Bittersweet (Chapter 1)

“ Bittersweet “ [Part 1]

Cast : Kim Jongin . Kim Junmyeon . Kim Minseok . Kim Jongdae . Park Chanyeol . Byun Baekhyun.

Genre : Family , Sad.

Author : blueplanets

[ Author’s Note : All casts is belongs to their parents, S.M. Enterteinment, and of course GOD. All story is belongs to ME. PLEASE DONT COPY AND PASTE MY FICTIONS WITHOUT PERMISSON! PLEASE DONT DO PLAGIARISM WITH MY FICTIONS. Be creative and dont be a silent reader please ^_^ ]

bitterweet cover

___

“Aku menyayangi mereka semua. Rasa sayangku sebesar rasa sayang mereka padaku. Aku sangat bersyukur karena mereka bisa menerima orang bodoh sepertiku di sekitar mereka. Aku mencintai kalian”

___

 

Seorang pemuda bertubuh tinggi dan berpiyama duduk melamun di sebuah kursi di sebuah tanah lapang dekat rumahnya. Pemuda itu terlihat memegang erat sebuah alat perekam di tangannya. Pemuda itu memandang kosong ke depan dengan mulut terbuka menganga. Sampai akhirnya sesuatu membentur kepalanya yang membuat pemuda itu buyar dari lamunannya.

Pemuda itu meringis pelan dan mengusap – usap kepalanya lalu menoleh kebelakang. Ia melihat lima orang anak laki – laki sedang menatapnya datar. “Bodoh! Pergi dari situ! Kami tidak bisa bermain jika kau diam di situ!” bentak mereka.

“Aku tidak . . .”

“Pergi!” bentak mereka.

Pemuda itu pun menunduk dan bangkit dari duduknya kemudian berjalan pergi dari tempatnya duduk. Langkahnya terhenti ketika ia melihat seseorang didepannya. “Baekhyun-ah . . .”.

“Park Chanyeol. Sudah berapa kali kubilang untuk tidak menghiraukan kata – kata mereka. Aku tidak bisa menemanimu sepanjang hari!” gertak Baekhyun kesal. Chanyeol pun menunduk dan diam.

“Aku . . . tidak bisa bermain dengan mereka”

“Kenapa?!” bentak Baekhyun lagi. Lagi – lagi Chanyeol terdiam. Baekhyun menghelakan nafas panjang kemmudian mengacak – acak rambutnya frustasi.

“Maafkan aku” gumam Chanyeol pelan.

“Ikut aku” kata Baekhyun sambil menarik tangan Chanyeol dengan paksa. Chanyeol mau tak mau berjalan mengikuti Baekhyun, masih dengan kepala menunduk.

Mereka berjalan mendekati kelima anak yang sedang asik bermain bola di tanah lapang tersebut. Baekhyun menatap kesal kelima anak tersebut sambil bergumam. Sementara Chanyeol hanya diam menatap Baekhyun yang sibuk mengoceh. Ia penasaran apa yang akan dilakukan Baekhyun kali ini.

Bola yang dimainkan kelima anak tersebut menggelinding mendekati Baekhyun dan Chanyeol. Baekhyun menatap bola itu dan tersenyum tipis. Ia pun menginjak bola itu dengan satu kaki. Kelima anak itu datang ke arah mereka. “Hyung, tolong berikan bola itu pada kami” pinta mereka.

“Tidak. Setelah kalian mengabulkan permintaanku” kata Baekhyun.

“Apa itu?”

“Ajaklah Chanyeol bermain bersama kalian” jawab Baekhyun singkat.

Kelima anak itu terdiam kemudian menatap Chanyeol yang masih menundukan kepalanya dengan kesal. “Kami tidak mau” tolak mereka.

“Atau akan ku ambil bola ini dan kuberi tahu ibu kalian apa yang telah kalian perbuat” ancam Baekhyun.

“Hyung . . .”

Baekhyun menatap mereka tajam dan terus melontarkan ancaman yang sama. Kelima anak itu tidak bisa berkomentar lagi dan mengangguk setuju. Chanyeol masih tidak berekspresi ketika kelima anak itu menyepakati perjanjian mereka dengan Baekhyun.

Chanyeol menatap Baekhyun. Baekhyun pun sebaliknya. Ia menatap Chanyeol sambil tersenyum. “Beritahu aku jika mereka melakukan hal – hal aneh padamu lagi, mengerti?”. Chanyeol mengangguk tersenyum kemudian memberikan alat perekam yang sedari tadi ia pegang pada Baekhyun. Baekhyun memberikan bola itu pada ke lima anak tersebut. Mereka pun menarik tangan Chanyeol dan mengajaknya bermain.

Baekhyun mengehelakan nafasnya. Lega dengan apa yang ia lakukan barusan. Ia menatap Chanyeol yang sedang sibuk menendang bola dari kejauhan sambil memegang alat perekam yang ia berikan pada Chanyeol. Baekhyun melihat alat perekam itu dan teringat bagaimana pertama kali ia memberikan alat itu pada Chanyeol.

Ia memberikan alat itu sebagai hadiah ulang tahun Chanyeol yang ke – 17. Chanyeol sering bercerita padanya kalau ia ingin bercita – cita menjadi penyanyi. Baekhyun memberikan alat perekam Chanyeol dan menyuruhnya merekam suaranya lalu memberikannya pada Baekhyun. Baekhyun berjanji akan memberikannya komentar padanya.

Baekhyun mengeluarkan memory card dari alat itu kemudian memasukannya ke dalam handphonenya. Ia pun memutar semua rekaman suara yang dibuat Chanyeol beberapa hari ini. Lagi – lagi Baekhyun tersenyum mendengar suara Chanyeol bernyanyi dalam rekaman itu. Tanpa sadar air matanya menetes ketika ia mendengar Chanyeol mengatakan sesuatu yang membuat hatinya sangat tersentuh.

“Aku membuat lagu ini untuk semua orang yang mencintaiku. Baekhyun , Junmyeon Hyung , Jongin, Minseok Hyung , Jongdae Hyung. Aku menyayangi mereka semua. Rasa sayangku sebesar rasa sayang mereka padaku. Aku sangat bersyukur karena mereka bisa menerima orang bodoh sepertiku di sekitar mereka. Aku mencintai kalian”

***

“Kami pulang” kata Baekhyun sesampainya di rumah.

“Baekhyun-ah! Dari mana saja kahu?! Kau tidak tahu betapa . . .” Kalimat Junmyeon terputus ketika melihat Chanyeol mengekor di belakang Baekhyun lalu memberi salam pada Junmyeon.

“Aku bertemu dengannya ketika pulang sekolah tadi” kata Baekhyun.

Junmyeon mengehembuskan nafas lega kemudian menyuruh Baekhyun dan Chanyeol masuk. Sesampainya di dalam rumah, mereka melihat Jongin , Minseok , dan Jongdae yang sedang menonton tv di ruang keluarga. Jongin melihat Chanyeol dengan kesal kemudian berdiri meninggalkan ruang keluarga dan masuk ke dalam kamarnya.

“Jongin masih marah padaku ya?” tanya Chanyeol pelan.

“Tidak. Dia tidak marah padamu” kata Junmyeon menghibur Chanyeol.

“Tetapi dia terus bersikap seperti itu padaku. Apa aku harus minta maaf padanya?”

“Tidak perlu. Kau tidak salah, mengerti? Sekarang pergi ke kamarmu dan istirahat” kata Junmyeon. Chanyeol mengangguk kemudian berjalan menuju kamarnya. Diikuti Baekhyun yang mengekor diam – diam dibelakangnya.

Chanyeol duduk di kasurnya. Lagi – lagi dengan tatapan kosong. Ia tidak tahu harus melakukan apa agar Jongin tidak marah lagi dengannya. Ia terus mengusap – usap punggung tangannya dengan gugup. Itulah yang sering ia lakukan tanpa sadar ketika ia gugup atau khawatir.

Baekhyun memandang Chanyeol dalam diam dari pojok kamar. Chanyeol masih belum menyadari keberadaannya. Baekhyun mengeluarkan handphonenya dan berjalan ke arah Chanyeol kemudian duduk disebelahnya.

Chanyeol menoleh kearahnya. “Baekhyun – ah , sejak kapan kau disini? Bagaimana kau bisa masuk sini. Seingatku, aku telah mengunci kamarku” kata Chanyeol heran.

“Aku mengikutimu. Apa kau tidak menyadarinya?” kata Baekhyun terkekeh.

Chanyeol mengangguk mengerti kemudian kembali menundukan kepalanya. Baekhyun memutar lagu yang dinyanyikan Chanyeol kemudian menempelkan handphonenya di telinga Chanyeol.

“Park Chanyeol, kau tahu? Aku selalu terpukau mendengar suaramu. Aku , Junmyeon , Jongdae , Minseok Hyung , dan Jongin selalu mendengar rekaman suaramu setiap kali kami merasa lelah. Suaramu bagaikan sebuah energi bagi kami” kata Baekhyun.

“Jongin . . . juga mendengarnya?” tanya Chanyeol tak percaya.

Baekhyun mengangguk tersenyum. “Percaya padaku. Dia tidak membencimu, seperti apa yang kamu pikirkan selama ini. Dia menyayangimu tetapi tidak tahu bagaimana cara menunjukannya padamu. Mulai sekarang, jangan merasa menyesal pada dirimu sendiri. Mengerti?”

“Tetapi Jongin pernah berkata bahwa ia malu mempunyai Hyung bodoh sepertiku” gumam Chanyeol pelan.

“Seperti yang sudah kubilang. Dia tidak tahu bagaimana menunjukan rasa sayangnya padamu” kata Baekhyun lembut.

“Benarkah?” tanya Chanyeol tersenyum.

Baekhyun mengangguk. Kemudian terdiam ketika melihat Chanyeol tersenyum memandang sebuah bingkai foto di depannya. Fotonya bersama Jongin yang diambil ketika liburan musim panas lalu. Baekhyun menghembuskan nafasnya panjang kemudian mengeluarkan alat perekam dari sakunya dan lagi – lagi menatapnya.

“Chanyeol – ah, sebaiknya kau istirahat. Aku akan memberikan alat ini padamu nanti, setelah aku memberikan komentarku. Mengerti?” tanya Baekhyun disambut anggukan semangat Chanyeol.

***

“Kim Jongin. Sudah kubilang jangan menunjukan sikapmu itu di depan Chanyeol!” gertak Junmyeon kesal.

“Kenapa?! Karena Hyung takut aku menyakiti perasaanya?! Hyung tidak mengerti bagaimana perasaanku di permalukan oleh teman – temanku sendiri karena mempunyai Hyung bodoh seperti dia?! Hyung seharusnya mengerti perasaanku!” bentak Jongin.

“Apa katamu?!”

“Junmyeon – ah, sudahlah” kata Baekhyun yang berusaha meredakan amarah Junmyeon.

Jongdae dan Minseok menatap Jongin dan Junmyeon dalam diam. Jongin masih menatap tajam Junmyeon sementara Junmyeon mengepalkan tangannya dan bersiap menghajar Jongin. Baekhyun masih berdiri di antara Junmyeon dan Jongin untuk melerai mereka.

“Junmyeon –ah , masuk ke kamarmu sekarang. Kim Jongin, kita harus bicara. Jongdae dan Baekhyun, kembali ke kamar kalian sekarang juga” kata Minseok datar.

Jongdae , Baekhyun , dan Junmyeon dengan enggan melangkah ke arah kamar mereka masing – masing. Hanya Jongin dan Minseok yang masih berada di ruang keluarga.

Setelah Minseok memastikan bahwa mereka bertiga telah masuk kedalam kamar mereka, Minseok menatap Jongin dengan serius. “Mengapa kau bersikap seperti ini?”

Jongin menatap Minseok tak percaya. Minseok menahannya untuk mebahas masalah yang menurutnya tidak penting untuk di perbincangkan. ”Hyung , aku sudah berkata mengapa aku bersikap seperti ini. Apa harus ku ulang lagi?” ujar Jongin kesal.

“Kim Jongin! Dengarkan aku. Jika kau berada di posisi Chanyeol, bagaimana perasaanmu jika diperlakukan seperti itu? Aku mengerti bagaimana perasaanmu dipermalukan oleh teman – temanmu seperti itu. Tapi apa rasa sakit hatimu sebesar rasa sakit yang di alami Chanyeol? Kau hanya dipermalukan. Tetapi dia? Dijauhkan , dikucilkan , bahkan ia menyendiri karena tidak ada yang mau berteman dengannya” kata Minseok panjang lebar. Jongin hanya diam mendengarkan.

“Meskipun kamu dipermalukan, kamu masih memilik beberapa teman yang bisa menghiburmu. Sementara Chanyeol hanya memiliki kita yang bisa menghiburnya. Baginya, hanya kita yang mau berteman dan bergaul dengannya. Kau seharusnya beruntung Jongin – ah. Kau mengerti?” tanya Minseok.

Jongin terdiam mendengar perkataan Minseok. Disisi lain ia menyetujui apa yang Minseok katakan, disisi lain ia masih kesal karena Minseok masih berpihak pada Chanyeol. Jongin menggelangkan kepalanya frustasi. “Jangan membicarakan hal ini denganku lagi” kata Jongin datar kemudian meninggalkan Minseok sendiri di ruang keluarga.

Minseok hanya menghembuskan nafasnya pasrah lalu menggelengkan kepalanya, tidak mengerti apa lagi yang haruus ia lakukan untuk mengubah cara berpikir Jongin tentang Chanyeol.

***

Jongin terbangun ketika sinar matahari menyilaukan matanya. Ia lupa menutup tirai jendela semalam sehingga sinar matahari bisa masuk dengan mudahnya ke dalam kamarnya. Ia menyambar handphonenya dan melihat jam yang tertera di layarnya.

Ia pun bangkit dan berjalan ke arah meja belajarnya untuk meletakan handpohonenya kemudian berjalan ke arah lemari untuk mengambil sebuah handuk kecil yang akan di pakainya untuk mengeringkan wajahnya setelah membasuhnya dengan air. Ia berjalan kembali ke arah meja belajar untuk mengambil handphonenya dan melihat sepucuk kertas di sana.

Jongin mengambil kertas itu dan membacanya. Sesekali ia menyipitkan matanya karena tidak jelas dengan tulisan yang sedang dibacanya. Tulisan tersebut sangatlah berantakan. Jongin langsung mengetahui siapa pengirimnya hanya dengan melihat tulisan itu.

Untuk : Kim Jongin.

Terimakasih karena telah mendengarkan laguku. Aku membuatnya karena aku ingin mengucapkan permintaan maafku padamu. Aku rasa kau tidak akan mendengarkanku jika aku berbicara langsung denganmu. Jongin-ah, terima kasih.

Jongin terkekeh ketika membaca surat itu. “Untuk apa ia mengirimkanku surat macam ini? Lagu apa yang ia maksud? Aku tidak akan mendengarnya seumur hidupku” gumam Jongin kemudian meletakan surat itu kembali dan pergi meninggalkan kamarnya.

Ia melihat Chanyeol sedang sibuk berkutat pada puzzlenya di ruang tengah. Jongin menatap Hyungnya itu dengan kesal kemudian pergi ke kamar mandi untuk membasuk wajahnya. Ia bertatap muka dengan Junmyeon ketika hendak memasuki kamar mandi. Junmyeon hanya menatapnya sekilas lalu pergi.

Jongin terdiam melihat sikap Junmyeon yang berubah sangat dingin padanya. Ia pun membasuh wajahnya dan menatap bayangannya sendiri di cermin. “Kim Jongin. Ada apa denganmu?”

 

11 pemikiran pada “Bittersweet (Chapter 1)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s