Our Love (Chapter 7)

OUR LOVE (Chapter 7)

Author : Choi Nunu

Genre : Romance, Friendship

Length : Multi Chapter

Rating: G

Cast : Kim Hana (OC); Oh Sehun; Park Chanmi (OC); Park Chanyeol; Kim Jong In; Oh Sekyung (OC)

 

Annyeonghaseyo reades! ^^ *bow*

Here it is..chapter 7 yang dibuat dengan penuh perjuangan dan setengah sadar karena author masih mesmerizing sama Jjong oppa!! ^^ *gyaaa!!!* #abaikan. Langsung aja, happy reading and don’t forget to comment it! Annyeong!!

 

 

***

 

 

“Hana-ya! Hana-ya, gwaenchanayo?” aku makin panik melihat tubuh Hana yang diperban di beberapa bagian. Matanya terpejam, belum sadar.

Aku terduduk lemas di samping ranjangnya. Kuraih tangannya dalam genggamanku, “Hana-ya…” panggilku pelan. Dia masih memejamkan matanya.

“Sehun-ah…” panggilan itu? Aku mendongak, menatap wajah Hana, tapi dia masih belum sadar.

“Sehun-ah…” aku menoleh dan mendapati Chanmi menatapku dari ranjangnya.

Aku bangkit, berjalan mendatanginya, “Gwaenchanayo?” tanyaku pelan, kepalaku sesekali menoleh ke arah Hana, masih belum sadar.

“Ne.” jawab Chanmi, entahlah aku tidak dapat memfokuskan diriku padanya. Kepalaku penuh dengan kekhawatiran pada Hana.

“Sehun-ah, tolong jaga Chanmi, biar aku yang menemani Hana.” pinta Chanyeol hyung tiba-tiba.

“Eoh…”

Belum sempat kujawab, Chanyeol hyung sudah mendatangi ranjang Hana. Aku hanya menghela nafas, bagaimanapun Chanyeol hyung adalah namjachingunya sekarang.

“Aku pikir aku akan mati, tapi Hana melindungiku…” aku memandang Chanmi, dia menoleh menatap Hana.

Kondisi Chanmi tidak terlalu buruk, beberapa luka di bagian tangan, dan sedikit goresan di wajahnya, berbeda dengan Hana yang diperban di beberapa bagian. Ah, aku benar-benar mengkhawatirkan yeoja itu.

Drrt…drrt… lagi-lagi ponselku.

“Yeoboseyo.”

“…”

“Ne hyung, aku dan Chanyeol hyung sudah di rumah  sakit, sebaiknya kau juga kemari.” kataku pada Jong In hyung yang meneleponku.

“Ne.” Aku mematikan ponselku setelah mendengar bahwa Jong In hyung akan segera kemari bersama Kim ahjumma.

Aku kembali menatap Chanmi, dia memejamkan matanya lagi, sepertinya masih sedikit pusing dan terkejut. Matanya terbuka kembali dan memandangku, dia tersenyum sekilas.

“Kau mengkhawatirkan Hana?” tanyanya pelan, hampir seperti bisikan.

Aku tersenyum kecil, tanpa kukatakan itu pasti terlihat dari ekspresiku saat ini.

“Hana-ya? Chagiya?” aku menoleh mendengar Chanyeol hyung memanggil Hana, tangan Hana sedikit bergerak. Aku baru akan melangkah ke arahnya saat tanganku di ditahan Chanmi.

“Hun-ah…” Hana mengigau pelan, itu aku. Hana memanggilku.

“Ne chagiya? Ini aku.” Chanyeol hyung menggenggam tangan Hana.

Aku memejamkan mataku sedikit frustrasi.

“Sehun, Sehun-ah…” Ne! Kau memanggilku Hana-ya.

Kulepaskan tangan Chanmi dan bergegas menghampiri ranjang Hana di sudut ruangan. Chanyeol hyung menatapku tajam, dan tidak kupedulikan. Aku meraih tangan kirinya yang dipasangi selang infus.

“Hana-ya, aku di sini.” ucapku pelan. Tangannya bergerak pelan dalam genggamanku, matanya terbuka perlahan.

“Sehun-ah…” panggilnya saat matanya terbuka dan menatap ke arahku. Aku tersenyum lebar, “Ne, aku di sini. Aku disampingmu.” kataku lagi.

Kau membutuhkanku Hana-ya. Kenyataan ini membuatku melompat tinggi karena terlalu senang.

Hana kembali memejamkan matanya lagi, “Appo…” ucapnya lirih.

“Apa yang sakit Hana-ya? Malhaebwa.” kataku lagi, tanganku makin erat menggenggam tangannya.

“nae gaseumi apha (hatiku sakit), Sehun-ah.” Aku menatapnya lekat-lekat, berharap ia melanjutkan perkataannya, tapi sepertinya Hana kembali jatuh tertidur.

Hana-ya, siapa yang sudah menyakitimu? Chanyeol hyung? Atau… aku?

*Oh Sehun POV End*

 

 

Park Chanmi hanya dapat menatap punggung Sehun yang lebih memilih untuk menemani Hana dibandingkan dirinya. Hatinya sedih, sangat sedih, karena kenyataan bahwa bagi Sehun, Hana-lah yang lebih penting.

“Oppa…” panggilnya, membuyarkan lamunan Chanyeol yang sibuk menatap Sehun menggenggam tangan Hana.

“Ne.” jawab Chanyeol. Dilepaskannya genggamannya dari tangan kanan Hana, lalu berdiri dan mendatangi ranjang Chanmi, “Wae?” tanyanya lembut pada yeodongsaengnya itu.

“Aku haus, dapatkan oppa meminta segelas susu pada perawat? Aku ingin susu coklat.”

“Ne, tunggulah sebentar.” Chanyeol melangkah keluar kamar dan menutup pintu dibelakangnya.

“Sehun-ah.” panggil Chanmi setelah memastikan oppanya keluar kamar.

Sehun membalikkan badannya, matanya bertemu dengan kedua mata Chanmi yang agak berkaca-kaca, “Ne.” jawabnya pada Chanmi.

“Rasanya pasti menyenangkan menjadi Hana. Disampingnya ada namjachingunya dan di sisi lain sahabatnya, yang sangat menyayanginya. Mereka menjaga temanku, Hana, dengan baik.” Ujar Chanmi.

Sehun tampak sedikit terkejut. Dia merasa bersalah meninggalkan Chanmi, tapi itu dilakukannya dengan refleks, lagipula sejak mendengar berita kecelakaan Hana dan Chanmi tadi, hanya ada satu nama yang memenuhi pikirannya, Kim Hana.

“Mianhe Chanmi-ah. Geundae…”

“Apa kau menyayangi…ah, ani. Apa kau mencintai Hana, Sehun-ah?” tenggorokan Chanmi terasa sangat kering saat menanyakan hal itu pada Sehun, matanya panas membuatnya tidak berani mengerjapkan kedua matanya, takut air matanya akan tumpah nantinya.

“Chanmi-ah…”

“Aku…sejak kakiku lumpuh karena kecelakaan dulu, kau selalu ada dekatku hingga aku kembali berjalan. Sejak itu kita selalu bersama, kau ingat? Hingga saat ini, kau pun selalu di dekatku Sehun-ah, selalu menjagaku dengan caramu. Aku selalu merasa semua itu suatu keajaiban yang diberikan oleh Tuhan padaku.” Chanmi menarik nafas sejenak, berharap dengan itu rasa tidak enak dari debaran jantungnya yang tidak beraturan dapat sedikit berkurang.

“Aku menyayangimu, Oh Sehun, bahkan tidak berselang lama sejak aku mengenalmu beberapa tahun lalu. Kau namja pertama yang membuatku merasakan semua hal paling membahagiakan di dunia. Kau juga yang pertama membuatku menangisimu karena aku merindukanmu. Baru kali ini aku merasakan perasaan yang tidak menentu saat berada dekat dengan seseorang. Aku bersyukur mengenalmu Sehun-ah.”

Chanmi tidak sanggup menahan air matanya lagi. Dia membiarkan buliran-buliran kecil itu mengaliri wajahnya perlahan. Sehun memejamkan matanya, menarik nafas sejenak.

“Chanmi…”

“Maaafkan aku. Aku terlalu egois… Aku sudah terlalu egois. Kau terlalu banyak memperhatikanku hingga hubunganmu dan Hana jadi renggang seperti sekarang. Sejak awal…harusnya aku sudah tahu sejak awal kalau yang kau cintai adalah Hana, bukannya aku. Sejak awal duniamu adalah Kim Hana, bukannya Park Chanmi. Mianhe, jeongmal mianhe Sehun-ah…” Chanmi terisak, ia menundukkan kepalanya dalam-dalam, tidak berani menatap wajah Sehun.

“Chanmi-ah,” Sehun menghampiri Chanmi, duduk di sampingnya dan menurunkan wajahnya, mencoba melihat wajah yeoja itu. Tangannya mengangkat dagu Chanmi perlahan.

“Mianhe. Kau tidak boleh menyalahkan dirimu tentang aku dan Hana, dan juga akulah yang seharusnya meminta maaf padamu Chanmi-ah.” ujar Sehun.

“Maafkan aku yang tidak dapat membalas perasaanmu padaku. Aku tahu kau menyayangiku, mungkin aku juga menyayangimu, namun sebagai sahabatku Chanmi-ah.” Sehun terdiam sejenak, “Kau benar, aku mencintai Hana, sejak dulu hingga sekarang. Aku…sudah menyatakan perasaanku padanya, tapi dia menolakku. Mungkin itu yang membuat hubunganku dan dia jadi kurang baik, bukan karenamu, Chanmi-ah. Jangan salahkan dirimu.” Sehun membelai pelan kepala Chanmi.

“Kau sudah mengatakannya? Tapi, Hana…” Chanmi tampak bingung.

“Hana lebih memilih oppamu, kurasa aku harus menerimanya. Ia menolakku karena ia mencintai Chanyeol hyung.” Sehun mengulas senyuman pahit di wajahnya.

“Tapi kenapa yang dia panggil namamu Sehun-ah? Kalau dia memang mencintai oppaku…”

“Karena aku sahabat terbaiknya. Lagipula, dia tadi hanya mengigau. Kau tahu? Sejak kecil dia memang suka mengigau saat tertidur.” lagi-lagi senyum yang dipaksakan oleh Sehun. Dalam hatinya ia mengingkari kata-katanya sendiri. Harapannya lebih dari itu. Ia memang berharap ada artinya kenapa yang Hana panggil adalah namanya, bukannya Chanyeol.

 

 

***

 

 

*Park Chanyeol POV*

Aku membawa segelas susu coklat dari cafetaria untuk Chanmi. Aku berjalan ke kamar rawat mereka, kepalaku sibuk berpikir tentang kejadian tadi. Hana memanggil nama Sehun, padahal kondisinya masih setengah sadar. Apakah Sehun sebegitu penting untuknya?

“Maafkan aku yang tidak dapat membalas perasaanmu padaku. Aku tahu kau menyayangiku, mungkin aku juga menyayangimu, namun sebagai sahabatku Chanmi-ah.” aku mendengar suara Sehun, tepat sebelum tanganku memutar kenop pintu. Kudekatkan telingaku ke daun pintu, seolah aku berdiri sambil menempel di pintu.

“Kau benar, aku mencintai Hana, sejak dulu hingga sekarang. Aku…sudah menyatakan perasaanku padanya, tapi dia menolakku. Mungkin itu yang membuat hubunganku dan dia jadi kurang baik, bukan karenamu, Chanmi-ah. Jangan salahkan dirimu.” Tubuhku menegang mendengar perkataan Sehun. Jadi, dia juga mencintai Hana?

“Kau sudah mengatakannya? Tapi, Hana…”

“Hana lebih memilih oppamu, kurasa aku harus menerimanya. Ia menolakku karena ia mencintai Chanyeol hyung.”

Aku tidak tahu harus bernafas lega atau sebaliknya saat mendengar pembicaraan Sehun dan Chanmi. Hana mencintaiku dan menolak Sehun?

Aku memang namjachingunya, aku berkata bahwa aku mencintai yeoja itu. Hana banyak tersenyum dan tertawa saat bersamaku, dia memang memandangku dengan tatapan yang teduh, hanya saja aku masih sedikit ragu kalau itu cinta, walaupun aku dapat memastikan kalau dia menyayangiku. Mengetahui kenyataan bahwa Sehun mencintai Hana membuatku sedikit merasa terganggu.

Aku kembali mengingat setiap kali bersama Hana, hampir semua hal menyenangkan yang diingatnya adalah tentang Sehun. Minuman favorit Sehun, tempat favorit Sehun, buku kesukaan Sehun, musik yang sering didengarkan Sehun. Bahkan saat setengah tersadar, yang dipikirkannya adalah Sehun.

“Chanyeol hyung!” aku terkejut dan menoleh ke arah suara yang baru saja memanggilku.

“Jong In?”

“Kondisi Hana bagaimana? Dan…kenapa hyung di sini?” Jong In menyipitkan matanya aneh.

“Aniyo! Aku habis mengambilkan ini untuk Chanmi. Hana tadi sempat sadar, tapi sepertinya tertidur lagi. Mungkin pengaruh obat bius.” jelasku seadanya.

Aku segera membuka pintu dan masuk bersama Jong In. Kulihat Sehun masih berada di samping Hana, sementara Chanmi melamun di ranjangnya.

“Hana-ya.” Jong In berjalan cepat ke tempat Hana.

“Sehun, dia baik-baik saja? Aigoo, bagaimana bisa seperti ini. Aish, anak ini!” Jong In sibuk mengecek kondisi yeoja dongsaengnya, aku hanya melihatnya dari samping Chanmi.

Kulirik wajah dongsaengku, terlihat kusut. Bagaimanapun kenyataan yang baru diucapkan Sehun padanya pasti jadi pukulan keras untuk dongsaengku ini.

“Gwaenchana?” tanyaku pelan, kucoba untuk tersenyum padanya. Chanmi membalas senyumanku, dia tersenyum tipis dan mengangguk.

“Gomawo oppa.” ucapnya sambil mengambil gelas yang kuletakkan di meja samping ranjangnya.

“Chanmi-ah, apa yang sebenarnya terjadi hingga seperti ini? Kondisimu juga terlihat sangat tidak baik.” aku yang mengawasi Chanmi meminum susu coklatnya segera mendongak ke arah Jong In.

Chanmi ikut melihat Jong In, dari wajahnya aku tahu betapa Chanmi merasa bersalah.

“Aku menjatuhkan barang belanjaku saat menyebrang. Kendaraan dari arah samping hampir menabrakku yang sedang menunduk mengambil barangku yang terjatuh, tapi Hana mendorongku dan akhirnya dia yang tertabrak mobil itu. Jweisonghamnida Jong In oppa, aku sudah membuat Hana celaka karenaku.”

Aku menghela nafas pendek mendengar cerita Chanmi, lalu beralih menatap Jong In lagi. Jong In melihat ke arah Chanmi dengan senyumannya.

“Gwaenchana, Hana pasti baik-baik saja. Yeoja cerewet seperti dia pasti akan baik-baik saja. Kau juga istirahatlah yang cukup agar lukamu cepat sembuh.” ucap Jong In.

Aku lega namja itu tidak menyalahkan Chanmi sedikit pun. Memang namja yang baik, sangat pantas menjadi kakak dari Hana.

“Hyung, kau akan menjaganya sendirian? Apa ahjumma dan ahjussi tidak datang?” tanya Sehun pada Jong In.

“Appa masih di Cina, sedangkan eomma tadi mampir sebentar untuk membeli makanan… Ah, itu dia.” Sehun menoleh mengikuti arah pandangan Jong In, aku ikut menengok ke belakangku.

Kim ahjumma datang dengan langkah cepat, membawa sekantung makanan, sepertinya, juga buah-buahan.

“Aigoo…anakku.” ia membelai kepala Hana pelan, aku tidak tahu lagi apa yang dia lakukan hingga tiba-tiba berjalan ke arah Chanmi.

“Terima kasih sudah menjaga Hana, Chanmi-ah.” ucapnya.

“Aniyo, ahjumma, Hana yang sudah menjaga Chanmi, kami minta maaf Hana menjadi ikut terluka karena menolong Chanmi.” aku menunduk meminta maaf pada Kim ahjumma, diikuti Chanmi yang juga menundukkan kepalanya, mengucapkan maaf.

“Hana juga melakukannya karena ingin menolong Chanmi, dia memang sangat menyayangi sahabatnya, jadi jangan minta maaf Chanyeol, Chanmi.”

Aku tersenyum, kembali menghela nafasku. Ini hari yang berat dan membingungkan untukku.

*Park Chanyeol POV End*

 

 

 

“Oppa, jangan terlalu banyak, nanti aku tersedak.” gerutu Hana saat Jong In menyuapinya.

“Aish, kau ini terlalu banyak permintaan. Makanlah sendiri!” Jong In meletakkan mangkuk yang dipegangnya di meja samping ranjang Hana, membuat Hana semakin cemberut.

“Yak! Kalau tangan kananku tidak digips begini aku juga akan makan sendiri.” omelnya lagi.

Chanyeol tersenyum melihat kakak-adik itu, lalu menghampiri mereka.

“Biar aku yang menyuapi Hana, kau istirahatlah Jong In.” kataku dan mengambil mangkuk yang tadi diletakkan Jong In.

“Ne, kuserahkan anak manja ini padamu hyung. Kalau kau sudah tidak tahan suruh saja perawat galak untuk menjaganya.” Jong In bangkit dari duduknya, “Makan yang banyak, jangan menyusahkan namjachingumu.” pesannya sambil menyentil pelan kepala Hana.

“Auw!! Kau tidak lihat perban ini Tuan Kim? Appoyo!” omelnya sambil memegangi kepalanya yang diyakini Chanyeol sebenarnya tidak sakit.

“Kau manja sekali chagiya.” ujar Chanyeol pelan. Dia menyendokkan sedikit bubur dan mulai menyuapi Hana, sementara yeoja itu membuka mulutnya patuh dan tersenyum ke arah namjachingunya.

“Gomawoyo oppa. Sudah tiga hari dan kau masih tetap menjagaku di sini.” Chanyeol hanya tersenyum mendengarnya.

“Eoh, Chanmi bagaimana? Apa tidak apa-apa kalau oppa di sini?” tanya Hana lagi. Chanmi memang sudah diizinkan kembali ke rumah kemarin, menurut dokter dia tidak terluka parah, hanya shock karena peristiwa kecelakaan itu dan sekarang sudah baik-baik saja.

“Chanmi baik-baik saja. Lagipula ada Sehun yang akan menjaganya.” Raut wajah Hana agak berubah setelah mendengar jawaban Chanyeol, membuat namja itu menghela nafas pendek.

“Oh. Baguslah.” kata Hana akhirnya, memasang senyuman yang jelas terpaksa di wajahnya.

“Hana-ya,” panggil Chanyeol, membuat Hana mendongak menatapnya, “Saranghaeyo.” ucap namja itu pelan.

Hana hanya tersenyum, “Ne oppa.” Hanya itu yang dikatakannya. Dia memalingkan wajahnya, tidak berani menatap Chanyeol. Yeoja itu merasa bersalah setiap kali Chanyeol begitu baik padanya dan menjaganya dengan tulus. Namja itu benar-benar mencintainya, dan yang dapat Hana lakukan hanya mengingat Sehun? Hana merasa dirinya sudah jahat, ia sudah mengambil keputusan yang salah karena menerima Chanyeol menjadi kekasihnya.

“Mianhe oppa.” Hana hanya dapat menggumamkannya dalam hati.

 

 

***

 

 

“Sehun-ah, kau tidak perlu repot-repot mengurusku. Aku bisa sendiri, lagipula aku tidak apa-apa.” Chanmi berkata sambil berusaha mengambil kembali buku-bukunya dari tangan Sehun.

Tadinya yeoja itu berniat ke perpustakaan, meminjam beberapa buku untuk tugas kuliahnya yang hampir mendekati deadline dan sudah terbengkalai selama dua hari ini karena Chanmi terpaksa menginap di rumah sakit.

“Gwaenchana. Aku tidak mungkin membiarkanmu membawa ini semua. Bagaimanapun juga, kau baru keluar dari rumah sakit.” Sehun menjauhkan buku-buku itu dari Chanmi sambil terus berjalan.

Yeoja itu hanya menghela nafasnya. Sehun selalu baik seperti ini, membuat dia semakin tidak dapat menjauhi namja itu, walaupun dia sudah tahu kalau yang dicintai Sehun bukanlah dirinya.

“Sudah sampai di kelasmu.” Sehun berhenti di depan bangku Chanmi.

“Ini bukumu,” dia meletakkan lima buku yang agak tebal itu di meja, “Dan jangan lupa meneleponku saat akan pulang nanti.” katanya lagi, tak lama meninggalkan Chanmi yang masih berdiri diam di depan mejanya.

“Kau jahat Sehun-ah. Bagaimana bisa aku semakin mencintaimu, dan kau bahkan tidak mungkin mencintaiku.” Chanmi lagi-lagi hanya dapat menghela nafasnya. Hatinya sakit.

 

 

***

 

 

Tok! Tok!

Ketukan di pintu kamar rawat Hana membuat yeoja itu mengalihkan pandangannya dari buku yang sedang ia baca.

“Masuk.” jawabnya.

Pintu terbuka, memunculkan sosok namja bertubuh tinggi. Kulit putih pucatnya membuat kontras dengan pintu yang berwarna coklat, sementara rambut coklatnya sebaliknya terlihat senada. Senyuman mengembang di bibir tipis namja itu. Sehun memang tampan. Satu-satunya yang benar-benar ditatap Hana hanyalah lensa hazel namja itu yang selalu saja teduh baginya.

“Sehun-ah.” bibir Hana bergerak memanggil namja itu.

“Annyeong uri chingu! Bagaimana kabarmu?” Sehun meletakkan kantung yang ia bawa di meja sebelah ranjang Hana, lalu duduk di tepi ranjang, tepat berhadapan dengan Hana.

“Annyeong Sehun-ah! Nan gwaenchana. Lihat, tangan kananku sudah mulai biasa untuk kugerak-gerakkan seperti ini.” Hana menggerakkan tangannya aneh. Tangannya yang terkilir karena kecelakaan dan masih terbalut rapi digerakkannya kaku, sedikit aneh. Sehun tertawa melihatnya dan mengacak pelan rambut Hana.

“Pabbo! Mana ada yang seperti itu kau bilang baik-baik saja.” katanya. Hana mau tak mau ikut tertawa bersamanya.

Sehun tiba-tiba merogoh isi kantung yang tadi ia letakkan, dan…  “Tadaa!!” Dua botol minuman diangkatnya di depan wajah Hana.

“Bubble tea!” jerit Hana senang, segera disambarnya satu dari tangan Sehun walau sedikit kepayahan dengan menggerakkan tangannya sendiri.

“Sudah lama kita tidak minum ini bersama, eoh?” Sehun membukakan botol bubble tea untuk Hana.

Hana mengangguk, senyumannya mengembang sempurna di wajahnya.

“Umm…mashita! Gomawo Sehunnie!” Sehun spontan tertawa melihat ekspresi yeoja itu yang seperti anak kecil.

Tanpa mereka sadari sepasang mata mengawasi dari celah pintu yang sedikit terbuka. Park Chanyeol dengan hati yang terluka, memperhatikan dalam diam.

*Park Chanyeol POV*

Haruskah aku berpura-pura tidak tahu tentang perasaan Hana? Dia bahkan tidak tertawa lepas seperti itu saat bersamaku. Apa benar kalau Hana mencintaiku dan bukannya Sehun? Apa mungkin dia menolak Sehun karena alasan lain, bukannya karena ia tidak mencintai namja itu?

Aku berusaha mengenyahkan semua pikiran itu dari kepalaku. Bukankah Hana sudah menjadi yeojachinguku? Tidak seharusnya aku berpikir buruk tentangnya.

“Chanyeol-ssi?” aku menoleh mendengar sebuah suara lembut memanggilku.

Seorang yeoja yang wajahnya sudah kukenali dengan baik berdiri tak jauh dariku.

“Sekyung-ssi, annyeonghaseyo!” sapaku.

Oh Sekyung tersenyum dan menundukkan kepalanya sekilas.

“Kenapa tidak masuk? Bukankah ini ruang rawat Hana? Tadi Sehun memberitahuku.”

“Ah, ne.” aku menganggukkan kepalaku sambil tersenyum janggal.

“Aku baru saja datang, tadi sepertinya aku meninggalkan sesuatu di kampus, tapi setelah kuingat-ingat, sepertinya tidak.” jawabku asal.

“Makanya kau melamun di pintu? Kajja, kita masuk oppa.”

Aku dan Sekyung memang saling mengenal, tapi aku tidak terlalu dekat dengannya, jadi kami berkomunikasi sedikit janggal. Terkadang sambil memanggil dengan embel-embel ‘ssi’, lalu memanggil seolah kami biasa bertemu.

Hm, Chanmi benar saat bercerita tentang kondisi Sekyung saat ini. Dia terlihat sedikit berbeda dengan biasanya.

“Annyeong!” sapa Sekyung saat memasuki kamar rawat Hana.

“Noona? Kau datang?” sambut Sehun, “Hyung.” Dan menganggukkan kepalanya saat melihatku.

“Annyeong! Wah, kau sudah tiba Sehun-gun? Aku terlambat sepertinya.” ujarku dan tertawa garing.

“Oppa! Eonnie!” panggil Hana dari tempat tidurnya.

“Bagaimana keadaanmu?” tanya Sekyung dan mengambil posisi di bangku kecil samping ranjang.

“Aku sudah sehat eonnie, tinggal belajar membiasakan tangan ini.” Jelas Hana.

“Dia masih harus mengontrol tangannya, tapi dokter mengatakan kalau dia sudah dapat pulang besok.” jelasku sambil mendekat ke ranjang yeojachinguku, Sehun menyadari gerakanku dan segera bangkit dan bergeser dari duduknya, membiarkan aku menggantikan posisinya.

“Wajahmu sudah lebih segar sekarang chagiya.” aku tersenyum dan membelai kepalanya lembut.

“Ne, oppa. Itu juga karena bantuanmu. Jeongmal gomawoyo sudah menjagaku.” aku menatap Hana yang tersenyum tulus. Ah, betapa aku mencintai yeoja ini. Aku harap pikiranku yang meragukan perasaannya padaku dapat kubuang jauh-jauh.

*Park Chanyeol POV End*

 

 

 

*Oh Sehun POV*

Aku sedikit terkejut dengan kehadiran Chanyeol hyung dan noonaku. Mereka datang saat aku sedang asik mengobrol dan bercanda dengan Hana.

Aku bangkit berdiri dan membiarkan Chanyeol hyung menggantikan tempatku di samping Hana. Aku berdiri di belakangnya, mataku menangkap pandangan Sekyung noona yang menatapku sedih, agaknya karena pemandangan di depan kami saat ini.

“Wajahmu sudah lebih segar sekarang chagiya.” Chanyeol hyung membelai kepala Hana.

“Ne, oppa. Itu juga karena bantuanmu. Jeongmal gomawoyo sudah menjagaku.” balas Hana dengan senyuman lebarnya.

Aku mengalihkan pandanganku dari mereka ketika Chanyeol hyung mendekat dan sepertinya akan mengecup puncak kepala Hana.

“Bukankah tugasku sebagai namjachingumu?” ujar Chanyeol hyung pelan.

Aku melihat Hana, wajahnya memerah, mungkin karena malu dengan perlakuan Chanyeol hyung.

“N..nne..oppa.” ucapnya sedikit tergagap.

“Eoh, kurasa aku harus pulang sekarang.” kataku tiba-tiba, pura-pura melirik jam tanganku, “Noona, mau ikut denganku?” tanyaku pada Sekyung noona.

“Eoh? Geurae. Hana-ya, kami pulang dulu. Semoga besok sudah dapat menemuimu di apartemen sebelah lagi.” Sekyung noona mengedipkan sebelah matanya pada Hana sambil tersenyum.

“Ne, eonnie. Jeongmal gomawoyo.”

Hana melambaikan tangannya ke arahku dan noona. Aku tersenyum tipis dan berbalik ke luar kamar.

“Sehun-ah! Terima kasih bubble teanya!” serunya sebelum aku membuka pintu.

Aku hanya mengangkat sebelah tanganku tanpa menjawabnya lalu keluar kamar bersama noona. Noona menyenggol lenganku pelan saat kami sudah berada di luar.

“Kau cemburu, saengie? Geundae, dia masih mengingatmu, dan bubble teamu. Jadi bersemangatlah!” noona menepuk punggungku pelan, aku lagi-lagi hanya membuat senyuman di wajahku.

“Sekyung-ssi?”

Aku dan Sekyung noona serempak menoleh saat mendengar nama noona dipanggil dari belakang kami. Seorang perawat berdiri di sana, wajahnya terlihat lega saat melihat noonaku.

“Ah, perawat Min. Annyeong!” Sekyung noona menyapanya ramah, aku sedikit mengernyit penasaran, darimana noona mengenal perawat ini.

“Kau sedang apa? Bukankah tidak ada jadwal periksa hari ini?” keningku semakin berkerut mendengar pertanyaan perawat itu. Jadwal periksa katanya?

“Eoh, a..aniyo. Aku kemari hanya menjenguk temanku.” Noona menjawab dengan sedikit gugup. Apa ada yang noona sembunyikan dariku selama ini?

“Ah, kupikir. Baiklah, aku harus kembali bekerja. Semoga harimu menyenangkan Sekyung-ssi. Annyeong!”

“Ne. Annyeong perawat Min.”

Noona berbalik dan berjalan pergi setelah perawat itu bergegas entah kemana. Aku mengikuti noona dan berjalan dalam diam, belum saatnya aku bertanya. Kami berhenti di parkiran rumah sakit dan aku mengambil motorku. Kami segera pulang ke apartemen kami dan sepanjang jalan tidak satu patah kata pun keluar dari mulut kami.

*Oh Sehun POV End*

 

 

 

*Oh Sekyung POV*

Eottohke? Apa Sehun mendengar perkataan perawat Min tadi? Bagaimana kalau dia bertanya? Aku hanya diam dan tidak mengatakan apapun sepanjang perjalanan, tapi anehnya Sehun juga hanya diam. Kuharap dia tidak akan mempermasalahkan perkataan perawat Min.

“Noona.”

Aku terkejut dan membalikkan badanku menghadap Sehun.

“Ne?” jawabku berusaha setenang mungkin.

“Apa aku boleh bertanya?” tanyanya, kujawab dengan anggukan ragu.

“Perawat yang tadi di rumah sakit… Apa maksudnya dengan jadwal periksa? Dia berkata kalau noona tidak ada jadwal periksa hari ini.”

Aku menggigit bibirku pelan, apa yang harus kukatakan pada Sehun?

“Noona, kau mendengarku?” tanyanya lagi.

“Ne, Sehun-ah. Ah, itu bukan apa-apa, jangan dipikirkan. Mungkin perawat itu salah bicara.” kataku.

“Jangan berbohong noona. Kenapa kau harus menyembunyikan sesuatu seperti ini? Malhaebwa.” Sehun menatapku penuh selidik. Aku tidak pernah bisa mengelak dari lensa hazel dongsaengku ini.

“Sehun-ah, ikut aku.” aku menarik lengannya, menjauhi apartemen kami. Aku berhenti di tangga darurat yang kosong dan tidak pernah dilewati orang.

“Waeyo?”

“Aku akan menjelaskan padamu, tapi kumohon jangan beritahu appa dan eomma dulu, aku saja yang memberitahu mereka, arraseo?” aku menatap Sehun lekat-lekat dengan tatapan memohon.

“Aku tidak dapat menjaminnya noona.”

“Berjanjilah Sehun!” kataku memaksa.

Sehun menarik nafas sejenak dan kembali menatapku, “Geuraeyo.”

Aku menarik nafas dan mengeluarkannya dengan tujuan untuk mengatur jantungku yang sudah tidak karuan. Sulit bagiku menceritakan ini pada siapa pun, dan sekarang aku harus mengatakannya pada salah satu orang yang paling kusayangi, dongsaengku.

“Aku… aku… aku terkena kanker paru-paru Sehun-ah.” ucapku akhirnya. Aku menggigit lidahku pelan dan menundukkan kepalaku. Kupejamkan mataku, menahan tangisku yang mendesak ingin keluar.

“Maldo andwae.” kata-kata Sehun begitu jelas walau dia berkata dengan lirih.

“Noona, kau bercanda? Ini sama sekali tidak lucu, kau tahu?” Sehun memegang bahuku dan mengguncangnya, aku terus diam, karena bila aku berkata sepatah kata saja aku tidak menjamin air mataku dapat kubendung.

“Noona! Jawab aku!” Sehun meninggikan suaranya, mengguncang bahuku lebih keras.

“Maldo andwae.” Bisiknya. Aku merasakan tangan Sehun yang bergetar pelan.

Kuangkat tanganku, memegang lengannya, menggenggamnya. Sehun menjatuhkan kepalanya di bahuku.

“Uri noona… Maldo andwae…” Kepalaku mengangkat saat mendengar isakannya. Bahuku basah. Sehun menangis, Sehun menangis karena aku. Air mataku tak dapat kubendung lagi.

“Sehun-ah…”

“Wae? Noona wae? Andwae!!” Sehun jatuh berlutut di lantai, aku berusaha menahannya tapi rasanya kakiku sendiri sulit untuk menopang tubuhku saat ini.

Aku membiarkan Sehun menangis, air mataku kubiarkan ikut mengalir, tanpa sepatah kata pun, tanpa sebuah suara keluar dari bibirku. Aku menangis dalam diam, mengingat penyakitku ini, melihat dongsaengku. Kenapa harus aku yang mengalami semua ini?

*Oh Sekyung POV End*

 

 

 

Sehun dan Sekyung duduk di sofa ruang tengah apartemen mereka, saling diam dan hanya menatap kosong ke arah televisi yang entah menyiarkan apa. Nyonya Oh yang melihat kelakuan kedua anaknya mengernyit bingung, tidak mengerti dengan apa yang mereka lakukan. Dia memilih untuk menghampiri mereka dan duduk di tengah keduanya.

“Sehunnie, Kyungie, waeyo? Wajah kalian sangat tidak enak dilihat begitu. Apa kalian ada masalah? Kalian bertengkar, eoh?” tanya Nyonya Oh, ia bergantian membelai lembut kepala putrinya, Sekyung, dan mengusap bahu Sehun.

“Aniyo eomma. Eobsseoyo.” jawab Sekyung, tersenyum pada eommanya.

“Hm…geuraeyo. Kalau begitu ayo kita makan malam sekarang. Kajja!” Nyonya Oh bangkit dari duduknya dan berjalan menuju meja makan.

Sehun melihat noonanya dengan pandangan sedih. Sekyung menyuruhnya untuk menyembunyikan semua ini dari kedua orang tua mereka. Dia berkata tidak ingin membuat eomma dan appanya mencemaskannya. Sekyung sedang menjalani terapi saat ini, dan dokter berkata sejauh ini ada perkembangan baik terhadap kesembuhan Sekyung. Sehun mau tak mau menyetujui permohonan noonanya, dengan syarat bila tiba-tiba ada sesuatu yang terjadi pada Sekyung maka namja itu akan segera memberitahukan segalanya pada orang tua mereka.

“Kajja Sehunnie!” Sekyung bangkit dan baru akan menyusul eommanya.

“Noona, aku punya satu pertanyaan.” ucap Sehun tiba-tiba.

“Ne?” Sekyung menghentikan langkahnya dan berbalik menatap dongsaengnya.

“Jong In hyung. Apa alasan kau meninggalkannya karena semua ini?” tanya Sehun sambil menatap langsung mata coklat tua milik noonanya, mencari kejujuran dari Sekyung, tapi noonanya itu memang tidak menyembunyikan hal itu dari Sehun.

Sekyung mengangguk pelan, “Aku tidak mau merepotkannya apalagi membuatnya sedih Sehun-ah.”

“Hajiman, menyakitinya seperti itu dan menyembunyikan alasan sebenarnya, bukankah itu jauh lebih membuatnya sedih noona?” Sekyung tidak dapat menjawab dongsaengnya lagi. Sehun berdiri dan memegang bahu noonanya, “Kalau kau mencintainya, akan lebih baik membuat dia mengetahui semua ini noona. Kalau aku jadi Jong In hyung, aku akan berusaha menjadi orang yang selalu ada untuk yeoja yang kucintai saat dia berada dalam masa sulit. Keadaan itu jauh lebih baik dibandingkan tidak tahu apapun.”

Lagi-lagi Sekyung masih terdiam, hingga akhirnya terdengar suara eommanya yang memanggilnya untuk makan malam.

 

 

***

 

 

Seminggu berlalu sejak Hana keluar dari rumah sakit, lengannya sudah kembali normal, begitu pula kehidupannya. Ya, kehidupannya kembali normal karena chingunya, Sehun, beberapa kali mulai mengunjungi apartemennya. Walaupun yang dia lakukan sebenarnya adalah menemui Jong In bukannya Hana, tapi yeoja itu senang karena dapat melihat Sehun yang seperti dulu.

“Hana-ya! Aku dan Sehun keluar dulu, kau mau ikut?” panggil Jong In, kepalanya menyembul dari balik pintu.

Hana sangat ingin menjawabnya dengan anggukan, andai saja ia tidak lebih dulu berjanji akan menemani Chanyeol ke toko buku.

“Mianhe oppa, aku sudah berjanji dengan Chanyeol oppa.” ujar Hana dengan wajah penuh penyesalan.

“Ei, sejak kapan kau perlu minta maaf jika tak bisa ikut? Geurae, selamat bersenang-senang dengan namjachingumu, saengie!” Jong In tersenyum jahil dan meninggalkan Hana yang langsung merengut kesal.

“Oppa! Sudah tahu hubunganku dan Sehun, apa perlu berkata seperti itu di depan Sehun?” gerutunya pelan.

Drrt…drrt…drrt…

Ponsel Hana bergetar, yeoja itu cepat-cepat mengambilnya dari sakunya dan membaca pesan yang ternyata dari namjachingunya, Chanyeol. Segera ia bangkit dan mengambil tas serta jaketnya, bergegas keluar menemui Chanyeol yang sudah menunggunya.

Chanyeol tersenyum menyambut yeoja itu yang baru keluar dari apartemen.

“Kajja!” kata namja itu, mengulurkan tangannya ke arah Hana. Hana menyambut tangan Chanyeol dan segera saja tangannya berada dalam genggaman hangat namja itu.

“Jong In dan Sehun baru saja pergi tadi, aku melihat mereka.” ujar Chanyeol.

“Ne, mereka pergi keluar, entahlah.” gumam Hana, “Oppa, kau mau mencari buku apa?” tanya Hana sambil mendongak memandang namjachingunya yang memiliki tinggi di atas rata-rata itu.

“Eoh? Apa saja, mungkin aku akan membeli manga terbaru. Hehe.” Gigi putih namja itu berderet rapi menemani senyuman lebarnya.

Hana menahan geli mamandang Chanyeol. Dia bersyukur memiliki namjachingu seperti Chanyeol, sayangnya sampai saat ini pun Hana tahu kalau yang ada di hatinya adalah Sehun.

 

 

***

 

 

“Chagiya, aku sudah selesai. Bagaimana denganmu? Ada buku yang ingin kau beli?” Chanyeol membawa kantung belanja berisi beberapa buku yang ingin dia beli sambil menghampiri Hana yang berada di deretan rak lain.

“Oppa! Aku ingin membeli ini, sudah lama aku dan Sehun mencari buku ini.” Hana mengangkat sebuah buku bersampul biru di tangannya, Chanyeol tidak terlalu tahu tapi sepertinya itu sebuah novel fiktif. Ia tidak terganggu bila Hana ingin membeli novel itu, hanya saja yeojachingunya yang menyebut-nyebut nama Sehun itu sedikit mengganggunya.

“Kajja!” Chanyeol berjalan mendahului Hana ke arah kasir. Hana menyusul Chanyeol dengan cepat dan tak lama mereka sudah keluar toko buku.

Mereka berjalan berdua di trotoar. Chanyeol membawa bukunya dengan satu tangan dan tangan lain berada di saku celananya, bukannya menggenggam tangan yeojachingunya seperti yang biasa ia lakukan, sementara Hana tidak berhenti tersenyum sambil memandangi bukunya.

“Oppa, kau tahu? Ini cerita favoritku dan Sehun. Kisahnya tentang seorang time traveler yang terjebak di masa lalu, kemudian…”

“Geumanhe.” kata Chanyeol dengan nada suara kesal yang tidak dapat disembunyikannya, ia menghentikan langkahnya.

“Eoh?” Hana berhenti dan menatap namjachingunya tak mengerti. Apa yang membuat Chanyeol terlihat sangat kesal?

“Oppa…waeyo?” tanya Hana sedikit ragu.

“Jangan banyak bicara saat berjalan, perhatikan langkahmu saja.” ujar Chanyeol sambil berlalu.

Hana yang terkejut kembali mengejar namjachingunya itu dan menjajarkan langkahnya dengan Chanyeol, kali ini dalam diam. Chanyeol yang terlihat kesal begitu, baru pertama kali dilihatnya. Chanyeol menghentikan langkahnya di depan sebuah kedai minuman, ia terlihat diam sejenak memperhatikan menu yang ada.

“Tolong satu ice coffe.” pesannya pada pelayan kedai, “Kau mau apa?” tanya namja itu pada Hana.

“Bubble tea!” jawab Hana cepat.

“Apa kau tidak mau yang lain?” lagi-lagi Chanyeol kesal dengan tingkah yeojachingunya itu.

Hana menggeleng cepat, “Aniyo, aku mau bubble tea saja oppa.” Chanyeol hanya menghela nafas dan akhirnya memesan satu bubble tea untuk Hana.

Pasangan itu akhirnya berhenti di taman dekat apartemen mereka dan memilih untuk duduk di sana. Chanyeol duduk di atas ayunan, dengan kaki terseret begitu saja di bawah. Hana mengambil tempat di samping namjachingunya sambil sibuk meminum bubble teanya.

“Oppa, waeyo? Apa ada sesuatu yang salah?” tanya Hana setelah beberapa saat mereka hanya saling diam dan sibuk dengan pikirannya masing-masing.

Chanyeol meminum sisa ice coffeenya kemudian meremukkan gelas plastiknya dan melemparnya ke dalam tempat sampah, tak jauh dari mereka saat ini. Hana memperhatikan namjachingunya sambil berpikir sendiri, apakah dia yang sudah membuat Chanyeol bad mood seperti ini? Tapi yeoja itu sama sekali tidak menemukan sesuatu yang dapat membuat Chanyeol kesal seperti ini.

“Oppa…” panggil Hana lagi.

“Hana-ya, sebenarnya apa artinya diriku untukmu? Arti keberadaanku di sampingmu?” Chanyeol menoleh menatap yeoja itu yang dibalas Hana dengan ekspresi sedikit tak mengerti dengan maksud pertanyaan yang baru saja diajukan namjachingunya.

“Kenapa…kenapa oppa bertanya seperti itu?”

“Jawab saja.” Chanyeol seolah tak terbantahkan. Hana menghela nafasnya sesaat.

“Bagiku oppa adalah namja yang sangat baik yang dikirimkan Tuhan untuk menemaniku. Keberadaan oppa disisiku bagiku adalah hal yang penting. Kau selalu menjagaku, membuatku tertawa… kau menyayangiku oppa, kurasa semua itu dapat membuat setiap yeoja yang melihatku akan merasa sangat iri.” Hana tersenyum kecil di akhir perkataannya.

Chanyeol memang namja yang sangat baik untuknya, dia tidak berbohong tentang keberadaan namja itu yang memang penting baginya, bagaimanapun Park Chanyeol adalah namjachingunya. Tapi…

“Bagaimana dengan Sehun?” Hana mendongak terkejut. Bagaimana mungkin Chanyeol membaca pikirannya?

“Sehunnie… Oh Sehun.” Hana lagi-lagi menghela nafasnya, sedikit berat kali ini, ia tidak tahu apa yang harus dikatakannya.

“Bagimu, Sehun itu apa Hana-ya?” tanya Chanyeol lagi.

“Bagiku… bagiku Sehun adalah sahabat terbaikku, bahkan hingga saat ini. Walaupun akhir-akhir ini aku dan dia memiliki kehidupan masing-masing, tapi sejak kecil yang kukenal sebagai sahabat adalah Sehun, jadi arti Sehun untukku… dia adalah sahabat terbaikku.” Hana berkata sambil mencoba meyakinkan dirinya sendiri pada setiap kata yang ia ucapkan.

Kedua mata Chanyeol menatap yeoja itu lurus-lurus. Bahkan orang bodoh pun dapat mengetahui kalau sebenarnya Sehun sangat berarti untuknya, lebih dari yang dikatakannya. Pandangan Hana saat mengatakan tentang Chanyeol sangat berbeda dengan tatapannya saat menjelaskan tentang Sehun.

“Kau…tidak memiliki perasaan khusus terhadap Sehun? Kau tidak mencintainya?” tanya Chanyeol lagi. Kali ini rasa terkejut Hana dengan pertanyaan Chanyeol benar-benar terlihat jelas, mata yeoja itu membulat menatap Chanyeol.

“Apa maksud oppa?” Hana menghindari mata Chanyeol yang menatapnya intens.

“Kau tidak mencintai Sehun?” ulang Chanyeol lagi.

“Kenapa aku harus mencintai Sehun? Lagipula, kenapa oppa bertanya begitu? Oppa kan namjachinguku.” Hana membuat wajahnya terlihat kesal dengan pertanyaan Chanyeol, sementara jantungnya sudah berdetak tidak karuan, tidak tahu apa yang harus dikatakannya.

“Jadi, kau mencintai siapa?”

“Aku…aku… tentu saja aku…” Hana bingung sendiri dengan semua hal yang terjadi padanya saat ini.

Chanyeol tersenyum sinis, menyadari kalau yeoja itu memang tidak mencintainya ia tersenyum mengasihani dirinya sendiri. Apa dirinya hanya sebagai pelarian? Satu hal yang tidak dimengerti Chanyeol adalah alasan Hana menolak Sehun dan lebih memilih dirinya, dan itu bukan karena cinta.

“Sudahlah, kalau itu terlalu sulit untukmu.” ucap Chanyeol akhirnya.

“Hajiman…”

“Sudahlah. Tidak perlu dipermasalahkan lagi.” Chanyeol bangkit dari duduknya. Dia memandang yeoja itu, Hana, yang mendongak menatapnya.

“Oppa, mianhe.” Hana tertunduk. Ia menyesal sekarang. Ia sudah menyakiti orang yang sangat baik padanya. Bukan hanya Sehun yang ia sakiti sekarang, tapi juga Chanyeol.

“Bagaimanapun juga, saat ini akulah namjachingumu.” perkataan Chanyeol yang berusaha menegaskan statusnya dengan Hana membuat yeoja itu kembali mendongak menatap Chanyeol.

Hana mengangguk pelan, “Aku menyayangi oppa. Itulah yang aku tahu sekarang.” ujarnya pelan.

Menyayangi? Hana memang menyayangi Chanyeol layaknya Kim Jong In, oppanya, bukan seperti cintanya pada Sehun.

“Mianhe oppa…”

 

 

***

 

 

“Hyung, sebenarnya ada hal yang ingin kubicarakan padamu, makanya kau kuajak ke sini.” Sehun menjauhkan sedikit bubble tea dihadapannya dan mengalihkan kedua lensa hazelnya pada Jong In.

Jong In tersenyum sekilas, “Aku tahu. Katakan saja.” ujarnya.

Sehun tidak terkejut, Jong In memang sudah mengenalnya hampir sepanjang hidupnya, dan sejak kecil sampai sekarang dia sudah menganggap Jong In seperti hyungnya sendiri, bukan hal aneh kaalu Jong In sudah hafal dengan sifat dan kelakuan Sehun.

“Tentang noonamu?” tanya Jong In lagi, dan dijawab dengan anggukan pelan dari Sehun.

“Sesuatu yang serius?”

“Sangat.”

Jong In terdiam, memberi kesempatan Sehun untuk menjelaskan maksudnya. Namja berkulit putih susu itu menggeser sedikit duduknya dan menghela nafas pendek.

“Sekyung noona akan pindah ke Jepang bulan depan, hyung arra?”

Jong In mengangkat sebelah alisnya, “Bulan depan? Bukankah kuliahnya masih kurang dari setahun lagi? Dia meninggalkan kuliahnya begitu saja?”

Sehun mengangguk pelan, “Ne, aku juga terkejut, tapi noona sudah membicarakan semua pada orang tua kami juga… dan mereka menyetujuinya.”

Jong In menyandarkan tubuhnya ke bangku yang ia duduki, ia menghembuskan nafas keras, mengeluarkan perasaannya yang tidak karuan saat ini.

“Hyung…”

“Apa yang sebenarnya terjadi pada Sekyung?” Jong In menggumam lebih kepada dirinya sendiri, memotong perkataan Sehun.

“Hyung…sebenarnya, aku punya satu permintaan untukmu.” ujar Sehun.

Jong In mendongakkan kepalanya, memandang namja didepannya, “Mwoya?”

“Kembalilah pada noonaku, hyung. Jebal.” Sehun memohon.

Kim Jong In melempar senyuman mirisnya pada Sehun, “Kau tahu sendiri, bukan aku yang menginginkan perpisahanku dengannya. Sekyung sendiri yang memutuskan hal itu, bagaimana mungkin sekarang kau malah memintaku kembali padanya? Aku bahkan tidak pernah meninggalkannya.”

“Kalau begitu, mintalah noonaku kembali padamu hyung.” Sehun berkata dengan nada sedikit memaksa.

“Sekyung mencintai namja lain, yang aku tidak tahu juga siapa, bagaimana mungkin aku memintanya kembali sementara hatinya bukan untukku Sehun-gun?”

“Gotjimal! Itu semua bohong hyung, aku tahu noonaku, dan aku juga tahu kalau ia masih sangat mencintaimu hyung.”

“Kalau dia mencintaiku, kenapa dia mengakhiri hubungan kami begitu saja?” balas Jong In lagi.

“Itu…Sekyung noona punya alasan lain hyung.”

“Alasan? Bukankah alasannya sudah ia katakan dengan jelas? Dia tidak lagi mencintaiku, ada namja lain di hatinya. Sehun-gun, geumanhae.”

“Hyung, anggap saja ini permintaan sekali seumur hidupku. Noonaku, ada alasan lain, bukan itu yang sebenarnya. Hyung, kembalilah padanya, jebal…”

“Sehun…” Jong In kehabisan kata untuk menjelaskan pada namja keras kepala dihadapannya. Ia menghela nafas sejenak.

“Kau bahkan tidak menjelaskan alasan sebenarnya padaku, hanya berkata kalau noonamu memiliki alasan lain, dan dia masih mencintaiku. Bagaimana aku percaya semua ini Sehun-ah?” ujar Jong In frustrasi.

“Mianhe hyung. Sekyung noona sendirilah yang harus memberitahu alasannya padamu, itu sebabnya kau harus kembali bersamanya hyung. Kau harus menjaganya saat ini, hyung… jebal.” Sehun benar-benar memelas saat ini.

“Geuraeyo. Aku akan berusaha kembali pada Sekyung dan mencari sendiri alasan dia meninggalkanku. Hajiman, kalau semua itu sia-sia, jangan lagi paksa aku Oh Sehun, arrayo?”

Sehun mengangguk cepat, “Jeongmal gamsahae hyung!”

*Kim Jong In POV*

 

 

 

Perkataan Sehun beberapa hari yang lalu sibuk menghantui pikiranku hingga saat ini. Bagaimana caranya aku meminta Sekyung kembali padaku? Aku bahkan tidak bertemu dengannya dalam waktu yang lama.

“Oppa! Kenapa wajahmu ditekuk seperti itu? Apa kau sedang ada masalah?” Hana tiba-tiba muncul dan mengambil posisi duduk disampingku, di sofa ruang tengah, kemudian mengambil remote control dari meja dan mengganti channel TV sesukanya.

“Yak! Kenapa kau ganti channelnya?” protesku.

“Aish, kau bahkan tidak menonton sejak tadi oppa. Lihat, memangnya kau mengerti tayangan seperti ini?” omel Hana, aku melihat ke arah televisi yang memang sedang menayangkan acara entah apa, aku memang tidak mengerti acara itu.

“Biar saja! Aku menunggu iklan komersialnya, kau tahu? Sudah jangan ganggu!” elakku dan mengambil remote kembali dari tangan Hana.

“Umm…” tiba-tiba wajah Hana sudah bertengger di depan wajahku, membuatku hampir terkena serangan jantung.

“Yak! Apa yang kau lakukan?” bentakku kesal.

“Oppa…kau melamun sejak tadi… tapi tidak mau mengaku….” Hana menyipitkan matanya memandangku, “Ada yang kau pikirkan? Atau kau sembunyikan?” Hana mengangkat telunjuknya tepat di depan hidungku, bergaya seperti sedang menyelidiki sesuatu.

“Minggir!” kudorong kepalanya menjauh lalu aku bangkit berdiri.

“Yak! Eodiya?” Hana menarik bagian belakang kausku.

“Lapar!” jawabku ketus dan meninggalkannya ke meja makan.

Kuambil sepotong roti dan mengolesinya asal-asalan dengan selai cokelat, lalu memasukkan roti yang kulipat dua itu ke mulutku.

“Cih, tukang bohong. Kau pasti ada masalah makanya wajahmu stres begitu. Oppa, kau akhir-akhir ini lebih tertutup, tidak seperti dulu.” Hana ikut mengambil sepotong roti dan memakannya begitu saja. Aku mencibir ke arahnya, dongsaengku ini juga makin cerewet saja.

“Bagaimana kau dengan Chanyeol?” tanyaku tiba-tiba, usaha mengalihkan pembicaraan, dan berhasil. Hana terlihat agak kesulitan menelan rotinya, lalu buru-buru mengambil segelas air dan meneguknya habis.

“Kenapa bertanya begitu? Tentu saja kami baik-baik saja!” Ah..dari caranya menjawab pertanyaanku saja aku tahu ia dan Chanyeol sedang bermasalah. Aku terkikik pelan karenanya.

“Wae? Kau menertawaiku?”

“Naneun? Aniyo…” aku tersenyum melihatnya, “Kau ada masalah dengan Chanyeol, eoh?” tanyaku santai. Hana mendengus kesal.

“Aku kan sedang menyelidikimu oppa, kenapa kau malah balik bertanya padaku? Sudahlah, aku mau menonton TV saja!” Hana merengut kesal dan kembali berjalan ke arah ruang tengah, aku tertawa dari arah ruang makan. Dasar bocah itu!

Hah, aku jadi memikirkan Sekyung lagi sekarang, setelah Hana kembali sibuk dengan TVnya. Apa yang harus kulakukan? Aku memang masih mencintainya, tapi apa dia juga mencintaiku seperti yang Sehun katakan? Bagaimana kalau tidak? Eottohke?

*Kim Jong In POV End*

 

 

 

“Noona!” panggil Sehun dari depan pintu kamar Sekyung. Namja itu menunggu beberapa saat, namun noonanya tidak menjawab panggilannya.

“Noonaaa…” Sehun kembali memanggil Sekyung dan mengetuk pintu kamarnya, tapi tetap saja tidak ada jawaban dari yeoja itu.

Sehun membuka pelan pintu kamar Sekyung, “Noona, kau di dalam?” kepalanya menyembul dari antara pintu, dan matanya mengitari kamar noonanya yang terlihat kosong.

“Noona, kau mendengarku? Noona eodiya?” Sehun memasuki kamar Sekyung, dan mengitarinya. Hazelnya segera melebar terkejut saat melihat tubuh Sekyung yang terbaring di samping tempat tidur.

“Noona!!!” Sehun dengan sigap mengangkat tubuh noonanya ke tempat tidur, ada bercak darah di lantai tempat Sekyung baru saja tergeletak, begitu pula di sekitar bibir yeoja itu.

“Noona, ireona!! Noona!! Noona!!” Sehun mengguncang pelan tubuh Sekyung yang tidak bergerak.

“Noona, bertahanlah!” Sehun mengangkat tubuh ringkih noonanya dan  segera berlari keluar rumah, bergegas membawa noonanya ke rumah sakit. Tanpa sengaja ia bertabrakan dengan Jong In yang baru saja keluar rumah.

“Sehun?” Jong In melihat namja itu dan menyadari siapa yang tengah digendong oleh Sehun,  “Sekyung!!”

 

 

 

*Kim Jong In POV*

Ah, aku bosan lama-lama di rumah seperti ini. Kepalaku terasa penuh dan ingin pecah memikirkan semua hal tentang Sekyung dan aku, juga permintaan Sehun. Aku ingin berjalan-jalan sebentar. Kulihat Hana yang ternyata sudah tertidur di depan televisi, aku mengambil remote dari tangannya dan mematikan televisi. Kubetulkan posisi kepala dongsaengku yang terkulai ke lengan sofa dan kuletakkan sebuah bantal di bawah kepalanya. Aku tersenyum sekilas, kalau sedang tidur, dongsaengku yang cerewet ini terlihat lebih normal, hehe.

Kupasang headphoneku di kedua telinga dan berjalan keluar apartemen. Baru saja keluar tubuhku ditabrak seseorang dari belakang, appo.

“Sehun?” aku menengok ke samping dan melihat orang yang menabrakku. Mataku menangkap sosok yeoja yang ada dalam gendongan Sehun.

“Sekyung!! Ada apa ini? Apa yang terjadi dengannya?” tanyaku panik.

“Rumah sakit hyung! Ppaliwa!” aku dan Sehun sama-sama panik, kami segera berlari ke luar gedung apartemen.

Aku memberhentikan taksi pertama yang lewat dan segera menyuruh Sehun masuk dengan Sekyung, yang sepertinya dalam kondisi tidak sadar.

“Sehun, apa yang terjadi dengan Sekyung?” tanyaku setelah kami duduk dalam taksi dan meminta sang sopir mempercepat laju kendaraannya.

“Mollayo hyung. Aku memanggilnya ke kamar dan saat kulihat noona sudah pingsan di samping tempat tidur.”

Aku melihat sisa noda darah di sekitar bibir Sekyung, dan segera saja perasaanku menjadi sangat tidak tenang.

“Kenapa ada noda darah di wajahnya?” tanyaku pada Sehun, kusentuh noda itu, masih baru. Apa yang sebenarnya terjadi pada Sekyung? Sehun tidak menjawabku, dia hanya diam dan matanya sibuk memperhatikan noonanya. Kuhela nafas panjang, mencoba menenangkan diri. Sekyung-ah, bertahanlah…

*Kim Jong In POV End*

 

 

 

Oh Sekyung sedang dalam perawatan intensif dokter saat ini, sementara kedua namja yang mengantarkannya, Sehun dan Jong In, masih menunggu dengan khawatir di depan ruang gawat darurat rumah sakit.

“Sehun-ah, apa yang terjadi pada Sekyung? Kau benar-benar tidak tahu?” tanya Jong In pada namja disampingnya.

Sehun diam, tidak menjawab. Jong In mulai tidak sabar, ini kesekian kalinya ia bertanya dan Sehun tetap tidak menjawab. Tiba-tiba ia teringat perkataan Sehun beberapa hari lalu, tentang alasan Sekyung meninggalkannya. Apa Sekyung sedang mengidap suatu penyakit?

“Sehun-gun, apa Sekyung… dia… apa dia menderita penyakit yang….”

“Kanker paru-paru hyung.” Sehun akhirnya buka mulut, menjawab semua pertanyaan yang sejak tadi dilontarkan oleh Jong In.

“Mworago?!”

“Noona, mengidap kanker paru-paru, hyung.” Sehun melihat Jong In, matanya berkaca-kaca. Jong In merasa tiba-tiba segala udara di sekitarnya menghilang, nafasnya terasa begitu sesak mendengar perkataan Sehun.

“Maldo andwae…”

 

 

*TBC*

 

 

Lagi-lagi TBC? Yang sabar yah readers.. ^^ *lempar senyum manis Kris oppa* Selamat menunggu chapter berikutnya. Gamsahamnida for reading!! ^^

 

Iklan

12 pemikiran pada “Our Love (Chapter 7)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s