nanti sepulang sekolah kita jalan-jalan?” tawar Sehun.

“Boleh. Tapi sebelumnya kita ke Rumah Sakit dulu.”

“Arraseo. Aish! Sudah bel, aku ke kelas dulu ya?” Sehun sedikit tersenyum dan keluar.

“Ya! Sehun! Nanti wajahku lengket! Sini, akan kubalas kau!” Jihyun mencolek es krim di tangannya dan siap untuk membalas perbuatan Sehun. Karena Sehun selalu berhasil menghindar, Jihyun menjadi kesal dan mereka pun bermain kejar-kejaran seperti anak SD.

“Dasar! Begini saja tak bisa… Hahaha…” ledek Sehun.

“Berhenti kau! Ya! Kalau tertangkap tak akan pernah kulepaskan!”

“Coba saja kalau bisa! Wekk!!”

Setelah lama bermain kejar-kejaran –meskipun dengan akhir yang membahagiakan bagi Sehun namun tidak bagi Jihyun karena kini es krim sudah terpoles indah di sebagian wajah Jihyun- mereka kini duduk di rerumputan.

“Kau menyebalkan!” Jihyun mengerucutkan bibirnya yang membuat Sehun gemas.

“Haha… Sini-sini… Oppa bantu membersihkan.” Sehun mengambil sapu tangan dari dalam tasnya dan mengusap wajah Jihyun.

“Sejak kapan kau memanggil dirimu sendiri dengan sebutan Oppa?”

“Bukan aku tapi kau.”

“Aku tidak mau. Week!!” Jihyun menjulurkan lidahnya.

“Wae? Pokoknya mulai sekarang kau harus memanggilku Oppa! Jika tidak…”

“Apa?” tanya Jihyun menantang.

Sehun berfikir sejenak, “Aku akan menggelitikimu…”

“Andwae! Jauhkan jari nistamu itu!”

“Makannya, panggil aku Oppa.”

“Ne… Terserah apa maumu. Sini, biar aku saja.” Jihyun mengambil alih sapu tangan yang masih digunakan Sehun untuk mengelap wajahnya.

Sehun berbaring di rerumputan di bawah rindangnya pohon. Ia merentangkan lengan kanannya menggesturkan Jihyun untuk meletakkan kepalanya disana.

“Lihat! Langit disini indah bukan?” Sehun menunjuk langit biru di atasnya.

“Ya, Se- Oppa. Kau memang pintar memilih tempat yang bagus.”

“Tentu saja, aku punya banyak referensi.”

“Apakah langit malam disini juga seindah saat sore hari?”

“Tidak terlalu. Tapi aku punya tempat lain dimana langit malamnya selalu terlihat indah.”

“Jinjja?” Jihyun menoleh ke arah Sehun dan begitu pula dengan Sehun. Wajah mereka sangat dekat hingga bisa merasakan nafas satu sama lain. Sesaat kemudian mereka tersenyum.

“Apa kau mau kesana setelah ini?”

“Aku mau! Memangnya dimana tempat itu?”

“Nanti kau akan tahu dengan sendirinya.” Mereka kembali menatap lurus ke arah langit.

“Kau lihat burung itu?”

“Ya, kenapa?”

“Aku pernah bermimpi untuk terbang dengan bebas seperti burung itu, kemanapun ia ingin pergi sayapnya akan membawanya ke tempat tujuan. Sayap itu membantunya mewujudkan keinginannya… Akan ada suatu saat dimana aku akan meninggalkan Korea dan pergi ke seluruh dunia untuk mewujudkan mimpi-mimpiku.”

“Kau? Akan meninggalkan Korea?” Jihun spontan menatap Sehun.

“Itupun jika aku sudah tak punya urusan di sini. Namun sepertinya aku tidak akan pergi.”

“Kenapa?”

“Karena aku tak akan sanggup meninggalkanmu, Jihyun-ah… Aku ingin selalu bersamamu dan menjagamu.”

“Kau bertahan disini demi aku?”

“Ne. Siapa lagi kalau bukan untukmu? Mungkin jika aku tak pernah mengenalmu aku akan pergi. Aku yakin kau adalah orang yang tepat Jihyun-ah… Aku ingin selamanya seperti ini.”

Jihyun tak menanggapi perkataan Sehun, pikirannya berkecamuk.

‘Tuhan, bagaimana bisa kau mengirimkanku seorang namja bagai malaikat ini? Aku tak tega menyakiti perasaannya, tapi aku sangat jahat padanya. Eothokke? Mengapa aku sama sekali tak punya perasaan pada namja ini? Apa yang salah? Apa? Apakah waktu yang patut disalahkan karena aku lebih dulu mencintai Kai? Mianhae, aku belum bisa membalas perasaanmu, Sehun.’

“Kurasa sebaiknya kau mewujudkan cita-citamu. Aku tak mau menjadi beban di hidupmu.”

“Ah, bukan bukan! Maksudku bukan begitu. Kau sama sekali tak membebaniku, aku merasa senang berada di dekatmu makanya aku tak akan pernah jauh darimu.”

“Jika kau punya mimpi, maka wujudkanlah. Aku akan selalu mendukungmu. Aku akan sangat membencimu kalau kau mengubur dalam mimpi-mimpimu. Lagipula setelah itu semua terwujud, kau masih bisa mengunjungi Korea dan bertemu aku kan??”

‘Niatku sudah bulat Jihyun-ah.’ batin Sehun.

“Kenapa kau sangat baik Oppa? Tempat ini… Aku tak bisa berkata-kata lagi. Sangat menakjubkan.”

“Sudah kubilang aku punya banyak referensi.”

Sehun duduk di atas rerumputan mencari posisi senyaman mungkin dan Jihyun mengikutinya.

“Tempat seindah ini mengapa begitu sepi?”

“Tempat ini sangat jauh dari pusat kota jadi wajar hanya sedikit orang yang tahu.” Saat ini mereka sedang berada di suatu tempat dimana sejauh mata melihat hanya ada rerumputan yang amat luas. Angin musim gugur berhembus menerpa wajah mereka seolah ingin tahu apa yang mereka lakukan disana.

“Sebentar ya.” Sehun beranjak dari duduknya dan kembali ke mobil yang terparkir tujuh meter dari mereka. Beberapa saat kemudian ia kembali dengan membawa jaket dan menyelimutkannya di bahu Jihyun.

“Lalu kau?”

“Tak usah kau pikirkan, aku sudah biasa.” Sehun tersenyum begitupun Jihyun.

Mereka duduk dalam diam, melihat indahnya langit malam yang sedang terlukis dengan indah tanpa adanya awan hitam yang menutupi. Seakan tahu bahwa ada dua anak manusia yang akan menikmati indahnya malam di tempat itu.

Jihyun bersandar di bahu Sehun dan lelaki itu melakukan hal yang sama terhadap Jihyun. Setiap detik amat berarti dan tak akan pernah ia sia-siakan.

“Jihyun-ah… Kalau kau mau, aku akan mengajakmu ke tempat-tempat indah seperti ini setiap harinya.”

“Tentu saja aku mau, Oppa.”

“Sebenarnya ada banyak sekali, namun aku ingin menunjukkan ini sebagai yang pertama karena ini tempat favoritku.”

“Seleramu memang tinggi. Kkkk~~”

“Dulu aku sering ke tempat ini bersama Yoonhee. Paling tidak seminggu sekali kami kesini karena sangat jauh dari kota.”

“Kalian bersahabat sejak lama ya?”

“Aku mengenalnya sejak kecil karena eommanya bersahabat dengan eommaku dan kami bersahabat sejak SD.”

“Oh… Pantas saja kalian sangat dekat.”

Kemudian suasana hening untuk beberapa detik. “Apakah kau pernah mempunyai perasaan lebih padanya?”

“A… Ani… Kami hanya bersahabat.” Muka Sehun memerah.

“Mustahil jika kau tidak pernah menganggapnya lebih. Bahkan untuk beberapa detik saja?”

“Tentu saja, aku tak mau merusak persahabatan kami. Aish! Mengapa kau bertanya begitu? Kau cemburu?”

“Kenapa harus cemburu?” Kini muka Jihyun yang memerah.

“Sudahlah Jihyun-ah… Sekarang aku sudah punya kau. Tak ada wanita lain yang kucintai selain kau dan eommaku. Arraseo?” Jihyun tersenyum simpul sambil terus memandang langit.

“Saranghae Jihyun-ah… Sehun berbisik dan mencium singkat puncak kepala Jihyun.”

DEG

Itulah bunyi yang berasal dari dalam dada keduanya. Hal yang tidak terduga bagi Sehun karena baru kali ini ia melakukan itu pada seorang gadis, ia pun kaget karena melakukan ini secara refleks tanpa perintah dari otaknya. Sedangkan bagi Jihyun, ia merasa malu sekaligus senang menerimanya. Ia tak menyangka Sehun akan melakukan ini padanya. Wajahnya bertambah merah dan mendadak darahnya mengalir dengan lebih cepat. Ia tak membalas perkataan Sehun. Berbagai pikiran berkecamuk di dalam dirinya, ia bimbang dengan perasaannya sendiri.

‘Ada apa denganku? Mengapa jadi seperti ini? Belum pernah aku merasakan perasaan seindah dan senyaman ini.’

‘Apa aku sudah mulai menyukainya?’

===To be Continued===

Actually I want to made more sweet momments in this part but I couldn’t imagine again what must I wrote. Hope that this is enough for you guys ><

I’ll be so gratefull if you express your feeling about my fanfic.

Khamsahamnida

18 pemikiran pada “Way to Get Yours (Chapter 5)

  1. duuuhh jihyun sama sehun ajadeeehhh~~ maruk banget pingin sama kai-_-
    lanjut thor.. tp aku agak gasuka sama sifatnya jinhyun disini.____.v
    keep writing ya thor^^~

  2. Berakhir bahagia, please…..ㅠ^ㅠ
    Author, tolong beri ending yang tidak membuat ku (?) nyesek… huhhuuu
    Gus banget thor! Maaf baru baca…….. ditunggu kelanjutannya ((((:

  3. thoorr.. aku ko ga ktmu chap.3 nya yaa.. msh daebak seperti biasa.. keren bgt author bikin cerita dan alurnya.. daebak!!! fighting!!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s