Confused (Chapter 1)

Confused (2)

| Title : Confused | Author : Seo Yuri |

| Main Cast : ♪ Im Yoon Ah SNSD | ♪ Kai Exo-K | ♪ Lee Tae Min Shinee |

| Support Cast :  ♪ EXO | ♪ SNSD |

| Genre : Romance, Angst, bla bla bla. |

| Length : Chaptered | Rating : PG 16 |

| Summary |

| Kim Jong In mencampakkan Im Yoon Ah tanpa alasan yang jelas, yang membuat Yoona harus berusaha setengah mati untuk melupakannya. Namun hingga 1 tahun berlalu, Yoona masih belum bisa melupakan Jong In. Hal itu membuat Yuri dan Joo Hyun—teman baik Yoona berusaha mencari teman kencan untuk Yoona. Setelah membujuk lumayan lama, akhirnya Yoona pun menyetujui rencana mereka dengan harapan dapat melupakan Jong In. Tapi teman kencan Yoona ternyata… |

—oooOoooOooo—

Gelak tawa terdengar begitu aku membuka pintu café. Terlihat segerombolan orang yang kukenal diujung ruangan ini. Mereka terlihat sangat menikmati perbicangan mereka, bahkan suara tawanya terdengar sampai disini.

Aku pun melirik jam tanganku cepat. Sudah jam 4.30. Aku terlambat, tepatnya terlambat satu setengah jam. Great, sepertinya aku melewatkan sesuatu yang menarik.

“Yoona-ya, disini.” Teriak seorang gadis diujung sana sambil melambai-lambaikan tangannya padaku. Aku pun hanya tersenyum kecil dan berjalan mendekatinya.

Waeyo? Kenapa lama sekali.” Tanya Yuri begitu aku duduk disampingnya.

Mianhae, udara dingin membuatku kesulitan untuk keluar. Aku bahkan berpikir untuk tidak datang.“ Jawabku asal-asalan, Baek Hyun pun menatapku dengan mata sipitnya.

“Bilang saja kau malas.” Baiklah, kuakui aku memang malas. Jika saja Yuri tidak memaksaku datang, kurasa sekarang aku masih dirumah, duduk santai ditemani segelas coklat hangat.

“Apa aku melewatkan hal menarik?” Tanya ku pada Joo Hyun, mengabaikan pernyataan Baek Hyun tadi.

“Sangat banyak, sampai-sampai aku tidak bisa menghitungnya.” Sudah kuduga.

“Seberapa banyak?” Tanyaku malas. Joo Hyun pun tampak berpikir sejenak sebelum menjawabku.

“Tadi Taeng dan Chanyeol bertengkar hebat hanya untuk merebut perhatian Baek Hyun, mereka benar-benar kekanak-kanakkan.” Jawabnya sambil tertawa keras.

Ah! Kurasa itu tidak menarik, aku sudah terlalu sering melihat itu terjadi.

“Terus?” Ujar ku tidak sabar.

“Tao berppuing-ppuing ria karena kalah taruhan dengan Kris.”

“Taruhan?”

“Ne, mereka membuat taruhan konyol. Kau lihat wanita disana?” Aku pun melirik kearah wanita yang ditunjuk Yuri. Memangnya ada apa dengan wanita itu?

“Tao bilang itu adalah seorang bule karena wanita itu terlihat tinggi dan rambutnya berwarna pirang sama seperti Kris. Sedangkan Kris mati-matian bilang hal itu salah” Wanita itu memang tinggi, bahkan mungkin setinggi Sooyoung, rambutnya juga pirang. Memang mirip Bule. Aku pun menatap Yuri dan Joo Hyun bergantian.

“Lalu?”

“Itu adik Kris.” Ujar Tao singkat sambil mengerucutkan bibirnya. Sedangkan aku hanya bisa mengerjapkan mataku tidak percaya. Aku memandang Kris dan wanita itu bergantian, pantas saja mereka begitu mirip.

“Andai saja tadi kau melihat wajah Tao, kau tidak akan menyesalinya Yoong.” Ujar Joo Hyun sambil tertawa kencang. Baiklah, kurasa aku menyesali keterlambatanku sekarang.

“Ini tidak adil, bagaimana bisa kau membuat taruhan denganku sementara itu adikmu Kris Gege…” Protes Tao tidak terima. Sedangkan Kris hanya tersenyum sinis.

“Siapa suruh kau mau mendengarkanku.”

“Sudah-sudah jangan berdebat lagi, tadi Baek juga menirukan suara Keroro.” Ujar Yuri sambil melirik kearah Joo Hyun. “Sekarang Joo Hyun jadi ingin mengikuti Club ChanYeon untuk merebut perhatian Baek.” Lanjutnya.

“Ya!!! Seo Joo Hyun, memiliki Club ChanYeon sudah membuat kepala ku mau pecah, sekarang kau mau ikut-ikutan. Berhentilah melakukan hal bodoh.” Teriak ku pada Joo Hyun. Ya ampun, sebulan tidak bertemu mereka kenapa mereka semua makin kacau saja. Joo Hyun yang paling alim saja jadi ingin mengikuti Club kekanak-kanakkan seperti ChanYeon. Aish, jjinja.

Eonnie… tenang saja, aku tidak mau ikut Club seperti ChanYeon, aku hanya ingin mendengar suara Keroro lagi.” Ujar Joo Hyun membela dirinya sendiri. “Ayo Baek, Keroro.” Lanjutnya sambil menatap Baek penuh harap, sementara ChanYeon sudah melirik Joo Hyun dengan tatapan super tajam andalannya. Dan dengan tidak tau diri, Joo Hyun malah tersenyum bodoh pada ChanYeon.

Aku pun memutar bola mataku dan melirik kearah Yuri.

“Yang lain tidak datang?” Tanyaku. Disini hanya ada aku, Yuri, Joo Hyun, Taeng, Sooyoung, Baek, Kris, Tao, Yeol, dan jangan lupakan HunHan yang sedari tadi bergelut dengan dunianya sendiri.

“Ehm… Min Seok dan Jong Dae masih bergelut dengan bahasa Mandarinya, Joon Myun dan Kyung Soo sedang sibuk, Mi Young dan Soo Yeon sedang di Amerika. Sedangkan yang lain aku tidak tahu, mungkin mereka terlambat sepertimu.” Jawab Yuri panjang lebar.

“Oh iya… ngomong-ngomong bagaimana kabar Jong In?” Tanya Chanyeol setelah memastikan Joo Hyun tidak akan mengganggu Baek lagi.

Deg!

“Sekarang tanggal berapa?” sekarang Baek yang menyahut.

Deg! Sial, ada apa dengan Jantung ini.

“Tanggal 13 Januari. Memangnya kenapa?” Sooyoung.

“Hey!!! Kau lupa besok Jong In ulang tahun.” Luhan.

“Benar. Bagaimana kita bisa lupakan hal ini.” Sehun.

“Aish…kita sudah setahun tidak mendapat kabar darinya. Makanya kita melupakannya.” Tao.

Aku menatap mereka bergantian. Begitu cepat sampai-sampai mataku perih karena aku lupa untuk berkedip. Ada apa ini, kenapa sekarang semuanya terdengar begitu berisik.

Mereka terus menerus berbicara, tapi aku tidak bisa mendengar dengan jelas. Mereka seakan-akan sedang berbisik, tetapi suaranya sungguh sangat berisik.

Deg! Dengan susah payah aku menelan ludahku, tenggorokkan ku seakan-akan sedang tercekat. Sungguh mengganggu, seseorang tolong aku. Aku tidak tahu apa yang sedang terjadi sekarang, tapi kenapa dada ini begitu sesak.

Tanpa sadar aku pun meletakkan tanganku kedada, seakan-akan hal itu bisa mengusir segala sesak dihati ini.

“Yoong…” Kenapa? Kenapa hal ini sungguh mengganggu.

“Yoong…” Aku pun menutup mataku keras sambil menggeleng-geleng pelan.

“Yoong…”

Ne?” jawabku akhirnya sambil menatap Yuri bingung.

“Ada apa?” Yuri pun menatapku dengan ekspresi yang sungguh tidak ku mengerti.

“Kau… baik-baik saja?” Tanyanya.

Ne?”

“Kau kelihatan pucat dan juga berkeringat.” aku pun menyentuh wajahku pelan, benar memang berkeringat—keringat dingin.

“Tidak apa-apa. Aku baik-baik saja.” Ucapku menenangkan. Sedangkan yang lain masih menatapku bingung, aku pun hanya bisa tersenyum pelan.

“Aku baik-baik saja, sungguh. Ehm… mungkin aku harus pergi cuci muka sebentar.” Aku beranjak dari tempatku tapi tiba-tiba Yuri menahan tanganku membuatku kembali berbalik. Dia menatapku lirih seakan-akan takut sesuatu terjadi padaku.

“Tidak apa-apa, aku hanya pergi ke WC. Tidak akan lama.” Aku pun tersenyum dan melepaskan tangan Yuri kemudian melanjutkan langkahku yang sempat tertunda.

.

Yuri menatap BaekYeol tajam seakan-akan sedang menghakimi mereka.

“Ada apa? Apa aku mengatakan sesuatu yang salah?” Tanya BaekYeol barengan, jangan lupakan wajah Innocent yang dibuat-buatnya.

“Sangat salah.” Ucap Yuri cepat, singkat dan tegas. Yang membuat BaekYeol bergidik ngeri.

.

Aku berjalan sempoyongan ke WC, aku bahkan menabrak beberapa orang tadi. Ada apa ini? Kenapa rasanya otakku tidak bisa berpikir dengan baik.

Begitu sampai, dengan cepat aku menghampiri westafel dan membuka Kran. Aku menatap wajahku sendiri dicermin.

“Ada apa?” tanyaku pada cermin. “Kenapa rasanya sesak sekali?”

Aku menutup mataku pelan sambil menghembuskan nafas panjang. Aku hanya berjalan pelan kesini, tapi kenapa rasanya sangat capek. Aku mengurut dadaku pelan, semoga saja bisa membuat rasa sesak ini hilang.

“Ya ampun, apa yang sedang kau lakukan.” Teriak seseorang yang membuatku terpaksa harus membuka mataku dan berbalik. Ternyata Yuri.

“Yuri-ah.” Panggilku pelan.

“Im Yoon Ah… ada apa denganmu?” tanyanya lirih sambil mematikan Kran diwestafel yang sudah penuh dengan air. Ah! Benar juga tadi aku menutupi lubangnya, pantas saja Yuri berteriak padaku.

“Kau yakin baik-baik saja?” Yuri menghapus beberapa peluh diwajahku dengan tangannya lalu menatapku lirih. Sedangkan aku hanya tersenyum.

“Aku baik-baik saja. Sungguh.”

“Yoona-ya, jangan paksakan dirimu untuk terlihat baik-baik saja dihadapanku.” Aku pun memegang pundak Yuri dan tersenyum tenang.

“Aku baik-baik saja Yuri, hanya saja…” Aku mendesah pelan sambil menyentuh dadaku pelan. “…tiba-tiba jantung ini berulah lagi. Aku harus bagaimana? Aku sungguh tidak mengerti.”

“Yoona-ya…”

“Dia menyuruhku untuk tidak menampakkan diri dihadapannya lagi. Dia mengusirku dari kehidupannya, dia berteriak padaku bahwa dia akan menghilang jika aku tidak pergi. Tapi…” Yuri memelukku erat sambil menepuk-nepuk pundakku.

“Kenapa mendengar namanya membuatku merasa sangat terganggu? Aku sudah berusaha keras melupakannya. 1 tahun, memangnya itu tidak cukup. Kenapa aku masih memikirkannya padahal jelas-jelas dia sudah mencampakkanku. Aku harus bagaimana, Yuri-ah? Bagaimana? Eoh?” Aku hanya menatap lurus kedepan, tanpa melakukan apa pun. Aku yakin mataku kini sedang berkaca-kaca, tapi sekuat apa pun aku berkedip. Air mata itu tidak terjatuh. Kenapa? Apa aku juga lupa cara untuk menangis?

“Tidak apa-apa, kau hanya perlu waktu. Jangan terlalu memaksakan dirimu. Suatu saat nanti kau pasti bisa melakukannya. Walaupun seseorang meneriakkan namanya sekeras apa pun, hal itu tidak akan mengganggumu. Percaya lah, kau pasti bisa melakukannya.” Yuri menenangkanku, dia menepuk-nepuk pundakku pelan. Seakan sedang memberikanku kekuatannya untuk tetap berdiri tegak.

Benar, aku percaya. Hari itu pasti akan tiba.

.

Setelah kembali ke meja aku pun segera berpamitan dengan yang lain dan memutuskan untuk pulang duluan. Benar-benar melelahkan. Hari ini, kenapa rasanya begitu lelah?

Aku berjalan menuju halte bis yang letaknya tidak terlalu jauh dari café. Aku berjalan sangat pelan sambil menatap jalan, seakan-akan itu adalah pemandangan yang sangat indah untuk dilihat.

Aku mendesah pelan dan menatap langit. Sepertinya salju akan turun lagi. Beberapa orang tampak berlarian masuk ketoko untuk menghangatkan dirinya, karena udara disini sangat dingin. Bahkan terlihat seorang gadis kecil sedang duduk dikursi taman sedang mengeratkan pelukan pada jaketnya.

Aku menghampiri gadis kecil itu dan memberikannya syalku. Awalnya dia terlihat kebingungan, tapi dengan cepat pula dia mengambil syal itu dan berdiri sambil membungkuk padaku.

“Terima kasih.” Ujarnya sambil berlalu dari hadapanku. Aku hanya tersenyum dan merasakan salju mulai mengerubungi tubuhku. Sudah kuduga akan turun salju.

Halte sudah tidak jauh, tinggal beberapa langkah dan aku akan sampai. Tapi kenapa rasanya kaki ini tidak mau berjalan. Bahkan sekarang terlihat ada sebuah bis yang tiba dihalte, beberapa orang langsung dengan cepat masuk dan mengambil tempat duduk di bis.

Entah apa yang terjadi, aku malah membalikkan badanku dan berjalan menjauhi bis.

At night when silence

Envelops the town

It is raining white

I hold up my palms

The snow melts as soon as I touched it

A transient piece of life

Malam yang berselimut angin

Menutupi dingin

Kota bersalju bening

Menggapai cakrawala hari

Lelehan salju yang turun di jemari

Bagai jiwa, tak lagi fana

.

Malam ini sangat dingin, terlalu dingin sampai-sampai tidak satu pun orang yang kutemui dijalan. Hanya aku sendiri ditengah-tengah kota yang diselimuti salju putih. Natal sudah berlalu, tetapi kenapa? Kenapa ini masih begitu dingin? Padahal musim Semi masih akan datang. Pagi masih akan menggantikan malam. Tapi kenapa perasaan ini tidak juga menghilang? Kenapa? Aku sungguh tidak bisa mengerti.

“Pergilah, kumohon. Jangan datang lagi kesini.”

Snow accumulates without a sound

Like light

You smile as you gathered it

Hey, how do I sound?

Even if I reply, you…

Cannot hear anymore

Salju turun tanpa suara

Bagai cahaya

Dan senyummu di saat hampa

Wajah yang penuh tanya

Tak bisa lagi kau mendengar suara

Jawaban menjadi hampa

.

Aku ingin menjawabnya, sungguh aku ingin melakukannya. Aku ingin memberitahunya bahwa aku akan selalu bersama dengannya. Apa pun yang terjadi. Tapi kini, bahkan jika aku menjawabnya. Maukah dia mendengarkanku lagi? Jawabanku menjadi hampa, sehampa perasaan ini.

“Pergi dari sini, atau aku yang akan pergi. Menghilang dari hadapanmu. Selamanya.”

Aku mendesah pelan dan berhenti ditengah taman, diujung taman ini ada sebuah danau. Aku berjalan menuju danau itu dengan pelan. Begitu sampai aku hanya menatap danau itu lirih, begitu lirih. Seakan-akan sedang membagi kehampaan dan segala kesedihanku pada danau ini.

Aku berjongkok ditepi danau dan memejamkan mata, menikmati angin sepoi-sepoi dan juga butiran salju yang menerpa wajahku lembut. Membawa ku untuk mengingat kejadian manis ditempat ini. Kejadian yang membuatku bertemu dengan Kai, Kim Jong In.

—oooOoooOooo—

“Kau yakin tidak akan datang?” Ujar Yoona sambil menempelkan ponsel ditelinganya.

“Baiklah. Aku mengerti.” Dia pun mematikan teleponnya dan mendesah pelan. “Tau gitu aku tidak menunggu dari tadi.”

#BRUAK…

Tiba-tiba ada seseorang yang menabrak Yoona, yang membuatnya terjengkang kedepan beberapa langkah.

“Aish… orang itu benar-benar tidak punya sopan santun, seharusnya…” kalimatnya terputus setelah menyadari tasnya menghilang. Yoona menatap orang yang tadi menabraknya dengan mata yang membulat.

“PENCURI…” teriaknya sambil berlari. Yoona berlari sangat kencang sampai-sampai dia tidak sengaja menyenggol seorang pria yang sedang berjongkok ditepi danau. Alhasil pria itu tercebur kedanau.

OmoMianhae. Aku benar-benar minta maaf.” Ujarnya sambil membungkukkan badannya berkali-kali pada pria dihadapannya yang sedang bersusah payah mencoba untuk naik dari danau.

Merasa bersalah sekaligus ingin cepat-cepat mengejar pencuri itu, Yoona pun dengan cepat mengulurkan tangannya pada pria itu.

“Pegang tanganku.” Pria itu malah menatap Yoona bingung, sedangkan Yoona dari tadi sibuk mengulurkan kepalanya tinggi-tinggi seakan-akan sedang mencari dimana pencuri tadi berlari.

“Ayo pegang tanganku.” Ujarnya lagi dengan tidak sabar. Pria itu pun dengan agak ragu menyambut tangan Yoona, tapi dengan satu tarikan dia terangkat begitu saja. Dia hanya bisa membulatkan matanya kaget.

“Aish… bagaimana bisa dia berlari begitu cepat?” Omel Yoona sambil terus menatap kearah samping, tapi begitu menyadari Pria tadi menatapnya bingung, Yoona pun menoleh dan tersenyum cerah.

Mianhae, tapi aku sedang buru-buru.” Dengan cepat pula Yoona menghilang dari pandangan pria itu yang masih mematung sambil menatap tangannya kagum.

“Woah… kuat sekali.” Ujarnya sambil tersenyum.

—oooOoooOooo—

Aku tersenyum kecut sambil menatap danau ini nanar. Pertemuan yang bodoh, aku bahkan lupa menanyakan namanya hari itu. Benar-benar bodoh.

Pemandangan dihadapanku menjadi buram karena mataku berkaca-kaca, bahkan kini dapat kurasakan bibirku yang mulai bergetar.

Menangis! Jika hal itu bisa membuatku melupakannya, aku akan memilih untuk menangis seumur hidupku. Bahkan jika hal itu tidak terjadi, kini aku ingin menangis. Sungguh!

Masa bodoh dengan udara yang dingin, badanku yang mulai bergetar dan kulitku yang rasanya sudah mulai membeku.

Aku hanya memakai jaket tipis. Syalku sudah kuberikan pada gadis kecil tadi.

Tidak apa, aku tinggal membiarkan diriku perlahan-lahan membeku, dengan begitu rasa sesak ini tidak akan terasa lagi. Semuanya akan menjadi hilang dalam sekejap. Bukankah menyenangkan?

Aku pun mendongkakkan kepalaku keatas—melihat butiran salju yang semakin memenuhi tubuhku. Dengan pelan aku menutup mataku dan mulai berdoa.

Kepada salju yang terus turun. Kumohon, jangan berhenti menutupi tubuh ini. Biarkan tubuh ini membeku, agar rasa sakit ini menghilang. Jiwa dan raga ini, hapus mereka hingga yang tersisa hanya putih.

Aku tidak tahu berapa lama aku berada disini. Aku hanya merasakan udara yang semakin susah untuk kudapatkan, mataku yang semakin susah untuk melihat salju dan juga butiran-butiran salju yang sudah tidak terasa dingin lagi. Apa aku telah mati rasa? Bahkan dingin salju pun tidak bisa kurasakan?

Baguslah! Bukankah ini yang kau ingin kan, Im Yoon Ah. Mulai sekarang semuanya akan baik-baik saja.

Kurasakan tubuhku dengan pelan terjatuh kedalam danau. Aku hanya membiarkannya jatuh begitu saja, membiarkan tubuhku terhanyut kedalamnya.

Dingin! Rasanya begitu menyakitkan, tapi ini tidak sebanding dengan hatiku saat ini.

Tiba-tiba ada seseorang yang menarik tubuhku paksa dari danau ini, membuat tubuhku keluar dari danau ini dengan sekali tarikan.

“Nona, kau baik-baik saja? Nona? Nona? Kau mendengarkanku?”

Suara itu! Aku masih bisa mendengarnya dengan jelas. Tapi… tapi kenapa dia harus menyelamatkanku. Padahal sedikit lagi, tinggal sedikit lagi. Aku memaksakan mataku yang semakin berat untuk terbuka, hanya untuk melihat orang kurang kerjaan yang sudah merusak rencanaku.

Awalnya agak sulit melihatnya, pandanganku mengabur. Tapi lama kelamaan wajahnya semakin terlihat jelas. Wajahnya basah, rambutnya juga bahkan butiran airnya jatuh mengenai wajahku. Bibirnya terlihat bergetar. Lihatlah! Dia kedinginan, membuatku merasa sedikit bersalah.

Mianhae, aku tidak bermaksud—

“Uhuk… Uhuk…” aku terbatuk untuk pertama kalinya, kurasakan ada begitu banyak air yang kusemburkan. Orang itu mengusap wajahnya perlahan, sepertinya air yang kusemburkan mengenainya.

“Nona, kau baik-baik saja?” tanyanya lagi dengan suara yang pelan tapi terdengar begitu jelas ditelingaku.

Aku pun mengerjap-ngerjapkan mataku perlahan untuk mempertajam penglihatanku, dia terlihat seperti seseorang yang kukenal. Dia terlihat seperti…

“Kai…”

The smell of winter, I heard closely the sound of wind

I started to hear, your voice, singing softly

We at each other, laugh together, and occasionally had fights

But because of your voice, softly spelling my name

I didn’t realize (the fights) at all.

Harum musim dingin, mengiringi angin, kudengar seksama

Ku mulai mendengar, suara lembutmu, bernyanyi temaram

Bercanda bersama, tertawa bersama, walau sering kita bertengkar pula

Namun dengan lembut suaramu mengeja namaku

Karenanya aku tak menyadari pertengkaran itu ada

.

Kai!

Kai!

“Kai!!!” teriak Yoona begitu terbangun dari tidurnya. Dia mengedarkan pendangannya keseluruh ruangan sambil memegang kepalanya yang sakit.

“Oh!!! Kau sudah bangun?” Tanya seseorang yang baru saja masuk.

“Yuri… sedang apa kau di— Eehh… ini bukan kamarku. Ini dimana?” Tanya Yoona begitu menyadari dirinya tak dikamarnya.

Yuri mendudukkan dirinya disamping ranjang Yoona dan menatapnya kesal. “Setelah semalaman membuatku khawatir sekarang dengan polosnya kau bertanya ‘Ini dimana?’. Kau sungguh keterlaluan.”

“Ini, minum dulu.” Yuri memberikan segelas air putih yang langsung diteguk habis Yoona.

Yoona memberikan gelas kosongnya pada Yuri, “Mianhae jika aku membuatmu khawatir. Tapi apa yang sebenarnya terjadi?”

“Kau tidak ingat?”

Yoona menggeleng-gelengkan kepalanya sambil menatap Yuri bingung. “Semalam kau kemana? Kau diantar seseorang kerumahku dengan keadaan basah kuyup dan tak sadarkan diri. Sebenarnya apa yang terjadi?” Tanya Yuri khawatir.

Yoona tampak berpikir-pikir sejenak sebelum menjawab, “Semalam? Aku…”

“Nona, kau baik-baik saja?”

“Kai…” lanjutnya. “Kai?” Yuri tampak tidak percaya, namun Yoona mengangguk-anggukkan kepalanya yakin.

“Semalam aku bertemu dengan Kai, dia menyelamatkanku. Sekarang Kai dimana? Kai dimana? Seharusnya dia disini. Kai dimana Yuri?” Yoona tampak menyedihkan, wajahnya masih terlihat pucat dan sekarang dia berteriak memanggil Kai yang jelas-jelas tidak ada disini.

“Tidak ada Kai disini. Ini rumahku dan hanya ada aku dan kau disini.” Tegas Yuri sambil memegang pundak Yoona.

“Tapi semalam aku—“

“Semalam ada seorang pria yang menghubungiku dan membawamu kesini. Tapi aku yakin itu bukan Kai.” Jelas Yuri, sekarang raut wajah Yoona telah berubah. Kini dia terlihat semakin terpuruk, harapannya sia-sia. Kai tidak akan pernah kembali padanya.

“Tapi aku yakin itu Kai.”

“Bukan, itu bukan Kai. Aku melihatnya sendiri. Dan itu bukan Kai.”

“Tapi…”

“Ada apa denganmu Yoong? Kau sekarang terlihat sangat kacau. Kau tidak terlihat seperti Yoona yang aku kenal.” Yuri menatap Yoona lirih, begitu lirih sampai-sampai Yoona tidak bisa melepaskan tatapannya dari Yuri.

“Yuri-ah…”

“Yoona yang kukenal adalah Yoona yang tegar dan pantang menyerah. Jangan menyembunyikan dirimu yang sebenarnya. Hadapi lah kenyataan Yoong. Kembalilah menjadi Yoona yang dulu. Kumohon.” Yoona pun mengangguk-anggukkan kepalanya pelan sambil menghela nafas.

Mianhae.”

.

“Seo Joo Hyun… sampai kapan kau akan bersikap seperti ini?” teriak Yoona dengan orang diseberang sana.

Mianhae Eonnie, tapi aku benar-benar sibuk sekarang.” Biip… dan sambungan terputus.

“Aish, jinjja. Anak ini. Aku bisa gila.” Yoona menghela nafas dan mengacak-ngacak rambutnya. Dia membalikkan badannya dan mendapati ada seorang pria diujung sana yang sedang melambaikan tangan padanya. Dengan agak kaku, Yoona pun membalas lambaian tangannya.

‘Awas saja Seo Joo Hyun, kalau aku bertemu denganmu, kau akan habis.’ Batin Yoona. Yoona sedang kesal sekarang. Bagaimana tidak kesal. Sudah seminggu ini Joo Hyun memaksanya untuk bertemu dengan pria-pria yang tidak dikenalnya. Joo Hyun mencarikan teman kencan untuk Yoona, tapi tanpa sepengetahuan Yoona. Ingat! Tanpa sepengetahuannya.

Dan hal itu membuat Yoona murka.

Mianhae, tapi sepertinya aku ada keperluan mendadak. Mianhae.” Yoona sengaja mencari alasan agar tidak berlama-lama berurusan dengan pria dihadapannya ini. Pria ini memang lumayan ganteng, tapi dilihat dari gelagatnya sepertinya dia ini tipe playboy. Tadi saat Yoona sedang menelpon Joo Hyun, pria ini terlihat sedang menggoda beberapa gadis yang kebetulan lewat.

Oleh karena itu lah, Yoona tidak mau tinggal lama dengan pria ini.

“Oohh… baiklah kalau begitu.” Jawab pria itu yang mendapat senyuman lega dari Yoona.

‘Kupikir ini akan sulit.’ Batinnya.

“Tapi…” tiba-tiba Pria itu malah memegang tangan Yoona yang membuatnya reflek berteriak. “Lepaskan…”

“Aish, jinjja…” pria itu malah menarik Yoona mendekat dan memegang pundaknya.

“Jangan berteriak sekeras itu. Kau membuat semua orang menatapku.” Lanjutnya.

“Kumohon lepaskan aku.” Pinta Yoona, tapi pria itu malah semakin mendekatkan dirinya pada Yoona.

“Kita baru saja bertemu, kenapa terburu-buru, sayang.” Bisik Pria itu ditelinga Yoona yang benar-benar terdengar menjijikkan.

“Aku benar-benar sedang ada urusan. Jadi kumohon, lepaskan aku.” Mohon Yoona sekali lagi sambil mencoba melepaskan pegangan pria itu.

“Waktu masih sangat panjang, seharusnya kita bersenang-senang dulu sekarang.” Pria itu tampak semakin mendekatkan dirinya pada Yoona, membuat Yoona menahan nafasnya selama beberapa saat. Dia benar-benar takut sesuatu terjadi padanya.

“Hari ini kau adalah milikku, sayang.” Ia semakin mendekat pada Yoona, bahkan tangannya kini sedang memegang dagu Yoona.

#PLAKK…

Dengan cepat Yoona menampar pria itu, “Milikmu? Kau bilang aku milikmu?”

“Apa yang kau lakukan, kau—“

Belum selesai pria itu berkata, Yoona sudah terlebih dahulu menyiraminya air.

“Sebelum berbicara hal itu, seharusnya kau belajar sopan santun. Kau benar-benar payah dalam memperlakukan orang.” Tidak mau kehilangan kesempatan, Yoona dengan cepat keluar dari café ini.

YA!!! Dasar gadis brengsek, aku akan memberikanmu pelajaran.” Ngamuk pria itu, tapi baru saja ia berjalan selangkah tiba-tiba ada yang menariknya dan memukulnya hingga ia tak sadarkan diri.

“Hanya begini saja? Dasar.” Gumam seseorang yang memukul pria tadi sambil menggeleng-gelengkan kepalanya dan menyentuh tangannya.

“Benar-benar gadis yang unik.” Lanjutnya sambil tersenyum dan berjalan keluar.

.

.

Aku terus berlari tanpa memperdulikan tatapan aneh dari semua orang. Terus berlari dan berlari. Tidak ada yang bisa kupikirkan sekarang, mungkin berlari adalah hal terbaik.

Tanpa sadar sepasang kaki ku membawaku kembali kedanau kemarin. Aku kembali menatap danau itu lirih. Hari ini danau ini sangat sepi, tidak seperti biasanya. Padahal sekarang masih siang, seharusnya banyak pasangan muda yang sedang berkencan disekitar danau—seperti yang dulu sering ku lakukan.

Aku menggeleng-gelengkan kepalaku pelan supaya tidak terbawa dengan suasana hatiku yang sedang kacau. “Im Yoon Ah, sadarlah. Dia sudah meninggalkanmu. Sekarang kau harus kembali kedirimu yang sebenarnya.” Hiburku untuk diriku sendiri.

Namun tiba-tiba ada orang yang menarik tanganku kasar sambil berteriak, “Jangan gila, jangan mengakhiri hidupmu dengan cara seperti ini.”

Aku menatap orang itu bingung, namun sedetik kemudian bisa kurasakan jantungku mulai berulah lagi. “Kai…”

Orang itu malah menatapku bingung, itu Kai tapi kenapa dia seakan tidak mengenaliku.

“Nona, apa yang terjadi padamu? Apa kau sakit?” Tanyanya sambil memegang dahiku yang tidak panas.

“Kai… Kau Kai, kan?”

“Apa yang kau bicarakan, Nona?” Kai terlihat menjauhiku. Apa yang terjadi? Kenapa dia tidak mengenaliku.

“Ada apa denganmu Kai? Ini aku, Im Yoon Ah.” Aku menepuk-nepuk dadaku sendiri untuk meyakinkan pada Kai bahwa aku orang yang dikenalnya. Tapi dia malah menatapku seakan-akan aku ini gadis aneh yang tiba-tiba saja memaksa untuk mengenalnya. Apa yang terjadi padamu Kai?

.

.

“Jadi kau bukan Kai?” Tanya gadis bernama Im Yoon Ah ini, sementara aku hanya mengangguk-anggukkan kepalaku pelan.

“Ah, dunia ini benar-benar tidak bisa ditebak. Bagaimana bisa aku bertemu dengan orang yang sangat mirip dengan Kai.” Gadis itu mendesah pelan sambil menatap langit yang sudah semakin jingga.

“Di dunia ini ada 7 orang dengan wajah yang mirip dengan ini. Jadi wajar saja kalau kau salah mengenaliku.” Ujarku menenangkannya.

“Ada 7 orang?” tanyanya. “Kuharap hari itu bukan dia yang mengatakannya.” Dia terlihat menghembuskan nafas panjang, seakan-akan saat ini ada beban yang sedang menumpuk dihadapannya.

“Apa maksudmu?” tanyaku tidak mengerti dengan ucapannya tadi. Tapi bukannya menjawab dia malah tersenyum padaku.

Mian sudah mengangetkanmu. Ah iya, namaku Im Yoon Ah.” Dia mengulurkan tangannya padaku, sehingga mau tak mau aku pun menyambutnya. “Lee Tae Min.”

“Senang bertemu denganmu, Tae Min-ssi. Tapi sepertinya sekarang aku harus pulang sebelum temanku mengamuk.” Ucapnya setengah bercanda, dia pun tersenyum dan melambaikan tangannya padaku. “Semoga kita bertemu lagi.” Ucapnya.

Aku pun membalas lambaian tangannya dan tersenyum, “Semoga kita bertemu lagi.”

Aku menatap punggung gadis itu sambil bergumam dalam hati. ‘Gadis yang benar-benar unik. Senang bertemu denganmu. Im Yoon Ah-ssi.’

.

.

Mianhae Eonnie, Mianhae. Aku berjanji tidak akan melakukannya lagi.” Ujar Joo Hyun sambil menundukkan kepalanya dalam dan menggosok-gosokkan tangannya keudara.

“Aku tau niat baikmu. Tapi kumohon jangan seperti ini. Aku bisa mendapatkan lelaki yang lebih baik, kau tidak perlu melakukan semua ini.” Yoona menghembuskan nafas panjang sambil menatap Joo Hyun sebal. Sedangkan Yuri dari tadi hanya diam sambil memperhatikan perdebatan Joo Hyun dan Yoona.

“Tapi Eonnie, sampai kapan kau akan seperti ini? Semakin lama semakin banyak nama Kai diotakmu. Aku hanya ingin membantumu menghilangkan nama itu diotakmu.”

“Aku tau Joo Hyun. Tapi tolong jangan seperti ini.”

“Tapi Yoona, kurasa Joo Hyun ada benarnya juga.” Tak tahan hanya duduk diam tanpa melakukan apapun, akhirnya Yuri pun angkat bicara.

“Yuri, kau juga. Ya ampun, aku bisa gila.” Yoona menutupi mukanya dengan tangan sambil membuang nafas berat.

Eonnie, kau memang yang terbaik.” Ujar Joo Hyun senang karena ada yang membelanya.

“Bukan begitu. Maksudku Joo Hyun ada benarnya juga. Kau harus segera menghilangkan nama Kai dari otakmu.” Jelas Yuri yang langsung mendapatkan tatapan tajam dari Yoona.

“Jangan bilang kau mau mencarikan teman kencan untukku juga.”

“Memang.” Jawab Yuri dengan tampang innocentnya, sementara Yoona sudah bersiap-siap melemparkan bantal kesayangannya.

“Kau dengar dulu penjelasanku. Aku memang ingin mencarikanmu teman kencan, tapi tidak seperti Joo Hyun.” Joo Hyun dan Yoona pun hanya bisa menatap Yuri bingung, sementara yang ditatap malah tersenyum penuh kemenangan. Entah apa yang kini dipikirkannya.

—oooOoooOooo—

“Kau yakin semuanya akan baik-baik saja?” Tanya Yoona pada orang diseberang sana.

“Tentu saja, sekarang aku sedang bersama pria itu. Jadi sekarang kau tinggal kesini. Bisa kupastikan dia itu orang yang baik.” Jawab Yuri sambil tersenyum.

Arraseo…” Biip… Yoona mematikan ponselnya sambil menatap jam tangannya.

“Astaga, aku terlambat.” Dia berlari menuruni tangga, dan keluar dari gedung ini.

Setelah dibujuk berkali-kali oleh Yuri dan Joo Hyun, akhirnya Yoona menyetujui rencana Yuri untuk mencarikannya teman kencan.

“Kau ingat pria yang menolongmu minggu lalu. Kurasa dia pria yang baik.”

Ya, Yoona memang berharap orang itu orang baik. Karena dia sungguh tidak tau apa yang harus dia lakukan lagi, jika pria itu ternyata sama saja dengan pria hidung belang yang selama ini dicarikan Joo Hyun.

Yoona memasuki sebuah gedung yang diberitahukan oleh Yuri tadi lewat SMS.

“Seharusnya disini, kemana perginya Yuri?” Yoona mengedarkan pandangannya keseluruh penjuru tapi dia tidak mendapati Yuri dimana pun. Tapi seketika pandangannya terhenti ketika dia melihat seseorang yang dikenalnya.

“Oohh, Lee Tae Min-ssi.” Gumamnya pelan. Setelah merasa cukup yakin, Yoona pun menghampiri pria yang duduk membelakanginya.

Jogiyo…” Pria itu pun membalikkan badannya dan mendapati Yoona yang menatapnya senang. “Ternyata benar kau.”

“Yoona-ssi, kau sudah datang?” Tanyanya yang seketika membuat senyum diwajah Yoona digantikan dengan muka bingungnya. “Ne?”

“Ooh, Yoona-ya, kau sudah datang.” Tiba-tiba Yuri muncul dibelakang Yoona sambil tersenyum.

“Eoh, Yuri-ah… kau darimana saja?” Tanya Yoona sambil sesekali melirik kearah Tae Min.

“Aku tadi baru dari WC, kalian sudah saling mengenal?” Tanya Yuri ketika melihat Yoona dan Taemin saling berpandangan.

“Eoh, aku pernah bertemu dengannya didanau dekat taman.” Jelas Yoona. “Kau mengenalnya?”

“Tentu saja, ini pria yang kumaksud.” Ucapan Yuri seketika membuat Yoona mematung. Jadi, ini pria yang dikiranya sebagai Kai? Jadi dia yang menyelamatkan Yoona? Padahal dia sungguh berharap jika hari itu Kai lah yang menolongnya, bukan orang ini.

“Yoona-ssi, gwenchana?” pertanyaan Tae Min membuat lamunan Yoona buyar seketika.

“Eoh, gwenchana. Hanya saja aku kaget.” Ucap Yoona sambil terus menatap Taemin lirih. “Kau benar-benar terlihat seperti orang yang kukenal.”

“Sepertinya aku mengganggu, sebaiknya aku pergi saja.” Yuri pun meninggalkan mereka berdua yang tampak masih sibuk dengan pikirannya sendiri, mereka bahkan terlihat sama sekali tidak menyadari bahwa kini Yuri sudah tidak berada ditengah-tengah mereka lagi.

“Berhentilah memandangku seperti itu, kau membuatku merasa tidak enak.” Ucap Taemin membuka permbicaraan yang daritadi diliputi oleh keheningan.

Mianhae, aku tidak bermaksud membuatmu merasa tidak enak.” Sesal Yoona.

Gwenchana.” Taemin tersenyum menenangkan. “Kai… siapa dia?” Tanya Taemin agak ragu.

Mianhae, aku bukan bermaksud untuk mencampuri urusanmu. Hanya saja, setiap kau melihatku, kau pasti menyebutkan nama Kai. Jadi aku penasaran.” Ujarnya lagi.

“Tapi jika kau tidak ingin mengatakannya tidak apa-apa, aku—“

“Kai itu pacarku…” Ujar Yoona pada akhirnya. Taemin pun berhenti bicara dan mulai memperhatikan Yoona yang tampaknya akan bercerita. “…atau lebih tepatnya mantan pacarku.” Yoona menatap Taemin dan tersenyum kecut.

“Kau benar-benar mirip dengannya.”

“Dimana dia sekarang?” Tanya Taemin antusias. Sementara Yoona menggeleng-gelengkan kepalanya pelan. “Aku tidak tau.”

“Dia menghilang begitu saja setelah mencampakkanku.” Lanjutnya.

“Mencampakkanmu?”

“Ne, dia mencampakkanku begitu saja. Tanpa sebab apa pun.”

—oooOoooOooo—

“Kai, kau didalam?” Tanya Yoona begitu mendapati rumah Kai dalam keadaan gelap gulita. Yoona pun masuk kedalam dan berusaha untuk menghidupkan lampunya. Setelah lampunya berhasil dihidupkan, Yoona dikagetkan dengan keadaan rumah Kai yang sudah berantakkan, seakan-akan baru terjadi kerusuhan dirumah ini.

“Kai, kau dimana?” Panggil Yoona panik. Dia mencari kekamar, tapi yang didapatinya hanya kamarnya yang sudah berantakkan. Dengan seprai yang sudah terlepas, buku-buku berserakkan, bahkan terdapat beberapa barang pecah didalam kamar itu. Semakin panik, Yoona pun bergegas untuk mencari Kai.

“Kai, kau dimana? Ayo jawab aku.” Yoona kembali berkeliling, tapi kemudian dia menemukan Kai sedang berada di kamar mandi dengan badan yang basah terkena air.

“Kai…” panggil Yoona lirih dan berniat mendekati Kai yang sedang meringkuk di pojok ruangan.

Yoona berjongkok dihadapan Kai dan menyentuh wajahnya pelan. “Kai… Apa yang terjadi padamu?”

Menyadari ada seseorang dihadapannya, Kai mengangkat kepalanya pelan dan menatap Yoona bingung. “Ka-kau siapa?”

Yoona tersentak kaget sambil mengernyitkan kepalanya heran. “Kai, ini aku. Im Yoon Ah.”

Kai malah menerawang sambil memiringkan kepalanya “Im Yoon Ah? Siapa?” namun tiba-tiba dia membulatkan matanya dan berdiri dengan cepat. “Pergilah, kumohon. Jangan datang lagi kesini.”

Yoona tidak menghiraukan segala ucapan Kai, dia malah ikut berdiri dan melilitkan handuk pada tubuh Kai. Tapi Kai malah menghempaskan handuknya kasar hingga Yoona terpaku ditempatnya.

“Pergilah. Aku tidak membutuhkanmu lagi, jadi kau harus pergi.”

Yoona tidak mau menyerah, dia mengambil handuknya lagi dan mengelap wajah Kai yang basah. Tapi Kai malah mendorongnya kasar hingga membuatnya terjatuh.

“Apa kau tidak punya telinga. Kubilang pergi. Aku muak melihatmu.”

Tapi Yoona masih terlalu kaget “Pergi dari sini, atau aku yang akan pergi. Menghilang dari hadapanmu. Selamanya.”

Kai belum pernah berlaku kasar padanya, dan hari ini ketika untuk pertama kalinya Kai bersikap kasar padanya, dia benar-benar tidak tahu apa yang harus dilakukannya.

“Kai…” Panggil Yoona lirih, tanpa terasa air matanya menetes. Kai pun menatapnya sebal sambil meninggalkannya yang masih terpaku.

Dia menatap punggung Kai yang mulai menjauh dengan lirih. Punggung yang selalu indah untuk dilihat, punggung tegap yang selalu menjadi sandaran jika dia terjatuh. Tapi kenapa? Kenapa seperti ini?

Tanpa alasan, tanpa penjelasan, kenapa Kai bersikap seperti ini padanya? Dia sungguh tidak mengerti.

—oooOoooOooo—

“Kopi?” Sebuah kopi kaleng melayang di depan wajah Yoona. Dengan senyum yang mengembang Yoona pun mengambil pemberian Taemin. “Gamsahamnida.”

Taemin tersenyum kemudian mendudukkan dirinya disamping Yoona. “Bagaimana? Jauh lebih baik?”

Yoona mengangguk pelan sambil memainkan kakinya. “Sedikit.” Dia menatap langit dan tersenyum kecut. “Gomawo.” Taemin tersentak kaget, dia menoleh dan mendapati Yoona yang sedang menatap langit.

“Berkat kau, sekarang semuanya terasa lebih ringan.”

Taemin belum pernah merasakan hal ini, tapi jantungnya berdetak 2 kali lebih cepat dari biasanya, darahnya berdesir kencang dan sekarang jiwanya seakan-akan sudah berada diawan. Bahkan tanpa sadar dia berdoa dalam hati agar moment ini tidak akan pernah berakhir.

Gomawo-yo, Taemin-ssi.” Yoona menoleh padanya, Taemin membuang muka sambil mengerjapkan matanya berkali-kali dan mencoba untuk bernafas lewat mulut.

“Eoh… Gwen-Gwenchana. Ini bukan apa-apa.” Entah apa yang terjadi, kenapa seorang Lee Tae Min terlihat seperti orang bodoh? Bagaimana bisa? Ini sungguh tidak masuk akal.

Taemin melihat berkeliling, berusaha menyembunyikan segala kegugupan hatinya, namun dia tetap tidak bisa menyembunyikan keinginannya untuk terus menatap wajah gadis disampingnya.

Yoona menghela nafas panjang sambil berdiri. “Ah… membosankan.” Dia melirik kearah Taemin dan tersenyum. “Kau tidak bosan?”

Taemin ikut berdiri dan menatap berkeliling, dia masih berusaha menghentikan detak jantungnya yang mulai berulah lagi. “Sedikit.”

“Ini masih awal, bagaimana kalau kita jalan-jalan saja.” Ajak Yoona sambil mulai berjalan. Taemin pun menyamakan langkah dengan Yoona sambil memasukkan sebelah tangan pada saku celananya.

Yoona menoleh kesamping dan mendapati Taemin yang sedang menerawang kedepan. “Tidak baik melamun dipagi hari.”

Taemin menatap Yoona teduh, sedangkan gadis itu hanya tertawa kecil. “Ada apa? Kenapa melamun?”

“Tidak apa-apa kok.” Jawab Taemin sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.

Gadis itu kembali menatap kedepan dan menepuk tangannya pelan. “Ah, matta. Bagaimana kalau kita ke Lotte World, aku sudah lama tidak kesana.”

“Lotte World?”

Yoona mengangguk sambil menghentikan langkahnya, “Sepertinya bukan cuman aku yang butuh hiburan.” Gadis itu menunjuk dada Taemin pelan sambil tersenyum. “Tapi kau juga. Wajahmu terlihat begitu kusut. Seperti orang yang kurang istirahat saja.” Lanjutnya sambil berjalan lagi.

Taemin menyentuh dadanya pelan dan melihat punggung gadis yang semakin menjauh darinya. Perasaan apa ini? Kenapa begitu hangat. Batinnya.

Dia kembali menyamakan langkah dengan Yoona yang mulai merecokinya dengan berbagai pertanyaan. “Taemin-ssi, kau kerja apa?”

“Aku seorang dokter.” Jawabnya singkat.

“Benarkah? Wah, hebat sekali. Aku benar-benar tidak menyangka kau seorang dokter.”

Taemin benar-benar tidak mengerti apa yang sedang terjadi padanya? Serangan jantung ringan atau apa pun itu? Tapi yang jelas, dia bisa merasakannya. Jantungnya berdetak berkali-kali lebih cepat dari biasanya. Wajahnya memanas dengan sendirinya, padahal ini musim dingin.

Entah apa yang terjadi, tapi kenapa Taemin sangat menikmatinya? Apakah dia jatuh cinta? Bahkan pada gadis yang baru dikenalnya? Entahlah, yang dia tau. Sekarang dia sedang bersama gadis ini, tersenyum dan tertawa bersamanya, ditemani detak jantungnya yang seakan-akan diiringi musik beat yang sangat kencang, rasa hangat didalam dadanya, dan perasaan penasarannya terhadap gadis ini. Hanya itu yang dia tau.

—oooOoooOooo—

Mianhae Taemin-ssi, seharusnya aku tidak mengajakmu kesini.” Sesal Yoona sambil berkali-kali menepuk-nepuk punggung Taemin.

Taemin mengibas-ngibaskan tangannya pelan sambil terbatuk-batuk. “Aniya, ini bukan salahmu.” Melihat Taemin terbatuk-batuk seperti sekarang justru membuat Yoona semakin merasa bersalah, seharusnya tadi dia tidak memaksa Taemin untuk bermain Roller Cooster, setidaknya Taemin tidak muntah-muntah dan terbatuk-batuk seperti sekarang. Seharusnya dia mendengarkan Taemin yang sudah berkali-kali menolak, seharusnya dia tidak keras kepala. Kenapa dia begitu egois? Seharusnya—

“Berhenti menyalahkan dirimu sendiri, ini bukan salahmu. Aku saja yang terlalu lemah.”Ujar Taemin menenangkan Yoona.

“Tapi—“

“Bagaimana bisa seorang dokter, lemah seperti ini? Ini benar-benar memalukan.” Taemin terkekeh sendiri sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Tapi tiba-tiba Yoona menjitak kepalanya pelan, membuatnya menghentikan kekehannya.

“Dokter juga manusia. Tidak ada yang perlu merasa malu. Justru kau harus merasa bangga, diluar sana banyak sekali yang ingin menjadi dokter. Dan kau sudah selangkah lebih depan dari mereka. Kau ini seorang dokter.” Yoona berbicara panjang lebar, sedangkan Taemin hanya menatapnya takjub, bagaimana bisa gadis ini berbicara seperti itu? Dia bahkan belum pernah berpikir tentang hal itu sebelumnya. Bagaimana bisa gadis ini membelanya dari persepsi bodoh yang dibuat oleh dirinya sendiri? Bagaimana bisa? Dan satu lagi pertanyaan yang menghantuinya, kenapa gadis ini bisa membuatnya merasa begitu nyaman?

“Ah, matta.” Lagi-lagi Yoona menepuk tangannya pelan sambil tersenyum, senyumnya yang membuat jantung Taemin semakin tidak karuan. “Kurasa aku harus memanggilmu dokter, Dokter Lee? Dokter Lee Tae Min? Dokter Taemin? Aku harus memanggilmu apa?” Tanyanya.

Taemin mengernyitkan dahinya heran, gadis ini sungguh sangat susah ditebak.

“Menurutmu aku harus memanggil apa? Panggilan apa yang kau suka?”

“Lee Taemin, Just Taemin.”

Yoona menoleh kearah Taemin kemudian tersenyum kecil. “Baiklah, aku akan memanggilmu Lee Taemin. Taemin-ah… Bagaimana?”

Taemin ikut tersenyum kecil sambil menatap kebawah. “Kurasa itu ide bagus Yoona-ya …”

Mereka berdua pun tertawa senang, namun tawanya sekarang berbeda, terselip kebahagiaan di sela-sela tawanya. Tidak lagi tawa hampa seperti biasanya. Ya, mungkin dia mendapatkan sedikit kebahagiaan. Hanya sedikit, tapi itu sudah cukup.

—oooOoooOooo—

“Kau mau kemana?” Tanya Yuri begitu melihat Yoona dengan pakaian yang sudah rapi terlihat sedang memasukkan sekotak makanan kedalam tas. Sudah seminggu mereka tinggal berdua, sebenarnya Yuri yang memaksa Yoona untuk tinggal bersamanya. Yuri hanya tidak ingin insiden Yoona pulang dalam keadaan basah kuyup terulang lagi.

Yoona tersenyum begitu menyadari Yuri mendekatinya. “Aku ingin memberikan Taemin ini.” Yuri mendekatinya sambil tersenyum nakal. “Kau sudah mulai berpindah haluan ternyata.” Goda Yuri.

Mwoya? Ini tidak seperti yang kau pikirkan. Kemarin perutnya bermasalah karena aku, jadi kupikir aku harus bertanggung jawab.” Yoona menatap Yuri sebal karena sudah menggodanya.

Tapi senyum nakal di wajah Yuri tidak juga menghilang, senyumnya justru semakin lebar. “Ingin bertanggung jawab atau ingin bertemu dengannya? Taemin-ah, aku merindukanmu.”

Yoona pun semakin geram, dia bahkan sudah mengambil ancang-ancang untuk melempari Yuri dengan gelas disebelahnya, namun Yuri juga ternyata sudah mengambil ancang-ancang untuk berlari. Jadi sebelum Yoona berhasil menggertaknya, Yuri sudah hilang dibalik tembok.

“Aish, Jinjja. Sejak kapan Yuri belajar untuk menggodaku.” Gerutu Yoona, namun Yuri tiba-tiba muncul lagi dibalik tembok dengan senyum jahilnya.

Mwo?” Teriak Yoona kesal.

Fighting!!!” teriak Yuri tak mau kalah sambil mengepalkan tangannya keudara, lalu beranjak pergi sebelum Yoona mulai menggertaknya lagi.

Yoona pun tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepalanya pelan. Beberapa hari yang lalu, dia hampir lupa masih memiliki sahabat seperti Yuri dan Joo Hyun yang selalu menemaninya. Ya, dia baru menyadarinya. Dia tidak pernah sendirian. Walau pun Kai mencampakkannya, tapi dia masih memiliki Yuri dan Joo Hyun dan juga—

…mungkin tidak lama lagi nama Taemin akan masuk daftar sahabat baiknya. Bisa saja, siapa yang akan tahu.

Dia pun mengambil tas yang berisi kotak makanan dan bergumam dalam hati, ‘Im Yoon Ah, Fighting!!!’

—oooOoooOooo—

“Jadi kau tidak bisa datang?” Tanya Yoona ditelepon dengan wajah yang kecewa.

“Yoona-ya, mianhae.” Ujar orang diseberang sana. Yoona menghela nafas panjang sambil melihat berkeliling. Dia sudah sampai ditempat pertemuan, tapi ternyata Taemin tidak bisa datang karena ada pasien mendadak dirumah sakit. Sesungguhnya Yoona merasa kecewa sekarang, tapi apa dia berhak? Bagi Taemin, dia bahkan bukan siapa-siapa. Lagi pula, ini sudah menjadi tugas Taemin sebagai dokter untuk merawat pasien kapan pun. Dia tidak boleh egois.

“Kau marah?” Tanya Taemin lagi dengan suara yang pelan, sepertinya dia sangat menyesal. Tapi dengan cepat Yoona menggeleng-gelengkan kepalanya dan tersenyum, seakan-akan hal itu bisa dilihat Taemin.

Anniya, aku tidak marah kok. Lagipula aku belum sampai, tinggal berbalik dan aku sampai dirumah. Tenang saja.”

Taemin tersenyum lega sambil melirik suster disampingnya. “Tunggu sebentar.” Ucapnya pada Yoona. “Ada apa?” Tanya Taemin pada suster disampingnya.

“Dokter Lee, pasien diruangan anda menghilang lagi.” Suster itu terlihat sangat ketakutan, dia bahkan tidak berani melihat Taemin. Ini salahnya yang tidak menjaga pasien itu dengan hati-hati. Ini tanggung jawabnya, tapi dia tidak bisa menjaganya. Dia bersalah.

Gwenchana, kita akan cari bersama.” Ujar Taemin menenangkan sambil tersenyum lembut. Taemin pun berlari meninggalkan suster itu sambil meletakkan ponsel ditelingannya lagi.

Suster itu menatap Taemin takjub sambil tersenyum girang. Padahal biasanya dokter-dokter lain akan memarahinya karena lalai dalam bertugas, termaksud Taemin juga. Tapi hari ini Taemin berbeda, mungkinkah ini hari keberuntungannya? Entahlah.

—oooOoooOooo—

“Oohh Yoona-ya… Mianhae, tadi ada sedikit masalah.”

“Masalah? masalah apa?” Tanya Yoona antusias. Taemin melihat berkeliling sambil terus berlari menyusuri rumah sakit. “Pasienku ada yang hilang.”

“Hilang? Bagaimana bisa?”

“Entah lah, sepertinya dia bosan terus-terusan dirumah sakit. Makanya sekarang aku sedang mencarinya.”

Yoona yang sedang berjalan pun terhenti dan tiba-tiba tersenyum. “Perlu bantuan? Aku ada didekat rumah sakit tempatmu bekerja. Sepertinya kau butuh bantuan.”

Taemin berdiri mematung mendengar perkataan Yoona. Entah kenapa ada perasaan senang didalam hatinya. Kenapa dia seperti ini? “Ahh, itu… Tidak perlu, aku bisa mencarinya sendiri.”

“Tidak ada penolakkan, kau dimana? Aku akan menyusulmu.” Ujar Yoona diseberang sana.

“Aku ada ditaman Rumah sakit.”

“Tunggu aku.” Yoona pun tersenyum senang sambil menatap Gedung besar dihadapannya ini. Seoul Hospital.

—oooOoooOooo—

Taemin sedari tadi berjalan berkeliling tidak karuan, bahkan semua orang melihatnya bingung. Sementara Taemin sama sekali tidak terlihat keberatan dengan semua tatapan itu. Dia tetap berjalan berputar-putar tidak karuan. Dia hanya sedang bingung, bagaimana bisa Yoona ada didekat sini? Dan kenapa dia sekarang menjadi sangat gugup? Ada apa dengan jantungnya? Dia sungguh tidak mengerti.

“Taemin-ah.” Sebuah panggilan yang nyaris membuat Taemin terkena serangan jantung mendadak. Taemin membalikkan badannya pelan dan mencoba tersenyum senormal mungkin pada Yoona.

“Apa kau sudah menemukannya?” Tanya Yoona, tapi Taemin masih saja terdiam. Dia menatap wajah gadis itu lama tanpa berkedip sama sekali. Tadi jantungnya berdetak tidak karuan, tapi kenapa sekarang rasanya sangat nyaman? Bahkan dia ingin terus melihat wajah gadis ini setiap hari.

“Taemin-ah…” panggil Yoona lagi sambil memperlihatkan tas yang dibawanya.

“Aku membawa makanan, kau belum makan, kan?” Tanya Yoona yang mendapat anggukan dari Taemin.

Yoona tersenyum senang. Taemin pun menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Kenapa dia jadi terlihat bodoh dihadapan Yoona?

“Kurasa lebih baik kita keruanganku saja, disini sangat dingin.” Ujar Taemin.

“Pasiennya?”

“Sepertinya suster-suster sudah menemukannya. Aku akan menanyakannya nanti.” Ujar Taemin sambil berjalan menuntun Yoona sampai keruangannya. Begitu sampai, Yoona langsung meletakkan tasnya keatas meja dan mengeluarkan kotak makanan dari dalam tas.

Namun ada satu hal yang menarik perhatian Yoona. Ada tirai panjang ditengah-tengah ruangan Taemin. Yoona menatap tirai itu lama hingga dia tidak menyadari Taemin memperhatikannya sejak tadi.

“Itu ruangan pasien.”

Yoona melepaskan pandangannya dari tirai itu dan berpaling ke Taemin. “Ruang pasien?”

Taemin mengangguk-anggukan kepalanya pelan sambil berjalan kearah tirai. “Pasien ini yang tadi kabur. Sepertinya dia belum kembali. Aku akan menanyakannya pada yang lain.”

“Tunggu sebentar.” Lanjutnya sambil keluar dari ruangannya. Yoona pun duduk dikursi dan melihat berkeliling. Jarang-jarang dia bisa berada di rumah sakit, dan terlebih lagi sekarang dia ada diruangan dokter. Itu sangat jarang terjadi. Jadi Yoona memutuskan untuk melihat-lihat sedikit.

Yoona mendekati tirai yang sedari tadi membuatnya penasaran. Dia menyentuh tirai itu dan meremasnya pelan, kemudian menyibaknya. Sepertinya pasiennya memang belum kembali, tempat tidur pasiennya masih kosong. Yoona pun beranjak untuk melihat yang lain.

Ada yang aneh dengan ruang ini, dinding dalam ruangan ini di penuhi dengan tempelan-tempelan kertas kecil. Karena penasaran, Yoona pun mendekati sebuah kertas yang dekat dengannya.

“Suster Lee?” Yoona mengernyitkan dahinya sambil melihat tempelan kertas lainnya. Namun dia malah semakin tidak mengerti. Tempelan kertas kecil itu berisi foto dan nama. Foto dan namanya berbeda disetiap lembar kertas itu.

Terdengar sebuah suara yang berasal dari pojok ruangan, sepertinya berasal dari lemari besar di pojok ruangan. Yoona pun menoleh sebentar, tapi suara itu tidak terdengar lagi. Dia pun kembali meneliti setiap tempelan kertas itu lagi.

“Lee Tae Min? Kenapa ada foto Taemin juga?” Yoona semakin bingung, kenapa diruangan ini banyak sekali tempelan? Kenapa ada nama dan foto disetiap tempelan kertas itu? Kenapa ada nama Taemin dikertas itu? Dan kenapa suara berisik tadi muncul lagi?

Dia berjalan mendekati lemari yang sedari tadi membuat suara-suara aneh. Sejenak dia merasa penasaran, kenapa ada lemari sebesar ini diruangan Taemin. Namun dia juga mencoba untuk menjawab rasa penasarannya sendiri. Mungkin saja Taemin menyimpan bajunya dilemari ini. Profesi Taemin sebagai dokter pasti banyak menyita waktunya, jadi Taemin harus mempersiapkan beberapa helai baju kalau-kalau dia menginap dirumah sakit.

Yoona mengangguk-anggukkan kepalanya pelan, seakan menyetujui jawabannya sendiri dan kemudian membalikkan badannya. Namun tiba-tiba suara dari lemari itu terdengar lagi. Dia kembali membalikkan badannya dan menatap lemari itu lama.

Karena penasaran, Yoona pun berniat membuka lemari itu. Dia menyentuh pegangan pintu lemari itu pelan. Namun tiba-tiba pintu lemari itu terbuka, bahkan sebelum dibuka pleh Yoona. Dan dari dalam lemari itu keluar seorang laki-laki sambil tersenyum bodoh. Yoona membulatkan matanya seketika. Dengan pelan dia meletakkan tangannya ke dada. Perasaan itu kembali menyambutnya, perasaan yang sungguh ingin dia lupakan. Perasaan itu kembali padanya.

Laki-laki itu melihatnya sambil tertawa begitu keras. “Suster, ayo kita bermain.” Dia menarik tangan Yoona kasar, namun Yoona sama sekali bergeming. Dia tetap menatap laki-laki itu dengan mata berkaca-kaca.

Laki-laki itu tampak menyerah, dia kemudian berlari-lari mengitari ruangan Taemin sambil berteriak-teriak. Taemin tiba-tiba masuk kedalam ruangan dan mendapati Yoona yang berdiri mematung sambil memandang lurus kearah samping. Di ikutinya pandangan Yoona, dan dia melihat orang yang sedari tadi dicarinya sudah kembali. “Akhirnya ketemu juga.”

Taemin mendekati Yoona sambil tersenyum. “Yoona-ya.”

Namun Yoona sama sekali tidak menjawab, Yoona tetap menatap laki-laki tadi sedih. “Yoona-ya.” Panggil Taemin lagi.

“Taemin-ah, itu…” Yoona menggantung kalimatnya sambil menatap laki-laki tadi lirih. “Kenapa dia ada disana?”

“Ne?” Tanya Taemin bingung.

Melihat ada pintu yang terbuka, laki-laki itu pun berlari mendekati pintu. Begitu melihat ada yang lewat dia berteriak, “Suster, ayo kita bermain.”

Taemin menatap Yoona bingung, gadis ini kenapa terlihat begitu sedih? “Taemin-ah, kenapa dia memanggilku suster?”

Taemin semakin bingung, dia sungguh tidak mengerti arah pembicaraan Yoona. Namun begitu Yoona menatapnya, dia menyadari bahwa Yoona sedang mencoba untuk menahan tangisannya.

“Kenapa dia berteriak seperti itu?” Tanya Yoona lagi dengan suara yang bergetar.

“Yoona-ya…”

“Kenapa? Kenapa dia bersikap seperti itu padaku?”

Taemin menggeleng-gelengkan kepalanya pelan sambil memegang kedua lengan Yoona, berusaha menenangkannya. “Itu pasien yang tadi aku cari, sekarang dia sudah ditemukan. Dan dia memang—“ Yoona menggeleng-gelengkan kepalanya keras sambil menutup matanya. Tanpa terasa air matanya terjatuh, air mata yang sudah lama tidak pernah keluar, sekarang keluar lagi. Kenapa?

“Yoona-ya, ada apa denganmu?”

Tanpa memerdulikan pertanyaan Taemin, Yoona pun berlari kearah pintu keluar dan melihat berkeliling. “Ada apa?” Tanya Taemin lagi sambil menyusul Yoona.

“Aku harus meminta penjelasan darinya.” Jawab Yoona sambil terisak, dia kembali berlari, tapi Taemin menahan tangannya, seakan tidak mengizinkan Yoona mengejar laki-laki tadi.

“Apa yang dia lakukan padamu? Beritahu aku.”

Namun Yoona kembali memberontak, dia mencoba melepaskan tangan Taemin yang menahannya. “Lepaskan aku, aku harus mengejarnya.”

“Itu hanya seorang pasien—“

Aniya.” Ujar Yoona. Taemin menatap Yoona lirih menunggunya melanjutkan perkataannya. “Itu Kai. Taemin-ah, itu Kai.”

…to be continue…

Iklan

16 pemikiran pada “Confused (Chapter 1)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s