Lack

Title : Lack

Author : Bit (@Novita_Milla)

Genre : Sad, Angst, Tragedy, Romance

Casts : Oh Saehyun, Oh Sehun, Xi Luhan, Oh Hayoung ‘A Pink’, Choi Junhee (Juniel), Seohyun ‘SNSD’, Jo Youngmin ‘Boyfriend’, Kim Namjoo ‘A Pink’, Kris

 

―It’s hurt when you’ve never seen by everyone.

No one who care ‘bout you. Even you die!―

 

Author’s side

Saehyun menatap kosong luar jendela gedung sekolahnya. Akhir-akhir ini, banyak sekali cobaan yang datang silih berganti. Tak kenal lelah. Bahkan ketika ia sedang tidur sekalipun.

Annyeonghaseyo Seonsaengnim!” Seorang murid perempuan datang dari ujung pintu. Seragam musim semi tersemat pas untuk tubuh rampingnya. Garis mukanya yang polos—menampakkan senyum cemerlang pada wanita yang masih berdiri termenung membawa setumpuk buku lumayan tebal di tangan kanannya.

“Lee Seonsaengnim menitipkan ini pada saya.” Gadis cantik itu menyerahkan sebuah map cokelat pada Saehyun. “Tadi saya bertemu Lee Seonsaengnim ujung koridor dan Beliau melihat saya mau masuk ke kelas. Sepertinya Beliau begitu sibuk hingga menitipkan ini pada saya.”

Saehyun mengangguk tanda mengerti. Ia menatap sayu gadis itu dan mengatakan, “Terima kasih, Junhee-ah.”

Ne.” Gadis bernama Junhee tersebut tersenyum manis. Ia lalu mengambil tas yang tersisa di kelas itu. Mengambilnya dan mengucapkan salam pada Saehyun.

Lagi. Setelah Junhee pergi, Saehyun kembali menatap kosong halaman sekolah yang penuh dengan debu dan bunga matahari di setiap tepinya.

Dua minggu sudah Saehyun bekerja sebagai guru bahasa mandarin di sekolah yang terletak di utara Dongdaemun. Dan dua minggu sudah Saehyun menghadapi cobaan tak berujung.

Uri he eo jimyeon andwe janha

Uri ibyeol hagin ireu janha

Ireohke nal, tteona gamyeon andwae yo…”

Lagu Hello dari Huh Gak terpaksa membangunkan Saehyun dari lamunannya yang ke-13 kali di sore hari ini. Dengan lesu, Saehyun mengambil ponsel di saku celananya. Setelah melihat siapa yang menelepon, Saehyun mengangkat—mencoba menahan rasa sakit di hatinya.

Mwonde?… Aku masih bekerja… Baiklah, aku mengerti…”

Dan kali ini, Saehyun sukses badmood. Wajahnya benar-benar kusut dan matanya hampir mengeluarkan butiran kristal asin. Jika saja ia benar-benar kuat, itu semua tak akan pernah terjadi.

 

***

 

“Apa lagi?”

Gadis ber-hoodie kuning pudar menggenggam tangan Saehyun. Mereka terlihat mirip, hanya saja Saehyun terlihat lebih tua walaupun tinggi badan mereka sama.

Saehyun menyerahkan map cokelat pada si gadis. Saehyun mengisyaratkan agar si gadis membacanya.

Hayoung—nama gadis itu, berhenti membaca setelah ia menyelesaikan kalimat terakhir. Dia menatap Saehyun dengan pandangan yang sulit dimengerti. Rahangnya mengeras, kuku-kukunya memutih, dan dengan cepat air mata mengalir deras seperti lari marathon.

“Kenapa?” Bibir Hayoung bergetar. “Kenapa secepat ini? Kenapa kau tega melakukan itu pada dirimu sendiri, huh? Kenapa kau menyetujuinya? Kenapa…” Hayoung menggoncang-goncangkan badan Saehyun dengan terus mengalirkan air mata.

“Kenapa kau berusaha melindungiku? Apa pedulimu padaku?” Sekali lagi, Hayoung menggoncang-goncangkan tubuh ramping Saehyun.  “Kenapa kau selalu seperti ini? Kenapa, hah?? Kenapa kau melakukan ini demi aku? Untuk apa kau melakukan ini semua? JAWAB AKU!!!!”

“Diam sebelum aku berubah pikiran!” Ujar Saehyun tegas seperti orang kesurupan.

Hayoung menangis sesenggukan. Ia tahu Saehyun pasti akan melakukan ini padanya. Ia cukup tahu, bahkan ia mengenal betul bagaimana kepribadian Saehyun sesungguhnya.

“Pergilah! Jangan pernah kembali lagi!! Jangan pernah kau tampakkan wajahmu dihadapanku! Jangan pernah muncul dan menggangguku! Jangan pernah buat aku menyesal mengambil keputusan ini!!” Saehyun berkata tegas. Ia menatap wajah Hayoung dengan mata yang terbuka lebar dan tangan yang mencengkram erat kedua lengan si gadis. “Jangan kembali atau ketika aku bertemu denganmu, kau akan merasakan sayatan pedang terbaik milik ayah di jantungmu.”

“Cepat pergi atau aku akan mengirimkanmu pada si br*ngsek itu lagi!!” Ancam Saehyun untuk kesekian kalinya.

Dan untunglah, Hayoung menghiraukan Saehyun. Matanya benar-benar sembab dan hatinya sungguh sakit sekali. Segera saja ia berlari bersama koper-kopernya di tengah keramaian.

Saehyun tersenyum. Entah itu senyum kebahagiaan atau kesedihan. Mungkin bukan keduanya.

“Atau kau bisa melupakanku.” Gumam Saehyun sepuluh menit kemudian. Ia lega Hayoung pergi dengan sakit yang ia sebabkan sendiri. Sepertinya ini akan menyenangkan.

 

***

 

“LO SERIUS???”

Seorang murid berjenis kelamin laki-laki terkejut mendengar salah seorang temannya menjelaskan sesuatu. Kali ini ruang kelas terlihat ramai mendengar berita heboh dari mulut Kim Namjoo.

“Ya iyalah. Denger-denger sih prestasinya turun drastis gara-gara harus ngurusin perusahaan ayahnya. Lo tahu kan, dia kan sekarang cuma tinggal bareng Ibunya. Eh, tapi Ibunya malah bolak-balik Korea-China-Perancis-Kanada, ya jadi semuanya kacau. Apalagi keluarganya over protectif sama perusahaannya. Ya, mereka semacem ga gampang percaya sama orang gitu. Bahkan mereka cuma punya 2 orang pembantu di rumah segede gunung kek gitu.

“Denger-dengar juga, dia udah ‘end’ sama si centil itu. Katanya sih gara-gara ceweknya dapet beasiswa ke luar negeri trus si cewek ga sanggup jalanin hubungan jarak jauh. Apalagi status sosial mereka beda jauh antara Raja dengan rakyat jelata. Kacau banget kan tuh?”

“Hmm.” Youngmin—lawan bicara Namjoo menggesekkan telunjuknya pada rahangnya, tanda berpikir. “Mungkin.” Sahutnya singkat sebelum sang guru memasuki kelas dan menyampaikan materi.

Annyeonghaseyo!” Sama seperti biasanya, guru itu berkata dengan kaku. Wajahnya seperti tumpukan baju tak disetrika. “Lee Seonsaengnim tak bisa mengajar tepat waktu karena sesuatu hal. Oleh karena itu, saya akan menggantikan Baliau sampai Beliau kembali mengajar.”

Raut wajah senang dari para murid berganti menjadi kesal. Awalnya mereka pikir guru baru yang baru satu bulan lulus kuliah tersebut hanya akan memberikan tugas atau semacamnya. Hmfft..

“Baiklah, mari kita buka halaman 210. Hmm..” Saehyun membuka Buku Bahasa Inggris  di tangannya. Ia mengambil sebatang kapur untuk menulis sebelum seorang murid laki-laki mengacungkan tangannya. “Kris Wu?” Tanya Saehyun saat melihat name tag khusus anggota OSIS.

“Lebih baik Sehun yang mengajari kita daripada perempuan pendupikat plagiat copas.” Ujarnya meledek.

“Hahaha..” Terdengar gelak tawa di seluruh sudut ruangan. Beberapa lainnya mengagguk setuju dan mengatakan “Benar!!” dan “Ide bagus.” Atau “Brilliant!.” Dan yang lain “Mending diajar orang ga tau apa-apa, ketimbang cewek buta sosialisasi dan sok cari perhatian. Hahaha..”

“Baiklah. Terserah kalian saja.” Saehyun menghela napas panjang. Sama seperti kelas lainnya, hanya reaksi cemooh yang Saehyun dapatkan selama dua minggu ia mengajar. Dan itu semua adalah makanan pokoknya.

Saehyun kembali terfokus pada kapurnya setelah para murid diam. “Don’t pile up everybody! Please open your book on page 210. And, do not make some noise on my lesson hours!”

“Sial.”

 

***

 

Kepala Saehyun benar-benar pusing. Dari kemarin siang ia tak melahap sesuap nasi pun. Jangankan nasi, tadi malam saja dia tak dapat tidur lelap. Bagaimana bisa tidur jika rumahnya disita.

“Ah..” Saehyun memijat-mijat kepalanya berharap rasa sakit itu hilang secepat apapun itu. Wajahnya pucat pasi, bibirnya kering seperti hantu kesiangan, matanya memerah, dan pandangannya sedikit demi sedikit kabur ditelan cahaya lampu yang kian memudar.

“Ah..” Dengan cepat Saehyun meraih kenop pintu ruang kesehatan. Ia benar-benar tak kuat untuk bertahan lebih lama lagi. Dia benar-benar butuh istirahat.

Saehyun memasuki ruangan bernuansa putih seperti rumah sakit. Untunglah, hari sudah sore dan tak banyak murid yang tinggal di sekolah di akhir pekan. Jadi kemungkinan Saehyun bisa menggunakan ruangan itu sampai petang hari.

Saehyun merebahkan diri di atas kasur lalu meminum pil hijau toska. Meneguknya sebentar lalu tertidur. Dia memang harus mempersiapkan segalanya di alam mimpinya. Setidaknya ia punya konsep awal untuk menjalankan rencana gilanya.

Sia-sia saja. Pil itu malah membawanya pada bencana yang lebih buruk daripada hidup sebatang kara. Bagaimana mungkin ia bisa berada di antara pilar-pilar tinggi dengan cahaya remang-remang. Dan anehnya seseorang datang dari ujung lorong berpenerangan satu buah nyala api.

Dan sosok itu sepertinya bukan orang yang tepat.

 

***

 

Dan inilah hari yang ditakuti Saehyun. Hari dimana ia harus bekerja untuk seorang bocah. Memang masih kecil karena yang bersagkutan masih duduk di tingkat akhir sekolah menengah atas.

“Nona Oh Hayoung?” Tanya seorang perempuan rapi yang Saehyun terka sebagai seorang sekertaris. Perempuan itu memakai rok hitam pendek ketat dengan high hells warna senada. Rambut panjangnya ia biarkan tergerai dan tangan kanannya membawa map cokelat tipis. Perempuan itu tersenyum manis pada Saehyun.

Nde.” Jawab Saehyun setengah kaget.

“Manager sudah menunggu Anda. Mari saya antar.”

Nde.”

Sekertaris itu berjalan menuju lift diikuti oleh Saehyun. Dan kemudian…. Dari ujung lobby Perusahaan Konstruksi tersebut muncullah seorang laki-laki berparas luar biasa tampan. Tinggi, putih, dengan kepala kecilnya. Jas hitam kecokelatan tersemat rapi di tubuh cungkring pucatnya.

Seketika semua pegawai membungkukkan badan sambil mengatakan “Selamat Pagi!” pada laki-laki tersebut. Tak terkecuali Sekertaris cantik itu.

“Dia adalah Tuan Muda Direktur Oh. Tepat satu minggu dia bekerja disini.” Sang sekertaris mulai menjelaskan. “Dia yang akan menjadi atasanmu, Nona Oh Hayoung.”

Saehyun mengangguk mengerti. Dengan ragu, Saehyun ikut membungkuk saat laki-laki itu berjalan di depannya. Entahlah, sepagi ini orang yang akan menjadi atasannya itu keluar? Untuk apa?

Setelah orang itu pergi, Saehyun berjalan mengikuti Sekertaris menuju lift. Kemudian mereka keluar lift di entah lantai berapa karena Saehyun tak terlalu memperhatikan.

“Saya Seo Joohyun, Sekertaris Manager Xi. Orang yang akan kau temui sebentar lagi.” Sekertaris itu menerangkan.

Saehyun mengangguk datar. Ia sudah siap untuk kemungkinan apapun saat menemui orang yang selalu membayangi pikiran Saehyun setiap malam. Selalu membuatnya gelisah, cemas, dan tak bisa tidur.

Sekertaris Seo mengetuk pintu tiga kali setelah mereka sampai di pintu berukir pahatan korea kuno bercampur modern. Kemudian dia masuk bersama dengan Saehyun.

“Manager, saya membawa orang yang Anda cari tempo hari.” Jelas Sekertaris Seo pada orang yang mungkin saja adalah seorang Manager. Orang itu berdiri memunggungi Sekertaris Seo dan Saehyun sambil membaca buku catatan kecil.

“Sekertaris Seo, keluarlah.” Perintah sang Manager pelan tanpa menghentikan aktivitas membacanya.

Ye.” Segera Sekertaris Seo keluar dari ruangan.

Sang Manager masih melakukan aktivitas membacanya tanpa jeda. Ia terlihat sibuk meneliti suatu hal sambil membenahi letak kacamatanya.

Merasa tak diperhatikan Saehyun memilih berdiam diri, menundukkan kepala, dan mulai menghitung molekul-molekul padat di sekitar kakinya.

Tiba-tiba pria itu menutup buku dengan sedikit keras. Lalu memandang ke langit yang tak terbatas. “Oh Hayoung-ssi, Direktur meminta ganti rugi.” Si Manager mulai membuka suara. Tapi matanya masih menatap lekat atap dunia alias langit. Tak bergeming dari tempatnya.

Si Manager mendengus mencela, “Aku tahu kau tak punya uang sepeser pun. Rumah tak punya. Dicampakkan orangtua, kakak, keluarga, bahkan pacar sendiri. Cih.. dasar bodoh!”

“Tapi, kau masih beruntung bertemu denganku lebih dulu. Kau bisa pergi dengan tenang jika aku mau.” Manager itu memasukkan buku catatan kecilnya ke dalam saku celana. Begitu pun dengan kedua tangannya. “Tapi, sayangnya aku tak akan mendapat keuntungan banyak karena membantumu.”

“Lalu, apa yang harus saya lakukan untuk membuat Anda memperoleh keuntungan berkali-kali lipat?”

“Cukup mudah. Kau hanya perlu membuat dirimu pantas untuk dikasihani.” Manager itu tertawa aneh. “Uhm, maaf. Tapi penampilanmu sekarang sudah tampak seperti gelandangan.”

Saehyun menelan ludahnya paksa. Ia sudah biasa mendapat celaan tak pantas seperti ini. Lebih baik ia tersenyum dan berkata, “Terima kasih, Tuan Muda Xi.” Sambil membungkuk.

Manager Xi tersenyum kecil. “Apa kelebihanmu? Hmm, Itu pun jika kau punya kelebihan.” Manager menolehkan wajahnya seperempat derajat pada Saehyun. “Nona Oh Hayoung. Jika kau mampu, kau bisa…….”

 

***

 

Saehyun berdiri di ambang jendela ruang kerja si Manager. Hampir 2 tahun ia bekerja di tempat itu. Namun, Saehyun tak menemukan petunjuk apapun untuk menyelamatkan hidupnya agar terbebas dari kurungan penjara laknat ini.

Setiap hari, tidak bahkan setiap detik Saehyun harus bersama Manager br*ngsek luar biasa kejam. Dan lebih parahnya lagi, Saehyun harus bersama Tuan Muda Terhormat, Oh Sehun. Sejujurnya ia sudah bosan mengorek informasi tentang pemuda 20 tahun tersebut untuk Xi Luhan. Dan Saehyun sungguh malas untuk berjuang mendapatkan sesuatu hal yang lebih buruk daripada mimpi-mimpi buruknya setiap malam.

Disamping Saehyun tak mendapat petunjuk, dia juga lelah untuk melakukan semua kebohongan ini. Dan pada akhirnya karmalah yang akan dia dapatkan karena bersusah payah melindungi adik tirinya.

“Laporan malam?”

Sebuah suara yang sangat akrab di telinga Saehyun muncul dari belakang. Seorang pria yang lebih tua darinya berdiri di samping Saehyun sambil melipat kedua tangannya di depan dada.

“Dia menyuruhku bekerja 20 jam per hari.”

“Dan?” Tanyanya menuntut.

“Nilai sekolahnya anjlok. Pemimpin perusahaan besar tinggal kelas untuk kedua kalinya.”

Pria itu mengukir senyum senang. Dibalik wajah innocent-nya, pria ini justru berhati bangkai. Sangat jahat dan tak berperikemanusiaan.

“Kerja bagus. Jangan lepaskan keberuntunganmu kali ini. Aku yakin dia segera menyerah dan diseret orang Amerika sialan itu.” Pria itu tersenyum senang, lagi. “Pastikan dia ikut menyeretmu ke dalam lubang yang sama. Dan di saat seperti itu, kau harus mendapatkan apa yang kuinginkan!”

Saehyun menyeringai aneh. Kedua alisnya terangkat aneh. Sejujurnya dia sangat menantikan saat-saat semuanya jatuh dengan sendirinya.

HYUNG!”

Pria yang lebih muda dari pria disamping Saehyun memasuki ruangan dengan nada suara jengkel. Tanpa mempraktikkan sopan-santun dan etika sosial, pria itu masuk tanpa mengetuk pintu lebih dulu. Seketika Saehyun dan pria yang disebut ‘hyung’ tadi membalikkan badan ke arah pria muda itu.

Ye, Direktur Oh?”

Hyung, Hayoung-ssi, Kepala Sekolah Lee datang! Dia ingin berbicara dengan kalian.” Jawab pria bermarga Oh itu.

 

***

 

Saehyun berdiam diri di café remang-remang di pinggiran Sungai Han. Kepalanya ia tumpukan pada kedua tangan. Dan sekali lagi, pandangannya selalu keluar jendela kaca café yang menghadap hamparan air yang mengalir beraturan di akhir musim dingin.

“Apa yang ingin Anda tanyakan?” Tanya Saehyun mengalihkan pandangannya pada sosok pria muda di depannya. “Mengenai pelajaran? Apa? Bahasa inggris? Matematika? Sejarah?”

Entah setan apa yang merasuki ke-prefectionist-an Saehyun, tiba-tiba saja dia menjadi jengkel. Dia seperti tak tahan dengan permainan kecil yang ia buat sendiri. Seperti—ia ingin mengakhirinya tanpa ada basa-basi dulu.

Saehyun mengeraskan rahangnya, “Untuk apa Anda menyembunyikan semuanya? Saat saya mengajari Anda, Anda begitu pintar dan dapat menjawab semua pertanyaan dengan benar. Untuk apa Anda berpura-pura?”

Pria itu masih menatap Saehyun. Bukan pandangan luar biasa memang—hanya saja ekspresi itu selalu membuat Saehyun mengumpat dan membuang bantalnya ketika akan tertidur.

“Kau ingin jawaban bohong atau jujur?”

“Semuanya!” Jawab Saehyun cepat.

“Apa yang akan aku dapatkan jika aku mengatakannya?”

“Lalu, apa yang Anda inginkan?”

Pria itu menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi empuk tempat duduknya. Kedua matanya menengadah keatas sebentar—tanda berpikir. “Bagaimana jika kau membuat Manager Xi melupakan rencana busuknya?” Tanyanya diiringi seringaian.

Pembuluh darah Saehyun mendadak menegang. Urat-urat sarafnya terasa putus. Dan seketika Saehyun menggigit ibir bawahnya. “Rencana macam apa yang Anda maksud?” Tanya Saehyun seolah tak mengerti.

“Rencana seperti pertukaran dua orang yang sama. Seperti dua orang anak kembar yang luarnya sama tapi dalamnya berbeda.”

“Apakah Manager Xi melakukan rencana itu?”

“Sepertinya dia memang tak menyadarinya. Dia memang sangat bodoh dalam menyembunyikan barang rongsokan. Sama seperti menyembunyikan telur gajah di dalam mulut kotornya. Bukankah itu sangat lucu?”

“Jadi, Anda ingin saya mengeluarkan telur itu dari sarangnya. Memasaknya sebelum telur itu menetas ke dunia?”

Pria itu tersenyum mendengar kesimpulan Saehyun yang bisa dikatakan ‘sangat tepat’.

“Baiklah, saya akan melakukkannya jika itu membuat Anda senang.” Ujar Saehyun dengan enteng. “Jadi apa jawaban yang Anda maksud itu?”

“Kau berpura-pura menyukai Manager Xi. Dan kau menyimpan sesuatu yang ingin aku ketahui. Aku takkan menyangkal jika aku sengaja menempatkan diriku untuk kau binasakan.” Pria muda itu mengerlingkan matanya pada dua tumpuk buku menu di atas meja café. “Aku yakin kau tahu mana yang benar dari dalam diriku, Nona Oh.”

 

***

 

Hari mulai gelap. Namun Saehyun masih menelusuri setiap berkas dokumen di atas meja kerjanya. Kedua matanya enggan lepas dari tumpukan berjejeran sembarangan di setiap sudut ruang kerjanya. Bukan, bukan ruang kerja Oh Saehyun melainkan milik Oh Hayoung. Adik tiri yang memiliki wajah hampir sama dengannya. Adik tiri yang dengan mudah bisa mendapatkan semua yang diinginkannya. Adik tiri yang bisa melakukan apa saja dengan baik. Dan adik tiri yang disukai semua orang.

Sedangkan Saehyun? Dia hanyalah kakak tiri yang sembrono. Tak berekspresi. Pintar berbohong. Penyendiri. Sangat kejam. Dan ia bisa bekerja dengan baik di jalan yang salah.

Pukul 2 pagi. Saehyun memilah-milah file-file yang mungkin saja berharga. Kemudian ia masukkan ke tong sampah lalu membakarnya. Bukankah itu hal yang wajar? Mungkin saja. Biarkan dia menjadi Oh Hayoung dan tetap menjadi Oh Saehyun yang seutuhnya.

Uri he eo jimyeon andwe janha

Uri ibyeol hagin ireu janha

Ireohke nal, tteona gamyeon andwae yo…”

Saehyun mengangkat panggilan masuk dari ponselnya. Tertera nama ‘Choi Junhee’ di layar ponsel.

“Ada apa?”

“Kecelakaan penabrakan sengaja 14 tahun lalu! Kasusnya ditutup dan sekelompok pria berpakaian hitam masuk ke dalam rumah lamamu. Mereka mengobrak-abrik tempat itu dari setengah jam yang lalu.” Junhee berbicara gemetaran. Bicaranya sangat cepat dan tangannya serasa membiru karena berdiri di suhu dingin tanpa sarung tangan. “Lalu, apa yang harus kulakukan?”

“Pulanglah ke rumah lalu tidur. Biarkan mereka mencari sendiri barang bukti itu. Jangan cemaskan apapun, aku yang akan bertanggungjawab. Besok datanglah ke apartemenku. Kau mengerti?”

KLIK.

Saehyun memutus sambungan telepon tanpa mendengar ucapan Junhee selanjutnya. Selanjutnya, Saehyun mencari kontak seseorang di ponselnya. Dengan cepat, sambungan telepon itu terhubung dengan seseorang.

“Sekertaris Seo tahu! Dia sudah mengambil tindakan.”

“Biarkan saja. Aku sudah mengaturnya, biarkan dia memberikan kita kode. Dengan begitu, kita bisa berjalan tanpa hambatan.” Suara pria diseberang telepon mengecil, “Tinggal tunggu tanggal mainya Nona Oh!”

“Tidak.” Ujar Saehyun tegas dengan rahang mengeras. “Aku baru tahu, aku yang dulu pernah mengajarnya. Aku.. aku ingat dia pernah bercerita padaku. Sesuatu hal yang berhubungan denganku yang lain. Dia ingin aku ma—AAA!!!”

Saehyun seketika meloloskan pegangan ponselnya. Dan tepat saat itu juga Saehyun ambruk dan tak sadarkan diri.

Seseorang tiba-tiba muncul ke dalam ruangan itu. Pakaian serba hitam dan menggunakan masker plus topi warna senada. Kedua tangannya ia bungkus dengan sarung tangan hitam. Di tangan kanannya ia membawa map cokelat. Ia berjalan perlahan ke arah Saehyun dengan sorot mata tajam.

“Ayo kita bersenang-senang, kakak!”

 

***

 

Suara sirine ambulan memenuhi kawasan Rumah Sakit New Spring, Seoul. Banyak petugas kesehatan mulai dari perawat sampai ahli bedah lalu lalang berjalan mengurus ini itu dan lain-lain.

Seorang pria berpakaian casual dengan raut wajah khawatir terduduk di kursi tunggu rumah sakit. Disampingnya terduduk pria yang lebih muda darinya dengan wajah cuek. Kaki kirinya ia letakkan di atas kakinya yang lain. Berkali-kali ia menghembuskan nafas sebal kearah pria yang sedang menunduk diam samping kirinya.

“Kau punya perasaan khusus padanya, hyung?”

“Mungkin. Dia seperti berubah menjadi sosok lain setelah aku mencampakkannya. Dia seperti… ah, aku tak bisa mengambarkannya, Sehun-ah.” Terang Luhan masih menatap lantai. “Bagaimana denganmu? Kau kerap menemuinya tanpa alasan. Padahal itu bukan jam kerjanya.”

Sehun tersenyum remeh, “Itu bukan urusanmu, hyung.”

“Kau selalu berkata semuanya bukan urusanku. Lalu, bagaimana dengan perusahaan? Semuanya tak akan terjadi jika aku tak ikut andil dalam semua proyek.”

“Dalam artian berbeda, aku tak akan mengelaknya. Dan itu—“

Sehun terlonjak berdiri. Seorang dokter perempuan keluar dari ruang operasi. Kemudian diikuti oleh beberapa tim dokter yang mendorong trolli keluar dari sana.

Sang dokter berbicara setelah ia menangkap raut khawatir dari kedua pria di depannya, “Peluru itu menembus jantungnya. Bagian kaki terbakar. Dan kelenjar hipofisisnya terguncang hebat.”

“Lalu?” Tanya Luhan menuntut.

“Dia koma seumur hidup. Walaupun kami berhasil menyelamatkan jantungnya dengan donor lain. Tapi pembuluh darahnya pecah di beberapa tempat. Sistem hormonnya tak bisa digunakan. Jadi, meskipun dia bisa bertahan, tapi itu hanya untuk beberapa hari saja.”

Sehun menatap lurus sang dokter. Tanpa ekspresi. “Anda bilang dia akan koma seumur hidup? Lalu bagaimana kemungkinan dia akan hidup kembali—dengan normal?”

Dokter itu menggeleng lemah, “Kami sudah berusaha menyelamatkannya. Sistem sarafnya lumpuh total. Detak jantungnya lemah. Kalaupun bisa hidup, dia tak akan bisa berbuat apa-apa. Seperti mati tapi jantung masih berfungsi. Dia hanya akan tertidur selamanya.”

“LALU, ANDA INGIN KAMI MENANDATANGANI SURAT PENCABUTAN JANTUNGNYA? SETELAH KAMI MEMOHON?” Tanya Luhan tak percaya. Nafasnya berhembus tak beraturan dan hidungnya memerah karena kedinginan.

“Mana surat itu? Biar saya tandatangani!” Ujar Sehun diikuti anggukan pasti dari Luhan.

Pada akhirnya Saehyun berhasil menjalankan rencananya. Ketika semuanya jatuh tanpa sisa. Ketika semuanya hangus tak berabu. Oh Saehyun memanglah Oh Saehyun. Licik!

 

THE END

 

a/n: Jelek kah? Gaje kah fanfic ini? Maaf kalo jelek dan ending-nya kayak gini. Curcol bentar ya.. sebenernya author buat ini ketika abis kecelakaan sepeda motor. Ga ada luka serius. Demi apalah, kaki author sakit banget. Serasa kaku. TT^TT /maap numpang curcol/ Dan karena itu, author buat fanfic ini untuk menyalurkan ke-alay-an author yang kelewat labil -_–_-

So, just comment and like this fanfic, ok?

With Love, Bit (@Novita_Milla) n_n

Iklan

27 pemikiran pada “Lack

  1. Kayaknya bagus…tapi aku gak ngerti…blm dapet jalannya sama maksud ceritanya… jd rencananya si saehyun itu apa???

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s