Heir & Heiress (Chapter 4)

JUDUL: HEIR & HEIRESS, Chapter 4: Something That I’ve Never Felt Before

RATING: PG-15 | GENRE: SCHOOL LIFE, ROMANCE, A LIL BIT ANGST | LENGTH: MULTI CHAPTER | AUTHOR : NANDANI P (@nandaniptr) & SAGITA T (@sagitrp) |MAIN CAST&SUPPORTING CAST : YOON HAERA (OC), OH SEHUN(EXO-K), LUHAN (EXO-M), SOOJUNG (F(X)). & the others, find by your own.

HEIR&HEIRESS POSTER

SUMMARY:

The story about Cold-hearted Heir & Heiress. Terjebak dalam sangkar emas. Arranged marriage yang sudah biasa terjadi dalam kalangan kelas atas seperti mereka. Yang bisa mereka lakukan hanyalah menurut. Hari tetap berjalan seperti biasa. Namun, semuanya berubah disaat salah satu menemukan jalan menuju kebebasan di depan matanya, perasaan yang mulai berubah, dan hidup mereka yang menjadi semakin rumit.

Everything ended by a choice.

 

FOREWORDS:

@nandaniptr: Annyeeeeoooong~ Kita sudah sampai di chapter 4! Semoga kalian nggak bosen nunggu ya. Lagi-lagi maafkan kesalahan kami dan typo disana-sini ya, karena ff ini dibuat dengan keterbatasan penuh. COMMENTS & LIKES R HIGHLY APPRECIATED! Semangati kami untuk segera menyelesaikan FF ini ya:D

P.S: Saran aja nih, baca ff ini sambil dengerin lagu yang sweet ya^^masalah tempat atau lokasi, kami tidak mengetahui secara pasti karena kami belum pernah ke Korea sama sekali. Hanya browsing dari internet semampu kami. Jadi maafkan jika memang ada kesalahan ya.

blog: http://www.beautywolfff.wordpress.com. Mampir yuk!

NO PLAGIARISM OR BASH. Kritik&saran ditunggu, don’t be silent readers. Enjoy! *cheers*

 

YOON HAERA’s POV

“Kau…?”

Deg. Mini heart attack. Aku benar-benar tidak menyangka ia bisa menemukan aku disini.

“Aku sudah mengira kau akan pergi kesini.” Ucapnya tenang.

“Darimana kau tahu aku…”

Sebelum pertanyaanku selesai, ia hanya menjawab dengan senyuman jahil dan menarik tanganku untuk segera menuju ke kasir sambil membawa buku yang hendak kubeli tadi. Aku merasa speechless. Namun aku tetap mengikuti langkahnya.

“Aku bosan sekali, Haera-ya. Temani aku ya?” Sehun berkata pelan dengan nada sedikit memohon. Aku menoleh ke arahnya dengan sorot wajah terkejut.

Ada apa dengannya hari ini?

“Ah, aigoo. Apa yang akan kita lakukan sekarang?” Ia bertanya lagi untuk yang kedua kalinya, tetap sama, tanpa ada jawaban dariku pula. Ia terlihat seperti sedang berbicara kepada dirinya sendiri.

“Ya, Sehun-ah, ada apa denganmu?” Aku menatapnya sebentar. Ia hanya mengedikkan bahu.

“Entahlah aku juga tidak mengerti. Rasanya aku benar-benar bersemangat hari ini. Ayo kita bersenang-senang!” Ia lalu meraih tanganku dan menggandengnya. Aku tidak pernah menyangka seorang Sehun bisa menjadi seberani itu. Lagi-lagi aku hanya menampilkan blank face. Tidak tahu harus berbuat apa.

“Aku tidak pernah berpikiran seorang Oh Sehun yang penurut bisa menjadi pelanggar peraturan seperti ini.” Ucapku datar.

“Aku juga tidak pernah menduga aku bisa senekat ini. Ayo kita pergi!” Sehun berseru semangat. Kulihat lagi tangan kananku yang digenggam Sehun dengan pandangan bingung. Lalu aku tiba-tiba teringat tentang janji untuk jamuan makan nanti sore bersama keluarga masing-masing.

“Hei kita ada jamuan makan hari ini. Apa kau lupa? Kita harus berada disana.”

“Ah, ne. Kau benar. Hmm tapi kurasa kita harus melupakan hal itu sejenak dan berpikir tentang kemauan kita sendiri. Kau bosan kan? Aku juga sama. Lebih baik kita refreshing saja. Tenang, aku yang menanggung semua akibatnya.” Ia menjawab enteng.

“Ah tapi…”

“Sudahlah percaya saja padaku.”

Mungkin Sehun benar. Mungkin aku bisa sedikit tenang hari ini.

“Terserah kau sajalah.”

“Nah. Kalau begitu mari kita pergi ke Myeongdong!” Suara Sehun terdengar antusias. Aku hanya meliriknya sedikit sambil menggeleng-gelengkan kepala.

Myeongdong?

Apa kami sekarang terlihat seperti pasangan yang sedang melakukan dating?

Aku melihat tangan itu sekali lagi, dan tak terasa senyumku mengembang sedikit.

 

*********************

Aku dan Sehun memutuskan untuk pergi kesana dengan kereta bawah tanah. Sudah sekitar 10 menit aku berjalan menuju Samsung Subway Station. Kami membeli dua karcis dan langsung berjalan lurus menuju Uljiro Entrance Station yang keretanya langsung menuju daerah Lotte Department Store di Myeongdong. Aku sudah mengatakan pada Sehun sebelumnya bahwa ini akan melelahkan dan menghabiskan banyak waktu. Namun ia tetap bersikeras dan memilih untuk menaiki kereta bawah tanah. Kau tahu, akhirnya aku hanya bisa mengalah dan memilih untuk mengikuti apa mau Sehun.

 

Sepanjang perjalanan kami mulai saling bercerita satu sama lain. Entah mengapa hari ini aku merasa ingin sedikit berbicara lebih banyak padanya. Ingin merasakan ‘bersenang-senang’ dalam arti yang sesungguhnya. Wajah Sehun terlihat cerah sekali hari ini. Ia seperti kelebihan energi dan berusaha membuatku tertawa dengan tingkahnya. Dan kurasa ia cukup berhasil.

“Lama juga ya.” Sehun berdecak.  Mendengar celetukannya yang spontan, dengan santai aku berujar pelan.

“Bersabarlah. Ini pilihanmu, kau ingat?”

Sehun hanya melirikku sedikit dan menjawab, “Kata-katamu tidak menghibur sama sekali, Haera-ya.”

Aku tersenyum. Hari ini sepertinya suasana hatiku sedang amat baik.

 

Perkiraanku benar, kami sampai di pemberhentian kereta ini lima menit kemudian. Aku dan Sehun segera keluar dari kereta dan kami masih harus berjalan menuju Myeongdong. Kukira 15 menit lagi kami baru tiba disana. Ia terlihat mulai kelelahan. Aku menyenggolnya sedikit.

“Kau lelah?” Tanyaku.

“Sedikit… Ah! Aku berpikiran sesampainya disana aku akan langsung menuju ke kedai es krim.”

“Ide bagus.” Aku menanggapi singkat. Aku juga mulai haus.

“Ah Haera-ya, kita harus bergerak cepat! Kalau berhenti sedikit-sedikit seperti ini sepertinya akan menghabiskan waktu.” Ia tiba-tiba mempercepat langkahnya.

Kami berlari kecil sampai akhirnya tiba di Myeongdong, di kedai es krim terkenal yang sering sekali diomongkan orang. Suasana di dalamnya masih lengang. Hanya ada satu dua orang yang duduk disana. Hari sudah mulai terik. Saat kulihat jam, jarum pendeknya menunjukkan angka 9. Aku duduk di salah satu kursi dan mencoba bernafas dengan normal. Lelah sekali.

“Kau mau es krim apa, Haera?” Sehun membenarkan topinya sedikit. Lalu bertanya sembari melihat-lihat menu.

Banana split saja. Wah apakah kau berniat mentraktirku?”

Sehun menoleh ke arahku sebentar dan menghela napas panjang. “Yah, hari ini aku akan memberikan semua yang kau inginkan, Haera-ya. Today is your day.

Aku tersenyum hangat.

“Kau benar-benar baik hari ini.”

“Aku selalu baik, Haera-ya. Kau saja yang tidak pernah menyadarinya.”

Aku menatapnya heran. Namun yang kulihat sekarang adalah Sehun yang sedang bersiul kecil, matanya meneliti satu-persatu menu es krim yang dijual di kedai ini.

Apa maksud perkataannya?

 

OH SEHUN’S POV

Flashback.

Aku tidak melihat Haera dimanapun. Di kelas tata krama tidak ada, di sekitar rumahpun aku tidak menemukannya. Lalu aku memberanikan diri mengetuk kamarnya pelan. Saat kulihat, ternyata kosong. Aku akhirnya membuka pintu perpustakaan pribadinya, namun ia juga tidak ada di dalamnya.

Lalu ia kemana?

“Pergi kemana Haera?” Aku bertanya pada salah satu penjaga rumahku. Ia menggeleng pelan dengan takut-takut. Aku mendekatinya dan mengulangi pertanyaanku dengan sedikit nada mengancam.

“Ah…Sehun-ssi…Dia pergi keluar tadi. Sejak pagi. Entah kemana.” Ia akhirnya menjawab. Aku berpikir sebentar. Lalu otakku tiba-tiba saja membuat satu kesimpulan.

Ia pasti ke toko buku.

Aku segera melangkahkan kaki menuju toko buku terdekat dari sini. Saat memasukinya, dari belakang saja aku langsung mengetahui bahwa perempuan itu adalah Yoon Haera. Ia terlihat seperti sedang kesusahan, kakinya berjinjit berusaha menggapai buku di rak paling atas, cukup jauh dari jangkauannya. Aku tanpa bertanya langsung saja mengambil buku itu dan menyerahkan padanya.

Ia menoleh. Terkejut.

“Kau..?”

“Aku sudah mengira kau akan pergi kesini.”

Wajahnya menunjukkan antara rasa bingung dan sedikit takut—mungkin karena ketahuan pergi tanpa izin. Ia bertanya-tanya dan hanya kujawab dengan senyum. Aku segera menarik tangannya dan menuju ke kasir. Setelah membayar, aku keluar dari toko buku itu bersama Haera.

Lalu ide gila itu terlintas begitu saja di kepalaku.

“Aku bosan sekali, Haera-ya. Temani aku ya?”

Aku ingin sekali berjalan-jalan dengannya. Sekali saja. Aku mencoba memohon padanya. Awalnya ia seperti menolak. Haera berusaha mengingatkan aku tentang jamuan makan sore nanti bersama keluarga masing-masing. Ah, aku tidak peduli. Aku ingin sekali-sekali menyenangkan diriku sendiri dan melupakan semua urusan lain. Setelah mencoba membujuk Haera, ia akhirnya setuju. Aku memutuskan untuk mencoba pergi ke Myeongdong. Berjalan kaki dan menaiki kereta. Mencoba pengalaman baru bersama Haera.

Ia hanya menggeleng-gelengkan kepala heran, mungkin tidak menyangka aku seberani itu untuk melanggar peraturan.

Hei apa kau tahu? Ada saat aku meraih tangan Haera dan menggenggamnya dengan antusias. Refleks. Begitu saja. Aku juga sama, terkejut. Ia juga terlihat surprised.

Namun ini bagian yang paling kusuka: Setelah reda dari keterkejutannya, ia melihat tangan kanannya yang kugandeng itu dengan sedikit tersenyum.

Rasanya jantungku berpacu lebih cepat daripada biasanya.

*********************

Akhirnya kami tiba di Myeongdong setelah melewati perjalanan yang sangat melelahkan. Aku memilih untuk berhenti di kedai es krim untuk beristirahat sebentar.

Setelah selesai, kami berkeliling. Membeli jajanan yang hanya ada di Myeongdong, sekedar melihat-lihat, mencoba berbagai barang dan keluar-masuk toko dan memainkan permainan berhadiah.

Ada saat dimana aku dan Haera memasuki toko aksesoris kecil di ujung jalan. Ia langsung melangkahkan kakinya tepat ke depan pajangan scarf yang berjejer rapi. Matanya tak lepas, lama menatap sebuah scarf yang sangat indah, dengan motif bunga-bunga berwarna merah pastel dari beludru.  Aku ikut memperhatikannya. Saat menyadari ada aku di sebelahnya, ia langsung pergi begitu saja. Saat ia sudah keluar toko, aku mengambil scarf itu tanpa sepengetahuan Haera dan membayarnya ke kasir. Aku tahu ia sangat menginginkan itu, biarpun tanpa berucap. Aku lalu buru-buru menyimpan bungkusan itu dalam tasku agar tidak ketahuan. Setelah itu keluar begitu saja seperti tidak ada apa-apa. Kami berjalan lagi seperti biasanya dan mulai membahas hal lain.

Hari ini benar-benar menyenangkan.

Dan Haera…Ia terlihat menikmati hari ini.

Hari ini ia lebih banyak berbicara daripada biasanya. Lebih sering tersenyum dan tertawa. Berbeda 180 derajat dengan kebiasaannya sehari-hari di luar.

Kau tahu?

Ternyata aku menyadari bahwa aku benar-benar suka sekali saat ia tersenyum. Tulus, dari hatinya.

Pertanyaan yang ada di otakku satu persatu mulai terjawab. Kurasa aku…mulai menyukainya. Setelah semua yang ia lakukan hari ini. Setelah mengira-ngira mengapa jantungku berdetak lebih cepat daripada biasanya jika berdekatan dengannya, aku berani memastikan perasaanku sendiri.

Semakin banyak ia tersenyum, perasaanku akan berkembang semakin jauh. Aku mulai takut..

Takut jika suatu saat perasaan ini akan berbalik menyakiti diriku sendiri.

 

*********************

 

Tak terasa hari mulai beranjak senja. Jam sudah menunjukkan pukul lima sore. Aku dan Haera sudah memutari Myeongdong sekitar tiga kali dan mengunjungi berbagai tempat yang dirasa menarik bagi kami berdua. Saat ini ia ada di sebelahku. Memakan arumanis dengan tenang. Matanya berbinar-binar ceria. Aku ikut tersenyum, seperti bisa merasakan perasaannya.

“Kemana lagi kita kali ini, Haera-ya?” Tanyaku padanya. Ia menggeleng-gelengkan kepala.

“Tidak tahu. Kita sudah berkeliling dan kurasa ini cukup.” Haera menjawab pelan sembari masih memakan arumanisnya sedikit demi sedikit.

“Apa kita pulang saja?”

“Tapi sesungguhnya aku masih ingin lebih lama lagi disini. Bagaimana kalau kita ke taman saja?” Haera mengusulkan. Aku menuruti saja.

Kami berjalan lurus menuju taman kota. Disana sudah ramai, penuh sesak dengan anak-anak bermain dan keluarga yang terlihat menggelar piknik di bawah pohon Sakura. Banyak juga pasangan-pasangan yang sedang menikmati waktu mereka berdua dengan sekedar berjalan-jalan mengelilingi taman.

Melihat orang-orang itu, aku jadi berpikir sendiri.

Apa aku dan Haera terlihat seperti pasangan disini?

Aku hanya tersenyum sendiri memikirkan ini.  Kulirik Haera di sebelahku. Ia sedang melihat sekeliling dengan sorot mata gembira. Saat sibuk memperhatikan dia, aku tidak sadar sama sekali saat Haera mulai menggerakkan bibirnya, mengajakku berbicara.

“Hei Sehun-ah. Aku iri sekali melihat mereka.”

Tiba-tiba Haera menunjuk salah satu anak kecil yang sedang bermain di ayunan. Di belakangnya ada ayahnya yang mendorong ayunan itu di belakang. Ibunya sibuk mengambil foto anaknya dari depan. Dan mereka terlihat senang sekali.  Mereka sibuk tertawa seperti dunia hanya milik mereka.

Ada juga anak kecil bersama ibunya yang sedang berlarian bermain bola. Sampai setelahnya ia terlalu keras menendang dan bolanya menggelinding ke arahku dan Haera. Ia berlari mengejar bolanya hingga sampai ke posisi berhadapan dengan kami. Aku segera duduk  berlutut, menyamakan tinggiku dengan anak itu dan mengambil bolanya. Lalu menyerahkan bola itu padanya.

“Ini, hati-hati ya lain kali.” Aku tersenyum dan mengacak-acak rambut anak itu dengan lembut. Anak itu membalas dengan senyum merekah.

Gomawo!”

Ibunya ternyata juga menyusulnya. Ia melihat kami berdua dan tersenyum.

Ah, gamsahamnida. Apa kalian sepasang kekasih?” Ibu dari anak itu bertanya ramah. Tapi pertanyaan itu cukup sukses membuatku dan Haera kikuk. Kami hanya menggeleng bersamaan.

“Ah tidak.” Sahutku cepat.

“Ahaha, kalian lucu sekali. Malu-malu seperti itu. Mengingatkanku pada masa mudaku dulu.” Bibi itu seperti sedang mengingat-ingat masa lalunya. “Sudahlah, sekali lagi, terimakasih ya.” Ujarnya sambil berlalu dan menggandeng anaknya. Tak lupa ia melambaikan tangan dengan semangat ke arahku dan Haera.

Aku tak berhenti menatap anak itu sampai ia hilang dari pandangan. Sepertinya wajahku sudah seperti kepiting rebus sekarang.

Saat aku menoleh, Haera sedang menatapku dengan pandangan terkejut, biarpun kurasa ada sisa-sisa rona merah di pipinya.

“Tak kusangka kau bisa seramah itu pada anak kecil.” Ia berkata pelan.

“Aku menyukai mereka, Haera-ya. Mereka lucu.” Aku bangkit dan tersenyum, berusaha melupakan kejadian tadi. Lalu segera berjalan berjejer dengannya sambil menyentuh ubun-ubun kepalanya dan menjitaknya pelan. Haera mengaduh dan mendorongku menjauh sambil menggerutu, sedikit kesal. Aku hanya tertawa.

Setelah itu ia mulai berbicara, intonasi suaranya mulai berubah.

“Aku ingin ayah ibuku yang dulu kembali. Mereka dulu menyenangkan. Tapi sekarang..” Haera mulai berujar lirih. Aku yang berada di sebelahnya seperti dapat merasakan sedihnya menjadi Haera. Aku berusaha menghibur Haera. Menepuk bahunya pelan, memberi semangat. Ia hanya diam, seperti sedang memikirkan sesuatu. Daripada berlarut-larut, lebih baik aku mengajaknya pergi ke danau untuk menikmati sunset.

“Lihat, pemandangannya indah sekali.” Aku menunjuk pemandangan di atas. Langit berwarna oranye terang dan matahari terbenam yang bayangannya terpantul di danau. Haera menoleh dan menatapku lama. Lalu berbicara dengan nada yang hampir tidak kedengaran.

“Terima kasih.”

“Untuk apa?” Aku memandang Haera heran. Aku yang memintanya untuk menemaniku. Mengapa ia yang mengucapkan terima kasih?

“Untuk semuanya. Kau sukses sekali menghiburku hari ini.” Ia menanggapi. Di bibirnya tersungging senyum hangat, yang sungguh aku bisa mengatakan bahwa itu senyum paling indah yang pernah aku lihat di dalam hidupku. Katakanlah aku berlebihan. Tapi ini benar.

Aku benar-benar jatuh cinta padanya.

Hei, Haera-ya. Apa kau tidak menyadarinya? Sedikit saja?

 

Aku berlari kecil bersama Haera. Hawa malam sudah mulai terasa menusuk. Ia memegang pipinya, dan berusaha menghangatkan tubuhnya. Aku berhenti sejenak. Lalu mengambil scarf yang kubeli. Haera terlihat kaget melihat apa yang kubawa. Tanpa basa-basi segera kulingkarkan scarf itu di lehernya. Ia hanya diam seperti orang linglung, tidak tahu harus berbuat apa.

Aku tersenyum. Dia juga membalasnya dengan tersenyum. Begitu saja, sudah cukup.

 

Kami tiba di rumah sekitar jam delapan malam. Di luar, sudah berdiri orangtuaku dan orang tua Haera. Wajah mereka nampak kesal. Aku sudah bersiap jika akan dimarahi habis-habisan oleh mereka.

“Darimana saja kau, Oh Sehun? Yoon Haera? Mengapa kalian berdua tidak datang dalam jamuan sore ini? Kami sudah menunggu lama untuk kalian berdua.” Ibu menatapku tajam.

“Maafkan aku dan Haera karena kami terlambat, eomma.” Aku menjawab tenang.

“Kemana saja kau?”

“Kami hanya berjalan-jalan sebentar. Semacam date. Maaf.

“Seharusnya kau tidak seenaknya sendiri, Sehun-ah!” Ibu sepertinya benar-benar marah.

“Kalian semua yang menginginkan ini bukan? Menginginkan aku dan Haera bersama? Salahkah kami jika kami mulai dekat?” Aku mencoba mencari alasan.

Ibu hanya bisa terdiam kaget. Begitu pula ayahku dan orang tua Haera. Seperti tidak menduga sama sekali. Mereka yang menginginkan ini, jadi mereka tidak ada hak untuk memarahi kami berdua. Benar kan?

Ibu tergagap dan sukses terkena skakmat dariku.

“Lain kali…katakanlah padaku sebelumnya. Aku khawatir dengan keadaan kalian berdua. Masuklah dan beristirahat.”

Itu kata-kata terakhir ibu. Lalu mereka semua pergi dan kembali ke dalam.

Aku menoleh ke arah Haera. Kudapati ia sedang berusaha menahan tawa. Kami saling berpandangan sesaat, lalu tawa pecah begitu saja dari mulut kami.

“Kau hebat, Sehun-ah.”

Aku menepuk dada bangga.

 

*********************

AUTHOR’S POV

Bulan malam ini membentuk lingkaran penuh dengan sempurna. Jelas tanpa tertutup awan.

Dan di dua kamar berbeda, ada dua orang yang sedang memikirkan satu sama lain.

Oh Sehun sedang sibuk mereka ulang kejadian yang mereka alami tadi siang. Semua keceriaan dan tingkah Haera serta senyum hangatnya terekam jelas di otak Sehun. Ia berkali-kali me-replay ingatan itu. Tersimpan sebagai memori yang indah.

Lain halnya dengan Haera. Ia sedang menulis ulang pengalaman tersebut di notes merah kecilnya. Menuangnya menjadi sebuah cerita yang menarik. Ia tidak pernah mengetahui pribadi asli Sehun. Tidak pernah menyangka bahwa Sehun adalah orang yang sangat fun dan easygoing. Ia bahkan adalah pecinta anak-anak. Benar-benar unpredictable.

Dengan Sehun saja sudah begini menyenangkan, bagaimana kalau bersama Luhan-oppa ya?

Haera menyadari keanehan dalam cara berpikirnya dan mulai menggeleng-gelengkan kepala pelan.

Untuk apa aku memikirkan Luhan?

Ia berusaha menghilangkan Luhan dari pikirannya. Memang, Haera sedikit terlambat untuk menyadari bahwa ia memang mungkin terlalu sibuk dengan dunianya sendiri, dan tidak pernah mau melihat dunia di luar sana. Yang memang lebih dari imajinasinya, lebih menyenangkan, lebih mengasyikkan. Pengalamannya tadi siang menjadi pengalaman paling manis yang tidak akan pernah ia lupakan.

Mereka berdua beranjak ke tempat tidur dan memandang bulan bersamaan dari jendela. Lalu menarik selimut mereka, dan tersenyum.

This day was the best day ever that happened in their life.

TO BE CONTINUED

24 pemikiran pada “Heir & Heiress (Chapter 4)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s