Go Sarang! (Chapter 3)

Judul : GO SARANG! Chapter 3

GO SARANG!

Author : Xoxo_baekhun

Genre : Romance, Family, Relationship, Sad

Length : Chapters

Main Casts:

  1. Elaine Lee
  2. Park Chanyeol
  3. Oh Sehun

Supporting Casts:

  1. Lee’s Family
  2. Oh’s Family

And others..

Rating : PG-15 (Maybe)

Summary : Apa jadinya hari-hari Sehun setelah cintanya ditolak oleh El? Apa Ia akan menyerah begitu saja?

 

LET’S GET STARTED ^^

Main Steel Co.

Bar and Night Club

Gangnam-gu , Seoul

March 2nd, 2013

Club malam di Gangnam malam ini sangatlah ‘panas’, terlebih bagi Sehun yang cintanya baru saja ditolak oleh seorang perempuan cantik yang telah menarik perhatiannya akhir-akhir ini.

Setelah tadi siang cintanya resmi ditolak, Sehun langsung mengajak sahabat-sahabatnya, Jongin dan Luhan, untuk bersenang-senang di club malam yang sangat terkenal di Seoul ini. Ia berupaya melupakan El sejenak dan mencoba untuk menikmati malam ini.

Banyak perempuan seksi yang sedari tadi memperhatikan ketiga pria tampan dan terkenal itu. Ya, ketiga sekawanan itu memang sudah sering memasuki club malam ini. Bukan hal yang sulit bagi mereka untuk masuk kesini. Meski umur mereka sudah diatas 18 tahun, tetap saja masih ada batasan-batasan yang harus mereka patuhi, namun, TAHTA seaakan membutakan segalanya.

Jika ada yang berani mengusir atau sekedar mengganggu kesenangan mereka, jangan pernah berharap hidupnya bisa berjalan seperti biasa.

“Ya! Jongin-ah, lihat noona itu. Sangat seksi, bukan?” Tanya Luhan, dengan volume suara keras, agar yang dipanggil dapat mendengarnya.

“Aku akan memanggilnya untuk menemaniku.” Sambungnya, kemudian memanggil anak buahnya (pelayan) untuk memanggil perempuan itu.

“Ah, dia bukan tipeku. Yang itu baru seksi.” Jawab Jongin, diiringi dengan tawa, setelah menunjukkan perempuan seksi dan tinggi yang hanya menggunakan mini dress warna hitam, sembari menari mengikuti alunan musik club.

“Panggil saja kalau kau mau.” Jawab Luhan setelah perempuan yang tadi Ia panggil datang.

Keduanya pun menikmati malam ini dengan sangat bahagia.

Sehun, yang sedang menghisap rokok pun, ikut memperhatikan perempuan-perempuan yang sedaritadi dibicarakan kedua sahabatnya. Dengan wajah malas dan tak mood, Ia berusaha untuk melupakan kejadian tadi siang.

Tapi hasilnya? Sakit hati tetaplah sakit hati. Tuan Muda Oh takkan bisa mengelaknya.

“Ya! Kau kenapa Sehun-ah? Tidak biasanya seperti ini.” Protes Jongin yang sedaritadi hanya diam saja dengan rokoknya.

“Aku sedang tidak mood.” Jawabnya singkat tanpa menatap kearah Jongin.

“Ada apa? Kau bertengkar lagi dengan Ibu tirimu?” Tanya Luhan, setelah meneguk vodka kesukaannya.

“Tidak. Bukan masalah itu.” Jawabnya singkat, kemudian mengambil putung rokok yang baru, setelah rokoknya habis.

“Lalu?” Tanya Jongin.

“Aku baru saja ditolak.” Ucapnya malas, sekaligus malu, menerima kenyataan pahit ini.

Sontak, kedua sahabatnya itu  pun langsung tertawa terbahak-bahak atas pernyataan Sehun barusan. Sehun pun langsung menghirup rokoknya dan menatap kedua sahabatnya malas campur kesal.

Bagaimana mungkin ada perempuan yang berani menolak Sehun? Ahli waris perusahaan tekstil nomor satu di Korea Selatan, tidak, bahkan SE-ASIA.

Luhan, yang sudah berhasil mengendalikan tawanya lebih dulu pun, menyuruh perempuan yang sedaritadi duduk disampingnya untuk pergi.

Mereka butuh privasi saat ini. Pikirnya.

“Apa Ia gadis yang waktu itu kau ceritakan?’ Tanya Luhan, mulai serius, diikuti oleh tatapan penasaran Jongin.

Sehun hanya mengangguk, kemudian menghembuskan napas singkat namun dalam.

“Wah, aku jadi penasaran.” Ucap Jongin.

“Mengapa Ia bisa menolakmu? Apa Ia tidak tahu kau ini siapa?” Tanya Jongin lagi.

“Kurasa tidak. Ia baru kembali dari London. Aku bisa jamin, kalau dia tidak tahu siapa diriku.” Jawab Sehun, lalu kembali menghisap rokoknya.

Sejak umur 16 tahun, Sehun memang sudah dekat dengan benda ini. Tepatnya sejak Ayahnya memutuskan untuk menikah dengan wanita lain, yang notabene adalah sahabat Mendiang Ibunya.

Namun Sehun bukanlah sosok pria liar yang tidak tahu adat dan martabat, Sehun tetap bisa menjaga kelakuannya. Ia tetap menjalankan nasihat-nasihat yang dulu disampaikan Ibunya.

“Mungkin seleranya bukan pria korea. Mungkin Ia menyukai bule!” Ucap Jongin asal menebak.

Sehun pun menatap Jongin dengan tatapan “benar juga.”

“Mungkin kau perlu menghitamkan kulit susu putihmu itu. Mungkin kau harus berlatih ke gym untuk membentuk otot-otot mu agar bisa seksi seperti diriku.” Sambung Jongin lagi. Namun kali ini, Sehun menatapnya dengan tatapan “aku takkan melakukannya.”

“Yasudah lah, Sehun-ah. Jangan pikirkan gadis itu lagi. Setelah tahu identitasmu yang sebenarnya, aku yakin Ia akan mengejar-ngejar cintamu. Kau tak perlu memusingkan masalah itu.” Ucap Luhan, memberi semangat kepada sahabatnya.

Sehun hanya bisa terdiam dan kembali termenung dalam pikirannya. Disatu sisi, Ia juga sempat memikirkan apa yang Luhan katakan, tapi disisi lain, Sehun tak bisa menunggu gadis itu. Ia khawatir, El takkan pernah mengetahui identitas dirinya yang sebenarnya, atau bahkan tidak mau peduli.

“Sudahlah, lebih baik kita turun ke dance floor dan lupakan semuanya Sehun-ah. Kau bisa pilih perempuan mana saja yang kau inginkan. ” Sambung Luhan.

 

 

Daehakro Café

Seoul

March, 10th  2013

 

Park Chanyeol boleh berbangga hati karena penampilan tampan dan gagahnya, Ia berhasil diterima bekerja sebagai ART COFFEE MAKER di salah satu kedai kopi terkenal di Seoul.

Setelah mengikuti trainee pegawai selama kurang dari satu bulan, akhirnya Ia diterima bekerja paruh baya di kedai ini. Selama tinggal bersama Noonanya, Ia memang tetap harus bekerja untuk mendapatkan uang. Setidaknya, sembari memperlancar tujuan awalnya ke Seoul, untuk menjadi musisi, Ia tetap harus bekerja dan mengahsilkan uang. Tak mungkin Ia terus menerus menyusahkan Noonanya. Noona nya masih punya tanggungan Ibu dan juga adiknya yang sedang sakit.

 

“Chanyeol-ssi, berapa umurmu?” Tanya pelayan kedai kopi yang sudah 3 bulan lebih dulu bekerja di kedai ini.

“Aku lahir tahun 1992, Baekhyun-ssi. Kau?” Ucap Chanyeol, berusaha bersikap sopan kepada Sunbae nya ini.

“Woah, benarkah? Kalau begitu, kita seumuran. Kita adalah teman, chanyeol-ah.” Ucap pria bernama Baekhyun itu dengan semangat.

“Oh benarkah? Baiklah kalau begitu, itu akan menjadi sangat baik.” Jawab Chanyeol kemudian tertawa kecil.

Ya, setidaknya Ia sudah punya teman di hari pertamanya bekerja. Chanyeol bekerja sebagai ART COFFEE MAKER bersama Baekhyun dan Jongdae. Mereka berdua merupakan mahasiswa di salah satu perguruan tinggi di Seoul, yang bekerja demi mendapatkan pengalaman serta uang jajan lebih.

Sementara dibagian depan, ada 2 gadis cantik yang bekerja sebagai cashier. Bos mereka memang benar-benar melihat penampilan sebagai syarat utama pemilihan pegawai. Lihat saja, seluruh pegawai di kedai kopi ini rata-rata memiliki penampilan fisik yang baik.

“Benar-benar strategi orang kota.” Pikir Chanyeol dalam hati.

Ia pun segera berbalik ke dapur belakang, tempat dimana Ia membuat kopi-kopi ajaib nya. Dari dulu, Ia memang sangat menyukai kopi. Kegemaran inilah yang membuatnya tertarik menjadi seorang pegawai di kedai ini. Selain bisa menyalurkan bakatnya menghias kopi, Ia juga bisa minum kopi kapanpun Ia mau.

Pikiran yang aneh, namun itulah Park Chanyeol.

“Selamat datang…” Ucap Chaerin, yang tengah membersihkan meja, ketika melihat seorang gadis datang.

Seluruh pegawai pun mengikuti ucapan “selamat datang” dengan bersemangat, yang memang sudah menjadi ciri khas kedai ini.

Yang disapa pun tersenyum kikuk, bingung, serta kaget.

Gadis cantik bernama El itu pun langsung masuk perlahan kedalam kedai, kemudian segera berlalu kearah cashier, tempat dimana Ia memesan pesanannya.

“Selamat pagi, nona. Anda adalah pelanggan pertama kami. Ada yang bisa kami bantu?” Tanya Krystal, dengan senyuman yang sangat manis.

Sungguh, ini adalah pelayanan termenakjubkan bagi El selama Ia berkunjung ke kedai kopi. Maklum, Ia sangat jarang ke kedai kopi, dan suasana yang ditawarkan sangat berbeda dari yang ada di London.

Pegawai disini sangat ramah dan menyambut pelanggan bak keluarga dekat mereka sendiri.

“Apa yang bisa kau sediakan untukku?” Tanya El yang sedaritadi bingung memilih pesanannya. Jujur saja, Ia tidak begitu menyukai kopi, tapi karena kedai ini sangat menarik perhatiannya, Ia memutuskan untuk masuk dan mencobanya.

“Ne?” Penjaga cashier pun hanya bisa merespon dengan wajah bingung, namun tetap tidak menghilangkan unsur sopan dalam gayanya.

“Maaf, maksudku, apa menu best seller yang kalian miliki?” Tanya El pada akhirnya, kemudian tersenyum. Mencoba mencairkan suasana kaku setelah pertanyaan konyolnya barusan.

“Ini adalah kali pertamaku mengunjungi kedai ini. Kuharap kau tak sungkan membantuku.” Sambungnya lagi.

“Tentu saja tidak, nona. Itu adalah tugasku. Sebelumnya, aku boleh bertanya padamu, kau lebih suka minuman manis atau pahit dan kuat?” Tanya Krystal, sambil tersenyum.

“Hmm, mungkin manis lebih baik untukku.” Jawab El

“Kalau begitu, apa kau suka minuman berbahan dasar susu?” Tanya Krystal memastikan.

“Iya. Aku suka.” Jawab El singkat.

“Baiklah, kalau begitu, mungkin Hot caramel macchiato akan menjadi pilihan yang tepat untukmu. Bagaimana?” Ucap Krystal, sambil tetap tersenyum ramah menanggapi El.

Sejujurnya, El tak begitu suka minuman itu. Rasanya aneh. Ya, setidaknya itulah rasa minuman itu di kedai-kedai kopi di Inggris. Namun, karena tidak enak dengan pegawai yang sedaritadi melayaninya, Ia pun mengangguk dan tersenyum, tanda Ia menyetujui usulan gadis dihadapannya ini.

“Baiklah, take a way atau minum disini, nona?” Tanyanya lagi.

“Disini saja.” Jawab El, tanpa ragu.

“Baiklah. One Hot caramel macchiato, drink here.” Ucapnya sopan.

“Maaf, dengan nona siapa?” Tanyanya lagi

“Elaine.” Jawab El.

Setelah membayar minumannya, El pun langsung menuju meja yang sedari tadi Ia incar. Dari tempat itu, Ia yakin, Ia bisa melihat keindahan kota Seoul yang ramai, namun tetap bersih dan nyaman. Dan benar saja perkiraan El.

Ia tetap duduk menikmati keindahan Seoul, hingga tak terasa pesanannya akhirnya datang. Bukan pegawai cashier tadi yang membawanya, namun pria tinggi berbadan tegaplah yang tersenyum membawa nampan berisikan gelas kecil yang El yakini sebagai pesanannya.

“Silahkan dinikmati, Elaine-ssi. Semoga harimu menyenangkan.” Ucap pria itu sambil tersenyum sopan setelah meletakkan pesanan El.

“Ne. Terimakasih.” Ucap El singkat.

“Lucu sekali.” Ucap El pelan setelah melihat bentuk beruang yang sedang memakan rumput di gelasnya.

El pun perlahan meminum pesanannya.

“Wow.” Itulah kata yang cocok menggambarkan rasa minuman ini.

Bagaimana tidak, Ia tidak pernah menyangka, orang Korea bisa membuat kopi jauh lebih enak dari orang inggris. Tidak bisa dipercaya.

“Sepertinya aku sudah menemukan tempat favoritku.” Pikirnya.

 

 

Seoul National University, Business School

Seoul – South Korea

March 12th, 2013

“Sudah lama tidak bertemu.” Ucap Sehun setelah melihat El di Kelas Dasar-dasar Bisnis.

Yang merasa diajak berbicara pun, mengalihkan pandangannya dari ponsel miliknya.

“Oh, Sehun-ssi.” Ucap El, ragu dan setengah kaget.

“Apa yang Ia lakukan? Kukira Ia takkan pernah menyapaku lagi sejak kejadian waktu itu” Pikirnya dalam hati, sembari memperhatikan Sehun yang sedang tersenyum padanya.

“Bagaimana harimu?” Tanya Sehun setelah duduk dikursi sebelah El, yang memang belum ada yang mengisi.

“Baik. Bagaimana denganmu?” Jawab El seadanya sambil menatap Sehun.

Bukan maksud El menatap Sehun karena alasan penasaran atau apapun, Ia hanya menganggap semua itu adalah bentuk kesopanan yang sudah mendarah daging pada dirinya.

Tidak mungkin kan, El tetap memainkan ponselnya, disaat Sehun sedang berbicara padanya. THAT’S NOT MY STYLE. Pikir El. Berpura-pura tidak peduli, ya, meskipun Ia sebenarnya memang tidak begitu peduli.

“Tidak begitu baik.” Jawab Sehun tanpa melepaskan pandangannya dari El.

Entah kenapa, Sehun sangat tertarik dengan gadis disebelahnya ini. Mata dan bibirnya benar-benar membuat Sehun mabuk kepayang. Terlebih hari ini, El mengikat kuda rambut coklat indahnya, yang menampilkan pipi gadis itu, serta leher mulusnya.

“Benar-benar tipeku.” Ucap Sehun dalam hati.

“Oh.” Ucap El singkat, kemudian Ia membalikkan perhatiannya kearah ponselnya.

“Untuk masalah waktu itu, aku minta maaf.” Ucap Sehun tiba-tiba.

El pun kembali menatap Sehun dengan menaikan salah satu alisnya, tanda bingung.

“Aku tahu, mungkin itu terlalu cepat untukmu. Mungkin kau tidak menyukai caraku kemarin. Aku benar-benar minta maaf telah membuatmu terganggu.” Jelas Sehun lembut sambil terus menatap bola mata El.

“Baiklah, aku memaafkanmu.” Itulah jawaban yang diberikan El. Sesungguhnya, Ia tidak tahu kenapa Sehun harus minta maaf. Seharusnya, Ialah yang harus minta maaf karena telah menolak pernyataan Sehun, serta meninggalkan pria itu sendiri di restoran.

Entahlah, El tidak punya jawaban lain. Dan Ia hanya ingin menghakhiri segala bentuk kesalah pahaman yang terjadi diantara mereka berdua.

Semenjak insiden penolakan itu, Ia dan Sehun tak pernah berkomunikasi lagi. Mereka bahkan tak pernah bertemu di kampus, hingga hari ini. El merasa, kemarin-kemarin, Sehun bolos kuliah, karena tak mungkin Ia baru melihat pria ini hari ini.

“Bisakah aku memulainya dari awal lagi?” Tanya Sehun, serius.

“Kau boleh memulainya lagi, tapi belum tentu aku mau.” Jawab El, tegas kemudian membalikan tubuhnya menghadap papan tulis, karena Prof. Kim baru saja memasuki kelas.

Sehun pun hanya bisa tersenyum penuh arti. “Benar-benar tipeku.” Pikirnya lagi.

 

 

Setelah kelas selesai, Sehun mengajak El untuk makan siang di kantin bersamanya. Ia berniat mengenalkan El kepada kedua sahabatnya, Jongin dan Luhan, yang masuk kelas seni di kampus ini. Karena merasa sedang tidak ada kerjaan, El pun menyetujui permintaan Sehun.

“Tapi jangan lama-lama ya. Aku masih ada urusan.” Ucap El memastikan, ketika mereka berjalan bersama kearah kantin Seoul National University.

“Iya. Setelah ini, aku janji akan mengantarkanmu pulang.” Jawab Sehun, sambil tersenyum.

El pun degan malas, membalas senyum Sehun. Entah kenapa, sedaritadi di kelas, Ia dan Sehun terus menjadi pusat perhatian mahasiswa/i lain. Kebanyakan dari mereka menatap sinis dan tak suka kearah El.

“Mengapa mereka semua memperhatikan kita? Apa ada yang salah dengan kita?” Tanya El, bingung ketika mereka sudah berada dipenghujung kantin.

Sehun pun menghentikan langkahnya, yang otomatis diikuti oleh El. Kemudian Sehun memperhatikan murid-murid lain yang sedah memperhatikan mereka berdua dengan tatapan “tak suka.”

“Sudah jangan pikirkan mereka. Mereka hanya orang kurang kerjaan. Tidak penting.” Jawab Sehun.

 

“Apa mereka berpacaran?” Bisik satu wanita yang berada tak jauh dari mereka.

“Apa yang dilakukan perempuan itu hingga bisa mendapatkan hati Sehun?”

“Siapa sih gadis itu? Kenapa Ia bisa dekat dengan Sehun?”

“Apa gadis itu kekasih Sehun? Bagaimana mungkin?”

“Apa yang Sehun lakukan?”

“Apa mereka berpacaran?”

 

Samar-samar, El masih bisa mendengar seluruh ucapan murid-murid SNU, yang hampir seluruhnya adalah perempuan, yang sedaritadi memperhatikan mereka.

El pun menatap Sehun dengan tatapan curiga dan bingung.

“Kau tak perlu memikirkan mereka. Anggaplah mereka itu angin lalu.” Jelas Sehun, kemudian menarik pelan tangan El, menuju kedalam kantin.

Dari sini, Sehun sudah dapat melihat kedua sahabatnya itu sedang menyantap bulgogi dengan penuh canda dan tawa.

“Benar-benar menjijikan. Orang-orang bisa menyangka mereka adalah pasangan gay.” Pikir Sehun.

“Mereka teman-teman ku.” Ucap Sehun memperkenalkan teman-temannya, setelah mereka sampai di depan Jongin dan Luhan.

“Oh, jadi ini pujaan hati Sehun?” Tanya Jongin asal, kemudian berdiri, dan diikuti oleh Luhan.

“Ne?” El pun hanya bingung atas ucapan yang teman Sehun ucapkan.

“Sudah jangan dengarkan dia. Dia memang suka berbicara aneh. Perkenalkan, namaku Luhan.” Ucap Luhan memperkenalkan dirinya dengan tersenyum manis.

“Namaku Elaine. Panggil saja aku El.” Balas El, kemudian membalas senyuman Luhan.

“Dan namaku Jongin. Kim Jongin.” Ucap Jongin, kemudian tersenyum kearah El. El pun membalas senyuman Jongin.

“Benar-benar cantik.” Ucapnya kembali asal.

“Ne?”

“Ya! Jongin-ah, kau jangan macam-macam!” Ucap Sehun, mengingatkan sahabatnya yang sekarang menatap El dengan pandangan menjijikan.

“Hahaha. Maafkan aku. Aku hanya mengucapkan apa yang aku pikirkan.” Ucap Jongin, tertawa.

El pun membalas tawa Jongin, hanya dengan senyuman kecil.

 

 

Setelah mengobrol bersama Jongin dan Luhan, El meminta ijin untuk pulang terlebih dahulu karena Ia sedang ada urusan. Sesaat setelah El bangkit berdiri, Sehun pun ikut berdiri.

“Kau juga mau pulang, Sehun-ah?” Tanya Jongin, sembari meminum cola pesanannya.

“Aku ingin mengantar El pulang.” Jawab Sehun, singkat.

“Eii, tidak usah. Aku bisa pulang sendiri. Supirku sudah menjemputku.” Ucap El.

“Benarkah?” Tanya Sehun sedikit kecewa.

“Ne.” Jawab El, kemudian tersenyum.

“Besok, suruhlah supirmu untuk tidak menjemputmu. Mulai besok aku bersedia mengatar-jemputmu ke kampus.” Ucap Sehun.

“Lupakanlah. Kau tak perlu repot-repot. Aku pulang dulu ya. Sampai jumpa.” Ucap El kepada ketiga pria tersebut sambil tersenyum, kemudian pergi menjauhi kantin.

Sehun pun menatap punggung El dengan kecewa. Kemudian duduk kembali menghadap Luhan dan Jongin.

“Ya! Sejak kapan seorang Oh Sehun sedih karena tidak berhasil mengantarkan seorang yeoja pulang?” Ledek Jongin, diiringi dengan tawaan.

“Sudahlah. Kau ini jangan terlalu berusaha keras mendekatinya. Kau lihat, Ia sepertinya tidak begitu nyaman dengan tingkahmu. Sebaiknya kau tak perlu berusaha untuk menjadi orang jagoan didepannya.” Ucap Luhan, memberi nasehat.

Sehun pun hanya diam mendengarkan nasehat sahabatnya itu.

“Tapi kuakui, dia sungguh cantik. Kau beruntung bertemu dengannya lebih dulu.” Ucap Jongin asal, dan kembali mendapat tatapan mematikan dari seorang Oh Sehun.

 

Daehakro Café

Seoul

April 2nd, 2013

 

Pengunjung kedai malam ini sungguh ramai. Banyak pasangan muda yang datang ke tempat ini. Tak jarang dari mereka yang tersenyum malu-malu melihat kelakukan pasangan mereka.

“Benar-benar di mabuk kepayang.” Pikir El, yang sudah duduk di tempat pertama kali Ia berkunjung ke kedai ini.

Ia melihat foto-foto kenangannya bersama Jack yang masih Ia simpan di ponselnya. Foto saat Jack sedang tertawa, tersenyum, dan menatap El sambil tersenyum bahagia.

Ada juga foto saat mereka berbagi kecupan ringan bersama. Melihat foto itu, tiba-tiba El tersenyum.

“Bagaimana kabarnya sekarang?” Pikir El.

Ia pun membuka email nya yang sudah sangat lama tak Ia buka. Berharap, Jack, mantan kekasihnya, mengiriminya pesan. Namun, nihil. Hasilnya tidak ada. Inbox email El tidak menunjukkan adanya pesan baru yang masuk.

El pun segera memasukan ponselnya kedalam tasnya, kemudian menghela napas panjang, kemudian menghembuskannya. Ia memijat-mijat pelan kepalanya.

Lelah. Ya, itulah yang Ia rasakan saat ini. Tanpa dikehendaki, kedua matanya tertutup dan Ia pun ketiduran di kedai kopi tempatnya duduk sekarang ini.

“Nona, nona. Maaf.” Ucap seorang pegawai laki-laki yang berusaha membangunkan El tanpa berniat mengganggu tidurnya.

El pun segera bangun, kemudian melemaskan otot-otot lehernya yang terasa sangat berat.

Setelah mengumpulkan tenaganya, El pun kemudian menatap seorang pegawai ber-name tag PARK CHANYEOL.

“Maaf, nona jika aku mengganggu tidurmu. Tapi kedai kopi ini sudah akan tutup.” Ucap Chanyeol, sopan.

El pun segera menatap jam dinding yang berada tak jauh dari tempatnya duduk.

“OMO.” Ucapnya kaget, karena tak menyangka sekarang sudah pukul 10 malam.

“Berapa lama aku tidur?” Tanyanya pada diri sendiri, kemudian mulai membereskan barang-barangnya.

“Hmm, sekitar 3 jam?” Jawab Chanyeol sambil berfikir.

“Jinjja?” Tanya El, kemudian tersenyum bodoh.

“Aku benar-benar lelah.” Ucapnya lagi.

“Baiklah, kalau begitu, terimakasih telah membangunkanku, Chanyeol-ssi.” Ucap El sambil tersenyum, kemudian bangkit berdiri dan membungkuk kearah Chanyeol.

Chanyeol masih kaget, darimana gadis ini tahu namanya.

“Jangan salah sangka, aku bukan stalker. Aku melihat nama Park Chanyeol di name tag mu.” Jelas El sambil tersenyum, setelah melihat kebingungan Chanyeol.

“Ah ye.” Chanyeol pun tersenyum canggung sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.

“Baiklah. Aku permisi dulu.” Ucap El tanpa menghilangkan senyumannya, kemudian pergi berjalan kearah pintu kedai.

Setelah El benar-benar menghilang dari kedai. Chanyeol mulai berenang didalam imajinasinya. “Cantik, apalagi saat sedang tersenyum.” Ucapnya tiba-tiba dalam hati.

Ya, pantas saja El mampu menarik segala perhatian laki-laki normal di Korea Selatan. Ia memang memiliki wajah yang menjadi incaran pria Korea. Kulitnya putih, matanya indah, hidungnya mancung, dan bibirnya berwarna merah muda. Rambutnya yang panjang berwarna hitam kecoklatan tampak begitu sehat dan lembut.

Chanyeol baru merasa bahwa Ia adalah pria paling bodoh sedunia.

“Kenapa aku tak menanyakan namaya??” Ucap Chanyeol tiba-tiba, sambil kesal.

“Dasar Park Chanyeol bodoh!’ Rutuknya lagi.

“Kau memang bodoh, Oppa!’ Ucap Krystal, meledek Chanyeol. Kemudian tertawa, dan diikuti oleh Chaerin dan Jongdae yang ikut bekerja lembur dengan Chanyeol malam ini.

Chanyeol yang kesal pun, langsung mengepalkan tangan kanannya, dan melemparkannya pelan ke kepala Krystal.

Ini memang sudah menjadi tradisi teman sepekerjaan itu.

“Aww. Oppa! Sakit!” Keluh Krystal sambil menggembungkan pipinya. Yang diyakini Chanyeol hanya pura-pura.

 

 

 

Oh’s Family House

Pyeongchan-dong, Seoul

March 4th ,2013

 

“YA! OH SEHUN! DARI MANA SAJA KAU SEMALAM??” Tanya Tuan Oh, Ayah Sehun, sangat marah.

Bagaimana tidak, semalam adalah hari ulang tahun istrinya, maksudnya Ibu Tiri Sehun. Tapi Sehun malah tidak pulang ke rumah, dan baru pulang ke rumah pagi ini. Hal itu sontak membuat Ayahnya marah besar.

“Benar-benar anak kurang ajar.” Batinnya.

“Yeobo, tenanglah.” Ucap Nyonya Muda Oh, mencoba untuk menenangkan suaminya.

Tuan Oh langsung berdiri menghampiri putra semata wayangnya yang saat ini sedang berdiri diam menatap dua orang didepannya, dengan tatapan tak suka.

“Aku menginap di rumah Jongin semalam.” Jawabnya malas, tanpa menatap mata Ayahnya.

Sejak Ayahnya menikah lagi, hubungan Ayah-anak yang sebelumnya sangat harmonis itu, seakan hilang, digantikan oleh rasa benci dan kecewa.

Disisi Sehun, Ia benar-benar tidak menginginkan pengganti Ibunya. Ibunya hanya satu, dan takkan pernah ada yang bisa menggantikan. Tetapi, disisi Tuan Oh, Ia juga merasa kesepian semenjak istrinya meninggal 4 tahun yang lalu.

“APA KAU MABUK LAGI?” Tanya Tuan Oh setelah mencium aroma minuman dicampur rokok dari pakaian Sehun.

“Aku tidak mabuk. Aku hanya minum.” Balas Sehun, kali ini sudah menatap keduamata Ayahnya dengan malas.

“Sudah berapa kali aku bilang padamu untuk tidak pernah menyentuh benda-benda seperti itu!!” Ucap Tuan Oh kesal, namun sudah tak separah sebelumnya.

“Sudahlah, yeobo. Sehun mungkin hanya minum sedikit.” Ucap Nyonya Muda Oh menenangkan suaminya. Kini Ia sedang mengelus-elus lembut punggung suaminya, berharap suaminya itu bisa tenang.

Nyonya Muda Oh memang selalu mencoba bersikap ramah terhadap Sehun. Ia tidak menganggap Sehun sebagai anak tirinya, Ia selalu menganggap Sehun sebagai anak kandungnya. Tapi, tidak dengan Sehun. Sekeras apapun Ia mencoba, Ia takkan bisa menggantikan sosok ibu kandung Sehun.

“Cepat kau minta maaf pada Ibumu, dan berjanji tidak akan pernah melakukan hal-hal seperti semalam lagi.” Ucap Tuan Oh yang kini sudah benar-benar bisa mengendalikan emosinya.

“Aku tidak  mau.” Jawab Sehun singkat dan tegas, kemudian beranjak masuk kedalam kamarnya yang terletak di lantai dua rumah bergaya arsitektur tersebut.

“YA OH SEHUN!! KAU INI BENAR-BENAR TIDAK TAHU SOPAN SANTUN!!” Teriak Tuan Oh murka melihat kelakuan anaknya yang menurutnya sudah tidak tahu sopan santun.

“Maafkan anak itu, yeobo.” Ucapnya kemudian kepada sang istri yang masih senantiasa menenangkan emosinya.

“Aku pasti akan memaafkannya.” Balas Nyonya Muda Oh, lalu tersenyum.

 

 

 

Myeondong Street, Seoul

March 8th, 2013

 

Siapa yang tak ingin ke Myeongdong? Tempat ini adalah surganya shopping bagi masyarakat Korea Selatan, terlebih bagi anak-anak muda yang ingin tampil fashionable.

Tak terkecuali bagi El dan Dan, adiknya, yang sore ini menikmati keramaian Seoul. Mereka memutuskan untuk membeli beberapa baju Musim Semi yang memang sudah datang. Namun, bukan belanja ke Myeongdong namanya jikalau tidak pulang membawa produk-produk kecantikan.

Dan, yang memang sudah mengetahui produk kecantikan asal Korea Selatan sebelumnya, membawa kantung belanjaan skin care lebih banyak dari Kakaknya.

“El, kau tahu? Aku benar-benar menikmati hari-hari ku semenjak kita pindah.” Ucap Dan tiba-tiba diiringi dengan senyuman, ketika keduanya sedang berjalan-jalan ke tempat toko baju.

El pun hanya mengangguk pelan menyetujui ucapan adiknya.

“Kau suka tinggal disini?” Tanya Dan lagi.

“Tentu saja.” Jawab El singkat, kemudian masuk ke toko SPAO, yang menampilkan jaket-jaket SPRING yang menarik perhatiannya.

Dan pun mengikuti langkah Kakaknya itu.

“Kau tahu, di sekolah, aku bertemu seorang pria.” Ucap Dan, menceritakan sosok pria di sekolahnya yang telah menarik perhatiannya.

El yang sedang memilih jaket-pun, tersenyum kecil sebelum membalas ucapan adiknya.

“Tentu saja kau akan bertemu seorang pria disana. Memang kau kira kau bersekolah di sekolah khusus perempuan?” Ucap El, meledek Adiknya.

“El, I’m serious. Aku tidak sedang bercanda.” Ucap Dan sedikit kesal dengan reaksi Kakaknya.

Bukan reaksi seperti itu yang Dan ingingkan. Tapi, El malah mencoba untuk melucu disaat yang tidak tepat.

“Iya, maafkan aku. Lalu bagaimana?” Tanya El, mulai serius, kemudian mencoba jaket yang Ia sukai.

“Namanya Do Kyungsoo. Kau tahu, suaranya sangatlah indah.” Jelas Dan, kemudian tersenyum membayangkan wajah Kyungsoo.

“Kau menyukainya?” Tanya El tiba-tiba, kemudian beranjak menuju cashier, membawa jaket pilihannya.

“Aku mau yang ini.”Ucap El ketika berada di depan cashier sambil tersenyum.

“Aku tidak tahu.” Jawab Dan yang sedaritadi mengikuti langkah Kakaknya.

“Sejak kapan kau menyukai orang asia?” Tanya El menatap Dan.

Ya, sejak kapan adiknya ini memiliki ketertarikan terhadap orang Asia. Setahunya, adiknya ini lebih suka pria bule ketimbang Asia. Apalagi pria Korea yang dikenal suka menari-nari bak perempuan.

Dan pun hanya menaikan bahu nya tanda Ia pun juga tak tahu.

 

Setelah membayar jaket yang El beli, El dan Dan kemudian keluar dari toko tersebut. Karena Dan ada les tambahan, Ia harus pulang lebih awal. El, yang memang masih mau mengelilingi Myeongdong Street, harus bersedia berjalan-jalan sendiri.

Dan pun pulang dengan membawakan barang-barang belanjaan dirinya dan barang-barang milik Sang Kakak. Karena bagaimanapun, El mungkin saja membeli barang-barang lagi, jadi Ia menitipkan barang-barangnya kepada Sang Adik yang pulang lebih dulu bersama Kang Ajhussi, supir mereka.

Perhatian El pun tertarik pada Ice Cream sangat besar yang dijual di dekat tempatnya berada saat ini. Ia pun langsung melangkahkan kedua kakinya, dan memesan Ice Cream rasa coklat yang merupakan rasa favoritnya.

“Oh, Annyeonghasseyo, nona.” Ucap seorang namja yang baru sampai ke kedai ice cream ini, dengan sedikit terkejut melihat sosok El.

“Oh, Annyeonghasseyo, Chanyeol-ssi.” Balas El setelah melihat Chanyeol lah pria yang menyapanya.

Kemudian keduanya membungkuk sopan dan tersenyum.

“Kau juga makan ice cream?” Tanya Chanyeol memcahkan keheningan diantara mereka.

Kini mereka berdua tengah berada di depan kedai ice cream, dan tengah menunggu pesanan keduanya.

“Ne. Tapi ini adalah kali pertamaku makan ice cream seperti ini.” Jawab El.

“Kau sendiri?” Tanya El melanjutkan ucapannya.

“Iya, aku suka makan ice cream.” Jawab Chanyeol sambil tersenyum.

Keduanya pun memutuskan untuk berjalan-jalan bersama setelah menerima ice cream dari pekerja di kedai ice cream itu.

“Kau sedang sendiri saja?” Tanya Chanyeol pada El.

“Tadi aku bersama adikku, tapi adikku pulang lebih awal karena sedang ada urusan.” Jawab El, lalu tersenyum.

“Kau sendiri?” Tanya El.

“Iya, aku bosan jadi memutuskan untuk jalan-jalan.” Jawab Chanyeol, lalu tersenyum, kemudian mengajak El untuk duduk disebuah kursi panjang berwarna hijau, yang terletak di depan sebuah gereja minimalis.

Keduanya pun kini masih menikmati ice cream mereka masing-masing dalam diam. El sibuk memakan ice creamnya sambil sesekali memperhatikan jalanan, sementara Chanyeol sibuk melihat burung-burung gereja yang tengah memakan jagung di depan gereja.

“Aku tak menyangka ada burung gereja di sore hari seperti ini.” Ucap Chanyeol tiba-tiba, sambil tetap memperhatikan burung-burung tersebut. El pun menoleh kearah Chanyeol, kemudian melihat kearah burung-burung tersebut.

“Sangat indah bukan?” Tanya Chanyeol lagi, kemudian menatap El disampingnya.

El pun membalas tatapan Chanyeol sambil tersenyum meyetujui ucapan Chanyeol.

“Kau mau masuk ke dalam gereja?” Tanya Chanyeol yang telah lebih dulu menghabiskan ice creamnya.

Keduanya pun tersenyum setelah El menerima ajakan Chanyeol. Gereja itu merupakan gereja katholik, dan untungnya El dan Chanyeol merupakan penganut agama tersebut, jadi mereka bisa berkunjung sekaligus berdoa didalamnya.

Setelah El benar-benar menghabiskan ice creamnya, mereka berdua mulai masuk kedalam gereja. Kemudian mereka terdiam sejenak menikmati bangunan minimalis namun tetap tidak menghilangkan ciri khas gereja katholik.

Kemudian keduanya memutuskan untuk berjalan kedepan altar Bunda Maria.

“Sudah lama aku tidak datang ke gereja.” Ucap Chanyeol, kemudian tersenyum.

Setelah keduanya sampai di depan altar Bunda Maria, Chanyeol bersujud lebih dulu. Kemudian El mengikuti Chanyeol.

Keduanya menyatukan telapak tangan mereka masing-masing, dan menaruhnya di depan dada mereka. Sambil menutup kedua mata mereka, mereka mulai berdoa dalam hati masing-masing.

“Bapa, terimakasih untuk hari-hari ini. Terimakasih karna Aku masih bisa tersenyum sampai hari ini.” Itulah doa yang disampaikan El dalam hati kepada Tuhannya. Kemudian El bangkit berdiri, dan memperhatikan sosok Chanyeol yang masih menutup kedua bolamatanya.

“Bapa, kumohon, ijinkanlah aku mengetahui nama nona manis yang tengah bersamaku saat ini.” Ucap Chanyeol tiba-tiba. Lalu membuka kedua matanya, dan berdiri di depan El.

El yang sedang kaget pun tersadar bahwa Ia belum memberitahu namanya kepada Chanyeol. Ia pun langsung tersenyum mendengar doa Chanyeol barusan.

Chanyeol yang malu dan gugup pun, menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Kemudian Ia mencoba memberikan senyumannya, meski tampak jelas bahwa Ia sedang malu.

“Benar-benar unik.” Ucap El dalam hati menggambarkan sosok Chanyeol.

“Namaku Elaine. Kau boleh memanggilku El.” Ucap El menjawab doa Chanyeol sambil tersenyum.

“Maaf jika tidak memberitahu namaku dari awal. Aku lupa.” Sambungnya kemudian mengulurkan tangan kanannya kearah Chanyeol.

Chanyeol pun membalas uluran tangan El, kemudian bersalaman.

“Namaku Chanyeol. Park Chanyeol.”

Keduanya pun tersenyum, dan kemudian meninggalkan gereja.

 

“Kau tidak bekerja hari ini?” Tanya El tiba-tiba.

Keduanya memang memutuskan untuk pulang bersama. Tepatnya, Chanyeol yang mengantarkan El pulang. Naik bus tentunya. Kesempatan ini tak disia-siakan El begitu saja. Ia memang sudah ingin sekali mencoba naik bus di Seoul, tapi karena takut tersesat, jadi Ia belum sempat menjalankan niatnya itu.

Setelah menelfon supirnya untuk tidak perlu menjemput dirinya, akhirnya Ia dan Chanyeol berjalan menuju statiun bus yang terletak tak jauh dari Myeongdong Street.

“Tidak. Aku sedang libur.” Jawab Chanyeol tersenyum.

Diperjalanan, El melihat subuah kedai barbeque yang sangat menarik perhatiannya. Karena sadar, Chanyeol pun mengajak El untuk makan malam terlebih dahulu sebelum pulang.

El pun tersenyum sangat senang, saat tahu dirinya tak perlu repot-repot mengajak Chanyeol mengisi perut terlebih dahulu, karena Chanyeol benar-benar sosok yang sangat pengertian dan perhatian.

 

 

TBC………….

 

YIPPIE THE 3RD CHAPTER IS OFFICIALLY DONE. Semoga ga mengecewakan para readers setia ya..

Ditunggu komen2nya, terimakasih ^^

5 pemikiran pada “Go Sarang! (Chapter 3)

  1. akhirnya setelah ditunggu kapan momennya elaine ketemu sam chanyeol terjawab sudah di chap ini kekekeke..
    kayaknya elaine lebih ngerasa nyaman sama chanyeol ya daripada sama sehun?
    ditunggu kelanjutannya ya thor..
    hwaiting!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s