The Hex (Chapter 2)

The Hex  CHAPTER 2

Main Cast : Suho

Park Soo hee (OC)

Chanyeol

Bang Minah

Baekhyun

Author : Abstyle09

Genre : Horror, Romance, Crack

Rating : G

Length : Ficlet

***

Aku keluar dari sekolah dengan lesu. Aku masih syok dengan kejadian kerasukan yang dialami Minah. Mungkin, rumahku sudah seperti kandang harimau. Orang tuaku masih belum pulang sampai sekarang. Sudah 3 hari aku menginap dirumah bibi Yoora. Tapi disini, sangat nyaman. Ada teman paman Chanyeol yang selalu menjahiliku, dengan begitu saja semua bebanku hilang seketika. Dia bernama Baekhyun. Dia orang yang hangat dan jahil. Paman Chanyeol juga selalu menghiburku dengan lelucon-leluconnya. Dia selalu tersenyum dimanapun berada. Sampai-sampai aku tidak tahu, kapan dia merasa sedih. ‘TIN TIN …’ Paman Chanyeol membunyikan klakson. “Ini aku ..” serunya sambil tersenyum. Lagi-lagi ia tersenyum lebar. Aku membalas senyuman.  Selama aku menginap dirumahnya, dia dan paman Baekhyun menjemputku. Mereka berdua belum bekerja, mereka masih kuliah. Chanyeol dan Baekhyun mengambil jurusan yang sama dan berkuliah di kampus yang sama.

“Annyeong ..” sapanya. Aku hanya menjawab dengan senyuman.

“Ada apa denganmu? Kenapa sangat lesu?” tanya Chanyeol. Chanyeol menyentuh daguku dan memutar kepalaku kearahnya. “Kau sakit?”

“Aku baik-baik saja .. Hari ini, hari sialku.” Jawabku dengan suara serak.

“Kau membaca ramalan mingguan? Apa kau masih percaya dengan hal seperti itu?” Chanyeol langsung menancap gas mobilnya dan mulai mengendara.

“Ya .. Terkadang aku membacanya. Minggu kemarin, aku membacanya.” Jawabku polos.

“Tidak baik terus menerus mengandalkan hal seperti itu.” Ucap Chanyeol. “Kau kelihatan sedih. Ada apa denganmu?” tanya Chanyeol sedikit melirik kearahku.

“Aku mengkhawatirkan orang tuaku.” Jawabku pelan.

“Orang tuamu? Mereka belum pulang? Apa mereka tidak menelponmu?” tanya Chanyeol.

“Tidak. Aku belum mendapat telpon dari mereka” jawabku.

“Hmmm .. Ada sesuatu yang kau inginkan? Mungkin ini bisa membantumu.” Tawar Chanyeol.

“Hmmmm …. Aku ingin memeriksa apartemen. Sebentar saja.” Pintaku.

“Baiklah ..” Chanyeol memutar balik arah tanpa melihat kendaraan yang lewat . Tiba-tiba saja, setelah Chanyeol memutar stirnya .. ‘Ngitttt ..’ Sebuah mobil mengalami kecelakaan. Aku menoleh kebelakang melihat mobil itu.  “Boom!”

“Paman berhenti!” seruku.

“Sudah kubilang berkali-kali jangan panggil aku paman!” seru Chanyeol.

“Cepat! Berhenti! Seseorang mengalami kecelakaan karena Paman!” Chanyeolpun  memberhentikan mobilnya di tepi jalan.

Aku langsung turun melihat keadaan orang itu. Pengendara itu seorang pria. Wajahnya hancur, berdarah-darah, separuh dari wajahnya kelihatan dagingnya. Kulitnya hangus terbakar api. Tersisa daging-daging yang masih melindungi tulang-belulangnya. Mataku beralih ke api yang berkobar-kobar melumat habis mobil si pengendara.

“Apa dia meringis kesakitan?” kataku dalam hati.

“arrkk .. Kau .. tolong .. aku ..” pria itu mengulurkan tangannya padaku.

Mataku membulat. Dari antara orang banyak, kenapa dia meminta aku untuk menolongnya?

Aku menatapnya dengan rasa waspada.

“Tolong aku Soo Hee ..” pinta pria itu.

“Aku tidak ingin menolongmu! Tidak akan! Darimana kau tahu namaku?!” dengan spontan aku berteriak. Semua orang melihat padaku.

“Hey, anak muda. Kau seorang penulis novel? Jangan bawa ide ceritamu sampai ke dunia nyata!”  Sahut seorang ahjussi berwajah brewokan.

Mataku membulat pada ahjussi itu. Aku memejam-mejamkan mata. “Dia tidak berbicara? Ini halusinasi?  Bahkan aku tidak bisa membedakan halusinasi dan kenyataan? Ada apa ini? Ini yang dimaksud dengan indigo?” aku bertanya pada diriku sendiri di dalam hati.

“Kalau begitu, telpon rumah sakit terdekat.” Suruh Ahjussi itu pada seluruh orang yang berkumpul disana. Aku berjalan mundur menjauh dari kerumunan itu. Aku tidak percaya dengan semua ini. Aku berusaha menenangkan diriku, menarik napas dalam dan menahannya. “Paman Chanyeol!” seruku dari kejauhan. Aku masuk kedalam mobil.

“Paman Chanyeol!” panggilku. Aku menoleh ke kursi pengemudi, dia menghilang.

“Baaaaa!!” Chanyeol menepuk pundaku dari belakang.

“AAA!” Dia tertawa kencang melihat aku terkejut bukan main.

Aku hanya memandangnya dengan sinis. “Ini tidak lucu paman.”

“Sudah kubilang, jangan panggil aku paman! Panggil aku oppa!”

“Terserah ..” jawabku.

“Apa ada kecelakaan? Seharusnya aku menolongnya tadi.” Sesal Chanyeol.

“Lupakan. Jangan bahas tentang kecelakaan itu.” Jawabku dengan ketus.

Chanyeol menyipitkan matanya, “Pasti ada sesuatu .. Apa itu mantan kekasihmu? Benar kan? Benar?

Hahahahahha” jawab Chanyeol asal bicara.

“Bukan! Dia sudah kakek-kakek, enak saja.” Bantahku.

“Sebenarnya apa yang terjadi? Cepat beritahu atau aku akan terus bertanya.” Ancamnya. “Kau memilih untuk mengatakan yang sebenarnya atau tetap diam? Kalau diam, siap-siap.”

“Baiklah, aku sudah tidak bisa membedakan indigo, halusinasi dan kenyataan!” jawabku. Bebanku sedikit lepas.

“Maksudmu? Tidak bisa membedakan indigo, halusinasi dan kenyataan?” tanya Chanyeol tak mengerti.

Aku menatap Chanyeol dengan sinis, “Lupakan. Oppa tidak akan mengerti sama sekali.”

“Ooohh .. Ternyata kau ..” ucapannya terputus, “Ya, ya ….” Aku langsung menjawab sebelum dia mengatakan sesuatu yang aku benci.

“Entah, ada apa dengan mataku atau mungkin diriku. Sekarang aku tidak bisa membedakan halusinasi, indigo, dan kenyataan.” Jawabku.

“Kau sudah berkata seperti itu berkali-kali …” jawab Chanyeol.

“Yaa … Bahkan orang yang sudah meninggal saja, bagiku dia masih bisa berbicara. Dia meminta tolong padaku. Padahal dia sudah meninggal.” Jawabku.

“Hmmm .. Aku tidak bisa memberi jalan keluar kalau seperti itu.” Jawab Chanyeol.

“Oppa ini bagaimana?! Kau kan mengambil jurusan dokter! Kenapa otak hanya pintar tidak cerdas?!” seruku.

“Apa bedanya? Sama saja kan?”

“Tentu saja berbeda!! Pintar hanya pandai dalam matapelajaran sedangkan cerdas pandai dalam mata pelajaran dan pandai menyelesaikan masalah yang rumit sekalipun! Kalau kau jadi presiden, apa jadinya Korea?!” jelasku panjang lebar.

“Aku baru tahu .. Oh ya, apartemenmu dimana?” tanya Chanyeol.

“Cheongdamdong …”

“Dasar orang kaya raya. Tunggu, sekarang kita dimana?” tanya Chanyeol lagi.

“Seoul …”

“Bodoh! Kenapa aku putar balik?! Cheongdamdong sangat jauhhh!” bentak Chanyeol.

“Mana aku tahu!” balasku.

=XOXO=

2 jam kami mengendara untuk sampai ke Cheongdamdong. Aku benar-benar terkejut saat melihat Minah tergeletak dilantai apartemenku. Dia sudah busuk dan belatungan. Dugaanku benar, banyak bercak darah disana. Ditubuhnya terdapat luka-luka cakaran dirinya sendiri. “Apa yang harus aku lakukan sekarang?” gumamku. Chanyeol berdiri disampingku. Dia hanya diam melihat keadaan apartemenku yang hancur.

“Aku rasa kau terkutuk ..” gumam Chanyeol.

“Apa?” aku berpura-pura tidak mendengar gumamannya.

“nngg .. Tidak-tidak ..”

Aku masuk kedalam apartemen dan mendekat sedikit kearah Minah. Rasanya aku ingin muntah melihat bau busuk bercampur dan belatung yang menjalari tubuhnya.

“Kita harus segera memakamkan segera.” Ujar Chanyeol. Aku hanya diam. Halusinasiku kembali. Aku melihat Minah berdiri di sudut dapur. “Minah eonni ..” panggilku.

“Ada apa?” jawabnya. Mataku membulat. “Apa itu benar dirinya? Lalu, siapa mayat ini?” tanyaku dalam hati. Dia begitu terlihat nyata disudut dapur. Aku mengucak-ngucak mata.

“Minah eonni ..” panggilku sekali lagi.

“Ada apa?! Kenapa kau selalu memanggilku?! Saat aku hidup kau tidak pernah membantuku! Jangan memanggilku lagi.” Jawab Minah.

“Minah eonni, ada apa denganmu?!” seruku. Chanyeol menjauh dari pintu apartemen dengan mata yang ketakutan.

“Kau tidak pernah membantuku!! Anak b*j*d!”  Jawab Minah.

“Ini bukanlah dirimu!”  Jawabku.

“Kau selalu membullyku, 2 bulan yang lalu kau mau membunuhku!”  Jawab Minah.

Aku menyipitkan mata, “Membully? Membunuh? 2 bulan yang lalu?” kataku dalam hati. Aku mencoba mengingat kembali apa yang aku lakukan 2 bulan yang lalu. “Oh ya, aku ini orang menerima orang apa adanya” kataku dalam hati dengan tiba-tiba.

“Tidak. Aku tidak membullymu atau membunuhmu. Sebenarnya siapa kau?! Cepat pergi dari apartemen ini!” seruku.

Chanyeol menghentak-hentakan kakinya tidak tahan dengan pemandangan yang dia lihat, “Sudah, sudah!! Lebih baik, jual apartemen itu! Lalu, beritahu pihak apartemen agar tidak menjual apartemen milikmu pada siapapun! Atau, panggil dukun. Kita harus panggil ambulans sekarang, bau busuknya sudah sampai luar!” Ujar Chanyeol tidak tahan.

Benar, tidak ada gunanya aku terus bertanya padanya. Aku langsung berdiri dan menjauh dari apartemenku. Tanganku merogoh kantong rok sekolahku. Aku memencet angka 1 sebagai nada panggilan tercepat untuk rumah sakit.

“Yeoboseyo? Ada orang meninggal di apartemenku, cepat datang. Apartemenku ada di cheongdamdong, alamatnya akan kukirim lewat pesan singkat.” Ucapku dengan dingin. Aku berbalik badan dan tersenyum pada Chanyeol.

“Melihatmu berkontak dengan hantu itu, aku jadi bergidik ngeri.” Gumam Chanyeol.

Aku hanya tersenyum tipis, “Aku menganggap itu orang yang sirik padaku.”

“Aku tidak melihat hantu. Padahal aku ingin sekali melihatnya, itu seperti petualangan yang seru.” Ucap Chanyeol.

“Ini .. terjadi secara tiba-tiba. Setelah aku pulang dari rumah kekasihku, mataku jadi buta sekejap. Lalu, setelah kejadian itu aku menjadi indigo. Aku tidak tahu, ini indigo atau apa.” Jelasku panjang lebar.

Tiba-tiba saja sekumpulan orang berseragam putih muncul membawa kain yang sudah direntangkan.

“Kalian cepat sekali ..” kataku. Mereka hanya tersenyum padaku, kemudian mereka langsung bertindak. Mereka menyemprotkan pengharum ruangan keseluruh apartemen dan menyingkirkan belatung-belatung itu dengan pembasmi hama. Kemudian, mereka membungkus Minah dengan kain yang dibawa.

“Sudah berapa hari dia meninggal?” tanya suster.

“Mungkin sekitar 3-4 hari.” Jawabku.

“Kau meninggalkan dia begitu saja?”

“Tidak, aku pikir dia tidak sakit saat aku tinggal pergi menginap dirumah bibiku. Saat aku kembali, aku melihat dia sudah membusuk.” Jawabku mengarang.

“Ini tidak mungkin karena penyakit. Dikulitnya terdapat cakaran dan besetan pisau. Aku rasa dia melakukan percobaan bunuh diri.” Jelas suster.

“oo .. oohh .. ohhh … Begitu. Aku rasa saat itu dia ada masalah.” Jawabku sedikit gelagapan.

“Baiklah, anda bisa melakukan administrasi terlebih dahulu di rumah sakit.” Ujar Suster.

“Ne ..” jawabku pelan sambil membungkuk.

“Selesai ..” kataku sambil menaruh pulpen dimeja tempat adminstrasi.

“Itu temanmu?” tanya suster.

“Ya ..” jawabku dengan ramah. Chanyeol mengerutkan keningnya melihat sifatku. “Hey, temanmu meninggal kenapa kau senang?”

“Apa aku terlihat senang? Aku sedih bodoh, tapi aku berusaha tersenyum.” Jawabku.

“Kau tersenyum diwaktu yang tidak tepat.” Ujar Chanyeol.

“Oh ya, Oppa ..” panggilku. “Aku ingin pergi ke dukun.”

“Untuk apa?” tanya Chanyeol bingung.

“Aku merasa ini adalah kutukan, aku rasa kata-katamu tadi benar-benar.” Jawabku sedikit termenung.

“Kata-kata apa?” Chanyeol berpura-pura tidak tahu. Tanpa berpikir panjang, aku langsung merebut kunci mobil yang dipegang Chanyeol dan berlari secepat mungkin. Terlalu lama untuk menunggu Chanyeol oppa. Dia pasti akan terus bertanya.

“Yaaak!! Kembalikan!” seru Chanyeol.

=XOXO=

Aku sampai ditempat dukun yang cukup terkenal di Cheongdamdong. Dia seorang dukun yang mendapat roh dari seekor salamander. Menurutku, dukun ini aneh. Aku terpaksa meminta bantuan dukun, karena aku sudah tidak tahan dengan semua ini. Seseorang yang pintarpun, tidak bisa membantu. Aku mermarkirkan mobilku jauh dari rumah dukun itu. Rumah dukun itu sangatlah besar. Aku melihat banyak orang yang mengantri. “Kalau banyak seperti ini, aku tidak bisa mendatangi upacara pemakaman.” Gumamku.

“Soo hee?!” sapa paman Baekhyun.

“Eoh? Paman Baekhyun?”

“Jangan panggil aku paman, aku ini masih muda!” ujar Baekhyun.

“Sedang apa oppa disini?” tanyaku.

“Kau sendiri? Ahh .. kau pasti disini untuk meminta jodoh, ya kan??” Dia kembali menjadi sosok yang menyebalkan.

“Aku sudah punya kekasih! Oppa yang kesini meminta jodoh, ya kan??” balasku.

“Tidak, Oppa kesini ingin tahu aku ini cocok jadi dokter apa ..” jawab Baekhyun.

“Kau cocok jadi dokter sakit jiwa. Sifat oppa saja hampir sama orang sakit jiwa.” Mungkin candaanku itu sedikit keteraluan.

“Mwo?? Enak saja ..” jawab Baekhyun.

Sekitar 1 jam menunggu diluar, aku dan Baekhyun Oppa masuk kedalam rumah sang dukun. Rumah dukun itu benar-benar membuatku merinding. Ada boneka fudu yang sudah tertusuk jarum pentul. Dukun itu tenang sambil memejamkan matanya agar bisa menangkap apa yang disampaikan roh.

Tiba-tiba saja dukun itu bergerak seperti ingin menyergap orang dan membunuhnya hidup-hidup. “AA!” teriakku, tapi langsung ditahan oleh Baekhyun.

“Kau laki-laki mudaaa …” kata dukun itu. Mata Baekhyun langsung membulat dan mendengarnya dengan serius.

“Kau harus berhati-hati .. Seseorang yang terkutuk akan membuatmu kehilangan hidupmu dibeberapa bulan kemudian.” Pesan dukun itu. Mataku langsung membelalak. “Maksudnya apa?! Aku akan membunuh dia?! Tidak mungkin!!” kataku dalam hati.

“Siapa orang yang terkutuk itu?” tanya Baekhyun penasaran.

“Dia ada disi ..” perkataan dukun itu langsung terpotong. Aku langsung menarik Baekhyun keluar. “Heeeeyy … Heeey .. Lebih baik aku duluan yang diramal, pergi sana!” aku mendorong Baekhyun hingga terjatuh. Aku langsung menutup pintu rumah dukun itu. “Yaaak!!” seru Baekhyun.

“Kau terkutuk ..” ucap dukun itu secara tiba-tiba.

“Siapa?” tanyaku bingung.

“Kau …” jawabnya. “Kau orang yang tertusuk oleh jarum-jarum di boneka fudu ini!”

                                                TO BE CONTUNIUE …

5 pemikiran pada “The Hex (Chapter 2)

  1. Kurasa ini terlalu cepat alurnya dan ah ya ini semacam supranatural, agak kurang memahami tapi cukup mengerikan 🙂
    Cuma dia itu terkutuk kenap? Dikutuk nenek gayungkah ?:D

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s