Go Sarang! (Chapter 4)

GO SARANG!

Judul : GO SARANG! Chapter 4

Author : Xoxo_baekhun

Genre : Romance, Family, Relationship, Sad

Length : Chapters

Main Casts:

  1. Elaine Lee
  2. Park Chanyeol
  3. Oh Sehun

Supporting Casts:

  1. Lee’s Family
  2. Park’s Family

And others..

Rating : PG-15 (Maybe)

Summary : Apa yang akan terjadi antara El dan Sehun setelah perkenalan El dengan Chanyeol? Akankah ada yang berubah diantara mereka?

 

LET’S GET STARTED ^^

 

“Terimakasih banyak Chanyeol-ssi.” Ucap El setelah Chanyeol menemaninya berjalan menuju rumahnya dari Stasiun Bus Apgujeong.

“Sama-sama, El-ssi.” Balas Chanyeol, kemudian tersenyum malu-malu.

Keduanya pun terdiam di depan rumah keluarga El. Chanyeol benar-benar tidak menyangka bahwa El tinggal di rumah yang sangat besar dan indah.

“Baiklah, kau pulang saja, Chanyeol-ssi. Hati-hati dijalan ya.” Ucap El sambil tersenyum.

Chanyeol pun membalas senyum El, kemudian menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Itu memang sudah menjadi kebiasaan Chanyeol sedari dulu.

Baik Chanyeol maupun El tidak ada yang bergerak. Keduanya tetap berdiri tersenyum berhadap-hadapan.

“Chanyeol-ssi?” Panggil El yang merasa Chanyeol sedang melamun.

“Ah ye?” Ucap Chanyeol, setengah kaget. Kemudian menggaruk kembali kepalanya.

“Kau masuklah dulu.” Ucapnya setelah melepaskan tangannya dari kepalanya.

“Kau pulanglah dulu.” Ucap El, lalu tersenyum.

“Aku akan pulang jika kau sudah masuk.” Balas Chanyeol, kemudian mendorong tubuh El pelan menuju pintu rumahnya yang dicat coklat-emas.

Kemudian keduanya tertawa pelan. El pun menghentikan dorongan Chanyeol, dan berbalik menghadap Chanyeol.

“Baiklah aku akan masuk dulu. Annyeong, sampai jumpa lagi. Hati-hati dijalan, Chanyeol-ssi.” Ucap El, kemudian tersenyum dan tak lupa melambaikan tangannya.

“Baiklah. Sampai jumpa.” Balas Chanyeol sambil tersenyum dan melambaikan tangannya kearah El.

 

Setelah memastikan bahwa El sudah benar-benar masuk kedalam rumahnya, Chanyeol bergegas menuju gedung SM Entertainment, dimana Ia akan memulai mimpinya menjadi seorang pencipta lagu. Lagi-lagi Ia boleh berbangga hati, karena seorang teman Noonanya berhasil mengenalkan dirinya kepada salah satu CEO di perusahaan musik nomor satu di negaranya itu. Jadi, sekarang ini, Chanyeol sedang berusaha menciptakan lagu-lagu, yang nantinya akan diseleksi oleh CEO untuk dinyanyikan oleh group idola bentukan mereka.

“Semoga ini menjadi awalan yang baik bagi karirku.” Batinnya.

 

 

 

Mr. and Mrs. Lee’s House

Apgujeong- Gangnam, Seoul – South Korea

 

“Dia kekasihmu?” Tanya Tuan Lee tiba-tiba setelah melihat anak sulungnya masuk kedalam rumah.

Yang ditanyapun kaget setengah mati, karena tak menyangka sedaritadi Ayahnya berdiri didepan jendela dan melihat dirinya bersama Chanyeol tadi.

“Appa? Apa yang Appa lakukan?” Tanya El menutupi rasa gugupnya yang diperhatikan oleh Ayahnya seperti itu.

Tuan Lee pun langsung tak kuasa menahan tawanya melihat kegugupan anaknya. Ia pun langsung berjalan kearah El, kemudian memeluk lembut anaknya itu.

“Jadi itu kekasihmu? Boleh juga.” Ledek Tuan Lee, kemudian tertawa kecil.

“Appa. Dia bukan kekasihku.” Protes El, kemudian melepas pelukan Ayahnya. Lalu berjalan kearah ruang tamu tempat dimana Ibu dan Adiknya sedang menonton televisi.

Semenjak mereka tinggal di Korea, Tuan dan Nyonya Lee memang selalu berusaha meluangkan waktu mereka untuk kedua putri mereka. Tuan dan Nyonya Lee masih bisa berada di rumah dimalam hari selesai bekerja. Dan waktu itu menjadi waktu yang tepat agar mereka bisa berkumpul bersama.

“Kau sudah punya kekasih?” Tanya Dan, ikut menggoda kakaknya itu.

Mereka tampak penasaran menunggu jawaban El. El pun hanya bisa menggeleng malas dan bersender pada sofa yang tengah didudukinya.

“Yeobo, bagaimana wajahnya? Apa Ia tampan?” Tanya Nyonya Lee pada suaminya yang memang sudah melihat wajah pria yang mereka anggap adalah kekasih El.

“Aku tidak dapat melihatnya dengan jelas, yeobo. Tapi Ia sangatlah tinggi.” Jawab Tuan Lee yang kini tengah duduk disebelah El.

“Benarkah? Wah, aku jadi penasaran bagaimana wajahnya.” Ucap Dan asal. Kemudian Ia tersenyum menggoda kakaknya.

El, yang merasa diperhatikan oleh keluarganya pun, malah menatap balik Dan dengan tatapan “apa kau!?”

“Kenapa kau tidak menyuruhnya masuk? Appa kan ingin melihat kekasihmu.” Goda Tuan Lee lagi.

“Appa, sudah kubilangkan Chanyeol-ssi itu bukan kekasihku.” Jelas El malas, sekaligus kesal karena terus-terusan digoda.

Entah kenapa, keluarganya senang sekali menggodanya untuk urusan percintaan seperti ini.

“Oh, jadi namanya Chanyeol?? Berapa umurnya?” Tanya Dan, ikut-ikutan.

Kedua orangtuanya pun juga ikut penasaran. Mereka bertiga menatap El dengan tatapan penasaran.

“Kau ini mau tahu saja.” Jawab El kesal.

“Sudah ya, Appa, Eomma. Aku ingin mandi dan lekas tidur.” Ucap El, kemudian mengambil tasnya, dan bangkit berdiri.

“Apa kau sudah makan?” Tanya Nyonya Lee lembut.

“Sudah. Aku sudah makan tadi.” Jawab El sopan.

“Bersama Chanyeol Oppa?” Tanya Dan meledek kakaknya.

“Ya! Kau ini!” Ucap El kesal.

“Sudah-sudah. Jangan bertengkar.” Ucap Nyonya Lee, meleraikan putri-putrinya.

 

El pun beranjak masuk kedalam kamarnya untuk beristirahat. Ia merasa sangat lelah hari ini.

Sementara Tuan dan Nyonya Lee, serta tak ketinggalan putri bungsunya, masih terus menerka-nerka pria tadi.

El memang tak pernah membawa seorang pria pun untuk bertemu dengan kedua orangtuanya. Mereka berdua pun tidak pernah bertemu secara langsung dengan Jack, mantan kekasih El. Selama ini, mereka mengetahui Jack hanya lewat cerita-cerita El dan Dan. El berkata, bahwa dirinya belum mau mempertemukan kedua orangtuanya dengan Jack.

 

 

Seoul National University, Seoul

April 1st , 2013

 

Siang ini, El bersama temannya Minjae, Kim Minjae, memutuskan untuk makan bersama di kantin.

Siang ini, kantin memang terlihat lebih sepi dari biasanya, namun tetap terlihat ramai.

Setelah keduanya memesan makanan, keduanya memutuskan untuk duduk disalah satu kursi yang tak jauh dari pintu kantin. Minjae duduk didepan El, yang kini sedang berdoa sebelum menyantap makan siangnya.

“Selamat makan.” Ucapnya setelah selesai memanjatkan doa makan siang.

“Selamat makan.” Balas Minjae, kemudian tersenyum.

“Kau tahu, akhir-akhir ini banyak murid yang membicarakanmu dengan Oh Sehun-ssi.” Ucap Minjae tiba-tiba, setelah merasa dirinya dan El terus menerus diperhatikan oleh orang-orang di kantin.

El pun tak mengerti maksud dari ucapan Minjae. Ia memutuskan untuk menghentikan aktivitas makannya, dan menunggu Minjae melanjutkan ucapannya.

“Iya, akhir-akhir ini, banyak murid yang membicarakanmu.” Jelas Minjae lagi, kali ini suaranya sengaja Ia pelankan agar tidak didengar orang lain.

“Aku juga merasa seperti itu. Tapi, memang ada apa? Apa aku membuat kesalahan?”

Sungguh, El benar-benar sudah muak melihat tatapan tak suka dari murid-murid lain. El saja tidak mengenal mereka semua, bagaimana bisa mereka tidak suka dengannya.

Sungguh berbanding terbalik dengan orang-orang Inggris. Orang-orang di Inggris akan langsung menyatakan rasa tak suka mereka terhadap seseorang yang sudah dianggap mengganggu kehidupan mereka. Tidak seperti orang-orang di tempatnya sekarang ini berada, dimana mereka membicarakan oranglain dibelakangan si pemilik nama.

“Dasar pengecut.” Ucapnya dalam hati.

“Jadi begini, El. Kau tahu, akhir-akhir ini kau dan Sehun-ssi tampak begitu dekat. Mereka mengira, kalian berpacaran.” Jelas Minjae hati-hati.

“Apa? Aku dan Sehun-ssi? Kami tidak berpacaran, Minjae-ya” Jelas El, kemudian tertawa kecil.

Meski tak ada yang lucu, Ia tetap saja tertawa kecil menghadapi alasan dari tatapan tak suka murid-murid di kampus nomor satu di Korea Selatan ini.

“Mereka mengira, kalian berpacaran.” Jelas Minjae.

El pun menatap Minjae dengan serius.

“Begini ya, biar aku perjelas. Aku dan Sehun-ssi tidak pernah berpacaran dan sedang tidak berpacaran.” Balas El serius. Kemudian Ia melipat kedua tangannya didepan dadanya dan berpikir sejenak.

“Tunggu. Memang kalau aku dan Sehun benar-benar berpacaran, ada masalah apa dengan mereka semua?” Tanya El pada Minjae.

Minjae pun menghela napas singkat. Ia benar-benar tak kuat melihat aksi temannya yang satu ini.

“Apa kau tak tahu?” Tanya Minjae pelan. Kali ini, Ia sudah memusatkan tatapannya kearah El.

El pun mencondongkan tubuhnya kearah Minjae, kemudian menggeleng.

“Tahu apa?” Tanya El, bingung dan juga penasaran.

“Baiklah, biar aku beritahu padamu. Oh Sehun-ssi adalah anak tunggal dari Oh Kwangmin-ssi.” Jelas Minjae pelan. Ia benar-benar takut ada orang lain yang mendegarkannya sedang bergosip tentang seorang Oh Sehun. Ia tidak mau mencari masalah selama Ia duduk di bangku SNU.

El pun menatap Minjae dengan tatapan bingung dan tak mengerti. “Lalu?” Tanyanya.

“Jadi, dia itu adalah anak orang penting di Korea. Bukan. Maksudku, se Asia. Kau tahu, SE- A-S-I-A.” Jelas Minjae putus asa karena mengetahui El benar-benar buta tentang berita-berita di Korea Selatan.

El benar-benar tidak mengerti maksud dari ucapan Minjae barusan. “Lalu apa masalahnya kalau Sehun adalah anak orang penting di Asia?” Tanya El pada akhirnya.

Minjae pun menepuk jidatnya pelan, tanda Ia benar-benar putus asa pada gadis dihadapannya.

“Itu tandanya, kau sedang dekat dengan kaya raya. Kau tahu, ayah Sehun-ssi memiliki kekayaan yang tak ternilai harganya. Ayah Sehun masuk sebagai orang terkaya nomor 5 di negeri ini.” Jelas Minjae. Kali ini suaranya sudah tak sepelan sebelumnya.

“Jadi mereka semua hanya cemburu?” Tanya El, mulai mengerti seluruh permasalahan yang terjadi.

“Iya. Mereka juga ingin menjadi kekasih seorang Oh Sehun.” Jelas Minjae.

“Mereka mengira, kau ini hanya ingin memanfaatkan kekayaan keluarga Sehun-ssi.” Sambung Minjae, hati-hati. Takut menyinggung perasaan El.

El pun hanya tertawa mendengar ucapan Minjae barusan.

‘Mereka kira aku akan menghabiskan uang keluarga Sehun? Dasar orang-orang tidak penting. Apa mereka tidak tahu siapa Ayahku? Aku ini adalah anak dari seorang pemilik department store nomor satu di Korea dan Jepang. Aku tidak butuh uang milik oranglain. Dasar bodoh!” Ucap El dalam hati.

Mungkin murid-murid di kampus ini memang belum mengetahui keluarga El yang sebenarnya. Mereka hanya tahu bahwa El merupakan mahasiswi pindahan dari Inggris dengan kemampuan berbahasa inggris yang tak perlu diragukan lagi.

“Sudahlah, tidak usah pedulikan mereka.” Ucap El pada akhirnya.

Ia pun melanjutkan makan siangnya yang sempat tertunda. Minjae pun juga ikut menghabiskan makan siangnya.

Karena El sudah tidak ada jadwal kuliah hari ini, Ia memutuskan untuk segera pulang. Sementara, Minjae masih harus berjuang melawan 2 jam bersama Prof. Min dimata pelajaran Management Business.

 

Diperjalanan menuju koridor kampus, El dihadapkan dengan empat mahasiswi yang tengah menatapnya dengan tatapan sinis.

El pun mengangkat satu alisnya, kemudian mencoba untuk melewati ke-empat mahasiswi itu.

Namun, salah satu diantara mereka malah mendorong kuat bahu kiri El, hingga Ia terdorong. El pun sempat mengaduh kesakitan, sekaligus tak mengerti apa mau empat orang dihadapannya.

“Ada apa?” Tanya El malas, kemudian merapihkan bajunya.

“Apa yang kau lakukan dengan Sehun Oppa?” Tanya salah satu mahasiswa yang tadi mendorong kuat bahunya.

‘Oppa?’ Pikir El dalam hati, kemudian tertawa.

Entah kenapa El masih merasa aneh dengan panggilan semacam itu. “Memuakan.” Pikirnya.

El pun hanya tersenyum kecil, kemudian menatap malas gadis dihadapannya ini. Karena Ia memanggil Sehun dengan sebutan ‘oppa’, berarti gadis ini merupakan juniornya. “Benar-benar tidak sopan. Mencari masalah dengan sunbae nya sendiri.” Ucap El.

Gadis itu pun langsung mendekat kearah El. Jelas saja, El lebih tinggi dari gadis dihadapannya itu.

Tak terasa keduanya kini tengah menjadi pusat perhatian murid-murid di SNU. Kebanyakan dari mereka bahkan memotret aksi El dan juniornya itu. ‘Benar-benar kampungan.’ Pikir El.

“Kau kira aku tidak berani padamu hanya karena kau seorang sunbae!?” Ucap gadis itu kencang.

Akibat dari ucapan itu, banyak murid yang meneriaki mereka dan menyemangati gadis itu untuk segera memukul El. El pun hanya tersenyum sinis, merasa jijik lebih tepatnya.

‘Oh come on! This is not my style. Bertengkar hanya karena memperebutkan seorang pria.’ Pikirnya dalam hati.

“Lalu mau mu apa?” Tanya El santai.

“Kau mau berkelahi denganku? Maaf, aku tidak mau mengotori kedua tanganku.” Ucap El sinis, yang ditanggapi oleh teriakan seru dari murid-murid yang tengah menonton mereka.

“Kau ini! Kau jangan macam-macam ya denganku! Aku ini adalah calon tunangan Sehun Oppa! Aku bisa saja meminta Sehun Oppa untuk menghabisimu!” Ucap gadis itu kencang.

“Silahkan beritahu pada Oppa-mu itu.” Ucap El dengan menekankan kata Oppa.

“Kau ini!” Ucap gadis itu lalu menjambak rambut panjang El yang hari ini terurai indah.

Semua murid pun berteriak semangat menyaksikan pertarungan antara Senior dan Junior itu.

“Ayo!”

“Ayo!!!!”

“Pukul lagi!!”

“Yoora-ya, kau pasti menang!!”

“Aku bertaruh El lah yang akan menang!”

“Aku akan mengambil gambar ini!”

Semua tanggapan itu terasa seperti angin lalu bagi El dan Yoora. Keduanya tetap dengan aksi perkelahian mereka.

Jelas terlihat bahwa El sangat tidak ingin berkelahi, tapi aksi Yoora menjambak rambutnya lebih dulu, membuatnya kesal dan tidak terima. Selama Ia hidup, Ia tidak pernah dipukul oleh oranglain, termasuk oleh kedua orangtuanya.

 

Kini keduanya sibuk menjambak rambut dan mendorong lawan mereka.

 

Tanpa diinginkan, Sehun dan kedua sahabatnya, Jongin dan Luhan, melewati kerumunan murid-murid SNU. Mereka bertiga kebingungan akan apa yang sedang terjadi.

“Tumben sekali ada yang berkelahi di kampus.” Ucap Luhan.

“Hei Sehun! Lihat, kekasihmu sedang berkelahi.” Panggil seorang mahasiswa bisnis yang merupakan teman sekelas Sehun.

Sehun pun binggung dengan kata ‘kekasih’. Lalu Ia mencoba masuk dalam kerumunan murid-murid SNU, dan betapa kagetnya Ia ketika melihat El sedang berkelahi.

Lantas Sehun langsung mencoba meleraikan kedua perempuan itu. Ia segera melepaskan perkelahian itu dan menarik El menjauhi Yoora. Sementara Yoora kini telah ditarik oleh ketiga temannya yang sedaritadi setia menemani Yoora berkelahi.

El dan Yoora kaget ketika mengetahui Sehun lah yang melerai perkelahian mereka. Lalu Sehun menatap El dengan tatapan tak suka sekaligus kecewa.

Ia tidak menyangka El bisa berkelahi seperti tadi.

“Apa yang kalian lakukan?!! PERGI!” Perintah Sehun kepada murid-murid yang sedaritadi memperhatikan mereka.

Sehun masih tetap memegangi tubuh El yang bergetar. Antara marah dan juga kesakitan.

Ketika seluruh kerumunan pergi, kini yang tersisa hanya Sehun yang masih tetap memperhatikan El yang kini tengah membenamkan kepalanya di dada Sehun. Sehun benar-benar dapat merasakan getaran hebat yang terjadi pada El. Serta ada juga Yoora yang masih menangis ditemani ketiga temannya, serta Jongin dan Luhan yang berdiri dalam diam.

“Oppa.” Isak Yoora pada Sehun yang sedang memeluk El.

Yang dipanggil pun hanya diam menatap Yoora tanpa berniat melepas pelukannya pada El.

“Oppa. Sakit.” Ucap Yoora lagi sambil menangis.

Sehun tahu betul bahwa Yoora, anak teman Ayahnya, ini juga ingin dipeluk seperti apa yang Ia lakukan pada El. Tapi Sehun mengabaikan segala ucapan Yoora.

“Sudahlah, Yoora-ya. Ayo bangun.” Ucap satu dari teman Yoora, mencoba untuk membujuk Yoora agar bangun dan berhenti menangis.

Namun nihil, Yoora tidak mau bangun dan tak mau berhenti menangis. Hingga akhirnya Sehun melepaskan pelukannya pada El dan menatap El sebentar. El memang tidak menangis seperti apa yang dilakukan Yoora, tapi El melihat Sehun dengan tatapan ‘jangan tinggalkan aku.’

Sehun pun berjongkok mengambil tas milik El yang tadi terjatuh, kemudian Ia kembali menarik tangan El menuju parkiran kampus.

“OPPA!!” Panggil Yoora berteriak.

Jongin dan Luhan pun mengikuti langkah Sehun tanpa memperdulikan gadis yang kini semakin menangis.

 

 

 

Oh’s Family House

Pyeongchan-dong, Seoul

Setelah kejadian di kampus tadi, Sehun memutuskan untuk membawa El pulang kerumahnya. Tentu saja El tak mungkin pulang dengan kondisi seperti ini. Pakaiannya terlihat sangat berantakan, bahkan akibat tarikan kuat Yoora, kancing kemeja biru laut El copot. Untungnya Ia masih mengenakan tank top hitam didalamnya. Rambut panjang indahnya pun seakan hilang tergantikan oleh rambut acak-acakan akibat ulah Yoora barusan. Bibir indah El pun lebam, meski tidak terlalu perah. Dan wajahnya terlihat sangat buruk karena sedaritadi Ia tetap menekuk wajahnya.

Sehun juga memutuskan untuk tidak berbicara pada gadis yang kini sedang berada di kamar milik Sehun sedaritadi. Sehun memutuskan untuk ‘memperbaiki’ gadis ini sebelum mengatarnya pulang.

Sehun mengambil kaos GUESS putih miliknya dari dalam lemari, serta celana tidur miliknya. Sungguh, Ia benar-benar tidak memiliki baju yang lebih baik lagi dari itu untuk El. Ia tak mungkin meminjam baju Ibu tirinya, sementara baju Ibu  kandungnya sudah diberikan kepada panti jompo oleh Ayahnya 2 tahun yang lalu.

“Gantilah dulu. Kamar mandinya ada disana.” Ucap Sehun lembut sambil menunjukkan kamar mandi yang berada didalam kamarnya. Kemudian Ia menyerahkan baju dan celana ganti kepada El.

El pun mengambil pakaian tersebut dan kemudian berjalan menuju kamar mandi yang Sehun tunjukan. Kemudian Ia menutup pintu kamar mandi dan mengunci pintunya.

Setelah masuk kamar mandi, El langsung dapat melihat pantulan wajah buruknya lewat kaca besar. Kemudian Ia langsung berdiri didepan kaca itu, lalu menggerakan tangan kanannya kearah bibirnya, kemudian pipi kanannya yang tampak lebam.

“Apa yang telah aku lakukan?” Tanyanya dalam hati, merutuki perkelahian yang baru saja Ia lakukan.

Itu adalah kali pertama El berkelahi dengan sesorang. Sungguh, El adalah sosok perempuan dewasa yang tak pernah menggunakan kekerasan dalam setiap masalah yang ada.

Ia merasa dirinya sangatlah sial hari ini. Ingin rasanya ia berteriak sekencang-kencangnya dan menangis. Menangis karena kesakitan, menangis karena kecewa, dan juga menangis terhadap reaksi kedua orangtuanya jika mereka tahu putri sulung mereka berkelahi di kampus. Tapi air matanya tak mau keluar. Ia hanya bisa menatap kasihan pada dirinya sendiri.

Setelah menguncir asal rambutnya, serta mengganti pakaiannya dengan pakaian Sehun, yang tentu saja sangatlah kebesaran ditubuhnya, Ia segera keluar dari kamar mandi dan berjalan kearah tempat tidur Sehun, dimana Sehun tengah duduk sambil menunggunya.

Setelah melihat El keluar dari kamar mandi, Sehun hanya bisa menatap El dengan tatapan yang sulit ditebak. Sehun merasa tak enak pada El karna harus menggunakan pakaian kebesaran miliknya. Setelah terdiam sebentar, Sehun menyuruh El untuk duduk disebelahnya.

“Duduklah.” Ucap Sehun, lalu mengambil kotak P3K dikasurnya yang memang sudah Ia ambil terlebih dahulu.

El pun duduk disamping Sehun, dan memperhatikan Sehun yang tengah berusaha mengobati lebam disekitar wajahnya.

El sempat meringis sesekali dan memejamkan matanya kesakitan ketika Sehun mengarahkan kapas yang telah diberi obat terlebih dahulu kearah luka kecilnya.

Kemudian El secara tak sadar memegang lengan Sehun, tanda Ia sedang kesakitan. Sehun sangatlah senang, tentunya. Ia tak mengira, dirinya bisa mengobati luka-luka El.

“Tahanlah.” Ucapnya pelan mencoba mengurangi sakit El.

“Terimakasih.” Ucap El, kemudian tesenyum kecil kearah Sehun setelah Sehun selesai mengobati lukanya.

Memang bukan pengobatan ala rumah sakit yang Sehun berikan. Sehun hanya mengompres kecil lebam-lebam di wajah El, serta membersihkan luka di wajah El menggunakan obat khusus.

Sehun pun membalas ucapan terimakasih El dengan senyuman. Kemudian Ia menyuruh El untuk beristirahat sejenak. Kemudian Ia keluar dari kamarnya dan meminta pembantu rumah tangga di rumahnya untuk memasakan bubur ayam.

 

 

SM Entertainment Building

Apgujeong, Seoul

“Hyung, berhentilah bermain-main.” Ucap Chanyeol pada Cho Kyuhyun, salah satu lead vocal dari group band terkenal saat ini, Super Junior.

“Aigo, Chanyeol-ah. Aku sedang bosan. Bisakah kita berhenti dulu latihannya?” Tanya Kyuhyun pada Chanyeol yang kini tengah memegang gitarnya.

Hari ini, Chanyeol memang mendapatkan kesempatan langsung untuk menemani Kyuhyun, Ryeowook, dan Sungmin, yang merupakan lead vocal Super Junior untuk berlatih lagu baru mereka yang diciptakan oleh Chanyeol.

Chanyeol sudah berhasil meyakinkan CEO SM Entertainment untuk mempergunakan lagu ciptaannya pada salah satu group idola mereka.

Beruntunglah, member-member Super Junior sangat ramah dan tidak sombong meski umur mereka jauh diatas Chanyeol. Mereka semua menganggap Chanyeol sebagai sosok pria muda yang sangat berbakat. Terbukti dari lagu-lagu ciptaannya yang diyakinin member Super Junior akan menjadi hits di tangga lagu musik Korea Selatan,bahkan Asia.

“Iya, hyung. Tapi kita tidak punya banyak waktu.” Ucap Chanyeol, mencoba mengajak ketiga hyungnya itu untuk berlatih lagi, meski Chanyeol pahami, ketiga hyung didepannya ini sedang sangat lelah dan jenuh dengan aktivitas-aktivitas mereka.

“Benar kata Chanyeol, Kyuhyun-ah. Kita harus benar-benar berlatih dengan baik agar lagu ini cepat muncul di pasaran, dan aku tetap bisa berpartisipasi di lagu ini sebelum akhirnya pergi wajib militer.” Ucap Sungmin sedikit sedih mengingat waktunya menjalankan tugas negara sudah hampir tiba.

 

 

 

TBC……………

5 pemikiran pada “Go Sarang! (Chapter 4)

  1. emmm sehun pasti seneng banget tuh kekekee..
    kayaknya el sama chanyeol sama-sama suka deh..
    ak suka cerita ketemuan mereka yg terkesan alami dan nggak dipaksain buat sengaja ketemu

Tinggalkan Balasan ke tasya aqilla zahra Batalkan balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s