Loving You Like Crazy (Chapter 8)

Loving You Like Crazy [Part. 8]

new-poster

Title: Loving You Like Crazy [Part. 8]

Author: nune

Main Cast: -Park Chanyeol

-Baek Jisun

Length: Multichapter

Genre: Drama, Romance, Marriage Life

Ratting: PG-15

*****

Scene before Myungsoo and Chanyeol Accident~

“Aku tidak lapar, aku hanya lelah. Kau boleh keluar.”

Sepertinya Chanyeol sedang tidak mau diusik, sebaiknya Jisun menjauh. Jisun berlalu keluar dari kamar dan menutup pintunya perlahan.

“Tunggu lah sebentar lagi, Park Jisun. Kau pasti akan pulih, aku sedang berusaha.” Gumamnya setelah Jisun sudah tak ada disekitarnya lagi. Setelah itu Chanyeol memejamkan matanya dan tertidur.

Chanyeol membuka matanya perlahan, lalu ia sedikit menggerakan tubuhnya yang kaku. Ia mendelik pada jam dinding yang tergantung didekat sudut kamar. Hmm sudah jam enam pagi, seharusnya pada jam ini Chanyeol masih terlelap. Tapi dibandingkan kemarin, tubuhnya sudah cukup bugar untuk menghadapi hari ini. Baiklah, ia harus siap siap sekarang. Banyak hal yang harus ia capai.

20 Menit Kemudian…

Setelah dirasanya rapih, Chanyeol mengambil jaket kulitnya dan bergegas keluar. Tubuhnya terhenti seketika saat melihat Jisun yang tertidur damai dibalik pintu yang sedikit terbuka. Ternyata semalaman Jisun tidur dikamar tamu. –Memang biasanya seperti ini, tepatnya setelah kejadian mengejutkan di lampu merah beberapa hari lalu-

Chanyeol menghampirinya. Jiwanya seakan terhanyut dalam wajah polos gadis itu. Beberapa hari ini ia tak melihat paras gadis ini, membuatnya sedikit frustasi, tak kuat untuk menahannya. Andai rasa cinta yang besar itu bisa diungkapkan……

“Aku sangat merindukanmu, Jisun-ah~” Chanyeol mendekatkan wajahnya pada gadisnya itu, ia perlahan menempelkan hidung mancungnya ke permukaan pipi Jisun. Dihisap dan diciumnya pelan. Seakan-akan aroma tubuh gadis itu adalah pasokan oksigen terpentingnya.

“Tunggu aku kembali.” Chanyeol berlari kecil kearah bagasi untuk mengeluarkan mobil sedan-nya. Menatap gadis itu di waktu yang berkepanjangan seperti tadi membuatnya lupa akan rencana awalnya. Ya, hari ini Chanyeol akan pergi ke suatu tempat…

*****

“Tidak bisakah tolong anda fikiran sekali lagi, pak? Sebentar lagi saya lulus. Izinkan saya bekerja disini.” Pelas Chanyeol pada seseorang dihadapannya.

“Tidak bisa. Aku tahu skill mu tidak perlu ditanyakan lagi dalam bidang Programmer, tapi perusahaan kami punya peraturan yang mementingkan formalitas, anak muda. Minimal kau harus lulus S1.” Sesal pria paruh baya yang berpakaian rapih. Pembawaannya terlihat sangat berwibawa.

Huh jika persyaratan pendidikan bukan jadi penghalang, mungkin perusahaan besar ini sudah merekrut Park Chanyeol sekarang juga!

“Baiklah. Terimakasih. Saya permisi” Chanyeol tidak bisa lagi menutupi kekecewaannya.

Ia berjalan gontai menuju pintu keluar dari ruangan megah sang Manager dari Line Corporation ini. Ya, Line Corporation. Kalian semua pasti sering mendengar aplikasi messenger Line yang tengah naik daun itu ‘kan? Rencananya Chanyeol ingin melamar pekerjaan disini, menjadi ahli programmer di aplikasi ini.

“Bagaimana Chanyeol-ah? Diterima?” sahut seseorang ketika Chanyeol menutup pintu ruangan manager itu.

Chanyeol menggeleng lemas, disusul dengan helaan nafasnya yang melelahkan.

Ia menepuk pundak Chanyeol pelan “Memang sulit, Chanyeol-ah. Mengapa kau tidak bekerja Part-Time (kerja paruh waktu) di café saja?” ujarnya lagi dengan mata besarnya yang lucu.

“Dokter itu butuh uang 10 juta won untuk semua biaya kesembuhan Jisun, Kyungsoo-ah. Aku tidak enak hati pada mertuaku, seakan-akan aku menantu yang tak berguna. Sekarang Jisun adalah tanggung jawabku! Aku harus cepat-cepat mendapatkan uang itu. Lagipula aku sudah berkeluarga, aku harus mulai mencari nafkah untuk anak dan istriku kelak.”

“Bersabarlah. Kita cari yang lain~” Kyungsoo tersenyum menguatkan, Chanyeol membalas senyuman sahabatnya itu.

Mereka berdua melangkah lebar-lebar menuju Basement

Yaaah… Beginilah kegiatan rutin Chanyeol belakangan ini. Setiap hari waktu luangnya hanya ia gunakan untuk menandai lowongan pekerjaan di surat kabar atau internet. Baru kali ini Chanyeol sangat antusias untuk mendapatkan uang.

Chanyeol memekik gembira ketika Hyesun, -sepupunya- memberitahu bahwa ia menemukan dokter yang pass untuk Jisun. Dokter yang cukup berbakat, dengan tarif prakteknya yang tidak terlalu mencekik leher.

Chanyeol yang sudah dibiasakan mandiri sejak kecil pun memutuskan untuk mencari pekerjaan yang cocok untuknya, untuk membiayai Jisun. Namun apa daya, hingga sekarang pekerjaan itu masih belum ia temukan. Sebelum ayahnya mewarisi perusahaan yang ia bina, Chanyeol harus belajar mencari uang dari nol.

Tak terhitung pula penolakan yang ia terima dari perusahaan ternama sampai perusahaan kecil. Namun hal ini tidak juga mematahkan semangat Chanyeol untuk terus berusaha. Semuanya demi Park Jisun, orang yang paling berharga untuknya. Chanyeol ingin segera menyembuhkan Jisun dari amnesia yang sedang dideranya.

Sejak awal ia memang ingin merahasiakan semua ini dari Jisun. Maka dari itu ia sedikit menjauh dari gadis itu, Chanyeol hanya ingin fokus pada target pekerjaan dulu. Susah payah Chanyeol menepis rasa rindu yang berkabung di relung hatinya. Walau bagaimanapun, Chanyeol harus kuat menahannya!

“Lho?! Mengapa kau berada di kursi kemudi?” tegur Kyungsoo.

Sedikit terkejut, Kyungsoo dan Chanyeol mendapati yeoja ini sedang bersantai ria di kursi kemudi –mobil Chanyeol- saat Kyungsoo kebetulan membuka pintunya.

“Hyesunie, pindah!” titah Chanyeol dingin, menghimbau sepupunya untuk pindah ke jok belakang.

“Oppa~~~ Antar aku ke kampus! Aku lupa belum mengumpulkan refrensi ini pada dosenku.” Pelasnya dengan manja.

“Tapi kami masih ingin mencari lowongan pekerjaan dulu.” Sergah Kyungsoo sambil menggaruk tenguknya. Hyesun memasang muka sedih + aegyo, agar oppa nya itu goyah.

“Baiklah. Tapi minggir dulu, oppa yang akan menyetir.” Hyesun terlihat memekik senang dan langsung menyilang Safebelt ditubuhnya.

“Tidak! Aku saja!”

Entahlah Chanyeol sedang dikadali atau apa, sebelumnya Chanyeol sudah menjamin untuk menuruti apa saja yang Hyesun mau sebagai balas budi karena ia telah menemukan dokter yang tepat. Dan lihat? Hyesun jadi berbuat seenaknya.

*****

            Tak terasa sudah jam delapan malam. Chanyeol memutuskan untuk kembali ke Apartment, ia tidak bisa menahan lagi rasa resahnya karena meninggalkan Jisun yang sendirian disana.

DEG!

Ia terenyuh saat melihat Myungsoo tengah mengelus rambut Jisun yang sedang tertidur damai dihadapannya. Emosinya membuncah hebat! Chanyeol murka dan melayangkan tinjunya kearah perut Myungsoo.

Kenapa Myungsoo bisa berada disini? Chanyeol membatin, detik berikutnya ia menyadari bahwa dirinya gagal mengawasi gadis itu! Sial! Untuk kesekian kalinya Chanyeol berurusan lagi dengan Myungsoo, Chanyeol’s biggest rival.

Chanyeol dan Myungsoo awalnya berteman baik, mereka saling berbagi dan setia satu sama lain. Bahkan Myungsoo menceritakan semua kisah hidupnya pada Chanyeol, termasuk tentang Jisun –gadis yang Myungsoo sukai-. Sebagai teman yang baik, Chanyeol mendukungnya dan terus menghimbau Myungsoo untuk terus mendekati Jisun.

Korea Selatan memang sangat sempit, kebetulan Chanyeol menjadi guru tutor untuk gadis yang disukai Myungsoo. Namun apa daya, ternyata Baek Jisun mencintai Park Chanyeol, sangat mencintainya. Namun Chanyeol sama sekali tak mengacuhkannya, dilain sisi ia tak enak hati pada Myungsoo.

Sampai pada akhirnya Myungsoo mengetahui bahwa gadis yang selama ini ia sukai ternyata mencintai namja lain, yang tidak lain dan tidak bukan adalah temannya sendiri –Chanyeol-. Myungsoo patah hati, ia berharap bahwa Chanyeol tidak memiliki perasaan yang sama untuk Jisun.

Chanyeol berusaha keras untuk meyakinkan Myungsoo bahwa ia tidak menyukai Baek Jisun, ia hanya menganggap Jisun sebagai murid, tidak lebih. Mulanya Myungsoo sedikit lega, tapi semakin hari ia sadar bahwa rasa cinta Jisun pada namja jangkung itu semakin menjadi-jadi, membuat Myungsoo frustasi dibuatnya.

Setelah itu, perlakuan Myungsoo terhadap Chanyeol jadi berubah total! Myungsoo selalu menjadi saingan sengit Chanyeol dalam segala hal, termasuk memperebutkan posisi pertama di kampus. Myungsoo juga sering memojokkan image Chanyeol didepan orang banyak, sejak itu Chanyeol jadi tidak mau berurusan lagi dengan Myungsoo. Pertemanan mereka berdua pun hancur.

Luka yang Chanyeol goreskan masih membekas direlung hati Myungsoo, terlebih lagi saat ia harus menerima kenyataan bahwa Chanyeol menikahi gadis yang ia suka. Saat Myungsoo tahu bahwa Jisun amnesia, ia memutuskan untuk memanfaatkannya!

PRANGG…

Myungsoo dan Chanyeol refleks menoleh pada Hour Glass yang sudah pecah tak berbentuk dilantai. Pasir yang terdapat didalamnya berserakan dimana-mana.

“JISUN-AH!!!!!!” pekik mereka berdua.

Dan hal yang Chanyeol khawatirkan selama ini pun akhirnya terjadi…

 

*****

Scene after Myungsoo and Chanyeol Accident~

 

At Hospital~

Chanyeol terkulai lemas diatas deretan bangku ruang tunggu. Ia memejamkan matanya, menetralkan sakit kepala dan rasa nyeri akibat pukulan yang Myungsoo berikan tadi. Otaknya seakan bertanya pada dirinya ratusan kali ‘Apakah Jisun ku akan baik-baik saja? Apakah Jisun ku akan baik baik saja? Apakah Jisun ku akan baik baik saja?’

Chanyeol tidak akan memaafkan dirinya jika ada sesuatu yang buruk menimpa Jisun, sama sekali tidak akan!

“Semoga Jisun baik-baik saja.” gumam Myungsoo sambil berjalan resah kesana kemari. Ya, Myungsoo dan Chanyeol tengah menunggu kepastian dokter yang sedang memeriksanya.

“Ini semua tidak akan terjadi jika dia jadi milikku!” lanjutnya. Chanyeol mendelik sinis pada Myungsoo. Berkata begini saja sudah membuat Chanyeol naik pitam, bagaimana jika hal itu menjadi kenyataan?

“Diamlah! Kepalaku rasanya ingin pecah karena terlalu banyak memikirkan dia! Dengar, ya! Sampai kapanpun aku takkan melepaskannya!” ujar Chanyeol penuh penekanan

Myungsoo tertawa renyah “Guraae, Gurae~ Kita lihat saja nanti.”

Chanyeol berusaha sabar, menahan hasratnya untuk tidak memukul Myungsoo ditempat ini. Ini dirumah sakit, tidak pantas berlaku semena-mena disini.

TAP TAP TAP… Oh Hani berlari kecil menghampiri mereka berdua “Chanyeol-ah apa Jisun baik-baik saja?”

Chanyeol memaksakan diri untuk bangkit, lalu berhadapan dengan mertuanya yang masih berseragam suster. Oh Hani hanya bisa datang sendiri karena suaminya sedang mengoperasi pasien lain.

“Omo… Ada apa dengan wajahmu? Mengapa bisa babak belur seperti ini, Chanyeol-ah?”

“Gwokjonghajimaseyo (tolong jangan hiraukan aku) Mianhaeyo eomonim. Aku… Gagal menjaganya. Semoga Jisun akan baik-baik saja.” sesal Chanyeol seraya menundukan kepalanya.

*****

Setelah pemeriksaan yang memakan waktu dua jam akhirnya Chanyeol dan Oh Hani dipersilahkan masuk ke ruangan dokter yang biasa merawat Jisun selama ini, Song Jongki.

“Secara tidak sengaja, Amnesia yang dideranya sudah sembuh! Cukhaeyo Hani-ya, Chanyeol-ssi!” Ujarnya dengan wajah sumringah.

Chanyeol dan Oh Hani saling bertatapan. Rasa haru dan bahagia tidak bisa mereka bendung lagi. Akhirnya Jisun sembuh! Tak ada yang lebih baik dari ini~

Rasanya Chanyeol ingin berlari-lari sambil berteriak ditaman belakang rumah sakit, mengungkapkan rasa bahagianya.

“Terima kasih Tuhan… Terimakasih banyak…” Gumam Chanyeol.

“Gomawo Jongki-ah!” Oh Hani mulai terisak. Akhirnya malaikat kecilnya itu sudah pulih.

“Jeongmal Gamshamnida uisanim… Jeongmal Gamshamnida… Berkahmu tak terhingga uisanim, terimakasih sudah menyembuhkan Jisun-ku.” Chanyeol membungkuk kan tubuhnya berkali-kali.

Song Jongki hanya tersenyum hangat, ia bisa merasakan kelegaan yang terpancar di mimik wajah mereka berdua.

“Sama-sama. Obati wajahmu dulu, Chanyeol-ssi. Kau tidak ingin istrimu khawatir ‘kan?”

Chanyeol tersenyum lebar “ne! ^^”

*****

            Aku membuka mataku perlahan, lalu cahaya putih itu berlomba-lomba masuk kedalam retinaku. Aku dimana? Samar-samar aku melihat… Nghh Tempat ini sangat berdominan putih, bau kaporit yang menyeruak itu sangat mengganggu indra penciumanku! Apa aku sedang berada dirumah sakit? Tapi…

Akghh… Sakit!! Kepalaku sangat sakit sekali! Aku menekan-nekan kepalaku pelan, agar rasa nyerinya berkurang. Tapi… Kenapa aku bisa berada disini? Seingatku tadi malam aku minum lima botol soju setelah pulang dari Paraeso Falls bersama…. Akghhh

Aku terbangun dari baringanku dan terduduk. Park Chanyeol? Mengapa tiba-tiba aku mengingat nama namja yang selalu menyakitiku itu? Tanpa terasa mataku memanas dan ada yang jatuh dari sana melewati pipiku, aku menangis!? Ada apa denganku? Mengapa tiba tiba hatiku perih sekali, perih tanpa ada alasan yang jelas!

Sebenarnya ada apa denganku? Ku paksakan otakku untuk mengingat semuanya perlahan~ Oh Tuhan, setelah meminum soju itu… aku… aku kecelakaan?! Tapi kenapa aku masih berada didunia yang kelam ini? Kenapa aku masih bernafas ditempat yang sama dengan Park Chanyeol? Aku bersikeras melupakannya! Aku tidak ingin mengingatnya lagi! Aku berharap setelah kecelakaan itu, aku meninggal dan bisa melupakan Chanyeol tanpa ada rasa sakit!

Aku mengedarkan pandanganku keseluruh ruang rawatku.

DEG! Apa itu? Aku mengambil secarik kertas yang sengaja ditegakkan diatas meja sebelah tempat tidurku.

Halo, Park Jisun… Kau sudah bangun?

Istirahatlah yang cukup. Bila kau butuh

sesuatu tekanlah bel yang terdapat disebelah

tempat tidurmu. Kau tau? Aku sangat bahagia

kau bisa sembuh dari Amnesia mu~

Sekarang kau sudah mengingatku ‘kan? Ah iya,

Jangan memikirkan banyak hal dulu, ya!

-Chanyeol-

Aku menautkan alisku bingung. Tunggu dulu! Apa ini mimpi? Seorang Park Chanyeol mengkhawatirkanku? Mengapa tiba-tiba dia memikirkan keadaanku? Ku baca lagi secarik surat itu, namun kali ini lebih teliti. Amnesia? Park Jisun? Mengapa dia mengganti margaku dengan Park? Aku mulai berfikir keras.

DEG! Detik berikutnya nafasku mengebu ngebu! Jantungku berdetak tak karuan! Iya! Aku sudah mengingat semuanya! Aku kecelakaan dan amnesia! Setelah itu aku masuk ke Universitas Korea, dan Chanyeol… dia… dia segera… menikahiku?! Apa-apaan ini?

Kini mataku mulai memanas lagi. Air mata itu mengalir pelan melewati pipiku, rasa sesak didadaku ini membuatku kesulitan bernafas. Memori itu berlomba-lomba masuk kedalam otakku! Kenangan manisku bersama Chanyeol setelah kecelakaan, kenangan yang belum pernah aku rasakan sebelum aku Amnesia.

Ya Tuhan… Bolehkah aku bertanya? Mengapa saat aku melupakannya dia malah peduli padaku? Mengapa saat aku tidak mengharapkannya lagi dia malah berbuat manis padaku? Mengapa saat hati ini tidak mengharapkannya lagi dia malah membalas cintaiku? Apa rencanamu dibalik semua ini, Ya Tuhan?

Baek Jisun yang dulu telah kembali. Apa kau senang Park Chanyeol? Apa kau akan tetap berlaku manis padaku seperti sekarang? Atau.. Kau akan memperlakukanku semena-mena lagi seperti dulu? Apa kau akan memandang rendah diriku lagi? Apa kau akan mengacuhkanku karena aku sudah kembali menjadi Baek Jisun yang bodoh? Baek Jisun yang idiot karena terlalu mencintaimu? Ah! bukankah Baek Jisun yang terbodoh itu sudah berjanji untuk melupakanmu dan berhenti mencintaimu?

Jisun si Amnesia sudah tak ada lagi. Yang mana yang lebih kau sukai? Jisun si Amnesia atau Jisun si bodoh? Sepertinya kau sangat menyukai Jisun si Amnesia. Aku benar?

*****

            Dengan senyuman manisnya, Chanyeol berlari menelusuri lorong rumah sakit. Ia segera meninggalkan kelas pentingnya saat menerima panggilan bahwa Jisun sudah tersadar. Chanyeol tak peduli walau ia sudah banyak meninggalkan kelas selama mencari pekerjaan, Jisun jauh lebih berharga dari itu.

“JISUN-AH!” pekik Chanyeol girang setelah satu langkah memasuki ruang rawat Jisun. Terlihatlah gadis itu sedang terduduk santai membaca novel favorite-nya.

Chanyeol menghampirinya dan menghambur memeluk tubuh mungil itu. Jisun terenyuh, hingga novel yang tengah dibacanya itu terjatuh kelantai, hatinya berdetak tak karuan.

“Bagaimana keadaanmu, hem?” tanya Chanyeol lembut, selembut bisikan angin yang menggelitik perasaannya. Chanyeol sesekali mencium puncak kepala gadis itu. Rasa rindu yang berkabung lama dihatinya tak bisa ia tahan lagi. Banyak hal yang ingin Chanyeol jelaskan dan ceritakan padanya.

Diam-diam Jisun menggapai tombol darurat yang tersampir dimeja. 30 detik kemudian beberapa suster berlari tergesa-gesa menghampiri mereka berdua.

“Ada yang bisa kami bantu, nona?”

“Tolong keluarkan namja aneh ini! Dia sangat menggangguku!” titah Jisun dengan wajah datarnya.

Beberapa suster disana terlihat saling bertatapan. Chanyeol sedikit melonggarkan pelukannya dan memberi tatapan tak-percaya pada Jisun. Perasaannya berkecamuk antara kaget dan bingung.

Sebenarnya apa yang salah disini? Chanyeol membatin.

“CEPAT!” pekik Jisun. Beberapa suster tersebut berhamburan keluar, melakukan apa yang Jisun perintahkan.

Jisun menghindari tatapan Chanyeol yang sejak tadi menikam nya. Mengibas jauh jauh rasa sakit dihatinya.

“Ada apa denganmu, Jisun-ah? Ini aku! Chanyeol!”

“…..”

Gadis itu menatap Chanyeol sekilas. Jisun melihat memar yang terdapat di wajah Chanyeol. Apa pukulan Myungsoo sesakit itu? Hati Jisun ikut teriris melihatnya.

“Ah! Kau masih marah padaku karena aku meninggalkanmu di Apartment beberapa hari lalu. iya ‘kan? Baiklah biar kujelask— Hey! Apa-apaan ini?!“ seru Chanyeol saat dirinya tiba-tiba dibopoh mundur oleh dua satpam rumah sakit.

“Aish lepaskan! Aku suaminya! Kalian tak punya hak untuk berbuat hal ini!” ujar Chanyeol gusar sambil melepaskan tarikan kuat kedua satpam itu berkali-kali.

“Keluarkan dia dari ruanganku!”

Chanyeol merasakan hatinya tengah terkoyak! Tenaga Chanyeol seketika menciut dan dengan mudahnya kedua satpam itu menyeret Chanyeol keluar.

*

“Chanyeol-ah, kau tidak masuk?” Oh Hani menghampirinya yang masih mematung didepan ruang rawat Jisun. Chanyeol terhentak dan memberi hormat padanya.

“Ye? Hm, Aku berniat mencari buah-buahan untuk cuci mulutnya.” Jawab Chanyeol dengan gugup.

Oh Hani tertawa kecil “Aku terlambat. Satpam itu sudah mengusirmu, ya? Aku sempat melihat tadi kau diseret keluar. Nanti biar ku marahi mereka! Kau jangan khawatir~”

Chanyeol tersenyum tipis. Sifat dan pesona wanita paruh baya yang dihadapannya ini menurun pada gadis yang ia cintai, Baek Jisun. Ah bukan, maksudnya Park Jisun.

“Ayo masuk!”

“Sepertinya Jisun masih belum ingin bertemu denganku.” Kata Chanyeol pelan. Mengingat perlakuan Jisun padanya membuatnya semakin tak percaya diri. Padahal sejak kemarin Chanyeol sudah berharap jika Jisun sudah sadar, Chanyeol akan selalu disampingnya.

“Mwo? Jadi dia yang memanggil satpam untuk mengusirmu? Fyuhhh anak itu. Baiklah biar aku yang bicara padanya!”

Chanyeol memutuskan keluar untuk mencari makan siang setelah Oh Hani beringsut masuk kedalam ruang rawat Jisun. Menasihatinya~

*****

5 Days Later~
“Masuklah Chanyeol-ah. Sudah saatnya kalian bicara~” seru Oh Hani pada Chanyeol yang tengah merenung disana. Kalian tahu? Ia hanya menghabiskan harinya tanpa berpindah tempat dari sini, duduk dilantai tanpa alas didekat area ruang rawat Jisun.

“Apa dia sudah menerimaku, eomonim?” tanya Chanyeol dengan ragu. Oh Hani hanya tersenyum tipis. Percintaan anak muda memang menyulitkan. Diam-diam tapi mencintai dan peduli, begitulah istilahnya~

Setelah Oh Hani melenggang pergi. Chanyeol melangkah pelan memasuki kamar rawat Jisun yang bisa terbilang sangat nyaman dan hangat.

Chanyeol bisa melihat gadis yang tengah ia rindukan dari sini, gadis yang menggoncang dunia-nya dan memperkenalkannya apa arti Cinta dan Penyesalan.

Gadis itu dengah terduduk tegap diatas tempat tidur putih empuk, menghadap jendela besar yang menyajikan pemandangan Sunset di taman belakang Rumah sakit. Perlahan namun pasti, Chanyeol menghampirinya dan duduk disebelahnya.

“Halo Jisun-ah~” oh Tuhan ini terlihat sangat Awkward. Jisun hanya mendengus dan tidak menghiraukan apa yang laki-laki itu katakan.

Chanyeol sedikit tertegun atas respon yang Jisun berikan. “Kau masih marah padaku? Baiklah biar ku perjelas. Aku minta maaf, karena meninggalkanmu di Apartment waktu itu.”

Hening… Masih belum ada jawaban darinya.

“Kau pasti ingin tahu alasannya ‘kan? Eungg, selama ini aku pergi mencar—“

“Aku akan menepati janji itu!” ujar Jisun pelan namun penuh penekanan. Chanyeol hanya menghela nafas saat ungkapannya tiba-tiba disela.

“Eungg, Yaksok? (Janji) Mwusun Yaksok? (Janji macam apa)”

Chanyeol mulai menahan nafasnya, berharap bukan hal buruk yang terlontar

Jisun terkekeh meremehkan, didetik selanjutnya kekehan itu terhenti. “Janji setelah kita pergi ke Paraeso Falls, kau ingat?”

DEG! Chanyeol sedikit terenyuh. Jangan bilang kalau…

“Janji untuk tidak mendekatimu, melupakanmu, berhenti mencintaimu dan menghindar sebisaku. Aku akan menepati itu semua~” Jisun beralih menatap Chanyeol tajam. Tatapan itu seolah menghujat perasaannya, tatapan yang tersirat keputus asaan didalamnya.

Ya, Chanyeol memang ingat betul janji tersebut. Untuk apa mempunyai IQ tinggi jika tidak bisa mengingat janji semacam itu? Tapi jujur saja, ini adalah hal yang paling tidak mau Chanyeol ungkit dengan Jisun. Karena bagaimanapun Chanyeol takkan pernah bisa melepasnya~

“Jangan bercanda! Kau dan aku sudah terikat pernikahan!” seru Chanyeol dingin. Menentang mentah-mentah fakta yang telah ia terima.

“Kau menikah dengan Jisun si Amnesia! Dan yang berbicara padamu sekarang adalah Jisun si bodoh… tch… bukan bodoh lagi, tapi idiot!”

Sekarang giliran Chanyeol yang membisu. Mencerna setiap kata-kata yang yeoja ini berikan. Mengapa mendengarnya saja bisa sesakit ini? Apa maksudnya Jisun si Amnesia dan Jisun si Bodoh? Bagi Chanyeol semuanya itu sama! Intinya dia hanya mencintai satu orang di dunia ini, yaitu Baek Jisun!

“Kita bercerai saja, mudah ‘kan? Toh, kita belum pernah bersetubuh. Jadi tidak masalah~”

DEG!

Chanyeol menatap Jisun nanar, menghempas rasa sesak ini sebisa mungkin. Bercerai dari Jisun merupakan hal yang tidak pernah ia bayangkan! Apa maksud dari semua ini? kenyataan ini sangat jauh dari apa yang sudah Chanyeol fikirkan! Fikirnya, Setelah Jisun pulih mereka berdua akan membina rumah tangga yang seutuhnya dan sesungguhnya.

“Sudah, ya. Aku ingin istirahat. Biar ku-urus perceraiannya setelah aku pulih total.” Jisun mulai melebarkan selimutnya dan terbaring disana.

Didetik berikutnya Chanyeol memposisikan tubuhnya diatas tubuh Jisun yang terbaring dibawahnya. Mata Jisun membulat sempurna atas perlakuan Chanyeol ini. Terkejut.

“Apa yang—“

“Kau masih ingat tentang taruhan yang kita buat itu ‘kan?”

Jisun menelan salivanya. Iya, Jisun masih mengingat betul tentang hal itu! Sebuah taruhan bodoh. Jika Jisun mengakui bahwa Chanyeol adalah orang yang dicintainya dan sangat berarti untuknya, maka Chanyeol lah pemenangnya.

“Aku menang! Kau sudah pulih dan mengingat semuanya! Kau mengakui itu? Jadi kau harus siap menuruti apapun yang ku minta!”

Chanyeol mengatur nafasnya yang mengebu-ngebu. Menahan emosi yang sejak tadi berkabung dibenaknya.

Jisun tersenyum miring “Tapi aku tidak mencintaimu, Park Chanyeol.”

Kalimat yang selama ini Chanyeol takuti akhirnya terlontar juga.

‘Aku-TIDAK-Mencintaimu…’

Seseorang tolong tampar wajahnya dan meyakinkannya bahwa ini semua hanyalah mimpi! Maka Chanyeol akan terbangun dari mimpi kelam ini dengan segera.

Jisun merasakan goresan pedih yang ia rasakan dihatinya. Inikah kata kata yang seharusnya ia lontarkan pada namja yang sesungguhnya masih ia cintai itu?

“Baiklah kita bersetubuh sekarang juga!”

Chanyeol segera menciumi Jisun kasar. Ciuman yang sangat jauh dari kata hangat dan manis. Chanyeol melampiaskan frustasi dan sakit hatinya lewat ciuman ini. Jisun mencoba mendorong tubuh Chanyeol yang berada diatasnya.

Entah sejak kapan. Kini Chanyeol mulai mengecupi leher putih Jisun tanpa izin. Hasratnya ingin sekali memiliki Hati, Cinta dan Tubuh Jisun sepenuhnya.

Dia memperlakukanku semena mena lagi. Desis Jisun dalam hati. Mengapa rasanya perih sekali? Bukan! Bukan perlakuan kasar seperti ini yang Jisun inginkan! Bukan, Bukan begini! Setidaknya bisakah tolong Chanyeol mengerti Jisun sekali saja?

Jisun mencengkram kedua tangan Chanyeol erat ketika ia mulai membuka kancing-kancing piyama Jisun dengan agresif. Dengan sekali gerakkan, Chanyeol berhasil menghempaskan cengkraman tangan Jisun yang tengah menghalanginya dengan keras! Dan…

BRAAAKKK…

Tanpa sengaja lengan Jisun yang tadi Chanyeol hempas membuat tiang infuse yang tengah berdiri kokoh itu terjatuh! Tanpa Chanyeol sadari, jarum infuse yang tertancap di punggung tangan Jisun terlepas. Sehingga darah segar itu mengalir bebas dari sana~

Chanyeol sontak berhenti melakukan aktifitasnya dan beralih menatap Jisun.

Tapi… Yang ia lihat hanya isakan menyedihkan darinya dan air mata yang tak henti-hentinya mengalir dari mata indah itu… Suatu pemandangan yang paling Chanyeol benci, yaitu saat Jisun menangis! Terlebih lagi Chanyeol lah penyebabnya! Hati Chanyeol ikut teremas melihatnya.

Jisun mendorong pundak Chanyeol kasar. Kali ini berhasil!

Jisun memojokkan tubuhnya ke sudut tembok, tubuhnya mulai bergetar dan isakan itu semakin terdengar menyedihkan!

“AKU MEMBENCIMU! JANGAN PERNAH KAU MUNCUL DIHADAPANKU LAGI!”

Hatiku seketika mati rasa! Sakit… Kata-kata itu… Apa benar itukah yang kau inginkan Jisun-ah? Chanyeol membatin. Ia menyesal. Perlakuannya tadi sama sekali tidak memperbaik keadaan, tapi malah sebaliknya. Chanyeol tertegun saat melihat cairan merah pekat mengalir dari punggung tangan gadis itu. Ugh… Apakah Chanyeol sudah menyakitinya sejauh ini?

Chanyeol mendekat…

“PERGI KAU BEREGNESK!”

Mengapa Jisun terlihat seperti melihat hantu atau orang gila? Benarkah itu? Benarkah Jisun sudah tidak mencintai Chanyeol lagi? Akankah ia mundur?

“Jisun-ah, aku… aku… aku…”

Rasa sakit dihatinya itu mulai menyebar ke seluruh tubuhnya. Semua syarafnya serasa mati rasa dan membeku, membuatnya sulit bicara. Padahal hanya satu organ yang terluka (hati), tapi kenapa dampaknya bisa sedahsyat ini?

Jisun menggapai buah jeruk dilantai dan melemparkan jeruk itu pada Chanyeol.

PUK… Jeruk itu… mengenai pundak kiri Chanyeol…

“AISH PERGI!!” pekik Jisun. Chanyeol masih terus menatapnya sendu~

“Baiklah. Istirahat lah yang cukup, Jisun ku” Chanyeol menyeka dengan cepat air mata yang mengalir disudut matanya. Lalu melenggang pergi dari jarak pandang Jisun.

*****

Next Day…
Chanyeol berjalan di lorong rumah sakit sambil membawa sekotak Macaroons pelangi kesukaan Jisun, sebagai permintaan maafnya. Yaah… Kalian bisa memanggil Chanyeol dengan sebutan Si Muka Tembok, sekeras apapun beban menghantamnya, ia tak akan goyah!

Enggg… Akankah Jisun memaafkannya?

Semakin dekat langkahnya semakin berdebar juga detak jantungnya. Chanyeol sangat nervous, lebih nervous dari menghadapi Ujian Fisika sekalipun.

“Kau~?” Jisun menaikkan sebelah alisnya. Ia menatap bingung pada namja yang baru saja selangkah memasuki ruang rawatnya, Kim Myungsoo.

“Aku hanya ingin melihat keadaanmu saja…” balasnya.

Mengapa setiap saat harus ada orang yang mengusiknya, sih? Padahal hari ini Jisun ingin menyendiri, ia ingin merenungi ucapan dan perbuatannya pada Chanyeol tadi malam. Tapi niat baik seseorang tidak boleh ditolak, bukan?

“Masuklah,”

Myungsoo berjalan mendekat ke arah Jisun, lalu ia meletakan kantung plastik yang sejak tadi ia bawa diatas meja.

“Samgyupsal untukmu.” Ujar Myungsoo sambil tertunduk. Jujur saja, Myungsoo masih merasa tak enak hati padanya. Syukurlah gadis itu tidak mengusirnya keluar atau membentaknya.

“Gomawo, Myung oppa.”

DEG!! Ternyata benar… Ingatan Jisun sudah pulih!

Jisun berdiri didekat Myungsoo setelah membuang kulit buah salak pemberian nenek nya ke tempat sampah.

“Kau sudah pulih total Jisun-ah?”

“Hmm, Seperti yang kau lihat.” Jisun tersenyum kecil.

“Cepat sembuh, ya. Agar kau tidak tertinggal materi kelas terlalu jauh.” Jisun mengangguk mengiyakan. Myungsoo bisa bernafas lebih leluasa sekarang, ternyata Jisun baik-baik saja walaupun ia masih belum bisa beraktifitas seperti semula.

Jisun terhentak saat melihat Chanyeol tengah membuka pintu ruang rawatnya. Detik berikutnya Jisun mengalungkan lengannya keleher Myungsoo dan mencium bibirnya.

Chanyeol yang melihat ini hanya terdiam membeku disana. Jisun berciuman dengan orang lain… di… hadapannya?

Sakit… Ia rasa hatinya akan segera membusuk sekarang juga! Sesak… dadanya terasa sangat sesak, tenggorokannya seketika tercekat dan kaki kokoh itu perlahan melemas. Chanyeol menolak pemandangan yang tengah ia lihat sekarang! Ia harap matanya membuta!

Chanyeol

Tidak

Pernah

Merasa

Serapuh

Ini

Entah sejak kapan Macaroons itu sudah berserakan asal diatas lantai…

Jisun masih terus mencium Myungsoo. Tapi kali ini lebih dalam… Hati Myungsoo berkecamuh bingung. Apa yang salah disini? Aku tidak mengerti. Jelas jelas Chanyeol berada dihadapan kami. Tapi mengapa Jisun malah menciumku?

Jisun melepaskan tautan bibirnya saat Chanyeol sudah menghilang. Setetes air mata mengalir, dengan cepat Jisun menghapus air mata itu dengan ibu jarinya. Apa benar kata mereka? Kita akan ikut merasakan sakit saat menyakiti orang yang kita cintai?

Bagus Baek Jisun! What have you done?! Entahlah… Jisun sendiri tidak mengerti bagaimana jalan fikirannya sekarang.

Dengan fikiran kacau Chanyeol berlari menelusuri taman belakang rumah sakit yang sepi. Dirinya berhenti dihadapan pohon maple yang kokoh.

BUGH!! BUGH!! BUGH!

Chanyeol mengarahkan tinjunya pada pohon maple itu tanpa henti, hingga buku buku tangannya lecet dan berdarah.

Cairan bening sialan itu perlahan jatuh melewati pipinya. Sejak awal Chanyeol tidak percaya bahwa dirinya akan menangisi hal bodoh yang disebut cinta. Tapi disini ia melanggar kepercayaannya sendiri!

“Apa yang harus kulakukan? Aku… Sangat Mencintainya~ Hiks”

*

“Tch… Kau mempergunakanku untuk…. Membuat Chanyeol cemburu?!” ujar Myungsoo sinis.

“Ini hukumanmu!” nada suara Jisun mulai bergetar. Ia tak kuasa menahan rasa perih ini sendirian. Sampai kapan ia harus berlaga Munafik dihadapan Chanyeol?

“Apa maksudmu?”

“Kau bohong! Kim Hyesun bukan mantan kekasihnya, melainkan sepupunya. Aku benar?”

DEG!

*To Be Continued*

Ternyata Chapter ini bukan yang terakhir kan? Kekekkeek

Ah, Mohon maaf ya aku ngirimnya agak telat. Pass Chapter ini udah selesai eh tiba tiba laptopku rusak, ya ampun! Nyesek banget~ Semua data dan berkas FF ini ada di laptopku itu! Terpaksa aku ngetik ulang dari awal TT-TT Capek banget, tapi banyak yang ngasih support dan dorongan buat ngelanjutin FF ini! Termasuk readersdeul yang setia. Sekali lagi, Nune mohon maaf yaaa~~^^

Leave Your comment kekekkee

Iklan

102 pemikiran pada “Loving You Like Crazy (Chapter 8)

  1. Gak bisa salahin jisun jga sih….jisun skrg udah sembuh secara otomatis dy tau sikap chanyeol dlu gmana ke dy….siapa jga yg gak sakit hati ampe disiram dpan umum….jisun jga gak bisa lsg percaya klo chanyeol cinta sama dy…sabar ya chanyeol

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s