Destiny

Judul : Destiny

Nama author : Goseumdochi

Genre : Romance

Length : < 3000 (One Shoot)

Rating : Teen. 13+ can read this too

Main Cast : Baekhyun and Park Hana (You)

Twitter : @pamelaribka

Catatan : Cerita ini murni saya buat setelah membaca artikel berita baekhyun. Sasaeng fans mengganggu acara pernikahan kakanya baekhyun. okay no copas yaw

Disclaimer : Baekhyun. Actually he’s mine *digeret exotic*

This story is mine. Aku membuat cerita ini setelah membaca article yang bilang sasaeng fans mengganggu acara pernikahan kakaknya Baekhyun. Kasihan abang Yuyunku. Anyway, read and review ya.

Let’s begin the story!

***

Park Hana POV

“Maafkan aku Hana.”

Kalimat itu terus menggema ditelingaku. Kalimat yang menusuk hati. Bagaimana bisa seseorang yang sangat kau cintai ternyata membohongimu selama setahun ini. Sungguh kenyataan yang sangat bodoh. Ya, aku sangatlah bodoh karena sudah termakan semua kata – katanya selama setahun penuh. Kekasihku, tidak, mantan kekasihku akan menikah dengan seorang wanita yang ternyata telah menjadi kekasihnya selama satu tahun lebih.

Sial, seharusnya aku sudah menduga ini sejak awal dan tidak mempertahankan hubungan jarak jauh antara aku dengannya selama satu tahun ini! Susah payah aku pertahankan perasaan dan rasa percayaku padanya selama ini, ternyata dia sudah memiliki calon istri. Bodoh. Hanya itu kata yang menggambarkan diriku selama ini.

Selama ini aku datang ke Korea dari Indonesia hanya untuk menemuinya sebulan dua kali. Aku bahkan sampai mencari pekerjaan di Korea agar aku tidak jauh dengannya. Saat aku diterima disebuah perusahaan Korea dan bertemu dengannya untuk menceritakan hal tersebut, dia malah memberitahuku kenyataan pahit tentangnya yang akan menikah. Tidak ada kata yang keluar dari mulutku. Yang ada hanya tamparan keras yang kulayangkan dipipinya lalu aku pergi meninggalkan tempat tersebut dengan tatapan kosong.

Sesampainya aku di rumah yang selama setengah tahun ini aku sewa, aku langsung menangis meraung – raung didalam kamarku. Aku marah. Marah pada diriku yang terlalu mudah percaya dengan seseorang.

Aku memutuskan untuk berlari saat ini, biasanya berlari dapat membuat pikiranku jernih. Aku menguncir rambutku lalu mengganti pakaianku dengan celana training dan jaket hoodie putihku. Kuusap airmata dari pipiku dan memandang pantulan diriku dari cermin. Aku tersenyum sekilas lalu memakai sepatu olahragaku. Baiklah, aku pasti sudah gila karena berlari dimalam hari seperti ini.

Baekhyun POV

“Apa dia tidak malu telah merusak hari kebahagiaan saudaranya?”

“Cih, jika aku menjadi kakaknya, aku akan marah sekali.”

“Bukankah lebih baik dia tidak ada?”

“Memalukan.”

Kata – kata sindiran dari tamu – tamu undangan pernikahan kakakku menggema ditelingaku. Walaupun mereka hanya berbisik, aku tetap dapat mendengarnya. Bahkan tatapan mereka yang dulu hangat terhadapku, sekarang berubah menjadi sorotan kebencian. Ya, itu semua adalah salahku karena hadir diacara pernikahan hyungku.

Hyungku tidak marah terhadapku, dia hanya kecewa karena hari yang seharusnya menjadi hari kebahagiaannya rusak karena fansku. Sasaeng fans. Ya, itu adalah sebutan untuk fans yang terlalu fanatik. Bisa – bisanya mereka mengambil fotoku disaat prosesi pernikahan masih berlangsung. Mereka keterlaluan!

Sepanjang acara makan bersama atau pesta, aku meminta maaf kepada keluarga dan undangan lainnya. Aku tahu mereka pasti merasa terganggu oleh fansku dan hal tersebut terkadang membuatku berpikir tidak seharusnya aku menjadi artis.

Setelah pesta tersebut selesai, aku tidak langsung pulang ke dormku. Aku menuju ke sebuah taman diujung kota Seoul. Daerah sini cukup sepi dan aman untukku datangi tanpa penyamaran apapun. Karena aku cukup sering kesini.

Aku diantar oleh managerku kesini. Tadinya manager melarangku untuk pergi, tapi aku memohon padanya karena aku benar – benar sedang ingin sendiri. Manager akhirnya mengerti lalu mengantarku kesana dan berjanji untuk menjemputku jika aku sudah tenang.

Aku duduk disebuah bangku di taman tersebut untuk merenungi apa yang baru saja terjadi. Aku suka menyendiri disaat aku ada masalah. Itu akan membuatku merasa jauh lebih tenang.

Disaat pikiranku sedang kalut, tiba – tiba kulihat seorang gadis yang berlari mengelilingi taman ini sambil menangis.

Gadis itu terjatuh. Walaupun cahaya lampu taman ini hanya sedikit tapi dari kejauhan aku bisa melihat darah mengalir ditangannya. Dia hanya memandang kosong tangannya tersebut lalu bangkit dan kembali berlari. Bisa kupastikan dia sedang ada masalah.

Dia berhenti sejenak tak jauh didepanku untuk mengatur nafasnya.

“Tanganmu bisa infeksi.” ucapku datar.

“Ne?”

“Tanganmu…” jelasku sambil menunjuk tangannya yang berdarah.

Dia meilihat tangannya lalu tersenyum,”tidak apa, nanti akan aku obati.”

“Nanti bisa infeksi.” aku menarik tangan wanita keras kepala ini lalu menyiramnya dengan air mineralku kemudian membalut telapak tangannya tersebut dengan saputanganku. Dia sempat meringis saat aku membersihkan lukanya. Luka lumayan parah seperti ini mau diobati nanti, dimana otak wanita ini.

“Terima kasih…” ucapnya pelan setelah aku selesai mengikatkan saputanganku ditelapak tangannya tersebut. Aku hanya menganggukan kepalaku sebagai jawaban lalu kembali duduk. Moodku sedang buruk sehingga aku malas sekali untuk berbicara dengan seseorang.

“Orang gila macam apa yang berolahraga ditengah malam seperti ini?” tanyaku datar.

Dia menghela nafasnya kemudian duduk disebelahku,”Aku tidak sedang berolahraga.”

“Lalu? Kau daritadi berlari seperti orang sawan mengelilingi taman bukan berolahraga?”

“Ya! Siapa yang kau sebut orang sawan hah? Aku sedang ada masalah.”

“Biasanya jika sedang ada masalah aku akan tidur, makan es krim, atau berlari. Kali ini aku memilih untuk berlari.” lanjutnya tanpa melihat kearahku. Tatapannya seolah sedang menerawang jauh kedepan. Sorot matanya terlihat penuh kesedihan.

“Kenapa tidak makan es krim?” tanyaku sekedar basa – basi karena aku tidak ingin dia menangis lagi seperti tadi saat dia sedang berlari.

“Biasanya aku makan es krim di rumah itu. Tapi bibi sedang pergi jauh untuk sementara.” Dia menunjuk sebuah rumah yang tidak jauh dari taman ini.

“Apa kau hidup dijaman batu? Didekat sini ada supermarket.”

Dia menggeleng cepat,”buatan bibi lebih enak daripada es krim pasaran di supermarket!”

Aku hanya mengangguk mengerti lalu menatap lurus kedepan.

“Orang gila macam apa yang menyendiri di taman dengan pakaian rapi?” tanyanya dengan polos yang sebenarnya sedang menyindir pertanyaanku yang pertama tadi.

“Sama sepertimu.” jawabku datar.

“Aku lebih senang menyendiri disaat aku sedang ada masalah. Itu dapat membuatku berpikir jernih.” lanjutku lagi. Dia hanya dapat ber’ooh’ setelah mendengar pernyataanku barusan.

“Sampai akhirnya pikiran jernihku buyar setelah secara tiba – tiba ada wanita sinting yang berlari didepanku sambil menangis lalu terjatuh disana.” ujarku sambil menunjuk tempat dimana dia jatuh barusan.

“Ya! Kau melihatku?!”

“Kau lewat didepanku berkali – kali nona.” jawabku datar. Dia menundukan kepalanya lalu tersenyum miris.

“Tsk, Aku pasti terlihat menyedihkan.” gumamnya pelan dengan sorot mata yang kembali terlihat sedih.

Park Hana POV

Aku sangat menyedihkan. Menangis sambil berlari, terjatuh, ditolong orang tanpa ekspresi yang ternyata sudah melihat tingkahku daritadi. Tidakkah hidupku sangat miris?!

Hening sejenak terjadi diantara kami sampai tiba – tiba keheningan itu menghilang dikarenakan suara perutku yang cukup keras berteriak lapar.

Aku langsung memegang perutku dan tertawa nervous. Ini sungguh memalukan. Perutku berbunyi didepan seorang pria yang sangat kuyakini mendengarnya secara jelas.

Dia menatapku lalu tersenyum geli,”kau lapar?”

Aku mengangguk cepat lalu bangkit berdiri,”Kau mau makan? Aku tahu tempat makan enak dekat sini. Ramen Jong Yoon ahjussi pasti masih buka.”

Dia terdiam menatapku kosong.

“Mau ikut tidak?” tanyaku lagi.

“Apa kau penjaga daerah sini? Tempat makan favoritemu adalah tempat makan yang sama sekali tidak terkenal.” ujarnya datar yang terdengar seperti ledekan ditelingaku.

“Baiklah kalau kau tidak mau ikut.” Aku langsung melangkahkan kakiku menjauhinya.

Kudengar ia menghela nafasnya keras lalu tanpa berkata apapun ia sudah berada disebelahku, menyamakan jarak antara kami.

Tidak lama kemudian kami sampai didalam kedai mini milik ahjussi yang sudah kukenal satu tahun ini sejak aku berpacaran dengan namja yang hari ini aku tampar didepan orang banyak. Saat ini kedai tidaklah ramai, mungkin karena sekarang sudah lewat dari tengah malam. Tepatnya jam satu pagi.

“Ahjussi!!” sapaku pada laki – laki tua yang sedang mengelap meja pengunjung.

“Oiii! Hana! Kau apa kabar? Pacar barumu? Mana Joonie ah? Biasanya kau bersama dia?” aku tersenyum miris mendengar pertanyaan ahjussi tentang Lee Joon, mantanku.

“Kami sudah putus.” Ahjussi terlihat terkejut mendengar pernyataanku barusan lalu mulai bertanya macam – macam lagi tentang bagaimana kami bisa putus dan sebagainya yang hanya dapat kujawab dengan kata ‘begitulah’.

Aku memesankan namja disebelahku ramen yang menurutku sangat enak dan segelas air putih. Saat pesanan sudah jadi, pertama dia terlihat ragu dengan bentuk makanan dihadapannya.

“Coba dulu.” ujarku sambil menyenggol lengannya. Dia menggangguk lalu mengambil sumpit dan memakannya. Dia terlihat serius memandangi makanan dihadapannya, lalu memakannya dengan lahap. Aigo, dia lucu sekali.

“Aigo… anak muda pelan – pelan saja.” ujar ahjussi saat melihatnya makan seperti orang kelaparan.

“Ah.. makanlah yang banyak Hana. Lupakan saja Joonie, lihat laki – laki disebelahmu juga tampan.” goda ahjussi kepadaku. Aku langsung tertawa lalu memiringkan kepalaku untuk melihat wajah laki – laki disebelahku ini.

“Kau lihat apa hah?!” ujarnya dengan mulut yang masih penuh dengan makanan.

Aku tertawa kecil lalu mengibaskan tanganku ke ahjussi tanpa mengalihkan mataku darinya,”Tidak ahjussi, dia terlalu manis.”

Ahjussi tertawa lalu pamit kebelakang untuk membuatkan kami minuman lain.

“Aku belum tahu namamu. Aku Park Hana. Kau siapa?” tanyaku sambil menyumpitkan ramenku.

“Aku Lee Shin.” jawabnya datar. Ah.. nama yang singkat.

Baekhyun POV

Aku berbohong kepadanya soal namaku. Alasannya mudah, aku tidak mau mengakui diriku yang sebagai artis ini dihadapannya. Bukan karena aku takut dia memberitahu ke media dia melihatku malam ini di taman sendirian, bukan. Aku hanya merasa jijik terhadap diriku yang sekarang seorang artis besar. Aku tidak mau dia berpikir seharusnya aku tidak menjadi temannya seperti keluargaku yang barusan saja berpikir seharusnya aku tidak usah hadir ke acara tadi.

Aku tidak mau dia terkena masalah karena berteman dengan seorang artis. Maafkan aku karena telah membohongimu, Hana.

Park Hana POV

“Kau bukan orang Korea?” tanyanya tiba – tiba.

“Bagaimana kau bisa tahu?!”

Dia tersenyum lalu kembali memakan ramennya,”hanya tahu.”

Aku bercerita kepadanya tentangku yang berasal dari Indonesia dan nama Park Hana yang diberikan temanku sebagai pengganti nama Indonesiaku.

“Apa kau artis? Kau kelihatan berbeda?” tanyaku polos. Dia hanya menggeleng sebagai jawaban.

Ah.. Padahal dia terlihat seperti anggota boyband, walaupun aku tidak pernah menonton tv. Aku lebih suka menghabiskan hariku dengan mendengarkan lagu – lagu, surfing di internet, atau tidur daripada menonton tv.

Dia makan dengan sangat lahap sampai sampai menambah dua kali. Aku jadi heran, apa orang yang terkena masalah itu sangat kelaparan.

Dia menanyakan tentang umurku yang ternyata lebih muda darinya. Aku menggodanya dengan sebutan oppa yang langsung membuat dia tersedak dan menyuruhku untuk tidak mengulanginya namun tetap saja aku ulangi karena setiap aku memanggilnya oppa, wajahnya terlihat memerah lucu.

Dia membayari pesananku. Tadinya aku menolak namun dia bersikeras sebagai tanda terima kasih karena sudah mengajaknya ke tempat makan seenak ini. Dia cukup berlebihan.

“Rumahmu dimana?” tanyanya setelah keluar dari kedai ahjussi.

“Diujung belokan itu.” jawabku sambil menunjuk pertigaan yang aga jauh dari tempat kami berjalan sekarang.

“Temanku akan menjemputku dibelokan yang berlawanan arah denganmu.”

Aku mengangguk mengerti dan kembali berjalan dalam diam. Sebenarnya ada yang ingin kutanyakan padanya tapi aku terlalu takut akan menyinggung perasaannya.

“Lee Shin,”

“Hm?” melihatnya menoleh kepadaku dengan tatapan yang lebih baik daripada pertama kali melihatnya membuat lidahku kelu. Aku rasa moodnya sudah sangat baik sekarang, aku tidak ingin membuat moodnya kembali buruk seperti tadi.

“Apa?” tanyanya lagi yang terlihat mulai kesal karena sejak tadi aku malah diam memandangnya.

Aku menggeleng pelan lalu kembali berjalan.

“Kau ingin bertanya kenapa aku di taman tadi?” tanyanya yang seolah dapat membaca pikiranku.

Aku hanya dapat diam dan tetap berjalan pelan.

“Aku… merusak pernikahan kakakku.” gumamnya pelan sambil tetap menatap lurus kedepan tanpa menoleh kearahku.

Dia tersenyum miris seolah mengejek dirinya sendiri,”keluarga besar dan para tamu terlihat kesal. Beberapa malah terang – terangan menyindirku tadi.”

“Semua ini karena sekumpulan wanita yang mengejarku. Mereka mengganggu prosesi pernikahan sehingga semua orang menyalahkanku.” lanjutnya lagi.

“Ah… apa kau sangat terkenal?”

“Ya. Aku cukup terkenal dikalangan wanita.” mendengar jawabannya yang terdengar sok cool itu membuatku mendengus sebal dan meninju lengannya pelan.

Dia tertawa sambil mengusap lengannya,”kalau kau?”

Pertanyaannya membuatku seolah ditimpa oleh enam tabung gas besar dari atas langit. Mengingat namanya saja membuatku jijik. Aku bahkan tidak mau menganggapnya mantanku.

“Tidak apa jika tidak mau menjawabnya.” ujar Lee Shin santai.

Aku tersenyum lalu meninju pelan lengannya lagi,”Eiii~ itu bukan masalah besar. Aku baik – baik saja. Aku dibohongi oleh mantan kekasihku. Kami baru saja putus hari ini karena dia akan menikah. Selama satu tahun ini aku dibohongi olehnya yang ternyata sudah memiliki calon istri. Aku.. bodoh ya…”

“Ya… kau memang bodoh.” ucapnya dengan nada datar. Aish, apa dia tidak memiliki nada disetiap perkataannya? Atau ini hanya sekedar dia saat dia sedang badmood?

“Apa semua laki – laki seperti itu?” tanyaku. Dia langsung berhenti dan menghadapkan tubuhnya kearahku.

“Apa kau melihatku seperti itu?”

“Aku tidak tahu. Aku belum mengenalmu.” jawabku jujur. Dia tersenyum lalu menepuk puncak kepalaku pelan.

“Kalau begitu kenali aku… baru kau simpulkan jawaban dari pertanyaanmu barusan.” bisiknya pelan tepat didepan telingaku.

Dia mengambil handphoneku yang tengah berada ditanganku lalu menekan beberapa nomor yang kurasa adalah nomor teleponnya.

“Ini nomor teleponku. Akan kuhubungi kau kalau ada waktu. Sampai jumpa.” ujarnya sambil berlalu pergi meninggalkanku sendirian dibelakang.

Perlahan bayangannya mulai hilang dari hadapanku. Setelah dia menghilang, aku memandang handphone yang berada ditanganku.

Lee Shin.

Dia bahkan mengirim pesan ke nomornya sendiri lewat handphoneku berisikan ‘Hei tampan, ini aku~’

Aku mendengus membaca pesannya tersebut,”Bodoh…”

The end

Ahihi maaf ini fanfiction tidak jelas setelah membaca artikel tentang pernikahan kakaknya Baekhyun yang terganggu karena sasaeng fans rese. Langsung terinspirasi gitu buat cerita aneh begini. Tadinya mau buat sequel tapi… nanti deh. Heheh

So… tell me what do you think about this story?

 

58 pemikiran pada “Destiny

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s